LAPORAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) - ElrinAlria
LAPORAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN IV
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini yaitu :
  1. Mengetahui prinsip dasar Kromatografi Lapis Tipis. 
  2. Melakukan Kromatografi Lapis Tipis komponen kimia dari bahan alam. 

B. LANDASAN TEORI
Ekstrak dapat dibagi dalam dua katagori, yaitu ekstrak kasar dan ekstrak murni. Ekstrak kasar artinya ekstrak yang mengandung semua bahan yang tersari dengan menggunakan pelarut organik, sedangkan ekstrak murni adalah ekstrak kasar yang telah dimurnikan dari senyawasenyawa inert melalui proses penghilangan lemak, penyaringan menggunakan resin atau adsorben. Ekstrak murni lebih disukai karena mempunyai bahan aktif atau komponen kimia yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekstrak kasar, sebagai contoh kandungan senyawa aktif dalam ekstrak kasar 20%, setelah dimurnikan senyawa aktif akan meningkat menjadi 60 % 3.

Jambu mete (Anacardium occidentale Linn.) yang berasal dari Brazil tenggara ini sering dimanfaatkan biji, buah, daun, akar dan kulit batangnya oleh masyarakat. Asam anakardat yang berfungsi sebagai antimikroba, antiinflamasi, antimulosidal,antioksidan dan menghambat aktivitas beberapa enzim seperti xanthin oksidase, lipooksigenase, siklooksigenase dan lain-lain terdapat pada kulit batang tanaman suku Anacardiaceae. Pada tanaman Anacardium occidentale, keberadaan asam anakardat selain pada kulit batang juga terdapat pada biji dan getahnya 6.

Kulit batang Anacardium occidentale L. mengandung berbagai macam zat diantaranya ialah alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin. Sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang secara jelas menyebutkan bahwa kulit batang Anacardium occidentale L. dapat menurunkan kadar glukosa darah 1.

Untuk mengetahui kandungan senyawa kimia dalam suatu tanaman dapat digunakan metode KLT (kromatografi lapis tipis). Kromatografi lapis tipis dapat dipakai dengan tujuan sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif (letak warna, bentuk , dan ukuran suatu bercak) dan kuantitatif (kuantitas senyawa yang terdapat dalam suatu bercak) 4.

Kromatografi adalah suatu metoda untuk separasi yang menyangkut komponen suatu contoh di mana komponen dibagi-bagikan antara dua tahap, salah satu yang mana adalah keperluan selagi gerak yang lain. Di dalam gas chromatography adalah gas mengangsur suatu cairan atau tahap keperluan padat. Di dalam cairan chromatography adalah campuran cairan pindah gerakkan melalui cairan yang lain , suatu padat, atau suatu 'gel' agar. Mekanisme separasi komponen mungkin adalah adsorpsi, daya larut diferensial, ion-exchange, penyebaran/perembesan, atau mekanisme lain 2.

Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu tehnik yang sederhana dan banyak digunakan. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik yang ditutupi penyerap untuk lapisan tipis dan kering bentuk silika gel, alomina, selulosa dan polianida. Untuk menotolkan larutan cuplikan pada lempeng kaca, pada dasarnya dgunakan mikro pipet/ pipa kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengulsi di dalam wadah yang tertutup (Chamber) 5.

C. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • Batang pengaduk 
  • Botol Vial 
  • Cawan porselin 
  • Corong 
  • Corong pisah 
  • Chamber KLT 
  • Gelas ukur 
  • Lampu UV 254/366 
  • Magnetic stiner 
  • Penyemprot KLT 
  • Pipa kapiler 
  • Pipet tetes 
  • Rak tabung reaksi 
  • Tabung reaksi 
  • Timbangan analitik 

b. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • Aquadest 
  • Alumunium foil 
  • Asam sulfat 
  • Ekstrak kental sampel (kulit batang jambu mete) 
  • Etanol 96% 
  • Etil asetat 
  • Kertas saring 
  • N-hexan 
  • Plat KLT GF 254 
  • Serium 
  • Tissue 

D. URAIAN TANAMAN
Klasifikasi (Badan Pom, 2008)
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Sapindales
Suku : Anacardiaceae
Marga : Anacardium
Jenis : Anacardium occidentale L.

