KANDUNGAN BAWANG PUTIH SEBAGAI ANTI HIPERTENSI - ElrinAlria
KANDUNGAN BAWANG PUTIH SEBAGAI ANTI HIPERTENSI

KANDUNGAN BAWANG PUTIH SEBAGAI ANTI HIPERTENSI

-Bawang Putih (Allii sativi Bulbus) (Badan POM RI, 2011).

Nama Daerah Bawaang Putih: 
Sumatera: Lasum, bawang mental, lasuna, palasuna, bawang honh, bawang putieh, (Minang), bawang handak (Lampung); Jawa: Bawang bodas (Sunda), bawang (Jawa), bhabang pote (Madura); Bali: Kasuna (Bali); Sulawesi: Lasuna pute (Bugis), lasuna kebo; Maluku: Bawa bodudo (Ternate), bawa sobudo, bawa iso; Nusa Tenggara: Laisona mabotiek.

Nama Asing Bawaang Putih:
Inggris: Garlic, allium, clove garlic, common garlic, poor man's treade, stinking rose; Perancis: Ail; Malaysia: Bawang putih; Filipina: Bawang (Tagalog, llocano), ajos (Bisaya), ahus (Ibanag); Kamboja: Khtum saa; Laos: kath'iem; Thailand: krathiam (general), hom-tiam (northern).


Deskripsi Tanaman Bawaang Putih:

Tumbuhan berhabitus tema dengan tinggi 25-70 cm. Batang lurus kaku atau sedikit membengkok, berwarna hijau beralur. Helaian daunnya mirip pita, berbentuk pipih dan memanjang, panjang sampai 60 cm dan lebar 0,4-2,5 cm, permukaan datar, berdaging. Bunga berbentuk payung, berwarna putih, mempunyai batang semu yang terbentuk dari pelepah-pelepah daun. Akar bawang putih terdiri dari serabut-serabut kecil yang berjumlah banyak.

Simplisia Bawaang Putih:
Bentuk berupa umbi lapis utuh, warna putih atau putih keunguan, bau khas, rasa agak pahit. Umbi bawang putih adalah umbi lapis yang terbentuk dari roset daun, terdiri atas beberapa umbi yang berkelompok membentuk sebuah umbi yang besar (umbi majemuk). Umbi majemuk berbentuk hampir bundar, garis tengah 4-6 cm, terdiri dari 8-20 siung seluruhnya diliputi 3-5 selaput tipis serupa kertas berwarna agak putih, tiap siung diselubungi oleh 2 selaput serupa kertas, selaput luar warna agak putih dan agak longgar, selaput dalam warna merah muda dan melekat pada bagian padat dari siung tetapi mudah dikupas, siung bentuk membulat di bagian punggung, bidang samping rata atau agak bersudut.

Habitat Bawaang Putih:
Berasal dari Asia Tengah, namun saat ini banyak dibudidayakan di berbagai negara sebagai tanaman sayuran. Berkembang baik pada ketinggian tanah berkisar 200-250 m dpi.


Kandungan Kimia Bawaang Putih:

Bawang putih mengandung karbohidrat (fruktan), saponin (glikosida furostanol: sativin, proto-erubin B), dan senyawa organik yang mempunyai atom sulfur. Kandungan utama bawang putih utuh adalah y-glutamil-S-alil-L-sistein dan S-alil-L-sistein sulfoksida (aliin).

