LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN - ElrinAlria
LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN 7
ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN
A. Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah :
  1. Melakukan sintesis aspirin dari asam salisilat. 
  2. Menentukan persentase rendemen hasil sintesis.

B. Landasan Teori
Fenol merupakan senyawa organik yang mengandung gugus hidroksil (OH) yang terikat pada atom karbon pada cincin benzena. Berbeda dengan alkohol biasa, fenol bersifat asam. Keasaman fenol ini disebabkan adanya pengaruh cincin aromatik dan adanya kemampuan fenol untuk melepaskan H+, sehingga kepolarannya cukup tinggi. Fenol tergolong dalam alkohol sehingga dapat teroksidasi menjadi bentuk keton, aldehida dan asam karboksilat. [1]

Obat-obat AINS merupakan asam organik sehingga bersifat asam, yang menyebabkan obat-obat tersebut lebih banyak terkumpul dalam sel-sel yang berdekatan dengan suasana asam, seperti di lambung, ginjal, dan jaringan inflamasi. Sifatnya yang demikian dapat menyebabkan efek samping iritasi lambung pada pemakaian per oral. Melihat kenyataan tersebut telah dilakukan usaha untuk membuat turunannya dengan tujuan menurunkan efek samping dan meningkatkan aktivitas terapetiknya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan efek samping dan meningkatkan aktivitas terapetiknya yaitu memodifikasi struktur molekulnya dengan mengubah gugus karboksil melalui pembentukkan ester. Gugus karboksil ini dapat mengalami reaksi substitusi nukleofilik asil membentuk senyawa turunannya ester. [2]

Asam asetilsalisilat atau banyak dikenal sebagai aspirin adalah turunan salisilat yang merupakan prototipe obat antiinflamasi non steroid (non steroid antiinflammatory drugs= NSAIDs). Aspirin dan NSAIDs lainnya bekerja dengan cara menghambat siklooksigenase (COX 1/2) yang mengakibatkan penurunan produksi prostaglandin. Aspirin satu-satunya penghambat COX-1 yang ireversibel Pengembangan turunan asam salisilat lebih lanjut diarahkan sebagai penghambat COX-2, dengan menambahkan substituen klor pada kedua cincin aromatik sehingga turunan salisilat yang dihasilkan memiliki kemampuan rendah sampai sedang untuk mengikat dan memblok COX-2 sehingga insiden gastrointestinal lebih rendah. [3]

Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus –CO2 R dengan R dapat berupa alkil maupun aril. Esterifikasi dikatalisis asam dan bersifat dapat balik.. Laju reaksi esterifikasi sangat dipengaruhi oleh struktur molekul reaktan dan radikal yang terbentuk dalam senyawa antara. Laju esterifikaasi asam karboksilat tergantung pada halangan sterik dalam alkohol dan asam karboksilat. Kekuatan asam dari asam karboksilat hanya mempunyai pengaruh yang kecil dalam laju pembentukan ester. Secara umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat sebagai berikut: (1) Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling lambat alkohol tersier. (2) Ikatan rangkap memperlambat reaksi. (3) Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai batas konversi yang tinggi (4) Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak terlalu berpengaruh terhadap laju reaksi. [4]

Esterifikasi gugus fungsional asam karboksilat NSAID akan menekan toksisitas GI tanpa merugikan aktivitas anti-inflamasi. Selain biotransformasi dari produk obat untuk senyawa induk di lokasi target tindakan ini dapat digunakan untuk mencapai tingkat dan waktu dikendalikan obat pengiriman aktif entitas. Kelompok karboksilat NSAID dapat ditutupi sementara dan efek langsung pada mukosa lambung dapat diminimalkan. Ester produk obat dari naproxen telah disintesis menggunakan N-hidroksi metil succinamide dan N- hidroksimetil isatin sebagai promoities untuk mengurangi iritasi GI dan meningkatkan bioavailabilitas. [5]

Sintesis alkohol menjadi ester dapat dilakukan melalui reaksi esterifikasi menggunakan asam karboksilat dengan alkohol. Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi esterifikasi yaitu katalis, waktu reaksi dan rasio mol yang digunakan. Reaksi esterifikasi yang dilakukan tanpa menggunakan katalis berlangsung sangat lambat dan memerlukan waktu beberapa hari untuk memperoleh produk. Katalis yang dapat digunakan berupa asam, basa dan enzim. [6]

