LAPORAN PEMBUATAN TEMPE KEDELAI - ElrinAlria

LAPORAN PEMBUATAN TEMPE KEDELAI

I. JUDUL : PEMBUATAN TEMPE KEDELAI 
II. TUJUAN : MEMBUAT TEMPE DENGAN MENGGUNAKAN JAMUR Rhizopus Oryzae
III. HARI/TANGGAL : JUMAT 10 APRIL 2015
IV. NAMA/STAMBUK:

V. Latar Belakang
Tempe adalah suatu makanan khas indonesia. Sebelum tahun 1900 sudah ditemukan cara pembuatan tempe di Indonesia, tapi prosedur pembuatannya masih sederhana. Menurut (Harli, 2004) Beberapa tempat di Jawa Tengah dan Timur telah memproduksi tempe dengan kualitas baik. Kualitas tempe yang baik itu diperoleh dengan memilih kedelai yang bermutu baik, pengolahan yang tepat dan penggunaan kedelai yang tidak dicampur dengan bahan lainnya. Pembuatan tempe didasarkan proses fermentasi, faktor inokulum dan kapang dari jenis Rhizopus oryzae berperan penting dalam proses tersebut. Selama proses fermentasi, jenis-jenis mikroorganisme lain mungkin turut bercampur, tetapi tidak menunjukkan aktivitas yang nyata. 

Fermentasi kapang hanya berlangsung aktif lebih kurang 1 hari, setelah itu berbentuk spora-spora yang berwarna putih kehitaman. Pada saat itu, kesempatan pertumbuhan dilakukan oleh jenis mikroorganisme lain, terutama bakteri-bakteri yang dapat menimbulkan pembusukan, sehingga tempe harus segera dimasak dan dimakan sebelum pembusukan terjadi. Untuk membuat tempe yang berkualitas baik dan tahan agak lama, harus diperhatikan sanitasi dan kemurnian inokulumnya. Tempe digolongkan dalam bahan makanan yang sangat mudah rusak atau busuk dan daya tahannya tidak melebihi daging ikan. 

Menurut (Janus, 2002) kedelai merupakan bahan makanan yang bermanfaat. Untuk mendapatkan manfaat tersebut perlu adanya pengolahan dan penyajian supaya zat-zat pentingnya tidak hilang. Salah satunya dibuat tempe. Tempe merupakan makanan alami yang baik untuk kesehatan. Di samping itu, tempe juga mengandung antioksidan yang dapat menghambat oksidasi kolesterol LDL darah manusia. Dengan demikian bisa menghambat infiltrasi lemak atau LDL teroksidasi ke dalam jaringan pembuluh darah. Ini dapat mencegah terjadinya penyempitan pembuluh darah yang memicu timbulnya penyakit jantung koroner. Pengolahan kedelai menjadi tempe dapat memberikan nilai lebih. 

Menurut (Cahyanti, 2010) selama proses fermentasi kedelai menjadi tempe terjadi produksi enzim fitase oleh Rhizopus oligosporus. Enzim fitase ini berfungsi memecah fitat yang merugikan, yaitu mengikat beberapa mineral sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal dalam tubuh. Kedelai yang merupakan bahan dasar tempe mengandung protein 35% bahkan pada varietas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40-43%. Dibandingkan dengan beras, jagung, singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur, kedelai punya kandungan punya kandungan protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka perlu adanya praktikum mengenai pembuatan tempe kedelai. 

VI. Metode Praktikum 
A. Alat dan Bahan 
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
LAPORAN PEMBUATAN TEMPE KEDELAI

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
  • a. Kedelai
  • b. Ragi tempe
  • c. Plastik/Daun pisang

