LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY) - ElrinAlria

LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)

KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUBILITY)

A. TUJUAN
Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pH terhadap kelarutan bahan obat yang bersifat asam lemah.

B. LANDASAN TEORI
Larutan dapat didefinisikan sebagai campuran serba sama dari dua komponen atau lebih yang saling berdiri sendiri. Disebut campuran karena terdapat molekul-molekul, atom-atom atau ion-ion dari dua zat atau lebih. Komponen yang terdapat dalam jumlah yang besar disebut pelarut atau solvent, sedangkan komponen yang terdapat dalam jumlah yang sedikit disebut zat terlarut atau solute (Mariati, 2008).

Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu komponen. Larutan dikatakan homogen apabila campuran dari kedua zat tersebut komponen-komponen penyusunnya sudah tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya (Mariati, 2008). 

Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan suatu zat dasarnya sangat bergantung pada sifat fisika dan kimia solut dan pelarut pada suhu, tekanan dan pH larutan. Secara luas kelarutan suatu zat pada pelarut tertentu merupakan suatu pengukuran konsentrasi kejenuhan dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit solut pada pelarut sampai solut tersebut mengendap (tidak dapat larut lagi) (Martin, 2009).

Kelarutan semu merupakan keadaan di mana suatu zat terlarut seolah-olah telah larut seluruhnya dan zat pelarut, namun sebenarnya masih terdapat bagian zat terlarut yang tidak larut. Salah satu contoh yang dapat diuji kelarutan semunya yaitu yaitu asam benzoat (Ramadhan, 2012).

Asam benzoat atau asam benzena karboksilat (C6H5COOH) adalah senyawa dengan ciri-ciri seperti kristal berwarna pituh, terdapat dalam resin benzoin, dalam keadaan yang sangat encer digunakan untuk pengawet manisan buah. Tetapi, jika terlalu banyak dapat menyebabkan mual dan penyakit perut (Hadiat, 2000).

Selain itu, asam benzoat adalah salah satu senyawa organik yang banyak digunakan. Diperkirakan, asam benzoat banyak terdapat pada limbah terutama limbah cair hasil pengolahan makanan yang menggunakan asam benzoat sebagai pengawet. Apabila limbah tersebut masuk ke parairan, maka perairan seperti sungai atau danau akan tercemar oleh asam benzoat (Nasution, 2006).

Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi suatu sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia baru yang ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh. Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan (Jufri,2004). 

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu :
  • Erlenmeyer 250 ml 
  • Corong 
  • Pipet ukur 10 ml 
  • Kertas saring 
  • Gelas kimia 50 ml 
  • Filler 

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada rktikum ini yaitu:
  • Dapar fosfat dengan pH 5,8, 6,2, dan pH 6,8 

D. PROSEDUR KERJA

LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)

E. HASIL PENGAMATAN
1. Data Pengamatan
LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)


2. Data Perhitungan
LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)

F. PEMBAHASAN
Larutan adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi. Disebut campuran karena terdapat molekul-molekul, atom-atom atau ion-ion dari dua zat atau lebih. 

Komponen yang terdapat dalam jumlah yang besar disebut pelarut atau solvent, sedangkan komponen yang terdapat dalam jumlah yang sedikit disebut zat terlarut atau solute. Sedangkan larutan dikatakan homogen apabila campuran dari kedua zat tersebut komponen-komponen penyusunnya sudah tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya.

Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan suatu zat dasarnya sangat bergantung pada sifat fisika dan kimia solut dan pelarut pada suhu, tekanan dan pH larutan. Secara luas kelarutan suatu zat pada pelarut tertentu merupakan suatu pengukuran konsentrasi kejenuhan dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit solut pada pelarut sampai solut tersebut mengendap (tidak dapat larut lagi).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah pH, temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, kostanta dielektrik pelarut, surfaktan serta efek garam. Semakin tinggi temperatur suatu zat maka akan mempercepat kelarutan suatu zat tersebut. Semakin kecil ukuran partikel suatu zat maka akan mempercepat kelarutan suatu zat.

Zat aktif yang sering digunakan dalam pengobatan yaitu zat organik yang bersifat asam lemah. Hal ini dikarenakan kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. 

Pada percobaan ini digunakan dapar fosfat dengan 3 suhu yang berbeda yaitu pH 5,8, pH 6,2, dan pH 6,8. Ketiga pH tersebut diambil masing-masing 5 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 0,2 gram asam benzoat. Setelah itu di gojog selama 2 menit. Penggojogan ini bertujuan agar larutan tersebut berada dalam keadaan jenuh dan larutan dapat bercampur. Langkah selanjutnya yaitu penyaringan. Penyaringan ini bertujuan agar memisahkan antara larutan dapar fosfat dengan asam benzoat. Dari hasil penyaringan ini dapat dipisahkan antara larutan dapar fosfat (filtrat) dengan sisa asam benzoat yang tidak dapat larut di dalam larutan dapar fosfat (residu). 