Apabila bawang putih diiris, aliin mengalami degradasi oleh enzim aliinase (S-alkil-L-sisteine liase) menjadi asam piruvat dan asam 2-propen sulfenat yang kemudian mengalami transformasi menjadi alisin (dialiltiosulfinat) dengan kadar 0,3% dihitung terhadap bawang putih segar. Jika bawang putih dibuat ekstrak air, y-glutamil-S-alil-L-sistein dikonversi menjadi S-alil-sistein melalui transformasi enzimatik dengan y-glutamiltranspeptidase. S-alil-sistein berperan antara lain sebagai antioksidan terhadap radikal bebas, kanker dan penyakit kardiovaskular. Pengolahan bawang putih mengakibatkan terbentuknya senyawa tiosulfinat, contohnya alisin, melalui reaksi enzimatik sistein sulfoksida tersubstitusi. Senyawa tiosulfinat yang lain adalah alilmetil-metilalil- dan trans-i-propeniltiosulfinat. Di dalam ekstrak etanol bawang putih ditemukan juga senyawa hasil kondensasi alisin yaitu 6Z-ajoen dan 6E-ajoen (4,5,9-tritiadodeka-1,6,11-trien-g-S-oksida) dan viniltiin. Destilasi bawang putih dalam vakum, diperoleh komponen utama alisin dalam konsentrasi tinggi (8o-go%).

Efek Farmakologi Bawaang Putih:

Telah dilakukan penelitian meta-analisis dan tinjauan sistematis efek sediaan dengan bawang putih terhadap tekanan darah dengan menggunakan database berbagai penelitian yang dipublikasikan dari tahun 1995 hingga Oktober 2007. Kategori penelitian antara lain penelitian acak dengan menggunakan plasebo, sediaan uji hanya mengandung bawang putih, dan hasil uji meliputi tekanan darah sistolik dan atau diastolik rata-rata serta standar deviasi. Hasilnya, sebanyak 11 dari 25 penelitian yang ditinjau secara sistematis memenuhi persyaratan uji meta-analisis. Dari uji meta analisis penelitian-penelitian tersebut menunjukkan penurunan rata-rata tekanan darah sistolik sebesar 4,6 + 2,8 mm Hg pada kelompok perlakuan dengan bawang putih dibandingkan dengan piasebo (n=io; p=o,ooi), sementara penurunan rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik pada sub kelompok hipertensi berturut-turut sebesar 8,4 ± 2,8 mm Hg (n = 4; p < 0.001) dan 7.3 ± 1.5 mm Hg (n = 3; p < 0.001).

Dari penelitian meta-analisis ini menunjukkan bahwa sediaan yang mengandung bawang putih lebih superior dibandingkan plasebo dalam menurunkan tekanan darah pada individu dengan hipertensi.

Indikasi Bawaang Putih:
Menurunkan tekanan darah

Kontra Indikasi Bawaang Putih:
Sebaiknya tidak dikonsumsi oleh wanita menyusui.

Peringatan:
Bawang putih memiliki efek terhadap kardiovaskular antara lain antiplatelet, antitrombotik dan fibrinolitik. Studi klinik menunjukkan penurunan yang signifikan aktivitas agregasi platelet dan fibrinolitik. Beberapa kasus menunjukkan kemungkinan bahwa bawang putih dapat meningkatkan resiko pendarahan, khususnya pada pasien yang akan menjalani terapi bedah. Peringatan pada pasien yang menerima terapi warfarin bahwa suplemen mengandung bawang putih dapat meningkatkan waktu pendarahan. Pembekuan darah pernah dilaporkan dua kali lipat lebih lama pada pasien yang menerima warfarin dan suplemen mengandung bawang putih. Berdasarkan sistem klasifikasi herbal oleh The American Herbal Products Association (AHPA), bawang putih termasuk dalam kategori Kelas 2C (tidak boleh digunakan oleh ibu menyusui).

Efek yang Tidak Diinginkan
Dapat menyebabkan efek kardiovaskular takikardi dan hipotensi ortostatik. Umbi bawang putih pernah dilaporkan menimbulkan reaksi alergi seperti dermatitis kontak dan serangan asma setelah inhalasi serbuk yang mengandung bawang putih. Konsumsi oral umbi segar, ekstrak atau minyak bawang putih pada kondisi perut kosong dapat menyebabkan efek samping ringan seperti heartburn, mual, kembung, muntah dan diare. Mulut dan kulit badan berbau khas setelah mengkonsumsi bawang putih.

