LAPORAN BROMATOMETRI - ElrinAlria

LAPORAN BROMATOMETRI

LAPORAN BROMATOMETRI
PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN VI

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu mampu menetapkan kadar senyawa obat yang dapat bereaksi dengan adanya brom berlebihan (titrasi tidak langsung).

B. LANDASAN TEORI
Bromo-bromatometri merupakan salah satu metode penetapan kadar suatu zat dengan prinsip reaksi reduksi-oksidasi. Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan hilangnya satu elektron atau lebih dari dalam zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah ke harga yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah zat yang memperoleh elektron, dan dalam proses itu zat tersebut direduksi (Rivai, 1995).

Bromatometri merupakan salah satu metode oksidimetri dengan dasar reaksi dari ion bromat (BrO3). Oksidasi potensiometri yang relatif tinggi dari sistem ini menunjukkan bahwa kalium bromat adalah oksidator kuat. Hanya saja kecepatan reaksinya tidak cukup tinggi. Untuk menaikkan kecepatan ini titrasi dilakukan dalam keadaan panas dan dalam lingkungan asam kuat. Adanya sedikit kelebihan kalium bromat dalam larutan akan menyebabkan ion bromida bereaksi dengan ion bromat, dan bromin yang dibebaskan akan merubah larutan menjadi warna kuning pucat, warna ini sangat lemah sehingga tidak mudah untuk menetapkan titik akhir (Wunas dan Said, 1986).

Brom dapat digunakan sebagai oksidator seperti iodim. Brom akan direduksi oleh zat-zat organik dengan terbentuknya senyawa hasil substitusi yang tidak larut dalam air seperti tribromofenol, tribromoanilin, dan sebagainya yang reaksinya berlangsung secara kuantitatif. Brom juga dapat digunakan untuk menetapkan kadar senyawa-senyawa organik yang mampu bereaksi secara adisi atau substitusi dengan brom (Gandjar dan Rohman, 2007).

Selain itu, brom juga dapat diperoleh dari hasil pecampuran kalium bromat dan kalium bromida dalam linkungan asam kuat. Beberapa senyawa yang ditetapkan kadarnya dengan larutan baku brom dalam Farmakope Indonesia Edisi IV yaitu klorokresol, fenol, fenol cair, fenileprin HCl, resorsinol, dan timol (Gandjar dan Rohman, 2007).

Titrasi adalah salah satu proses atau prosedur dalam analisis volumetri dimana suatu titran atau larutan standar (yang telah diketahui konsentrasinya) diteteskan melalui buret ke larutan lain yang dapat bereaksi dengannya (belum diketahui konsentrasinya) hingga tercapai suatu titik ekuivalen atau titik akhir. Artinya, zat yang ditambahkan tepat bereaksi dengan zat yang ditambahi. Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan biasanya diletakkan di dalam erlenmeyer. Sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut titer dan biasanya diletakkan di buret (Ika, 2009).

Metode pengukuran konsentrasi suatu larutan menggunakan metode titrasi yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang akan diuji, kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan dari larutan yang akan diuji (Pratama).

Pada analisis vomunetri atau titrimetri, untuk mengetahui saat reaksi sempurna dapat dipergunakan suatu zat yang disebut indikator. Indikator umumnya adalah senyawa yang berwarna, dimana senyawa tersebut akan mengalami perubahan warna seiring dengan perubahan pH. Indikator juga dapat menanggapi kelebihan titran dengan adanya perubahan warna. Indikator dapat berubah warna dikarenakan sistem kromofornya diubah oleh reaksi asam basa (Suirta, 2010).

