LAPORAN PEMERIKSAAN SECARA ORGANOLEPTIS DAN MIKROSKOPIK - ElrinAlria
LAPORAN PEMERIKSAAN SECARA ORGANOLEPTIS DAN MIKROSKOPIK

PERCOBAAN II 
PEMERIKSAAN SECARA ORGANOLEPTIS DAN MIKROSKOPIK

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah:
  1. Mahasiswa dapat melakukan identifikasi beberapa macam haksel yang biasa digunakan dalam ramuan untuk pengobatan atau tersedia di apotek. 
  2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi simplisia dengan menggunakan mikroskop serta dapat menyebutkan ciri khas simplisia yang diperiksa. 

B. BAHAN

1. KLASIFIKASI
a. Kaki Kuda (Centella asiatica L.)
Regnum : Plantae
Devisio : Spermathophyta 
Classis : Dicotyledonae
Ordo : Umbilales
Familia : Umbilaferae (Apiaceaea)
Genus : Centella
Spesies : Cantella asiatica L. (Tjitrosoepomo, 2000)

b. Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) 
Regnum : Plantae
Divisio : Spermaiophyta
Class : Monocotyledonae 
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L. (Tjitrosoepomo, 2000)

c. Tapak Liman (Elephantopus schaber L.)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledonale
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Species : Elephantopus schaber L. (Tjitrosoepomo, 2000)

d. Rimpang Lengkuas (Alpinieae galanga L.) 
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Geus : Alpinieae
Spesies : Alpinieae galanga L.(Tjitrosoepomo, 2000)

e. Advocat (Persea americana Mill)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae 
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana Mill (Tjitrosoepomo, 2000)

f. Brotowali (Tinospora crispa L.)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta 
Class : Dicotyledonea 
Ordo : Ranunculales
Famili : Menispermaceae
Genus : Tinospora
Spesies : Tinospora crispa L. (Tjitrosoepomo, 2000)

g. Rimpang Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Val.)
Regnum : Plantae
Divisio : Sperrnatophyta
Class : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber aromaticum Val. (Tjitrosoepomo, 2000)

2. DESKRIPSI TANAMAN
a. Kaki Kuda (Cantella asiatica L.)
Kaki kuda berasal dari Asia Tropik tersebar di Asia Tenggara, India, Cina, Jepang, Australia, dan negara-negara lain. Sejak ribuan tahun lalu, tanaman ini telah digunakan sebagai obat untuk mengobati berbagai penyakit pada hampir seluruh belahan dunia. Selain digunakan sebagai obat, pegagan juga dikonsumsi sebagai lalap terutama oleh masyarakat di Jawa Barat. Jenis pegagan ada dua macam yaitu pegagan merah dan pegagan hijau. Tanaman ini merupakan terna tahunan yang tumbuh merambat. Pegagan tidak mempunyai batang, rimpang pendek, dan stolon yang merayap. Panjangnya antara 10 cm – 80 cm. Akar keluar dari setiap bonggol, banyak bercabang yang dapat membentuk tumbuhan baru. Pegagan berdaun tunggal, berbentuk ginjal, panjang tangkai daun antara 5 cm – 15 cm. Tepi daun bergerigi atau beringgit, penampang 1 cm – 7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2 – 10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan berbentuk payung, tunggal atau 3 – 5 bersama-sama keluar dari ketiak daun, panjang tangkai bunga 5 mm – 50 cm. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit. Panjang buah antara 2 mm – 2,5 mm (BPOM RI, 2010).

b. Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.)
Rimpang kencur merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan dalam jumlah yang besar. Bagian dari tanaman kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang tinggal didalam tanah yang disebut dengan rimpang kencur atau rizoma. Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh mendatar diatas permukaan tanah dengan jumlah daun tiga sampai empat helai. Permukaan daun sebelah atas berwarna hijau sedangkan sebelah bawah berwarna hijau pucat. Panjang daun berukuran 10 – 12 cm dengan lebar 8 – 10 cm mempunyai sirip daun yang tipis dari pangkal daun tanpa tulang tulang induk daun yang nyata. Rimpang kencur terdapat didalam tanah bergerombol dan bercabang cabang dengan induk rimpang ditengah. Kulit ari berwarna coklat dan bagian dalam putih berair dengan aroma yang tajam. Rimpang yang masih muda berwarna putih kekuningan dengan kandungan air yang lebih banyak dan rimpang yang lebih tua ditumbuhi akar pada ruas ruas rimpang berwarna putih kekuningan (BPOM RI, 2010).

