LAPORAN KELARUTAN INTRINSIK OBAT - ElrinAlria

LAPORAN KELARUTAN INTRINSIK OBAT

LAPORAN KELARUTAN INTRINSIK OBAT

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu memperkenalkan konsep dan proses pendukung sistem kelarutan obat dan menentukan parameter kelarutan zat. 

B. LANDASAN TEORI
Kelarutan intrinsik merupakan kelarutan dari suatu senyawa dalam bentuk molekulnya (tidak terion) di dalam larutan. Dalam melihat kelarutan intrinsik suatu obat pertama dilihat kelarutan obat di dalam 0,1 N HCl, 0,1 N NaOH, dan air. Peningkatan kelarutan obat pada asam menyatakan obat tersebut bersifat basa lemah dan peningkatan kelarutan obat pada basa menyatakan obat tersebut bersifat asam lemah (Novita, dkk., 2012).

Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia yang baru ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Sehingga kegunaan secara klinik senyawa-senyawa yang bersifat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut d dalam tubuh. Kelarutan suatu zat yang berkhasiat yang krang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat sangat berkaitan (Jufri, dkk., 2004).

Salah satu cara yang ditetapkan oleh industri farmasi untuk meningkatkan kelarutan suatu obat yang bersifat lipifilik atau hidrofobik adalah dengan membuat sediaan emulsi (Jufri, dkk., 2004). 

Kofein merupakan alkaloid turunan Xantin, yaitu 1, 3, 7 – trimetilxantin, bersifat basa lemah, berkhasiat menstimulasi susunan saraf pusat, diuretik, stimulasi oto jantung yang telah lama dimanfaatkan. Dalam dosis rendah dapat meninkatkan kewaspadaan, menghilangkan rasa kantuk atau kelelahan, dan meningkatkan kemampuan psikis. Pemakaian dalam bidang farmasi sangat luas, biasanya dikombinasikan dengan analgetik (Dira, 2012).

Kopi merupakan salah satu minuman penyegar yang memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Kopi mengandung senyawa yang memiliki efek dan juga menguntungkan, salah satunya kafein. Sebagian besar orang beranggapan bahwa kafein dapat merugikan jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup tinggi, akan tetapi kafein juga dapat memberi efek stimulasi sistem saraf, kerja jantung, pernafasan dan otot-otot. Selain itu, kafein adalah senyawa alka-loida yang terdapat di dalam kopi. Persentase jumlah kafein dalam kopi bubuk dipengaruhi oleh jenis kopi tersebut (Rohmah, 2009).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Filler 
  • Pipet ukur 
  • Gelas kimia 
  • Corong 
  • Kertas saring 

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Alkohol 70% 
  • Aquadest 
  • Cofein 

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN KELARUTAN INTRINSIK OBAT


E. HASIL PENGAMATAN
(Cari sendiri broh)

F. PEMBAHASAN
Kelarutan adalah kemmpuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. 

Fakrot-faktor yang memoengaruhi kelarutan suatu senyawa adalah pH, temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, konsentrasi dielektrik pelarut, surfaktan dan efek garam. Selain itu, salah satu cara untuk meningkatkan kelarutan suatu zat yaitu memvariasikan komposisi suatu pelarut. 

Pada percobaan ini, menggunakan 3 sampel yaitu alkohol yang berukuran 5 ml dan aquadest yang berukuran 15 ml, sampel yang kedua yaitu alkohol 10 ml dan aquadest 10 ml, untuk sampel yang ketiga yaitu alkohol 15 ml dan aquadest 5 ml. Masing-masing sampel ini dimasukkan ke dalam gelas kimia, kemudian di tambahkan kafein hingga tidak larut. 