Deskripsi:
Habitus berupa pohon dengan tinggi ±12 m. Batang berkayu bentuk bulat, bergetah, berwarna putih kotor. Daunnya tunggal, berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan tepi rata dan pangkal runcing. Ujung daun membulat dengan pertulangan menyirip, panjang daun 8-22 cm dan lebar 5-13 cm. Bunga majemuk, bentuk malai, terletak di ketiak daun dan di ujung cabang, mempunyai daun pelindung berbentuk bulat telur dengan panjang 5-10 mm dan berwarna hijau. Kelopak bunga berambut dengan panjang 4-5 mm dan berwarna hijau muda. Mahkota bunga berbentuk runcing, saat masih muda berwarna putih setelah tua berwarna merah. Tipe buah berupa buah batu, keras, melengkung, panjangnya ±3 cm, berwarna hijau kecoklatan. Biji berbentuk bulat panjang, melengkung, pipih dan berwarna putih. Akarnya berupa akar tunggang dan berwarna coklat.

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

F. HASIL PENGAMATAN
a. Tabel pengamatan :
LAPORAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

G. PEMBAHASAN
Kromatografi lapis tipis adalah suatu teknik atau metode untuk memisahkan suatu campuran yang terdiri dari beberapa komponen senyawa kimia yang menggunakan sistem distribusi secara kontinyu di antara 2 fase. Fase yang satu bergerak pada fase yang lain. Kedua fase tersebut adalah fase diam (stationary phase) dan fase gerak (mobile phase). Fase diam yang digunakan adalah zat padat dan fase gerak yang digunakan adalah zat cair. Metode pemisahan cara ini dilakukan dengan cara menotolkan larutan sampel yang terdiri dari beberapa komponen senyawa kimia pada lempeng penyerap atau adsorben yaitu lapisan tipis adsorben yang dibuat pada permukaan pelat kaca atau bahan lain yang netral kemudian dilakukan dalam pelarut sebagai pengembang yang dapat membawa atau memisahkan komponen senyawa tersebut. 

Prinsip kerjanya adalah berdasarkan adsorpsi dan partisi, dimana sampel akan berpisah berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.

Fase diam (adsorben) contohnya silika gel (asam silikat), alumina (aluminium oksida), kieslguhr (diatomeous earth), dan selulosa. Dari keempat jenis adsorben tersebut, yang paling banyak dipakai ialah silika gel dan masing-masing terdiri dari beberapa jenis yang mempunyai nama perdagangan bermacam-macam. Silika gel ini menghasilkan perbedaan dalam efek pemisahan yang tergantung kepada cara pembuatannya. Selain itu harus diingat bahwa penyerap yang berpengaruh nyata terhadap daya pemisahnya.

Fase gerak (mobile) meliputi beberapa variasi eluen. Eluen yang digunakan untuk proses elusi terdapat dua jenis yaitu eluen yang lebih polar dan eluen yang kurang polar. Penggunaan eluen yang kurang polar dimaksudkan untuk mengelusi ekstrak heksan dan ekstrak metanol, sedangkan eluen yang lebih polar untuk mengelusi ekstrak n-butanol jenuh air dan ekstrak metanol. Eluen yang digunakan merupakan kombinasi dari dua macam pelarut, Hal ini dimaksudkan untuk mencapai semua tingkat kepolaran sehingga eluen ini dapat mengangkat noda yang tingkat kepolarannya berbeda-beda. Perbandingan jumlah eluen yang digunakan berdasarkan pengalaman dapat menarik komponen kimia yang maksimal.

