LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY) - ElrinAlria
LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA
PERCOBAAN II
KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)
A. TUJUAN 
Untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadap kelarutan bahan obat yang bersifat asam lemah.

B. LANDASAN TEORI
Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan suatu zat dasarnya sangat bergantung pada sifat fisika dan kimia solut dan pelarut pada suhu, tekanan dan pH larutan. Secara luas kelarutan suatu zat pada pelarut tertentu merupakan suatu pengukuran konsentrasi kejenuhan dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit solut pada pelarut sampai solut tersebut mengendap (tidak dapat larut lagi). Larutan merupakan campuran homogen antara dua atau lebih zat berbeda jenis. Ada dua komponen utama pembentuk larutan, yaitu zat terlarut (solute) dan zat pelarut (solvent) (Martin, 2009).

Faktor yang mempengaruhi suatu larutan yaitu temperatur, kebanyakan garam kelarutannya meningkat bila temperatumya dinaikkan, pengaruh ion sekutu, suatu endapan umumnya lebih dapat larut dalam air murni dari pada dalam suatu larutan yang mengandung salah satu ion endapan. Pengaruh aktifitas dimana banyak endapan menunjukkan kelarutan yang meningkat dalam larutan yang mengandung ion - ion yang tidak bereaksi secara kimia dengan ion - ion endapan. Keefektifan ion - ion dalam meme!ihara kondisi kesetimbangan dengan demikian berkurang dan endapan tambahan harus melarut untuk mengembalikan aktititas ini. Semakin kecil koefisien aktifitas ion, semakin besar hasil kali konsentrasi molar ion - ion pembentuknya. Koefisien aktifitas ion bivalen lebih kecil daripada koefisien aktifitas ion univalen. Pengaruh pH kelarutan garam dari asam lemah bergantung pada pH larutan ion. Pengaruh kompleks kelarutan garam yang sedikit sekali dapat larut juga bergantung pada konsentrasi zat-zat yang membentuk kompleks dengan kation garam itu ( Kurniati,2001). 

Proses ekstraksi senyawa proses pada kelarutan dilakukan dengan dua cara, yaitu aqueus phase dan organic phase. Ekstraksi aqueus phase dilakukan dengan pelarut air, sedangkan ekstraksi organic phase menggunakan pelarut organik. Prinsip kelarutan yaitu polar melarutkan senyawa polar, pelarut semi polar melarutkan senyawa semi polar,dan pelarut non polar melarutkan senyawa non polar ( Kusmiyati,2007).

Kelarutan semu merupakan keadaan di mana suatu zat terlarut seolah-olah telah larut seluruhnya dan zat pelarut, namun sebenarnya masih terdapat bagian zat terlarut yang tidak larut. Salah satu contoh yang dapat diuji kelarutan semunya yaitu yaitu asam benzoat. Asam benzoat merupakan salah satu senyawa organik golongan asam aromatik (Ramadhan, 2012)

Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi suatu sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia baru yang ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh. Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan (Jufri,2004). 

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
  • Gelas kimia
  • Pipet volume
  • Corong
  • Kertas saring
  • Erlenmeyer
  • Neraca analitik
  • Oven
  • Filler
  • pH meter

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
  • NaOH
  • Asam salisilat
  • Asam benzoat
  • Aquades

D. PROSEDUR KERJA

LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)


E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)

LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)
F. PEMBAHASAN
Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia yang penting untuk diperhatikan pada tahap preformulasi sebelum memformula bahan obat menjadi sediaan. Kelarutan semu merupakan keadaan di mana suatu zat terlarut seolah-olah telah larut seluruhnya dan zat pelarut, namun sebenarnya masih terdapat bagian zat terlarut yang tidak larut. 

Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa kelarutan suatu zat (dalam hal ini obat) dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah pH, temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel. Semakin tinggi temperature maka akan mempercepat kelarutan zat, semakin kecil ukuran partikel zat,maka akan mempercepat kelarutan zat dan dengan adanya garam akan mengurangi kelarutan zat. Seringkali zat terlarut lebih larut dalam campuran pelarut dari pada dalam pelarut saja.

Zat aktif yang sering digunakan didalam dunia pengobatan umumnya adalah zat organik yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Bila pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air,sedangkan kenaikan kelarutan dari suatu zat yang disebabkan karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut.