Asam salisilat dikenal juga dengan 2-hydroxy-benzoic acid atau orthohydrobenzoic acid, memiliki strukutur kimia C7H6O3. Asam salisilat memiliki pKa2,97. Asam salisilat dapat diektraski dari pohon willow bark, daun winter green, spearmint, sweet birch. Bentuk mikroskopis dari asam salisilat berupa bubuk kristal putih dengan rasa manis, tidak berbau, dan stabil pada udara bebas. Bubuk dari asam salisilat sukar larut di dalam air dan lebih mudah larut di dalam lemak. Sifat lipofilik dari asam salisilat membuat efek klinisnya terbatas pada lapisan epidermis (Sulistyaningrum, dkk., 2012).

Asam salisilat memiliki aktivitas keratorik dan antiseptik lemak jika digunakan secara topikal. Karena sifatnya yang asam dapat meningkatkan hidrasi endogen, sehingga keratin terdistribusi dipermukaan kulit yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan absorpsi ke dalam kulit. Selain itu, penggunaan jangka panjang pada daerah yang sama akan mengiritasi kulit sehingga menyebabkan dermatitis. Sehingga untuk mengurangi sifat iritatif pada kulit, dilakukan usaha mikroenkapsulasi dalam bentuk sistem liposom (Panjaitan, 2008).

Tiga faktor yang berperan penting pada mekanisme keratotik asam salisilat yaitu menurunkan ikatan komeosit, melarutkan semen interselular, dan melonggarkan serta mendisintegrasi komesoit (Sulistyaningrum, dkk., 2012).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Gelas kimia 
  • Erlenmeyer 
  • Batang pengaduk 
  • Pipet tetes 
  • Buret 
  • Statif dan klem 
  • Gelas ukur 
  • Timbangan analitik 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Bedak salicyl 
  • KBr 
  • HCl pekat 
  • KI 
  • Indikator kanji 
  • Larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) 

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN BROMATOMETRI

E. HASIL PENGAMATAN
1. Data Pengamatan
LAPORAN BROMATOMETRI


F. PEMBAHASAN
Bromatometri merupakan salah satu metode oksidimetri dengan dasar reaksi dari ion bromat (BrO3). Oksidasi potensiometri yang relatif tinggi dari sistem ini menunjukkan bahwa kalium bromat adalah oksidator kuat. Hanya saja kecepatan reaksinya tidak cukup tinggi. Untuk menaikkan kecepatan ini titrasi dilakukan dalam keadaan panas dan dalam lingkungan asam kuat. Adanya sedikit kelebihan kalium bromat dalam larutan akan menyebabkan ion bromida bereaksi dengan ion bromat, dan bromin yang dibebaskan akan merubah larutan menjadi warna putih, warna ini sangat lemah sehingga tidak mudah untuk menetapkan titik akhir.

Pada percobaan ini akan ditetapkan suatu kadar sampel yang mengandung asam salisilat yaitu bedak salicyl. prinsip kerja dari percobaan ini yaitu titrasi tidak langsung. Dikatakan titrasi tidak langsung karena menggunakan dua larutan yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Titrasi tidak langsung adalah salah satu jenis titrasi dimana sampel yang akan dititrasi dereaksikan terlebih dahulu dengan pereaksi yang lain, selanjutnya sisa dari hasil reaksi tersebut akan dititrasi lagi dengan mengunakan Natrium Tiosulfat (Na2S2O7). 

Langkah pertama yang dilakukan yaitu menimbang sampel yang mengandung asam salisilat (bedak salicyl) sebanyak 0,05 gram. Kemudian di tambahkan 30 ml KBr 0,1 M. Penambahan ini karena asam salisilat tidak dapat bereaksi dengan natrium tiosulfat, oleh karena itu harus direaksikan terlebih dahulu dengan menggunakan Br. Setelah itu, dilakukan penambahan 1 ml HCl pekat. Hal ini bertujuan agar memberikan suasana asam agar bromin terbebas. Selain itu, penambahan HCl pekat bertujuan untuk membantu kecepatan kinateika reaksi sampel sehingga lebih mudah untuk bereaksi. Reaksi yang dihasilkan yaitu:

KBrO3 + KBr + HCl => Br2 + KCl + H2O2

Asam klorida dapat menggantikan Br karena Cl mempunyai keelektronegatifan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Br. Ketika Br direaksikan dengan asam salisilat diharapkan Br lebih banyak dibandingkan dengan asam salisilat. 