B. Prosedur Kerja 
  • Membersihkan kacang kedelai dari kotoran kemudian mencucinya hingga bersih 
  • Merendam kedelai yang telah dibersihkan selama 12-18 jam 
  • Merebus kedelai yang telah direndam selama kurang lebih 30 menit hingga setengah matang. 
  • Setelah itu meniriskan dan mendinginkan 
  • Mengupas kedelai atau melepaskan kulit biji kedelai yang telah lunak, mencuci kedelai lalu membilasnya dengan air bersih 
  • Merebus kembali biji kedelai tersebut sampai empuk 
  • Meniriskan biji kedelai pada tampah/niru hingga dingin 
  • Menaburkan ragi tempe yang telah disiapkan sedikit demi sedikit sambil mengaduk-aduk supaya merata (1,5 gram ragi tempe untuk 2 Kg kacang kedelai) 
  • Selanjutnya membungkus dengan menggunakan kantung plastik atau daun pisang. Bila menggunakan kantung plastik maka memberi lubang-lubang kecil pada kantung dengan menggunakan lidi atau jarum. 
  • Menyusun bungkusan pada tempat yang rata dengan suhu kamar 38-400C dan tempat yang gelap selama satu atau dua hari hingga seluruh permukaan kacang kedelai tertutupi oleh jamur. 

VII. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil
LAPORAN PEMBUATAN TEMPE KEDELAI

B. Pembahasan
Tempe adalah makanan yang populer di Indonesia. Meskipun merupakan makanan yang sederhana, tetapi tempe mempunyai atau mengandung sumber protein nabati yang cukup tinggi. Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer (kapang roti), atau Rhizopus arrhizus, sehingga membentuk padatan kompak berwarna putih. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai ragi tempe. Warna putih pada tempe disebabkan adanya miselia jamur yang tumbuh pada permukaan biji kedelai. Tekstur kompak juga disebabkan oleh mise1ia jamur yang menghubungkan biji-biji kedelai tersebut. Banyak sekali jamur yang aktif selama fermentasi, tetapi umumnya para peneliti menganggap bahwa Rhizopus sp. merupakan jamur yang paling dominan. Jamur yang tumbuh pada kedelai tersebut menghasilkan enzim-enzim yang mampu merombak senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga senyawa tersebut dengan cepat dapat dipergunakan oleh tubuh.

Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam pembuatan tempe. Jamur ini dapat menghasilkan asam laktat dan mempunyai kemampuan mengurai lemak kompleks menjadi trigliserida dan asam amino. Selain itu jamur ini mampu menghasilkan protease. Jenis jamur ini dapat tumbuh dengan baik pada kisaran pH 3,4 – 6. Secara umum jamur memerlukan air dalam pertumbuhannya, tetapi kebutuhannya sangat sedikit.

Kedelai merupakan bahan pangan nabati yang mempunyai nilai protein yang tinggi, namun protein kedelai mempunyai faktor pembatas yaitu asam amino metionin dan sistein, sehingga pemanfaatan protein kedelai oleh tubuh tidaklah efisien. Salah satu cara untuk menghilangkan faktor pembatas yang ada pada protein kedelai adalah dengan mengkombinasikannya dengan beras yang memiliki kandungan asam amino metionin dan sistein yang cukup besar, sedangkan kekurangan asam amino lisin pada beras dapat dilengkapi oleh kelebihan lisin dari kedelai.

Langkah awal dalam membuat tempe kedelai yaitu mempersiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan yaitu untuk alat berupa baskom, saringan, dandang/panci, timbangan, thermometer, tampah/niru, dan kompor sedangkan bahan yang digunakan yaitu kedelai, ragi tempe dan plastik/daun pisang. Proses pembuatannya dimulai dengan proses pembersihan kacang kedelai dari kotoran selanjutnya perendaman kedelai yang telah dibersihkan selama 12 hingga 18 jam selanjutnya perebusan kedelai yang telah direndam selama kurang lebih 30 menit hingga setengah matang yang bertujuan untuk melepaskan kulit ari dari kedelai tersebut setelah itu proses penirisan dan pendinginan kedelai tersebut pada daun pisang kemudian pelepasan kulit biji kedelai yang telah lunak, selanjutnya proses perebusan kembali biji kedelai tersebut sampai empuk dilanjutkan dengan penirisan biji kedelai pada tampah/niru hingga dingin, proses berikutnya yaitu kondisi lingkungan dalam pembuatan tempe kedelai harus steril karena proses ini adalah penaburan ragi tempe yang telah disiapkan sedikit demi sedikit sambil mengaduk-aduk supaya merata (1,5 gram ragi tempe untuk 2 Kg kacang kedelai) selanjutnya pembungkusan kedelai yang telah diberi ragi dengan menggunakan kantung plastik atau daun pisang.

