LAPORAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN METODE TABUNG DAN KROMOTOGRAFI LAPIS TIPIS - ElrinAlria
LAPORAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN METODE TABUNG DAN KROMOTOGRAFI LAPIS TIPIS
PERCOBAAN III
LAPORAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN METODE TABUNG DAN KROMOTOGRAFI LAPIS

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan adalah dapat mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada simplisia dengan metode tabung dan kromotografi lapis tipis.

B. BAHAN
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
  • a. Brotowali Tinospora Crispa L)
  • b. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
  • c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
  • d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
  • e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
  • f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
  • g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)

1. KLASIFIKASI TANAMAN
1. Brotowali ( Tinospora Crispa L)
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta
Class : Ordo
Famili : Menisoermaceae
Genus : Tinospora
Species : Tinospora Crispa L 

2. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
Regnum : Plantae
Divisi : Angiospermae
Class : Dicotiledoneae
Ordo : Umbelliferae
Famili : Apiaceae
Genus : Centella
Spesia : Centella asiatica

3. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo :Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia 
Spesies : Kaempferia galanga L.

4. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Spesies : Elephantopus scaber L.

5. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana P. Mill.

6. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class :Commelinidae
Ordo :Zingiberales
Famili : Zingiberaceae 
Genus : Alpini
Spesies : Langualis Rizoma

7. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber aromaticum Val

2. DESKRIPSI TANAMAN 
a. Brotowali (Tinospora Crispa L)
Perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 cm, berkutil – kutil yang rapat, pepagannya mudah tergelupas. Daun bertangkai, panjang 16 cm, bentuknya seperti jantung atau agak membundar terlur tetapi berujung runcing. Lebar 6 cm sampai 13 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1 sampai 3 bunga bersama – sama, menggantung panjang 7 cm samapi 25 cm. Bunga (jantan) bergagang pendek 3 mm sampai 4 mm, kelopak 6, hijau, panjang lebih kurang 3,5 mm, daun mahkota 3, panjang lebih kurang 8 mm(Ditjen POM, 1989).

b. Daun Kaki Kuda (Centellae Herba)
Pegagan berdaun tunggal, berbentuk ginjal, panjang tangkai daun antara 5 cm – 15 cm. Tepi daun bergerigi atau beringgit, penampang 1 cm – 7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2 – 10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan berbentuk payung, tunggal atau 3 – 5 bersama-sama keluar dari ketiak daun, panjang tangkai bunga 5 mm – 50 cm. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit. Panjang buah antara 2 mm – 2,5 mm(Ditjen POM, 1989). 

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5) dengan susunan berhadapan, tumbuh menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum) berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan (Ditjen POM, 1989).

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek; bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35 x 2-7cm (Ditjen POM, 2009)

Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi lima bagian dan mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam 13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar jam 16 bunga telah tertutup kembali.Bunganya berwarna ungu dan tumbuh dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat (Ditjen POM, 2009).

e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Tanaman ini berbentuk pohon, dengan ketinggian pohon dapat mencapai 3–10 m. Daun banyak menumpuk di ujung ranting, bentuk oval sampai lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 3 cm. Bunga tersusun malai, berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, warna hijau atau hijau kekuningan, berbintik ungu. Biji satu berbentuk bola berwarna coklat (Ditjen POM, 1989)

f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Lengkuas adalah terna tegak yang tingginya 2 m atau lebih. Batangnya yang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua. Seluruh batangnya ditutupi pelepah daun. Batangnya ini bertipe batang semu. Daunnya tunggal, bertangkai pendek, berbentuk daun lanset memanjang, ujungnya runcing, pangkalnya tumpul, dan tepinya rata. Ukurannya daunnya adalah: 25-50 cm × 7-15 cm. Pelepah daunnya berukuran 15-30 cm, beralur, dan berwarna hijau. Perbungaannya majemuk dalam tandan yang bertangkai panjang, tegak, dan berkumpul di ujung tangkai. Jumlah bunga di bagian bawah lebih banyak daripada di atas tangkai, dan berbentuk piramida memanjang. Kelopak bunganya berbentuk lonceng, berwarna putih kehijauan. Mahkota bunganya yang masih kuncup pada bagian ujung warnanya putih, dan bawahnya berwarna hijau. Buahnya termasuk buah buni, bulat, keras, dan hijau sewaktu muda, dan coklat, apabila sudah tua. Umbinya berbau harum, ada yang putih, juga ada yang merah. Menurut ukurannya, ada yang besar juga ada yang kecil. Karenanya, dikenal 3 kultivar yang dibedakan berdasarkan warna dan ukuran rimpangnya. Rimpangnya ini merayap, berdaging, kulitnya mengkilap, beraroma khas, ia berserat kasar, dan pedas jika tua. Untuk mendapatkan rimpang muda yang belum banyak seratnya, panen dilakukan pada saat tanaman berusia 2,5-4 bulan( Ditjen POM, 1989).