Pada percobaan yang dilakukan ini asam benzoat 0,2 g dilarutkan dengan larutan asam salisilat 10 ml yang telah dicampurkan dengan NaOH dan air suling yang kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer dengan pH 5,8, pH 6,2 dan pH 6,8 suhunya diatur sehingga larutan bercampur secara homogen, kemudian diaduk hingga jenuh selama beberapa menit setelah itu disaring karena sampel tidak dapat larut sempurna dalam aquadest dan dimasukkan kedalam oven selama 2 jam dengan suhu 60º sampai kering. Upaya pengeringan adalah upaya mengurangi kandungan air bahan sampai pada kandungan air yang diinginkan dan berpengaruh terhadap kemungkinan akan bobot penimbangan saringan akhir.

Pada percobaan ini dalam kelarutan semu untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadap kelarutan obat yang bersifat asam lemah, berdasarkan hasil percobaan pH yang ditentukan dengan kertas saring, larutan asam salisilat dan asam benzoat pada pH 5,8 menghasilkan 0,096, pH 6,2 menghasilkan 0,117, pH 6,8 menghasilkan 0,0846. Pada pencampuran dilakukan studi kelarutan dengan faktor pH sangat berpengaruh pada kelarutan asam benzoat dengan berbagai konsentrasi dengan hasil diagram kelarutan fase. Diagram ini bertujuan untuk melihat hubungan pH terhadap kelarutan semu asam benzoat. Pada uji disolusi ini pencampuran asam salisiat dengan NaOH dan air suling pada pH yang berbeda, saat pecampuran dilakukan dengan Ph 5,8, 6,2, dan 6,8 tampak masih ada dalam pelarut tidak larut dan adanya jumlah kristal yang berbeda, adanya kristal disebabkan karena adanya pengaruh aktifitas dimana banyak endapan menunjukkan kelarutan yang meningkat dalam larutan yang mengandung ion - ion yang tidak bereaksi secara kimia dengan ion - ion endapan. Keefektifan ion - ion dalam meme!ihara kondisi kesetimbangan dengan demikian berkurang dan endapan tambahan harus melarut untuk mengembalikan aktititas ini. Semakin kecil koefisien aktifitas ion, semakin besar hasil kali konsentrasi molar ion - ion pembentuknya. Koefisien aktifitas ion bivalen lebih kecil daripada koefisien kovalen.

Dari data diagram secara teoritis dari hasil percobaan S mengalami kenaikan dari pH 5,8=0,096, pH 6,2 = 0,117 dan pH 6,8 = 0,0846 terlihat adanya peningkatan jumlah sampel ( asam benzoat ) pada pH 6,2 yang terlarut dalam setiap larutan ini yang pH nya dinaikkan. Kenaikan kelarutan asam benzoat ini disebabkan karena pH larutan yang digunakan sebagai pelarutnya juga dinaikkan atau berbanding lurus dengan zat yang akan dilarutkannya tersebut, dengan kata lain kelarutan sampel (asam benzoat) sebagai asam lemah akan bertambah seiring dengan kenaikan pH larutan atau pelarutnya, secara detail jika pH naik maka kelarutan obat juga naik, karena larutan berada dalam keadaan jenuh yang mengandung molekul tak terion dan terion. 

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa semakin besar pH pelarut yang digunakan untuk melarutkan suatu zat maka akan semakin besar pula angka kelarutannya.

DAFTAR PUSTAKA
Jufri, Mahdi.,dkk.2004.Formulasi Gameksan dalam Bentuk Mikroemulsi.Majalah Ilmu Kefarmasian. FMIPA-UI.Vol.1.No.3. Depok.

Kurniyati, Elly. 2001. Penurunan Konsentrasi Detergeng Pada Limbah Indstri Laundri dengan Metode Pengendapan Menggunakan CA(OH)2 . Jurnal Ilmu Teknik Lingkungan. Jalan Rungkut Madya.Vol.1.No.1. Surabaya.

Martin,Alferad.,dkk. 2009. Farmasi Fisik I. Universitas Indonesia (UI-PRESS). Jakarta.

