LAPORAN PEMBUATAN MEDIA DAN MENUMBUHKAN MIKROBA - ElrinAlria
LAPORAN PEMBUATAN MEDIA DAN MENUMBUHKAN MIKROBA

PEMBUATAN MEDIA DAN MENUMBUHKAN MIKROBA 
LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI FARMASI
PERCOBAAN I DAN II
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mikroorganisme (jasad renik) merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil, yang mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang bisa berperan sebagai kawan maupun lawan bagi kehidupan manusia.

Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya.

Menumbuhkan mikroorganisme yang sudah dibiakan (murni) digunakan media. Media merupakan campuran dari beberapa zat makanan untuk pertumbuhan mikroba dan berfungsi sebagai nutrisi bagi mikroba tersebut. Media dibedakan berdasarkan fase ( sifat fisik media , yaitu media padat, media setengah padat, media cair, dan berdasarkan komposisinya , yaitu media sintesis , media semi sintesis, dan media non sintesis. Dari media tersebut maka kita dapat mengetahui sifat dan bentuk (koloni) dari mikroba.

Selain itu dalam dunia kesehatan perlu dilakukan sterilisasi, karena sangatlah penting untuk memberikan efek terapeutik yang maksimal. Sterilisasi dalam mikrobiologi merupakan proses penghilangan semua jenis organisme hidup, dalam hal ini adalah mikroorganisme (protozoa, fungi, bakteri, mycoplasma, virus) yang tedapat pada atau di dalam suatu benda. Terapat metode yang efektif dengan melalui proses yang melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme.

B. Tujuan
Tujuan percobaan ini adalah :
  1. Untuk mengetahui cara pembuatan NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dekstroe Agar) sebagai medium pertumbuhan mikro.
  2. Untuk mengetahui metode sterilisasi yang digunakan pada saat praktikum bioteknologi farmasi.

C. Manfaat 
Manfaat percobaan ini adalah :
  1. Agar mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dekstroe Agar).
  2. Agar mahasiswa dapat mengetahui metode serta alat yang digunakan untuk sterilisasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme hidup yang berukuran kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme terdapat dimana-mana. Interaksinya dengan sesama mikroorganisme ataupun dengan organisme lain dapat berlangsung dngan cara yang aman dan menguntungkan maupun merugikan. Mikroorganisme cenderung diasosiasikan dengan penyakit infeksi ataupun pembusukan makanan (Pratiwi, 2008).

Media adalah suatu substansi yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembang biakan jasad renik (mikroorganisme). Media dapat berbentuk padat, cair dan semi padat (semi solid). Selain mengandung zat makanan, media harus mengandung NaCl untuk menaikan tekanan osmose media. Tekanan ini sangat penting bagi keseimbangan fisikokhemis suatu sel bakteri yang tumbuh dalam media tersebut (Hidayat, 1999).

Medium umum untuk megisolasi fungi umumnya menggunakan Potato Dextrose Agar (PDA), Malt Extract Agar (MEA), dll. Untuk media khusus mempunyai komposisi yang khusus sesuai dengan fungi yang akan diisolasi. Ada yang dapat dibuat sendiri, ada yang sudah tersedia komersial. Medium untuk fungi xerofilik dari lingkungan sangat kering seperti spesies Eurotium herbariorum. Medium untuk fungi yang tumbuh dilingkungan sangat asam, seperti acar menganjurkan menggunakan medium Acetic Dichloran Yeast Extract Surcrose Agar. Umumnya medium yang baik untuk mengisolasi fungsi adalah Taoge Extract 6% Sucrose Agar (TEA), karena bahan-bahan untuk medium ini murah dan pembuatannya sanagt mudah (Gandjar, 2006).

Dekontaminasi adalah proses menghilangkan atau membunuh mikroorganisme sehingga objek aman untuk ditangani, tujuannya untuk melindungi praktikan yang melakukan percobaan menggunakan bakteri atau semacamnya. Tiga metode umum dalam proses dekontaminasi yaitu sterilisasi, desinfeksi dan sanitasi. Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikrob) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Pemanasan dapat dilakukan dengan cara pemijaran, pemanasan kering, menggunakan uap air panas, dan menggunakan uap air panas bertekanan (Agalloco, 2008).

Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang mengganggu atau merusak media atau mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Metode sterilisasi terbgi 3 yaitu sterilisasi secara fisik, kimia dan sterilisasi secara mekanik. Sterilisasi secara fisik membunuh mikroba dengan memakai panas. Salah satu alat untuk sterilisasi secra fisik yaitu autoklaf (Waluyo, 2011).