Ada beberapa keuntungan dari metode kromatografi lapis tipis yaitu prosedurnya lebih sederhana dengan waktu yang relatif singkat, dapat digunakan untuk memisahkan sampel yang sangat kecil sampai 20 nanogram, pemisahan lebih sempurna untuk senyawa kompleks dalam larutan, mudah dideteksi, dan lebih sensitif. Pada pengujian kandungan senyawa kimia menggunakan kromatografi lapis tipis mula-mula sampel yang akan dianalisis dilarutkan terlebih dahulu. Percobaan ini menggunakan tiga jenis fraksi yakni fraksi n-heksana, fraksi etil asetat dan fraksi tak larut etil asetat. Eluen yang digunakan terdiri dari campuran antara n-heksana dan etil asetat dengan perbandingan 8 : 2 dan 2 : 8 dalam volume 2 ml. 

Eluen yang digunakan adalah N-heksan : etil asetat (8 : 2) dimasukkan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan kertas saring. Kemudian dimasukkan plat KLT yang telah ditotolkan sampel fraksi N-heksan, etil asetat dan etanol. Sampel yang sudah dielusi kemudian diangkat lalu dilihat nodanya disinar UV, lalu dikeringkan dengan oven, sebelum dikeringkan dioleskan menggunakan serium agar noda terlihat jelas. Sebelum lempeng yang dielusi dengan sampel dimasukkan kertas saring. Chamber yang berisi eluen akan merambat keluar melalui kertas saring. Alasan mengapa eluen harus dijenuhkan yaitu agar tekanan dalam chamber sama agar noda yang dihasilkan sesuai dengan diinginkan.

Sampel yang telah dilarutkan kemudian dilakukan penotolan pada plat KLT yang sebelumnya telah dibuat garis batas bawah serta titik untuk tempat menotol dengan menggunakan pensil. Penotolan dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler yang kemudian dimasukkan kedalam chamber yang telah berisi dengan eluen. Setelah beberapa menit, plat kemudian dikeluarkan dari chamber dan sebelum dikeringkan dengan oven sebelumnya disemprotkan dengan serium.

Uji kemurnian dilakukan dengan KLT sampai tampak satu noda pada minimal tiga sistem eluen. Selain itu, uji kemurnian juga dilakukan dengan KLT dua dimensi yang apabila murni akan menampakkan satu noda. Pemilihan eluen dilakukan berdasarkan kepolarannya, selain itu jika senyawa tersebut telah murni akan memberikan noda tunggal dalam eluen sehingga terbentuk spot-spot. Oleh karena itu, diperlukan suatu perhitungan tertentu untuk memastika spot (noda) yang terbentuk memiliki jarak yang sama walaupun ukuran jarak platnya berbeda. Nilai perhitungan tersebut adalah Rf. Nilai ini digunakan sebagai perbandingan relatif antara sampel. Nilai Rf juga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fasa diam, sehingga nilai Rf sering juga di sebut faktor retensi.

Nilai Rf yang didapatkan pada pratikum kali ini adalah diperoleh jarak yang ditempuh fase gerak 4 cm. Untuk fraksi N-heksan, jarak tempuh senyawa adalah 1,4, 1,8, 2,3, dan 2,9 cm dan jarak tempuh fase gerak adalah 4 cm dan diperoleh nilai Rf 0,35, 0,45, 0,57, 0,73. Fraksi etil asetat, jarak tempuh sampel adalah 1,7 dan 1,8 cm dan jarak tempuh fase gerak adalah 4 cm dan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,43 dan 0,45. Sedangkan untuk penotolan fraksi etanol 1,2 cm dan jarak tempuh untuk pelarutnya adalah 4 cm dan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,3.

H. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari laporan ini adalah sebagai berikut :
  1. Prinsip dasar dari Kromatografi Lapis Tipis adalah berdasarkan adsorpsi dan partisi, dimana sampel akan berpisah berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. 
  2. Untuk fraksi N-heksan, jarak tempuh senyawa adalah 1,4, 1,8, 2,3, dan 2,9 cm dan jarak tempuh fase gerak adalah 4 cm dan diperoleh nilai Rf 0,35, 0,45, 0,57, 0,73. Fraksi etil asetat, jarak tempuh sampel adalah 1,7 dan 1,8 cm dan jarak tempuh fase gerak adalah 4 cm dan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,43 dan 0,45. Sedangkan untuk penotolan fraksi etanol 1,2 cm dan jarak tempuh untuk pelarutnya adalah 4 cm dan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,3. 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Carolus, F.P., Fatimawali., dan Defny, S.W., 2014, Uji efektivitas Ekstrak Kulit Batang Jambu Mete (Anacardium Occidentale L.) terhadap penurunan Kadar Glukosa Darah pada Tikus putih Jantan Galur Wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi Aloksan, Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 3 (3).
  2. David, C., 2001, Gas Cromatography, Kogan Page, London. 
  3. Hernani, Tri, M., dan Christina W., 2007, Pemilihan Pelarut pada Pemurnian Ekstrak Lengkuas (Alpinia galanga) secara Ekstraksi, J.Pascapanen, Vol. 4 (1). 
  4. Rengginasti, A.D., dan Aryoko Widodo., 2008, Pemisahan senyawa minyak atsiri rimpang lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) secara kromatografi lapis tipis dan aktivitasnya terhadap Malassezia furfur in vitro, Artikel Penelitian Ilmiah, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. 
  5. Rudi,L. 2010. Penuntun Dasar-Dasar Pemisahan Analitik. Universitas Haluoleo. Kendari. 
  6. Veriony, L., Sudarsono., dan Agung. E.N., 2011, Aktivitas Antiinflamasi rebusan Kulit Batang Jambu Mete (Anacardium occidentale L.) pada Udema kaki Tikus terinduksi Karagenin, Majalah Obat Tradisional, Vol. 16 (3).

LAPORAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

LAPORAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN IV
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini yaitu :
  1. Mengetahui prinsip dasar Kromatografi Lapis Tipis. 
  2. Melakukan Kromatografi Lapis Tipis komponen kimia dari bahan alam. 

B. LANDASAN TEORI
Ekstrak dapat dibagi dalam dua katagori, yaitu ekstrak kasar dan ekstrak murni. Ekstrak kasar artinya ekstrak yang mengandung semua bahan yang tersari dengan menggunakan pelarut organik, sedangkan ekstrak murni adalah ekstrak kasar yang telah dimurnikan dari senyawasenyawa inert melalui proses penghilangan lemak, penyaringan menggunakan resin atau adsorben. Ekstrak murni lebih disukai karena mempunyai bahan aktif atau komponen kimia yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekstrak kasar, sebagai contoh kandungan senyawa aktif dalam ekstrak kasar 20%, setelah dimurnikan senyawa aktif akan meningkat menjadi 60 % 3.

Jambu mete (Anacardium occidentale Linn.) yang berasal dari Brazil tenggara ini sering dimanfaatkan biji, buah, daun, akar dan kulit batangnya oleh masyarakat. Asam anakardat yang berfungsi sebagai antimikroba, antiinflamasi, antimulosidal,antioksidan dan menghambat aktivitas beberapa enzim seperti xanthin oksidase, lipooksigenase, siklooksigenase dan lain-lain terdapat pada kulit batang tanaman suku Anacardiaceae. Pada tanaman Anacardium occidentale, keberadaan asam anakardat selain pada kulit batang juga terdapat pada biji dan getahnya 6.

Kulit batang Anacardium occidentale L. mengandung berbagai macam zat diantaranya ialah alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin. Sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang secara jelas menyebutkan bahwa kulit batang Anacardium occidentale L. dapat menurunkan kadar glukosa darah 1.