Ramadhan. 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)

LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA
PERCOBAAN II
KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)
A. TUJUAN 
Untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadap kelarutan bahan obat yang bersifat asam lemah.

B. LANDASAN TEORI
Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan suatu zat dasarnya sangat bergantung pada sifat fisika dan kimia solut dan pelarut pada suhu, tekanan dan pH larutan. Secara luas kelarutan suatu zat pada pelarut tertentu merupakan suatu pengukuran konsentrasi kejenuhan dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit solut pada pelarut sampai solut tersebut mengendap (tidak dapat larut lagi). Larutan merupakan campuran homogen antara dua atau lebih zat berbeda jenis. Ada dua komponen utama pembentuk larutan, yaitu zat terlarut (solute) dan zat pelarut (solvent) (Martin, 2009).

Faktor yang mempengaruhi suatu larutan yaitu temperatur, kebanyakan garam kelarutannya meningkat bila temperatumya dinaikkan, pengaruh ion sekutu, suatu endapan umumnya lebih dapat larut dalam air murni dari pada dalam suatu larutan yang mengandung salah satu ion endapan. Pengaruh aktifitas dimana banyak endapan menunjukkan kelarutan yang meningkat dalam larutan yang mengandung ion - ion yang tidak bereaksi secara kimia dengan ion - ion endapan. Keefektifan ion - ion dalam meme!ihara kondisi kesetimbangan dengan demikian berkurang dan endapan tambahan harus melarut untuk mengembalikan aktititas ini. Semakin kecil koefisien aktifitas ion, semakin besar hasil kali konsentrasi molar ion - ion pembentuknya. Koefisien aktifitas ion bivalen lebih kecil daripada koefisien aktifitas ion univalen. Pengaruh pH kelarutan garam dari asam lemah bergantung pada pH larutan ion. Pengaruh kompleks kelarutan garam yang sedikit sekali dapat larut juga bergantung pada konsentrasi zat-zat yang membentuk kompleks dengan kation garam itu ( Kurniati,2001). 

Proses ekstraksi senyawa proses pada kelarutan dilakukan dengan dua cara, yaitu aqueus phase dan organic phase. Ekstraksi aqueus phase dilakukan dengan pelarut air, sedangkan ekstraksi organic phase menggunakan pelarut organik. Prinsip kelarutan yaitu polar melarutkan senyawa polar, pelarut semi polar melarutkan senyawa semi polar,dan pelarut non polar melarutkan senyawa non polar ( Kusmiyati,2007).

Kelarutan semu merupakan keadaan di mana suatu zat terlarut seolah-olah telah larut seluruhnya dan zat pelarut, namun sebenarnya masih terdapat bagian zat terlarut yang tidak larut. Salah satu contoh yang dapat diuji kelarutan semunya yaitu yaitu asam benzoat. Asam benzoat merupakan salah satu senyawa organik golongan asam aromatik (Ramadhan, 2012)

Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi suatu sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia baru yang ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh. Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan (Jufri,2004). 

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
  • Gelas kimia
  • Pipet volume
  • Corong
  • Kertas saring
  • Erlenmeyer
  • Neraca analitik
  • Oven
  • Filler
  • pH meter

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
  • NaOH
  • Asam salisilat
  • Asam benzoat
  • Aquades

D. PROSEDUR KERJA

LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)


E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)

LAPORAN KELARUTAN SEMU TOTAL (APPARENT SOLUBULITY)
F. PEMBAHASAN
Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia yang penting untuk diperhatikan pada tahap preformulasi sebelum memformula bahan obat menjadi sediaan. Kelarutan semu merupakan keadaan di mana suatu zat terlarut seolah-olah telah larut seluruhnya dan zat pelarut, namun sebenarnya masih terdapat bagian zat terlarut yang tidak larut. 

Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa kelarutan suatu zat (dalam hal ini obat) dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah pH, temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel. Semakin tinggi temperature maka akan mempercepat kelarutan zat, semakin kecil ukuran partikel zat,maka akan mempercepat kelarutan zat dan dengan adanya garam akan mengurangi kelarutan zat. Seringkali zat terlarut lebih larut dalam campuran pelarut dari pada dalam pelarut saja.

