LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN
PERCOBAAN IVPENENTUAN KADAR AIR, KADAR ABU DAN PENETAPAN KADAR SARI MENGGUNAKAN PELARUT TERTENTU

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah 
  1. Untuk mengetahui kadar air yang terkandung dalam ekstrak daun advokat (Persea americana P. Mill.)  
  2. Untuk mengetahui kadar abu yang terkandung dalam ekstrak daun advokat (Persea americana P. Mill.) 
  3. Untuk mengetahui kadar sari suatu sampel menggunakan pelarut tertentu. 

B. BAHAN
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.) dan Batang Brotowali ( Tinospora Crispa. L)

1. KLASIFIKASI TANAMAN
a. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana P. Mill.

b. Brotowali ( Tinospora Crispa. L)
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta
Class : Ordo
Famili : Menisoermaceae
Genus : Tinospora
Species : Tinospora Crispa L 

2. DESKRIPSI TANAMAN
a. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Tanaman ini berbentuk pohon, dengan ketinggian pohon dapat mencapai 3–10 m. Daun banyak menumpuk di ujung ranting, bentuk oval sampai lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 3 cm. Bunga tersusun malai, berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, warna hijau atau hijau kekuningan, berbintik ungu. Biji satu berbentuk bola berwarna coklat (Ditjen POM, 1989).

b. Brotowali (Tinospora Crispa. L.)
Perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 cm, berkutil – kutil yang rapat, pepagannya mudah tergelupas. Daun bertangkai, panjang 16 cm, bentuknya seperti jantung atau agak membundar terlur tetapi berujung runcing. Lebar 6 cm sampai 13 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1 sampai 3 bunga bersama–sama, menggantung panjang 7 cm samapi 25 cm. Bunga (jantan) bergagang pendek 3 mm sampai 4 mm, kelopak 6, hijau, panjang lebih kurang 3,5 mm, daun mahkota 3, panjang lebih kurang 8 mm (Ditjen POM, 1989).

C. PROSEDUR KERJA
Penetapan Kadar Abu
Timbang kosong cawan porselin
LAPORAN PENENTUAN KADAR AIR, KADAR ABU DAN PENETAPAN KADAR SARI MENGGUNAKAN PELARUT TERTENTU

D. HASIL PENGAMATAN
Penetapan kadar abu
LAPORAN PENENTUAN KADAR AIR, KADAR ABU DAN PENETAPAN KADAR SARI MENGGUNAKAN PELARUT TERTENTU

E. PEMBAHASAN
Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu simplisia nabati, hewani, dan pelikan atau mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya. Sedangkan simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni dan simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni.

Simplisia jika diolah lebih lanjut akan menghasilkan ekstrak. Ekstrak adalah hasil dari proses penyarian dari proses ekstraksi. Ekstraksi merupakan proses penarikan suatu zat dengan pelarut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Adapun tujuan dari ekstraksi yaitu untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Analit yang dituju biasanya metabolit sekunder yang dihasilkan dari simplisia. Dalam proses ekstraksi, simplisia terlebih dahulu dibuat dalam bentuk serbuk. Hal ini dimaksudkan agar sel-sel dalam simplisia hancur sehingga ketika dimaserasi zat-zat yang ingin disari akan dengan mudah keluar dan larut dalam pelarut. Proses ini sangat membantu dalam proses maserasi.

Maserasi adalah proses perendaman sampel menggunakan pelarut organik pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan.

Pemilihan pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut. Secara umum, pelarut metanol merupakan pelarut yang banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder. Hasil dari proses maserasi selanjutnya mengalami proses yang disebut evaporasi. Evaporasi adalah proses pemisahan suatu larutan dalam suatu analit yang dituju. Dalam hal ini untuk memisahkan metanol dengan zat-zat metabolit sekunder dari ekstrak daun advokat.

Percobaan kali ini akan dilakukan penetapan kadar abu dan kadar air pada ekstrak daun advokat. Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat pada suatu bahan, sedangkan kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Dalam penetapan kadar abu digunakan alat tanur dengan suhu 900C dan pada penetapan kadar air digunakan alat oven pada suhu 105C. 

Penentuan kadar air dilakukan dengan menimbang cawan porselin yang kosong dan dilakukan juga penimbangan pada simplisia untuk diketahui beratnya sebelum dilakukan pemanasan dengan menggunakan oven. Setelah itu, ditentukan waktunya untuk dilakukan penimbangan ulang yang telah mengalami pengeringan menggunakan oven yang nanti kemudian akan dikurangkan dengan berat awalnya untuk memperoleh nilai kadar air dari simplisia. 

Penentuan kadar air dengan menggunakan oven memiliki prinsip yaitu bahwa air yang terkandung dalam suatu bahan akan menguap bila bahan tersebut dipanaskan pada suhu 105C selama waktu tertentu. Kelebihan pengeringan buatan ini adalah suhu dan kecepatan proses pengeringan dapat diatur sesuai keinginan, tidak terpengaruh cuaca. Untuk kelemahannya memerlukan keterampilan dan peralatan khusus, serta biaya lebih tinggi dibandingkan pengeringan alami.