Untuk mengetahui kandungan senyawa kimia dalam suatu tanaman dapat digunakan metode KLT (kromatografi lapis tipis). Kromatografi lapis tipis dapat dipakai dengan tujuan sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif (letak warna, bentuk , dan ukuran suatu bercak) dan kuantitatif (kuantitas senyawa yang terdapat dalam suatu bercak) 4.

Kromatografi adalah suatu metoda untuk separasi yang menyangkut komponen suatu contoh di mana komponen dibagi-bagikan antara dua tahap, salah satu yang mana adalah keperluan selagi gerak yang lain. Di dalam gas chromatography adalah gas mengangsur suatu cairan atau tahap keperluan padat. Di dalam cairan chromatography adalah campuran cairan pindah gerakkan melalui cairan yang lain , suatu padat, atau suatu 'gel' agar. Mekanisme separasi komponen mungkin adalah adsorpsi, daya larut diferensial, ion-exchange, penyebaran/perembesan, atau mekanisme lain 2.

Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu tehnik yang sederhana dan banyak digunakan. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik yang ditutupi penyerap untuk lapisan tipis dan kering bentuk silika gel, alomina, selulosa dan polianida. Untuk menotolkan larutan cuplikan pada lempeng kaca, pada dasarnya dgunakan mikro pipet/ pipa kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengulsi di dalam wadah yang tertutup (Chamber) 5.

C. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • Batang pengaduk 
  • Botol Vial 
  • Cawan porselin 
  • Corong 
  • Corong pisah 
  • Chamber KLT 
  • Gelas ukur 
  • Lampu UV 254/366 
  • Magnetic stiner 
  • Penyemprot KLT 
  • Pipa kapiler 
  • Pipet tetes 
  • Rak tabung reaksi 
  • Tabung reaksi 
  • Timbangan analitik 

b. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • Aquadest 
  • Alumunium foil 
  • Asam sulfat 
  • Ekstrak kental sampel (kulit batang jambu mete) 
  • Etanol 96% 
  • Etil asetat 
  • Kertas saring 
  • N-hexan 
  • Plat KLT GF 254 
  • Serium 
  • Tissue 

D. URAIAN TANAMAN
Klasifikasi (Badan Pom, 2008)
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Sapindales
Suku : Anacardiaceae
Marga : Anacardium
Jenis : Anacardium occidentale L.

Deskripsi:
Habitus berupa pohon dengan tinggi ±12 m. Batang berkayu bentuk bulat, bergetah, berwarna putih kotor. Daunnya tunggal, berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan tepi rata dan pangkal runcing. Ujung daun membulat dengan pertulangan menyirip, panjang daun 8-22 cm dan lebar 5-13 cm. Bunga majemuk, bentuk malai, terletak di ketiak daun dan di ujung cabang, mempunyai daun pelindung berbentuk bulat telur dengan panjang 5-10 mm dan berwarna hijau. Kelopak bunga berambut dengan panjang 4-5 mm dan berwarna hijau muda. Mahkota bunga berbentuk runcing, saat masih muda berwarna putih setelah tua berwarna merah. Tipe buah berupa buah batu, keras, melengkung, panjangnya ±3 cm, berwarna hijau kecoklatan. Biji berbentuk bulat panjang, melengkung, pipih dan berwarna putih. Akarnya berupa akar tunggang dan berwarna coklat.

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

F. HASIL PENGAMATAN
a. Tabel pengamatan :
LAPORAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

G. PEMBAHASAN
Kromatografi lapis tipis adalah suatu teknik atau metode untuk memisahkan suatu campuran yang terdiri dari beberapa komponen senyawa kimia yang menggunakan sistem distribusi secara kontinyu di antara 2 fase. Fase yang satu bergerak pada fase yang lain. Kedua fase tersebut adalah fase diam (stationary phase) dan fase gerak (mobile phase). Fase diam yang digunakan adalah zat padat dan fase gerak yang digunakan adalah zat cair. Metode pemisahan cara ini dilakukan dengan cara menotolkan larutan sampel yang terdiri dari beberapa komponen senyawa kimia pada lempeng penyerap atau adsorben yaitu lapisan tipis adsorben yang dibuat pada permukaan pelat kaca atau bahan lain yang netral kemudian dilakukan dalam pelarut sebagai pengembang yang dapat membawa atau memisahkan komponen senyawa tersebut. 