Sterilisasi dalam mikrobiologi ialah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang teradapat pada suatu benda. Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin). Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba) (Suriawiria, 2005).

Ada beberapa teknik yang dipergunakan untuk sterilisasi peralatan darigelas, alat pemotong, cairan/larutan, bahan-bahan kimia dan tanaman. Media dan semua peralatan harus steril sebelum digunakan. Jika tidak steril maka seluruh media akan tercemar oleh jamur dan bakteri yang dapat mematikan eksplan yang sedang bertumbuh. Ada beberapa macam sterilisasi antara lain sterilsasi dengan pemanasan kering, sterilisasi dengan pemanasan basah, sterilisasi dengan penyaringan dan sterilisasi dengan bahan kimia (Yuliarti, 2010). 

Dalam mensterilkan media, peralatan gelas, dan peralatan di laboratorium, para akhli mikrobioogi menggunakan suatu peralatan yang disebut autoklaf, yaitu suatu wadah pemanasan dengan tekanan tinggi yang dapat membunuh bahkan endospora dengan cara memanaskan sampai suhu 1200C (Campbell, 2003). 

Autoklaf digunakan sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi. Penggunaan autoklaf untuk sterilisasi, tutupnya jangan diletakkan sembarangan dan dibuka-buka karena isi botol atau tempat medium akan meluap dan hanya boleh dibuka ketika manometer menunjukkan angka 0 serta dilakukan pendinginan sedikit demi sedikit (Dwidjoseputro, 1994).

Autoklaf mempunyai cara kerja yang hampir sama dengan alat masak (pressure cooker), sebab alat ini merupakan sebuah bejana yang dapat diisi air dan ditutup rapat. Jika alat ini dipanaskan maka akan terjadi uap air yang tidak dapat keluar karena bejana tertutup rapat. Cara pengaturan tekana uap dalam alat ini adalah dengan mengatur katup yang terdapat pada tutup autoklaf (Daisy et al, 2012).

Proses sterilisasi melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Pemilihan mekanisme sterilisasi yang dilakukan hendaknya disesuaikan dengan sifat bahan yang akan disterilkan. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan menggunakan pemanasan, penggunaan sinar UV, sinar X, dan sinar-sinar yang memiliki panjang gelombang pendek (Pratiwi, 2008).

Oven dapat digunakan untuk sterilisasi yakni dengan prinsip menggunakan aliran udara panas dan kering. Alat-alat gelas sperti erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi atau pipet dapat disterilkan dengan alat ini. Untuk sterilisasi kering oven diatur pada suhu 170-1800C selama paling sedikit 2 jam. Namun, lama sterilisasi juga tergantung dari ketahanan alat terhadap panas. Oven dapat menggunakan pemanas listrik maupun pemanas gas. Oven prinsip kerjanya hampir sama dengan inkubator, tetapi suhu inkubator dapat diatur pada suhu pertumbuhan mikroba yang bersifat mesofil (15-550C). Suhu pertumbuhan optimum umumnya sekitar 250C. Pada kisaran suhu pertumbuhan, peningkatan suhu dapat mempercepat pertumbuhan tetapi kalau suhu terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan miselium jamur. Dengan menggunakan inkubator mikroba dapat ditumbuhkan pada suhu yang diinginkan dengan suhu stabil (Sumarsih, 2010).

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
LAPORAN PEMBUATAN MEDIA DAN MENUMBUHKAN MIKROBA


B. Pembahasan
Sterilisasi merupakan suatu proses untuk membunuh mikroorganisme sampai ke spora-sporanya, yang terdapat di dalam alat atau bahan makanan. Proses ini dilakukan dengan cara memanaskan alat atau bahan sampai temperatur 1210C, selama watu 15 menit. Sterilisasi dalam bidang mikrobiologi merupakan suatu upaya atau metode yang bertujuan untuk membebaskan alat-alat atau bahan/sampel secara lengkap dari dekontaminasi segala macam bentuk kehidupan mikroorganisme lain. Sterilisasi ini penting dilakukan dalam praktikum mikrobiologi, dengan tujuan agar bahan atau peralatan yang digunakan tersebut tidak terdapat kehadiran mikroorganisme lain yang tidak diinginkan yang akan mengganggu atau merusak media.

Sterilisasi yang paling umum dilakukan dapat berupa sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170 180 dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin). Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter. Sitem kerja filter, seperti pada saringan adalah melakukan seleksi terhadap pertikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba.