Interaksi Obat
1) Interaksi dengan obat
Bukti klinik menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih dapat mempengaruhi farmakokinetika dan farmakodinamika obat antiretroviral. Kemungkinan mekanisme interaksi tersebut dikarenakan suplemen mengandung allisin dapat menginduksi isoenzim CYP450 3A4 dan secara klinik menyebabkan penurunan konsentrasi obat yang dimetabolisme oleh enzim tersebut. Contoh interaksi yang sudah terbukti adalah dengan saquinavir. Hasil observasi pada relawan sehat setelah pemberian penghambat protease saquinavir (antiretroviral) selama tiga minggu menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap konsentrasi plasma saquinavir. Meskipun beberapa belum terbukti, sebaiknya hindari penggunaan bersamaan dengan penghambat protease, siklosporin, ketokonazol, itraconazole, glukokortikoid, kontrasepsi oral, verapamil, diltiazem, lovastatin, simvastatin dan atorvastatin. 
Bawang putih memiliki efek kardiovaskuler yang kompleks, oleh karena itu secara teori dapat berinteraksi dengan obat antikoagulan/antiplatelet berupa peningkatan resiko pendarahan, contohnya aspirin, klopidogrel, tiklopidine, dipiridamol, heparin, fluindion dan warfarin. 
Kemungkinan dapat berinteraksi dengan obat antidiabetes klorpropamid dan analgesik parasetamol. 

2) Interaksi Dengan Tanaman Lain
Dengan asidophilus, kemungkinan dapat menurunkan absorpsi bawang putih. Jika dikonsumsi bersamaan, beri selang waktu pemberian minimal 3 jam.

Toksisitas
Umbi bawang putih tidak mutagenik pada uji in vitro (Salmonella microsome reversion assay dan Escherichia coli). Belum ada penelitian ilmiah mengenai keamanan penggunaan suplemen yang mengandung bawang putih selama kehamilan, sehingga disarankan untuk tidak dikonsumsi oleh wanita hamil.

KANDUNGAN BAWANG PUTIH SEBAGAI ANTI HIPERTENSI

KANDUNGAN BAWANG PUTIH SEBAGAI ANTI HIPERTENSI

KANDUNGAN BAWANG PUTIH SEBAGAI ANTI HIPERTENSI

-Bawang Putih (Allii sativi Bulbus) (Badan POM RI, 2011).

Nama Daerah Bawaang Putih: 
Sumatera: Lasum, bawang mental, lasuna, palasuna, bawang honh, bawang putieh, (Minang), bawang handak (Lampung); Jawa: Bawang bodas (Sunda), bawang (Jawa), bhabang pote (Madura); Bali: Kasuna (Bali); Sulawesi: Lasuna pute (Bugis), lasuna kebo; Maluku: Bawa bodudo (Ternate), bawa sobudo, bawa iso; Nusa Tenggara: Laisona mabotiek.

Nama Asing Bawaang Putih:
Inggris: Garlic, allium, clove garlic, common garlic, poor man's treade, stinking rose; Perancis: Ail; Malaysia: Bawang putih; Filipina: Bawang (Tagalog, llocano), ajos (Bisaya), ahus (Ibanag); Kamboja: Khtum saa; Laos: kath'iem; Thailand: krathiam (general), hom-tiam (northern).


Deskripsi Tanaman Bawaang Putih:

Tumbuhan berhabitus tema dengan tinggi 25-70 cm. Batang lurus kaku atau sedikit membengkok, berwarna hijau beralur. Helaian daunnya mirip pita, berbentuk pipih dan memanjang, panjang sampai 60 cm dan lebar 0,4-2,5 cm, permukaan datar, berdaging. Bunga berbentuk payung, berwarna putih, mempunyai batang semu yang terbentuk dari pelepah-pelepah daun. Akar bawang putih terdiri dari serabut-serabut kecil yang berjumlah banyak.

