LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR - ElrinAlria
LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR
LAPORAN PRAKTIKUM METODE PEMISAHAN
PERCOBAAN IV
“ EKSTRAKSI PADAT CAIR ’’
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ekstraksi Padat Cair atau Leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padatan dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalalm solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. Pada percobaan kali ini, sampel padatan yang akan dianalisis adalah kentang. Sampel ini sendiri dianalisis melalui ekstraktor Soxhlet. Adapun sampel kentang ini akan ditentukan kadar minyak yang terdapat didalamya.

B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk menentukan kadar minyak dalam sampel kentang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ekstraksi padat – cair atau Leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dalam dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya (Lucas, 1949). Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam selongsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul – molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam selongsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak tampak noda jika di KLT atau sirkulasi telah mencapai 20 – 25 kali. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan (Sudjadi, 1986). Proses leaching adalah salah satu tahapan dalam proses mengambil kembali logam kobalt dari limbah baterai lithium-ion. Leaching agent yang digunakan adalah HCl. Parameter yang divariasikan dalam proses leaching adalah konsentras leaching agent, waktu kontak, rasio solid:liquid, dan temperatur leaching. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh, prosentase leaching logam kobalt semakin meningkat dengan semakin tinggi konsentrasi leaching agent, semakin lama waktu kontak, semakin kecil rasio solid/liquid, dan semakin tinggi temperatur leaching. Hasil optimum untuk proses leaching diperoleh pada konsentrasi HCl 4M, waktu kontak 150 menit, rasio solid/liquid sebesar 1/100, dan temperatur leaching 80̊ C. Pada kondisi optimal ini didapat nilai persentase leaching kobalt sebesar 91.55% (Yuliusman, 2008).

Berdasarkan pertimbangan bahwa buah alpukat mudah didapat, harganya murah, dan bijinya belum banyak dimanfaatkan secara maksimal, maka perlu dilakukan penelitian tentang biji alpukat tersebut. Untuk memperoleh minyak dari biji alpukat dapat dilakukan dengan cara ekstraksi padat-cair (leaching). Dengan cara ekstraksi ini, kehilangan minyak dalam proses dapat seminimal mungkin dan kondisi operasi akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas minyak yang dihasilkan (Bambang dkk, 2008). Proses ekstraksi berbantu gelombang mikro menghasilkan rendemen ekstrak triterpenoid-2 yang lebih besar dibandingkan proses ekstraksi menggunakan soxhlet dan ekstraksi ultrasonik. Untuk menghasilkan rendemen yang sama, ekstraksi berbantu gelombang mikro membutuhkan waktu 30 menit, sedangkan ekstraksi menggunakan soxhlet membutuhkan waktu 8 jam. Konsumsi pelarut juga dapat direduksi hingga setengah dari jumlah yang dibutuhkan pada proses ekstraksi konvensional (Indah, 2010).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 2 Maret 2011 dan bertempat di Laboratorium Kimia, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Haluoleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan
  • Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu seperangkat alat ekstraksi padat – cair (soxhlet).
  • Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu Chloroform, CaCl2 anhidrat, batu didih, kertas saring dan sampel kentang.

C. Prosedur Kerja
LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
a. Alat Ekstraksi Padat – Cair (Soxhlet)
LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR
LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR
b. Data Pengamatan
  • Massa Kentang Sebelum Dihaluskan dan Dikeringkan = 110 gr 
  • Massa Kentang Setelah Dihaluskan dan Dikeringkan = 50 gr 
  • Massa CaCl2 Anhidrat = 3 gr 
  • V CHCl3 Awal Dalam Labu Didih = - 
  • V CHCl3 Akhir Dalam Labu Didih = - 
  • Kadar Minyak Dalam Sampel Kentang = - 

B. Pembahasan
Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan dari bahan padatan maupun cair dengan bantuan pelarut yang sesuai. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstraksi substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Percobaan kali ini menggunakan ekstraksi padat – cair atau Leaching karena sampel yang digunakan berupa bahan padatan, yang mana sesuai namanya ekstraksi padat – cair, berarti sampel yang akan dianalisis adalah bahan dari padatan. Adapun sampel padatan yang dimaksud adalah kentang.

Secara teori, sebelum memulai proses ekstraksi, terlebih dahulu seperangkat alat ekstraksi padat – cair atau Soxhlet dirangkai sedemikian rupa. Percobaan ekstraksi padat – cair kali ini menggunakan ekstraktor Soxhlet.

Pada ekstrakstor Soxhlet, pelarut Chloroform dipanaskan dalam labu didih yang telah dimasukkan batu didih. Tujuan dari pemanasan ini sendiri adalah untuk menghasilkan uap pelarut. Uap pelarut tersebut kemudian masuk melalui kondensor melalui pipa kecil atau cabang dari Soxhlet dan keluar dalam fasa cair.