g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Tanaman ini dapat tumbuh rendah sampai tinggi, perennial, batang asli berupa rimpang di bawah tanah, tinggi lebih dari 1 meter. Batangnya berupa kumpulan pelepah daun yang berseling, di atas tanah, beberapa batang berkoloni, hijau, rimpang; merayap, berdaging, gemuk, aromatik. Daun: tunggal, berpelepah, duduk berseling, pelepah membentuk batang semu, helaian; bentuk 1 lanset sempit, terlebar di tengah atau di atas tengah, panjang 3-7 kali lebar, pangkal runcing atau tumpul, ujung sangat runcing atau meruncing, berambut di permukaan atas, tulang daun atau di pangkal. Bunga tersusun majemuk, bentuk bulat telur, muncul di atas tanah, tegak, berambut halus, ramping tebal. Daun pelindung sangat lebih besar dari kelopak, sama panjang dengan tabung mahkota. Mahkota: kuning terang, hijau gelap, atau putih, tabung ; 2-3 cm, cuping bulat telur bulat memanjang, ujung meruncing atau runcing, bibi- bibiran bulat telur atau membulat, jingga atau kuning lemon. Buahnya berbentuk bulat telur terbalik, merah, l2 x 8 mm. Biji: bulat memanjang bola, rata rata 4 mm. Daerah distribusi. Di Jawa dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 1¬-1200 meter dpl, banyak tumbuh sebagai tumbuhan liar di tempat-tempat yang basah di dataran rendah dan tinggi. Tumbuh baik di bawah hutan jati (Ditjen POM, 1989).

C. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN METODE TABUNG DAN KROMOTOGRAFI LAPIS TIPIS

D. PEMBAHASAN
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali diyatakan lain simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia terbagi atas simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman (simplisia nabati), simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni (simplisia hewani) dan simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni (simplisia pelikan atau mineral).

Simplisia yang akan digunakan dalam penelitian, harus dilakukan ekstraksi terlebih dahulu agar ekstrak yang dihasilkan dapat digunakan. Ekstraksi adalahh proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Ekstrak adalah zat yang dihasilkan dari ekstraksi bahan mentah secara kimiawi. Senyawa kimia yang diekstrak meliputi senyawa aromatik, minyak atsiri, ester, dan sebagainya yang kemudian menjadi bahan baku proses industri atau digunakan secara langsung oleh masyarakat.

Metode-metode untuk ekstraksi dengan berbagai macam teknik yaitu Maserasi, Perkolasi, dan Sokletasi, sedangkan yang digunakan pada percobaan ini adalah ekstraksi dengan metode maserasi. MaseraSi merupakan cara eksrtraksi yang sederhana. masserasi dapat diartikan sebagai proses dimana obat yang sudah halus dapat memungkinkan untuk direndam dalam mesntrum sampai meresap dan melunakan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut, dimana Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada temperature kamar terlindung dari cahaya, pelaut akan masuk kedalam sel tanaman melewati dididing sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didala sel dengan diluar sel. Larutan yang konentrasinya tinggi akan terdeak keluar dan diganti oleh pelarut dengan konsentrasi redah (proses difusi). Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur 15o-20o C dalam waktu selama 3 hari sampai bahan-bahan yang larut , melarut. Pelarut Yang Digunakan Dalam Metode Maserasi yaitu air, etanol, etanol-air atau eter. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan sederhana dan mudah diusahakan. Kemudian evaporasi. Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Tujuan dari evaporasi itu sendiri yaitu untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap.

Setelah melakukam ekstraksi dan mendapatkan ekstraknya, kemudian dilakukan identifikasi senyawa metabolit sekunder. Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal.