Medium adalah tempat untuk menumbuhkan mikroba. Medium merupakan substansi yang terdiri atas campuran zat-zat makanan (nutrien) yang dipergunakan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan mikroorganisme. Media pertumbuhan mikroorganisme terdiri atas beberapa jenis. Berdasarkan komposisinya, media terbagi menjadi tiga yaitu media sintetis, semi sintetis, dan non sintesis. Sedangkan berdasarkan bentuk fisiknya juga terbagi tiga yaitu media padat, semi padat dan cair. Percobaan Pembuatan Media ini dilakukan dengan membuat media alami (non sintetis) padat dan cair menggunakan kaldu udang.

Media padat adalah suatu media pertumbuhan mikroorganisme yang terdiri dari 15% agar. Media padat digunakan agar sel–sel pada atau dalam pembenihan padat tidak dapat bergerak. Oleh karena itu bila beberapa sel ditaruh pada atau dalam pembenihan padat, tiap sel akan tumbuh dan membentuk koloni yang terpisah. Media agar bening digunakan untuk menumbuhkan mikroba dipermukaan sehingga membentuk koloni yang dapat dilihat, dihitung dan diisolasi. Tidak dapat digunakan agar berwarna karena akan mempengaruhi dalam pengamatan koloni yang ditumbuhkan.

Pembuatan media yang dilakukan pada percobaan ini menggunakan kaldu udang dan glukosa. Penggunaan kaldu udang pada media ini bertujuan untuk menjadi sumber protein bagi pertumbuhan mikroba yang menyumbangkan unsur Nitrogen dan karbon. Sedangkan fungsi glukosa pada medium ini ialah untuk sumber energid an juga sumber karbon. 

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, A., Jane B.R., 2003, Biologi, Erlangga, Jakarta.

Daisy, P., Sriyanti H., dan Ari Wijayani, 2012, Teknik Kultur Jaringan, Kanisius Yogyakarta.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Inonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan

Gandjar, Indrawati, dan Wellyzar Sjamsuridzal, 2006, Mikrobiologi Dasar dan Terapan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Hidayat, Yusuf dan Sutarma.1999. Teknik Pembuatan Kultur Media Bakteri. Lokakarya Fungsional Non Peneliti. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.

Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta.

Waluyo, Lud, 2011, Mikrobiologi Umum, UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah, Malang. 

Sumarsih, Sri, 2010, Untung Besar Usaha Bibit Jamur Tiram, Penebar Swadaya, Jakarta.

LAPORAN PEMBUATAN MEDIA DAN MENUMBUHKAN MIKROBA

LAPORAN PEMBUATAN MEDIA DAN MENUMBUHKAN MIKROBA

PEMBUATAN MEDIA DAN MENUMBUHKAN MIKROBA 
LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI FARMASI
PERCOBAAN I DAN II
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mikroorganisme (jasad renik) merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil, yang mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang bisa berperan sebagai kawan maupun lawan bagi kehidupan manusia.

Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya.

Menumbuhkan mikroorganisme yang sudah dibiakan (murni) digunakan media. Media merupakan campuran dari beberapa zat makanan untuk pertumbuhan mikroba dan berfungsi sebagai nutrisi bagi mikroba tersebut. Media dibedakan berdasarkan fase ( sifat fisik media , yaitu media padat, media setengah padat, media cair, dan berdasarkan komposisinya , yaitu media sintesis , media semi sintesis, dan media non sintesis. Dari media tersebut maka kita dapat mengetahui sifat dan bentuk (koloni) dari mikroba.

Selain itu dalam dunia kesehatan perlu dilakukan sterilisasi, karena sangatlah penting untuk memberikan efek terapeutik yang maksimal. Sterilisasi dalam mikrobiologi merupakan proses penghilangan semua jenis organisme hidup, dalam hal ini adalah mikroorganisme (protozoa, fungi, bakteri, mycoplasma, virus) yang tedapat pada atau di dalam suatu benda. Terapat metode yang efektif dengan melalui proses yang melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme.

B. Tujuan
Tujuan percobaan ini adalah :
  1. Untuk mengetahui cara pembuatan NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dekstroe Agar) sebagai medium pertumbuhan mikro.
  2. Untuk mengetahui metode sterilisasi yang digunakan pada saat praktikum bioteknologi farmasi.

C. Manfaat 
Manfaat percobaan ini adalah :
  1. Agar mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dekstroe Agar).
  2. Agar mahasiswa dapat mengetahui metode serta alat yang digunakan untuk sterilisasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme hidup yang berukuran kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme terdapat dimana-mana. Interaksinya dengan sesama mikroorganisme ataupun dengan organisme lain dapat berlangsung dngan cara yang aman dan menguntungkan maupun merugikan. Mikroorganisme cenderung diasosiasikan dengan penyakit infeksi ataupun pembusukan makanan (Pratiwi, 2008).

