LAPORAN KELARUTAN (PENGARUH pH, KOSOLVEN, SURFAKTAN, & SUHU) - ElrinAlria
LAPORAN KELARUTAN (PENGARUH pH, KOSOLVEN, SURFAKTAN, & SUHU)
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
PERCOBAAN V
KELARUTAN (PENGARUH pH, KOSOLVEN, SURFAKTAN, & SUHU)
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam bidang farmasi, untuk memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, akan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetik, dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian. Pengetahuan yang lebih mendetail mengenai kelarutan dan sifat-sifat yang berhubungan dengan itu juga memberikan informasi mengenai struktur obat dan gaya antarmolekul obat. Selain itu, pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi setelah zat aktifnya telarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya. 

Kelarutan adalah kemampuan suatu zat telarut melarut pada suatu pelarut. Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperature tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk disperse molekular homogen. Kelarutan suatu senyawa bargantung pada sifat fisika, dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.

B. Rumusan masalah
Rumusan masalah pada percobaan Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu) yaitu bagaimana mempelajari kelarutan suatu obat serta memahami dan mengetahui pengaruh ph, kosolven, surfaktan, & suhu terhadap kelarutan suatu obat.

C. Tujuan
Adapun tujuan pada percobaan Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu) yaitu untuk mempelajari kelarutan suatu obat serta memahami dan mengetahui pengaruh ph, kosolven, surfaktan, & suhu terhadap kelarutan suatu obat.

D. Manfaat 
Manfaat pada percobaan Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu) yaitu agar dapat mempelajari kelarutan suatu obat serta memahami dan mengetahui pengaruh ph, kosolven, surfaktan, & suhu terhadap kelarutan suatu obat. 

BAB II
LANDASAN TEORI
Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu komponen. Komponen yang terdapat dalam jumlah yang besar disebut pelarut atau solvent, sedang komponen yang terdapat dalam jumlah yang kecil disebut zat terlarut atau solute. Konsentrasi suatu larutan didefinisikan sebagai jumlah solute yang ada dalam sejumlah larutan atau pelarut (MR, Mariati., 2008).

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia yang penting untuk diperhatikan pada tahap preformulasi sebelum memformula bahan obat menjadi sediaan. Beberapa metode dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat, antara lain melalui pembentukan garam, perubahan struktur internal Kristal (polimorfi) atau penambahan suatu bahan penolong, misalnya bahan pengompleks, surfaktan dan kosolven (Erindyah R. W. dan Anita Sukmawati, 2005).

Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi suatu sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia baru yang ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh. Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan (Jufri, dkk., 2004).

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia senyawa obat yang penting dalam meramalkan derajat absorpsi obat dalam saluran cerna. Obat-obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air (poorly soluble drugs) seringkali menunjukkan ketersediaan hayati rendah dan kecepatan disolusi merupakan tahap penentu (rate limiting step) pada proses absorpsi obat (1-3). Berbagai metode untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi obat telah banyak dilaporkan seperti pembuatan dispersi padat, pembentukan prodrug, kompleks inklusi obat dengan pembawa dan modifikasi senyawa menjadi bentuk garam dan solvat (4-5). Salah satu metode menarik dan sederhana yang baru-baru ini dikembangkan dalam bidang ilmu bahan dan rekayasa kristal untuk meningkatkan laju pelarutan dan ketersediaan hayati obat-obat yang sukar larut adalah teknik kokristalisasi untuk menghasilkan kokristal (senyawa molekular) dengan sifat-sifat fisika dan fisikokimia yang lebih unggul. Kokristal merupakan material padat yang terdiri dari dua atau lebih molekul padat yang membentuk satu kisi kristal yang berbeda dan dihubungkan oleh ikatan antar molekul seperti ikatan hidrogen dan Van der Waals ( Zaini dkk., 2011).

Parameter kelarutan merupakan suatu konsep yang penting, yang dapat digunakan sebagai parameter pemilihan pelarut. Penggunaan parameter kelarutan dalam pemilihan pelarut adalah berdasar aturan kimia yang telah dikenal yakni “like dissolved like”. Jika gaya antar molekul antara molekul pelarut dan solut memiliki kekuatan yang mirip, maka pelarut tersebut merupakan pelarut yang baik bagi solut tersebut (Hartati, 2012).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum “Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu)” dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 21 november 2015. Dilaksanakan di Laboratorium Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Halu Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada paraktikum “Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu)” yaitu : gelas kimia, pipet tetes, batang pengaduk, sendok tanduk, gelas ukur 10 ml, timbangan analitik.