Perbedaan metabolit sprimer dan sekunder yaitu metabolit primer Tersebar merata dalam tiap organism, Fungsi universil, sumber energy, enzim, pengemban keturunan, bahan struktur, Perbedaan stuktur kimia kecil dan Kaktifan fisiologi berkaitan denga struktur kimia sedangkan metabolit sekunder Tersebar tidak merata dalam tiap organism, Fungsi ekologis, penarik serangga, pelindung diri, alat bersaing, hormone, Perbedaan stuktur kimia tergantung pada pengembangan kimia organik dan hubungan antara struktur dan keaktivan, Kaktifan fisiologi berkaitan dengan struktur kimia dan hubungan antara struktur dan Sebagian besar dari metabolik sekunder adalah turunan dari lemak. 

Percobaan kali ini dilakukan skrining fitokimia. Skrining fitokimia atau penapisan kimia adalah tahapan awal untuk mengidentifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, krna pada tahap ini kita bisa mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang sedang kita uji/teliti. Tujuan dari skrining fitokimia ini adalah untuk mensurvai tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan.

Percobaan kali ini, untuk mengidintifikasi senyawa metabolit seknder dalam suatu sampel digunakan metode tabung dan kromotografi lapis tipis (KLT). KLT (Kromatogfafi Lapis Tipis) adalah metode pemisahan fitokikimia lapisan yang memisahkan,yang terdiri atas bahan berbtir-butir (fase diam) ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisahkan, berupa larutan yang ditotolkan berupa bercak atau noda (awal), setelah plat atau lapisan ditaruh dalam bejana tetutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak) pemisahann terjadi perambatan kapiler. Metode Tabung merupakan metode yang paling sederhana karena tidak menggunakan alat yang canggih dan masih manual.

Pada percobaan ini,dilakukan uji alkaloid, flavonid, steroid saponin dengan metode tabung dan KLT. Dimana sebelum menggunkan metode KLT terlebih dahulu dillakukan pembuatan reagent dragendroff, pemuatan FeCl3 1%, H2SO4 0,1 M dan leberman-burchard. 

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa yang tersebar luas hampir pada semua jenis tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan membentuk cincin heterosiklik. Diindentifikasi dengan mencampurkannya dengan kloroform, dipanaskan lalu diberi pereaksi meyer.

D. PENUTUP
1. Kesimpulan
.

2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009, Farmakope Herbal Indonesia Edisi I, Departemen Kesahatan Republik Indonesia, Jakarta.

Anonim, 1989, Materia Medika Indonesia Jilid V, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

LAPORAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN METODE TABUNG DAN KROMOTOGRAFI LAPIS TIPIS

LAPORAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN METODE TABUNG DAN KROMOTOGRAFI LAPIS TIPIS
PERCOBAAN III
LAPORAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN METODE TABUNG DAN KROMOTOGRAFI LAPIS

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan adalah dapat mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada simplisia dengan metode tabung dan kromotografi lapis tipis.

B. BAHAN
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
  • a. Brotowali Tinospora Crispa L)
  • b. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
  • c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
  • d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
  • e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
  • f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
  • g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)

1. KLASIFIKASI TANAMAN
1. Brotowali ( Tinospora Crispa L)
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta
Class : Ordo
Famili : Menisoermaceae
Genus : Tinospora
Species : Tinospora Crispa L 

2. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
Regnum : Plantae
Divisi : Angiospermae
Class : Dicotiledoneae
Ordo : Umbelliferae
Famili : Apiaceae
Genus : Centella
Spesia : Centella asiatica

3. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo :Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia 
Spesies : Kaempferia galanga L.

4. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Spesies : Elephantopus scaber L.

5. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana P. Mill.

6. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class :Commelinidae
Ordo :Zingiberales
Famili : Zingiberaceae 
Genus : Alpini
Spesies : Langualis Rizoma

7. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber aromaticum Val

2. DESKRIPSI TANAMAN 
a. Brotowali (Tinospora Crispa L)
Perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 cm, berkutil – kutil yang rapat, pepagannya mudah tergelupas. Daun bertangkai, panjang 16 cm, bentuknya seperti jantung atau agak membundar terlur tetapi berujung runcing. Lebar 6 cm sampai 13 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1 sampai 3 bunga bersama – sama, menggantung panjang 7 cm samapi 25 cm. Bunga (jantan) bergagang pendek 3 mm sampai 4 mm, kelopak 6, hijau, panjang lebih kurang 3,5 mm, daun mahkota 3, panjang lebih kurang 8 mm(Ditjen POM, 1989).

b. Daun Kaki Kuda (Centellae Herba)
Pegagan berdaun tunggal, berbentuk ginjal, panjang tangkai daun antara 5 cm – 15 cm. Tepi daun bergerigi atau beringgit, penampang 1 cm – 7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2 – 10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan berbentuk payung, tunggal atau 3 – 5 bersama-sama keluar dari ketiak daun, panjang tangkai bunga 5 mm – 50 cm. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit. Panjang buah antara 2 mm – 2,5 mm(Ditjen POM, 1989). 

