LAPORAN BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM - ElrinAlria
LAPORAN BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN VI
BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM

A. Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukan percobaan ini adalah :
  1. Mengetahui prinsip dasar pengujian ekstrak bahan alam. 
  2. Melakukan uji bioassay dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BTS). 

B. Teori Umum
Produk herbal telah digunakan secara tradisional sebagai agen terapi dan suplemen makanan di budaya Timur dan Barat. Penggunaan tanaman obat telah meningkat secara substansial di dekade terakhir dan survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 70-80% dari populasi dunia masih mengandalkan herbal berbasis obat tradisional untuk perawatan kesehatan primer nya. salah satu yang paling tanaman obat populer di Asia Tenggara di mana telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit adalah Orthosiphon stamineus (Muhammad dkk, 2011). Orthosiphon stamineus yang umumnya dikenal sebagai "Kumis Kucing" adalah salah satu yang tanaman obat populer yang tumbuh di Asia tenggara seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan negara-negara tetangga lainnya (Muhammad dkk, 2011).

Salah satu metode yang digunakan untuk penemuan obat tradisional adalah metode ekstraksi. Pemilihan metode ekstraksi tergantung pada sifat bahan dan senyawa yang akan diisolasi. Sebelum memilih suatu metode, target ekstraksi perlu ditentukan terlebih dahulu. Ada beberapa target ekstraksi, diantaranya senyawa bioaktif yang tidak diketahui, senyawa yang diketahui ada pada suatu organisme, sekelompok senyawa dalam suatu organisme yang berhubungan secara struktural (Mukhriani, 2014).

Ekstraksi merupakan salah satu metoda pemisahan zat terlarut dengan pelarutnya berdasarkan titik didih pelarut. Metode ekstraksi terbagi atas 2 cara, yaitu merasi dan soxhletasi. Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Bahan simpilisia yang digunakan dihaluskan berupa serbuk kasar, dilarutkan dengan bahan pengekstraksi, sedangkan soxhlet merupakan cara ekstraksi yang dilakukan dalam sebuah alat yang disebut soxhlet dengan pelarut polar berdasarkan titik didihnya. Pelarut yang biasa digunakan untuk ekstraksi diantaranya adalah metanol, etanol, etil asetat, aseton dan asetonitril dengan air. Pemilihan pelarut pada proses ekstraksi dilakukan dengan alasan karena pelarut mampu melarutkan senyawa yang akan diekstrak, mudah dipisahkan dan dimurnikan kembali. Suhu ekstraksi yang terbaik dilakukan pada kisaran suhu 20-80⁰C tetapi suhu yang digunakan harus dibawah titik didih pelarut yang digunakan (Damanik, 2014).

Daun "Kumis Kucing" (Melayu untuk "Cat Whiskers") umumnya digunakan sebagai Tea Java yang muncul dalam banyak produk di mana tindakan diuretik yang aman diperlukan seperti hipertensi, batu ginjal, retensi air, diabetes, detoksifikasi dan rematik. Produk ini memiliki berbagai bentuk seperti tablet, teh, jamu kapsul mentah, dan daun kering atau ekstrak. Selain itu, sifat antioksidan dari tanaman ini memainkan peran penting dari aktivitas terapeutiknya. Berbagai macam flavonoid terdeteksi di berbagai jaringan Orthosiphon stamineus seperti asam rosmarinik (RA), quercetin (Q), eupatorin (EUP) dan sinensetin (SEN). senyawa fenolik memperoleh banyak biologicalevents seperti anti-karsinogenik, anti-inflamasi, dan anti-aterosklerosis (Almatar dkk, 2014). Maka dari itu sebagai kelanjutan dari penelitian bioaktivitas kumis kucing, ingin diketahui efek toksisitasnya melalui uji Brine Shrimp Lethality Test (Uji BST). 

Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). merupakan salah satu metode uji toksisitas yang banyak digunakan dalam penelusuran senyawa bioaktif yang bersifat toksik dari bahan alam. Metode ini dapat digunakan sebagai bioassayguided fractionation dari bahan alam karena mudah, cepat, dan murah (Rahayu,2013). Uji pendahuluan senyawa aktif pada ekstrak tanaman biasanya dilakukan dengan hewan uji. Salah satu hewan uji yang sesuai adalah brine shrimp (udang laut) A. Salina Leach, sejenis udang-udangan primitif dan pertama kali ditemukan di Lymington, Inggris pada tahun 1755 dan termasuk famili crustaceae tingkat rendah dari phylum arthropoda (Sukandar dkk, 2008).

Metode pengujian BST dengan menggunakan Artemia salina dianggap memiliki korelasi dengan daya sitotoksik senyawa-senyawa antikanker, sehingga sering dilakukan untuk skrining awal pencarian senyawa antikanker. Metode ini dikenal sebagai metode yang cepat, mudah, merah, dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Sifat sitotoksik dapat diketahui berdasarkan jumlah kematian larva pada konsentrasi tertentu. Suatu ekstrak dikatakan toksik jika memiliki nilai LC (Konsentrasi yang mampu membunuh 50% larva udang) kurang dari 1000 g/ml setelah waktu kontak 24 jam (Indrayani dkk, 2006).

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Aerator 
  • Akuarium 
  • Batang Pengaduk 
  • Botol vial 
  • Gelas kimia 
  • Lampu pijar 
  • Oven 
  • Pipet tetes 
  • Senter 
  • Sendok tanduk 
  • Timbangan analitik 

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Air laut 
  • Aluminium foil 
  • DMSO 
  • Fraksi etil asetat 
  • Fraksi metanol 
  • Fraksi n-heksa 
  • Larva udang Artemia Salina Leach 
  • Tissue 

D. Prosedur Kerja
LAPORAN BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM

E. Hasil Pengamatan
LAPORAN BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM


F. Pembahasan
Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) merupakan salah satu metode uji toksisitas yang menggunakan hewan uji sebagai suatu bioassay sederhana untuk penelitian produk alamiah. Metode ini lebih sering digunakan karena memiliki keuntungan yaitu hasil yang diperoleh lebih cepat, tidak mahal, lebih mudah pengerjaannya dibandingkan dengan metode-metode yang lainnya karena tidak membutuhkan peralatan dan latihan khusus. Sampel yang digunakan pun relatif sedikit yang mana efek toksik dapat diketahui atau dapat diukur dari kematian larva karena pengaruh bahan uji.

Uji toksisitas dengan metode BSLT ini merupakan uji toksisitas akut dimana efek toksik dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat, yaitu rentang waktu selama 24 jam setelah pemberian dosis uji. Penentuannya menggunakan LC50 dengan satuan μg/ ml. LC50 adalah konsentrasi dari suatu senyawa kimia di udara atau dalam air yang dapat menyebabkan 50% kematian pada suatu populasi hewan uji atau makhluk hidup tertentu. Penggunaan LC50 dimaksudkan untuk pengujian ketoksikan dengan perlakuan terhadap hewan uji secara berkelompok yaitu pada saat hewan uji dipaparkan suatu bahan kimia melalui udara maka hewan uji tersebut akan menghirupnya atau percobaan toksisitas dengan media air. Nilai LC50 dapat digunakan untuk menentukan tingkat efek toksik suatu senyawa sehingga dapat juga untuk memprediksi potensinya sebagai antikanker. Prosedurnya dengan menentukan nilai LC50 dari aktivitas komponen aktif tanaman terhadap larva Artemia salina Leach yang dilakukan dalam medium air asin. Besarnya aktivitas dari ekstrak ditunjukkan sebagai toksisitas terhadap larva udang. Suatu ekstrak dikatakan toksik berdasarkan metode BSLT jika harga LC < 1000 μg/ ml.

