LAPORAN PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH) - ElrinAlria
LAPORAN PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)
PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
PERCOBAAN IX

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu untuk memisahkan dan memurnikan campuran dengan sublimasi.

B. LANDASAN TEORI
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalisasi kembali zat tersebut setelah dilarutkan di dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok (Rositawati, dkk., 2013).

Selain itu, kristalisasi adalah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat dalam suatu fase homogen. Kristalisasi dari larutan dapat terjadi jika padatan pelarut dalam keadaan berlebih (diluar kesetimbangan), maka sistem akan mencapai kesetimbangan dengan cara mengkristalkan padatan pelarut (Dewi dan Ali, 2003).

Kristalisasi dari suatu larutan merupakan proses yang sangat penting, karena ada berbagai macam bahan yang dipasarkan dalam bentuk kristalin. Secara umum tujuan kristalisasi adalah untuk memperoleh produk dengan kemurnian tinggi dan tingkat pemungutan yang tinggi pula (Fachry, dkk., 2008).

Kristalisasi dari suatu larutan dapat dikategorikan sebagai salah satu proses pemisahan yang efisien. Secara umum, tujuan dari proses kristalisasi adalah menghasilkan produk kristal dengan kualitas seperti yang diharapkan (Setyopratomo, dkk., 2003).

Ada beberapa syarat pelarut yang digunakan pada proses rekristalisasi yaitu dapat memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal, dan mudah dipisahkan dengan kristalnya (Rositawati, dkk., 2013).

Keunggulan kristalisasi pelarut adalah penggunaan suhu rendah dan mudah diaplikasikan dengan peralatan sederhana (Ahmadi, 2010).

Temperatur rekristalisasi adalah perubahan strutur kristal akibat pemanasan pada suhu kritis. Sehingga dapat diartikan bahwa temperatur rekristalisasi adalah suatu proses dimana butir logam yang terdeformasi digantikan oleh butiran baru yang tidak terdeformasi yang intinya tumbuh sampai butiran asli termasuk didalamnya (Affiz, 2012).

Proses kondensasi di dalam kondensor mempunyai peranan yang sangat penting, dan sangat mempengaruhi mutu kerja suatu sistem. Salah satu bagian yang dipengaruhi oleh adanya udara (udara kering) yang mempunyai sifat tidak dapat mengembun adalah kondenser (Sudarja, dkk., 2007).

Fumigan merupakan kelompok insektida yang mencakup beberapa jenis gas, cairan atau padatan yang mudah menguap pada suhu rendah dan melepaskan gas yang dapat membasmi hama. Naftalen dikenal dengan nama kapur barus mempunyai bau yang tajam dan dapat menimbulkan iritasi kulit pada orang yang alergi (Raini, 2009).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:

  • Hotplate 
  • Labu alas bulat 1000 ml 
  • Gelas kimia 1000 ml 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:

  • Aquaest 
  • Kapur barus 

D. PROSEDUR KERJA

LAPORAN PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)

E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)

F. PEMBAHASAN
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalisasi kembali zat tersebut setelah dilarutkan di dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok.

Selain itu, kristalisasi adalah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat dalam suatu fase homogen. Kristalisasi dari larutan dapat terjadi jika padatan pelarut dalam keadaan berlebih (diluar kesetimbangan), maka sistem akan mencapai kesetimbangan dengan cara mengkristalkan padatan pelarut. 

Percobaan yang dilakukan yaitu proses sublimasi. Sublimasi adalah salah satu cara untuk memisahkan suatu zat dari fase padat langsung menjadi fase uap, dan uap tersebut akan langsung di kondensasi menjadi padat tanpa melalui fase cair. 

Sampel yang digunakan yaitu kapur barus. tujuan pada praktikum ini yaitu untuk memisahkan dan memurnikan zat yang terdapat di dalam kapur barus. Di dalam kapur barus terdapat senyawa naftelen dan zat-zat tambahan lainnya. Zat tambahan ini dapat berupa pewarna dan pengaroma. 