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5) dengan susunan berhadapan, tumbuh menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum) berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan (Ditjen POM, 1989).

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek; bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35 x 2-7cm (Ditjen POM, 2009)

Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi lima bagian dan mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam 13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar jam 16 bunga telah tertutup kembali.Bunganya berwarna ungu dan tumbuh dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat (Ditjen POM, 2009).

e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Tanaman ini berbentuk pohon, dengan ketinggian pohon dapat mencapai 3–10 m. Daun banyak menumpuk di ujung ranting, bentuk oval sampai lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 3 cm. Bunga tersusun malai, berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, warna hijau atau hijau kekuningan, berbintik ungu. Biji satu berbentuk bola berwarna coklat (Ditjen POM, 1989)

f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Lengkuas adalah terna tegak yang tingginya 2 m atau lebih. Batangnya yang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua. Seluruh batangnya ditutupi pelepah daun. Batangnya ini bertipe batang semu. Daunnya tunggal, bertangkai pendek, berbentuk daun lanset memanjang, ujungnya runcing, pangkalnya tumpul, dan tepinya rata. Ukurannya daunnya adalah: 25-50 cm × 7-15 cm. Pelepah daunnya berukuran 15-30 cm, beralur, dan berwarna hijau. Perbungaannya majemuk dalam tandan yang bertangkai panjang, tegak, dan berkumpul di ujung tangkai. Jumlah bunga di bagian bawah lebih banyak daripada di atas tangkai, dan berbentuk piramida memanjang. Kelopak bunganya berbentuk lonceng, berwarna putih kehijauan. Mahkota bunganya yang masih kuncup pada bagian ujung warnanya putih, dan bawahnya berwarna hijau. Buahnya termasuk buah buni, bulat, keras, dan hijau sewaktu muda, dan coklat, apabila sudah tua. Umbinya berbau harum, ada yang putih, juga ada yang merah. Menurut ukurannya, ada yang besar juga ada yang kecil. Karenanya, dikenal 3 kultivar yang dibedakan berdasarkan warna dan ukuran rimpangnya. Rimpangnya ini merayap, berdaging, kulitnya mengkilap, beraroma khas, ia berserat kasar, dan pedas jika tua. Untuk mendapatkan rimpang muda yang belum banyak seratnya, panen dilakukan pada saat tanaman berusia 2,5-4 bulan( Ditjen POM, 1989).

g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Tanaman ini dapat tumbuh rendah sampai tinggi, perennial, batang asli berupa rimpang di bawah tanah, tinggi lebih dari 1 meter. Batangnya berupa kumpulan pelepah daun yang berseling, di atas tanah, beberapa batang berkoloni, hijau, rimpang; merayap, berdaging, gemuk, aromatik. Daun: tunggal, berpelepah, duduk berseling, pelepah membentuk batang semu, helaian; bentuk 1 lanset sempit, terlebar di tengah atau di atas tengah, panjang 3-7 kali lebar, pangkal runcing atau tumpul, ujung sangat runcing atau meruncing, berambut di permukaan atas, tulang daun atau di pangkal. Bunga tersusun majemuk, bentuk bulat telur, muncul di atas tanah, tegak, berambut halus, ramping tebal. Daun pelindung sangat lebih besar dari kelopak, sama panjang dengan tabung mahkota. Mahkota: kuning terang, hijau gelap, atau putih, tabung ; 2-3 cm, cuping bulat telur bulat memanjang, ujung meruncing atau runcing, bibi- bibiran bulat telur atau membulat, jingga atau kuning lemon. Buahnya berbentuk bulat telur terbalik, merah, l2 x 8 mm. Biji: bulat memanjang bola, rata rata 4 mm. Daerah distribusi. Di Jawa dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 1¬-1200 meter dpl, banyak tumbuh sebagai tumbuhan liar di tempat-tempat yang basah di dataran rendah dan tinggi. Tumbuh baik di bawah hutan jati (Ditjen POM, 1989).

C. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN METODE TABUNG DAN KROMOTOGRAFI LAPIS TIPIS

D. PEMBAHASAN
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali diyatakan lain simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia terbagi atas simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman (simplisia nabati), simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni (simplisia hewani) dan simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni (simplisia pelikan atau mineral).

