LAPORAN KOEFISIEN PARTISI - ElrinAlria


LAPORAN KOEFISIEN PARTISI


LAPORAN KOEFISIEN PARTISI
A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu untuk mengetahui pH terhadap koefisien partisi obat yang bersifat asam lemah dalam campuran pelarut koroform-air.

B. LANDASAN TEORI
Koefisien distribusi atau koefisien partisi (partition coefficient), K didefinisikan sebagai perbandingan antara fraksi berat solute dalam fase ekstrak, (XC)E dibagi dengan fraksi berat solute dalam fase rafinat, (XC)R pada keadaan kesetimbangan. (Kasmiyatun, 2010 :108).


Larutan dapar dibuat dari larutan asam lemah atau basa lemah da digunakan untuk mempertahankan pH suatu larutan di dalam rentang pH yang sempit. Hal ini penting dlam sistem kehidupan. Dapar digunakan dalam sejumlah bidang kimia analisis, seperti penyiapan fase gerak untuk kromatografi dan ekstraksi obat-obat dari larutan berair. Jenis dapar yang paling sederhana terdiri atas suatu asam lemah atau basa lemah di kombinasi dengan suatu asam kuat atau basa kuat. Alah satu sistem dapar yang umum adalah sistem dapar natrium asetat atau asam asetat. Rentang paling efektif untuk dapar adalah 1 unitpH pada masing-masing sisi nilai pKa asam lemah atau basa lemah yang digunakan ( Watson, 2009 : 36). 

Koefisien partisi merupakan suatu informasi penting karena dapat digunakan untuk memperkirakan proses absorbsi, distribusi, dan eliminasi obat dalam tubuh. Koefisien partisi berlaku hanya jika zat terlarutnya tidak terionisasi pada pH pengukuran. Jika zat terlarut merupakan asam lemah atau basa lemah (dan terdapat obat dalam jumlah yang besar, ), proses ionisasi untuk membentuk garam akan sangat mempengaruhi profil kelarutan obat (Cairns, 2004 : 28).

Faktor yang mempengaruhi kecepatan distribusi obat adalah aliran darah ke jaringan atau organ tubuh, sifat fisik dan kimia obat, sifat membran yang memisahkan jaringan dari darah atau cairan interstisial, dan banyaknya obat yang terikat pada protein plasma. Perlu diingat bahwa obat dibawah ke seluruh jaringan tubuh oleh aliran darah sehingga makin cepat obat mencapai jaringan, makin cepat pula obat terdistribusi ke dalam jaringan. Oleh karena itu, pada jaringan tubuh yang mendapat suplai darah relatif paling banyak dibandingkan dengan ukurannya (Cairns, 2004 : 28)

Sifat-sifat fisikokimia obat juga mempengaruhi tercapainya keseimabngan distribusi pada jaringan tertentu. Kalau suatu jaringan dapat menampung atau mengikat lebih banyak obat, dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai keseimbangan distribusi (Raharjo, 2008 : 30).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • Corong Pisah 
  • Spektrofotometri 
  • Timbangan Analitik 
  • Labu erlenmeyer 250 ml 
  • Labu takar 100 ml dan 50 ml 
  • Gelas ukur 50 ml 
  • Gelas kimia 100 ml 
  • Pipet ukur 10 ml 
  • Filler 
  • Pipet tetes 
  • Corong 
  • Batang pengaduk 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Asam Salisilat 1% 
  • NaOH 0,1 N 
  • Alkkohol 76% 
  • FeCl3 0,1M 
  • Kloroform 
  • Aquadest 

D. PROSEDUR KERJA

LAPORAN KOEFISIEN PARTISI


E. HASIL PENGAMATAN
1. Data pengamatan
LAPORAN KOEFISIEN PARTISI


G. PEMBAHASAN 
Pada percobaan ini akan diakukan penetapan pH dari asam salisilat. Asam salisilat merupakan senyawa yang mudah larut dalam pelarut organik dibandingkan dengan air, sehingga mudah dipisahkan antara campuran yang mengandung air dan larutan. Larutan dapar yang digunakan adalah larutan dapar dengan pH 3, pH 4, dan pH 5. Melalui ke tiga larutan dapar ini, akan diuji kelarutan dan kadar asam salisilat melalui hubungan antara absorbansi dengan pH. 