Hewan uji yang umumnya digunakan pada metode BSLT ini yaitu Artemia salina Leach yang merupakan udang-udangan primitif, sederhana dan efektif dalam ilmu biologi dan toksikologi. Selain itu larva udang tersebut merupakan general biossay sehingga semua zat dapat menembus masuk menembus dinding sel larva tersebut Pada proses penetasan telur larva diberikan pencahayaan lampu yang bertujuan untuk membantu proses penetasan larva udang dan Aerator digunakan untuk menjaga oksigen terlarut sekitar 3 ppm. Pengujian dilakukan pada hewan uji larva udang (Artemia salina) setelah berumur 48 jam, karena pada umur tersebut larva udang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat sehingga diasumsikan sebagai pertumbuhan sel yang abnormal.

Percobaan kali ini menggunakan pelarut methanol, pelarut etil, pelarut n-heksan dan kontrol negatif menggunakan air laut dengan variasi konsentrasi yang berbeda masing-masing yaitu konsentrasi 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, 125 ppm dan 50 ppm untuk membandingkan efek toksik yang ditimbulkan dari masing-masing konsentrasi yang berbeda-beda. Uji toksisitas dilakukan dengan memasukkan 10 larva udang yang berumur 48 jam ke dalam botol vial yang kemudian dicukupkan volume air lautnya sebanyak 5 ml fraksi kumis kucing (Orthosiphon aristatus) yang sudah dilarutkan dengan masing-masing pelarutnya yaitu etil asetat, metanol dan n-heksan dengan menggunakan metode kalibrasi pada botol vial kosong sebelumnya. yang. Botol vial yang sudah berisi larva diberi label penanda, diletakkan ke dalam keranjang dengan rapih kemudian didiamkan selama 24 jam. 

Kesesokkan harinya botol-botol vial yang berjumlah 46 masing-masing dihitung jumlah larva udang yang mati dengan cara menaruh botol vial diatas senter ataupun cahaya agar lebih mudah menghitung larva udang yang bergerak-gerak didalam botol vial lalu dihitung larva udang satu persatu yang masih aktif bergerak dan yang melayang-layang ataupun mengapung dan tenggelam yang diidentifikasi bahwa larva udang tersebut telah mati. Pada fraksi methanol larva yang hidup ada pada konsentrasi 50 ppm dengan jumlah larva yang hidup yaitu 21 larva dan pada konsentrasi 1000 ppm larva yang masih hidup yaitu 3 larva dan hasil tersebut sama dengan fraksi etil dan n-heksan dimana pada konsentrasi 50 ppm larva masih banyak yang hidup dan pada konsentrasi 1000 ppm larva mati. Hal ini menunjukkan bahwa larva yang mati pada konsentrasi 1000 ppm berpotensi sebagai antikanker dan sebaliknya semakin banyak larva yang hidup pada konsentrasi 50 ppm maka tidak berpotensi sebagai antikanker. Kontrol negatif pada percobaan ini menggunakan air laut saja dan tidak menggunakan DMSO karena ekstrak yang digunakan dapat larut dengan air laut. Air laut sebagai kontrol negatif berfungsi untuk melihat apakah kematian larva udang disebabkan oleh ekstrak atau tidak dan bukan dari laut. 

G. Penutup
1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. Prinsip dasar pengujian ekstrak bahan alam dengan pengujian bioassay adalah suatu test atau uji yang menggunakan organisme hidup untuk mengetahui efektifitas suatu bahan hidup ataupun bahan organik dan anorganik terhadap suatu organisme hidup. Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi, oleh karena itu daya bunuh in vivo dari senyawa terhadap organisme hewan dapat digunakan untuk menapis ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan juga memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan pemurnian. 
  2. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa sampel kumis kucing pada fraksi metanol, etil asetat dan n-heksan bersifat toksik pada konsentrasi tinggi dan tidak begitu toksik pada konsentrasi rendah, selain itu fraksi etil asetat menyebabkan sifat toksisitas yang tinggi dimana larva hanya 17 hidup pada konsentrasi paling rendah yaitu 50 ppm sedangkan fraksi metanol dan n-heksan larva udang masih dapat hidup pada konsentrasi 500 ppm. 

2. Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini yaitu dibutuhkan ketelitian dan teknik khusus dalam proses penghitungan larva udang yang berukuran sangat kecil dan aktif bergerak sehingga data yang diperoleh tepat dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Almatar, M., Harith E., dan Zaidah R., 2014, A Glance on Medical Applications of Orthosiphon stamineus and Some of its Oxidative Compunds, International Journal of Pharmaceutical Science Review and Research Vol.24(2):83.

Damanik.D.D.P, Nurhayati.S, Rosdanelli.H, 2014, Ekstraksi Katekin Dari Daun Gambir (Uncaria gambir roxb) Dengan Metode Maserasi, Jurnal Teknik Kimia USU, Vol. 3( 2).

Indrayani, L., Hartiati S., dan Lydia S., 2006, Skrinning Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Daun Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis L. Vahl) terhadap Larva Udang Artemia salina Leach, Berk Panel Hayati Vol.12 (57-61)

Muhammad, H., Gomes-Carneiro M.R., Poca K.S., De-Oliveira, Afzan A., Sulaiman S.A., Ismail Z., dan Paumgratten F.J.R., 2011, Evaluation of the Genotoxity of Orthosiphon stamineus Aqueous Extract, Journal of Ethnopharmacology ELSEVIER 133:647.

Mukhriani, 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif, Jurnal Kesehatan, Vol.7 (2).

Sukandar, D., Hermanto s., Emi L., 2008, Uji Toksisitas Ekstrak Daun Pandan Wangi(Pandanus amaryllifolius Roxb.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Jurnal Kimia VALENSI Vol.3(2).

LAPORAN BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM

LAPORAN BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN VI
BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM

A. Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukan percobaan ini adalah :
  1. Mengetahui prinsip dasar pengujian ekstrak bahan alam. 
  2. Melakukan uji bioassay dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BTS). 

B. Teori Umum
Produk herbal telah digunakan secara tradisional sebagai agen terapi dan suplemen makanan di budaya Timur dan Barat. Penggunaan tanaman obat telah meningkat secara substansial di dekade terakhir dan survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 70-80% dari populasi dunia masih mengandalkan herbal berbasis obat tradisional untuk perawatan kesehatan primer nya. salah satu yang paling tanaman obat populer di Asia Tenggara di mana telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit adalah Orthosiphon stamineus (Muhammad dkk, 2011). Orthosiphon stamineus yang umumnya dikenal sebagai "Kumis Kucing" adalah salah satu yang tanaman obat populer yang tumbuh di Asia tenggara seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan negara-negara tetangga lainnya (Muhammad dkk, 2011).

Salah satu metode yang digunakan untuk penemuan obat tradisional adalah metode ekstraksi. Pemilihan metode ekstraksi tergantung pada sifat bahan dan senyawa yang akan diisolasi. Sebelum memilih suatu metode, target ekstraksi perlu ditentukan terlebih dahulu. Ada beberapa target ekstraksi, diantaranya senyawa bioaktif yang tidak diketahui, senyawa yang diketahui ada pada suatu organisme, sekelompok senyawa dalam suatu organisme yang berhubungan secara struktural (Mukhriani, 2014).