Setelah itu, ditambahkan 5 ml KI. Tujuan penambahan KI yaitu mengubah brom menjadi iodium sesuai dengan reaksi

Br2 + 2KI => 2KBr + I2

I2 yang terbentuk sama dengan Br2 yang terbentuk dari sisa reaksi. Setelah itu ditambahkan 1 pipet indikator kanji. Penggunaan indikator kanji dikarenakan di dalam larutan pati terdapat unit-unit glukosa yang membentuk suatu rantai karena adanya suatu ikatan konfigurasi pada setiap unit glukosa. Akan tetapi, sebelum digunakan indikator kanji terlebih dahulu dipanaskan, karena kanji tidak akan mudah untuk larut sebelum dipanaskan. 

Setelah itu di pindahkan ke erlenmeyer, sambil digojok. Kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3). Reaksi yang dihasilkan yaitu:

Na2SO3 + I2 => 2NaI + S2O3

Titik akhir titrasi dapat diketahi dengan adanya perubahan wana yang dihasilkan sebagai tanda berakhirnya titrasi. Perubahan warna ini terjadi karena adanya penambahan indikator. Dari hasil titrasi, volume yang digunakan untuk mentitrasi yaitu sebanyak 0,5 ml. Dan % kadar yang dipeorleh yaitu 0,13%. 

Manfaat aplikasi bromatometri dalam bidang farmasi yaitu guna menetapakan kadar-kadar senyawa obat yang bersifat reduktor kuat seperti vitamin C dan arsen (III), senyawa-senyawa yang mampu bereaksi secara subtitusi dengan brom seperti fenol, asam salisilat, anilin dan sulfonamida. Bromatometri juga dapat menetapkan kadar senyawa-senyawa yang mampu bereaksi secara adisi dengan brom seperti kalsium siklobarbital dan etena.

Dala percobaan ini, terkadang terdapat beberapa kesalahan. Kealahan-kesalahan ini diantaranya cara mentitrasi yang kurang benar, larutan teroksidasi oleh cahaya, kesalahan dalam pengamatan, penggunaan alat yang kurang bersih, serta pengukuran yang kurang teliti. 

G. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu kadar asam salisilat sebesar 0,13%. 

DAFTAR PUSTAKA
Gandjar, I., G., Abdul Rohman, 2007, Kimia Analisis Farmasi, Pustaka Pelajar., Yogyakarta.

Ika, Dani. 2009. Alat Otomatis Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi Asam Basa. Jurnal Neutrino Vol. 1, No. 2.

Panjaitan, Elman. 2008. Karakterisasi Fisik Liposom Asam Salisilat Menggunakan Miksroskop Elektron Transmisi. Jurnal Sains Materi Indonesia, Vol. 9, No. 3. Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir (PTBIN) Batan. Serpong, Tangerang.

Pratama, Anggi. 2010. Aplikasi Labview Sebagai Pengukur Kadar Vitamin C Dalam Larutan Menggunakan Metode Titrasi Iodimetri. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Semarang. 

Rivai, H., 1995, Analisis Pemeriksaan Kimia, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Sulistyaningrum, Sri Katon. 2012. Penggunaan Asam Salisilat Dalam Dermatologi. J Indon Med Assoc, Vol. 62, No. 7. Departemen Ilmu Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Indoneisa. Jakarta.

Suirta, I. W. 2010. Sintetis Senyawa orto-Fenilazo-2-Naftol- Sebagai Indikator Dalam Titrasi. Jurnal Kimia, Vol. IV. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana. Bukit Jimbaran.

Wunas, J., Said S., 1986, Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif, Universitas Hasanuddin, Makassar.