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • a. Batang pengaduk
  • b. Corong bucher
  • c. Erlenmeyer 250 mL
  • d. Gelas kimia 100 mL, 1000 mL
  • e. Gelas ukur 100 mL
  • f. Hotplate
  • g. Lumping dan alu
  • h. Pipet tetes
  • i. Tabung reaksi
  • j. Timbangan analitik

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • a. Aquades
  • b. Asam asetat anhidrida
  • c. Asam salisilat
  • d. Aspirin komersial
  • e. Es batu
  • f. Etanol
  • g. FeCl3
  • h. H3PO4
  • i. Handscoon steril
  • j. Kertas saring
  • k. Masker 95
  • l. Tisu


D. Prosedur Kerja
LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

E. Hasil Pengamatan
LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

F. Pembahasan
Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. aspirin menghambat pembentukan hormon dalam tubuh yang dikenal sebagai prostaglandin. Siklooksigenase, sejenis enzim yang terlibat dalam pembentukan prostaglandin dan tromboksan, terhenti tak berbalik apabila aspirin mengasetil enzim tersebut. Prostaglandin ialah hormon yang dihasilkan di dalam tubuh dan mempunyai berbagai efek di dalam tubuh termasuk proses penghantaran rangsangan sakit ke otak dan pemodulatan termostat hipotalamus. Tromboksan pula bertanggung jawab dalam pengagregatan platlet. Serangan jantung disebabkan oleh penggumpalan darah dan rangsangan sakit menuju ke otak. Oleh itu, pengurangan gumpalan darah dan rangsangan sakit ini disebabkan konsumsi aspirin pada kadar yang sedikit dianggap baik dari segi pengobatan. Namun, efeknya darah lambat membeku menyebabkan pendarahan berlebihan pada saluran cerna seperti pada lambung.

Untuk mengurangi efek kerusakan pada lambung oleh efek samping aspirin dapat dilakukan dengan cara memodifikasi struktur molekulnya dengan mengubah gugus karboksil yang terdapat pada aspirin melalui reaksi esterifikasi. Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus -CO2 R dengan R dapat berupa alkil maupun aril.

Mekanisme reaksi esterifikasi :
  1. Transfer proton dari katalis asam ke atom oksigen karbonil, sehingga meningkatkan elektrofilisitas dari atom karbon karbonil.
  2. Atom karbon karbonil kemudian diserang oleh atom oksigen dari alkohol, yang bersifat nukleofilik sehingga terbentuk ion oksonium.
  3. Terjadi pelepasan proton dari gugus hidroksil milik alkohol, menghasilkan kompleks teraktivasi
  4. Protonasi terhadap salah satu gugus hidroksil, yang diikuti oleh pelepasan molekul air menghasilkan ester.

Pada percobaan ini dilakukan sintesis asam asetil salisilat (aspirin) melalui reaksi esterifikasi antara asam salisilat dan anhidrida asam asetat. Dalam reaksi tersebut gugus –OH berasal dari fenol pada asam salisilat. Sedangkan gugus asetil –COCH3 berasal dari anhidrida asetat. Apabila asam salisilat yang digunakan maka reaksinya akan menghasilkan asam asetil salisilat dan air. 

C7H6O3 + CH3COOH => C9H8O4 + H2O

Adanya air ini akan mengakibatkan asam asetil salisilat terhidrolisis dan membentuk asam salisilat dan asam asetat kembali. Penggunaan anhidrida asam asetat mencegah reaksi reversible tersebut terjadi. Selain itu dibandingkan dengan asam asetat, anhidrida asam asetat digunakan karena memiliki waktu reaksi yang lebih cepat.

Agar reaksi berjalan lebih efektif maka dibantu dengan meningkatkan energi kinetiknya. Upaya peningkatan energi kinetik dilakukan dengan cara pengadukan dan dipanaskan selama 5 menit. Setelah 5 menit pengadukan dan pemanasan, larutan ditempatkan di tempat yang dingin. Proses pendinginan ini menimbulkan terjadinya penurunan energi kinetik sehingga reaksi akan berhenti dan terbentuk endapan padat. Endapan padat ini kemudian dipisahkan dari larutan dengan cara disaring dengan corong Büchner.

