LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA - ElrinAlria

LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA

LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA
PRAKTIKUM FARMASI FISIK I
PERCOBAAN IV

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini adalah untuk mempelajari kinetika suatu reaksi kimia, dan menentukan waktu kadaluwarsa obat.

B. LANDASAN TEORI
Kinetika reaksi adalah suatu cabang dari ilmu kimia yang mempelajari tentang mekanisme reaksi, yaitu bagaimana reaksi itu terjadi dan kecepatan terjadinya reaksi. Untuk menentukan kecepatan reaksi kimia dikembangkan suatu model persamaan kecepatan reaksi yang menguji bahwa reaksi tersebut mengikuti tingkat atau orde keberapa yang kemudian diperoleh suatu harga konstanta kecepatan reaksi (Dewati, 2010).

Faktor yang memepengaruhi keepatan reaksi yaitu waktu, pengatur, komposisi dan konsentrasi, pengadukan. Semakin lama waktu suatu reaksi, maka reaksi yang terjadi akan semakin mendekati sempurna karena waktu kontak antar zat-zat tersebut makin lama. Semakin besar harga tetapan laju reaksi, maka kecepatan reaksi akan semakin besar (Dewati, 2010).

Laju reaksi kimia bertambah dengan naiknya temperutur. Kenaikan ini dapat dihitung dengan dasar bahwa molekul bergerak lebih cepat pada suhu tinggi dan mengakibatkan satu sama lain. Selama terjadi kenaikan suhu, tidak hanya tumbukan yang terjadi, tetapi molekul bertumbukan lebih besar karena bergerak lebih cepat (Setyawardhani, dkk., 2005).

Suatu reaksi kimia berlangsung karena atom-atom bersenyawa membentuk molekul-molekul baru dengan cara pembentukan elektron oktet dalam masing-masing atom (Endahwati, 2007).

Kinetika reaksi adalah jumlah mol zat yang bereaksi per liter yangdiubah menjadi zat lain dalam suatu satuan waktu tertentu. Biasanya kinetika reaksi di pelajari pada suhu tetap, tetapi lebih baik pada dua suhu atau lebih (Endahwati, 2007).

Nilai T ½ dapat digunakan untuk memperkirakan berbagai kondisi kinetik, seperti penenuan waktu habisnya obat bekerja di dalam tubuh, penentuan waktu interval pemberian, serta penentuan kadar obat dalam sirkulasi sistemik hingga mencapai keadaan steady state untuk pemberian berulang (Wangsaatmadja, Nanny, 2011).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah:
  • Tabung reaksi 
  • Pipet tetes 
  • Labu takar ukuran 250 ml 
  • Labu takar ukuran 100 ml 
  • Labu takar 50 ml 
  • Rak tabung 
  • Spektrofotometri 
  • Gelas kimia 100 ml 
  • Pipet volume 10 ml 
  • Waterbath 
  • Termometer 
  • Filler 
  • Timbangan analitik 
  • Batang pengaduk 
  • Hotplate 
  • Gegep 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
  • Asetosal 0,1 N 
  • FeCl3 
  • Es batu 
  • Alkohol 
  • Aquadest 

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA

E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA

F. PEMBAHASAN
Reaksi kimia adalah proses perubahan zat pereaksi menjadi produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah zat pereaksi semakin sedikit, sedangkan produk semakin banyak. 

Kinetika reaksi adalah suatu cabang dari ilmu kimia yang mempelajari tentang mekanisme reaksi, yaitu bagaimana reaksi itu terjadi dan kecepatan terjadinya reaksi. Untuk menentukan kecepatan reaksi kimia dikembangkan suatu model persamaan kecepatan reaksi yang menguji bahwa reaksi tersebut mengikuti tingkat atau orde keberapa yang kemudian diperoleh suatu harga konstanta kecepatan reaksi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan laju reaksi diantaranya konsentrasi, kondisi fisika, intensitas radiasi dan sifat-sifat pelarut.

Pada ilmu farmasi, laju reaksi sangat penting dalam menentukan waktu kadaluarsa obat. Selain itu, apoteker harus mengetahui waktu paruh suatu obat, karena waktu paruh suatu obat dapat menentukan terurainya suatu obat. 

Pada percobaan ini, akan di buat dua larutan yaitu larutan baku dan larutan yang akan di panaskan. Dalam pembuatan larutan baku, asetosal di timbang 0,025 gram dan dilarutkan dalam labu takar 250 ml. Larutan asetosal yang telah diencerkan di bagi ke dalam 5 labu takar dengan konsentrasi yang berbeda dan di tambahkan 5 tetes FeCl3. Penambahan FeCl3 agar memeberi perubahan warna sehingga pengukuran absorbansi dapat di tentukan. Setelah itu, di diamkan dan di tutup rapat.