LAPORAN BROMATOMETRI


LAPORAN BROMATOMETRI

LAPORAN BROMATOMETRI
PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN VI

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu mampu menetapkan kadar senyawa obat yang dapat bereaksi dengan adanya brom berlebihan (titrasi tidak langsung).

B. LANDASAN TEORI
Bromo-bromatometri merupakan salah satu metode penetapan kadar suatu zat dengan prinsip reaksi reduksi-oksidasi. Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan hilangnya satu elektron atau lebih dari dalam zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah ke harga yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah zat yang memperoleh elektron, dan dalam proses itu zat tersebut direduksi (Rivai, 1995).

Bromatometri merupakan salah satu metode oksidimetri dengan dasar reaksi dari ion bromat (BrO3). Oksidasi potensiometri yang relatif tinggi dari sistem ini menunjukkan bahwa kalium bromat adalah oksidator kuat. Hanya saja kecepatan reaksinya tidak cukup tinggi. Untuk menaikkan kecepatan ini titrasi dilakukan dalam keadaan panas dan dalam lingkungan asam kuat. Adanya sedikit kelebihan kalium bromat dalam larutan akan menyebabkan ion bromida bereaksi dengan ion bromat, dan bromin yang dibebaskan akan merubah larutan menjadi warna kuning pucat, warna ini sangat lemah sehingga tidak mudah untuk menetapkan titik akhir (Wunas dan Said, 1986).

Brom dapat digunakan sebagai oksidator seperti iodim. Brom akan direduksi oleh zat-zat organik dengan terbentuknya senyawa hasil substitusi yang tidak larut dalam air seperti tribromofenol, tribromoanilin, dan sebagainya yang reaksinya berlangsung secara kuantitatif. Brom juga dapat digunakan untuk menetapkan kadar senyawa-senyawa organik yang mampu bereaksi secara adisi atau substitusi dengan brom (Gandjar dan Rohman, 2007).

Selain itu, brom juga dapat diperoleh dari hasil pecampuran kalium bromat dan kalium bromida dalam linkungan asam kuat. Beberapa senyawa yang ditetapkan kadarnya dengan larutan baku brom dalam Farmakope Indonesia Edisi IV yaitu klorokresol, fenol, fenol cair, fenileprin HCl, resorsinol, dan timol (Gandjar dan Rohman, 2007).

Titrasi adalah salah satu proses atau prosedur dalam analisis volumetri dimana suatu titran atau larutan standar (yang telah diketahui konsentrasinya) diteteskan melalui buret ke larutan lain yang dapat bereaksi dengannya (belum diketahui konsentrasinya) hingga tercapai suatu titik ekuivalen atau titik akhir. Artinya, zat yang ditambahkan tepat bereaksi dengan zat yang ditambahi. Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan biasanya diletakkan di dalam erlenmeyer. Sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut titer dan biasanya diletakkan di buret (Ika, 2009).

Metode pengukuran konsentrasi suatu larutan menggunakan metode titrasi yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang akan diuji, kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan dari larutan yang akan diuji (Pratama).

Pada analisis vomunetri atau titrimetri, untuk mengetahui saat reaksi sempurna dapat dipergunakan suatu zat yang disebut indikator. Indikator umumnya adalah senyawa yang berwarna, dimana senyawa tersebut akan mengalami perubahan warna seiring dengan perubahan pH. Indikator juga dapat menanggapi kelebihan titran dengan adanya perubahan warna. Indikator dapat berubah warna dikarenakan sistem kromofornya diubah oleh reaksi asam basa (Suirta, 2010).