c. Tapak Liman (Elephantopus schaber L.)
Tapak liman mempunyai ciri – ciri batang pendek, susunan daun berbentuk roset dan kaku, tepi daun bergerigi, ujung daun tumpul, batang bunga muncul di tengah – tengah roset daun, bunga berbentuk bongkol dan berwarna ungu. Tumbuh di kawasan Kebun Raya bogor banyak ditemukan di derah yang berumput, secara ekologis tanaman ini bermanfaat sebagai penutup tanah ground cover dan dapat juga bermanfaat sebagai tanaman obat (BPOM RI, 2010).

d. Rimpang Lengkuas (Alpinieae galanga L.) 
Lengkuas mempunyai nama daerah Laos (Jawa) sering digunakan sebagai bumbu penyedap masakan atau rempah, mempunyai aroma harum dan rasa yang pedas. Banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara, di Indonesia, China dan Thailand. Selain untuk penyedap, digunakan juga sebagai obat tradisional, untuk mengobati gangguan lambung, menghilangkan kembung, anti jamur, menghilangkan gatal, menambah nafsu makan, demam dan sakit tenggorokan. Akhir-akhir ini banyak digunakan sebagai pengobatan dan pencegahan (Chemoprevention) kanker. Lengkuas ada 2 macam lengkuas merah dan lengkuas putih. Lengkuas putih banyak dipakai sebagai bumbu penyedap dan lengkuas merah lebih mempunyai khasiat sebagai obat. Kandungan ACA (Acetoxy Chavicol Acetate) lebih banyak pada ekstraksi lengkuas merah daripada lengkuas putih. Lengkuas mempunyai potensi untuk menurunkan angka kejadian kanker yang diinduksi oleh karsinogen (BPOM RI, 2010).

e. Advocat (Persea americana Mill)
Advocat berasal dari Amerika Tengah. Tumbuhan ini masuk ke Indonesia sekitar abad ke-18. Alpukat tumbuh liar di hutan-hutan, banyak juga ditanam di kebun dan pekarangan yang lapisan tanahnya gembur dan subur serta tidak tergenang air. Tumbuh di daerah tropik dan subtropik dengan curah hujan antara 1.800 mm sampai 4.500 mm tiap tahun. Pada umumnya tumbuhan ini cocok dengan iklim sejuk dan basah. Tumbuhan tidak tahan terhadap suhu rendah maupun tinggi. Di Indonesia tumbuh pada ketinggian tempat antara 1 m sampai 1000 m di atas permukaan laut. Buah alpukat memiliki biji yang berkeping dua, sehingga termasuk dalam kelas Dicotyledoneae. Biji bulat seperti bola, keping biji putih kemerahan. Kepingan ini mudah terlihat apabila kulit bijinya dilepas atau dikuliti. Kulit biji umumnya mudah lepas dari bijinya. Pada saat buah masih muda, kulit biji itu menempel pada daging buahnya. Bila buah telah tua, biji akan terlepas dengan sendirinya. Umumnya sifat ini dijadikan sebagai salah satu tanda kematangan buah. Buah yang berbentuk panjang mempunyai biji yang lebih panjang dibanding biji yang terdapat di dalam buah yang bentuk bulat. Walaupun demikian, semua biji alpukat mempunyai kesamaan, yaitu bagian bawahnya agak rata dan kemudian membulat atau melonjong (BPOM RI, 2010).