Perlakuan pertama dalam praktikum ini yaitu mengambil larutan dapar sebanyak 25 ml dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Setelah itu ditambahkan kloroform. Tujuan penambahan kloroform yaitu agar dapat memisahkan antara air dan lipoid. Setelah sampel di beri kloroform, kemudian sampel di diamkan pada suhu kamar selama 20 menit. Tujuan dari pendiaman ini yaitu agar menghasilkan distribusi yang optimal. 

Setelah mencapai distribusi, sampel kemudian dimasukkan ke dalam corog pisah. Tujuannya yaitu agar dapar dapat dipisahkan dengan kloroform/fase lipoid. Pemisahan terjadi karena adanya perbedaan kepoaran yang ada pada kedua larutan tersebut. Setelah didiamkan beberapa menit, larutan akan terbagi menjadi dua lapisan yaitu lapisan air (berada di atas) dan lapisan dapar (berada di bawah). Lapisan air berada di atas karena air memiliki kepolaran yang lebih tinggi dan mempunyai massa jenis yang lebih keil di bandingkan dengan larutan dapar yang mempuyai kepolaran yang lebih rendah dan mempunyai massa jenis yang lebih rendah. 

Perlakuan selanjutnya yaitu penambahan FeCl3 sebanyak 3 tetes. Penambahan FeCl3 bertujuan untuk memberikan perubahan warna sehingga absorbansinya dapat di ukur. Setelah sampel ditambahkan FeCl3, selanjutnya sampel di absorbansi. Absorbansi ini di lakukan karena absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi dan nilai ph. Semakin tinggi nilai absorbansi yang diperoleh, maka semakin tinggi konsentrasi suatu larutan dan pH yang di hasilkan juga semakin besar. Panjang gelombang yang digunakan pada pengukuran absorbansi yaitu 525 nm. Pemakaian gelombang sebesar 525 nm ini karena larutan dapar yang telah diteteskan FeCl3 mengalami perubahan warna. Oleh sebab itu, digunakan panjang gelombang sebesar 525 nm agar pembacaan dapat berlangsung dengan baik. 

Nilai absorbansi yang dihasilkan pada sampel pertama yaitu 0,8202, pada sampel kedua yaitu 0,8597 dan nilai absorbansi pada sampel ketiga yaitu 0,9446. Semakin tinggi nilai pH dapar yang diperoleh juga menigkatkan nilai absorbansi yang di hasilkan. Peningkatan nilai absorbansi dan nilai pH juga mempengaruhi molekul yang dihasilkan. 

H. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu pengaruh pH terhadap koefisien partisi ditentukan oleh banyaknya natrium salisilat atau dapar yang dihasilkan oleh campuran antara asam salisilat dan NaOH. Semakin banyak NaOH yang ditambahkan ke dalam larutan asam salisilat, maka pH yang dihasilkan juga semakin meingkat dan nilai absorbansi yang dihasilkan semakin besar. 

DAFTAR PUSTAKA 
Cairns, D., 2004, Intisari Kimia Farmasi edisi 2, EGC, Jakarta, Hal: 26-28. 

Kasmiyatum, M dan Jos, B., 2010, Ekstraksi Asam Sitrat dan Asam Oksalat : Pengaruh Trioctylamine Seperti Extracting Power Dalam Berbagai Solven Campuran Terhadap Koefisien Distribusi, Reaktor, Vol. 12 No. 2, Hal 107-116. 

Raharjo, R., 2008, Buku Kupulan Kkuliah Farmakologi edisi 2, EGC, Jakarta, Hal : 27-35. 

Watson, D, G., 2009, Analisis Farmasi : BA Untuk Mahasiswa Farmasi dan Praktisi Kimia Farmasi, EGC, Jakarta.