Bila menggunakan kantung plastik maka memberi lubang-lubang kecil pada kantung dengan menggunakan lidi atau jarum karena kapang tempe bersifat aerob obligat membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya sehingga apabila dalam proses fermentasi itu kurang oksigen, maka pertumbuhan kapang akan terhambat dan proses fermentasinya pun tidak berjalan lancar. Oleh karena itu, pada pembungkus tempe biasanya dilakukan penusukan dengan lidi yang bertujuan agar oksigen dapat masuk dalam bahan tempe. Sebaliknya, jika dalam proses fermentasinya kelebihan oksigen, dapat menyebabkan proses metabolismenya terlalu cepat, sehingga suhu naik dan pertumbuhan kapang terhambat. 

Langkah terakhir yaitu penyusunan bungkusan pada tempat yang rata dengan suhu kamar 38-40C dan tempat yang gelap selama satu atau dua hari hingga seluruh permukaan kacang kedelai tertutupi oleh jamur. Penyimpanan yang dilakukan yaitu selama 2-3 hari hal ini ditandai dengan pertumbuhan kapang yang hampir tetap dan tekstur yang lebih kompak. Jika proses fermentasi terlalu lama, menyebabkan terjadinya kenaikan jumlah bakteri, jumlah asam lemak bebas, pertumbuhan jamur juga menurun dan menyebabkan degradasi protein lanjut sehingga terbentuk amoniak. Akibatnya, tempe yang dihasilkan mengalami proses pembusukan dan aromanya menjadi tidak enak. 

Hal ini terjadi karena senyawa yang dipecah dalam proses fermentasi adalah karbohidrat, kemudian dengan suhu ruangan pada hari pertama yaitu 300C selanjutnya untuk warna yang diperoleh pada hari pertama yaitu berwarna putih, untuk aroma yang diperoleh yaitu berupa aroma kacang kedelai, untuk hari kedua yaitu dengan suhu ruangan 280C, untuk warna yang diperoleh masih berwarna putih seperti pada hari pertama begitu juga untuk aroma yang diperoleh belum mengalami perubahan masih beraroma kacang kedelai sedangkan pada hari ketiga dengan suhu penyimpanan 280C warna yang diperoleh mulai menunjukkan perubahan yaitu berwarna putih kekuningan dan aromanya juga telah mengalami perubahan yaitu beraroma ragi. Dengan suhu 300C maka bakteri akan mengalami pertumbuhan yang baik karena suhu ini merupakan suhu yang baik bagi pertumbuhan suatu bakteri. 

VIII Penutup
A. Simpulan
  1. Kedelai merupakan bahan makanan yang bermanfaat. Untuk mendapatkan manfaat tersebut perlu adanya pengolahan dan penyajian supaya zat-zat pentingnya tidak hilang. Salah satunya dibuat tempe. Tempe merupakan makanan alami yang baik untuk kesehatan. Di samping itu, tempe juga mengandung antioksidan yang dapat menghambat oksidasi kolesterol LDL darah manusia.
  2. Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam pembuatan tempe. Jamur ini dapat menghasilkan asam laktat dan mempunyai kemampuan mengurai lemak kompleks menjadi trigliserida dan asam amino. Selain itu jamur ini mampu menghasilkan protease. 
  3. Bila menggunakan kantung plastik untuk membungkus tempe yang telah dibuat maka memberi lubang-lubang kecil pada kantung dengan menggunakan lidi atau jarum karena kapang tempe bersifat aerob obligat membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya sehingga apabila dalam proses fermentasi itu kurang oksigen, maka pertumbuhan kapang akan terhambat dan proses fermentasinya pun tidak berjalan lancar. Oleh karena itu, pada pembungkus tempe biasanya dilakukan penusukan dengan lidi yang bertujuan agar oksigen dapat masuk dalam bahan tempe. 

B. Saran 
Saran yang dapat saya berikan pada praktikum kali ini yaitu mengenai kebersihan dalam proses pembuatan tempe kedelai sebaiknya kondisi alat-alat yang akan digunakan diperhatikan terlebih dahulu serta peserta yang bekerja juga harus benar-benar steril dalam mengerjakan pembuatan tempe kedelai. Kemudian dalam proses pembungkusan juga lebih diperhatikan lagi untuk meminimalisir kegagalan hasil pada pembuatan tempe kedelai.