f. Brotowali (Tinospora crispa L.)
Brotowali merupakan tumbuhan yang mudah ditemukan dan mudah dalam perawatan penanamannya, tumbuh secara liar di hutan, ladang atau ditanam di halaman dekat pagar sebagai tumbuhan obat. Tanaman ini menyukai tempat terbuka yang terkena sinar matahari. Merambat dengan panjang mencapai 2,5 meter atau lebih. Brotowali tumbuh baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerahtropis. Brotowali menyebar merata hampir di seluruh wilayah Indonesia dan beberapa Negara lain di Asia tenggara dan India. Batang Brotowali hanya sebesar jari kelingking, berbintil- binti lrapat dan rasanya pahit. Daun Brotowali merupakan dan tunggal, tersebar, berbentuk jantung dengan ujung runcing, tepi daun rata, pangkalnya berlekuk, memiliki panjang 7-12 cm dan lebar 7-11 cm. Tangkai daun menebal pada pangkal dan ujung, pertulangandaunmenjari dan berwarna hijau. Bunga majemuk berbentuk tandan, terletak pada batang kelopaktiga. Memiliki enam mahkota, berbentuk benang berwarna hijau.Benang sari berjumlah enam, tangkai berwarna hijau muda dengan kepala sari kuning.Buah Brotowali keras seperti batu, berwarna hijau (BPOM RI, 2010).

g. Rimpang Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Val.)
Rimpang lempuyang wangi merupakan tumbuhan terna, berbatang semu, tingginya kurang lebih 1 m. Daun berbentuk lanset dengan panjang 14-40 cm dan lebar 3-8,5 cm, bagian pangkal daun berbentuk bulat telur atau runcing, permukaan daun bagian atas berbulu dengan panjang bulu 4-5 mm. Bunganya berupa mayang tersembul di atas tanah, gagang bunga lebih panjang daripada mayang, ramping dan sangat kuat, bersisik, berbentuk lanset. Sisik berwarna merah dengan panjang sisik 3-6,5 cm. Daun pelindung lebih panjang daripada kelopak bunga, berbentuk jorong dengan ujung yang rata, berbulu rapat berwarna hijau kemerahan atau merah gelap, tetapi pada bagian tepi hampir tak berbulu, panjang daun pelindung 1,5-4 cm dan lebar 1,25-4 cm. Mayang berbentuk bulat telur, panjangnya 3,5-10,5 cm, lebar 1,75-5,5 cm, panjang kelopak bunga 13-17 mm. Mahkota bunga berwarna kuning terang atau putih kekuningan, tinggi tabung 2-3 cm, berbentuk bulat telur dan rata pada bagian ujung. Kepala sari berbentuk jorong, berwarna kuning terang panjangnya 8-10 mm (BPOM RI, 2010).

C. HASIL PENGAMATAN
Uji Organoleptis
LAPORAN PEMERIKSAAN SECARA ORGANOLEPTIS DAN MIKROSKOPIK

D. PEMBAHASAN
Simplisia merupakan bahan alamiah yang digunakan sebagai obat baik dari tumbuhan, hewan maupun mineral yang belum mengalami pengolahan apapun kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia berbeda dengan haksel. Haksel merupakan bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, biji dan lain-lain yang dikeringkan tetapi belum dalam bentuk serbuk. Simplisia atau herbal merupakan bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan. Kecuali dinyatakan lain, suhu pengeringan tidak lebih dari 60C. Simplisia terbagi dua, yaitu simplisia segar dan simplisia nabati. Simplisia segar merupakan bahan alam segar yang belum dikeringkan, sedangkan simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan.

Uji organoleptis suatu simplisia merupakan bentuk pernyataan-pernyataan mengenai berbagai hal yang dapat diamati dengan panca indera seperti bau, warna, dan juga rasa. Pada praktikum ini, akan diuji beberapa contoh simplisia dengan metode uji organoleptis yaitu diuji bagaimana rasa, bau, dan warna simplisianya. Bahan-bahan yang digunakan yaitu daun kaki kuda (Centella asiatica L.), rimpang kencur (Kaempferia galanga L.), daun tapak liman (Elephantopus schaber L.), rimpang lengkuas (Alpinieae galanga L.), daun advocat (Persea americana Mill), batang brotowali (Tinospora crispa L.) dan rimpang lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.).

Bahan-bahan tersebut telah mengalami proses pengeringan yang kemudian diuji bagaimana organoleptis dari bahan-bahan tersebut. Berbagai haksel yang digunakan tersebut memiliki bau yang berbeda-beda seperti bau khas, aromatik ataupun bau menyengat. rasa yang dihasilkan juga berbeda-beda, yaitu ada yang rasa pahit ataupun pedis. Sedangkan warna haksel sesuai dengan bagian tumbuhan yang digunakan. Misalnya daun kaki kuda berwarna hijau, rimpang kencur berwarna hijau muda, tapak liman berwarna hijau tai kuda, rimpang lengkuas berwarna cokelat muda, avocat berwarna cokelat krem, batang brotowali berwarna cokelat dan rimpang lempuyang wangi berwarna hijau.

