LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN - ElrinAlria
LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
PERCOBAAN III
LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

A. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk mengkaji proses adsorpsi menggunakan norit.

B. LANDASAN TEORI
Norit atau karbon aktif merupakan laksansia dengan spektrum kerja luas dan masa kerja cepat dapat menyerap bakteri, toksin, gas, akan tetapi tidak spesifik sehingga obat, nutrien, dan enzim dalam saluran cerna juga akan diserap (Pudjiastuti dan Yun, 2006).

Arang aktif adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap/adsorpsi yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap. Arang aktif dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon baik organik atau anorganik, tetapi yang biasa beredar di pasaran berasal dari tempurung kelapa, kayu dan batubara. Pada umumnya arang aktif digunakan sebagai bahan penyerap dan penjernih (Suhartana, 2006).

Arang aktif telah banyak digunakan untuk mengadsorpsi logam berat, diantaranya untuk mengadsorpsi tembaga, alumunium dan kadmium (Wirawan, 2010). 

Struktur arang/karbon aktif menyerupai struktur grafit. Grafit mempunyai susunan seperti pelat-pelat yang sebagian besar terbentuk dari atom karbon yang berbentuk heksagonal. Jarak antara atom karbon dalam masing-masing lapisan 1,42 A. Pada grafit, jarak antara pelat-pelat lebih dekat dan terikat lebih teratur daripada struktur karbon aktif (Suhartana, 2006).

Karbon aktif adalah senyawa karbon yang telah ditingkatkan daya adsorpsinya dengan proses aktivasi. Pada proses aktivasi ini terjadi penghilangan hidrogen, gas-gas dan air dari permukaan karbon sehingga terjadi perubahan fisik pada permukaannya (Idrus, dkk., 2013).

Luas permukaan karbon aktif berkisar antara 300-3500 m/g dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang menyebabkan karbon aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Pada karbon aktif berupa bubuk, semakin besar luas area permukaan pori adsorben maka daya adsorpsinya juga semakin besar Luas permukaan karbon aktif berkisar antara 300-3500 m/g dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang menyebabkan karbon aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Pada karbon aktif berupa bubuk, semakin besar luas area permukaan pori adsorben maka daya adsorpsinya juga semakin besar (Idrus, dkk., 2013).

Karbon aktif dibuat melalui dua tahapan yakni karbonisasi dan aktivasi. Proses karbonisasi merupakan proses pembentukan karbon dari bahan baku dan proses ini sempurna pada suhu 400-600 oC. Sedangkan aktivasi adalah proses pengubahan karbon dari daya serap rendah menjadi karbon yang mempunyai daya serap tinggi. Untuk menaikkan luas permukaan dan memperoleh karbon yang berpori, karbon diaktivasi menggunakan uap panas, gas karbondioksida dengan suhu antara 700-1100 °C, atau penambahan bahan-bahan mineral sebagai aktivator (Idrus, dkk., 2013).

Massa karbon aktif dipengaruhi oleh suhu aktivasi. Semakin tinggi suhu aktivasi maka massa karbon aktif semakin berkurang. Selain itu, semakin tinggi suhu aktivasi karbon aktif akan semakin banyak kadar air yang menguap sehingga mempengaruhi kualitas karbon aktif Massa karbon aktif dipengaruhi oleh suhu aktivasi. Semakin tinggi suhu aktivasi maka massa karbon aktif semakin berkurang. Selain itu, semakin tinggi suhu aktivasi karbon aktif akan semakin banyak kadar air yang menguap sehingga mempengaruhi kualitas karbon aktif (Idrus, dkk., 2013).

Adsorpsi merupakan suatu proses penyerapan oleh padatan tertentu terhadap zat tertentu yang terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat tanpa meresap ke dalam. Proses adsorpsi dapat terjadi karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan padatan yang tidak seimbang. Adsorpsi dapat terjadi pada antarfasa padat-cair, padat-gas atau gas-cair. Molekul yang terikat pada bagian antarmuka disebut adsorbat, sedangkan permukaan yang menyerap molekul-molekul adsorbat disebut adsorben. Pada adsorpsi, interaksi antara adsorben dengan adsorbat hanya terjadi pada permukaan adsorben. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi adalah luas permukaan, jenis adsorbat, konsentrasi adsorbat, temperatur, pH, kecepatan pengadukan dan waktu kontak adsorpsi (Tandi, 2012).