Residu yang telah di dapat dari hasil penyaringan, kemudian di keringkan di dalam oven dengan suhu 70C. Pengeringan ini bertujuan agar kandungan air yang terdapat di dalam residu yang nantinya akan mempengaruhi berat penimbangan kertas saring. Setelah residu telah kering, selanjutnya dilakukan penimbangan untuk mengetahui berapa gram (massa) asam benzoat yang tidak larut di dalam larutan dapar. 

Dari hasil perhitungan, diperoleh asam benzoat yang tidak dapat larut pada pH 5,8 sebanyak 0,143 gram, asam benzoat yang tidak dapat larut pada pH 6,2 sebanyak 0,152 gram, dan asam benzoat yang tidak dapat larut pada pH 6,8 sebanyak 0,163 gram. Hal ini menunjukkan bahwa nilai pH berbanding lurus dengan massa asam benzoat yang tidak larut.

Dari grafik diatas, dapat dilihat kelarutan intrinsik suatu senyawa akan semakin besar seiring dengan bertambanya pH yang digunakan. Hal ini dibuktikan pada pH 5,8 nilai kelarutan intrinsiknya sebesar 0,073, pada pH 6,2 nilai kelarutan intrinsiknya sebesar 0,077, dan pada pH 6,8 nilai kelarutan intrinsiknya sebesar 0,083. Dengan kata lain, kelarutan asam benzoat sebagai asam lemah, akan bertambah seiring dengan bertambahnya kenaikan suatu pH pelarutnya.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa semakin besar pH pelarut yang digunakan untuk melarutkan suatu zat maka akan semakin besar pula angka kelarutannya.

DAFTAR PUSTAKA
Hadiat, 2000, Kamus Ilmu Pengetahuan Alam, Balai Pustaka, Jakarta.

Jufri, Mahdi, Asminar Binu, Julia Rahmawati, 2004, “Formulasi Gameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi”, Majalah Ilmu Kefarmasian, 1(3).

Mariati, 2008, “Pembuatan Larutan dan Standarisasinya”, Dinamika, VI(2).

Martin, Alferad., 2009. Farmasi Fisik I. Universitas Indonesia (UI-PRESS). Jakarta.

Nasution, Y., D., 2006, “Pengaruh Waktu Irradiasi Dan Laju Alir Terhadap Degradasi Fotokatalitik Larutan Asam Benzoat Dengan Titanium Dioksida (TiO2) Sebagai Katalis”, Jurnal Sains Kimia, 10(1).

Ramadhan. 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)


LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)

KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUBILITY)

A. TUJUAN
Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pH terhadap kelarutan bahan obat yang bersifat asam lemah.

B. LANDASAN TEORI
Larutan dapat didefinisikan sebagai campuran serba sama dari dua komponen atau lebih yang saling berdiri sendiri. Disebut campuran karena terdapat molekul-molekul, atom-atom atau ion-ion dari dua zat atau lebih. Komponen yang terdapat dalam jumlah yang besar disebut pelarut atau solvent, sedangkan komponen yang terdapat dalam jumlah yang sedikit disebut zat terlarut atau solute (Mariati, 2008).

Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu komponen. Larutan dikatakan homogen apabila campuran dari kedua zat tersebut komponen-komponen penyusunnya sudah tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya (Mariati, 2008). 

Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan suatu zat dasarnya sangat bergantung pada sifat fisika dan kimia solut dan pelarut pada suhu, tekanan dan pH larutan. Secara luas kelarutan suatu zat pada pelarut tertentu merupakan suatu pengukuran konsentrasi kejenuhan dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit solut pada pelarut sampai solut tersebut mengendap (tidak dapat larut lagi) (Martin, 2009).

Kelarutan semu merupakan keadaan di mana suatu zat terlarut seolah-olah telah larut seluruhnya dan zat pelarut, namun sebenarnya masih terdapat bagian zat terlarut yang tidak larut. Salah satu contoh yang dapat diuji kelarutan semunya yaitu yaitu asam benzoat (Ramadhan, 2012).

Asam benzoat atau asam benzena karboksilat (C6H5COOH) adalah senyawa dengan ciri-ciri seperti kristal berwarna pituh, terdapat dalam resin benzoin, dalam keadaan yang sangat encer digunakan untuk pengawet manisan buah. Tetapi, jika terlalu banyak dapat menyebabkan mual dan penyakit perut (Hadiat, 2000).

Selain itu, asam benzoat adalah salah satu senyawa organik yang banyak digunakan. Diperkirakan, asam benzoat banyak terdapat pada limbah terutama limbah cair hasil pengolahan makanan yang menggunakan asam benzoat sebagai pengawet. Apabila limbah tersebut masuk ke parairan, maka perairan seperti sungai atau danau akan tercemar oleh asam benzoat (Nasution, 2006).

Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi suatu sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia baru yang ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh. Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan (Jufri,2004). 