Untuk uji rasa, setiap simplisia memiliki rasa yang berbeda-beda tergantung dari kandungan kimia simplisia tersebut. Beberapa simplisia memiliki rasa yang pahit misalnya pada kaki kuda, tapak liman, rimpang lengkuas dan rimpang lempuyang wangi. Rimpang lengkuas memiliki rasa yang sangat pahit dan memiliki bau yang sangat khas sehingga mudah dikenali. Selain itu, ada juga yang rasanya pedas misalnya pada rimpang kencur dan daun avocat. Sedangkan batang brotowali adalah salah satu contoh simplisia yang memiliki rasa yang khas yaitu sangat pahit. 

Uji organoleptis memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan. Kelebihannya yaitu selain metodenya mudah, metode ini juga memberikan hasil yang tepat dan cepat. Penilaian organoleptis sangat banyak digunakan untuk menilai mutu dalam industri pangan dan industri hasil pertanian lainnya. Penilaian ini terkadang dapat memberi hasil penilaian yang sangat teliti. Penilaian dengan indera dalam beberapa hal bahkan melebihi ketelitian alat yang paling sensitif. Tetapi, kekurangannya yaitu adanya pembatasan yang diakibatkan tidak semua sifat bahan dapat dideskripsikan menggunakan indera manusia. 

Sedangkan uji mikroskopi pada umumnya dilakukan untuk mengidentifikasi anatomi jaringan dalam simplisia. Pada percobaan ini, uji mikroskopik dilakukan untuk mengidentifikasi fragmen-fragmen khas yang dimiliki suatu simplisia. Uji mikroskopi dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang dapat dihubungkan dengan komputer untuk mempermudah dalam mengenali anatomi jaringan simplisia tersebut. 

Uji mikroskopi dilakukan dengan menetaskan suatu larutan diatas objek gelas yang terdapat serbuk simplisia, setelah itu dipanaskan sedikit dengan menggunakan korek gas kemudian diamati di bawah mikroskop. Larutan yang digunakan ada 2 jenis yaitu air dan kloralhidrat. Air digunakan untuk melihat kandungan amilum di dalam simplisia, sedangkan kloralhidrat dapat menghilangkan butir-butir amilum sehingga dapat terlihat jelas fragmen-fragmen lain di dalam simplisia. 

Pada pengamatan daun kaki kuda berbentuk seperti kaki kuda, rimpang kencur bentuknya tidak beraturan dan kasar, tapak liman bentuknya panjang bergerigi, jorong, membentuk roset dan bundar telur, rimpang lengkuas lonjong tak beraturan, rimpang lempuyang wangi bentuknya bulat tak beraturan, brotowali berbentuk hati dan avocat berbentuk jorong memanjang.

E. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil pada percobaan ini adalah :
  1. Uji organoleptis adalah pemeriksaan dengan menggunakan alat indera manusia meliputi uji warna, bau, rasa dari bahan/simplisia. Bahan-bahan yang digunakan yaitu daun kaki kuda (Centella asiatica L.), rimpang kencur (Kaempferia galanga L.), daun tapak liman (Elephantopus schaber L.), rimpang lengkuas (Alpinieae galanga L.), daun advocat (Persea americana Mill), batang brotowali (Tinospora crispa L.) dan rimpang lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.).
  2. Uji mikroskopik dapat dilakukan dengan menambahkan larutan seperti air dan kloralhidrat untuk mengidentifikasi anatomi dalam simplisia. 

DAFTAR PUSTAKA
Badan POM, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Volume Kelima Edisi Pertama, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

Dirjen POM, 1989 dan 1995, Materi Medika Indonesia, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Dirjen POM, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi Pertama, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Nala, Abu, 2011, Manfaat Apotik Hidup, Bina Karya, Jawa Tengah.