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum “Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu)” yaitu : akuades, alkohol, parasetamol, HCl, NaOH, dan surfaktan (detergen).

C. Cara Kerja
1. Pengaruh pH
Pertama-tama parasetamol ditimbang 0,2 gr, kemudian dimasukkan akuades masing-masing 40 ml ke dalam gelas kimia 1 dan gelas kimia 2. Selanjutnya ditambahkan 10 ml HCl pada tabung pertama dan 10 ml NaOH pada tabung kedua. Setelah itu, dimasukkan masing-masing 0,1 gr parasetamol pada gelas kimia 1 dan 2, diaduk hingga larut dan terakhir diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer.

2. Pengaruh kosolven
Pertama-tama parasetamol ditimbang 0,2 gr, kemudian dimasukkan akuades masing-masing 50 ml ke dalam gelas kimia 1 dan 40 ml kedalam gelas kimia 2. Selanjutnya dipipet 10 ml alkohol pada tabung kedua. Setelah itu, dimasukkan masing-masing 0,1 gr parasetamol pada gelas kimia 1 dan 2, diaduk hingga larut dan terakhir diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer

3. Pengaruh surfaktan
Pertama-tama parasetamol ditimbang 0,2 gr, kemudian dimasukkan akuades masing-masing 50 ml ke dalam gelas kimia 1 dan 40 ml kedalam gelas kimia 2. Selanjutnya dipipet 10 ml larutan surfaktan (detergen) pada tabung kedua. Setelah itu, dimasukkan masing-masing 0,1 gr parasetamol pada gelas kimia 1 dan 2, diaduk hingga larut dan terakhir diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer

4. Pengaruh suhu
Pertama-tama parasetamol ditimbang 0,2 gr, kemudian dimasukkan akuades masing-masing 50 ml ke dalam gelas kimia 1 dan 50 ml kedalam gelas kimia 2. Setelah itu, dimasukkan masing-masing 0,1 gr parasetamol pada gelas kimia 1 dan 2, diaduk hingga larut pada gelas kimia, dipanaskan dengan elektromantel gelas kimia dua selama 5 menit sambil diaduk. Diangkat gelas kimia dari ekektromantel dan terakhir diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer

BAB IV 
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
LAPORAN KELARUTAN (PENGARUH pH, KOSOLVEN, SURFAKTAN, & SUHU)

B. Pembahasan
Larutan adalah campuran homogen antara zat pelarut dan zat terlarut. Kelarutan adalah kemampuan suatu zat melarut dalam pelarut tertentu. Larutan pada umumnya dibagi menjadi tiga yaitu larutan jenuh adalah larutan yang zat terlarutnya dapat melarut dalam zat pelarutnya dalam konsentrasi yang maksimal. Larutan lewad jenuh terjadi pada saat zat terlarut sudah melewati batas maksimal zat pelarut untuk melarutkannya yang biasanya ditandai dengan terbentuknya endapan. Lautan tak jenuh terjadi saat zat terlarut belum mencapai batas maksimal zat pelarut untuk melarutkannya.

Kelarutan dikenal istilah cosolvent dan cosolvency dimana cosolvent merupakan bahan yang digunakan untuk meningkatkan kelarutannya misalnya seperti penggunaan pelarut campur sedangkan cosolvency merupakan peristiwa peningkatan kelarutan. Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible.

Faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kelarutan adalah pH, suhu, kosolven dan surfaktan. pH dalah derajat keasaman, zat aktif yang sering digunakan di dalam dunia pengobatan umumnya adalah zat organik yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Kelarutan asam-asam organik lemah seperti barbiturat dan sulfonamide dalam air akan bertambah dengan naiknya pH karena terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa organik lemah seperti alkoholida dan anastetika lokal pada umumnya sukar larut dalam air. Bila pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air.

Kelarutan yang dipengaruhi oleh temperature yaitu kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung kepada temperatur, titik leleh zat padat dan panas peleburan molar zat tersebut. Kelarutan suatu zat padat dalam air akan semakin tinggi bila suhunya dinaikan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut. Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air. Berbeda dengan zat padat, adannya pengaruh kenaikan suhu akan menyebabkan kelarutan gas dalam air berkurang. Hal ini disebabkan karena gas yang terlarut di dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu meningkat.

