LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH) - ElrinAlria
LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA
LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)

I. PENDAHULUAN
1. Tujuan Percobaan 
Agar mahasiswa dapat memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati.

2. Latar Belakang
Ilmu yang mempelajari mekanisme obat dalam tubuh adalah farmakokinetik. Pada umumnya setiap obat yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami empat proses yaitu 1. absorbsi, proses obat memasuki sirkulasi cairan tubuh; 2. Distribusi, proses obat diangkut ke area tubuh dimana obat diharapkan bereaks atau disimpan didalam tubuh; 3. Biotransformasi, proses dimana obat diubah menjadi bentuk yang kurang aktif; dan 4. Eksresi adalah obat dikeluarkan dari dalam tubuh (Priharjo, 1995).

Ketersediaan hayati zat aktif suatu obat timbul sejak adanya ketidaksetaraan terapetik diantara sediaan bermerk dagang yang mengandung zat aktif yang sama dan dibuat dalam bentuk sediaan farmasetik yang serupa, serta diberikan dengan dosis yang sama. Berbagai kejadian (zat aktif menjadi tidak aktif atau menjadi toksik) dapat merupakan sebab ketidaksetaraan tersebut (Utami dkk., 2009).

Penentuan ketersediaan hayati kebanyakan hanya untuk bentuk sediaan obat seperti tablet dan kapsul yang digunakan peroral untuk memperoleh efek sistematik. Hal ini bukan berarti ketersediaan hayati tidak ada dalam bentuk sediaan obat yang lain selain bentuk padat/penggunaan bentuk obat melalui rute lain selain melalui mulut (Anief, 1995).

Metode analisis yang digunakan untuk penetapan kadar obat dalam serum hendaknya telah sahih, berkenaan dengan hal-hal berikut seperti spesifitas, linieritas, kepekaan, ketepatan, ketelitian, dan stabilitas (Sahrgel, 1985).

Untuk menganalisis darah total, komponen sel darah harus dilisis demikian sehingga kandungannya bercampur merata dengan sonikator atau ditentukan dalam jangka waktu tertentu lalu disonikasi. Plasma berbeda dengan serum, serum adalah plasma yang fibrinogennya telah dihilangkan dengan proses penjendalan, sedangkan plasma diperoleh dengan menambahkan suatu pencegah penjendalan ke dalam darah. Bila darah tidak diberi antikoagulan terjadilah penjendalan dan bila contoh seperti dipusingkan maka beningannya adalah serum (James, 1991).

Parameter-parameter yang berguna dalam penentuan ketersediaan hayati suatu obat meliputi data plasma, data urin, efek farmakologi akut, respon klinik. Ketersediaan hayati dilakukan baik terhadap bahan aktif yang telah disetujui maupun obat dengan efek terapeutik yang belum disetujui oleh FDA untuk dipasarkan. Setelah ketersediaan hayati dan parameter-parameter farmakokinetika dari bahan aktif diketahui aturan dosis dapat diajukan untuk mendukung pemberian label obat (Syukri, 2002).

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan sistematik kurang dari 10% (Pasha dkk., 1986).

II. CARA KERJA
1. Alat dan bahan
a. Alat
  • Batang pengaduk
  • Gelas kimia
  • Gelas ukur
  • Kuvet
  • Labu takar
  • Lumpang dan alu
  • Pipet tetes
  • Spektrofotometri Uv-Vis
  • Spatula besi
  • Spoit
  • Sentrifuge
  • Tabung reaksi
  • Tabung sentrifus 
  • Timbangan analitik
  • Vortex

b. Bahan
  • Aquades
  • Antalgin® (metampiron)
  • Sampel darah (manusia)
  • Tissue
  • Larutan pengendap
  • Larutan antikoagulan 
  • Alkohol 70%
  • Kapas

2. Cara Kerja
a. Pengambilan Sampel Darah
LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)


III. HASIL PERCOBAAN
LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)


IV PEMBAHASAN
Percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari dan memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati serta mengetahui prosedur obat dalam cairan hayati.

Pertama-tama yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu kita membuat kurva baku dari metampiron untuk mencari nilai a dan b dalam persamaan kurva baku y =a+ bx. Kurva baku yang baik apabila nilai r nya mendekati nilai 1. Metode spektrofotometri visible digunakan agar hasil analisis sesuai dengan ketentuan yang ada. 