Padatan yang didapatkan dari penyaringan dengan corong Büchner tersebut adalah aspirin. Namun aspirin ini masih tidak murni karena masih ada pengotor, yaitu berasal dari reaktan yang tidak bereaksi dan produk samping dari reaksi. Sehingga padatan ini perlu dimurnikan. Pemurnian padatan dilakukan dengan cara rekristalisasi. Padatan ditambahkan dengan etanol kemudian diaduk hingga padatan terlarut semuanya. Setelah itu larutan tersebut ditambah dengan air hangat dan di tempatkan di es agar menimbulkan perubahan suhu yang ekstrim. Larutan didiamkan hingga terdapat kristal. Kristal aspirin menurut farmakope memiliki bentuk jarum atau lempengan tersusun. Namun pada percobaan ini kristal hasil rekristalisasi tidak berbentuk jarum ataupun lempengan tersusun, melainkan berbentuk serbuk hablur berwarna putih.

Setelah kristal terbentuk, kristal dipisahkan dari larutan dengan cara disaring dengan corong Büchner. Filtrat dari penyaringan ini kemudian dikeringkan dalam oven. Setelah dikeringkan, produk aspirin ini diuji kemurniannya. Pada percobaan ini kemurnian aspirin diuji dengan salah satu ujinya yaitu uji besi (III) klorida (FeCl3). Besi (III) klorida bereaksi dengan gugus fenol membentuk kompleks ungu. Jika besi (III) klorida ditambahkan lalu membentuk warna ungu maka terdapat asam salisilat pada aspirin, karena asam salisilat mempunyai gugus fenol. Pada percobaan ini, filtrat berwarna ungu setelah di teteskan FeCl3.

Hasil percobaan yang telah dilakukan untuk melakukan sintesis aspirin dengan cara esterifikasi didapatkan hasil % rendemen sebesar 90 % dan untuk uji kemurnian aspirin dengan cara membentuk reaksi kompleks dengan FeCl3 didapatkan hasil bahwa aspirin komersial murni mengandung asam asetilsalilat.

Manfaat percobaan ini dalam bidang farmasi adalah agar dapat membuat suatu sediaan obat yang minim efek samping dengan cara merubah struktur molekul dari sediaan obat dengan cara esterifikasi dan menguji kemurnian sediaan obat yang beredar di pasaran dengan cara melakukan reaksi pengompleksan.

G. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan:
  1. Sintesis aspirin dapat dilakukan dengan cara esterifikasi, dimana bahan aktif dari aspirin yaitu asam salisitat direaksikan dengan asam asetat anhidrat atau dapat juga direaksikan dengan asam asetat glasial. Asam asetat anhidrat dapat diganti dengan asam asetat glacial karena bersifat murni dan tidak mengandung air.
  2. Hasil % rendemen aspirin yang didapat melalui reaksi yang dilakukan adalah sebesar 90%. 

H. Saran
Sebaiknya pada saat melakukan percobaan praktikan dapat lebih berhati-hati terutama pada saat penggunaan reagen yang berbahaya dan lebih teliti saat melakukan pengamatan dan perhitungan hasil rendemen.

Daftar Pustaka
[1] Isyuniarto, Widdi U., Agus P. dan Suryadi, 2005, Degradasi Fenol Dalam Limbah Pengolahan Minyak Bumi Dengan Ozon, ISSN 0216 – 3128.

[2] Anggraini D. I., Pudjono dan Yunius A., 2013, Sintesis Isopropil Indometasin Dari Indometasinil Klorida Dengan Isopropil Alkohol, Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 5 (2).

[3] Diyah N. W. dan Siswandono, 2014, Docking Molekul Dan Sintesis Turunan Asam Benzoil Salisilat Tersubstitusi Klor Sebagai Penghambat Siklooksigenase-2, Berkalah Ilmiah Kimia Farmasi, Vol. 3 (2).

[4] Arita s., Meta B. D. dan Jaya I., 2008, Pembuatan Metil Ester Asam Lemak Dari Cpo Off Grade Dengan Metode Esterifikasi-Transesterifikasi, Jurnal Teknik Kimia, Vol. 15 (2).

[5] Walsangikar S. and Neela B., 2013, Synthesis And Evaluation Of Mutual Prodrug Of Aspirin And Chlorzoxazone, Journal of Pharmaceutical and Scientific Innovation, Vol. 2 (2).

[6] Nurita F. D. M., Rurini R. dan Suratmo, 2014, Esterifikasi 2-Isopropil-5-Metilsikloheksanol (L-Mentol) Menggunakan Asam Propionat, Kimia Student Journal, Vol. 1 (2).

LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN 7
ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN
A. Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah :
  1. Melakukan sintesis aspirin dari asam salisilat. 
  2. Menentukan persentase rendemen hasil sintesis.

B. Landasan Teori
Fenol merupakan senyawa organik yang mengandung gugus hidroksil (OH) yang terikat pada atom karbon pada cincin benzena. Berbeda dengan alkohol biasa, fenol bersifat asam. Keasaman fenol ini disebabkan adanya pengaruh cincin aromatik dan adanya kemampuan fenol untuk melepaskan H+, sehingga kepolarannya cukup tinggi. Fenol tergolong dalam alkohol sehingga dapat teroksidasi menjadi bentuk keton, aldehida dan asam karboksilat. [1]

Obat-obat AINS merupakan asam organik sehingga bersifat asam, yang menyebabkan obat-obat tersebut lebih banyak terkumpul dalam sel-sel yang berdekatan dengan suasana asam, seperti di lambung, ginjal, dan jaringan inflamasi. Sifatnya yang demikian dapat menyebabkan efek samping iritasi lambung pada pemakaian per oral. Melihat kenyataan tersebut telah dilakukan usaha untuk membuat turunannya dengan tujuan menurunkan efek samping dan meningkatkan aktivitas terapetiknya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan efek samping dan meningkatkan aktivitas terapetiknya yaitu memodifikasi struktur molekulnya dengan mengubah gugus karboksil melalui pembentukkan ester. Gugus karboksil ini dapat mengalami reaksi substitusi nukleofilik asil membentuk senyawa turunannya ester. [2]

Asam asetilsalisilat atau banyak dikenal sebagai aspirin adalah turunan salisilat yang merupakan prototipe obat antiinflamasi non steroid (non steroid antiinflammatory drugs= NSAIDs). Aspirin dan NSAIDs lainnya bekerja dengan cara menghambat siklooksigenase (COX 1/2) yang mengakibatkan penurunan produksi prostaglandin. Aspirin satu-satunya penghambat COX-1 yang ireversibel Pengembangan turunan asam salisilat lebih lanjut diarahkan sebagai penghambat COX-2, dengan menambahkan substituen klor pada kedua cincin aromatik sehingga turunan salisilat yang dihasilkan memiliki kemampuan rendah sampai sedang untuk mengikat dan memblok COX-2 sehingga insiden gastrointestinal lebih rendah. [3]

Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus –CO2 R dengan R dapat berupa alkil maupun aril. Esterifikasi dikatalisis asam dan bersifat dapat balik.. Laju reaksi esterifikasi sangat dipengaruhi oleh struktur molekul reaktan dan radikal yang terbentuk dalam senyawa antara. Laju esterifikaasi asam karboksilat tergantung pada halangan sterik dalam alkohol dan asam karboksilat. Kekuatan asam dari asam karboksilat hanya mempunyai pengaruh yang kecil dalam laju pembentukan ester. Secara umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat sebagai berikut: (1) Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling lambat alkohol tersier. (2) Ikatan rangkap memperlambat reaksi. (3) Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai batas konversi yang tinggi (4) Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak terlalu berpengaruh terhadap laju reaksi. [4]

Esterifikasi gugus fungsional asam karboksilat NSAID akan menekan toksisitas GI tanpa merugikan aktivitas anti-inflamasi. Selain biotransformasi dari produk obat untuk senyawa induk di lokasi target tindakan ini dapat digunakan untuk mencapai tingkat dan waktu dikendalikan obat pengiriman aktif entitas. Kelompok karboksilat NSAID dapat ditutupi sementara dan efek langsung pada mukosa lambung dapat diminimalkan. Ester produk obat dari naproxen telah disintesis menggunakan N-hidroksi metil succinamide dan N- hidroksimetil isatin sebagai promoities untuk mengurangi iritasi GI dan meningkatkan bioavailabilitas. [5]

Sintesis alkohol menjadi ester dapat dilakukan melalui reaksi esterifikasi menggunakan asam karboksilat dengan alkohol. Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi esterifikasi yaitu katalis, waktu reaksi dan rasio mol yang digunakan. Reaksi esterifikasi yang dilakukan tanpa menggunakan katalis berlangsung sangat lambat dan memerlukan waktu beberapa hari untuk memperoleh produk. Katalis yang dapat digunakan berupa asam, basa dan enzim. [6]