Faktor berikutnya yaitu pengaruh surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikan kelarutan suatu zat. Molekul surfaktan terdiri atas dua bagian yaitu bagian polar dan non polar apabila didispersikan dalam air pada konsentrasi yang rendah, akan berkumpul pada permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah air dan bagian non polar kearah udara, surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat yang dikenal sebagai misel. Konsentrasi pada saat misel mulai terbentuk disebut konsentrasi misel kritik (KMK).

Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul membentuk agregat yang disebut misel. Selain itu pada pemakaiannya dengan kadar tinggi sampai Critical Micelle Concentration (CMC) surfaktan diasumsikan mampu berinteraksi kompleks dengan obat tertentu selanjutnya dapat pula mempengaruhi permeabilitas membran tempat absorbsi obat karena surfaktan dan membran mengandung komponen penyusun yang sama. Sifat terpenting misel adalah kemampuannya untuk menaikkan kelarutan zat-zat yang biasanya sukar larut atau sedikit larut dalam pelarut yang digunakan. 

Praktikum kali ini kita mengujikan empat macam percobaan yaitu, pengaruh kosolven terhadap kelarutan zat, pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat dan pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zatdan pengaruh suhu terhadap kelarutan.

Percobaan pengaruh pH dilakukan penambahan akuades 40 ml dan HCl 10 ml pada parasetamol 0,1 gram di gelas kimia pada tabung pertama kemudian diaduk dan dihitung absorbansinya menggunakan spektrofotometer. Pada tabung kedua perlakuannya sama yang membedakan yaitu penambahan 10 ml NaOH. Pengaruh kosolven terhadap kelarutan suatu zat, dilakukan dengan mengambil 0,1 gram ditambah 50 ml akuades dan alkohol 10 ml alkohol. Pada gelas kimia kedua 0,1 gram ditambah 40 ml akuades dan diaduk kemudian diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer. Pada percobaan pengaruh surfaktan menggunakan parasetamol 0,2 gram dibagi dua. Pada gelas kimia pertama ditambah 50 ml akuades sedangkan pada tabung kedua ditambah 40 ml ditambah 10 ml deterjen. Selanjutnya diaduk dan diukur absorbansinya. Sedangkan pada pengaruh suhu dilakukan pemanasan pada pada tabung kedua yang didalmnya berisi 0,1 gram yang ditambahkan 50 ml akuades sedangkan pada tabung kedua 0,1 grma yang ditambahkan 50 ml akuades kemudian diaduk hingga larut. 

Aplikasi dari materi percobaan ini sangat penting dalam bidang farmasi, sebab dapat membantunya memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (di bidang farmasi) dan lebih jauh lagi, dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan “Kelarutan (pengaruh pH, kosolven, surfaktan, dan suhu) adalah pengaruh pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Pengaruh kenaikan suhu akan menyebabkan kelarutan gas dalam air berkurang. Hal ini disebabkan karena gas yang terlarut di dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu meningkat. Pengaruh surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat yang dikenal sebagai misel. 

B. Saran
Saran saya dalam percobaan ini yaitu agar kedepanya alat – alat yang akan di gunakan agar diadakan, dengan bgtu apa yang di praktekkan dapat di lakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Erindyah R. W. dan Anita Sukmawati, 2005, Peningkatan Kelarutan Pentagamavunon-1 Melalui Pembentukan Kompleks dengan Polivinilpirolidon Solubility Enhancement Of Pentagamavunon-1 By Complexing With Polyvinylpyrrolidone, Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 6(2) : 127 – 137. 

Hartati, I., 2012, Prediksi Kelarutan Theobromine pada Berbagai Pelarut Menggunakan Parameter Kelarutan Hildebrand, Momentum, 8(1) : 11-16, Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim, Semarang. 

Jufri, M., Asnimar B. dan Julia R. 2004. Formulasi Gameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. I, N3. ISSN : 1693-9883. Departemen Farmasi FMIPA-UI. Depok.

MR, Mariati. 2008. Pembuatan Larutan Dan Standarisasinya. DINAMIKA, Vol. VI(2). Universitas Serambi Mekah

Zaini, Erizal, et al., 2011, “Peningkatan Laju Pelarutan Trimetoprim Melalui Metode Ko-Kristalisasi dengan Nikotinamida”, Jurnal Farmasi Indonesia, 5(4), Juli 2011 : 205-212, Fakultas Farmasi Universitas Andalas, Padang.