Selanjutnya larutan baku asetosal di ukur absorbansinya. Pada konsentrasi 2 ppm nilai absorbansi yang diperoleh yaitu 0,024 A, pada konsentrasi 4 ppm nilai absorbansinya 0,037 A, pada konsentrasi 6 ppm nilai absorbansinya 0,036 A, pada konsentrasi 8 ppm nilai absorbansinya 0,030 A, dan pada konsentrasi 10 ppm nilai absorbansinya 0,026 A. Nilai R yang terdapat pada kurva baku sebesar 0,337.

Langkah ke dua, yaitu pembuatan larutan yang akan dipanaskan. Asetosal di timbang 1,8 gram, lalu diencerkan ke dalam labu takar 100 ml, dan di tambahkan 30 ml alkohol. Larutan asetosal 1 ml di masukkan ke dalam 15 tabung reaksi dalam suhu yang bervariasi yakni 40C, 55C, dan 70C. Langkah selanjutnya, larutan asetosal akan di panaskan pada suhu yang telah d tentukan dalam waktu 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, dan 25 menit. 

Setelah di panaskan, larutan asetosal akan di ukur absorbansinya. Hasil pengukuran pada suhu 40C, dalam waktu 5 menit nilai absorbansinya 1,1047 nm, dalam waktu 10 menit nilai absorbansinya 1,156 nm, dalam waktu 15 menit nilai absorbansinya 1,171 nm, dalam waktu 20 menit nilai absorbansinya 1,185 nm, dan pada waktu 25 menit nilai absorbansinya 1,197 nm.

Hasi pengukuran pada suhu 55C, dalam waktu 5 menit nilai absorbansinya 1,174 nm, pada waktu 10 menit nilai absorbansinya 1,496 nm, pada waktu 15 menit nilai absorbansinya 2,031, pada waktu 20 menit nilai absorbansinya 1,716 nm, dan pada waktu 25 menit nilai absorbansinya 2,403 nm.

Hasil pengukuran pada suhu 70C, pada waktu 5 menit nilai absorbansinya 1,525 nm, pada waktu 10 menit nilai absorbansinya 1,910 nm, pada waktu 15 menit nilai absorbansinya 2,441 nm, pada waktu 20 menit nilai absorbansinya 3,084 nm, dan pada waktu 25 menit nilai absorbansinya 3,250 nm.

Stabilitas obat adalah kemampuan suatu obat untuk mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (identitas, kekuatan, kualitas, kemurnian) dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan sehingga mampu memberikan efek terapi yang baik dan menghindari efek toksik.

T1/2 adalah periode penggunaan dan penyimpanan yaitu waktu dimana suatu produk tetap memenuhi spesifikasinya jika disimpan dalam wadahnya yang sesuai dengan kondisi atau waktu yang diperlukan untuk hilangnya konsentrasi setengahnya. Sedangkan T90 adalah waktu yang tertera yang menunjukkan batas waktu diperbolehkannya obat tersebut dikonsumsi karena diharapkan masih memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Nilai T90 yang diperoleh pada praktikum ini yaitu 17,5%.

Pada saat melakukan praktikum, terkadang terdapat beberapa kesalahan. Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain bahan yang digunakan kemungkinan sudah bereaksi dengan senyawa-senyawa lain sehingga nilai absorbansi yang dihasilkan tidak sesuai dengan nilai yang terdapat didalam literatur. 

F. KESIMPULAN
Kesimpuln pada praktikum ini yaitu kinetika reaksi laju degradasi asetosal mengikuti reaksi orde 1 dalam waktu kadaluarsa obat pada suhu 40C yaitu 3.354%, pada suhu 55C sebesar 4.114% dan pada suhu 70C seesar

DAFTAR PUSTAKA
Dewati, Retno, 2010, “Kinetika Reaksi Pembuatan Asam Oksalat Dari Sabut Siwalan Dengan Oksidator H2O2”, Jurnal Penelitian Ilmu Teknik, 10(01).

Endahwati, Luluk, 2007, “Kinetika Reaksi Pembuatan NaOH Dari Soda ASH Dan Ca(OH)2”, Jurnal Penelitian Ilmu Teknik, 7(2).

Setyawardhani, D, A., Yoenitasari, Sri Wahyuningsih, 2005, “Kinetika Reaksi Esterifkasi Asam Formiat Dengan Etanol Pada Variasi Suhu Dan Konsentrasi Katalis”, Ekuilibrium, 4(2).

Wangsaatmadja, H., Nanny Kartini, 2011, “Profil Farmakokinetika Radiofarmaka Etambutol Bertanda Teknesium-99m Sebagai Sediaan Sidik Tuberkulosis”, Jurnal Farmasi Indonesia, 5(4).

LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA


LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA

LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA
PRAKTIKUM FARMASI FISIK I
PERCOBAAN IV

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini adalah untuk mempelajari kinetika suatu reaksi kimia, dan menentukan waktu kadaluwarsa obat.

B. LANDASAN TEORI
Kinetika reaksi adalah suatu cabang dari ilmu kimia yang mempelajari tentang mekanisme reaksi, yaitu bagaimana reaksi itu terjadi dan kecepatan terjadinya reaksi. Untuk menentukan kecepatan reaksi kimia dikembangkan suatu model persamaan kecepatan reaksi yang menguji bahwa reaksi tersebut mengikuti tingkat atau orde keberapa yang kemudian diperoleh suatu harga konstanta kecepatan reaksi (Dewati, 2010).

Faktor yang memepengaruhi keepatan reaksi yaitu waktu, pengatur, komposisi dan konsentrasi, pengadukan. Semakin lama waktu suatu reaksi, maka reaksi yang terjadi akan semakin mendekati sempurna karena waktu kontak antar zat-zat tersebut makin lama. Semakin besar harga tetapan laju reaksi, maka kecepatan reaksi akan semakin besar (Dewati, 2010).

Laju reaksi kimia bertambah dengan naiknya temperutur. Kenaikan ini dapat dihitung dengan dasar bahwa molekul bergerak lebih cepat pada suhu tinggi dan mengakibatkan satu sama lain. Selama terjadi kenaikan suhu, tidak hanya tumbukan yang terjadi, tetapi molekul bertumbukan lebih besar karena bergerak lebih cepat (Setyawardhani, dkk., 2005).

Suatu reaksi kimia berlangsung karena atom-atom bersenyawa membentuk molekul-molekul baru dengan cara pembentukan elektron oktet dalam masing-masing atom (Endahwati, 2007).

Kinetika reaksi adalah jumlah mol zat yang bereaksi per liter yangdiubah menjadi zat lain dalam suatu satuan waktu tertentu. Biasanya kinetika reaksi di pelajari pada suhu tetap, tetapi lebih baik pada dua suhu atau lebih (Endahwati, 2007).

Nilai T ½ dapat digunakan untuk memperkirakan berbagai kondisi kinetik, seperti penenuan waktu habisnya obat bekerja di dalam tubuh, penentuan waktu interval pemberian, serta penentuan kadar obat dalam sirkulasi sistemik hingga mencapai keadaan steady state untuk pemberian berulang (Wangsaatmadja, Nanny, 2011).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah:
  • Tabung reaksi 
  • Pipet tetes 
  • Labu takar ukuran 250 ml 
  • Labu takar ukuran 100 ml 
  • Labu takar 50 ml 
  • Rak tabung 
  • Spektrofotometri 
  • Gelas kimia 100 ml 
  • Pipet volume 10 ml 
  • Waterbath 
  • Termometer 
  • Filler 
  • Timbangan analitik 
  • Batang pengaduk 
  • Hotplate 
  • Gegep 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
  • Asetosal 0,1 N 
  • FeCl3 
  • Es batu 
  • Alkohol 
  • Aquadest 

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA

E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN KINETIKA REAKSI KIMIA

F. PEMBAHASAN
Reaksi kimia adalah proses perubahan zat pereaksi menjadi produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah zat pereaksi semakin sedikit, sedangkan produk semakin banyak. 

Kinetika reaksi adalah suatu cabang dari ilmu kimia yang mempelajari tentang mekanisme reaksi, yaitu bagaimana reaksi itu terjadi dan kecepatan terjadinya reaksi. Untuk menentukan kecepatan reaksi kimia dikembangkan suatu model persamaan kecepatan reaksi yang menguji bahwa reaksi tersebut mengikuti tingkat atau orde keberapa yang kemudian diperoleh suatu harga konstanta kecepatan reaksi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan laju reaksi diantaranya konsentrasi, kondisi fisika, intensitas radiasi dan sifat-sifat pelarut.

Pada ilmu farmasi, laju reaksi sangat penting dalam menentukan waktu kadaluarsa obat. Selain itu, apoteker harus mengetahui waktu paruh suatu obat, karena waktu paruh suatu obat dapat menentukan terurainya suatu obat. 

Pada percobaan ini, akan di buat dua larutan yaitu larutan baku dan larutan yang akan di panaskan. Dalam pembuatan larutan baku, asetosal di timbang 0,025 gram dan dilarutkan dalam labu takar 250 ml. Larutan asetosal yang telah diencerkan di bagi ke dalam 5 labu takar dengan konsentrasi yang berbeda dan di tambahkan 5 tetes FeCl3. Penambahan FeCl3 agar memeberi perubahan warna sehingga pengukuran absorbansi dapat di tentukan. Setelah itu, di diamkan dan di tutup rapat.

