LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI - ElrinAlria
LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI

LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI

A. TUJUAN

Tujuan percobaan ini adalah untuk dapat mengetahui dan dapat membedakan macam-macam amilum yang umum digunakan dalam sediaan farmasi.

B. BAHAN 
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut : 
  • a. Pati kentang (Solanum tuberosum) 
  • b. Pati beras (Oryza sativa) 
  • c. Pati singkong (Manihot esculenta) 
  • d. Pati jagung (Zea mays) 
  • e. Pati sagu (Metroxylon sagu)

1. Klasifikasi Tanaman 

a. Tanaman kentang (Solanum tuberosum) (Setiadi, Budi Daya Kentang, hal:31-32). 
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta 
Kelas : Dicotylodenoae 
Subkelas : Asteridae 
Ordo : Solanales 
Famili : Solanaceae 
Genus : Solanum 
Spesies : Solanum tuberosum 

b. Tanaman padi (Oryza sativa) 
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta 
Kelas : Monocotiledoneae 
Ordo : Poales 
Famili : Poaceae 
Genus : Oryza 
Spesies : Oryza sativa

c. Tanaman singkong (Manihot esculenta) (Suprapti, Tepung Tapioka, hal:12). 
Regnum : Plantae (tumbuh-tumbuhan) 
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbiji) 
Kelas : Magnoliopsida 
Ordo : Euphorbiales 
Famili : Euphorbiaceae 
Genus : Manihot 
Spesies : Manihot esculenta 

d. Tanaman sagu (Metroxylon sagu) 
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta 
Kelas : Dicotyledoneae 
Ordo : Arecales 
Famili : Arecaeae 
Genus : Metroxylon 
Spesies : Metroxylon sagu 

e. Tanaman jagung (Zea mays) (Purwono, Bertanam Jagung Unggul, hal: 10). 
Regnum : Plantae (Tumbuh-tumbuhan) 
Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) 
Subdivisi : Angiospermae (Berbiji tertutup) 
Kelas : Monocotyledonae 
Ordo : Poales 
Famili : Poacea 
Genus : Zea 
Spesies : Zea mays

2. Deskripsi Tanaman 
a. Pati Beras (Zea mays) 
Rumput semusim, tingginya 50-130 cm. Akar berserabut, batang tegak, tersusun dari deretan buku-buku dan ruas, jumlahnya tergantung pada kultivar dan musim pertumbuhannya; masing-masing buku dengan daun tunggal, kadang-kadang juga dengan akar, ruas biasanya pendek pada pangkal tanaman. Daun dalam 2 peringkat; pelepah saling menutupi satu sama lain membentuk batang semu, terakhir membungkus ruas; helaian daun memita. Perbungaan malai, di ujung ranting, buliran tunggal, melonjong sampai melanset, berisi bunga biseksual tunggal. Buah jali bervariasi dalam ukuran, bentuk dan warna, membulat telur, menjorong atau menyilinder, seringkali berwarna kuning keputihan atau coklat (Tjitrosoepomo, 2000). 

b. Pati Jagung (Zea mays) 
Rumput berumah satu, tegak, dengan sistem perakaran terdiri dari akar serabut. Batang biasanya tunggal. Daun tumbuh berseling pada sisi yang berlainan pada buku, dengan helaian daun yang bertumpang tindih, aurikel diatas; helaian daun memita-memanjang. Perbungaan jantan dan betina terpisah pada satu tumbuhan yang sama; bunga jantan merupakan malai terminal. Perbuahan yang masak dalam bentuk tongkol. Bijinya biasanya lonjong, warna bervariasi dari putih hingga kuning, merah atau keunguan hingga hitam (Tjitrosoepomo, 2000). 

c. Pati singkong (Manihot esculenta) 
Perdu, bisa mencapai 7 meter tinggi, dengan cabang agak jarang. Akar tunggang dengan sejumlah akar cabang yang kemudian membesar menjadi umbiakar yang dapat dimakan. Ukuran umbi rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari klon/kultivar. Bagian dalam umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat meracun bagi manusia. Umbi ketela pohon merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daunsingkong karena mengandung asam amino metionina (Tjitrosoepomo, 2000). 