Simplisia Bawaang Putih:
Bentuk berupa umbi lapis utuh, warna putih atau putih keunguan, bau khas, rasa agak pahit. Umbi bawang putih adalah umbi lapis yang terbentuk dari roset daun, terdiri atas beberapa umbi yang berkelompok membentuk sebuah umbi yang besar (umbi majemuk). Umbi majemuk berbentuk hampir bundar, garis tengah 4-6 cm, terdiri dari 8-20 siung seluruhnya diliputi 3-5 selaput tipis serupa kertas berwarna agak putih, tiap siung diselubungi oleh 2 selaput serupa kertas, selaput luar warna agak putih dan agak longgar, selaput dalam warna merah muda dan melekat pada bagian padat dari siung tetapi mudah dikupas, siung bentuk membulat di bagian punggung, bidang samping rata atau agak bersudut.

Habitat Bawaang Putih:
Berasal dari Asia Tengah, namun saat ini banyak dibudidayakan di berbagai negara sebagai tanaman sayuran. Berkembang baik pada ketinggian tanah berkisar 200-250 m dpi.


Kandungan Kimia Bawaang Putih:

Bawang putih mengandung karbohidrat (fruktan), saponin (glikosida furostanol: sativin, proto-erubin B), dan senyawa organik yang mempunyai atom sulfur. Kandungan utama bawang putih utuh adalah y-glutamil-S-alil-L-sistein dan S-alil-L-sistein sulfoksida (aliin).

Apabila bawang putih diiris, aliin mengalami degradasi oleh enzim aliinase (S-alkil-L-sisteine liase) menjadi asam piruvat dan asam 2-propen sulfenat yang kemudian mengalami transformasi menjadi alisin (dialiltiosulfinat) dengan kadar 0,3% dihitung terhadap bawang putih segar. Jika bawang putih dibuat ekstrak air, y-glutamil-S-alil-L-sistein dikonversi menjadi S-alil-sistein melalui transformasi enzimatik dengan y-glutamiltranspeptidase. S-alil-sistein berperan antara lain sebagai antioksidan terhadap radikal bebas, kanker dan penyakit kardiovaskular. Pengolahan bawang putih mengakibatkan terbentuknya senyawa tiosulfinat, contohnya alisin, melalui reaksi enzimatik sistein sulfoksida tersubstitusi. Senyawa tiosulfinat yang lain adalah alilmetil-metilalil- dan trans-i-propeniltiosulfinat. Di dalam ekstrak etanol bawang putih ditemukan juga senyawa hasil kondensasi alisin yaitu 6Z-ajoen dan 6E-ajoen (4,5,9-tritiadodeka-1,6,11-trien-g-S-oksida) dan viniltiin. Destilasi bawang putih dalam vakum, diperoleh komponen utama alisin dalam konsentrasi tinggi (8o-go%).

Efek Farmakologi Bawaang Putih:

Telah dilakukan penelitian meta-analisis dan tinjauan sistematis efek sediaan dengan bawang putih terhadap tekanan darah dengan menggunakan database berbagai penelitian yang dipublikasikan dari tahun 1995 hingga Oktober 2007. Kategori penelitian antara lain penelitian acak dengan menggunakan plasebo, sediaan uji hanya mengandung bawang putih, dan hasil uji meliputi tekanan darah sistolik dan atau diastolik rata-rata serta standar deviasi. Hasilnya, sebanyak 11 dari 25 penelitian yang ditinjau secara sistematis memenuhi persyaratan uji meta-analisis. Dari uji meta analisis penelitian-penelitian tersebut menunjukkan penurunan rata-rata tekanan darah sistolik sebesar 4,6 + 2,8 mm Hg pada kelompok perlakuan dengan bawang putih dibandingkan dengan piasebo (n=io; p=o,ooi), sementara penurunan rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik pada sub kelompok hipertensi berturut-turut sebesar 8,4 ± 2,8 mm Hg (n = 4; p < 0.001) dan 7.3 ± 1.5 mm Hg (n = 3; p < 0.001).