Kafein merupakan suatu larutan yang bersifat semi polar, sisi non polarnya lebih besar dibandingkan dengan sisi polar. Oleh karena itu, kafein tidak dapat larut pada air, sehingga digunakan alkohol yang juga bersifat semi polar. Sisi polar yang terdapat pada alkohol akan berikatan dengan air sedangkan sisi non polar berikatan dengan sisi non polar yang terdapat pada kafein, sedangkan sisi polar yang terdapat ada kafein tidak dapat larut. Sisi polar dari kafein yang tidak larut akan disaring dengan menggunakan kertas saring dan dipisahkan.

Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi. Dari hasil pengukuran absorbansi, diperoleh bahwa nilai absorbansi pada sampel ke tiga lebih besar dibandingkan dengan nilai absorbansi pada sampel pertama dan kedua. Hal ini sesuai dengan teori, bahwa nilai absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi suatu zat. Semakin tinggi nilai absorbansi suatu zat maka nilai konsentrasi juga akan besar, sebaliknya jika nilai absorbansi suatu zat rendah maka nilai konsentrasinya juga ikut rendah. Bertambahnya kelarutan suatu zat akan memperbesar konsentrasi zat tersebut. 

G. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat pelarut, serta bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan, dan untuk jumlah kecil bergantung pada terbaginya zat pelarut. 

DAFTAR PUSTAKA
Dira, 2012, “Isolasi Kofein Dari Daun Kopi (Coffea arabica, L) Dengan Metoda Sublimasi”, Scienta, 2(1).

Jufri, M., Asminar Binu, Julia Rahmawati, 2004, “Formulasi Gameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi”, Majalah Ilmu Kefarmasian, 1(3).

Novita, G., Kamal Rullah, Anwar Syahadat, 2012, “Studi Preformulasi Senyawa Sintesis Turunan Kalkon 3-(3-Nitrophenil)-1-Phenilprop-2-En-1-On : Kelarutan Intrinsik Dan Konstanta Ionisasi”, Scienta, 2(1).

Rohmah, Miftakhur, 2009, “Kajian Sifat Fisik Dan Organoleptik Kopi Robusta (Coffea cannephora), Kayu Manis (Cinnamomun burmanii), Dan Campurannya”, Jurnal Teknologi Pertanian, 4(2).

LAPORAN KELARUTAN INTRINSIK OBAT


LAPORAN KELARUTAN INTRINSIK OBAT

LAPORAN KELARUTAN INTRINSIK OBAT

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu memperkenalkan konsep dan proses pendukung sistem kelarutan obat dan menentukan parameter kelarutan zat. 

B. LANDASAN TEORI
Kelarutan intrinsik merupakan kelarutan dari suatu senyawa dalam bentuk molekulnya (tidak terion) di dalam larutan. Dalam melihat kelarutan intrinsik suatu obat pertama dilihat kelarutan obat di dalam 0,1 N HCl, 0,1 N NaOH, dan air. Peningkatan kelarutan obat pada asam menyatakan obat tersebut bersifat basa lemah dan peningkatan kelarutan obat pada basa menyatakan obat tersebut bersifat asam lemah (Novita, dkk., 2012).

Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia yang baru ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Sehingga kegunaan secara klinik senyawa-senyawa yang bersifat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut d dalam tubuh. Kelarutan suatu zat yang berkhasiat yang krang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat sangat berkaitan (Jufri, dkk., 2004).

Salah satu cara yang ditetapkan oleh industri farmasi untuk meningkatkan kelarutan suatu obat yang bersifat lipifilik atau hidrofobik adalah dengan membuat sediaan emulsi (Jufri, dkk., 2004). 

Kofein merupakan alkaloid turunan Xantin, yaitu 1, 3, 7 – trimetilxantin, bersifat basa lemah, berkhasiat menstimulasi susunan saraf pusat, diuretik, stimulasi oto jantung yang telah lama dimanfaatkan. Dalam dosis rendah dapat meninkatkan kewaspadaan, menghilangkan rasa kantuk atau kelelahan, dan meningkatkan kemampuan psikis. Pemakaian dalam bidang farmasi sangat luas, biasanya dikombinasikan dengan analgetik (Dira, 2012).