LAPORAN KELARUTAN (PENGARUH pH, KOSOLVEN, SURFAKTAN, & SUHU)

LAPORAN KELARUTAN (PENGARUH pH, KOSOLVEN, SURFAKTAN, & SUHU)
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
PERCOBAAN V
KELARUTAN (PENGARUH pH, KOSOLVEN, SURFAKTAN, & SUHU)
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam bidang farmasi, untuk memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, akan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetik, dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian. Pengetahuan yang lebih mendetail mengenai kelarutan dan sifat-sifat yang berhubungan dengan itu juga memberikan informasi mengenai struktur obat dan gaya antarmolekul obat. Selain itu, pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi setelah zat aktifnya telarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya. 

Kelarutan adalah kemampuan suatu zat telarut melarut pada suatu pelarut. Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperature tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk disperse molekular homogen. Kelarutan suatu senyawa bargantung pada sifat fisika, dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.

B. Rumusan masalah
Rumusan masalah pada percobaan Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu) yaitu bagaimana mempelajari kelarutan suatu obat serta memahami dan mengetahui pengaruh ph, kosolven, surfaktan, & suhu terhadap kelarutan suatu obat.

C. Tujuan
Adapun tujuan pada percobaan Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu) yaitu untuk mempelajari kelarutan suatu obat serta memahami dan mengetahui pengaruh ph, kosolven, surfaktan, & suhu terhadap kelarutan suatu obat.

D. Manfaat 
Manfaat pada percobaan Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu) yaitu agar dapat mempelajari kelarutan suatu obat serta memahami dan mengetahui pengaruh ph, kosolven, surfaktan, & suhu terhadap kelarutan suatu obat. 

BAB II
LANDASAN TEORI
Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu komponen. Komponen yang terdapat dalam jumlah yang besar disebut pelarut atau solvent, sedang komponen yang terdapat dalam jumlah yang kecil disebut zat terlarut atau solute. Konsentrasi suatu larutan didefinisikan sebagai jumlah solute yang ada dalam sejumlah larutan atau pelarut (MR, Mariati., 2008).

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia yang penting untuk diperhatikan pada tahap preformulasi sebelum memformula bahan obat menjadi sediaan. Beberapa metode dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat, antara lain melalui pembentukan garam, perubahan struktur internal Kristal (polimorfi) atau penambahan suatu bahan penolong, misalnya bahan pengompleks, surfaktan dan kosolven (Erindyah R. W. dan Anita Sukmawati, 2005).

Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi suatu sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia baru yang ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh. Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan (Jufri, dkk., 2004).

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia senyawa obat yang penting dalam meramalkan derajat absorpsi obat dalam saluran cerna. Obat-obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air (poorly soluble drugs) seringkali menunjukkan ketersediaan hayati rendah dan kecepatan disolusi merupakan tahap penentu (rate limiting step) pada proses absorpsi obat (1-3). Berbagai metode untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi obat telah banyak dilaporkan seperti pembuatan dispersi padat, pembentukan prodrug, kompleks inklusi obat dengan pembawa dan modifikasi senyawa menjadi bentuk garam dan solvat (4-5). Salah satu metode menarik dan sederhana yang baru-baru ini dikembangkan dalam bidang ilmu bahan dan rekayasa kristal untuk meningkatkan laju pelarutan dan ketersediaan hayati obat-obat yang sukar larut adalah teknik kokristalisasi untuk menghasilkan kokristal (senyawa molekular) dengan sifat-sifat fisika dan fisikokimia yang lebih unggul. Kokristal merupakan material padat yang terdiri dari dua atau lebih molekul padat yang membentuk satu kisi kristal yang berbeda dan dihubungkan oleh ikatan antar molekul seperti ikatan hidrogen dan Van der Waals ( Zaini dkk., 2011).

Parameter kelarutan merupakan suatu konsep yang penting, yang dapat digunakan sebagai parameter pemilihan pelarut. Penggunaan parameter kelarutan dalam pemilihan pelarut adalah berdasar aturan kimia yang telah dikenal yakni “like dissolved like”. Jika gaya antar molekul antara molekul pelarut dan solut memiliki kekuatan yang mirip, maka pelarut tersebut merupakan pelarut yang baik bagi solut tersebut (Hartati, 2012).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum “Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu)” dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 21 november 2015. Dilaksanakan di Laboratorium Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Halu Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada paraktikum “Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu)” yaitu : gelas kimia, pipet tetes, batang pengaduk, sendok tanduk, gelas ukur 10 ml, timbangan analitik.