Tjitrosoepomo, Gembong, 2000, Taksonomi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

LAPORAN PEMERIKSAAN SECARA ORGANOLEPTIS DAN MIKROSKOPIK

LAPORAN PEMERIKSAAN SECARA ORGANOLEPTIS DAN MIKROSKOPIK

PERCOBAAN II 
PEMERIKSAAN SECARA ORGANOLEPTIS DAN MIKROSKOPIK

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah:
  1. Mahasiswa dapat melakukan identifikasi beberapa macam haksel yang biasa digunakan dalam ramuan untuk pengobatan atau tersedia di apotek. 
  2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi simplisia dengan menggunakan mikroskop serta dapat menyebutkan ciri khas simplisia yang diperiksa. 

B. BAHAN

1. KLASIFIKASI
a. Kaki Kuda (Centella asiatica L.)
Regnum : Plantae
Devisio : Spermathophyta 
Classis : Dicotyledonae
Ordo : Umbilales
Familia : Umbilaferae (Apiaceaea)
Genus : Centella
Spesies : Cantella asiatica L. (Tjitrosoepomo, 2000)

b. Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) 
Regnum : Plantae
Divisio : Spermaiophyta
Class : Monocotyledonae 
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L. (Tjitrosoepomo, 2000)

c. Tapak Liman (Elephantopus schaber L.)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledonale
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Species : Elephantopus schaber L. (Tjitrosoepomo, 2000)

d. Rimpang Lengkuas (Alpinieae galanga L.) 
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Geus : Alpinieae
Spesies : Alpinieae galanga L.(Tjitrosoepomo, 2000)

e. Advocat (Persea americana Mill)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae 
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana Mill (Tjitrosoepomo, 2000)

f. Brotowali (Tinospora crispa L.)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta 
Class : Dicotyledonea 
Ordo : Ranunculales
Famili : Menispermaceae
Genus : Tinospora
Spesies : Tinospora crispa L. (Tjitrosoepomo, 2000)

g. Rimpang Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Val.)
Regnum : Plantae
Divisio : Sperrnatophyta
Class : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber aromaticum Val. (Tjitrosoepomo, 2000)

2. DESKRIPSI TANAMAN
a. Kaki Kuda (Cantella asiatica L.)
Kaki kuda berasal dari Asia Tropik tersebar di Asia Tenggara, India, Cina, Jepang, Australia, dan negara-negara lain. Sejak ribuan tahun lalu, tanaman ini telah digunakan sebagai obat untuk mengobati berbagai penyakit pada hampir seluruh belahan dunia. Selain digunakan sebagai obat, pegagan juga dikonsumsi sebagai lalap terutama oleh masyarakat di Jawa Barat. Jenis pegagan ada dua macam yaitu pegagan merah dan pegagan hijau. Tanaman ini merupakan terna tahunan yang tumbuh merambat. Pegagan tidak mempunyai batang, rimpang pendek, dan stolon yang merayap. Panjangnya antara 10 cm – 80 cm. Akar keluar dari setiap bonggol, banyak bercabang yang dapat membentuk tumbuhan baru. Pegagan berdaun tunggal, berbentuk ginjal, panjang tangkai daun antara 5 cm – 15 cm. Tepi daun bergerigi atau beringgit, penampang 1 cm – 7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2 – 10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan berbentuk payung, tunggal atau 3 – 5 bersama-sama keluar dari ketiak daun, panjang tangkai bunga 5 mm – 50 cm. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit. Panjang buah antara 2 mm – 2,5 mm (BPOM RI, 2010).

b. Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.)
Rimpang kencur merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan dalam jumlah yang besar. Bagian dari tanaman kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang tinggal didalam tanah yang disebut dengan rimpang kencur atau rizoma. Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh mendatar diatas permukaan tanah dengan jumlah daun tiga sampai empat helai. Permukaan daun sebelah atas berwarna hijau sedangkan sebelah bawah berwarna hijau pucat. Panjang daun berukuran 10 – 12 cm dengan lebar 8 – 10 cm mempunyai sirip daun yang tipis dari pangkal daun tanpa tulang tulang induk daun yang nyata. Rimpang kencur terdapat didalam tanah bergerombol dan bercabang cabang dengan induk rimpang ditengah. Kulit ari berwarna coklat dan bagian dalam putih berair dengan aroma yang tajam. Rimpang yang masih muda berwarna putih kekuningan dengan kandungan air yang lebih banyak dan rimpang yang lebih tua ditumbuhi akar pada ruas ruas rimpang berwarna putih kekuningan (BPOM RI, 2010).