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • a. Batang pengaduk
  • b. Corong bucher
  • c. Erlenmeyer 250 mL
  • d. Gelas kimia 100 mL, 1000 mL
  • e. Gelas ukur 100 mL
  • f. Hotplate
  • g. Lumping dan alu
  • h. Pipet tetes
  • i. Tabung reaksi
  • j. Timbangan analitik

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • a. Aquades
  • b. Asam asetat anhidrida
  • c. Asam salisilat
  • d. Aspirin komersial
  • e. Es batu
  • f. Etanol
  • g. FeCl3
  • h. H3PO4
  • i. Handscoon steril
  • j. Kertas saring
  • k. Masker 95
  • l. Tisu


D. Prosedur Kerja
LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

E. Hasil Pengamatan
LAPORAN ESTERIFIKASI FENOL : SINTESIS ASPIRIN

F. Pembahasan
Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. aspirin menghambat pembentukan hormon dalam tubuh yang dikenal sebagai prostaglandin. Siklooksigenase, sejenis enzim yang terlibat dalam pembentukan prostaglandin dan tromboksan, terhenti tak berbalik apabila aspirin mengasetil enzim tersebut. Prostaglandin ialah hormon yang dihasilkan di dalam tubuh dan mempunyai berbagai efek di dalam tubuh termasuk proses penghantaran rangsangan sakit ke otak dan pemodulatan termostat hipotalamus. Tromboksan pula bertanggung jawab dalam pengagregatan platlet. Serangan jantung disebabkan oleh penggumpalan darah dan rangsangan sakit menuju ke otak. Oleh itu, pengurangan gumpalan darah dan rangsangan sakit ini disebabkan konsumsi aspirin pada kadar yang sedikit dianggap baik dari segi pengobatan. Namun, efeknya darah lambat membeku menyebabkan pendarahan berlebihan pada saluran cerna seperti pada lambung.

Untuk mengurangi efek kerusakan pada lambung oleh efek samping aspirin dapat dilakukan dengan cara memodifikasi struktur molekulnya dengan mengubah gugus karboksil yang terdapat pada aspirin melalui reaksi esterifikasi. Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus -CO2 R dengan R dapat berupa alkil maupun aril.

Mekanisme reaksi esterifikasi :
  1. Transfer proton dari katalis asam ke atom oksigen karbonil, sehingga meningkatkan elektrofilisitas dari atom karbon karbonil.
  2. Atom karbon karbonil kemudian diserang oleh atom oksigen dari alkohol, yang bersifat nukleofilik sehingga terbentuk ion oksonium.
  3. Terjadi pelepasan proton dari gugus hidroksil milik alkohol, menghasilkan kompleks teraktivasi
  4. Protonasi terhadap salah satu gugus hidroksil, yang diikuti oleh pelepasan molekul air menghasilkan ester.

Pada percobaan ini dilakukan sintesis asam asetil salisilat (aspirin) melalui reaksi esterifikasi antara asam salisilat dan anhidrida asam asetat. Dalam reaksi tersebut gugus –OH berasal dari fenol pada asam salisilat. Sedangkan gugus asetil –COCH3 berasal dari anhidrida asetat. Apabila asam salisilat yang digunakan maka reaksinya akan menghasilkan asam asetil salisilat dan air. 

C7H6O3 + CH3COOH => C9H8O4 + H2O

Adanya air ini akan mengakibatkan asam asetil salisilat terhidrolisis dan membentuk asam salisilat dan asam asetat kembali. Penggunaan anhidrida asam asetat mencegah reaksi reversible tersebut terjadi. Selain itu dibandingkan dengan asam asetat, anhidrida asam asetat digunakan karena memiliki waktu reaksi yang lebih cepat.

Agar reaksi berjalan lebih efektif maka dibantu dengan meningkatkan energi kinetiknya. Upaya peningkatan energi kinetik dilakukan dengan cara pengadukan dan dipanaskan selama 5 menit. Setelah 5 menit pengadukan dan pemanasan, larutan ditempatkan di tempat yang dingin. Proses pendinginan ini menimbulkan terjadinya penurunan energi kinetik sehingga reaksi akan berhenti dan terbentuk endapan padat. Endapan padat ini kemudian dipisahkan dari larutan dengan cara disaring dengan corong Büchner.