Selanjutnya, pelarut akan masuk ke dalam selongsong pipa sifon yang berisi sampel padatan berupa kentang yang telah dihaluskan dan dikeringkan terlebih dahulu. Kemudian pelarut tersebut akan membasahi sampel dan akan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di dalam selongsong tersebut.

Kemudian, pelarut seluruhnya akan bergerak masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya, terjadi sirkulasi beberapa kali hingga kadar minyak dalam sampel kentang diperoleh.

Namun percobaan tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan sampel berupa kentang tersebut tidak dapat digunakan karena tidak kering dan masih basah. Seharusnya kentang tersebut harus kering. Singkatnya, sampel kentang tidak layak untuk di lakukan ekstrasksi.

Buntut dari kasus tersebut adalah tidak tercapainya tujuan dari percobaan ini, yaitu tidak dapat menentukan kadar minyak dalam sampel kentang.

BAB V
PENUTUP
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kadar minyak dalam sampel kentang tidak dapat diperoleh karena sampel kentang tersebut tidak layak untuk dilakukan ekstraksi.

DAFTAR PUSTAKA
Hartati, Indah. 2010. Isolasi Alkaloid Dari Tepung Gadung (Dioscorea Hispida Dennst) Dengan Teknik Ekstraksi Berbantu Gelombang Mikro. Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang. 

Lucas. 1949. Principles And Practice In Organic Chemistry. New York: Jhon Willey And Sons, Inc

Pramudono, Bambang, Ardi Widioko, Septian dan Rustyawan, Wawan. 2008. Ekstraksi Kontinyu Dengan Simulasi Batch Tiga Tahap Aliran Lawan Arah: Pengambilan Minyak Biji Alpukat Menggunakan Pelarut n-Hexane Dan Iso Propil Alkohol. Reaktor, Vol. 12 No. 1, Juni 2008, Hal. 37-41. 

Sudjadi, Drs. 1986. Metode Pemisahan. UGM Press: Yogyakarta.

Yuliusman, Muhammad, R.H. 2008. Uji Kinerja Larutan HCl Pada Proses Leaching Logam Kobalt Dari Limbah Baterai Lithium-Ion. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II, Universitas Lampung.

LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR

LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR
LAPORAN PRAKTIKUM METODE PEMISAHAN
PERCOBAAN IV
“ EKSTRAKSI PADAT CAIR ’’
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ekstraksi Padat Cair atau Leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padatan dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalalm solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. Pada percobaan kali ini, sampel padatan yang akan dianalisis adalah kentang. Sampel ini sendiri dianalisis melalui ekstraktor Soxhlet. Adapun sampel kentang ini akan ditentukan kadar minyak yang terdapat didalamya.

B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk menentukan kadar minyak dalam sampel kentang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ekstraksi padat – cair atau Leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dalam dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya (Lucas, 1949). Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam selongsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul – molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam selongsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak tampak noda jika di KLT atau sirkulasi telah mencapai 20 – 25 kali. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan (Sudjadi, 1986). Proses leaching adalah salah satu tahapan dalam proses mengambil kembali logam kobalt dari limbah baterai lithium-ion. Leaching agent yang digunakan adalah HCl. Parameter yang divariasikan dalam proses leaching adalah konsentras leaching agent, waktu kontak, rasio solid:liquid, dan temperatur leaching. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh, prosentase leaching logam kobalt semakin meningkat dengan semakin tinggi konsentrasi leaching agent, semakin lama waktu kontak, semakin kecil rasio solid/liquid, dan semakin tinggi temperatur leaching. Hasil optimum untuk proses leaching diperoleh pada konsentrasi HCl 4M, waktu kontak 150 menit, rasio solid/liquid sebesar 1/100, dan temperatur leaching 80̊ C. Pada kondisi optimal ini didapat nilai persentase leaching kobalt sebesar 91.55% (Yuliusman, 2008).