Kecepatan adsorpsi tidak hanya tergantung pada perbedaan konsentrasi dan pada luas permukaan adsorben, melainkan juga pada suhu, tekanan (untuk gas), ukuran partikel dan porositas adsorben. Juga tergantung pada ukuran molekul bahan yang akan diadsorpsi dan pada viskositas campuran yang akan dipisahkan (cairan, gas) (Endahwati dan Suprihatin).

Adsorben merupakan bahan yang sangat berpori, dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding-dinding pori atau pada letak-letak tertentu di dalam partikel itu. Karena pori-pori itu biasanya sangat kecil, luas perrmukaan dalam menjadi beberapa orde besaran lebih besar dari permukaan luar, dan bisa sampai 2.000 m2/gr. Pemisahan terjadi karena perbedaan bobot molekul atau karena perbedaaan polaritas menyebabkan sebagian besar molekul melekat pada permukaan itu lebih erat daripada molekul-molekul lainnya. Dalam kebanyakan hal, komponen yang diadsorpsi melekat sedemikian kuat sehingga memungkinkan pemisahan komponen itu secara menyeluruh dari fluida tanpa terlalu banyak adsorbsi terhadap komponen lain. Regenerasi adsorben dapat dilaksanakan kemudian mendapatkan adsorbat dalam bentuk terkonsentrasi atau hampir murni (Tandi, dkk., 2012). 

Peristiwa adsorpsi merupakan suatu fenomena permukaan, yaitu terjadinya penambahan konsentrasi komponen tertentu pada permukaan antara dua fase. Adsorpsi dapat dibedakan menjadi adsorpsi fisis (physical adsorption) dan adsorpsi kimia (chemical adsoption). Secara umum adsorpsi fisis mempunyai gaya intermolekular yang relatif lemah, sedangkan pada adsorpsi kimia terjadi pembentukan ikatan kimia antara molekul adsorbat dengan molekul yang terikat pada permukaan adsorben (Kundari dan Slamet, 2008).

Adsorpsi suatu zat pada permukaan adsorben bergantung pada beberapa faktor dan memiliki pola isoterm adsorpsi tertentu. Untuk proses adsorpsi yang terjadi dalam larutan, jumlah zat yang teradsorpsi bergantung pada : (1) jenis adsorben, (2) jenis adsorbat atau zat yang teradsorpsi, (3) luas permukaan adsorben, (4) konsentrasi zat terlarut, dan (5) temperatur. Terdapat tiga pola isoterm adsorpsi, yaitu isoterm adsorpsi Freundlich, Lamngmuir, dan BET (Brunauer, Emmet dan Teller). Adsorpsi molekul atau ion pada permukaan padatan umumnya terbatas pada lapisan satu molekul (monolayer). Dengan demikian adsorpsi tersebut biasanya mengikuti persamaan adsorpsi Freundlich dan atau Langmuir (Suardana, 2008).

Isoterm adsorpsi merupakan suatu keadaan kesetimbangan yaitu tidak ada lagi perubahan konsentrasi adsorbat baik di fase terjerap maupun pada fase gas atau cair. Isoterm adsorpsi biasanya digambarkan dalam bentuk kurva berupa plot distribusi kesetimbangan adsorbat antara fase padat dengan fase gas atau cair pada suhu konstan. Isoterm adsorpsi merupakan hal yang mendasar dalam penentuan kapasitas dan afinitas adsorpsi suatu adsorbat pada permukaan adsorben (Tandi, dkk., 2012).