d. Pati Kentang (Solanum tuberosum) 
Tumbuhan terna dengan banyak cabang, tegak, umbi berbentuk membulat hingga menjorong, warnanya sangat beragam, kulit umbi bersisik atau halus, biasanya terdapat beberapa mata tunas. Batang biasanya berongga, bersayap. Daun berseling, bertangkai, majemuk menyirip gasal, dengan atau tanpa banyak pinak daun, pinak daun samping berhadapan atau berseling, membundar telur hingga menjorong-membundar telur, pinak daun yang terkecil agak duduk, berbentuk membundar telur hingga agak membundar, pinak daun ujung biasanya yang terbesar. Semua pinak daun berbulu padat, berwarna hijau gelap, berurat daun menyirip. Perbungaan malai. Bunga putih atau putih ditutupi dengan merah jambu atau ungu, ditengah kuning kehijauan; kelopak menggenta, bagian luar berbulu; mahkota bagian luar berbulu. Buah buni agak membulat, berwarna hijau-kuning, berbiji banyak, beracun. Biji pipih, berbentuk agak membundar hingga membundar telur, berwarna kuning pucat kecoklatan (Tjitrosoepomo, 2000). 

e. Pati Sagu (Metroxylon sagu) 
Palem dengan tinggi sedang, setelah berbunga mati. Akar dengan benang pembuluh berserabut yang ulet, mempunyai akar nafas. Batang berdiameter hingga 60 cm, dengan tinggi hingga 25 m. Daun menyirip sederhana, dengan tangkai daun sangat tegar, melebar pada pangkalnya menuju pelepah yang melekat pada batang, pelepah dan tangkai daun berduri tajam. Perbungaan malai di pucuk, bercabang-cabang sehingga menyerupai payung, bunga muncul dari percabangan berwarna coklat pada waktu masih muda, gelap dan lebih merah pada waktu dewasa; bunga berpasangan tersusun secara spiral, masing-masing pasangan berisi 1 bunga jantan dan 1 bunga hermafrodit, biasanya sebagian besar bunga jantan gugur sebelum mencapai antesis. Buah pelok membulat-merapat turun sampai mengerucut sungsang, tertutup dengan sisik, mengetupat, kuning kehijauan, berubah menjadi bewarna kuning jerami atau sesudah buah jatuh; bagian dalamnya dengan suatu lapisan bunga karang berwarna putih. Biji setengah membulat, selaput biji merah tua (Tjitrosoepomo, 2000). 

C. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Hasil Pengamatan

-Identifikasi Amilum Secara Kimiawi
LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI

-Identifikasi Amilum Secara Mikroskopi
LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI


5. Singkong (Manihot esculenta) 
Butir tunggal, agak bulat/bersegi banyak. Hilus di tengah berupa titik, garis lurus/bercabang 3. Lamella tidak jelas, konsentris. Butir majemuk sedikit, terdiri dari 2/3 butir tunggal bentuk tidak sama. 
Pada amilum ubi asli terlihat terdapat lebih banyak dan rapat butiran amilum dibanding amilum yang diproduksi oleh pabrik. 

D. PEMBAHASAN
Farmakognosi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari karakteristik obat yang berasal dari bahan alam. Di dalam farmakognosi, obat yang berasal dari alam meliputi tanaman, hewan, mikroorganisme dan mineral. Akan tetapi, perkembangan ilmu farmakognosi telah berkembang dengan pesat yang meliputi penyarian ekstraksi yang harus dilakukan dengan menggunakan alat bantu baik secara kimia maupun secara fisika.

Amilum atau pati merupakan salah satu polisakarida yang banyak terdapat di alam, yaitu terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian. Amilum dapat dihasilkan dari daun-daun hijau sebagai wujud penyimpanan sementara dari produk fotosintesis. Selain itu, amilum juga tersimpan dalam bahan makanan cadangan yang permanen untuk tanaman, dalam bentuk biji-bijian, kulit batang, akar tanaman yang tumbuh menahun, dan umbi. Struktur amilum adalah sebagai berikut.

Percobaan kali ini dilakukan identifikasi amilum secara kimiawi dan mikroskopis. Secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan tes iodium, sedangkan secara mikroskopi dilakukan dengan mengamati dengan menggunakan mikroskop. Sampel yang digunakan pada percobaan ini yaitu pati jagung, pati beras, pati singkong, pati kentang dan pati sagu. 

