LAPORAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS - ElrinAlria
LAPORAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
PERCOBAAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada simplisia menggunakan metode tabung dan KLT

B. BAHAN
Bahan – bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
a. Brotowali ( Tinospora Crispa. L)
b. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)

1. KLASIFIKASI TANAMAN
a. Brotowali ( Tinospora Crispa. L)
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta
Class : Ordo
Famili : Menisoermaceae
Genus : Tinospora
Species : Tinospora Crispa L 

b. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
Regnum : Plantae
Divisi : Angiospermae
Class : Dicotiledoneae
Ordo : Umbelliferae
Famili : Apiaceae
Genus : Centella
Spesia : Centella asiatica

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo :Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia 
Spesies : Kaempferia galanga L.

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Spesies : Elephantopus scaber L.

e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana P. Mill.

f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class :Commelinidae
Ordo : Zingiberales 
Famili : Zingiberaceae 
Genus : Alpini
Spesies : Langualis Rizoma

g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo :Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber aromaticum Val

2. DESKRIPSI TANAMAN
a. Brotowali (Tinospora Crispa. L.)
Perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 cm, berkutil – kutil yang rapat, pepagannya mudah tergelupas. Daun bertangkai, panjang 16 cm, bentuknya seperti jantung atau agak membundar terlur tetapi berujung runcing. Lebar 6 cm sampai 13 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1 sampai 3 bunga bersama–sama, menggantung panjang 7 cm samapi 25 cm. Bunga (jantan) bergagang pendek 3 mm sampai 4 mm, kelopak 6, hijau, panjang lebih kurang 3,5 mm, daun mahkota 3, panjang lebih kurang 8 mm(Ditjen POM, 1989).

b. Daun Kaki Kuda (Centellae Herba)
Pegagan berdaun tunggal, berbentuk ginjal, panjang tangkai daun antara 5 cm –15 cm. Tepi daun bergerigi atau beringgit, penampang 1 cm–7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2–10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan berbentuk payung, tunggal atau 3–5 bersama-sama keluar dari ketiak daun, panjang tangkai bunga 5 mm–50 cm. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit. Panjang buah antara 2 mm–2,5 mm(Ditjen POM, 1989). 

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5) dengan susunan berhadapan, tumbuh menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum) berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan (Ditjen POM, 1989)

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek; bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35 x 2-7cm (Ditjen POM, 2009)

Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi lima bagian dan mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam 13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar jam 16 bunga telah tertutup kembali.Bunganya berwarna ungu dan tumbuh dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat (Ditjen POM, 2009).

e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Tanaman ini berbentuk pohon, dengan ketinggian pohon dapat mencapai 3–10 m. Daun banyak menumpuk di ujung ranting, bentuk oval sampai lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 3 cm. Bunga tersusun malai, berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, warna hijau atau hijau kekuningan, berbintik ungu. Biji satu berbentuk bola berwarna coklat (Ditjen POM, 1989)

f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Lengkuas adalah terna tegak yang tingginya 2 m atau lebih. Batangnya yang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua. Seluruh batangnya ditutupi pelepah daun. Batangnya ini bertipe batang semu. Daunnya tunggal, bertangkai pendek, berbentuk daun lanset memanjang, ujungnya runcing, pangkalnya tumpul, dan tepinya rata. Ukurannya daunnya adalah: 25-50 cm × 7-15 cm. Pelepah daunnya berukuran 15-30 cm, beralur, dan berwarna hijau. Perbungaannya majemuk dalam tandan yang bertangkai panjang, tegak, dan berkumpul di ujung tangkai. Jumlah bunga di bagian bawah lebih banyak daripada di atas tangkai, dan berbentuk piramida memanjang. Kelopak bunganya berbentuk lonceng, berwarna putih kehijauan. Mahkota bunganya yang masih kuncup pada bagian ujung warnanya putih, dan bawahnya berwarna hijau. Buahnya termasuk buah buni, bulat, keras, dan hijau sewaktu muda, dan coklat, apabila sudah tua. Umbinya berbau harum, ada yang putih, juga ada yang merah. Menurut ukurannya, ada yang besar juga ada yang kecil. Karenanya, dikenal 3 kultivar yang dibedakan berdasarkan warna dan ukuran rimpangnya. Rimpangnya ini merayap, berdaging, kulitnya mengkilap, beraroma khas, ia berserat kasar, dan pedas jika tua. Untuk mendapatkan rimpang muda yang belum banyak seratnya, panen dilakukan pada saat tanaman berusia 2,5-4 bulan( Ditjen POM, 1989).