Media adalah suatu substansi yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembang biakan jasad renik (mikroorganisme). Media dapat berbentuk padat, cair dan semi padat (semi solid). Selain mengandung zat makanan, media harus mengandung NaCl untuk menaikan tekanan osmose media. Tekanan ini sangat penting bagi keseimbangan fisikokhemis suatu sel bakteri yang tumbuh dalam media tersebut (Hidayat, 1999).

Medium umum untuk megisolasi fungi umumnya menggunakan Potato Dextrose Agar (PDA), Malt Extract Agar (MEA), dll. Untuk media khusus mempunyai komposisi yang khusus sesuai dengan fungi yang akan diisolasi. Ada yang dapat dibuat sendiri, ada yang sudah tersedia komersial. Medium untuk fungi xerofilik dari lingkungan sangat kering seperti spesies Eurotium herbariorum. Medium untuk fungi yang tumbuh dilingkungan sangat asam, seperti acar menganjurkan menggunakan medium Acetic Dichloran Yeast Extract Surcrose Agar. Umumnya medium yang baik untuk mengisolasi fungsi adalah Taoge Extract 6% Sucrose Agar (TEA), karena bahan-bahan untuk medium ini murah dan pembuatannya sanagt mudah (Gandjar, 2006).

Dekontaminasi adalah proses menghilangkan atau membunuh mikroorganisme sehingga objek aman untuk ditangani, tujuannya untuk melindungi praktikan yang melakukan percobaan menggunakan bakteri atau semacamnya. Tiga metode umum dalam proses dekontaminasi yaitu sterilisasi, desinfeksi dan sanitasi. Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikrob) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Pemanasan dapat dilakukan dengan cara pemijaran, pemanasan kering, menggunakan uap air panas, dan menggunakan uap air panas bertekanan (Agalloco, 2008).

Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang mengganggu atau merusak media atau mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Metode sterilisasi terbgi 3 yaitu sterilisasi secara fisik, kimia dan sterilisasi secara mekanik. Sterilisasi secara fisik membunuh mikroba dengan memakai panas. Salah satu alat untuk sterilisasi secra fisik yaitu autoklaf (Waluyo, 2011).

Sterilisasi dalam mikrobiologi ialah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang teradapat pada suatu benda. Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin). Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba) (Suriawiria, 2005).

Ada beberapa teknik yang dipergunakan untuk sterilisasi peralatan darigelas, alat pemotong, cairan/larutan, bahan-bahan kimia dan tanaman. Media dan semua peralatan harus steril sebelum digunakan. Jika tidak steril maka seluruh media akan tercemar oleh jamur dan bakteri yang dapat mematikan eksplan yang sedang bertumbuh. Ada beberapa macam sterilisasi antara lain sterilsasi dengan pemanasan kering, sterilisasi dengan pemanasan basah, sterilisasi dengan penyaringan dan sterilisasi dengan bahan kimia (Yuliarti, 2010). 

Dalam mensterilkan media, peralatan gelas, dan peralatan di laboratorium, para akhli mikrobioogi menggunakan suatu peralatan yang disebut autoklaf, yaitu suatu wadah pemanasan dengan tekanan tinggi yang dapat membunuh bahkan endospora dengan cara memanaskan sampai suhu 1200C (Campbell, 2003). 

Autoklaf digunakan sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi. Penggunaan autoklaf untuk sterilisasi, tutupnya jangan diletakkan sembarangan dan dibuka-buka karena isi botol atau tempat medium akan meluap dan hanya boleh dibuka ketika manometer menunjukkan angka 0 serta dilakukan pendinginan sedikit demi sedikit (Dwidjoseputro, 1994).

Autoklaf mempunyai cara kerja yang hampir sama dengan alat masak (pressure cooker), sebab alat ini merupakan sebuah bejana yang dapat diisi air dan ditutup rapat. Jika alat ini dipanaskan maka akan terjadi uap air yang tidak dapat keluar karena bejana tertutup rapat. Cara pengaturan tekana uap dalam alat ini adalah dengan mengatur katup yang terdapat pada tutup autoklaf (Daisy et al, 2012).

Proses sterilisasi melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Pemilihan mekanisme sterilisasi yang dilakukan hendaknya disesuaikan dengan sifat bahan yang akan disterilkan. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan menggunakan pemanasan, penggunaan sinar UV, sinar X, dan sinar-sinar yang memiliki panjang gelombang pendek (Pratiwi, 2008).