Zat aktif yang sering digunakan didalam dunia pengobatan umumnya adalah zat organik yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Bila pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air,sedangkan kenaikan kelarutan dari suatu zat yang disebabkan karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut.

Pada percobaan yang dilakukan ini asam benzoat 0,2 g dilarutkan dengan larutan asam salisilat 10 ml yang telah dicampurkan dengan NaOH dan air suling yang kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer dengan pH 5,8, pH 6,2 dan pH 6,8 suhunya diatur sehingga larutan bercampur secara homogen, kemudian diaduk hingga jenuh selama beberapa menit setelah itu disaring karena sampel tidak dapat larut sempurna dalam aquadest dan dimasukkan kedalam oven selama 2 jam dengan suhu 60º sampai kering. Upaya pengeringan adalah upaya mengurangi kandungan air bahan sampai pada kandungan air yang diinginkan dan berpengaruh terhadap kemungkinan akan bobot penimbangan saringan akhir.

Pada percobaan ini dalam kelarutan semu untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadap kelarutan obat yang bersifat asam lemah, berdasarkan hasil percobaan pH yang ditentukan dengan kertas saring, larutan asam salisilat dan asam benzoat pada pH 5,8 menghasilkan 0,096, pH 6,2 menghasilkan 0,117, pH 6,8 menghasilkan 0,0846. Pada pencampuran dilakukan studi kelarutan dengan faktor pH sangat berpengaruh pada kelarutan asam benzoat dengan berbagai konsentrasi dengan hasil diagram kelarutan fase. Diagram ini bertujuan untuk melihat hubungan pH terhadap kelarutan semu asam benzoat. Pada uji disolusi ini pencampuran asam salisiat dengan NaOH dan air suling pada pH yang berbeda, saat pecampuran dilakukan dengan Ph 5,8, 6,2, dan 6,8 tampak masih ada dalam pelarut tidak larut dan adanya jumlah kristal yang berbeda, adanya kristal disebabkan karena adanya pengaruh aktifitas dimana banyak endapan menunjukkan kelarutan yang meningkat dalam larutan yang mengandung ion - ion yang tidak bereaksi secara kimia dengan ion - ion endapan. Keefektifan ion - ion dalam meme!ihara kondisi kesetimbangan dengan demikian berkurang dan endapan tambahan harus melarut untuk mengembalikan aktititas ini. Semakin kecil koefisien aktifitas ion, semakin besar hasil kali konsentrasi molar ion - ion pembentuknya. Koefisien aktifitas ion bivalen lebih kecil daripada koefisien kovalen.

Dari data diagram secara teoritis dari hasil percobaan S mengalami kenaikan dari pH 5,8=0,096, pH 6,2 = 0,117 dan pH 6,8 = 0,0846 terlihat adanya peningkatan jumlah sampel ( asam benzoat ) pada pH 6,2 yang terlarut dalam setiap larutan ini yang pH nya dinaikkan. Kenaikan kelarutan asam benzoat ini disebabkan karena pH larutan yang digunakan sebagai pelarutnya juga dinaikkan atau berbanding lurus dengan zat yang akan dilarutkannya tersebut, dengan kata lain kelarutan sampel (asam benzoat) sebagai asam lemah akan bertambah seiring dengan kenaikan pH larutan atau pelarutnya, secara detail jika pH naik maka kelarutan obat juga naik, karena larutan berada dalam keadaan jenuh yang mengandung molekul tak terion dan terion. 

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa semakin besar pH pelarut yang digunakan untuk melarutkan suatu zat maka akan semakin besar pula angka kelarutannya.

DAFTAR PUSTAKA
Jufri, Mahdi.,dkk.2004.Formulasi Gameksan dalam Bentuk Mikroemulsi.Majalah Ilmu Kefarmasian. FMIPA-UI.Vol.1.No.3. Depok.

Kurniyati, Elly. 2001. Penurunan Konsentrasi Detergeng Pada Limbah Indstri Laundri dengan Metode Pengendapan Menggunakan CA(OH)2 . Jurnal Ilmu Teknik Lingkungan. Jalan Rungkut Madya.Vol.1.No.1. Surabaya.

Martin,Alferad.,dkk. 2009. Farmasi Fisik I. Universitas Indonesia (UI-PRESS). Jakarta.

Ramadhan. 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.