LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI - ElrinAlria
ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN I
LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI

ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN I


A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kadar asam lemah dengan menambah pereaksi tertentu untuk menaikkan keasamannya, sehingga dapat dititrasi dengan baku alkali.


B. LANDASAN TEORI
Asidi-alkalimetri atau yang biasa dikenal dengan titrasi asam basa adalah metode analisis yang menggunakan titran yaitu larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya, yang kemudian diteteskan melalui buret sedikit demi sedikit ke dalam larutan lain yang belum diketahui konsentrasinya (titrat). Dalam metode ini, apabila larutan yang akan diuji bersifat basa maka titran harus bersifat asam, dan sebaliknya. Proses titrasi ini kemudian dihentikan jika titik ekuivalen telah terjadi dimana titran/titer tepat habis bereaksi dengan titrat (Ika, 2009).
Titrasi adalah metode penetapan kadar suatu larutan dengan menggunakan larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya. Dalam hal ini, suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti (larutan standar), ditambahkan secara bertahap ke larutan lain yang konsentrasinya tidak diketahui, sampai reaksi kimia antara kedua larutan tersebut berlangsung sempurna. Sebelum basa ditambahkan harga pH adalah larutan asam kuat, sehingga pH < 7 dan ketika basa ditambahkan sebelum titik ekivalen, harga pH ditentukan oleh asam lemah. Pada titik ekivalen jumlah basa yang ditambahkan secara stokiometri ekivalen terhadap jumlah asam yang ada. Oleh karena itu pH ditentukan oleh larutan garam (pH=7). Titik ekivalen dalam titrasi adalah titik keadaan (kuantitas) asam-basa dapat ditentukan secara stokiometri (Chandra,2012).

Selama ini indikator yang digunakan dibuat secara sintesis dari bahan-bahan kimia, begitu pula dengan indikator asam basa.Sebenarnya indikator asam basa dapat dibuat dengan menggunakan bahan dari lingkungan sekitar.Prinsip indikator adalah bahan yang memberikan warna berbeda pada lingkungan asam dan basa. Pada umumnya bahan yang memiliki warna menyolok memiliki sifat memberikan warna yang berbeda pada kedua suasana asam dan basa (Marwati, 2011).

Indikator, digunakan dalam analisis titrimetrik atau volumetrik untuk mengetahui saat suatu reaksi sempurna. Indikator pada umumnya adalah senyawa yang berwarna, dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH. Perubahan warna yang terjadi merupakan hasil dari kelebihannya titran dan sistem kromofornya diubah oleh reaksi asam basa (Suirta, 2010).

Indikator asam-basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Apabila dalam suatu titrasi, asam maupun basanya merupakan elektrolit kuat, larutan pada titik ekivalen akan mempunyai pH=7. Tetapi bila asamnya ataupun basanya merupakan elektrolit lemah, garam yang terjadi akan mengalami hidrolisis dan pada titik ekivalen larutan akan mempunyai pH > 7 (bereaksi basa) atau pH < 7 (bereaksi asam). Harga pH yang tepat dapat dihitung dari tetapan ionisasi dari asam atau basa lemah tersebut dan dari konsentrasi larutan yang diperoleh. Titik akhir titrasi asam basa dapat ditentukan dengan indikator asam basa. Indikator yang digunakan harus memberikan perubahan warna yang nampak di sekitar pH titik ekivalen titrasi yang dilakukan, sehingga titik akhirnya masih jatuh pada kisaran perubahan pH indikator tersebut (Harjanti,2008).

Dalam larutan, kadar bahan yang terlarut (solute) dinyatakan dengan konsentrasi. Istilah ini berarti banyaknya massa yang terlarut dihitung sebagai berat (gram) tiap satuan volume (milliliter) atau tiap satuan larutan, sehingga satuan kadar seperti ini adalah gram/milliliter (Gandjar, 2007).

Asam salisilat adalah senyawa yang berkhasiat sebagai fungisidal dan bakteriostatis lemah. Asam salisilat mempunyai sifat sukar larut dalam air. Apabila asam salisilat diformulasikan sebagai sediaan topikal, maka pemilihan dasar salep merupakan hal yang sangat penting, yang akan menentukan efek terapi asam salisilat. Asam salisilat bekerja keratolitis sehingga digunakan dalam sediaan obat luar terhadap infeksi jamur yang ringan. Semakin hidrofilik dasar salep, semakin mudah pula asam salisilat dilepas dari dasar salepnya karena sifat asam salisilat yang tidak larut dalam air (Astuti dkk, 2007).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum ini, yaitu:
  • Statif dan klem 
  • Pipet tetes 
  • Pipet ukur 
  • Labu Erlenmeyer 
  • Labu takar 
  • Gelas kimia 
  • Buret 
  • Filler 
  • Gelas ukur 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini, yaitu:
  • Akuades 
  • Sampel yang mengandung asam salisilat 
  • NaOH 0,1 N 
  • Merah fenol 
  • Etanol 70% 