Asam salisilat dikenal juga dengan 2-hydroxy-benzoic acid atau orthohydrobenzoic acid, memiliki strukutur kimia C7H6O3. Asam salisilat memiliki pKa2,97. Asam salisilat dapat diektraski dari pohon willow bark, daun winter green, spearmint, sweet birch. Bentuk mikroskopis dari asam salisilat berupa bubuk kristal putih dengan rasa manis, tidak berbau, dan stabil pada udara bebas. Bubuk dari asam salisilat sukar larut di dalam air dan lebih mudah larut di dalam lemak. Sifat lipofilik dari asam salisilat membuat efek klinisnya terbatas pada lapisan epidermis (Sulistyaningrum, dkk., 2012).

Asam salisilat memiliki aktivitas keratorik dan antiseptik lemak jika digunakan secara topikal. Karena sifatnya yang asam dapat meningkatkan hidrasi endogen, sehingga keratin terdistribusi dipermukaan kulit yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan absorpsi ke dalam kulit. Selain itu, penggunaan jangka panjang pada daerah yang sama akan mengiritasi kulit sehingga menyebabkan dermatitis. Sehingga untuk mengurangi sifat iritatif pada kulit, dilakukan usaha mikroenkapsulasi dalam bentuk sistem liposom (Panjaitan, 2008).

Tiga faktor yang berperan penting pada mekanisme keratotik asam salisilat yaitu menurunkan ikatan komeosit, melarutkan semen interselular, dan melonggarkan serta mendisintegrasi komesoit (Sulistyaningrum, dkk., 2012).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Gelas kimia 
  • Erlenmeyer 
  • Batang pengaduk 
  • Pipet tetes 
  • Buret 
  • Statif dan klem 
  • Gelas ukur 
  • Timbangan analitik 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Bedak salicyl 
  • KBr 
  • HCl pekat 
  • KI 
  • Indikator kanji 
  • Larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) 

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN BROMATOMETRI

E. HASIL PENGAMATAN
1. Data Pengamatan
LAPORAN BROMATOMETRI


F. PEMBAHASAN
Bromatometri merupakan salah satu metode oksidimetri dengan dasar reaksi dari ion bromat (BrO3). Oksidasi potensiometri yang relatif tinggi dari sistem ini menunjukkan bahwa kalium bromat adalah oksidator kuat. Hanya saja kecepatan reaksinya tidak cukup tinggi. Untuk menaikkan kecepatan ini titrasi dilakukan dalam keadaan panas dan dalam lingkungan asam kuat. Adanya sedikit kelebihan kalium bromat dalam larutan akan menyebabkan ion bromida bereaksi dengan ion bromat, dan bromin yang dibebaskan akan merubah larutan menjadi warna putih, warna ini sangat lemah sehingga tidak mudah untuk menetapkan titik akhir.

Pada percobaan ini akan ditetapkan suatu kadar sampel yang mengandung asam salisilat yaitu bedak salicyl. prinsip kerja dari percobaan ini yaitu titrasi tidak langsung. Dikatakan titrasi tidak langsung karena menggunakan dua larutan yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Titrasi tidak langsung adalah salah satu jenis titrasi dimana sampel yang akan dititrasi dereaksikan terlebih dahulu dengan pereaksi yang lain, selanjutnya sisa dari hasil reaksi tersebut akan dititrasi lagi dengan mengunakan Natrium Tiosulfat (Na2S2O7). 

Langkah pertama yang dilakukan yaitu menimbang sampel yang mengandung asam salisilat (bedak salicyl) sebanyak 0,05 gram. Kemudian di tambahkan 30 ml KBr 0,1 M. Penambahan ini karena asam salisilat tidak dapat bereaksi dengan natrium tiosulfat, oleh karena itu harus direaksikan terlebih dahulu dengan menggunakan Br. Setelah itu, dilakukan penambahan 1 ml HCl pekat. Hal ini bertujuan agar memberikan suasana asam agar bromin terbebas. Selain itu, penambahan HCl pekat bertujuan untuk membantu kecepatan kinateika reaksi sampel sehingga lebih mudah untuk bereaksi. Reaksi yang dihasilkan yaitu:

KBrO3 + KBr + HCl => Br2 + KCl + H2O2

Asam klorida dapat menggantikan Br karena Cl mempunyai keelektronegatifan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Br. Ketika Br direaksikan dengan asam salisilat diharapkan Br lebih banyak dibandingkan dengan asam salisilat. 