Naftalen digunakan dalam proses sublimasi dikeranakan oleh sifat dari naftalen yang mudah menyublim dan merupakan padatan kristal yang tidak berwarna. Reaksi dari naftalen berlangsung dengan cepat disebabkan karena zat padat pada proses sublimasi mengalami proses perubahan langsung menjadi gas tanpa melalui fase cair. Rumus molekul dari naftelen yaitu C10H8 dan berbentuk dua cincin benzena yang menyatu. Rumus strukturnya yaitu

Sifat fisik dari naftalen yaitu massa molar sebesar 128,17052 gram, kepadatannya sebesar 1,14 g/cm3, titik lebur 80,26C, 353K, 176F, titik didihnya yaitu 218C, 491K, 424F, serta kelarutan di dalam air yaitu 30 mg/L. Sedangkan sifat kimia dari naftalen yaitu bersifat volatil, mudah menguapa walaupun dalam bentuk padatan. Uap yang dihasilkan bersifat mudah terbakar. 

Kapur barus yang dipanaskan akan meleleh dan akan berubaha fasa dari padat langsung menjadi uap. Uap tersebut akan melekat pada dinding gelas kimia dan bagian bawah dari labu alas bulat. Uap yang dihasilkan merupakan uap dari senyawa yang terdapat di dalam kapur barus yaitu naftalen. Uap dari hasil peanasan ini akan dimurnikan dengan cara pendinginan secara perlahan-lahan sehingga akan terbentuk kristal pada dinding gelas kimia dan bagian bawah dari labu alas bulat. Penggunaan labu alas buat yang telah terisi air berfungsi sebagai kondensasi yaitu pendingin agar uap dari naftalena akan membentuk naftalena murni dalam bentuk kristal. 

Manfaat percobaan ini dalam bidang farmasi yaitu dapat memberikan informasi bagaimana cara memurnikan suatu sediaan obat.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemisahan dan pemurnian senyawa naftalena dapat dilakukan dengan cara sublimasi yaitu pengubahan suatu zat dari fase padat langsung menjadi fase uap dan fase uap tersebut langsung di kondensasi menjadi padat tanpa melalui fase cair.

DAFTAR PUSTAKA
Affiz, Fuad, 2012, “Pengaruh Pengerolan Pra Pemanasan Dibawah Temperatur Rekristalisasi Dan Tingkat Deformasi Terhadap Kekerasan Dan Kekuatan Tarik Serta Struktur Mokro Baja Karbon Sedang Untuk Mata Pisau Pemanen Sawit”, Juenal 3-dimanis, II(2).

Ahmadi, Kgs., 2010, “Kristalisasi Pelarut Suhu Rendah Pada Pembuatan Konsentrat Vitamin E Dari Distilat Asam Lemak Minyak Sawit:Kajian Jenis Pelarut”, Jurnal Teknologi Pertanian, 11(1).

Dewi dan Ali, 2003, “Pentisihan Fosfat Dengan Proses Kristalisasi Dalam Reaktor Terfluidisasi Menggunakan Media Pasir Silika”, Jurnal Purifikasi, 4(4).

Fachry, A., R., Juliyadi Tumanggor, Ni Putu Endah Yuni L., 2008, “Pengaruh Waktu Kristalisasi Dengan Proses Pendinginan Terhadap Pertumbuhan Kristal Amonium Sulfat Dari Larutannya”, Jurnal Teknik Kimia, 15(2).

Raini, Mariana, 2009, “ Taksiologi Insektisida Rumah Tangga Dan Pencegahan Keracunan”, Media Penelit dan Pengembang Kesehatan, XIX.

Rositawati, A., L., Citra Metasari Taslim, Danny Soetrisnanto, 2013, “Rekristalisasi Garam Rakyat Dari Daerah Demak Untuk Mencapai SNI Garam Industri”, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2(4).

Setyopratomo, P., Wahyudi Siswanto, Heru Sugiyanto Ilham, 2003, “Studi Eksperimental Pemurnian Garam NaCl Dengan Cara Rekristalisasi”, Unitas, 11(2).

Sudarja, Purnomo, Prajitno, 2007, “Pengaruh Fraksi Udara Terhadap Koefisien Perpindahan Kalor Kondensasi Refrigeran Petrozon Rossy-22 Di Dalam Pipa Tegak”, Jurnal Ilmiah Semesta Teknika, 10(2).