Dalam penetapan kadar abu, mempunyai proses yang hampir sama dengan penetapan kadar air yaitu langkah pertama yang dilakukan yaitu menimbang cawan dan serbuk simplisia sebelum dilakukan pemanasan dengan menggunakan tanur pada suhu 750C dalam waktu tertentu. Setelah pemanasan selesai, abu yang dihasilkan kemudian ditimbang kembali untuk memperoleh nilai kadar abu dari serbuk simplisia. 

Penentuan kadar abu dengan metode tanur memiliki prinsip yaitu kadar abu yang terukur merupakan bahan-bahan anorganik yang tidak terbakar dalam proses pengabuan, sedangkan bahan-bahan organik akan terbakar. Dalam penetapan kadar abu ini digunakan suhu tinggi yaitu dengan suhu 900C dilakukan agar perubahan suhu pada simplisia maupun porselin tidak secara tiba-tiba, agar tidak memecahkan krus yang mudah pecah pada perubahan suhu yang tiba-tiba. Penggunaan suhu yang tinggi juga akan menyebabkan beberapa mineral tidak larut. 

Selain penetapan kadar air dan kadar abu, juga dapat dilakukan penetapan kadar sari yang terdapat pada simplisia. Kadar sari merupakan suatu metode kuantitatif untuk menentukan jumlah kandungan senyawa dalam suatu simplisia yang dapat tersari dalam pelarut tertentu. Penetapan kadar sari ini, dapat dilakukan dengan dua metode yaitu penetapan kadar sari larut etanol dan penetapan kadar sari larut air. Penetapan kadar sari larut etanol digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dapat larut dalam pelarut organik. Sedangkan penetapan kadar sari larut air digunakan untuk menentukan kemampuan suatu sampel apakah tersari dalam pelarut air. 

Penetapan kadar sari larut etanol dan larut air mempunyai proses yang sama, hanya saja memiliki pelarut yang berbeda pada proses maserasi. Proses tersebut yaitu sampel terlebih dahulu ditimbang kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer. Pada penetapan kadar sari larut air terlebih dahulu ditambahkan dengan kloroform kemudian dijenuhkan dengan menggunakan air. Penambahan kloroform bertujuan sebagai zat antimikroba sehingga mikroorganisme yang melekat pada sampel dapat dihilangkan pada saat proses meserasi, karena jika hanya menggunakan air ada kemungkinan simplisia menjadi rusak karena air merupakan tempat pertumbuhan yang baik bagi mikroorganisme, selain itu dikhawatirkan terjadinya proses hidrolisis yang nantinya akan merusak simplisia sehingga dapat menurunkan mutu dan kualitas dari simplisia. Sedangkan pada penetapan kadar sari larut etanol, tidak dilakukan penambahan kloroform, hal ini dikarenakan etanol telah memiliki sifat sebagai antibakteri sehingga tidak diperlukan lagi adanya penambahan kloroform. Setelah penambahan pelarut, selanjutnya dilakukan proses pengocokan setelah 6 jam. Pengocokan ini bertujuan agar pelarut tersebar merata kesemua bagian simplisia.

Proses selanjutnya, sampel didiamkan selama 18 jam. Proses ini bertujuan untuk memisahkan antara sampel dan pelarut. Setelah didiamkan, selanjutnya diambil 20 ml filtrat dari sampel lalu dimasukkan kedalam cawa porselin dan dipanaskan pada suhu 105C. Proses pemanasan ini bertujuan untuk menguapkan pelarut-pelarut yang digunakan sehingga yang diperoleh adalah berat sari yang larut dalam etanol dan air. 

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penetapan kadar air dengan metode oven pada suhu 1050C diperoleh nilai kadar air dari ekstrak yaitu sebesar 36%, penetapan kadar abu dari serbuk simplisia dengan metode tanur pada suhu 900C diperoleh sebesar 62%. Hasil yang diperoleh pada penetapan kadar sari larut etanol sebesar 11% sedangkan kadar sari larut air sebesar 11,6%.

F. KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini adalah 
  1. Kadar abu ekstrak daun advokat (Persea americana P. Mill.) sebesar 62% 
  2. Kadar air ekstrak daun advokat (Persea americana P. Mill.) sebesar 36% 
  3. Kadar sari simplisia larut etanol sebesar 11%, sedangkan kadar sari simplisia larut air sebesar 11,6%. 

DAFTAR PUSTAKA
Badan POM, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Volume Kelima Edisi Pertama, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 1989 dan 1995, Materi Medika Indonesia, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi Pertama, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN
PERCOBAAN IVPENENTUAN KADAR AIR, KADAR ABU DAN PENETAPAN KADAR SARI MENGGUNAKAN PELARUT TERTENTU

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah 
  1. Untuk mengetahui kadar air yang terkandung dalam ekstrak daun advokat (Persea americana P. Mill.)  
  2. Untuk mengetahui kadar abu yang terkandung dalam ekstrak daun advokat (Persea americana P. Mill.) 
  3. Untuk mengetahui kadar sari suatu sampel menggunakan pelarut tertentu. 