g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Tanaman ini dapat tumbuh rendah sampai tinggi, perennial, batang asli berupa rimpang di bawah tanah, tinggi lebih dari 1 meter. Batangnya berupa kumpulan pelepah daun yang berseling, di atas tanah, beberapa batang berkoloni, hijau, rimpang; merayap, berdaging, gemuk, aromatik. Daun: tunggal, berpelepah, duduk berseling, pelepah membentuk batang semu, helaian; bentuk 1 lanset sempit, terlebar di tengah atau di atas tengah, panjang 3-7 kali lebar, pangkal runcing atau tumpul, ujung sangat runcing atau meruncing, berambut di permukaan atas, tulang daun atau di pangkal. Bunga tersusun majemuk, bentuk bulat telur, muncul di atas tanah, tegak, berambut halus, ramping tebal. Daun pelindung sangat lebih besar dari kelopak, sama panjang dengan tabung mahkota. Mahkota: kuning terang, hijau gelap, atau putih, tabung ; 2-3 cm, cuping bulat telur bulat memanjang, ujung meruncing atau runcing, bibi- bibiran bulat telur atau membulat, jingga atau kuning lemon. Buahnya berbentuk bulat telur terbalik, merah, l2x8 mm. Biji: bulat memanjang bola, rata rata 4 mm. Daerah distribusi. Di Jawa dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 1¬-1200 meter dpl, banyak tumbuh sebagai tumbuhan liar di tempat-tempat yang basah di dataran rendah dan tinggi. Tumbuh baik di bawah hutan jati (Ditjen POM, 1989).

C. PROSEDUR KERJA
LAPORAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

D. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


E. PEMBAHASAN
Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu simplisia nabati, hewani, dan pelikan atau mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya. Sedangkan simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni dan simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni.

Metabolit adalah intermediet atau molekul yang tidak stabil dengan paruh waktu yang pendek dalam reaksi kimiawi dan produk dari metabolisme. Terbagi atas dua yaitu metabolit primer dan metabolit sekunder. Sebuah metabolit utama atau primer adalah suatu zat / senyawa essensial yang terdapat dalam organisme dan tumbuhan, yang berperan dalam proses semua kehidupan organisme tersebut atau merupakan kebutuhan dasar untuk kelangsunganhidup bagi organisme / tumbuhan tersebut. Senyawa ini dikelompokkan menjadi 4 kelompok makro molekul yaitu karbohidrat, protein, lipid, dan asam nukleat. Sedangkan metabolit sekunder adalah suatu zat / senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. 

Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal. Senyawa metabolit sekunder diproduksi melalui jalur di luar biosinthesa karbohidrat dan protein. Ada tiga jalur utama untuk pembentukan metabolit sekunder, yaitu 1) jalur Asam Malonat asetat, 2) Asam Mevalonat asetat dan 3) Asam Shikimat.

Praktikum ini dilakukan proses skrining fitokimia, yang bertujuan agar dapat mendeteksi senyawa kimia tumbuhan berdasarkan golongannya dan mengidentifikasikan senyawa kimia tersebut. Skrining fitokimia merupakan suatu tahapan awal untuk identifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, karena pada tahap ini dapat mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung oleh tumuhan yang diuji/diteliti. Senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdiri dari alkaloid, triterpenoid, saponin, tanin, dan flavonoid. 