LAPORAN PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)

LAPORAN PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)
PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
PERCOBAAN IX

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu untuk memisahkan dan memurnikan campuran dengan sublimasi.

B. LANDASAN TEORI
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalisasi kembali zat tersebut setelah dilarutkan di dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok (Rositawati, dkk., 2013).

Selain itu, kristalisasi adalah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat dalam suatu fase homogen. Kristalisasi dari larutan dapat terjadi jika padatan pelarut dalam keadaan berlebih (diluar kesetimbangan), maka sistem akan mencapai kesetimbangan dengan cara mengkristalkan padatan pelarut (Dewi dan Ali, 2003).

Kristalisasi dari suatu larutan merupakan proses yang sangat penting, karena ada berbagai macam bahan yang dipasarkan dalam bentuk kristalin. Secara umum tujuan kristalisasi adalah untuk memperoleh produk dengan kemurnian tinggi dan tingkat pemungutan yang tinggi pula (Fachry, dkk., 2008).

Kristalisasi dari suatu larutan dapat dikategorikan sebagai salah satu proses pemisahan yang efisien. Secara umum, tujuan dari proses kristalisasi adalah menghasilkan produk kristal dengan kualitas seperti yang diharapkan (Setyopratomo, dkk., 2003).

Ada beberapa syarat pelarut yang digunakan pada proses rekristalisasi yaitu dapat memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal, dan mudah dipisahkan dengan kristalnya (Rositawati, dkk., 2013).

Keunggulan kristalisasi pelarut adalah penggunaan suhu rendah dan mudah diaplikasikan dengan peralatan sederhana (Ahmadi, 2010).

Temperatur rekristalisasi adalah perubahan strutur kristal akibat pemanasan pada suhu kritis. Sehingga dapat diartikan bahwa temperatur rekristalisasi adalah suatu proses dimana butir logam yang terdeformasi digantikan oleh butiran baru yang tidak terdeformasi yang intinya tumbuh sampai butiran asli termasuk didalamnya (Affiz, 2012).

Proses kondensasi di dalam kondensor mempunyai peranan yang sangat penting, dan sangat mempengaruhi mutu kerja suatu sistem. Salah satu bagian yang dipengaruhi oleh adanya udara (udara kering) yang mempunyai sifat tidak dapat mengembun adalah kondenser (Sudarja, dkk., 2007).

Fumigan merupakan kelompok insektida yang mencakup beberapa jenis gas, cairan atau padatan yang mudah menguap pada suhu rendah dan melepaskan gas yang dapat membasmi hama. Naftalen dikenal dengan nama kapur barus mempunyai bau yang tajam dan dapat menimbulkan iritasi kulit pada orang yang alergi (Raini, 2009).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:

  • Hotplate 
  • Labu alas bulat 1000 ml 
  • Gelas kimia 1000 ml 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:

  • Aquaest 
  • Kapur barus 

D. PROSEDUR KERJA

LAPORAN PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)

E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT (REKRISTALISASI, SUBLIMASI, DAN TITIK LELEH)

F. PEMBAHASAN
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalisasi kembali zat tersebut setelah dilarutkan di dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok.

Selain itu, kristalisasi adalah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat dalam suatu fase homogen. Kristalisasi dari larutan dapat terjadi jika padatan pelarut dalam keadaan berlebih (diluar kesetimbangan), maka sistem akan mencapai kesetimbangan dengan cara mengkristalkan padatan pelarut. 

Percobaan yang dilakukan yaitu proses sublimasi. Sublimasi adalah salah satu cara untuk memisahkan suatu zat dari fase padat langsung menjadi fase uap, dan uap tersebut akan langsung di kondensasi menjadi padat tanpa melalui fase cair. 

Sampel yang digunakan yaitu kapur barus. tujuan pada praktikum ini yaitu untuk memisahkan dan memurnikan zat yang terdapat di dalam kapur barus. Di dalam kapur barus terdapat senyawa naftelen dan zat-zat tambahan lainnya. Zat tambahan ini dapat berupa pewarna dan pengaroma. 