Oven dapat digunakan untuk sterilisasi yakni dengan prinsip menggunakan aliran udara panas dan kering. Alat-alat gelas sperti erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi atau pipet dapat disterilkan dengan alat ini. Untuk sterilisasi kering oven diatur pada suhu 170-1800C selama paling sedikit 2 jam. Namun, lama sterilisasi juga tergantung dari ketahanan alat terhadap panas. Oven dapat menggunakan pemanas listrik maupun pemanas gas. Oven prinsip kerjanya hampir sama dengan inkubator, tetapi suhu inkubator dapat diatur pada suhu pertumbuhan mikroba yang bersifat mesofil (15-550C). Suhu pertumbuhan optimum umumnya sekitar 250C. Pada kisaran suhu pertumbuhan, peningkatan suhu dapat mempercepat pertumbuhan tetapi kalau suhu terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan miselium jamur. Dengan menggunakan inkubator mikroba dapat ditumbuhkan pada suhu yang diinginkan dengan suhu stabil (Sumarsih, 2010).

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
LAPORAN PEMBUATAN MEDIA DAN MENUMBUHKAN MIKROBA


B. Pembahasan
Sterilisasi merupakan suatu proses untuk membunuh mikroorganisme sampai ke spora-sporanya, yang terdapat di dalam alat atau bahan makanan. Proses ini dilakukan dengan cara memanaskan alat atau bahan sampai temperatur 1210C, selama watu 15 menit. Sterilisasi dalam bidang mikrobiologi merupakan suatu upaya atau metode yang bertujuan untuk membebaskan alat-alat atau bahan/sampel secara lengkap dari dekontaminasi segala macam bentuk kehidupan mikroorganisme lain. Sterilisasi ini penting dilakukan dalam praktikum mikrobiologi, dengan tujuan agar bahan atau peralatan yang digunakan tersebut tidak terdapat kehadiran mikroorganisme lain yang tidak diinginkan yang akan mengganggu atau merusak media.

Sterilisasi yang paling umum dilakukan dapat berupa sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170 180 dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin). Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter. Sitem kerja filter, seperti pada saringan adalah melakukan seleksi terhadap pertikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba.

Medium adalah tempat untuk menumbuhkan mikroba. Medium merupakan substansi yang terdiri atas campuran zat-zat makanan (nutrien) yang dipergunakan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan mikroorganisme. Media pertumbuhan mikroorganisme terdiri atas beberapa jenis. Berdasarkan komposisinya, media terbagi menjadi tiga yaitu media sintetis, semi sintetis, dan non sintesis. Sedangkan berdasarkan bentuk fisiknya juga terbagi tiga yaitu media padat, semi padat dan cair. Percobaan Pembuatan Media ini dilakukan dengan membuat media alami (non sintetis) padat dan cair menggunakan kaldu udang.

Media padat adalah suatu media pertumbuhan mikroorganisme yang terdiri dari 15% agar. Media padat digunakan agar sel–sel pada atau dalam pembenihan padat tidak dapat bergerak. Oleh karena itu bila beberapa sel ditaruh pada atau dalam pembenihan padat, tiap sel akan tumbuh dan membentuk koloni yang terpisah. Media agar bening digunakan untuk menumbuhkan mikroba dipermukaan sehingga membentuk koloni yang dapat dilihat, dihitung dan diisolasi. Tidak dapat digunakan agar berwarna karena akan mempengaruhi dalam pengamatan koloni yang ditumbuhkan.

Pembuatan media yang dilakukan pada percobaan ini menggunakan kaldu udang dan glukosa. Penggunaan kaldu udang pada media ini bertujuan untuk menjadi sumber protein bagi pertumbuhan mikroba yang menyumbangkan unsur Nitrogen dan karbon. Sedangkan fungsi glukosa pada medium ini ialah untuk sumber energid an juga sumber karbon. 

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, A., Jane B.R., 2003, Biologi, Erlangga, Jakarta.

Daisy, P., Sriyanti H., dan Ari Wijayani, 2012, Teknik Kultur Jaringan, Kanisius Yogyakarta.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Inonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan

Gandjar, Indrawati, dan Wellyzar Sjamsuridzal, 2006, Mikrobiologi Dasar dan Terapan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Hidayat, Yusuf dan Sutarma.1999. Teknik Pembuatan Kultur Media Bakteri. Lokakarya Fungsional Non Peneliti. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.

Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta.

Waluyo, Lud, 2011, Mikrobiologi Umum, UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah, Malang. 

Sumarsih, Sri, 2010, Untung Besar Usaha Bibit Jamur Tiram, Penebar Swadaya, Jakarta.