Selanjutnya larutan baku asetosal di ukur absorbansinya. Pada konsentrasi 2 ppm nilai absorbansi yang diperoleh yaitu 0,024 A, pada konsentrasi 4 ppm nilai absorbansinya 0,037 A, pada konsentrasi 6 ppm nilai absorbansinya 0,036 A, pada konsentrasi 8 ppm nilai absorbansinya 0,030 A, dan pada konsentrasi 10 ppm nilai absorbansinya 0,026 A. Nilai R yang terdapat pada kurva baku sebesar 0,337.

Langkah ke dua, yaitu pembuatan larutan yang akan dipanaskan. Asetosal di timbang 1,8 gram, lalu diencerkan ke dalam labu takar 100 ml, dan di tambahkan 30 ml alkohol. Larutan asetosal 1 ml di masukkan ke dalam 15 tabung reaksi dalam suhu yang bervariasi yakni 40C, 55C, dan 70C. Langkah selanjutnya, larutan asetosal akan di panaskan pada suhu yang telah d tentukan dalam waktu 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, dan 25 menit. 

Setelah di panaskan, larutan asetosal akan di ukur absorbansinya. Hasil pengukuran pada suhu 40C, dalam waktu 5 menit nilai absorbansinya 1,1047 nm, dalam waktu 10 menit nilai absorbansinya 1,156 nm, dalam waktu 15 menit nilai absorbansinya 1,171 nm, dalam waktu 20 menit nilai absorbansinya 1,185 nm, dan pada waktu 25 menit nilai absorbansinya 1,197 nm.

Hasi pengukuran pada suhu 55C, dalam waktu 5 menit nilai absorbansinya 1,174 nm, pada waktu 10 menit nilai absorbansinya 1,496 nm, pada waktu 15 menit nilai absorbansinya 2,031, pada waktu 20 menit nilai absorbansinya 1,716 nm, dan pada waktu 25 menit nilai absorbansinya 2,403 nm.

Hasil pengukuran pada suhu 70C, pada waktu 5 menit nilai absorbansinya 1,525 nm, pada waktu 10 menit nilai absorbansinya 1,910 nm, pada waktu 15 menit nilai absorbansinya 2,441 nm, pada waktu 20 menit nilai absorbansinya 3,084 nm, dan pada waktu 25 menit nilai absorbansinya 3,250 nm.

Stabilitas obat adalah kemampuan suatu obat untuk mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (identitas, kekuatan, kualitas, kemurnian) dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan sehingga mampu memberikan efek terapi yang baik dan menghindari efek toksik.

T1/2 adalah periode penggunaan dan penyimpanan yaitu waktu dimana suatu produk tetap memenuhi spesifikasinya jika disimpan dalam wadahnya yang sesuai dengan kondisi atau waktu yang diperlukan untuk hilangnya konsentrasi setengahnya. Sedangkan T90 adalah waktu yang tertera yang menunjukkan batas waktu diperbolehkannya obat tersebut dikonsumsi karena diharapkan masih memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Nilai T90 yang diperoleh pada praktikum ini yaitu 17,5%.

Pada saat melakukan praktikum, terkadang terdapat beberapa kesalahan. Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain bahan yang digunakan kemungkinan sudah bereaksi dengan senyawa-senyawa lain sehingga nilai absorbansi yang dihasilkan tidak sesuai dengan nilai yang terdapat didalam literatur. 

F. KESIMPULAN
Kesimpuln pada praktikum ini yaitu kinetika reaksi laju degradasi asetosal mengikuti reaksi orde 1 dalam waktu kadaluarsa obat pada suhu 40C yaitu 3.354%, pada suhu 55C sebesar 4.114% dan pada suhu 70C seesar

DAFTAR PUSTAKA
Dewati, Retno, 2010, “Kinetika Reaksi Pembuatan Asam Oksalat Dari Sabut Siwalan Dengan Oksidator H2O2”, Jurnal Penelitian Ilmu Teknik, 10(01).

Endahwati, Luluk, 2007, “Kinetika Reaksi Pembuatan NaOH Dari Soda ASH Dan Ca(OH)2”, Jurnal Penelitian Ilmu Teknik, 7(2).

Setyawardhani, D, A., Yoenitasari, Sri Wahyuningsih, 2005, “Kinetika Reaksi Esterifkasi Asam Formiat Dengan Etanol Pada Variasi Suhu Dan Konsentrasi Katalis”, Ekuilibrium, 4(2).

Wangsaatmadja, H., Nanny Kartini, 2011, “Profil Farmakokinetika Radiofarmaka Etambutol Bertanda Teknesium-99m Sebagai Sediaan Sidik Tuberkulosis”, Jurnal Farmasi Indonesia, 5(4).