Pada tes iodium, akan terjadi perubahan warna setelah sampel ditambahkan dengan iodium. Perubahan ini akan menghasilkan warna biru tua dan akan hilang pada saat proses pemanasan. Ikatan yang terbentuk antara larutan iodium dengan amilum merupakan ikatan-ikatan semu. Dikatakan sebagai ikatan semu karena dapat putus saat di panaskan dan terbentuk kembali saat diinginkan. Pada saat di panaskan, terjadi perubahan warna dikarenakan rantai amilum memanjang pada ikatan antara 1,4 glikosidik dan 1,6 glikosidik sehingga iodium medah lepas, sedangkan ketika sampel didinginkan, rantai pada amilum akan mengkerut kembali sehingga iod akan kembali terikat pada amilum. Hal ini terjadi karena kemampuan menghidrolisis sehingga amilum berubah menjadi glukosa.

Identifikasi secara mikroskopi yaitu dengan melakukan pengamatan menggunakan alat mikroskop. Metode mikroskopik dapat dilakukan dengan cara, mengamati amilum dibawah mikroskop dengan penambahan 1 tetes kloran hidrat yang berfungsi sebagai medium agar pada proses pengamatan dapat terlihat dengan jelas bagian-bagian yang terdapat pada pati. 

Dalam bidang farmasi, kegunaan amilum adalah sebagai pembantu dalam pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahan pengisi tablet, bahan pengikat, dan bahan penghancur serta sebagai bahan penyusun dalam serbuk awur.

E. PENUTUP
1. Kesimpulan 
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa untuk membedakan macam-macam amilum dilakukan dua pengujian yaitu secara kimiawi dan secara mikroskopis, secara kimiawi yaitu mendeteksi kandungan amilum dengan perubahan warna sampel menjadi biru tua setelah ditetesi dengan pereaksi I2 sedangkan untuk uji secara mikroskopis dapat diamati perbedaan bentuk pati dari tiap-tiap amilum

2. Saran
Saat mengamati amilum dibawah mikroskop, sebaiknya medium yang digunakan jangan terlalu banyak, karena akan mempengaruhi penampang yang diamati.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1989 dan 1995, Materi Medika Indonesia, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 

Ditjen POM, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi Pertama, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Setiadi, 2009, Budi Daya Kentang, Penerbit Swadaya, Jakarta.

Suprapti, L., 2005, Tepung Tapioka, Penerbit Kanisus, Yogyakarta.

Purwono, dan Budi H., 2005, Bertanam Jagung Unggul, Seri Agribisnis, Bogor.

Tjitrosoepomo, Gembong, 2000, Taksonomi Tumbuhan, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI

LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI

LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI

A. TUJUAN

Tujuan percobaan ini adalah untuk dapat mengetahui dan dapat membedakan macam-macam amilum yang umum digunakan dalam sediaan farmasi.

B. BAHAN 
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut : 
  • a. Pati kentang (Solanum tuberosum) 
  • b. Pati beras (Oryza sativa) 
  • c. Pati singkong (Manihot esculenta) 
  • d. Pati jagung (Zea mays) 
  • e. Pati sagu (Metroxylon sagu)

1. Klasifikasi Tanaman 

a. Tanaman kentang (Solanum tuberosum) (Setiadi, Budi Daya Kentang, hal:31-32). 
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta 
Kelas : Dicotylodenoae 
Subkelas : Asteridae 
Ordo : Solanales 
Famili : Solanaceae 
Genus : Solanum 
Spesies : Solanum tuberosum 

b. Tanaman padi (Oryza sativa) 
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta 
Kelas : Monocotiledoneae 
Ordo : Poales 
Famili : Poaceae 
Genus : Oryza 
Spesies : Oryza sativa

c. Tanaman singkong (Manihot esculenta) (Suprapti, Tepung Tapioka, hal:12). 
Regnum : Plantae (tumbuh-tumbuhan) 
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbiji) 
Kelas : Magnoliopsida 
Ordo : Euphorbiales 
Famili : Euphorbiaceae 
Genus : Manihot 
Spesies : Manihot esculenta 

d. Tanaman sagu (Metroxylon sagu) 
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta 
Kelas : Dicotyledoneae 
Ordo : Arecales 
Famili : Arecaeae 
Genus : Metroxylon 
Spesies : Metroxylon sagu 

e. Tanaman jagung (Zea mays) (Purwono, Bertanam Jagung Unggul, hal: 10). 
Regnum : Plantae (Tumbuh-tumbuhan) 
Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) 
Subdivisi : Angiospermae (Berbiji tertutup) 
Kelas : Monocotyledonae 
Ordo : Poales 
Famili : Poacea 
Genus : Zea 
Spesies : Zea mays