c. Tapak Liman (Elephantopus schaber L.)
Tapak liman mempunyai ciri – ciri batang pendek, susunan daun berbentuk roset dan kaku, tepi daun bergerigi, ujung daun tumpul, batang bunga muncul di tengah – tengah roset daun, bunga berbentuk bongkol dan berwarna ungu. Tumbuh di kawasan Kebun Raya bogor banyak ditemukan di derah yang berumput, secara ekologis tanaman ini bermanfaat sebagai penutup tanah ground cover dan dapat juga bermanfaat sebagai tanaman obat (BPOM RI, 2010).

d. Rimpang Lengkuas (Alpinieae galanga L.) 
Lengkuas mempunyai nama daerah Laos (Jawa) sering digunakan sebagai bumbu penyedap masakan atau rempah, mempunyai aroma harum dan rasa yang pedas. Banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara, di Indonesia, China dan Thailand. Selain untuk penyedap, digunakan juga sebagai obat tradisional, untuk mengobati gangguan lambung, menghilangkan kembung, anti jamur, menghilangkan gatal, menambah nafsu makan, demam dan sakit tenggorokan. Akhir-akhir ini banyak digunakan sebagai pengobatan dan pencegahan (Chemoprevention) kanker. Lengkuas ada 2 macam lengkuas merah dan lengkuas putih. Lengkuas putih banyak dipakai sebagai bumbu penyedap dan lengkuas merah lebih mempunyai khasiat sebagai obat. Kandungan ACA (Acetoxy Chavicol Acetate) lebih banyak pada ekstraksi lengkuas merah daripada lengkuas putih. Lengkuas mempunyai potensi untuk menurunkan angka kejadian kanker yang diinduksi oleh karsinogen (BPOM RI, 2010).

e. Advocat (Persea americana Mill)
Advocat berasal dari Amerika Tengah. Tumbuhan ini masuk ke Indonesia sekitar abad ke-18. Alpukat tumbuh liar di hutan-hutan, banyak juga ditanam di kebun dan pekarangan yang lapisan tanahnya gembur dan subur serta tidak tergenang air. Tumbuh di daerah tropik dan subtropik dengan curah hujan antara 1.800 mm sampai 4.500 mm tiap tahun. Pada umumnya tumbuhan ini cocok dengan iklim sejuk dan basah. Tumbuhan tidak tahan terhadap suhu rendah maupun tinggi. Di Indonesia tumbuh pada ketinggian tempat antara 1 m sampai 1000 m di atas permukaan laut. Buah alpukat memiliki biji yang berkeping dua, sehingga termasuk dalam kelas Dicotyledoneae. Biji bulat seperti bola, keping biji putih kemerahan. Kepingan ini mudah terlihat apabila kulit bijinya dilepas atau dikuliti. Kulit biji umumnya mudah lepas dari bijinya. Pada saat buah masih muda, kulit biji itu menempel pada daging buahnya. Bila buah telah tua, biji akan terlepas dengan sendirinya. Umumnya sifat ini dijadikan sebagai salah satu tanda kematangan buah. Buah yang berbentuk panjang mempunyai biji yang lebih panjang dibanding biji yang terdapat di dalam buah yang bentuk bulat. Walaupun demikian, semua biji alpukat mempunyai kesamaan, yaitu bagian bawahnya agak rata dan kemudian membulat atau melonjong (BPOM RI, 2010).