Simplisia yang akan digunakan dalam penelitian, harus dilakukan ekstraksi terlebih dahulu agar ekstrak yang dihasilkan dapat digunakan. Ekstraksi adalahh proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Ekstrak adalah zat yang dihasilkan dari ekstraksi bahan mentah secara kimiawi. Senyawa kimia yang diekstrak meliputi senyawa aromatik, minyak atsiri, ester, dan sebagainya yang kemudian menjadi bahan baku proses industri atau digunakan secara langsung oleh masyarakat.

Metode-metode untuk ekstraksi dengan berbagai macam teknik yaitu Maserasi, Perkolasi, dan Sokletasi, sedangkan yang digunakan pada percobaan ini adalah ekstraksi dengan metode maserasi. MaseraSi merupakan cara eksrtraksi yang sederhana. masserasi dapat diartikan sebagai proses dimana obat yang sudah halus dapat memungkinkan untuk direndam dalam mesntrum sampai meresap dan melunakan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut, dimana Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada temperature kamar terlindung dari cahaya, pelaut akan masuk kedalam sel tanaman melewati dididing sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didala sel dengan diluar sel. Larutan yang konentrasinya tinggi akan terdeak keluar dan diganti oleh pelarut dengan konsentrasi redah (proses difusi). Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur 15o-20o C dalam waktu selama 3 hari sampai bahan-bahan yang larut , melarut. Pelarut Yang Digunakan Dalam Metode Maserasi yaitu air, etanol, etanol-air atau eter. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan sederhana dan mudah diusahakan. Kemudian evaporasi. Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Tujuan dari evaporasi itu sendiri yaitu untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap.

Setelah melakukam ekstraksi dan mendapatkan ekstraknya, kemudian dilakukan identifikasi senyawa metabolit sekunder. Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal.

Perbedaan metabolit sprimer dan sekunder yaitu metabolit primer Tersebar merata dalam tiap organism, Fungsi universil, sumber energy, enzim, pengemban keturunan, bahan struktur, Perbedaan stuktur kimia kecil dan Kaktifan fisiologi berkaitan denga struktur kimia sedangkan metabolit sekunder Tersebar tidak merata dalam tiap organism, Fungsi ekologis, penarik serangga, pelindung diri, alat bersaing, hormone, Perbedaan stuktur kimia tergantung pada pengembangan kimia organik dan hubungan antara struktur dan keaktivan, Kaktifan fisiologi berkaitan dengan struktur kimia dan hubungan antara struktur dan Sebagian besar dari metabolik sekunder adalah turunan dari lemak. 

Percobaan kali ini dilakukan skrining fitokimia. Skrining fitokimia atau penapisan kimia adalah tahapan awal untuk mengidentifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, krna pada tahap ini kita bisa mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang sedang kita uji/teliti. Tujuan dari skrining fitokimia ini adalah untuk mensurvai tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan.

Percobaan kali ini, untuk mengidintifikasi senyawa metabolit seknder dalam suatu sampel digunakan metode tabung dan kromotografi lapis tipis (KLT). KLT (Kromatogfafi Lapis Tipis) adalah metode pemisahan fitokikimia lapisan yang memisahkan,yang terdiri atas bahan berbtir-butir (fase diam) ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisahkan, berupa larutan yang ditotolkan berupa bercak atau noda (awal), setelah plat atau lapisan ditaruh dalam bejana tetutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak) pemisahann terjadi perambatan kapiler. Metode Tabung merupakan metode yang paling sederhana karena tidak menggunakan alat yang canggih dan masih manual.

Pada percobaan ini,dilakukan uji alkaloid, flavonid, steroid saponin dengan metode tabung dan KLT. Dimana sebelum menggunkan metode KLT terlebih dahulu dillakukan pembuatan reagent dragendroff, pemuatan FeCl3 1%, H2SO4 0,1 M dan leberman-burchard. 

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa yang tersebar luas hampir pada semua jenis tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan membentuk cincin heterosiklik. Diindentifikasi dengan mencampurkannya dengan kloroform, dipanaskan lalu diberi pereaksi meyer.

D. PENUTUP
1. Kesimpulan
.

2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009, Farmakope Herbal Indonesia Edisi I, Departemen Kesahatan Republik Indonesia, Jakarta.

Anonim, 1989, Materia Medika Indonesia Jilid V, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.