LAPORAN PEMBUATAN TEMPE KEDELAI


LAPORAN PEMBUATAN TEMPE KEDELAI

I. JUDUL : PEMBUATAN TEMPE KEDELAI 
II. TUJUAN : MEMBUAT TEMPE DENGAN MENGGUNAKAN JAMUR Rhizopus Oryzae
III. HARI/TANGGAL : JUMAT 10 APRIL 2015
IV. NAMA/STAMBUK:

V. Latar Belakang
Tempe adalah suatu makanan khas indonesia. Sebelum tahun 1900 sudah ditemukan cara pembuatan tempe di Indonesia, tapi prosedur pembuatannya masih sederhana. Menurut (Harli, 2004) Beberapa tempat di Jawa Tengah dan Timur telah memproduksi tempe dengan kualitas baik. Kualitas tempe yang baik itu diperoleh dengan memilih kedelai yang bermutu baik, pengolahan yang tepat dan penggunaan kedelai yang tidak dicampur dengan bahan lainnya. Pembuatan tempe didasarkan proses fermentasi, faktor inokulum dan kapang dari jenis Rhizopus oryzae berperan penting dalam proses tersebut. Selama proses fermentasi, jenis-jenis mikroorganisme lain mungkin turut bercampur, tetapi tidak menunjukkan aktivitas yang nyata. 

Fermentasi kapang hanya berlangsung aktif lebih kurang 1 hari, setelah itu berbentuk spora-spora yang berwarna putih kehitaman. Pada saat itu, kesempatan pertumbuhan dilakukan oleh jenis mikroorganisme lain, terutama bakteri-bakteri yang dapat menimbulkan pembusukan, sehingga tempe harus segera dimasak dan dimakan sebelum pembusukan terjadi. Untuk membuat tempe yang berkualitas baik dan tahan agak lama, harus diperhatikan sanitasi dan kemurnian inokulumnya. Tempe digolongkan dalam bahan makanan yang sangat mudah rusak atau busuk dan daya tahannya tidak melebihi daging ikan. 

Menurut (Janus, 2002) kedelai merupakan bahan makanan yang bermanfaat. Untuk mendapatkan manfaat tersebut perlu adanya pengolahan dan penyajian supaya zat-zat pentingnya tidak hilang. Salah satunya dibuat tempe. Tempe merupakan makanan alami yang baik untuk kesehatan. Di samping itu, tempe juga mengandung antioksidan yang dapat menghambat oksidasi kolesterol LDL darah manusia. Dengan demikian bisa menghambat infiltrasi lemak atau LDL teroksidasi ke dalam jaringan pembuluh darah. Ini dapat mencegah terjadinya penyempitan pembuluh darah yang memicu timbulnya penyakit jantung koroner. Pengolahan kedelai menjadi tempe dapat memberikan nilai lebih. 

Menurut (Cahyanti, 2010) selama proses fermentasi kedelai menjadi tempe terjadi produksi enzim fitase oleh Rhizopus oligosporus. Enzim fitase ini berfungsi memecah fitat yang merugikan, yaitu mengikat beberapa mineral sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal dalam tubuh. Kedelai yang merupakan bahan dasar tempe mengandung protein 35% bahkan pada varietas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40-43%. Dibandingkan dengan beras, jagung, singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur, kedelai punya kandungan punya kandungan protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka perlu adanya praktikum mengenai pembuatan tempe kedelai. 

VI. Metode Praktikum 
A. Alat dan Bahan 
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
LAPORAN PEMBUATAN TEMPE KEDELAI

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
  • a. Kedelai
  • b. Ragi tempe
  • c. Plastik/Daun pisang