Naftalen digunakan dalam proses sublimasi dikeranakan oleh sifat dari naftalen yang mudah menyublim dan merupakan padatan kristal yang tidak berwarna. Reaksi dari naftalen berlangsung dengan cepat disebabkan karena zat padat pada proses sublimasi mengalami proses perubahan langsung menjadi gas tanpa melalui fase cair. Rumus molekul dari naftelen yaitu C10H8 dan berbentuk dua cincin benzena yang menyatu. Rumus strukturnya yaitu

Sifat fisik dari naftalen yaitu massa molar sebesar 128,17052 gram, kepadatannya sebesar 1,14 g/cm3, titik lebur 80,26C, 353K, 176F, titik didihnya yaitu 218C, 491K, 424F, serta kelarutan di dalam air yaitu 30 mg/L. Sedangkan sifat kimia dari naftalen yaitu bersifat volatil, mudah menguapa walaupun dalam bentuk padatan. Uap yang dihasilkan bersifat mudah terbakar. 

Kapur barus yang dipanaskan akan meleleh dan akan berubaha fasa dari padat langsung menjadi uap. Uap tersebut akan melekat pada dinding gelas kimia dan bagian bawah dari labu alas bulat. Uap yang dihasilkan merupakan uap dari senyawa yang terdapat di dalam kapur barus yaitu naftalen. Uap dari hasil peanasan ini akan dimurnikan dengan cara pendinginan secara perlahan-lahan sehingga akan terbentuk kristal pada dinding gelas kimia dan bagian bawah dari labu alas bulat. Penggunaan labu alas buat yang telah terisi air berfungsi sebagai kondensasi yaitu pendingin agar uap dari naftalena akan membentuk naftalena murni dalam bentuk kristal. 

Manfaat percobaan ini dalam bidang farmasi yaitu dapat memberikan informasi bagaimana cara memurnikan suatu sediaan obat.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemisahan dan pemurnian senyawa naftalena dapat dilakukan dengan cara sublimasi yaitu pengubahan suatu zat dari fase padat langsung menjadi fase uap dan fase uap tersebut langsung di kondensasi menjadi padat tanpa melalui fase cair.

DAFTAR PUSTAKA
Affiz, Fuad, 2012, “Pengaruh Pengerolan Pra Pemanasan Dibawah Temperatur Rekristalisasi Dan Tingkat Deformasi Terhadap Kekerasan Dan Kekuatan Tarik Serta Struktur Mokro Baja Karbon Sedang Untuk Mata Pisau Pemanen Sawit”, Juenal 3-dimanis, II(2).

Ahmadi, Kgs., 2010, “Kristalisasi Pelarut Suhu Rendah Pada Pembuatan Konsentrat Vitamin E Dari Distilat Asam Lemak Minyak Sawit:Kajian Jenis Pelarut”, Jurnal Teknologi Pertanian, 11(1).

Dewi dan Ali, 2003, “Pentisihan Fosfat Dengan Proses Kristalisasi Dalam Reaktor Terfluidisasi Menggunakan Media Pasir Silika”, Jurnal Purifikasi, 4(4).

Fachry, A., R., Juliyadi Tumanggor, Ni Putu Endah Yuni L., 2008, “Pengaruh Waktu Kristalisasi Dengan Proses Pendinginan Terhadap Pertumbuhan Kristal Amonium Sulfat Dari Larutannya”, Jurnal Teknik Kimia, 15(2).

Raini, Mariana, 2009, “ Taksiologi Insektisida Rumah Tangga Dan Pencegahan Keracunan”, Media Penelit dan Pengembang Kesehatan, XIX.

Rositawati, A., L., Citra Metasari Taslim, Danny Soetrisnanto, 2013, “Rekristalisasi Garam Rakyat Dari Daerah Demak Untuk Mencapai SNI Garam Industri”, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2(4).

Setyopratomo, P., Wahyudi Siswanto, Heru Sugiyanto Ilham, 2003, “Studi Eksperimental Pemurnian Garam NaCl Dengan Cara Rekristalisasi”, Unitas, 11(2).

Sudarja, Purnomo, Prajitno, 2007, “Pengaruh Fraksi Udara Terhadap Koefisien Perpindahan Kalor Kondensasi Refrigeran Petrozon Rossy-22 Di Dalam Pipa Tegak”, Jurnal Ilmiah Semesta Teknika, 10(2).