Skrining fitokimia yang dilakukan pada praktikum ini menggunakan metode tabung dan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Metode skrining fitokimia dengan menggunakan metode kromatodrafi lapis tipis (KLT) mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungannya antara lain: banyak digunakan untuk ujuan analisis, identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluoresensi atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet, dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending) atau dengan cara elusi 2 dimensi, dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid dan hidrokarbon) yang dengan metode kertas tidak dapat digunakan, ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak, hanya membutuhkan sedikit pelarut, waktu analisis singkat (15-60 menit), biaya yang dibutuhkan ringan, preparasi sampel yang mudah, kemungkinan hasil palsu yang disebabkan oleh komponen sekunder tidak mungkin, serta kebutuhan ruangan minimum. Sedangkan kekurangan yang dimiliki yaitu membutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk mendapatkan bercak/noda yang diharapkan, membutuhkan sistem trial and eror untuk menentukan sistem eluen yang cocok, serta memerlukan waktu yag cukup lama jika dilakukan secara tidak tekun.

KLT digunakan untuk memisahkan komponen-komponen berdasarkan perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam di bawah gerakan pelarut pengembang. KLT sangat mirip dengan kromatografi kertas, terutama pada cara pelaksanaannya. Perbedaan nyata terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya, yakni digunakan lapisan tipis adsorben sebagai pengganti kertas.

Proses pemisahan dengan kromatografi lapis tipis, terjadi hubungan kesetimbangan antara fase diam dan fasa gerak, dimana ada interaksi antara permukaan fase diam dengan gugus fungsi senyawa organik yang akan diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fasa geraknya. Kesetimbangan ini dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : kepolaran fase diam, kepolaran fase gerak, serta kepolaran dan ukuran molekul.

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa yang tersebar luas hampir pada semua jenis tumbuhan yang merupakan senyawa turunan yang mengandung unsur nitrogen (umumnya dalam cincin) yang terdapat pada mahluk hidup. Flavanoid adalah suatu kelompok senyawa fenol alam yang memiliki kerangka dasar karbon terdiri atas 15 atom C yang tersusun dalam konfigurasi C6–C3–C6 dimana dua cincin benzen dihubungkan oleh tiga satuan atom C yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin. Dalam tumbuhan, flavanoid disintesis dari tiga unit asetat malonat (cincin A) dan fenil propanoid (cincin B dan C). Dalam tumbuhan, flavanoid tersebar merata dalam akar, daun, kulit, tepung saring, bunga dan biji. Sifat kimia dari flavanoid yaitu polar atau semi polar, larut dalam methanol, etanol, n-butanol, air dan eter serta kloroform. Sedangkan sifat fisikanya yaitu padat/kristal, tidak berbau, dan tidak berwarna. Flavanoid dapat dideteksi dengan logam Mg, Cu, larutan NaOH, H2SO4 pekat. Struktur dari flavonoid yaitu

Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tanaman. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Selain itu, saponin juga merupakan senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon).

Steroid adalah terpenoid yang kerangka dasarnya terbentuk dari sistem cincin siklopentana prehidrofenantrena. Steroid merupakan golongan senyawa metabolik sekunder yang banyak dimanfaatkan sebagai obat. Hormon steroid pada umumnya diperoleh dari senyawa-senyawa steroid alam terutama dalam tumbuhan. 

Penentuan alkaloid dengan menggunakan metode tabung dilakukan dengan penambahan kloroform. Penambahan kloroform ini bertujuan untuk mengambil atau melarutkan senyawa yang ada di dalam sampel, selanjutnya ditambahakan H2SO4. Adapun tujuan dari penambahan H¬2SO4 adalah untuk mengikat kembali alkaloid menjadi garam alkaloid agar dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi logam yang spesifik. Penambahan H2SO4 ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran. Setelah dilakukan penambahan H2SO4, sampel diaduk dan didiamkan. Dimana tujuan dari pengadukan yaitu untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna yang nantinya akan terbentuk 2 lapisan pada saat sampel didiamkan. Kemudian diambil lapisan asam sulfat dan ditambahkan pereaksi meyer yang bertujuan untuk mendeteksi alkaloid, dimana pereaksi ini akan berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dengan Hg pereaksi meyer sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang non polar yang mengendap berwarna putih kekuningan.