Berdasarkan pertimbangan bahwa buah alpukat mudah didapat, harganya murah, dan bijinya belum banyak dimanfaatkan secara maksimal, maka perlu dilakukan penelitian tentang biji alpukat tersebut. Untuk memperoleh minyak dari biji alpukat dapat dilakukan dengan cara ekstraksi padat-cair (leaching). Dengan cara ekstraksi ini, kehilangan minyak dalam proses dapat seminimal mungkin dan kondisi operasi akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas minyak yang dihasilkan (Bambang dkk, 2008). Proses ekstraksi berbantu gelombang mikro menghasilkan rendemen ekstrak triterpenoid-2 yang lebih besar dibandingkan proses ekstraksi menggunakan soxhlet dan ekstraksi ultrasonik. Untuk menghasilkan rendemen yang sama, ekstraksi berbantu gelombang mikro membutuhkan waktu 30 menit, sedangkan ekstraksi menggunakan soxhlet membutuhkan waktu 8 jam. Konsumsi pelarut juga dapat direduksi hingga setengah dari jumlah yang dibutuhkan pada proses ekstraksi konvensional (Indah, 2010).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 2 Maret 2011 dan bertempat di Laboratorium Kimia, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Haluoleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan
  • Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu seperangkat alat ekstraksi padat – cair (soxhlet).
  • Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu Chloroform, CaCl2 anhidrat, batu didih, kertas saring dan sampel kentang.

C. Prosedur Kerja
LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
a. Alat Ekstraksi Padat – Cair (Soxhlet)
LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR
LAPORAN EKSTRAKSI PADAT CAIR
b. Data Pengamatan
  • Massa Kentang Sebelum Dihaluskan dan Dikeringkan = 110 gr 
  • Massa Kentang Setelah Dihaluskan dan Dikeringkan = 50 gr 
  • Massa CaCl2 Anhidrat = 3 gr 
  • V CHCl3 Awal Dalam Labu Didih = - 
  • V CHCl3 Akhir Dalam Labu Didih = - 
  • Kadar Minyak Dalam Sampel Kentang = - 

B. Pembahasan
Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan dari bahan padatan maupun cair dengan bantuan pelarut yang sesuai. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstraksi substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Percobaan kali ini menggunakan ekstraksi padat – cair atau Leaching karena sampel yang digunakan berupa bahan padatan, yang mana sesuai namanya ekstraksi padat – cair, berarti sampel yang akan dianalisis adalah bahan dari padatan. Adapun sampel padatan yang dimaksud adalah kentang.

Secara teori, sebelum memulai proses ekstraksi, terlebih dahulu seperangkat alat ekstraksi padat – cair atau Soxhlet dirangkai sedemikian rupa. Percobaan ekstraksi padat – cair kali ini menggunakan ekstraktor Soxhlet.

Pada ekstrakstor Soxhlet, pelarut Chloroform dipanaskan dalam labu didih yang telah dimasukkan batu didih. Tujuan dari pemanasan ini sendiri adalah untuk menghasilkan uap pelarut. Uap pelarut tersebut kemudian masuk melalui kondensor melalui pipa kecil atau cabang dari Soxhlet dan keluar dalam fasa cair.

Selanjutnya, pelarut akan masuk ke dalam selongsong pipa sifon yang berisi sampel padatan berupa kentang yang telah dihaluskan dan dikeringkan terlebih dahulu. Kemudian pelarut tersebut akan membasahi sampel dan akan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di dalam selongsong tersebut.

Kemudian, pelarut seluruhnya akan bergerak masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya, terjadi sirkulasi beberapa kali hingga kadar minyak dalam sampel kentang diperoleh.

Namun percobaan tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan sampel berupa kentang tersebut tidak dapat digunakan karena tidak kering dan masih basah. Seharusnya kentang tersebut harus kering. Singkatnya, sampel kentang tidak layak untuk di lakukan ekstrasksi.

Buntut dari kasus tersebut adalah tidak tercapainya tujuan dari percobaan ini, yaitu tidak dapat menentukan kadar minyak dalam sampel kentang.

BAB V
PENUTUP
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kadar minyak dalam sampel kentang tidak dapat diperoleh karena sampel kentang tersebut tidak layak untuk dilakukan ekstraksi.

DAFTAR PUSTAKA
Hartati, Indah. 2010. Isolasi Alkaloid Dari Tepung Gadung (Dioscorea Hispida Dennst) Dengan Teknik Ekstraksi Berbantu Gelombang Mikro. Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang. 

Lucas. 1949. Principles And Practice In Organic Chemistry. New York: Jhon Willey And Sons, Inc

Pramudono, Bambang, Ardi Widioko, Septian dan Rustyawan, Wawan. 2008. Ekstraksi Kontinyu Dengan Simulasi Batch Tiga Tahap Aliran Lawan Arah: Pengambilan Minyak Biji Alpukat Menggunakan Pelarut n-Hexane Dan Iso Propil Alkohol. Reaktor, Vol. 12 No. 1, Juni 2008, Hal. 37-41. 

Sudjadi, Drs. 1986. Metode Pemisahan. UGM Press: Yogyakarta.

Yuliusman, Muhammad, R.H. 2008. Uji Kinerja Larutan HCl Pada Proses Leaching Logam Kobalt Dari Limbah Baterai Lithium-Ion. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II, Universitas Lampung.