Ekstraksi merupakan salah satu metoda pemisahan zat terlarut dengan pelarutnya berdasarkan titik didih pelarut. Metode ekstraksi terbagi atas 2 cara, yaitu merasi dan soxhletasi. Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Bahan simpilisia yang digunakan dihaluskan berupa serbuk kasar, dilarutkan dengan bahan pengekstraksi, sedangkan soxhlet merupakan cara ekstraksi yang dilakukan dalam sebuah alat yang disebut soxhlet dengan pelarut polar berdasarkan titik didihnya. Pelarut yang biasa digunakan untuk ekstraksi diantaranya adalah metanol, etanol, etil asetat, aseton dan asetonitril dengan air. Pemilihan pelarut pada proses ekstraksi dilakukan dengan alasan karena pelarut mampu melarutkan senyawa yang akan diekstrak, mudah dipisahkan dan dimurnikan kembali. Suhu ekstraksi yang terbaik dilakukan pada kisaran suhu 20-80⁰C tetapi suhu yang digunakan harus dibawah titik didih pelarut yang digunakan (Damanik, 2014).

Daun "Kumis Kucing" (Melayu untuk "Cat Whiskers") umumnya digunakan sebagai Tea Java yang muncul dalam banyak produk di mana tindakan diuretik yang aman diperlukan seperti hipertensi, batu ginjal, retensi air, diabetes, detoksifikasi dan rematik. Produk ini memiliki berbagai bentuk seperti tablet, teh, jamu kapsul mentah, dan daun kering atau ekstrak. Selain itu, sifat antioksidan dari tanaman ini memainkan peran penting dari aktivitas terapeutiknya. Berbagai macam flavonoid terdeteksi di berbagai jaringan Orthosiphon stamineus seperti asam rosmarinik (RA), quercetin (Q), eupatorin (EUP) dan sinensetin (SEN). senyawa fenolik memperoleh banyak biologicalevents seperti anti-karsinogenik, anti-inflamasi, dan anti-aterosklerosis (Almatar dkk, 2014). Maka dari itu sebagai kelanjutan dari penelitian bioaktivitas kumis kucing, ingin diketahui efek toksisitasnya melalui uji Brine Shrimp Lethality Test (Uji BST). 

Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). merupakan salah satu metode uji toksisitas yang banyak digunakan dalam penelusuran senyawa bioaktif yang bersifat toksik dari bahan alam. Metode ini dapat digunakan sebagai bioassayguided fractionation dari bahan alam karena mudah, cepat, dan murah (Rahayu,2013). Uji pendahuluan senyawa aktif pada ekstrak tanaman biasanya dilakukan dengan hewan uji. Salah satu hewan uji yang sesuai adalah brine shrimp (udang laut) A. Salina Leach, sejenis udang-udangan primitif dan pertama kali ditemukan di Lymington, Inggris pada tahun 1755 dan termasuk famili crustaceae tingkat rendah dari phylum arthropoda (Sukandar dkk, 2008).

Metode pengujian BST dengan menggunakan Artemia salina dianggap memiliki korelasi dengan daya sitotoksik senyawa-senyawa antikanker, sehingga sering dilakukan untuk skrining awal pencarian senyawa antikanker. Metode ini dikenal sebagai metode yang cepat, mudah, merah, dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Sifat sitotoksik dapat diketahui berdasarkan jumlah kematian larva pada konsentrasi tertentu. Suatu ekstrak dikatakan toksik jika memiliki nilai LC (Konsentrasi yang mampu membunuh 50% larva udang) kurang dari 1000 g/ml setelah waktu kontak 24 jam (Indrayani dkk, 2006).

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Aerator 
  • Akuarium 
  • Batang Pengaduk 
  • Botol vial 
  • Gelas kimia 
  • Lampu pijar 
  • Oven 
  • Pipet tetes 
  • Senter 
  • Sendok tanduk 
  • Timbangan analitik 

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Air laut 
  • Aluminium foil 
  • DMSO 
  • Fraksi etil asetat 
  • Fraksi metanol 
  • Fraksi n-heksa 
  • Larva udang Artemia Salina Leach 
  • Tissue 