Uji steroid dilakukan dengan mengambil fase polar pada uji alkaloid kemudian ditambahkan asam asetat dan H2SO4 pekat. Jika pada sampel terbentuk warna ungu atau jingga maka sampel mengandung triterpenoid sedangkan apabila sampel berwarna biru maka sampel tersebut mengandung steroid.

Uji flavonoid, dilakukan dengan penambahkan methanol kemudian dilakukan proses pemanasan. Digunakan methanol karena flavanoid relatif polar sehingga dapat larut dalam methanol. Selain itu, methanol juga merupakan pelarut universal yang dapat bersifat polar dan nonpolar. Kemudian ditambahakan HCl pekat dan serbuk Mg. Penambahan HCl pekat yang ditandai dengan larutan berbusa dan berwarna merah muda yang menandakan sampel tersebut terdapat flavanoid dan untuk penambahan serbuk Mg ini untuk mendeteksi adanya senyawa flavanoid, dimana flavanoid akan bereaksi dengan logam Mg.

Uji saponin dilakukan dengan penambahan akuades pada sampel kemudian dikocok dan diamati. Jika pada uji saponin terbentuk busa, maka pada sampel mengandung sponin. Timbulnya busa pada uji ini menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya. 

Penentuan senyawa alkaloid pada sampel dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan dengan menggunakan pereaksi dragendorf, dimana hasil yang diperoleh yaitu pada sampel daun alpukat tidak terdapat senyawa alkaloid. Hal ini ditandai dengan tidak terbentuknya warna orange setelah dilakukan penamasan. Akan tetapi, pada sampel kencur dan lempunyang wangi terdapat senyawa alkaloid, karena terbentunya warna orange. Reaksi yan terjadi yaitu

Uji penentuan senywa flavonoid dilakukan dengan penambahan pereaksi amonia, sehingga hasil yang diperoleh bahwa sampel yang mengandung senyawa flavonoid antara lain kencur, tapak liman, daun advokat, brotowali, dan lempuyang wangi yang ditandai dengan terbentuknya warna hijau.

Uji terpenoid dilakukan dengan menggunakan pelarut Lieberman-Buchard dan ditandai dengan adanya warna merah setelah proes pemanasan. Hasil yang diperoleh yaitu sampel yang mengandung senyawa triterpenoid yaitu tapak kuda, advokat, brotowali, dan lempuyang wangi. Uji saponin dilakukan dengan menggunakan pelarut asam sulfat yang ditamdai dengan adanya perubahan warna menjadi ungu setelah melalui proses pemanasan. Hasil yang diperoleh yaitu sampel yang mengandung senyawa saponin antara lain tapak kuda, tapak liman, dan advokat. Sedangkan untuk uji senyawa tanin dilakukan dengan menggunakan pelarut FeCl3 dan pengukuran menggunakan spektrofotometri Uv-Vis dengan panjang gelombang 254 dan 366, dan ditandai dengan perubahan warna biru kehitaman. Hasil yang diperoleh bahwa sampel yang mengandung senyawa tanin yaitu lengkuas. 