LAPORAN KOEFISIEN PARTISI



LAPORAN KOEFISIEN PARTISI


LAPORAN KOEFISIEN PARTISI
A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu untuk mengetahui pH terhadap koefisien partisi obat yang bersifat asam lemah dalam campuran pelarut koroform-air.

B. LANDASAN TEORI
Koefisien distribusi atau koefisien partisi (partition coefficient), K didefinisikan sebagai perbandingan antara fraksi berat solute dalam fase ekstrak, (XC)E dibagi dengan fraksi berat solute dalam fase rafinat, (XC)R pada keadaan kesetimbangan. (Kasmiyatun, 2010 :108).


Larutan dapar dibuat dari larutan asam lemah atau basa lemah da digunakan untuk mempertahankan pH suatu larutan di dalam rentang pH yang sempit. Hal ini penting dlam sistem kehidupan. Dapar digunakan dalam sejumlah bidang kimia analisis, seperti penyiapan fase gerak untuk kromatografi dan ekstraksi obat-obat dari larutan berair. Jenis dapar yang paling sederhana terdiri atas suatu asam lemah atau basa lemah di kombinasi dengan suatu asam kuat atau basa kuat. Alah satu sistem dapar yang umum adalah sistem dapar natrium asetat atau asam asetat. Rentang paling efektif untuk dapar adalah 1 unitpH pada masing-masing sisi nilai pKa asam lemah atau basa lemah yang digunakan ( Watson, 2009 : 36). 

Koefisien partisi merupakan suatu informasi penting karena dapat digunakan untuk memperkirakan proses absorbsi, distribusi, dan eliminasi obat dalam tubuh. Koefisien partisi berlaku hanya jika zat terlarutnya tidak terionisasi pada pH pengukuran. Jika zat terlarut merupakan asam lemah atau basa lemah (dan terdapat obat dalam jumlah yang besar, ), proses ionisasi untuk membentuk garam akan sangat mempengaruhi profil kelarutan obat (Cairns, 2004 : 28).

Faktor yang mempengaruhi kecepatan distribusi obat adalah aliran darah ke jaringan atau organ tubuh, sifat fisik dan kimia obat, sifat membran yang memisahkan jaringan dari darah atau cairan interstisial, dan banyaknya obat yang terikat pada protein plasma. Perlu diingat bahwa obat dibawah ke seluruh jaringan tubuh oleh aliran darah sehingga makin cepat obat mencapai jaringan, makin cepat pula obat terdistribusi ke dalam jaringan. Oleh karena itu, pada jaringan tubuh yang mendapat suplai darah relatif paling banyak dibandingkan dengan ukurannya (Cairns, 2004 : 28)

Sifat-sifat fisikokimia obat juga mempengaruhi tercapainya keseimabngan distribusi pada jaringan tertentu. Kalau suatu jaringan dapat menampung atau mengikat lebih banyak obat, dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai keseimbangan distribusi (Raharjo, 2008 : 30).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • Corong Pisah 
  • Spektrofotometri 
  • Timbangan Analitik 
  • Labu erlenmeyer 250 ml 
  • Labu takar 100 ml dan 50 ml 
  • Gelas ukur 50 ml 
  • Gelas kimia 100 ml 
  • Pipet ukur 10 ml 
  • Filler 
  • Pipet tetes 
  • Corong 
  • Batang pengaduk 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Asam Salisilat 1% 
  • NaOH 0,1 N 
  • Alkkohol 76% 
  • FeCl3 0,1M 
  • Kloroform 
  • Aquadest 

D. PROSEDUR KERJA

LAPORAN KOEFISIEN PARTISI


E. HASIL PENGAMATAN
1. Data pengamatan
LAPORAN KOEFISIEN PARTISI


G. PEMBAHASAN 
Pada percobaan ini akan diakukan penetapan pH dari asam salisilat. Asam salisilat merupakan senyawa yang mudah larut dalam pelarut organik dibandingkan dengan air, sehingga mudah dipisahkan antara campuran yang mengandung air dan larutan. Larutan dapar yang digunakan adalah larutan dapar dengan pH 3, pH 4, dan pH 5. Melalui ke tiga larutan dapar ini, akan diuji kelarutan dan kadar asam salisilat melalui hubungan antara absorbansi dengan pH. 