f. Brotowali (Tinospora crispa L.)
Brotowali merupakan tumbuhan yang mudah ditemukan dan mudah dalam perawatan penanamannya, tumbuh secara liar di hutan, ladang atau ditanam di halaman dekat pagar sebagai tumbuhan obat. Tanaman ini menyukai tempat terbuka yang terkena sinar matahari. Merambat dengan panjang mencapai 2,5 meter atau lebih. Brotowali tumbuh baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerahtropis. Brotowali menyebar merata hampir di seluruh wilayah Indonesia dan beberapa Negara lain di Asia tenggara dan India. Batang Brotowali hanya sebesar jari kelingking, berbintil- binti lrapat dan rasanya pahit. Daun Brotowali merupakan dan tunggal, tersebar, berbentuk jantung dengan ujung runcing, tepi daun rata, pangkalnya berlekuk, memiliki panjang 7-12 cm dan lebar 7-11 cm. Tangkai daun menebal pada pangkal dan ujung, pertulangandaunmenjari dan berwarna hijau. Bunga majemuk berbentuk tandan, terletak pada batang kelopaktiga. Memiliki enam mahkota, berbentuk benang berwarna hijau.Benang sari berjumlah enam, tangkai berwarna hijau muda dengan kepala sari kuning.Buah Brotowali keras seperti batu, berwarna hijau (BPOM RI, 2010).

g. Rimpang Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Val.)
Rimpang lempuyang wangi merupakan tumbuhan terna, berbatang semu, tingginya kurang lebih 1 m. Daun berbentuk lanset dengan panjang 14-40 cm dan lebar 3-8,5 cm, bagian pangkal daun berbentuk bulat telur atau runcing, permukaan daun bagian atas berbulu dengan panjang bulu 4-5 mm. Bunganya berupa mayang tersembul di atas tanah, gagang bunga lebih panjang daripada mayang, ramping dan sangat kuat, bersisik, berbentuk lanset. Sisik berwarna merah dengan panjang sisik 3-6,5 cm. Daun pelindung lebih panjang daripada kelopak bunga, berbentuk jorong dengan ujung yang rata, berbulu rapat berwarna hijau kemerahan atau merah gelap, tetapi pada bagian tepi hampir tak berbulu, panjang daun pelindung 1,5-4 cm dan lebar 1,25-4 cm. Mayang berbentuk bulat telur, panjangnya 3,5-10,5 cm, lebar 1,75-5,5 cm, panjang kelopak bunga 13-17 mm. Mahkota bunga berwarna kuning terang atau putih kekuningan, tinggi tabung 2-3 cm, berbentuk bulat telur dan rata pada bagian ujung. Kepala sari berbentuk jorong, berwarna kuning terang panjangnya 8-10 mm (BPOM RI, 2010).

C. HASIL PENGAMATAN
Uji Organoleptis
LAPORAN PEMERIKSAAN SECARA ORGANOLEPTIS DAN MIKROSKOPIK

D. PEMBAHASAN
Simplisia merupakan bahan alamiah yang digunakan sebagai obat baik dari tumbuhan, hewan maupun mineral yang belum mengalami pengolahan apapun kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia berbeda dengan haksel. Haksel merupakan bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, biji dan lain-lain yang dikeringkan tetapi belum dalam bentuk serbuk. Simplisia atau herbal merupakan bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan. Kecuali dinyatakan lain, suhu pengeringan tidak lebih dari 60C. Simplisia terbagi dua, yaitu simplisia segar dan simplisia nabati. Simplisia segar merupakan bahan alam segar yang belum dikeringkan, sedangkan simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan.

Uji organoleptis suatu simplisia merupakan bentuk pernyataan-pernyataan mengenai berbagai hal yang dapat diamati dengan panca indera seperti bau, warna, dan juga rasa. Pada praktikum ini, akan diuji beberapa contoh simplisia dengan metode uji organoleptis yaitu diuji bagaimana rasa, bau, dan warna simplisianya. Bahan-bahan yang digunakan yaitu daun kaki kuda (Centella asiatica L.), rimpang kencur (Kaempferia galanga L.), daun tapak liman (Elephantopus schaber L.), rimpang lengkuas (Alpinieae galanga L.), daun advocat (Persea americana Mill), batang brotowali (Tinospora crispa L.) dan rimpang lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.).

Bahan-bahan tersebut telah mengalami proses pengeringan yang kemudian diuji bagaimana organoleptis dari bahan-bahan tersebut. Berbagai haksel yang digunakan tersebut memiliki bau yang berbeda-beda seperti bau khas, aromatik ataupun bau menyengat. rasa yang dihasilkan juga berbeda-beda, yaitu ada yang rasa pahit ataupun pedis. Sedangkan warna haksel sesuai dengan bagian tumbuhan yang digunakan. Misalnya daun kaki kuda berwarna hijau, rimpang kencur berwarna hijau muda, tapak liman berwarna hijau tai kuda, rimpang lengkuas berwarna cokelat muda, avocat berwarna cokelat krem, batang brotowali berwarna cokelat dan rimpang lempuyang wangi berwarna hijau.