F. PENUTUP
a. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini yaitu golongan senyawa yang terkandung dalam sampel daun advokat (Persea americana P. Mill.) antara lain flavonoid, saponin dan triterpenoid.

b. Saran
Sebaiknya alat- alat yang digunakan lebih lengkap dan praktikum harus lebih memperhatikan pada saat melakukan percobaan, untuk mengurangi terjadinya kesalahan yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Badan POM, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Volume Kelima Edisi Pertama, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 1989 dan 1995, Materi Medika Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi Pertama, Departemen Kesehatan Rebublik Indonesia, Jakarta

LAPORAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

LAPORAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
PERCOBAAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada simplisia menggunakan metode tabung dan KLT

B. BAHAN
Bahan – bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
a. Brotowali ( Tinospora Crispa. L)
b. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)

1. KLASIFIKASI TANAMAN
a. Brotowali ( Tinospora Crispa. L)
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta
Class : Ordo
Famili : Menisoermaceae
Genus : Tinospora
Species : Tinospora Crispa L 

b. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
Regnum : Plantae
Divisi : Angiospermae
Class : Dicotiledoneae
Ordo : Umbelliferae
Famili : Apiaceae
Genus : Centella
Spesia : Centella asiatica

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo :Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia 
Spesies : Kaempferia galanga L.

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Spesies : Elephantopus scaber L.

e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana P. Mill.

f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class :Commelinidae
Ordo : Zingiberales 
Famili : Zingiberaceae 
Genus : Alpini
Spesies : Langualis Rizoma

g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo :Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber aromaticum Val

2. DESKRIPSI TANAMAN
a. Brotowali (Tinospora Crispa. L.)
Perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 cm, berkutil – kutil yang rapat, pepagannya mudah tergelupas. Daun bertangkai, panjang 16 cm, bentuknya seperti jantung atau agak membundar terlur tetapi berujung runcing. Lebar 6 cm sampai 13 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1 sampai 3 bunga bersama–sama, menggantung panjang 7 cm samapi 25 cm. Bunga (jantan) bergagang pendek 3 mm sampai 4 mm, kelopak 6, hijau, panjang lebih kurang 3,5 mm, daun mahkota 3, panjang lebih kurang 8 mm(Ditjen POM, 1989).

b. Daun Kaki Kuda (Centellae Herba)
Pegagan berdaun tunggal, berbentuk ginjal, panjang tangkai daun antara 5 cm –15 cm. Tepi daun bergerigi atau beringgit, penampang 1 cm–7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2–10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan berbentuk payung, tunggal atau 3–5 bersama-sama keluar dari ketiak daun, panjang tangkai bunga 5 mm–50 cm. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit. Panjang buah antara 2 mm–2,5 mm(Ditjen POM, 1989). 

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5) dengan susunan berhadapan, tumbuh menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum) berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan (Ditjen POM, 1989)

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek; bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35 x 2-7cm (Ditjen POM, 2009)

Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi lima bagian dan mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam 13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar jam 16 bunga telah tertutup kembali.Bunganya berwarna ungu dan tumbuh dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat (Ditjen POM, 2009).

e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Tanaman ini berbentuk pohon, dengan ketinggian pohon dapat mencapai 3–10 m. Daun banyak menumpuk di ujung ranting, bentuk oval sampai lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 3 cm. Bunga tersusun malai, berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, warna hijau atau hijau kekuningan, berbintik ungu. Biji satu berbentuk bola berwarna coklat (Ditjen POM, 1989)

f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Lengkuas adalah terna tegak yang tingginya 2 m atau lebih. Batangnya yang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua. Seluruh batangnya ditutupi pelepah daun. Batangnya ini bertipe batang semu. Daunnya tunggal, bertangkai pendek, berbentuk daun lanset memanjang, ujungnya runcing, pangkalnya tumpul, dan tepinya rata. Ukurannya daunnya adalah: 25-50 cm × 7-15 cm. Pelepah daunnya berukuran 15-30 cm, beralur, dan berwarna hijau. Perbungaannya majemuk dalam tandan yang bertangkai panjang, tegak, dan berkumpul di ujung tangkai. Jumlah bunga di bagian bawah lebih banyak daripada di atas tangkai, dan berbentuk piramida memanjang. Kelopak bunganya berbentuk lonceng, berwarna putih kehijauan. Mahkota bunganya yang masih kuncup pada bagian ujung warnanya putih, dan bawahnya berwarna hijau. Buahnya termasuk buah buni, bulat, keras, dan hijau sewaktu muda, dan coklat, apabila sudah tua. Umbinya berbau harum, ada yang putih, juga ada yang merah. Menurut ukurannya, ada yang besar juga ada yang kecil. Karenanya, dikenal 3 kultivar yang dibedakan berdasarkan warna dan ukuran rimpangnya. Rimpangnya ini merayap, berdaging, kulitnya mengkilap, beraroma khas, ia berserat kasar, dan pedas jika tua. Untuk mendapatkan rimpang muda yang belum banyak seratnya, panen dilakukan pada saat tanaman berusia 2,5-4 bulan( Ditjen POM, 1989).