Kopi merupakan salah satu minuman penyegar yang memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Kopi mengandung senyawa yang memiliki efek dan juga menguntungkan, salah satunya kafein. Sebagian besar orang beranggapan bahwa kafein dapat merugikan jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup tinggi, akan tetapi kafein juga dapat memberi efek stimulasi sistem saraf, kerja jantung, pernafasan dan otot-otot. Selain itu, kafein adalah senyawa alka-loida yang terdapat di dalam kopi. Persentase jumlah kafein dalam kopi bubuk dipengaruhi oleh jenis kopi tersebut (Rohmah, 2009).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Filler 
  • Pipet ukur 
  • Gelas kimia 
  • Corong 
  • Kertas saring 

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Alkohol 70% 
  • Aquadest 
  • Cofein 

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN KELARUTAN INTRINSIK OBAT


E. HASIL PENGAMATAN
(Cari sendiri broh)

F. PEMBAHASAN
Kelarutan adalah kemmpuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. 

Fakrot-faktor yang memoengaruhi kelarutan suatu senyawa adalah pH, temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, konsentrasi dielektrik pelarut, surfaktan dan efek garam. Selain itu, salah satu cara untuk meningkatkan kelarutan suatu zat yaitu memvariasikan komposisi suatu pelarut. 

Pada percobaan ini, menggunakan 3 sampel yaitu alkohol yang berukuran 5 ml dan aquadest yang berukuran 15 ml, sampel yang kedua yaitu alkohol 10 ml dan aquadest 10 ml, untuk sampel yang ketiga yaitu alkohol 15 ml dan aquadest 5 ml. Masing-masing sampel ini dimasukkan ke dalam gelas kimia, kemudian di tambahkan kafein hingga tidak larut. 

Kafein merupakan suatu larutan yang bersifat semi polar, sisi non polarnya lebih besar dibandingkan dengan sisi polar. Oleh karena itu, kafein tidak dapat larut pada air, sehingga digunakan alkohol yang juga bersifat semi polar. Sisi polar yang terdapat pada alkohol akan berikatan dengan air sedangkan sisi non polar berikatan dengan sisi non polar yang terdapat pada kafein, sedangkan sisi polar yang terdapat ada kafein tidak dapat larut. Sisi polar dari kafein yang tidak larut akan disaring dengan menggunakan kertas saring dan dipisahkan.

Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi. Dari hasil pengukuran absorbansi, diperoleh bahwa nilai absorbansi pada sampel ke tiga lebih besar dibandingkan dengan nilai absorbansi pada sampel pertama dan kedua. Hal ini sesuai dengan teori, bahwa nilai absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi suatu zat. Semakin tinggi nilai absorbansi suatu zat maka nilai konsentrasi juga akan besar, sebaliknya jika nilai absorbansi suatu zat rendah maka nilai konsentrasinya juga ikut rendah. Bertambahnya kelarutan suatu zat akan memperbesar konsentrasi zat tersebut. 

G. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat pelarut, serta bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan, dan untuk jumlah kecil bergantung pada terbaginya zat pelarut. 

DAFTAR PUSTAKA
Dira, 2012, “Isolasi Kofein Dari Daun Kopi (Coffea arabica, L) Dengan Metoda Sublimasi”, Scienta, 2(1).

Jufri, M., Asminar Binu, Julia Rahmawati, 2004, “Formulasi Gameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi”, Majalah Ilmu Kefarmasian, 1(3).

Novita, G., Kamal Rullah, Anwar Syahadat, 2012, “Studi Preformulasi Senyawa Sintesis Turunan Kalkon 3-(3-Nitrophenil)-1-Phenilprop-2-En-1-On : Kelarutan Intrinsik Dan Konstanta Ionisasi”, Scienta, 2(1).

Rohmah, Miftakhur, 2009, “Kajian Sifat Fisik Dan Organoleptik Kopi Robusta (Coffea cannephora), Kayu Manis (Cinnamomun burmanii), Dan Campurannya”, Jurnal Teknologi Pertanian, 4(2).