Parameter yang dilakukan pada metode ini adalah recovery, presisi dan akurasi. Dimana recovery merupakan suatu tolak ukur efisiensi analisis dan dapat bernilai positif dan negatif. Akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau kedekatan antara nilai terukur dengan nilai yang diterima, baik nilai konvensi, nilai sebenarnya atau nilai rujukan. Sedangkan presisi merupakan ukuran keterulangan metode analisis dan biasanya diekspresikan sebagai simpangan baku relative dari sejumlah sampel yang berbeda signifikan secara statistik.

Selanjutnya dilakukan penetapan kadar metampiron sampel yang berupa darah ditambahkan HNO3 0,25% dengan tujuan untuk koagulasi darah agar tidak mengental. Selanjutnya divortex selama 30 detik, hal ini dilakukan untuk mencegah penggumpalan darah pada sampel. Kemudian sampel ditambahkan HgCl2 sebanyak 0,5 ml yang dihomogenkan. HgCl2 digunakan untuk deproteinisasi pada sampel darah. Apabila protein pada sampel tidak dihilangkan maka akan mengganggu nilai absorbansi ketika dibaca serapannya. Setelah itu disentrifuge 2000 rpm selama 10 menit. Pada proses sentrifuge, tujuannya adalah agar partikel lain mengendap sehingga tidak mengganggu pembacaan absorbansi. Selain itu, tujuan disentrifius adalah untuk memisahkan antara sampel darah dan pengendapnya berdasarkan bobot molekulnya.

Setelah didapat filtrat bening, sampel dibaca absorbansinya dengan lamda 192 nm menggunakan spektrofotometer Uv-Vis. Setelah itu didapatkan kadar dan dapat dihitung recovery, kesalahan acak dan kesalahan sistemik.

Berdasarkan hasil analisis yang didapat recovery pada sampel mendapatkan hasil yang telah sesuai dari persyaratannya 75%-90% atau lebih. Ini menunjukkan bahwa data telah valid sehingga dapat digunakan sebagai kinetika obat. Data recovery tersebut disimpulkan telah teliti, akurat dan efisien.

Selanjutnya pada perhitungan kesalahan acak mendapatkan hasil 0,511%, ini berarti hasil yang kami peroleh tidak melampaui persyaratan yang ada yaitu kurang dari 10%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel telah teliti dan efisien.

Perhitungan yang terakhir adalah kesalahan sistemik. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu salah satu sampel melebihi persyaratan kesalahan sistemik yang dipersyaratkan yaitu kurang dari 10%. Data ini dinyatakan tidak akurat dan efisien. Dari ketiga perhitungan yang telah kami lakukan data-data sebagian besar telah valid dan ada salah satu sampel pada hasil yang didapatkan pada kesalahan sistemik yang tidak valid. Ketidaksesuaian dengan persyaratan yang ada dapat disebabkan beberapa faktor antara lain kesalahan dalam pembuatan larutan, kesalahan pada alat/instrument yang digunakan dan kesalahan pada praktikan sendiri. Dimana kurang teliti menganalisis data yang diperoleh. Oleh sebab itu, diperlukan ketelitian dalam penggunaan alat dan mengamati data yang diperoleh selama percobaan berlangsung.

V. KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini adalah mahasiswa telah memahami langkah-langkah yang digunakan dalam menganalisis obat dalam cairan hayati (darah) yang pertama-tama dilakukan pengambilan sampel darah, pembuatan larutan antikoagulan dan pengendap, penetapan kadar, pembuatan larutan baku dan larutan sampel, serta penetapan analisis perhitungan meliputi perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistemik.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Anief., Moh., 1995, Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan, UGM, Yogyakarta.

James M. W., 1991, Analisis Farmasi, Airlangga University Press, Surabaya.

Priharjo, R., 1995, Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, Penerbit Buku Kedeoteran EGC, Jakarta.

Shargel., 1985, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Airlangga University Press, Surabaya.

Syukri, Y., 2002, Biofarmasetika, UII Press, Yogyakarta.

Utami P, I., Wahyu. U dan Nur, A, M., 2009, Optimasi Metode Penetapan Ranitidin Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel, Jurnal PHARMACY, Vol. 6, No. 3.

LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)

LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA
LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)

I. PENDAHULUAN
1. Tujuan Percobaan 
Agar mahasiswa dapat memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati.

2. Latar Belakang
Ilmu yang mempelajari mekanisme obat dalam tubuh adalah farmakokinetik. Pada umumnya setiap obat yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami empat proses yaitu 1. absorbsi, proses obat memasuki sirkulasi cairan tubuh; 2. Distribusi, proses obat diangkut ke area tubuh dimana obat diharapkan bereaks atau disimpan didalam tubuh; 3. Biotransformasi, proses dimana obat diubah menjadi bentuk yang kurang aktif; dan 4. Eksresi adalah obat dikeluarkan dari dalam tubuh (Priharjo, 1995).

Ketersediaan hayati zat aktif suatu obat timbul sejak adanya ketidaksetaraan terapetik diantara sediaan bermerk dagang yang mengandung zat aktif yang sama dan dibuat dalam bentuk sediaan farmasetik yang serupa, serta diberikan dengan dosis yang sama. Berbagai kejadian (zat aktif menjadi tidak aktif atau menjadi toksik) dapat merupakan sebab ketidaksetaraan tersebut (Utami dkk., 2009).

Penentuan ketersediaan hayati kebanyakan hanya untuk bentuk sediaan obat seperti tablet dan kapsul yang digunakan peroral untuk memperoleh efek sistematik. Hal ini bukan berarti ketersediaan hayati tidak ada dalam bentuk sediaan obat yang lain selain bentuk padat/penggunaan bentuk obat melalui rute lain selain melalui mulut (Anief, 1995).

Metode analisis yang digunakan untuk penetapan kadar obat dalam serum hendaknya telah sahih, berkenaan dengan hal-hal berikut seperti spesifitas, linieritas, kepekaan, ketepatan, ketelitian, dan stabilitas (Sahrgel, 1985).

Untuk menganalisis darah total, komponen sel darah harus dilisis demikian sehingga kandungannya bercampur merata dengan sonikator atau ditentukan dalam jangka waktu tertentu lalu disonikasi. Plasma berbeda dengan serum, serum adalah plasma yang fibrinogennya telah dihilangkan dengan proses penjendalan, sedangkan plasma diperoleh dengan menambahkan suatu pencegah penjendalan ke dalam darah. Bila darah tidak diberi antikoagulan terjadilah penjendalan dan bila contoh seperti dipusingkan maka beningannya adalah serum (James, 1991).

Parameter-parameter yang berguna dalam penentuan ketersediaan hayati suatu obat meliputi data plasma, data urin, efek farmakologi akut, respon klinik. Ketersediaan hayati dilakukan baik terhadap bahan aktif yang telah disetujui maupun obat dengan efek terapeutik yang belum disetujui oleh FDA untuk dipasarkan. Setelah ketersediaan hayati dan parameter-parameter farmakokinetika dari bahan aktif diketahui aturan dosis dapat diajukan untuk mendukung pemberian label obat (Syukri, 2002).

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan sistematik kurang dari 10% (Pasha dkk., 1986).

II. CARA KERJA
1. Alat dan bahan
a. Alat
  • Batang pengaduk
  • Gelas kimia
  • Gelas ukur
  • Kuvet
  • Labu takar
  • Lumpang dan alu
  • Pipet tetes
  • Spektrofotometri Uv-Vis
  • Spatula besi
  • Spoit
  • Sentrifuge
  • Tabung reaksi
  • Tabung sentrifus 
  • Timbangan analitik
  • Vortex

b. Bahan
  • Aquades
  • Antalgin® (metampiron)
  • Sampel darah (manusia)
  • Tissue
  • Larutan pengendap
  • Larutan antikoagulan 
  • Alkohol 70%
  • Kapas

2. Cara Kerja
a. Pengambilan Sampel Darah
LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)


III. HASIL PERCOBAAN
LAPORAN ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI (DARAH)


IV PEMBAHASAN
Percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari dan memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati serta mengetahui prosedur obat dalam cairan hayati.

Pertama-tama yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu kita membuat kurva baku dari metampiron untuk mencari nilai a dan b dalam persamaan kurva baku y =a+ bx. Kurva baku yang baik apabila nilai r nya mendekati nilai 1. Metode spektrofotometri visible digunakan agar hasil analisis sesuai dengan ketentuan yang ada. 