Padatan yang didapatkan dari penyaringan dengan corong Büchner tersebut adalah aspirin. Namun aspirin ini masih tidak murni karena masih ada pengotor, yaitu berasal dari reaktan yang tidak bereaksi dan produk samping dari reaksi. Sehingga padatan ini perlu dimurnikan. Pemurnian padatan dilakukan dengan cara rekristalisasi. Padatan ditambahkan dengan etanol kemudian diaduk hingga padatan terlarut semuanya. Setelah itu larutan tersebut ditambah dengan air hangat dan di tempatkan di es agar menimbulkan perubahan suhu yang ekstrim. Larutan didiamkan hingga terdapat kristal. Kristal aspirin menurut farmakope memiliki bentuk jarum atau lempengan tersusun. Namun pada percobaan ini kristal hasil rekristalisasi tidak berbentuk jarum ataupun lempengan tersusun, melainkan berbentuk serbuk hablur berwarna putih.

Setelah kristal terbentuk, kristal dipisahkan dari larutan dengan cara disaring dengan corong Büchner. Filtrat dari penyaringan ini kemudian dikeringkan dalam oven. Setelah dikeringkan, produk aspirin ini diuji kemurniannya. Pada percobaan ini kemurnian aspirin diuji dengan salah satu ujinya yaitu uji besi (III) klorida (FeCl3). Besi (III) klorida bereaksi dengan gugus fenol membentuk kompleks ungu. Jika besi (III) klorida ditambahkan lalu membentuk warna ungu maka terdapat asam salisilat pada aspirin, karena asam salisilat mempunyai gugus fenol. Pada percobaan ini, filtrat berwarna ungu setelah di teteskan FeCl3.

Hasil percobaan yang telah dilakukan untuk melakukan sintesis aspirin dengan cara esterifikasi didapatkan hasil % rendemen sebesar 90 % dan untuk uji kemurnian aspirin dengan cara membentuk reaksi kompleks dengan FeCl3 didapatkan hasil bahwa aspirin komersial murni mengandung asam asetilsalilat.

Manfaat percobaan ini dalam bidang farmasi adalah agar dapat membuat suatu sediaan obat yang minim efek samping dengan cara merubah struktur molekul dari sediaan obat dengan cara esterifikasi dan menguji kemurnian sediaan obat yang beredar di pasaran dengan cara melakukan reaksi pengompleksan.

G. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan:
  1. Sintesis aspirin dapat dilakukan dengan cara esterifikasi, dimana bahan aktif dari aspirin yaitu asam salisitat direaksikan dengan asam asetat anhidrat atau dapat juga direaksikan dengan asam asetat glasial. Asam asetat anhidrat dapat diganti dengan asam asetat glacial karena bersifat murni dan tidak mengandung air.
  2. Hasil % rendemen aspirin yang didapat melalui reaksi yang dilakukan adalah sebesar 90%. 

H. Saran
Sebaiknya pada saat melakukan percobaan praktikan dapat lebih berhati-hati terutama pada saat penggunaan reagen yang berbahaya dan lebih teliti saat melakukan pengamatan dan perhitungan hasil rendemen.

Daftar Pustaka
[1] Isyuniarto, Widdi U., Agus P. dan Suryadi, 2005, Degradasi Fenol Dalam Limbah Pengolahan Minyak Bumi Dengan Ozon, ISSN 0216 – 3128.

[2] Anggraini D. I., Pudjono dan Yunius A., 2013, Sintesis Isopropil Indometasin Dari Indometasinil Klorida Dengan Isopropil Alkohol, Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 5 (2).

[3] Diyah N. W. dan Siswandono, 2014, Docking Molekul Dan Sintesis Turunan Asam Benzoil Salisilat Tersubstitusi Klor Sebagai Penghambat Siklooksigenase-2, Berkalah Ilmiah Kimia Farmasi, Vol. 3 (2).

[4] Arita s., Meta B. D. dan Jaya I., 2008, Pembuatan Metil Ester Asam Lemak Dari Cpo Off Grade Dengan Metode Esterifikasi-Transesterifikasi, Jurnal Teknik Kimia, Vol. 15 (2).

[5] Walsangikar S. and Neela B., 2013, Synthesis And Evaluation Of Mutual Prodrug Of Aspirin And Chlorzoxazone, Journal of Pharmaceutical and Scientific Innovation, Vol. 2 (2).

[6] Nurita F. D. M., Rurini R. dan Suratmo, 2014, Esterifikasi 2-Isopropil-5-Metilsikloheksanol (L-Mentol) Menggunakan Asam Propionat, Kimia Student Journal, Vol. 1 (2).