D. PROSEDUR KERJA
1. Penetapan Kadar Asam Salisilat

LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI


E. HASIL PENGMATAN
1. Data Pengamatan

LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI


2. Data Perhitungan
a. Penetapan Kadar Asam Salisilat
Dik : VNaOH = 0,5 ml
NNaOH = 0,1 N
BE = 23
Berat sampel = 250 mg
Dit : Kadar asam salisilat = …. ?

Peny :
LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI


F. PEMBAHASAN
Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).

Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator. 

Indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi. 

Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen. Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran.

Praktikum yang dilakukan kali ini adalah penetapan kadar senyawa asam salisilat dalam suatu sediaan di pasaran. Pada percobaan analisis asam salisilat ini digunakan sediaan bedak sebagai bahan uji. Asam salisilat adalah asam yang tidak larut dalam air dan hanya akan larut baik dalam etanol (alkohol 90%). Tapi dalam percobaan ini, asam salisilat dilarutkan dengan alcohol 70%. Asam salisilat dalam bidang farmasi digunakan sebagai analgetik antipiretik atau penghilang rasa sakit. Pada penggunaan asam salisilat dalam suatu sediaan jika kadarnya kurang maka hal tersebut tidak akan mencapai efek terepatiknya, sebaliknya jika berlebih maka akan bersifat toksik atau racun bagi tubuh. Sehingga perlu dilakukannya penetapan kadar asam salisilat. 

pada penetapan kadar asam salisilat 250 mg sampel dicampur dengan air sebanyak 20 ml dan etanol 15 ml kemudian ditambahkan 3 pipet indikator merah fenolf. Ketika merah fenolf ditambahkan kedalam larutan yang akan dititrasi, ternyata terjadi perubahan warna dari warna bening menjadi warna kuning telur. Dan ketika perlakuan titrasi dilakukan dengan larutan yang ada diburet, setetes demi setetes maka diperoleh titik akhir titrasi, dimana terjadi perubahan warna dari kuning telur menjadi warna merah. Pada perlakuan ini digunakan kosolven yaitu etanol yang berfungsi dalam peningkatan kelarutan. Dari hasil titrasi asam salisilat NaOH yang digunakan sebanyak 0,5 ml. 

Dari hasil perhitungan kadar asam salisilat diperoleh hasil kadar asam salisilat adalah 0,46 %. Kadar asam salisilat yang sesuai syarat yang tertera dalam Farmakope Indonesia yaitu 99,5%. Dari hasil yang diperoleh pada praktikum ini dapat diketahui bahwa kadar asam salisilat tidak sesuai dengan syarat yang telah ditentukan. Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya kerusakan pada alat yang digunakan, bahan yang digunakan sudah terkontaminasi dengan zat lain, dan juga kesalahan praktikan saat melakukan titrasi. seperti zat tambahan yang telah terkontaminasi atau titran yang telah mengikat CO2.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Kadar asam salisilat sebesar 0,46 %. 

DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Ika Yuni, Iskandar Sudirman dan Umi Hidayah, 2007, Pengaruh Konsentrasi Adaps Lanae Dalam Dasar Salep Cold Cream Terhadap Pelepasan Asam Salisilat, PHARMACY, Vol. 05, Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Chandra,A.D, dan Hendra Cordova. 2012. Rancang Bangun Kontrol Ph Berbasis Self Tuning PID Melalui Metode Adaptive Control. Jurnal Teknik Pomits.Volume 1, No.1.Institut teknologi Sepuluh November.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Ganjar, I.G, dan Abdul Rohman, 2012. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Harjanti, Ratna Sri. 2008. Pemungutan Kurkumin dari Kunyit (Curcuma domestica val.) dan Pemakaiannya Sebagai Indikator Analisis Volumetri. Jurnal Rekayasa Proses. Volume 2, No.2. Yogyakarta)

Ika, Dani. 2009. Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi Asam Basa, Jurnal Neutrino Volume I, No. 2.

Marwati, Siti, 2011, Kestabilan Warna Ekstrak Kubis Ungu (Brassica oleracea)Sebagai Indikator Alami Titrasi Asam Basa, Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta. 

Suirta, I W., 2010, Sintesis Senyawa Orto-Fenizalo-2-Naftol Sebagai Indikator Dalam Titrasi, Jurnal Kimia, Vol. 4, Universitas Udayana.

LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI

ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN I
LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI

ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN I


A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kadar asam lemah dengan menambah pereaksi tertentu untuk menaikkan keasamannya, sehingga dapat dititrasi dengan baku alkali.


B. LANDASAN TEORI
Asidi-alkalimetri atau yang biasa dikenal dengan titrasi asam basa adalah metode analisis yang menggunakan titran yaitu larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya, yang kemudian diteteskan melalui buret sedikit demi sedikit ke dalam larutan lain yang belum diketahui konsentrasinya (titrat). Dalam metode ini, apabila larutan yang akan diuji bersifat basa maka titran harus bersifat asam, dan sebaliknya. Proses titrasi ini kemudian dihentikan jika titik ekuivalen telah terjadi dimana titran/titer tepat habis bereaksi dengan titrat (Ika, 2009).
Titrasi adalah metode penetapan kadar suatu larutan dengan menggunakan larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya. Dalam hal ini, suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti (larutan standar), ditambahkan secara bertahap ke larutan lain yang konsentrasinya tidak diketahui, sampai reaksi kimia antara kedua larutan tersebut berlangsung sempurna. Sebelum basa ditambahkan harga pH adalah larutan asam kuat, sehingga pH < 7 dan ketika basa ditambahkan sebelum titik ekivalen, harga pH ditentukan oleh asam lemah. Pada titik ekivalen jumlah basa yang ditambahkan secara stokiometri ekivalen terhadap jumlah asam yang ada. Oleh karena itu pH ditentukan oleh larutan garam (pH=7). Titik ekivalen dalam titrasi adalah titik keadaan (kuantitas) asam-basa dapat ditentukan secara stokiometri (Chandra,2012).

Selama ini indikator yang digunakan dibuat secara sintesis dari bahan-bahan kimia, begitu pula dengan indikator asam basa.Sebenarnya indikator asam basa dapat dibuat dengan menggunakan bahan dari lingkungan sekitar.Prinsip indikator adalah bahan yang memberikan warna berbeda pada lingkungan asam dan basa. Pada umumnya bahan yang memiliki warna menyolok memiliki sifat memberikan warna yang berbeda pada kedua suasana asam dan basa (Marwati, 2011).

Indikator, digunakan dalam analisis titrimetrik atau volumetrik untuk mengetahui saat suatu reaksi sempurna. Indikator pada umumnya adalah senyawa yang berwarna, dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH. Perubahan warna yang terjadi merupakan hasil dari kelebihannya titran dan sistem kromofornya diubah oleh reaksi asam basa (Suirta, 2010).

Indikator asam-basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Apabila dalam suatu titrasi, asam maupun basanya merupakan elektrolit kuat, larutan pada titik ekivalen akan mempunyai pH=7. Tetapi bila asamnya ataupun basanya merupakan elektrolit lemah, garam yang terjadi akan mengalami hidrolisis dan pada titik ekivalen larutan akan mempunyai pH > 7 (bereaksi basa) atau pH < 7 (bereaksi asam). Harga pH yang tepat dapat dihitung dari tetapan ionisasi dari asam atau basa lemah tersebut dan dari konsentrasi larutan yang diperoleh. Titik akhir titrasi asam basa dapat ditentukan dengan indikator asam basa. Indikator yang digunakan harus memberikan perubahan warna yang nampak di sekitar pH titik ekivalen titrasi yang dilakukan, sehingga titik akhirnya masih jatuh pada kisaran perubahan pH indikator tersebut (Harjanti,2008).

Dalam larutan, kadar bahan yang terlarut (solute) dinyatakan dengan konsentrasi. Istilah ini berarti banyaknya massa yang terlarut dihitung sebagai berat (gram) tiap satuan volume (milliliter) atau tiap satuan larutan, sehingga satuan kadar seperti ini adalah gram/milliliter (Gandjar, 2007).

Asam salisilat adalah senyawa yang berkhasiat sebagai fungisidal dan bakteriostatis lemah. Asam salisilat mempunyai sifat sukar larut dalam air. Apabila asam salisilat diformulasikan sebagai sediaan topikal, maka pemilihan dasar salep merupakan hal yang sangat penting, yang akan menentukan efek terapi asam salisilat. Asam salisilat bekerja keratolitis sehingga digunakan dalam sediaan obat luar terhadap infeksi jamur yang ringan. Semakin hidrofilik dasar salep, semakin mudah pula asam salisilat dilepas dari dasar salepnya karena sifat asam salisilat yang tidak larut dalam air (Astuti dkk, 2007).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum ini, yaitu:
  • Statif dan klem 
  • Pipet tetes 
  • Pipet ukur 
  • Labu Erlenmeyer 
  • Labu takar 
  • Gelas kimia 
  • Buret 
  • Filler 
  • Gelas ukur 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini, yaitu:
  • Akuades 
  • Sampel yang mengandung asam salisilat 
  • NaOH 0,1 N 
  • Merah fenol 
  • Etanol 70% 

D. PROSEDUR KERJA
1. Penetapan Kadar Asam Salisilat

LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI


E. HASIL PENGMATAN
1. Data Pengamatan

LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI


2. Data Perhitungan
a. Penetapan Kadar Asam Salisilat
Dik : VNaOH = 0,5 ml
NNaOH = 0,1 N
BE = 23
Berat sampel = 250 mg
Dit : Kadar asam salisilat = …. ?