g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Tanaman ini dapat tumbuh rendah sampai tinggi, perennial, batang asli berupa rimpang di bawah tanah, tinggi lebih dari 1 meter. Batangnya berupa kumpulan pelepah daun yang berseling, di atas tanah, beberapa batang berkoloni, hijau, rimpang; merayap, berdaging, gemuk, aromatik. Daun: tunggal, berpelepah, duduk berseling, pelepah membentuk batang semu, helaian; bentuk 1 lanset sempit, terlebar di tengah atau di atas tengah, panjang 3-7 kali lebar, pangkal runcing atau tumpul, ujung sangat runcing atau meruncing, berambut di permukaan atas, tulang daun atau di pangkal. Bunga tersusun majemuk, bentuk bulat telur, muncul di atas tanah, tegak, berambut halus, ramping tebal. Daun pelindung sangat lebih besar dari kelopak, sama panjang dengan tabung mahkota. Mahkota: kuning terang, hijau gelap, atau putih, tabung ; 2-3 cm, cuping bulat telur bulat memanjang, ujung meruncing atau runcing, bibi- bibiran bulat telur atau membulat, jingga atau kuning lemon. Buahnya berbentuk bulat telur terbalik, merah, l2x8 mm. Biji: bulat memanjang bola, rata rata 4 mm. Daerah distribusi. Di Jawa dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 1¬-1200 meter dpl, banyak tumbuh sebagai tumbuhan liar di tempat-tempat yang basah di dataran rendah dan tinggi. Tumbuh baik di bawah hutan jati (Ditjen POM, 1989).

C. PROSEDUR KERJA
LAPORAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

D. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SECARA TABUNG DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


E. PEMBAHASAN
Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu simplisia nabati, hewani, dan pelikan atau mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya. Sedangkan simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni dan simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni.

Metabolit adalah intermediet atau molekul yang tidak stabil dengan paruh waktu yang pendek dalam reaksi kimiawi dan produk dari metabolisme. Terbagi atas dua yaitu metabolit primer dan metabolit sekunder. Sebuah metabolit utama atau primer adalah suatu zat / senyawa essensial yang terdapat dalam organisme dan tumbuhan, yang berperan dalam proses semua kehidupan organisme tersebut atau merupakan kebutuhan dasar untuk kelangsunganhidup bagi organisme / tumbuhan tersebut. Senyawa ini dikelompokkan menjadi 4 kelompok makro molekul yaitu karbohidrat, protein, lipid, dan asam nukleat. Sedangkan metabolit sekunder adalah suatu zat / senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. 

Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal. Senyawa metabolit sekunder diproduksi melalui jalur di luar biosinthesa karbohidrat dan protein. Ada tiga jalur utama untuk pembentukan metabolit sekunder, yaitu 1) jalur Asam Malonat asetat, 2) Asam Mevalonat asetat dan 3) Asam Shikimat.

Praktikum ini dilakukan proses skrining fitokimia, yang bertujuan agar dapat mendeteksi senyawa kimia tumbuhan berdasarkan golongannya dan mengidentifikasikan senyawa kimia tersebut. Skrining fitokimia merupakan suatu tahapan awal untuk identifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, karena pada tahap ini dapat mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung oleh tumuhan yang diuji/diteliti. Senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdiri dari alkaloid, triterpenoid, saponin, tanin, dan flavonoid. 