Prinsip kerjanya adalah berdasarkan adsorpsi dan partisi, dimana sampel akan berpisah berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.

Fase diam (adsorben) contohnya silika gel (asam silikat), alumina (aluminium oksida), kieslguhr (diatomeous earth), dan selulosa. Dari keempat jenis adsorben tersebut, yang paling banyak dipakai ialah silika gel dan masing-masing terdiri dari beberapa jenis yang mempunyai nama perdagangan bermacam-macam. Silika gel ini menghasilkan perbedaan dalam efek pemisahan yang tergantung kepada cara pembuatannya. Selain itu harus diingat bahwa penyerap yang berpengaruh nyata terhadap daya pemisahnya.

Fase gerak (mobile) meliputi beberapa variasi eluen. Eluen yang digunakan untuk proses elusi terdapat dua jenis yaitu eluen yang lebih polar dan eluen yang kurang polar. Penggunaan eluen yang kurang polar dimaksudkan untuk mengelusi ekstrak heksan dan ekstrak metanol, sedangkan eluen yang lebih polar untuk mengelusi ekstrak n-butanol jenuh air dan ekstrak metanol. Eluen yang digunakan merupakan kombinasi dari dua macam pelarut, Hal ini dimaksudkan untuk mencapai semua tingkat kepolaran sehingga eluen ini dapat mengangkat noda yang tingkat kepolarannya berbeda-beda. Perbandingan jumlah eluen yang digunakan berdasarkan pengalaman dapat menarik komponen kimia yang maksimal.

Ada beberapa keuntungan dari metode kromatografi lapis tipis yaitu prosedurnya lebih sederhana dengan waktu yang relatif singkat, dapat digunakan untuk memisahkan sampel yang sangat kecil sampai 20 nanogram, pemisahan lebih sempurna untuk senyawa kompleks dalam larutan, mudah dideteksi, dan lebih sensitif. Pada pengujian kandungan senyawa kimia menggunakan kromatografi lapis tipis mula-mula sampel yang akan dianalisis dilarutkan terlebih dahulu. Percobaan ini menggunakan tiga jenis fraksi yakni fraksi n-heksana, fraksi etil asetat dan fraksi tak larut etil asetat. Eluen yang digunakan terdiri dari campuran antara n-heksana dan etil asetat dengan perbandingan 8 : 2 dan 2 : 8 dalam volume 2 ml. 

Eluen yang digunakan adalah N-heksan : etil asetat (8 : 2) dimasukkan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan kertas saring. Kemudian dimasukkan plat KLT yang telah ditotolkan sampel fraksi N-heksan, etil asetat dan etanol. Sampel yang sudah dielusi kemudian diangkat lalu dilihat nodanya disinar UV, lalu dikeringkan dengan oven, sebelum dikeringkan dioleskan menggunakan serium agar noda terlihat jelas. Sebelum lempeng yang dielusi dengan sampel dimasukkan kertas saring. Chamber yang berisi eluen akan merambat keluar melalui kertas saring. Alasan mengapa eluen harus dijenuhkan yaitu agar tekanan dalam chamber sama agar noda yang dihasilkan sesuai dengan diinginkan.

Sampel yang telah dilarutkan kemudian dilakukan penotolan pada plat KLT yang sebelumnya telah dibuat garis batas bawah serta titik untuk tempat menotol dengan menggunakan pensil. Penotolan dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler yang kemudian dimasukkan kedalam chamber yang telah berisi dengan eluen. Setelah beberapa menit, plat kemudian dikeluarkan dari chamber dan sebelum dikeringkan dengan oven sebelumnya disemprotkan dengan serium.