B. Prosedur Kerja 
  • Membersihkan kacang kedelai dari kotoran kemudian mencucinya hingga bersih 
  • Merendam kedelai yang telah dibersihkan selama 12-18 jam 
  • Merebus kedelai yang telah direndam selama kurang lebih 30 menit hingga setengah matang. 
  • Setelah itu meniriskan dan mendinginkan 
  • Mengupas kedelai atau melepaskan kulit biji kedelai yang telah lunak, mencuci kedelai lalu membilasnya dengan air bersih 
  • Merebus kembali biji kedelai tersebut sampai empuk 
  • Meniriskan biji kedelai pada tampah/niru hingga dingin 
  • Menaburkan ragi tempe yang telah disiapkan sedikit demi sedikit sambil mengaduk-aduk supaya merata (1,5 gram ragi tempe untuk 2 Kg kacang kedelai) 
  • Selanjutnya membungkus dengan menggunakan kantung plastik atau daun pisang. Bila menggunakan kantung plastik maka memberi lubang-lubang kecil pada kantung dengan menggunakan lidi atau jarum. 
  • Menyusun bungkusan pada tempat yang rata dengan suhu kamar 38-400C dan tempat yang gelap selama satu atau dua hari hingga seluruh permukaan kacang kedelai tertutupi oleh jamur. 

VII. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil
LAPORAN PEMBUATAN TEMPE KEDELAI

B. Pembahasan
Tempe adalah makanan yang populer di Indonesia. Meskipun merupakan makanan yang sederhana, tetapi tempe mempunyai atau mengandung sumber protein nabati yang cukup tinggi. Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer (kapang roti), atau Rhizopus arrhizus, sehingga membentuk padatan kompak berwarna putih. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai ragi tempe. Warna putih pada tempe disebabkan adanya miselia jamur yang tumbuh pada permukaan biji kedelai. Tekstur kompak juga disebabkan oleh mise1ia jamur yang menghubungkan biji-biji kedelai tersebut. Banyak sekali jamur yang aktif selama fermentasi, tetapi umumnya para peneliti menganggap bahwa Rhizopus sp. merupakan jamur yang paling dominan. Jamur yang tumbuh pada kedelai tersebut menghasilkan enzim-enzim yang mampu merombak senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga senyawa tersebut dengan cepat dapat dipergunakan oleh tubuh.

Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam pembuatan tempe. Jamur ini dapat menghasilkan asam laktat dan mempunyai kemampuan mengurai lemak kompleks menjadi trigliserida dan asam amino. Selain itu jamur ini mampu menghasilkan protease. Jenis jamur ini dapat tumbuh dengan baik pada kisaran pH 3,4 – 6. Secara umum jamur memerlukan air dalam pertumbuhannya, tetapi kebutuhannya sangat sedikit.

Kedelai merupakan bahan pangan nabati yang mempunyai nilai protein yang tinggi, namun protein kedelai mempunyai faktor pembatas yaitu asam amino metionin dan sistein, sehingga pemanfaatan protein kedelai oleh tubuh tidaklah efisien. Salah satu cara untuk menghilangkan faktor pembatas yang ada pada protein kedelai adalah dengan mengkombinasikannya dengan beras yang memiliki kandungan asam amino metionin dan sistein yang cukup besar, sedangkan kekurangan asam amino lisin pada beras dapat dilengkapi oleh kelebihan lisin dari kedelai.

Langkah awal dalam membuat tempe kedelai yaitu mempersiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan yaitu untuk alat berupa baskom, saringan, dandang/panci, timbangan, thermometer, tampah/niru, dan kompor sedangkan bahan yang digunakan yaitu kedelai, ragi tempe dan plastik/daun pisang. Proses pembuatannya dimulai dengan proses pembersihan kacang kedelai dari kotoran selanjutnya perendaman kedelai yang telah dibersihkan selama 12 hingga 18 jam selanjutnya perebusan kedelai yang telah direndam selama kurang lebih 30 menit hingga setengah matang yang bertujuan untuk melepaskan kulit ari dari kedelai tersebut setelah itu proses penirisan dan pendinginan kedelai tersebut pada daun pisang kemudian pelepasan kulit biji kedelai yang telah lunak, selanjutnya proses perebusan kembali biji kedelai tersebut sampai empuk dilanjutkan dengan penirisan biji kedelai pada tampah/niru hingga dingin, proses berikutnya yaitu kondisi lingkungan dalam pembuatan tempe kedelai harus steril karena proses ini adalah penaburan ragi tempe yang telah disiapkan sedikit demi sedikit sambil mengaduk-aduk supaya merata (1,5 gram ragi tempe untuk 2 Kg kacang kedelai) selanjutnya pembungkusan kedelai yang telah diberi ragi dengan menggunakan kantung plastik atau daun pisang.