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu :
  • Erlenmeyer 250 ml 
  • Corong 
  • Pipet ukur 10 ml 
  • Kertas saring 
  • Gelas kimia 50 ml 
  • Filler 

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada rktikum ini yaitu:
  • Dapar fosfat dengan pH 5,8, 6,2, dan pH 6,8 

D. PROSEDUR KERJA

LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)

E. HASIL PENGAMATAN
1. Data Pengamatan
LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)


2. Data Perhitungan
LAPORAN KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUTIBILITY)

F. PEMBAHASAN
Larutan adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi. Disebut campuran karena terdapat molekul-molekul, atom-atom atau ion-ion dari dua zat atau lebih. 

Komponen yang terdapat dalam jumlah yang besar disebut pelarut atau solvent, sedangkan komponen yang terdapat dalam jumlah yang sedikit disebut zat terlarut atau solute. Sedangkan larutan dikatakan homogen apabila campuran dari kedua zat tersebut komponen-komponen penyusunnya sudah tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya.

Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan suatu zat dasarnya sangat bergantung pada sifat fisika dan kimia solut dan pelarut pada suhu, tekanan dan pH larutan. Secara luas kelarutan suatu zat pada pelarut tertentu merupakan suatu pengukuran konsentrasi kejenuhan dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit solut pada pelarut sampai solut tersebut mengendap (tidak dapat larut lagi).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah pH, temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, kostanta dielektrik pelarut, surfaktan serta efek garam. Semakin tinggi temperatur suatu zat maka akan mempercepat kelarutan suatu zat tersebut. Semakin kecil ukuran partikel suatu zat maka akan mempercepat kelarutan suatu zat.

Zat aktif yang sering digunakan dalam pengobatan yaitu zat organik yang bersifat asam lemah. Hal ini dikarenakan kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. 

Pada percobaan ini digunakan dapar fosfat dengan 3 suhu yang berbeda yaitu pH 5,8, pH 6,2, dan pH 6,8. Ketiga pH tersebut diambil masing-masing 5 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 0,2 gram asam benzoat. Setelah itu di gojog selama 2 menit. Penggojogan ini bertujuan agar larutan tersebut berada dalam keadaan jenuh dan larutan dapat bercampur. Langkah selanjutnya yaitu penyaringan. Penyaringan ini bertujuan agar memisahkan antara larutan dapar fosfat dengan asam benzoat. Dari hasil penyaringan ini dapat dipisahkan antara larutan dapar fosfat (filtrat) dengan sisa asam benzoat yang tidak dapat larut di dalam larutan dapar fosfat (residu). 

Residu yang telah di dapat dari hasil penyaringan, kemudian di keringkan di dalam oven dengan suhu 70C. Pengeringan ini bertujuan agar kandungan air yang terdapat di dalam residu yang nantinya akan mempengaruhi berat penimbangan kertas saring. Setelah residu telah kering, selanjutnya dilakukan penimbangan untuk mengetahui berapa gram (massa) asam benzoat yang tidak larut di dalam larutan dapar. 

Dari hasil perhitungan, diperoleh asam benzoat yang tidak dapat larut pada pH 5,8 sebanyak 0,143 gram, asam benzoat yang tidak dapat larut pada pH 6,2 sebanyak 0,152 gram, dan asam benzoat yang tidak dapat larut pada pH 6,8 sebanyak 0,163 gram. Hal ini menunjukkan bahwa nilai pH berbanding lurus dengan massa asam benzoat yang tidak larut.

Dari grafik diatas, dapat dilihat kelarutan intrinsik suatu senyawa akan semakin besar seiring dengan bertambanya pH yang digunakan. Hal ini dibuktikan pada pH 5,8 nilai kelarutan intrinsiknya sebesar 0,073, pada pH 6,2 nilai kelarutan intrinsiknya sebesar 0,077, dan pada pH 6,8 nilai kelarutan intrinsiknya sebesar 0,083. Dengan kata lain, kelarutan asam benzoat sebagai asam lemah, akan bertambah seiring dengan bertambahnya kenaikan suatu pH pelarutnya.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa semakin besar pH pelarut yang digunakan untuk melarutkan suatu zat maka akan semakin besar pula angka kelarutannya.

DAFTAR PUSTAKA
Hadiat, 2000, Kamus Ilmu Pengetahuan Alam, Balai Pustaka, Jakarta.

Jufri, Mahdi, Asminar Binu, Julia Rahmawati, 2004, “Formulasi Gameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi”, Majalah Ilmu Kefarmasian, 1(3).

Mariati, 2008, “Pembuatan Larutan dan Standarisasinya”, Dinamika, VI(2).

Martin, Alferad., 2009. Farmasi Fisik I. Universitas Indonesia (UI-PRESS). Jakarta.

Nasution, Y., D., 2006, “Pengaruh Waktu Irradiasi Dan Laju Alir Terhadap Degradasi Fotokatalitik Larutan Asam Benzoat Dengan Titanium Dioksida (TiO2) Sebagai Katalis”, Jurnal Sains Kimia, 10(1).

Ramadhan. 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.