Diare adalah suatu kondisi dimana frekuensi defekasi melebihi frekuensi normal dengan konsistensi feses cair atau seperti bubur yang terjadi secara berulang lebih dari 3 kali sehari. Diare dapat bersifat akut disebabkan oleh bakteri atau virus dan kronis yang berkaitan dengan gangguan gastrointestinal. Berdasarkan mekanisme penyebabnya diare dibedakan menjadi a) karena kurangnya absorbsi zat osmotik dari lumen usus(diare osmotik), b) meningkatnya sekresi elektrolit dan air kedalam lumen usus(diare sekretorik) disebabkan oleh bakteri atau, c) naiknya permiabilitas mukosa usus atau terganggunya motilitas usus karena penyakit pada usus halus atau tidak terabsorbsinya asam empedu (Pudjiastuti dan Yun, 2006).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Labu takar 250 ml 
  • Labu takar 100 ml 
  • Labu takar 50 ml 
  • Pipet ukur 25 ml 
  • Filler 
  • Botol semprot 
  • Gelas kimia 50 ml 
  • Gelas kimia 100 ml 
  • Gelas kimia 250 ml 
  • Kuvet 
  • Batang pengaduk 
  • Corong 
  • Pipet tetes 
  • Lumpang dan alu 
  • Spatula besi 
  • Spektronik 20D 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • Aquadest 
  • Metilen red 
  • Alkohol 
  • Kertas saring 
  • Kertas perkamen 
  • Norit 

D. URAIAN BAHAN
1. Aquadest (Dirjen POM RI, 1979:96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling, aquadest
Rumus kimia : H2O
Berat molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyi rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Sebagai pelarut

2. Metil Merah (depkes RI, 1997 Halaman 705)
Nama resmi : BENZOAT HIDROKSIDA
Nama lain : Metil Merah
Rumus kimia : C15 H15 N2 O3
Berat molekul : 305,76
Pemerian : Serbuk merah gelap
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan larut dalam etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pewarna

3. Alkohol (Dirjen POM RI, 1979)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, alcohol
Rumus kimia : C2H6O
Berat molekul : 46,07
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform dan dalam eter 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api
Khasiat : ko-solvent

E. PRESEDUR KERJA
LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

F. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan
LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Endahwati, L., Suprihatin, “Kombinasi Proses Aerasi, Adsorpsi, Dan Filtrasi Pengolahan Air Limbah Industri Perikanan”, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, Vol. 1, No. 2.

Idrus, R., Boni Pahlanop Lapanporo, Yoga Satria Putra, 2013, “Pengaruh Suhu Aktivasi Terhadap Kualitas Karbon Aktif Berbahan Dasar Tempurung Kelapa”, Prisma Fisika, Vol. 1, No. 1.

Kundari, N., A., Slamet Wiyuniati, 2008, “Tinjauan Kesetimbangan Adsorpsi Tembaga Dalam Limbah Pencuci PCB Dengan Zeolit”, Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir, ISSN.

Pudjiastuti, Yun Astuti Nugroho, 2006, “ Uji Laksatif Dan Toksisitas Akut Jus Daun Pace (Morinda citrifolia L.) Pada Tikus Putih”, Jurnal Bahan Alam Indonesia, Vol. 5, No. 1, ISSN.

Suardana, I., N., 2008, “Optimalisasi Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion Kromium (III)”, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humanoria, Vol. 2, No. 2.

Suhartana, 2006, “Pemanfaatan Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Baku Arang Aktif dan Aplikasinya Untuk Penjernihan Air Sumur Di Desa Belor Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan”, Berkala Fisika, Vol. 9, No. 3, ISSN.

Tandi, E., Ismail Fahmi Hasibuan, Hamidah Harahap, 2012, “Kemampuan Adsorben Limbah Lateks Karet Alam Terhadap Minyak Pelumas Dalam Air”, Jurnal Teknik Kimia, Vol. 2, No. 2.

Wirawan, T., 2010, “Pemanfaatan Arang Aktif Dari Tempurung Jatropha Curcas L. Yang Termodifikasi Sebagai Adsorben Logam Tembaga (Cu)”, Jurnal Kimia Mulawarman, Vol. 8, No. 1.

LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
PERCOBAAN III
LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

A. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk mengkaji proses adsorpsi menggunakan norit.

B. LANDASAN TEORI
Norit atau karbon aktif merupakan laksansia dengan spektrum kerja luas dan masa kerja cepat dapat menyerap bakteri, toksin, gas, akan tetapi tidak spesifik sehingga obat, nutrien, dan enzim dalam saluran cerna juga akan diserap (Pudjiastuti dan Yun, 2006).

Arang aktif adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap/adsorpsi yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap. Arang aktif dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon baik organik atau anorganik, tetapi yang biasa beredar di pasaran berasal dari tempurung kelapa, kayu dan batubara. Pada umumnya arang aktif digunakan sebagai bahan penyerap dan penjernih (Suhartana, 2006).

Arang aktif telah banyak digunakan untuk mengadsorpsi logam berat, diantaranya untuk mengadsorpsi tembaga, alumunium dan kadmium (Wirawan, 2010). 

Struktur arang/karbon aktif menyerupai struktur grafit. Grafit mempunyai susunan seperti pelat-pelat yang sebagian besar terbentuk dari atom karbon yang berbentuk heksagonal. Jarak antara atom karbon dalam masing-masing lapisan 1,42 A. Pada grafit, jarak antara pelat-pelat lebih dekat dan terikat lebih teratur daripada struktur karbon aktif (Suhartana, 2006).

Karbon aktif adalah senyawa karbon yang telah ditingkatkan daya adsorpsinya dengan proses aktivasi. Pada proses aktivasi ini terjadi penghilangan hidrogen, gas-gas dan air dari permukaan karbon sehingga terjadi perubahan fisik pada permukaannya (Idrus, dkk., 2013).

Luas permukaan karbon aktif berkisar antara 300-3500 m/g dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang menyebabkan karbon aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Pada karbon aktif berupa bubuk, semakin besar luas area permukaan pori adsorben maka daya adsorpsinya juga semakin besar Luas permukaan karbon aktif berkisar antara 300-3500 m/g dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang menyebabkan karbon aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Pada karbon aktif berupa bubuk, semakin besar luas area permukaan pori adsorben maka daya adsorpsinya juga semakin besar (Idrus, dkk., 2013).

Karbon aktif dibuat melalui dua tahapan yakni karbonisasi dan aktivasi. Proses karbonisasi merupakan proses pembentukan karbon dari bahan baku dan proses ini sempurna pada suhu 400-600 oC. Sedangkan aktivasi adalah proses pengubahan karbon dari daya serap rendah menjadi karbon yang mempunyai daya serap tinggi. Untuk menaikkan luas permukaan dan memperoleh karbon yang berpori, karbon diaktivasi menggunakan uap panas, gas karbondioksida dengan suhu antara 700-1100 °C, atau penambahan bahan-bahan mineral sebagai aktivator (Idrus, dkk., 2013).

Massa karbon aktif dipengaruhi oleh suhu aktivasi. Semakin tinggi suhu aktivasi maka massa karbon aktif semakin berkurang. Selain itu, semakin tinggi suhu aktivasi karbon aktif akan semakin banyak kadar air yang menguap sehingga mempengaruhi kualitas karbon aktif Massa karbon aktif dipengaruhi oleh suhu aktivasi. Semakin tinggi suhu aktivasi maka massa karbon aktif semakin berkurang. Selain itu, semakin tinggi suhu aktivasi karbon aktif akan semakin banyak kadar air yang menguap sehingga mempengaruhi kualitas karbon aktif (Idrus, dkk., 2013).

Adsorpsi merupakan suatu proses penyerapan oleh padatan tertentu terhadap zat tertentu yang terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat tanpa meresap ke dalam. Proses adsorpsi dapat terjadi karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan padatan yang tidak seimbang. Adsorpsi dapat terjadi pada antarfasa padat-cair, padat-gas atau gas-cair. Molekul yang terikat pada bagian antarmuka disebut adsorbat, sedangkan permukaan yang menyerap molekul-molekul adsorbat disebut adsorben. Pada adsorpsi, interaksi antara adsorben dengan adsorbat hanya terjadi pada permukaan adsorben. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi adalah luas permukaan, jenis adsorbat, konsentrasi adsorbat, temperatur, pH, kecepatan pengadukan dan waktu kontak adsorpsi (Tandi, 2012).