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum “Kelarutan (Pengaruh pH, Kosolven, Surfaktan, & Suhu)” yaitu : akuades, alkohol, parasetamol, HCl, NaOH, dan surfaktan (detergen).

C. Cara Kerja
1. Pengaruh pH
Pertama-tama parasetamol ditimbang 0,2 gr, kemudian dimasukkan akuades masing-masing 40 ml ke dalam gelas kimia 1 dan gelas kimia 2. Selanjutnya ditambahkan 10 ml HCl pada tabung pertama dan 10 ml NaOH pada tabung kedua. Setelah itu, dimasukkan masing-masing 0,1 gr parasetamol pada gelas kimia 1 dan 2, diaduk hingga larut dan terakhir diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer.

2. Pengaruh kosolven
Pertama-tama parasetamol ditimbang 0,2 gr, kemudian dimasukkan akuades masing-masing 50 ml ke dalam gelas kimia 1 dan 40 ml kedalam gelas kimia 2. Selanjutnya dipipet 10 ml alkohol pada tabung kedua. Setelah itu, dimasukkan masing-masing 0,1 gr parasetamol pada gelas kimia 1 dan 2, diaduk hingga larut dan terakhir diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer

3. Pengaruh surfaktan
Pertama-tama parasetamol ditimbang 0,2 gr, kemudian dimasukkan akuades masing-masing 50 ml ke dalam gelas kimia 1 dan 40 ml kedalam gelas kimia 2. Selanjutnya dipipet 10 ml larutan surfaktan (detergen) pada tabung kedua. Setelah itu, dimasukkan masing-masing 0,1 gr parasetamol pada gelas kimia 1 dan 2, diaduk hingga larut dan terakhir diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer

4. Pengaruh suhu
Pertama-tama parasetamol ditimbang 0,2 gr, kemudian dimasukkan akuades masing-masing 50 ml ke dalam gelas kimia 1 dan 50 ml kedalam gelas kimia 2. Setelah itu, dimasukkan masing-masing 0,1 gr parasetamol pada gelas kimia 1 dan 2, diaduk hingga larut pada gelas kimia, dipanaskan dengan elektromantel gelas kimia dua selama 5 menit sambil diaduk. Diangkat gelas kimia dari ekektromantel dan terakhir diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer

BAB IV 
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
LAPORAN KELARUTAN (PENGARUH pH, KOSOLVEN, SURFAKTAN, & SUHU)

B. Pembahasan
Larutan adalah campuran homogen antara zat pelarut dan zat terlarut. Kelarutan adalah kemampuan suatu zat melarut dalam pelarut tertentu. Larutan pada umumnya dibagi menjadi tiga yaitu larutan jenuh adalah larutan yang zat terlarutnya dapat melarut dalam zat pelarutnya dalam konsentrasi yang maksimal. Larutan lewad jenuh terjadi pada saat zat terlarut sudah melewati batas maksimal zat pelarut untuk melarutkannya yang biasanya ditandai dengan terbentuknya endapan. Lautan tak jenuh terjadi saat zat terlarut belum mencapai batas maksimal zat pelarut untuk melarutkannya.

Kelarutan dikenal istilah cosolvent dan cosolvency dimana cosolvent merupakan bahan yang digunakan untuk meningkatkan kelarutannya misalnya seperti penggunaan pelarut campur sedangkan cosolvency merupakan peristiwa peningkatan kelarutan. Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible.

Faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kelarutan adalah pH, suhu, kosolven dan surfaktan. pH dalah derajat keasaman, zat aktif yang sering digunakan di dalam dunia pengobatan umumnya adalah zat organik yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Kelarutan asam-asam organik lemah seperti barbiturat dan sulfonamide dalam air akan bertambah dengan naiknya pH karena terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa organik lemah seperti alkoholida dan anastetika lokal pada umumnya sukar larut dalam air. Bila pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air.

Kelarutan yang dipengaruhi oleh temperature yaitu kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung kepada temperatur, titik leleh zat padat dan panas peleburan molar zat tersebut. Kelarutan suatu zat padat dalam air akan semakin tinggi bila suhunya dinaikan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut. Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air. Berbeda dengan zat padat, adannya pengaruh kenaikan suhu akan menyebabkan kelarutan gas dalam air berkurang. Hal ini disebabkan karena gas yang terlarut di dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu meningkat.