Peny :
LAPORAN ANALISIS KUANTITATIF ASIDI-ALKALIMETRI


F. PEMBAHASAN
Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).

Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator. 

Indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi. 

Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen. Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran.

Praktikum yang dilakukan kali ini adalah penetapan kadar senyawa asam salisilat dalam suatu sediaan di pasaran. Pada percobaan analisis asam salisilat ini digunakan sediaan bedak sebagai bahan uji. Asam salisilat adalah asam yang tidak larut dalam air dan hanya akan larut baik dalam etanol (alkohol 90%). Tapi dalam percobaan ini, asam salisilat dilarutkan dengan alcohol 70%. Asam salisilat dalam bidang farmasi digunakan sebagai analgetik antipiretik atau penghilang rasa sakit. Pada penggunaan asam salisilat dalam suatu sediaan jika kadarnya kurang maka hal tersebut tidak akan mencapai efek terepatiknya, sebaliknya jika berlebih maka akan bersifat toksik atau racun bagi tubuh. Sehingga perlu dilakukannya penetapan kadar asam salisilat. 

pada penetapan kadar asam salisilat 250 mg sampel dicampur dengan air sebanyak 20 ml dan etanol 15 ml kemudian ditambahkan 3 pipet indikator merah fenolf. Ketika merah fenolf ditambahkan kedalam larutan yang akan dititrasi, ternyata terjadi perubahan warna dari warna bening menjadi warna kuning telur. Dan ketika perlakuan titrasi dilakukan dengan larutan yang ada diburet, setetes demi setetes maka diperoleh titik akhir titrasi, dimana terjadi perubahan warna dari kuning telur menjadi warna merah. Pada perlakuan ini digunakan kosolven yaitu etanol yang berfungsi dalam peningkatan kelarutan. Dari hasil titrasi asam salisilat NaOH yang digunakan sebanyak 0,5 ml. 

Dari hasil perhitungan kadar asam salisilat diperoleh hasil kadar asam salisilat adalah 0,46 %. Kadar asam salisilat yang sesuai syarat yang tertera dalam Farmakope Indonesia yaitu 99,5%. Dari hasil yang diperoleh pada praktikum ini dapat diketahui bahwa kadar asam salisilat tidak sesuai dengan syarat yang telah ditentukan. Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya kerusakan pada alat yang digunakan, bahan yang digunakan sudah terkontaminasi dengan zat lain, dan juga kesalahan praktikan saat melakukan titrasi. seperti zat tambahan yang telah terkontaminasi atau titran yang telah mengikat CO2.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Kadar asam salisilat sebesar 0,46 %. 

DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Ika Yuni, Iskandar Sudirman dan Umi Hidayah, 2007, Pengaruh Konsentrasi Adaps Lanae Dalam Dasar Salep Cold Cream Terhadap Pelepasan Asam Salisilat, PHARMACY, Vol. 05, Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Chandra,A.D, dan Hendra Cordova. 2012. Rancang Bangun Kontrol Ph Berbasis Self Tuning PID Melalui Metode Adaptive Control. Jurnal Teknik Pomits.Volume 1, No.1.Institut teknologi Sepuluh November.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Ganjar, I.G, dan Abdul Rohman, 2012. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Harjanti, Ratna Sri. 2008. Pemungutan Kurkumin dari Kunyit (Curcuma domestica val.) dan Pemakaiannya Sebagai Indikator Analisis Volumetri. Jurnal Rekayasa Proses. Volume 2, No.2. Yogyakarta)

Ika, Dani. 2009. Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi Asam Basa, Jurnal Neutrino Volume I, No. 2.

Marwati, Siti, 2011, Kestabilan Warna Ekstrak Kubis Ungu (Brassica oleracea)Sebagai Indikator Alami Titrasi Asam Basa, Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta. 

Suirta, I W., 2010, Sintesis Senyawa Orto-Fenizalo-2-Naftol Sebagai Indikator Dalam Titrasi, Jurnal Kimia, Vol. 4, Universitas Udayana.