2. Deskripsi Tanaman 
a. Pati Beras (Zea mays) 
Rumput semusim, tingginya 50-130 cm. Akar berserabut, batang tegak, tersusun dari deretan buku-buku dan ruas, jumlahnya tergantung pada kultivar dan musim pertumbuhannya; masing-masing buku dengan daun tunggal, kadang-kadang juga dengan akar, ruas biasanya pendek pada pangkal tanaman. Daun dalam 2 peringkat; pelepah saling menutupi satu sama lain membentuk batang semu, terakhir membungkus ruas; helaian daun memita. Perbungaan malai, di ujung ranting, buliran tunggal, melonjong sampai melanset, berisi bunga biseksual tunggal. Buah jali bervariasi dalam ukuran, bentuk dan warna, membulat telur, menjorong atau menyilinder, seringkali berwarna kuning keputihan atau coklat (Tjitrosoepomo, 2000). 

b. Pati Jagung (Zea mays) 
Rumput berumah satu, tegak, dengan sistem perakaran terdiri dari akar serabut. Batang biasanya tunggal. Daun tumbuh berseling pada sisi yang berlainan pada buku, dengan helaian daun yang bertumpang tindih, aurikel diatas; helaian daun memita-memanjang. Perbungaan jantan dan betina terpisah pada satu tumbuhan yang sama; bunga jantan merupakan malai terminal. Perbuahan yang masak dalam bentuk tongkol. Bijinya biasanya lonjong, warna bervariasi dari putih hingga kuning, merah atau keunguan hingga hitam (Tjitrosoepomo, 2000). 

c. Pati singkong (Manihot esculenta) 
Perdu, bisa mencapai 7 meter tinggi, dengan cabang agak jarang. Akar tunggang dengan sejumlah akar cabang yang kemudian membesar menjadi umbiakar yang dapat dimakan. Ukuran umbi rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari klon/kultivar. Bagian dalam umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat meracun bagi manusia. Umbi ketela pohon merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daunsingkong karena mengandung asam amino metionina (Tjitrosoepomo, 2000). 

d. Pati Kentang (Solanum tuberosum) 
Tumbuhan terna dengan banyak cabang, tegak, umbi berbentuk membulat hingga menjorong, warnanya sangat beragam, kulit umbi bersisik atau halus, biasanya terdapat beberapa mata tunas. Batang biasanya berongga, bersayap. Daun berseling, bertangkai, majemuk menyirip gasal, dengan atau tanpa banyak pinak daun, pinak daun samping berhadapan atau berseling, membundar telur hingga menjorong-membundar telur, pinak daun yang terkecil agak duduk, berbentuk membundar telur hingga agak membundar, pinak daun ujung biasanya yang terbesar. Semua pinak daun berbulu padat, berwarna hijau gelap, berurat daun menyirip. Perbungaan malai. Bunga putih atau putih ditutupi dengan merah jambu atau ungu, ditengah kuning kehijauan; kelopak menggenta, bagian luar berbulu; mahkota bagian luar berbulu. Buah buni agak membulat, berwarna hijau-kuning, berbiji banyak, beracun. Biji pipih, berbentuk agak membundar hingga membundar telur, berwarna kuning pucat kecoklatan (Tjitrosoepomo, 2000). 

e. Pati Sagu (Metroxylon sagu) 
Palem dengan tinggi sedang, setelah berbunga mati. Akar dengan benang pembuluh berserabut yang ulet, mempunyai akar nafas. Batang berdiameter hingga 60 cm, dengan tinggi hingga 25 m. Daun menyirip sederhana, dengan tangkai daun sangat tegar, melebar pada pangkalnya menuju pelepah yang melekat pada batang, pelepah dan tangkai daun berduri tajam. Perbungaan malai di pucuk, bercabang-cabang sehingga menyerupai payung, bunga muncul dari percabangan berwarna coklat pada waktu masih muda, gelap dan lebih merah pada waktu dewasa; bunga berpasangan tersusun secara spiral, masing-masing pasangan berisi 1 bunga jantan dan 1 bunga hermafrodit, biasanya sebagian besar bunga jantan gugur sebelum mencapai antesis. Buah pelok membulat-merapat turun sampai mengerucut sungsang, tertutup dengan sisik, mengetupat, kuning kehijauan, berubah menjadi bewarna kuning jerami atau sesudah buah jatuh; bagian dalamnya dengan suatu lapisan bunga karang berwarna putih. Biji setengah membulat, selaput biji merah tua (Tjitrosoepomo, 2000). 

C. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Hasil Pengamatan

-Identifikasi Amilum Secara Kimiawi
LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI

-Identifikasi Amilum Secara Mikroskopi
LAPORAN IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI


5. Singkong (Manihot esculenta) 
Butir tunggal, agak bulat/bersegi banyak. Hilus di tengah berupa titik, garis lurus/bercabang 3. Lamella tidak jelas, konsentris. Butir majemuk sedikit, terdiri dari 2/3 butir tunggal bentuk tidak sama. 
Pada amilum ubi asli terlihat terdapat lebih banyak dan rapat butiran amilum dibanding amilum yang diproduksi oleh pabrik. 

D. PEMBAHASAN
Farmakognosi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari karakteristik obat yang berasal dari bahan alam. Di dalam farmakognosi, obat yang berasal dari alam meliputi tanaman, hewan, mikroorganisme dan mineral. Akan tetapi, perkembangan ilmu farmakognosi telah berkembang dengan pesat yang meliputi penyarian ekstraksi yang harus dilakukan dengan menggunakan alat bantu baik secara kimia maupun secara fisika.

Amilum atau pati merupakan salah satu polisakarida yang banyak terdapat di alam, yaitu terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian. Amilum dapat dihasilkan dari daun-daun hijau sebagai wujud penyimpanan sementara dari produk fotosintesis. Selain itu, amilum juga tersimpan dalam bahan makanan cadangan yang permanen untuk tanaman, dalam bentuk biji-bijian, kulit batang, akar tanaman yang tumbuh menahun, dan umbi. Struktur amilum adalah sebagai berikut.

Percobaan kali ini dilakukan identifikasi amilum secara kimiawi dan mikroskopis. Secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan tes iodium, sedangkan secara mikroskopi dilakukan dengan mengamati dengan menggunakan mikroskop. Sampel yang digunakan pada percobaan ini yaitu pati jagung, pati beras, pati singkong, pati kentang dan pati sagu. 

Pada tes iodium, akan terjadi perubahan warna setelah sampel ditambahkan dengan iodium. Perubahan ini akan menghasilkan warna biru tua dan akan hilang pada saat proses pemanasan. Ikatan yang terbentuk antara larutan iodium dengan amilum merupakan ikatan-ikatan semu. Dikatakan sebagai ikatan semu karena dapat putus saat di panaskan dan terbentuk kembali saat diinginkan. Pada saat di panaskan, terjadi perubahan warna dikarenakan rantai amilum memanjang pada ikatan antara 1,4 glikosidik dan 1,6 glikosidik sehingga iodium medah lepas, sedangkan ketika sampel didinginkan, rantai pada amilum akan mengkerut kembali sehingga iod akan kembali terikat pada amilum. Hal ini terjadi karena kemampuan menghidrolisis sehingga amilum berubah menjadi glukosa.

Identifikasi secara mikroskopi yaitu dengan melakukan pengamatan menggunakan alat mikroskop. Metode mikroskopik dapat dilakukan dengan cara, mengamati amilum dibawah mikroskop dengan penambahan 1 tetes kloran hidrat yang berfungsi sebagai medium agar pada proses pengamatan dapat terlihat dengan jelas bagian-bagian yang terdapat pada pati. 

Dalam bidang farmasi, kegunaan amilum adalah sebagai pembantu dalam pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahan pengisi tablet, bahan pengikat, dan bahan penghancur serta sebagai bahan penyusun dalam serbuk awur.

E. PENUTUP
1. Kesimpulan 
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa untuk membedakan macam-macam amilum dilakukan dua pengujian yaitu secara kimiawi dan secara mikroskopis, secara kimiawi yaitu mendeteksi kandungan amilum dengan perubahan warna sampel menjadi biru tua setelah ditetesi dengan pereaksi I2 sedangkan untuk uji secara mikroskopis dapat diamati perbedaan bentuk pati dari tiap-tiap amilum

2. Saran
Saat mengamati amilum dibawah mikroskop, sebaiknya medium yang digunakan jangan terlalu banyak, karena akan mempengaruhi penampang yang diamati.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1989 dan 1995, Materi Medika Indonesia, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 

Ditjen POM, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi Pertama, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Setiadi, 2009, Budi Daya Kentang, Penerbit Swadaya, Jakarta.

Suprapti, L., 2005, Tepung Tapioka, Penerbit Kanisus, Yogyakarta.

Purwono, dan Budi H., 2005, Bertanam Jagung Unggul, Seri Agribisnis, Bogor.

Tjitrosoepomo, Gembong, 2000, Taksonomi Tumbuhan, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.