Kecepatan adsorpsi tidak hanya tergantung pada perbedaan konsentrasi dan pada luas permukaan adsorben, melainkan juga pada suhu, tekanan (untuk gas), ukuran partikel dan porositas adsorben. Juga tergantung pada ukuran molekul bahan yang akan diadsorpsi dan pada viskositas campuran yang akan dipisahkan (cairan, gas) (Endahwati dan Suprihatin).

Adsorben merupakan bahan yang sangat berpori, dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding-dinding pori atau pada letak-letak tertentu di dalam partikel itu. Karena pori-pori itu biasanya sangat kecil, luas perrmukaan dalam menjadi beberapa orde besaran lebih besar dari permukaan luar, dan bisa sampai 2.000 m2/gr. Pemisahan terjadi karena perbedaan bobot molekul atau karena perbedaaan polaritas menyebabkan sebagian besar molekul melekat pada permukaan itu lebih erat daripada molekul-molekul lainnya. Dalam kebanyakan hal, komponen yang diadsorpsi melekat sedemikian kuat sehingga memungkinkan pemisahan komponen itu secara menyeluruh dari fluida tanpa terlalu banyak adsorbsi terhadap komponen lain. Regenerasi adsorben dapat dilaksanakan kemudian mendapatkan adsorbat dalam bentuk terkonsentrasi atau hampir murni (Tandi, dkk., 2012). 

Peristiwa adsorpsi merupakan suatu fenomena permukaan, yaitu terjadinya penambahan konsentrasi komponen tertentu pada permukaan antara dua fase. Adsorpsi dapat dibedakan menjadi adsorpsi fisis (physical adsorption) dan adsorpsi kimia (chemical adsoption). Secara umum adsorpsi fisis mempunyai gaya intermolekular yang relatif lemah, sedangkan pada adsorpsi kimia terjadi pembentukan ikatan kimia antara molekul adsorbat dengan molekul yang terikat pada permukaan adsorben (Kundari dan Slamet, 2008).

Adsorpsi suatu zat pada permukaan adsorben bergantung pada beberapa faktor dan memiliki pola isoterm adsorpsi tertentu. Untuk proses adsorpsi yang terjadi dalam larutan, jumlah zat yang teradsorpsi bergantung pada : (1) jenis adsorben, (2) jenis adsorbat atau zat yang teradsorpsi, (3) luas permukaan adsorben, (4) konsentrasi zat terlarut, dan (5) temperatur. Terdapat tiga pola isoterm adsorpsi, yaitu isoterm adsorpsi Freundlich, Lamngmuir, dan BET (Brunauer, Emmet dan Teller). Adsorpsi molekul atau ion pada permukaan padatan umumnya terbatas pada lapisan satu molekul (monolayer). Dengan demikian adsorpsi tersebut biasanya mengikuti persamaan adsorpsi Freundlich dan atau Langmuir (Suardana, 2008).

Isoterm adsorpsi merupakan suatu keadaan kesetimbangan yaitu tidak ada lagi perubahan konsentrasi adsorbat baik di fase terjerap maupun pada fase gas atau cair. Isoterm adsorpsi biasanya digambarkan dalam bentuk kurva berupa plot distribusi kesetimbangan adsorbat antara fase padat dengan fase gas atau cair pada suhu konstan. Isoterm adsorpsi merupakan hal yang mendasar dalam penentuan kapasitas dan afinitas adsorpsi suatu adsorbat pada permukaan adsorben (Tandi, dkk., 2012).