Skrining fitokimia yang dilakukan pada praktikum ini menggunakan metode tabung dan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Metode skrining fitokimia dengan menggunakan metode kromatodrafi lapis tipis (KLT) mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungannya antara lain: banyak digunakan untuk ujuan analisis, identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluoresensi atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet, dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending) atau dengan cara elusi 2 dimensi, dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid dan hidrokarbon) yang dengan metode kertas tidak dapat digunakan, ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak, hanya membutuhkan sedikit pelarut, waktu analisis singkat (15-60 menit), biaya yang dibutuhkan ringan, preparasi sampel yang mudah, kemungkinan hasil palsu yang disebabkan oleh komponen sekunder tidak mungkin, serta kebutuhan ruangan minimum. Sedangkan kekurangan yang dimiliki yaitu membutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk mendapatkan bercak/noda yang diharapkan, membutuhkan sistem trial and eror untuk menentukan sistem eluen yang cocok, serta memerlukan waktu yag cukup lama jika dilakukan secara tidak tekun.

KLT digunakan untuk memisahkan komponen-komponen berdasarkan perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam di bawah gerakan pelarut pengembang. KLT sangat mirip dengan kromatografi kertas, terutama pada cara pelaksanaannya. Perbedaan nyata terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya, yakni digunakan lapisan tipis adsorben sebagai pengganti kertas.

Proses pemisahan dengan kromatografi lapis tipis, terjadi hubungan kesetimbangan antara fase diam dan fasa gerak, dimana ada interaksi antara permukaan fase diam dengan gugus fungsi senyawa organik yang akan diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fasa geraknya. Kesetimbangan ini dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : kepolaran fase diam, kepolaran fase gerak, serta kepolaran dan ukuran molekul.

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa yang tersebar luas hampir pada semua jenis tumbuhan yang merupakan senyawa turunan yang mengandung unsur nitrogen (umumnya dalam cincin) yang terdapat pada mahluk hidup. Flavanoid adalah suatu kelompok senyawa fenol alam yang memiliki kerangka dasar karbon terdiri atas 15 atom C yang tersusun dalam konfigurasi C6–C3–C6 dimana dua cincin benzen dihubungkan oleh tiga satuan atom C yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin. Dalam tumbuhan, flavanoid disintesis dari tiga unit asetat malonat (cincin A) dan fenil propanoid (cincin B dan C). Dalam tumbuhan, flavanoid tersebar merata dalam akar, daun, kulit, tepung saring, bunga dan biji. Sifat kimia dari flavanoid yaitu polar atau semi polar, larut dalam methanol, etanol, n-butanol, air dan eter serta kloroform. Sedangkan sifat fisikanya yaitu padat/kristal, tidak berbau, dan tidak berwarna. Flavanoid dapat dideteksi dengan logam Mg, Cu, larutan NaOH, H2SO4 pekat. Struktur dari flavonoid yaitu

Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tanaman. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Selain itu, saponin juga merupakan senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon).

Steroid adalah terpenoid yang kerangka dasarnya terbentuk dari sistem cincin siklopentana prehidrofenantrena. Steroid merupakan golongan senyawa metabolik sekunder yang banyak dimanfaatkan sebagai obat. Hormon steroid pada umumnya diperoleh dari senyawa-senyawa steroid alam terutama dalam tumbuhan. 

Penentuan alkaloid dengan menggunakan metode tabung dilakukan dengan penambahan kloroform. Penambahan kloroform ini bertujuan untuk mengambil atau melarutkan senyawa yang ada di dalam sampel, selanjutnya ditambahakan H2SO4. Adapun tujuan dari penambahan H¬2SO4 adalah untuk mengikat kembali alkaloid menjadi garam alkaloid agar dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi logam yang spesifik. Penambahan H2SO4 ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran. Setelah dilakukan penambahan H2SO4, sampel diaduk dan didiamkan. Dimana tujuan dari pengadukan yaitu untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna yang nantinya akan terbentuk 2 lapisan pada saat sampel didiamkan. Kemudian diambil lapisan asam sulfat dan ditambahkan pereaksi meyer yang bertujuan untuk mendeteksi alkaloid, dimana pereaksi ini akan berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dengan Hg pereaksi meyer sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang non polar yang mengendap berwarna putih kekuningan.