Untuk uji rasa, setiap simplisia memiliki rasa yang berbeda-beda tergantung dari kandungan kimia simplisia tersebut. Beberapa simplisia memiliki rasa yang pahit misalnya pada kaki kuda, tapak liman, rimpang lengkuas dan rimpang lempuyang wangi. Rimpang lengkuas memiliki rasa yang sangat pahit dan memiliki bau yang sangat khas sehingga mudah dikenali. Selain itu, ada juga yang rasanya pedas misalnya pada rimpang kencur dan daun avocat. Sedangkan batang brotowali adalah salah satu contoh simplisia yang memiliki rasa yang khas yaitu sangat pahit. 

Uji organoleptis memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan. Kelebihannya yaitu selain metodenya mudah, metode ini juga memberikan hasil yang tepat dan cepat. Penilaian organoleptis sangat banyak digunakan untuk menilai mutu dalam industri pangan dan industri hasil pertanian lainnya. Penilaian ini terkadang dapat memberi hasil penilaian yang sangat teliti. Penilaian dengan indera dalam beberapa hal bahkan melebihi ketelitian alat yang paling sensitif. Tetapi, kekurangannya yaitu adanya pembatasan yang diakibatkan tidak semua sifat bahan dapat dideskripsikan menggunakan indera manusia. 

Sedangkan uji mikroskopi pada umumnya dilakukan untuk mengidentifikasi anatomi jaringan dalam simplisia. Pada percobaan ini, uji mikroskopik dilakukan untuk mengidentifikasi fragmen-fragmen khas yang dimiliki suatu simplisia. Uji mikroskopi dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang dapat dihubungkan dengan komputer untuk mempermudah dalam mengenali anatomi jaringan simplisia tersebut. 

Uji mikroskopi dilakukan dengan menetaskan suatu larutan diatas objek gelas yang terdapat serbuk simplisia, setelah itu dipanaskan sedikit dengan menggunakan korek gas kemudian diamati di bawah mikroskop. Larutan yang digunakan ada 2 jenis yaitu air dan kloralhidrat. Air digunakan untuk melihat kandungan amilum di dalam simplisia, sedangkan kloralhidrat dapat menghilangkan butir-butir amilum sehingga dapat terlihat jelas fragmen-fragmen lain di dalam simplisia. 

Pada pengamatan daun kaki kuda berbentuk seperti kaki kuda, rimpang kencur bentuknya tidak beraturan dan kasar, tapak liman bentuknya panjang bergerigi, jorong, membentuk roset dan bundar telur, rimpang lengkuas lonjong tak beraturan, rimpang lempuyang wangi bentuknya bulat tak beraturan, brotowali berbentuk hati dan avocat berbentuk jorong memanjang.

E. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil pada percobaan ini adalah :
  1. Uji organoleptis adalah pemeriksaan dengan menggunakan alat indera manusia meliputi uji warna, bau, rasa dari bahan/simplisia. Bahan-bahan yang digunakan yaitu daun kaki kuda (Centella asiatica L.), rimpang kencur (Kaempferia galanga L.), daun tapak liman (Elephantopus schaber L.), rimpang lengkuas (Alpinieae galanga L.), daun advocat (Persea americana Mill), batang brotowali (Tinospora crispa L.) dan rimpang lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.).
  2. Uji mikroskopik dapat dilakukan dengan menambahkan larutan seperti air dan kloralhidrat untuk mengidentifikasi anatomi dalam simplisia. 

DAFTAR PUSTAKA
Badan POM, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Volume Kelima Edisi Pertama, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

Dirjen POM, 1989 dan 1995, Materi Medika Indonesia, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Dirjen POM, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi Pertama, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Nala, Abu, 2011, Manfaat Apotik Hidup, Bina Karya, Jawa Tengah.

Tjitrosoepomo, Gembong, 2000, Taksonomi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.