Parameter yang dilakukan pada metode ini adalah recovery, presisi dan akurasi. Dimana recovery merupakan suatu tolak ukur efisiensi analisis dan dapat bernilai positif dan negatif. Akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau kedekatan antara nilai terukur dengan nilai yang diterima, baik nilai konvensi, nilai sebenarnya atau nilai rujukan. Sedangkan presisi merupakan ukuran keterulangan metode analisis dan biasanya diekspresikan sebagai simpangan baku relative dari sejumlah sampel yang berbeda signifikan secara statistik.

Selanjutnya dilakukan penetapan kadar metampiron sampel yang berupa darah ditambahkan HNO3 0,25% dengan tujuan untuk koagulasi darah agar tidak mengental. Selanjutnya divortex selama 30 detik, hal ini dilakukan untuk mencegah penggumpalan darah pada sampel. Kemudian sampel ditambahkan HgCl2 sebanyak 0,5 ml yang dihomogenkan. HgCl2 digunakan untuk deproteinisasi pada sampel darah. Apabila protein pada sampel tidak dihilangkan maka akan mengganggu nilai absorbansi ketika dibaca serapannya. Setelah itu disentrifuge 2000 rpm selama 10 menit. Pada proses sentrifuge, tujuannya adalah agar partikel lain mengendap sehingga tidak mengganggu pembacaan absorbansi. Selain itu, tujuan disentrifius adalah untuk memisahkan antara sampel darah dan pengendapnya berdasarkan bobot molekulnya.

Setelah didapat filtrat bening, sampel dibaca absorbansinya dengan lamda 192 nm menggunakan spektrofotometer Uv-Vis. Setelah itu didapatkan kadar dan dapat dihitung recovery, kesalahan acak dan kesalahan sistemik.

Berdasarkan hasil analisis yang didapat recovery pada sampel mendapatkan hasil yang telah sesuai dari persyaratannya 75%-90% atau lebih. Ini menunjukkan bahwa data telah valid sehingga dapat digunakan sebagai kinetika obat. Data recovery tersebut disimpulkan telah teliti, akurat dan efisien.

Selanjutnya pada perhitungan kesalahan acak mendapatkan hasil 0,511%, ini berarti hasil yang kami peroleh tidak melampaui persyaratan yang ada yaitu kurang dari 10%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel telah teliti dan efisien.

Perhitungan yang terakhir adalah kesalahan sistemik. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu salah satu sampel melebihi persyaratan kesalahan sistemik yang dipersyaratkan yaitu kurang dari 10%. Data ini dinyatakan tidak akurat dan efisien. Dari ketiga perhitungan yang telah kami lakukan data-data sebagian besar telah valid dan ada salah satu sampel pada hasil yang didapatkan pada kesalahan sistemik yang tidak valid. Ketidaksesuaian dengan persyaratan yang ada dapat disebabkan beberapa faktor antara lain kesalahan dalam pembuatan larutan, kesalahan pada alat/instrument yang digunakan dan kesalahan pada praktikan sendiri. Dimana kurang teliti menganalisis data yang diperoleh. Oleh sebab itu, diperlukan ketelitian dalam penggunaan alat dan mengamati data yang diperoleh selama percobaan berlangsung.

V. KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini adalah mahasiswa telah memahami langkah-langkah yang digunakan dalam menganalisis obat dalam cairan hayati (darah) yang pertama-tama dilakukan pengambilan sampel darah, pembuatan larutan antikoagulan dan pengendap, penetapan kadar, pembuatan larutan baku dan larutan sampel, serta penetapan analisis perhitungan meliputi perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistemik.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Anief., Moh., 1995, Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan, UGM, Yogyakarta.

James M. W., 1991, Analisis Farmasi, Airlangga University Press, Surabaya.

Priharjo, R., 1995, Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, Penerbit Buku Kedeoteran EGC, Jakarta.

Shargel., 1985, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Airlangga University Press, Surabaya.

Syukri, Y., 2002, Biofarmasetika, UII Press, Yogyakarta.

Utami P, I., Wahyu. U dan Nur, A, M., 2009, Optimasi Metode Penetapan Ranitidin Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel, Jurnal PHARMACY, Vol. 6, No. 3.