Bila menggunakan kantung plastik maka memberi lubang-lubang kecil pada kantung dengan menggunakan lidi atau jarum karena kapang tempe bersifat aerob obligat membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya sehingga apabila dalam proses fermentasi itu kurang oksigen, maka pertumbuhan kapang akan terhambat dan proses fermentasinya pun tidak berjalan lancar. Oleh karena itu, pada pembungkus tempe biasanya dilakukan penusukan dengan lidi yang bertujuan agar oksigen dapat masuk dalam bahan tempe. Sebaliknya, jika dalam proses fermentasinya kelebihan oksigen, dapat menyebabkan proses metabolismenya terlalu cepat, sehingga suhu naik dan pertumbuhan kapang terhambat. 

Langkah terakhir yaitu penyusunan bungkusan pada tempat yang rata dengan suhu kamar 38-40C dan tempat yang gelap selama satu atau dua hari hingga seluruh permukaan kacang kedelai tertutupi oleh jamur. Penyimpanan yang dilakukan yaitu selama 2-3 hari hal ini ditandai dengan pertumbuhan kapang yang hampir tetap dan tekstur yang lebih kompak. Jika proses fermentasi terlalu lama, menyebabkan terjadinya kenaikan jumlah bakteri, jumlah asam lemak bebas, pertumbuhan jamur juga menurun dan menyebabkan degradasi protein lanjut sehingga terbentuk amoniak. Akibatnya, tempe yang dihasilkan mengalami proses pembusukan dan aromanya menjadi tidak enak. 

Hal ini terjadi karena senyawa yang dipecah dalam proses fermentasi adalah karbohidrat, kemudian dengan suhu ruangan pada hari pertama yaitu 300C selanjutnya untuk warna yang diperoleh pada hari pertama yaitu berwarna putih, untuk aroma yang diperoleh yaitu berupa aroma kacang kedelai, untuk hari kedua yaitu dengan suhu ruangan 280C, untuk warna yang diperoleh masih berwarna putih seperti pada hari pertama begitu juga untuk aroma yang diperoleh belum mengalami perubahan masih beraroma kacang kedelai sedangkan pada hari ketiga dengan suhu penyimpanan 280C warna yang diperoleh mulai menunjukkan perubahan yaitu berwarna putih kekuningan dan aromanya juga telah mengalami perubahan yaitu beraroma ragi. Dengan suhu 300C maka bakteri akan mengalami pertumbuhan yang baik karena suhu ini merupakan suhu yang baik bagi pertumbuhan suatu bakteri. 

VIII Penutup
A. Simpulan
  1. Kedelai merupakan bahan makanan yang bermanfaat. Untuk mendapatkan manfaat tersebut perlu adanya pengolahan dan penyajian supaya zat-zat pentingnya tidak hilang. Salah satunya dibuat tempe. Tempe merupakan makanan alami yang baik untuk kesehatan. Di samping itu, tempe juga mengandung antioksidan yang dapat menghambat oksidasi kolesterol LDL darah manusia.
  2. Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam pembuatan tempe. Jamur ini dapat menghasilkan asam laktat dan mempunyai kemampuan mengurai lemak kompleks menjadi trigliserida dan asam amino. Selain itu jamur ini mampu menghasilkan protease. 
  3. Bila menggunakan kantung plastik untuk membungkus tempe yang telah dibuat maka memberi lubang-lubang kecil pada kantung dengan menggunakan lidi atau jarum karena kapang tempe bersifat aerob obligat membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya sehingga apabila dalam proses fermentasi itu kurang oksigen, maka pertumbuhan kapang akan terhambat dan proses fermentasinya pun tidak berjalan lancar. Oleh karena itu, pada pembungkus tempe biasanya dilakukan penusukan dengan lidi yang bertujuan agar oksigen dapat masuk dalam bahan tempe. 

B. Saran 
Saran yang dapat saya berikan pada praktikum kali ini yaitu mengenai kebersihan dalam proses pembuatan tempe kedelai sebaiknya kondisi alat-alat yang akan digunakan diperhatikan terlebih dahulu serta peserta yang bekerja juga harus benar-benar steril dalam mengerjakan pembuatan tempe kedelai. Kemudian dalam proses pembungkusan juga lebih diperhatikan lagi untuk meminimalisir kegagalan hasil pada pembuatan tempe kedelai.