Uji kemurnian dilakukan dengan KLT sampai tampak satu noda pada minimal tiga sistem eluen. Selain itu, uji kemurnian juga dilakukan dengan KLT dua dimensi yang apabila murni akan menampakkan satu noda. Pemilihan eluen dilakukan berdasarkan kepolarannya, selain itu jika senyawa tersebut telah murni akan memberikan noda tunggal dalam eluen sehingga terbentuk spot-spot. Oleh karena itu, diperlukan suatu perhitungan tertentu untuk memastika spot (noda) yang terbentuk memiliki jarak yang sama walaupun ukuran jarak platnya berbeda. Nilai perhitungan tersebut adalah Rf. Nilai ini digunakan sebagai perbandingan relatif antara sampel. Nilai Rf juga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fasa diam, sehingga nilai Rf sering juga di sebut faktor retensi.

Nilai Rf yang didapatkan pada pratikum kali ini adalah diperoleh jarak yang ditempuh fase gerak 4 cm. Untuk fraksi N-heksan, jarak tempuh senyawa adalah 1,4, 1,8, 2,3, dan 2,9 cm dan jarak tempuh fase gerak adalah 4 cm dan diperoleh nilai Rf 0,35, 0,45, 0,57, 0,73. Fraksi etil asetat, jarak tempuh sampel adalah 1,7 dan 1,8 cm dan jarak tempuh fase gerak adalah 4 cm dan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,43 dan 0,45. Sedangkan untuk penotolan fraksi etanol 1,2 cm dan jarak tempuh untuk pelarutnya adalah 4 cm dan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,3.

H. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari laporan ini adalah sebagai berikut :
  1. Prinsip dasar dari Kromatografi Lapis Tipis adalah berdasarkan adsorpsi dan partisi, dimana sampel akan berpisah berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. 
  2. Untuk fraksi N-heksan, jarak tempuh senyawa adalah 1,4, 1,8, 2,3, dan 2,9 cm dan jarak tempuh fase gerak adalah 4 cm dan diperoleh nilai Rf 0,35, 0,45, 0,57, 0,73. Fraksi etil asetat, jarak tempuh sampel adalah 1,7 dan 1,8 cm dan jarak tempuh fase gerak adalah 4 cm dan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,43 dan 0,45. Sedangkan untuk penotolan fraksi etanol 1,2 cm dan jarak tempuh untuk pelarutnya adalah 4 cm dan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,3. 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Carolus, F.P., Fatimawali., dan Defny, S.W., 2014, Uji efektivitas Ekstrak Kulit Batang Jambu Mete (Anacardium Occidentale L.) terhadap penurunan Kadar Glukosa Darah pada Tikus putih Jantan Galur Wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi Aloksan, Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 3 (3).
  2. David, C., 2001, Gas Cromatography, Kogan Page, London. 
  3. Hernani, Tri, M., dan Christina W., 2007, Pemilihan Pelarut pada Pemurnian Ekstrak Lengkuas (Alpinia galanga) secara Ekstraksi, J.Pascapanen, Vol. 4 (1). 
  4. Rengginasti, A.D., dan Aryoko Widodo., 2008, Pemisahan senyawa minyak atsiri rimpang lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) secara kromatografi lapis tipis dan aktivitasnya terhadap Malassezia furfur in vitro, Artikel Penelitian Ilmiah, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. 
  5. Rudi,L. 2010. Penuntun Dasar-Dasar Pemisahan Analitik. Universitas Haluoleo. Kendari. 
  6. Veriony, L., Sudarsono., dan Agung. E.N., 2011, Aktivitas Antiinflamasi rebusan Kulit Batang Jambu Mete (Anacardium occidentale L.) pada Udema kaki Tikus terinduksi Karagenin, Majalah Obat Tradisional, Vol. 16 (3).