Dari penelitian meta-analisis ini menunjukkan bahwa sediaan yang mengandung bawang putih lebih superior dibandingkan plasebo dalam menurunkan tekanan darah pada individu dengan hipertensi.

Indikasi Bawaang Putih:
Menurunkan tekanan darah

Kontra Indikasi Bawaang Putih:
Sebaiknya tidak dikonsumsi oleh wanita menyusui.

Peringatan:
Bawang putih memiliki efek terhadap kardiovaskular antara lain antiplatelet, antitrombotik dan fibrinolitik. Studi klinik menunjukkan penurunan yang signifikan aktivitas agregasi platelet dan fibrinolitik. Beberapa kasus menunjukkan kemungkinan bahwa bawang putih dapat meningkatkan resiko pendarahan, khususnya pada pasien yang akan menjalani terapi bedah. Peringatan pada pasien yang menerima terapi warfarin bahwa suplemen mengandung bawang putih dapat meningkatkan waktu pendarahan. Pembekuan darah pernah dilaporkan dua kali lipat lebih lama pada pasien yang menerima warfarin dan suplemen mengandung bawang putih. Berdasarkan sistem klasifikasi herbal oleh The American Herbal Products Association (AHPA), bawang putih termasuk dalam kategori Kelas 2C (tidak boleh digunakan oleh ibu menyusui).

Efek yang Tidak Diinginkan
Dapat menyebabkan efek kardiovaskular takikardi dan hipotensi ortostatik. Umbi bawang putih pernah dilaporkan menimbulkan reaksi alergi seperti dermatitis kontak dan serangan asma setelah inhalasi serbuk yang mengandung bawang putih. Konsumsi oral umbi segar, ekstrak atau minyak bawang putih pada kondisi perut kosong dapat menyebabkan efek samping ringan seperti heartburn, mual, kembung, muntah dan diare. Mulut dan kulit badan berbau khas setelah mengkonsumsi bawang putih.

Interaksi Obat
1) Interaksi dengan obat
Bukti klinik menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih dapat mempengaruhi farmakokinetika dan farmakodinamika obat antiretroviral. Kemungkinan mekanisme interaksi tersebut dikarenakan suplemen mengandung allisin dapat menginduksi isoenzim CYP450 3A4 dan secara klinik menyebabkan penurunan konsentrasi obat yang dimetabolisme oleh enzim tersebut. Contoh interaksi yang sudah terbukti adalah dengan saquinavir. Hasil observasi pada relawan sehat setelah pemberian penghambat protease saquinavir (antiretroviral) selama tiga minggu menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap konsentrasi plasma saquinavir. Meskipun beberapa belum terbukti, sebaiknya hindari penggunaan bersamaan dengan penghambat protease, siklosporin, ketokonazol, itraconazole, glukokortikoid, kontrasepsi oral, verapamil, diltiazem, lovastatin, simvastatin dan atorvastatin. 
Bawang putih memiliki efek kardiovaskuler yang kompleks, oleh karena itu secara teori dapat berinteraksi dengan obat antikoagulan/antiplatelet berupa peningkatan resiko pendarahan, contohnya aspirin, klopidogrel, tiklopidine, dipiridamol, heparin, fluindion dan warfarin. 
Kemungkinan dapat berinteraksi dengan obat antidiabetes klorpropamid dan analgesik parasetamol. 

2) Interaksi Dengan Tanaman Lain
Dengan asidophilus, kemungkinan dapat menurunkan absorpsi bawang putih. Jika dikonsumsi bersamaan, beri selang waktu pemberian minimal 3 jam.

Toksisitas
Umbi bawang putih tidak mutagenik pada uji in vitro (Salmonella microsome reversion assay dan Escherichia coli). Belum ada penelitian ilmiah mengenai keamanan penggunaan suplemen yang mengandung bawang putih selama kehamilan, sehingga disarankan untuk tidak dikonsumsi oleh wanita hamil.