Perlakuan pertama dalam praktikum ini yaitu mengambil larutan dapar sebanyak 25 ml dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Setelah itu ditambahkan kloroform. Tujuan penambahan kloroform yaitu agar dapat memisahkan antara air dan lipoid. Setelah sampel di beri kloroform, kemudian sampel di diamkan pada suhu kamar selama 20 menit. Tujuan dari pendiaman ini yaitu agar menghasilkan distribusi yang optimal. 

Setelah mencapai distribusi, sampel kemudian dimasukkan ke dalam corog pisah. Tujuannya yaitu agar dapar dapat dipisahkan dengan kloroform/fase lipoid. Pemisahan terjadi karena adanya perbedaan kepoaran yang ada pada kedua larutan tersebut. Setelah didiamkan beberapa menit, larutan akan terbagi menjadi dua lapisan yaitu lapisan air (berada di atas) dan lapisan dapar (berada di bawah). Lapisan air berada di atas karena air memiliki kepolaran yang lebih tinggi dan mempunyai massa jenis yang lebih keil di bandingkan dengan larutan dapar yang mempuyai kepolaran yang lebih rendah dan mempunyai massa jenis yang lebih rendah. 

Perlakuan selanjutnya yaitu penambahan FeCl3 sebanyak 3 tetes. Penambahan FeCl3 bertujuan untuk memberikan perubahan warna sehingga absorbansinya dapat di ukur. Setelah sampel ditambahkan FeCl3, selanjutnya sampel di absorbansi. Absorbansi ini di lakukan karena absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi dan nilai ph. Semakin tinggi nilai absorbansi yang diperoleh, maka semakin tinggi konsentrasi suatu larutan dan pH yang di hasilkan juga semakin besar. Panjang gelombang yang digunakan pada pengukuran absorbansi yaitu 525 nm. Pemakaian gelombang sebesar 525 nm ini karena larutan dapar yang telah diteteskan FeCl3 mengalami perubahan warna. Oleh sebab itu, digunakan panjang gelombang sebesar 525 nm agar pembacaan dapat berlangsung dengan baik. 

Nilai absorbansi yang dihasilkan pada sampel pertama yaitu 0,8202, pada sampel kedua yaitu 0,8597 dan nilai absorbansi pada sampel ketiga yaitu 0,9446. Semakin tinggi nilai pH dapar yang diperoleh juga menigkatkan nilai absorbansi yang di hasilkan. Peningkatan nilai absorbansi dan nilai pH juga mempengaruhi molekul yang dihasilkan. 

H. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu pengaruh pH terhadap koefisien partisi ditentukan oleh banyaknya natrium salisilat atau dapar yang dihasilkan oleh campuran antara asam salisilat dan NaOH. Semakin banyak NaOH yang ditambahkan ke dalam larutan asam salisilat, maka pH yang dihasilkan juga semakin meingkat dan nilai absorbansi yang dihasilkan semakin besar. 

DAFTAR PUSTAKA 
Cairns, D., 2004, Intisari Kimia Farmasi edisi 2, EGC, Jakarta, Hal: 26-28. 

Kasmiyatum, M dan Jos, B., 2010, Ekstraksi Asam Sitrat dan Asam Oksalat : Pengaruh Trioctylamine Seperti Extracting Power Dalam Berbagai Solven Campuran Terhadap Koefisien Distribusi, Reaktor, Vol. 12 No. 2, Hal 107-116. 

Raharjo, R., 2008, Buku Kupulan Kkuliah Farmakologi edisi 2, EGC, Jakarta, Hal : 27-35. 

Watson, D, G., 2009, Analisis Farmasi : BA Untuk Mahasiswa Farmasi dan Praktisi Kimia Farmasi, EGC, Jakarta.