Uji steroid dilakukan dengan mengambil fase polar pada uji alkaloid kemudian ditambahkan asam asetat dan H2SO4 pekat. Jika pada sampel terbentuk warna ungu atau jingga maka sampel mengandung triterpenoid sedangkan apabila sampel berwarna biru maka sampel tersebut mengandung steroid.

Uji flavonoid, dilakukan dengan penambahkan methanol kemudian dilakukan proses pemanasan. Digunakan methanol karena flavanoid relatif polar sehingga dapat larut dalam methanol. Selain itu, methanol juga merupakan pelarut universal yang dapat bersifat polar dan nonpolar. Kemudian ditambahakan HCl pekat dan serbuk Mg. Penambahan HCl pekat yang ditandai dengan larutan berbusa dan berwarna merah muda yang menandakan sampel tersebut terdapat flavanoid dan untuk penambahan serbuk Mg ini untuk mendeteksi adanya senyawa flavanoid, dimana flavanoid akan bereaksi dengan logam Mg.

Uji saponin dilakukan dengan penambahan akuades pada sampel kemudian dikocok dan diamati. Jika pada uji saponin terbentuk busa, maka pada sampel mengandung sponin. Timbulnya busa pada uji ini menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya. 

Penentuan senyawa alkaloid pada sampel dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan dengan menggunakan pereaksi dragendorf, dimana hasil yang diperoleh yaitu pada sampel daun alpukat tidak terdapat senyawa alkaloid. Hal ini ditandai dengan tidak terbentuknya warna orange setelah dilakukan penamasan. Akan tetapi, pada sampel kencur dan lempunyang wangi terdapat senyawa alkaloid, karena terbentunya warna orange. Reaksi yan terjadi yaitu

Uji penentuan senywa flavonoid dilakukan dengan penambahan pereaksi amonia, sehingga hasil yang diperoleh bahwa sampel yang mengandung senyawa flavonoid antara lain kencur, tapak liman, daun advokat, brotowali, dan lempuyang wangi yang ditandai dengan terbentuknya warna hijau.

Uji terpenoid dilakukan dengan menggunakan pelarut Lieberman-Buchard dan ditandai dengan adanya warna merah setelah proes pemanasan. Hasil yang diperoleh yaitu sampel yang mengandung senyawa triterpenoid yaitu tapak kuda, advokat, brotowali, dan lempuyang wangi. Uji saponin dilakukan dengan menggunakan pelarut asam sulfat yang ditamdai dengan adanya perubahan warna menjadi ungu setelah melalui proses pemanasan. Hasil yang diperoleh yaitu sampel yang mengandung senyawa saponin antara lain tapak kuda, tapak liman, dan advokat. Sedangkan untuk uji senyawa tanin dilakukan dengan menggunakan pelarut FeCl3 dan pengukuran menggunakan spektrofotometri Uv-Vis dengan panjang gelombang 254 dan 366, dan ditandai dengan perubahan warna biru kehitaman. Hasil yang diperoleh bahwa sampel yang mengandung senyawa tanin yaitu lengkuas. 

F. PENUTUP
a. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini yaitu golongan senyawa yang terkandung dalam sampel daun advokat (Persea americana P. Mill.) antara lain flavonoid, saponin dan triterpenoid.

b. Saran
Sebaiknya alat- alat yang digunakan lebih lengkap dan praktikum harus lebih memperhatikan pada saat melakukan percobaan, untuk mengurangi terjadinya kesalahan yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Badan POM, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Volume Kelima Edisi Pertama, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 1989 dan 1995, Materi Medika Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi Pertama, Departemen Kesehatan Rebublik Indonesia, Jakarta