Diare adalah suatu kondisi dimana frekuensi defekasi melebihi frekuensi normal dengan konsistensi feses cair atau seperti bubur yang terjadi secara berulang lebih dari 3 kali sehari. Diare dapat bersifat akut disebabkan oleh bakteri atau virus dan kronis yang berkaitan dengan gangguan gastrointestinal. Berdasarkan mekanisme penyebabnya diare dibedakan menjadi a) karena kurangnya absorbsi zat osmotik dari lumen usus(diare osmotik), b) meningkatnya sekresi elektrolit dan air kedalam lumen usus(diare sekretorik) disebabkan oleh bakteri atau, c) naiknya permiabilitas mukosa usus atau terganggunya motilitas usus karena penyakit pada usus halus atau tidak terabsorbsinya asam empedu (Pudjiastuti dan Yun, 2006).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Labu takar 250 ml 
  • Labu takar 100 ml 
  • Labu takar 50 ml 
  • Pipet ukur 25 ml 
  • Filler 
  • Botol semprot 
  • Gelas kimia 50 ml 
  • Gelas kimia 100 ml 
  • Gelas kimia 250 ml 
  • Kuvet 
  • Batang pengaduk 
  • Corong 
  • Pipet tetes 
  • Lumpang dan alu 
  • Spatula besi 
  • Spektronik 20D 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • Aquadest 
  • Metilen red 
  • Alkohol 
  • Kertas saring 
  • Kertas perkamen 
  • Norit 

D. URAIAN BAHAN
1. Aquadest (Dirjen POM RI, 1979:96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling, aquadest
Rumus kimia : H2O
Berat molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyi rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Sebagai pelarut

2. Metil Merah (depkes RI, 1997 Halaman 705)
Nama resmi : BENZOAT HIDROKSIDA
Nama lain : Metil Merah
Rumus kimia : C15 H15 N2 O3
Berat molekul : 305,76
Pemerian : Serbuk merah gelap
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan larut dalam etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pewarna

3. Alkohol (Dirjen POM RI, 1979)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, alcohol
Rumus kimia : C2H6O
Berat molekul : 46,07
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform dan dalam eter 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api
Khasiat : ko-solvent

E. PRESEDUR KERJA
LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

F. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan
LAPORAN NORIT SEBAGAI ADSORBEN

DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Endahwati, L., Suprihatin, “Kombinasi Proses Aerasi, Adsorpsi, Dan Filtrasi Pengolahan Air Limbah Industri Perikanan”, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, Vol. 1, No. 2.

Idrus, R., Boni Pahlanop Lapanporo, Yoga Satria Putra, 2013, “Pengaruh Suhu Aktivasi Terhadap Kualitas Karbon Aktif Berbahan Dasar Tempurung Kelapa”, Prisma Fisika, Vol. 1, No. 1.

Kundari, N., A., Slamet Wiyuniati, 2008, “Tinjauan Kesetimbangan Adsorpsi Tembaga Dalam Limbah Pencuci PCB Dengan Zeolit”, Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir, ISSN.

Pudjiastuti, Yun Astuti Nugroho, 2006, “ Uji Laksatif Dan Toksisitas Akut Jus Daun Pace (Morinda citrifolia L.) Pada Tikus Putih”, Jurnal Bahan Alam Indonesia, Vol. 5, No. 1, ISSN.

Suardana, I., N., 2008, “Optimalisasi Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion Kromium (III)”, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humanoria, Vol. 2, No. 2.

Suhartana, 2006, “Pemanfaatan Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Baku Arang Aktif dan Aplikasinya Untuk Penjernihan Air Sumur Di Desa Belor Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan”, Berkala Fisika, Vol. 9, No. 3, ISSN.

Tandi, E., Ismail Fahmi Hasibuan, Hamidah Harahap, 2012, “Kemampuan Adsorben Limbah Lateks Karet Alam Terhadap Minyak Pelumas Dalam Air”, Jurnal Teknik Kimia, Vol. 2, No. 2.

Wirawan, T., 2010, “Pemanfaatan Arang Aktif Dari Tempurung Jatropha Curcas L. Yang Termodifikasi Sebagai Adsorben Logam Tembaga (Cu)”, Jurnal Kimia Mulawarman, Vol. 8, No. 1.