D. Prosedur Kerja
LAPORAN BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM

E. Hasil Pengamatan
LAPORAN BIOASSAY EKSTRAK BAHAN ALAM


F. Pembahasan
Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) merupakan salah satu metode uji toksisitas yang menggunakan hewan uji sebagai suatu bioassay sederhana untuk penelitian produk alamiah. Metode ini lebih sering digunakan karena memiliki keuntungan yaitu hasil yang diperoleh lebih cepat, tidak mahal, lebih mudah pengerjaannya dibandingkan dengan metode-metode yang lainnya karena tidak membutuhkan peralatan dan latihan khusus. Sampel yang digunakan pun relatif sedikit yang mana efek toksik dapat diketahui atau dapat diukur dari kematian larva karena pengaruh bahan uji.

Uji toksisitas dengan metode BSLT ini merupakan uji toksisitas akut dimana efek toksik dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat, yaitu rentang waktu selama 24 jam setelah pemberian dosis uji. Penentuannya menggunakan LC50 dengan satuan μg/ ml. LC50 adalah konsentrasi dari suatu senyawa kimia di udara atau dalam air yang dapat menyebabkan 50% kematian pada suatu populasi hewan uji atau makhluk hidup tertentu. Penggunaan LC50 dimaksudkan untuk pengujian ketoksikan dengan perlakuan terhadap hewan uji secara berkelompok yaitu pada saat hewan uji dipaparkan suatu bahan kimia melalui udara maka hewan uji tersebut akan menghirupnya atau percobaan toksisitas dengan media air. Nilai LC50 dapat digunakan untuk menentukan tingkat efek toksik suatu senyawa sehingga dapat juga untuk memprediksi potensinya sebagai antikanker. Prosedurnya dengan menentukan nilai LC50 dari aktivitas komponen aktif tanaman terhadap larva Artemia salina Leach yang dilakukan dalam medium air asin. Besarnya aktivitas dari ekstrak ditunjukkan sebagai toksisitas terhadap larva udang. Suatu ekstrak dikatakan toksik berdasarkan metode BSLT jika harga LC < 1000 μg/ ml.

Hewan uji yang umumnya digunakan pada metode BSLT ini yaitu Artemia salina Leach yang merupakan udang-udangan primitif, sederhana dan efektif dalam ilmu biologi dan toksikologi. Selain itu larva udang tersebut merupakan general biossay sehingga semua zat dapat menembus masuk menembus dinding sel larva tersebut Pada proses penetasan telur larva diberikan pencahayaan lampu yang bertujuan untuk membantu proses penetasan larva udang dan Aerator digunakan untuk menjaga oksigen terlarut sekitar 3 ppm. Pengujian dilakukan pada hewan uji larva udang (Artemia salina) setelah berumur 48 jam, karena pada umur tersebut larva udang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat sehingga diasumsikan sebagai pertumbuhan sel yang abnormal.

Percobaan kali ini menggunakan pelarut methanol, pelarut etil, pelarut n-heksan dan kontrol negatif menggunakan air laut dengan variasi konsentrasi yang berbeda masing-masing yaitu konsentrasi 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, 125 ppm dan 50 ppm untuk membandingkan efek toksik yang ditimbulkan dari masing-masing konsentrasi yang berbeda-beda. Uji toksisitas dilakukan dengan memasukkan 10 larva udang yang berumur 48 jam ke dalam botol vial yang kemudian dicukupkan volume air lautnya sebanyak 5 ml fraksi kumis kucing (Orthosiphon aristatus) yang sudah dilarutkan dengan masing-masing pelarutnya yaitu etil asetat, metanol dan n-heksan dengan menggunakan metode kalibrasi pada botol vial kosong sebelumnya. yang. Botol vial yang sudah berisi larva diberi label penanda, diletakkan ke dalam keranjang dengan rapih kemudian didiamkan selama 24 jam. 