Setelah itu, ditambahkan 5 ml KI. Tujuan penambahan KI yaitu mengubah brom menjadi iodium sesuai dengan reaksi

Br2 + 2KI => 2KBr + I2

I2 yang terbentuk sama dengan Br2 yang terbentuk dari sisa reaksi. Setelah itu ditambahkan 1 pipet indikator kanji. Penggunaan indikator kanji dikarenakan di dalam larutan pati terdapat unit-unit glukosa yang membentuk suatu rantai karena adanya suatu ikatan konfigurasi pada setiap unit glukosa. Akan tetapi, sebelum digunakan indikator kanji terlebih dahulu dipanaskan, karena kanji tidak akan mudah untuk larut sebelum dipanaskan. 

Setelah itu di pindahkan ke erlenmeyer, sambil digojok. Kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3). Reaksi yang dihasilkan yaitu:

Na2SO3 + I2 => 2NaI + S2O3

Titik akhir titrasi dapat diketahi dengan adanya perubahan wana yang dihasilkan sebagai tanda berakhirnya titrasi. Perubahan warna ini terjadi karena adanya penambahan indikator. Dari hasil titrasi, volume yang digunakan untuk mentitrasi yaitu sebanyak 0,5 ml. Dan % kadar yang dipeorleh yaitu 0,13%. 

Manfaat aplikasi bromatometri dalam bidang farmasi yaitu guna menetapakan kadar-kadar senyawa obat yang bersifat reduktor kuat seperti vitamin C dan arsen (III), senyawa-senyawa yang mampu bereaksi secara subtitusi dengan brom seperti fenol, asam salisilat, anilin dan sulfonamida. Bromatometri juga dapat menetapkan kadar senyawa-senyawa yang mampu bereaksi secara adisi dengan brom seperti kalsium siklobarbital dan etena.

Dala percobaan ini, terkadang terdapat beberapa kesalahan. Kealahan-kesalahan ini diantaranya cara mentitrasi yang kurang benar, larutan teroksidasi oleh cahaya, kesalahan dalam pengamatan, penggunaan alat yang kurang bersih, serta pengukuran yang kurang teliti. 

G. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu kadar asam salisilat sebesar 0,13%. 

DAFTAR PUSTAKA
Gandjar, I., G., Abdul Rohman, 2007, Kimia Analisis Farmasi, Pustaka Pelajar., Yogyakarta.

Ika, Dani. 2009. Alat Otomatis Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi Asam Basa. Jurnal Neutrino Vol. 1, No. 2.

Panjaitan, Elman. 2008. Karakterisasi Fisik Liposom Asam Salisilat Menggunakan Miksroskop Elektron Transmisi. Jurnal Sains Materi Indonesia, Vol. 9, No. 3. Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir (PTBIN) Batan. Serpong, Tangerang.

Pratama, Anggi. 2010. Aplikasi Labview Sebagai Pengukur Kadar Vitamin C Dalam Larutan Menggunakan Metode Titrasi Iodimetri. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Semarang. 

Rivai, H., 1995, Analisis Pemeriksaan Kimia, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Sulistyaningrum, Sri Katon. 2012. Penggunaan Asam Salisilat Dalam Dermatologi. J Indon Med Assoc, Vol. 62, No. 7. Departemen Ilmu Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Indoneisa. Jakarta.

Suirta, I. W. 2010. Sintetis Senyawa orto-Fenilazo-2-Naftol- Sebagai Indikator Dalam Titrasi. Jurnal Kimia, Vol. IV. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana. Bukit Jimbaran.

Wunas, J., Said S., 1986, Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif, Universitas Hasanuddin, Makassar.