Faktor berikutnya yaitu pengaruh surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikan kelarutan suatu zat. Molekul surfaktan terdiri atas dua bagian yaitu bagian polar dan non polar apabila didispersikan dalam air pada konsentrasi yang rendah, akan berkumpul pada permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah air dan bagian non polar kearah udara, surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat yang dikenal sebagai misel. Konsentrasi pada saat misel mulai terbentuk disebut konsentrasi misel kritik (KMK).

Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul membentuk agregat yang disebut misel. Selain itu pada pemakaiannya dengan kadar tinggi sampai Critical Micelle Concentration (CMC) surfaktan diasumsikan mampu berinteraksi kompleks dengan obat tertentu selanjutnya dapat pula mempengaruhi permeabilitas membran tempat absorbsi obat karena surfaktan dan membran mengandung komponen penyusun yang sama. Sifat terpenting misel adalah kemampuannya untuk menaikkan kelarutan zat-zat yang biasanya sukar larut atau sedikit larut dalam pelarut yang digunakan. 

Praktikum kali ini kita mengujikan empat macam percobaan yaitu, pengaruh kosolven terhadap kelarutan zat, pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat dan pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zatdan pengaruh suhu terhadap kelarutan.

Percobaan pengaruh pH dilakukan penambahan akuades 40 ml dan HCl 10 ml pada parasetamol 0,1 gram di gelas kimia pada tabung pertama kemudian diaduk dan dihitung absorbansinya menggunakan spektrofotometer. Pada tabung kedua perlakuannya sama yang membedakan yaitu penambahan 10 ml NaOH. Pengaruh kosolven terhadap kelarutan suatu zat, dilakukan dengan mengambil 0,1 gram ditambah 50 ml akuades dan alkohol 10 ml alkohol. Pada gelas kimia kedua 0,1 gram ditambah 40 ml akuades dan diaduk kemudian diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer. Pada percobaan pengaruh surfaktan menggunakan parasetamol 0,2 gram dibagi dua. Pada gelas kimia pertama ditambah 50 ml akuades sedangkan pada tabung kedua ditambah 40 ml ditambah 10 ml deterjen. Selanjutnya diaduk dan diukur absorbansinya. Sedangkan pada pengaruh suhu dilakukan pemanasan pada pada tabung kedua yang didalmnya berisi 0,1 gram yang ditambahkan 50 ml akuades sedangkan pada tabung kedua 0,1 grma yang ditambahkan 50 ml akuades kemudian diaduk hingga larut. 

Aplikasi dari materi percobaan ini sangat penting dalam bidang farmasi, sebab dapat membantunya memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (di bidang farmasi) dan lebih jauh lagi, dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan “Kelarutan (pengaruh pH, kosolven, surfaktan, dan suhu) adalah pengaruh pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Pengaruh kenaikan suhu akan menyebabkan kelarutan gas dalam air berkurang. Hal ini disebabkan karena gas yang terlarut di dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu meningkat. Pengaruh surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat yang dikenal sebagai misel. 

B. Saran
Saran saya dalam percobaan ini yaitu agar kedepanya alat – alat yang akan di gunakan agar diadakan, dengan bgtu apa yang di praktekkan dapat di lakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Erindyah R. W. dan Anita Sukmawati, 2005, Peningkatan Kelarutan Pentagamavunon-1 Melalui Pembentukan Kompleks dengan Polivinilpirolidon Solubility Enhancement Of Pentagamavunon-1 By Complexing With Polyvinylpyrrolidone, Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 6(2) : 127 – 137. 

Hartati, I., 2012, Prediksi Kelarutan Theobromine pada Berbagai Pelarut Menggunakan Parameter Kelarutan Hildebrand, Momentum, 8(1) : 11-16, Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim, Semarang. 

Jufri, M., Asnimar B. dan Julia R. 2004. Formulasi Gameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. I, N3. ISSN : 1693-9883. Departemen Farmasi FMIPA-UI. Depok.

MR, Mariati. 2008. Pembuatan Larutan Dan Standarisasinya. DINAMIKA, Vol. VI(2). Universitas Serambi Mekah

Zaini, Erizal, et al., 2011, “Peningkatan Laju Pelarutan Trimetoprim Melalui Metode Ko-Kristalisasi dengan Nikotinamida”, Jurnal Farmasi Indonesia, 5(4), Juli 2011 : 205-212, Fakultas Farmasi Universitas Andalas, Padang.