Kesesokkan harinya botol-botol vial yang berjumlah 46 masing-masing dihitung jumlah larva udang yang mati dengan cara menaruh botol vial diatas senter ataupun cahaya agar lebih mudah menghitung larva udang yang bergerak-gerak didalam botol vial lalu dihitung larva udang satu persatu yang masih aktif bergerak dan yang melayang-layang ataupun mengapung dan tenggelam yang diidentifikasi bahwa larva udang tersebut telah mati. Pada fraksi methanol larva yang hidup ada pada konsentrasi 50 ppm dengan jumlah larva yang hidup yaitu 21 larva dan pada konsentrasi 1000 ppm larva yang masih hidup yaitu 3 larva dan hasil tersebut sama dengan fraksi etil dan n-heksan dimana pada konsentrasi 50 ppm larva masih banyak yang hidup dan pada konsentrasi 1000 ppm larva mati. Hal ini menunjukkan bahwa larva yang mati pada konsentrasi 1000 ppm berpotensi sebagai antikanker dan sebaliknya semakin banyak larva yang hidup pada konsentrasi 50 ppm maka tidak berpotensi sebagai antikanker. Kontrol negatif pada percobaan ini menggunakan air laut saja dan tidak menggunakan DMSO karena ekstrak yang digunakan dapat larut dengan air laut. Air laut sebagai kontrol negatif berfungsi untuk melihat apakah kematian larva udang disebabkan oleh ekstrak atau tidak dan bukan dari laut. 

G. Penutup
1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. Prinsip dasar pengujian ekstrak bahan alam dengan pengujian bioassay adalah suatu test atau uji yang menggunakan organisme hidup untuk mengetahui efektifitas suatu bahan hidup ataupun bahan organik dan anorganik terhadap suatu organisme hidup. Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi, oleh karena itu daya bunuh in vivo dari senyawa terhadap organisme hewan dapat digunakan untuk menapis ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan juga memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan pemurnian. 
  2. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa sampel kumis kucing pada fraksi metanol, etil asetat dan n-heksan bersifat toksik pada konsentrasi tinggi dan tidak begitu toksik pada konsentrasi rendah, selain itu fraksi etil asetat menyebabkan sifat toksisitas yang tinggi dimana larva hanya 17 hidup pada konsentrasi paling rendah yaitu 50 ppm sedangkan fraksi metanol dan n-heksan larva udang masih dapat hidup pada konsentrasi 500 ppm. 

2. Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini yaitu dibutuhkan ketelitian dan teknik khusus dalam proses penghitungan larva udang yang berukuran sangat kecil dan aktif bergerak sehingga data yang diperoleh tepat dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Almatar, M., Harith E., dan Zaidah R., 2014, A Glance on Medical Applications of Orthosiphon stamineus and Some of its Oxidative Compunds, International Journal of Pharmaceutical Science Review and Research Vol.24(2):83.

Damanik.D.D.P, Nurhayati.S, Rosdanelli.H, 2014, Ekstraksi Katekin Dari Daun Gambir (Uncaria gambir roxb) Dengan Metode Maserasi, Jurnal Teknik Kimia USU, Vol. 3( 2).

Indrayani, L., Hartiati S., dan Lydia S., 2006, Skrinning Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Daun Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis L. Vahl) terhadap Larva Udang Artemia salina Leach, Berk Panel Hayati Vol.12 (57-61)

Muhammad, H., Gomes-Carneiro M.R., Poca K.S., De-Oliveira, Afzan A., Sulaiman S.A., Ismail Z., dan Paumgratten F.J.R., 2011, Evaluation of the Genotoxity of Orthosiphon stamineus Aqueous Extract, Journal of Ethnopharmacology ELSEVIER 133:647.

Mukhriani, 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif, Jurnal Kesehatan, Vol.7 (2).

Sukandar, D., Hermanto s., Emi L., 2008, Uji Toksisitas Ekstrak Daun Pandan Wangi(Pandanus amaryllifolius Roxb.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Jurnal Kimia VALENSI Vol.3(2).