B. BAHAN
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.) dan Batang Brotowali ( Tinospora Crispa. L)

1. KLASIFIKASI TANAMAN
a. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana P. Mill.

b. Brotowali ( Tinospora Crispa. L)
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta
Class : Ordo
Famili : Menisoermaceae
Genus : Tinospora
Species : Tinospora Crispa L 

2. DESKRIPSI TANAMAN
a. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Tanaman ini berbentuk pohon, dengan ketinggian pohon dapat mencapai 3–10 m. Daun banyak menumpuk di ujung ranting, bentuk oval sampai lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 3 cm. Bunga tersusun malai, berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, warna hijau atau hijau kekuningan, berbintik ungu. Biji satu berbentuk bola berwarna coklat (Ditjen POM, 1989).

b. Brotowali (Tinospora Crispa. L.)
Perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 cm, berkutil – kutil yang rapat, pepagannya mudah tergelupas. Daun bertangkai, panjang 16 cm, bentuknya seperti jantung atau agak membundar terlur tetapi berujung runcing. Lebar 6 cm sampai 13 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1 sampai 3 bunga bersama–sama, menggantung panjang 7 cm samapi 25 cm. Bunga (jantan) bergagang pendek 3 mm sampai 4 mm, kelopak 6, hijau, panjang lebih kurang 3,5 mm, daun mahkota 3, panjang lebih kurang 8 mm (Ditjen POM, 1989).

C. PROSEDUR KERJA
Penetapan Kadar Abu
Timbang kosong cawan porselin
LAPORAN PENENTUAN KADAR AIR, KADAR ABU DAN PENETAPAN KADAR SARI MENGGUNAKAN PELARUT TERTENTU

D. HASIL PENGAMATAN
Penetapan kadar abu
LAPORAN PENENTUAN KADAR AIR, KADAR ABU DAN PENETAPAN KADAR SARI MENGGUNAKAN PELARUT TERTENTU

E. PEMBAHASAN
Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu simplisia nabati, hewani, dan pelikan atau mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya. Sedangkan simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni dan simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni.

Simplisia jika diolah lebih lanjut akan menghasilkan ekstrak. Ekstrak adalah hasil dari proses penyarian dari proses ekstraksi. Ekstraksi merupakan proses penarikan suatu zat dengan pelarut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Adapun tujuan dari ekstraksi yaitu untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Analit yang dituju biasanya metabolit sekunder yang dihasilkan dari simplisia. Dalam proses ekstraksi, simplisia terlebih dahulu dibuat dalam bentuk serbuk. Hal ini dimaksudkan agar sel-sel dalam simplisia hancur sehingga ketika dimaserasi zat-zat yang ingin disari akan dengan mudah keluar dan larut dalam pelarut. Proses ini sangat membantu dalam proses maserasi.

Maserasi adalah proses perendaman sampel menggunakan pelarut organik pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan.

Pemilihan pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut. Secara umum, pelarut metanol merupakan pelarut yang banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder. Hasil dari proses maserasi selanjutnya mengalami proses yang disebut evaporasi. Evaporasi adalah proses pemisahan suatu larutan dalam suatu analit yang dituju. Dalam hal ini untuk memisahkan metanol dengan zat-zat metabolit sekunder dari ekstrak daun advokat.

Percobaan kali ini akan dilakukan penetapan kadar abu dan kadar air pada ekstrak daun advokat. Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat pada suatu bahan, sedangkan kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Dalam penetapan kadar abu digunakan alat tanur dengan suhu 900C dan pada penetapan kadar air digunakan alat oven pada suhu 105C. 

Penentuan kadar air dilakukan dengan menimbang cawan porselin yang kosong dan dilakukan juga penimbangan pada simplisia untuk diketahui beratnya sebelum dilakukan pemanasan dengan menggunakan oven. Setelah itu, ditentukan waktunya untuk dilakukan penimbangan ulang yang telah mengalami pengeringan menggunakan oven yang nanti kemudian akan dikurangkan dengan berat awalnya untuk memperoleh nilai kadar air dari simplisia. 

Penentuan kadar air dengan menggunakan oven memiliki prinsip yaitu bahwa air yang terkandung dalam suatu bahan akan menguap bila bahan tersebut dipanaskan pada suhu 105C selama waktu tertentu. Kelebihan pengeringan buatan ini adalah suhu dan kecepatan proses pengeringan dapat diatur sesuai keinginan, tidak terpengaruh cuaca. Untuk kelemahannya memerlukan keterampilan dan peralatan khusus, serta biaya lebih tinggi dibandingkan pengeringan alami.

Dalam penetapan kadar abu, mempunyai proses yang hampir sama dengan penetapan kadar air yaitu langkah pertama yang dilakukan yaitu menimbang cawan dan serbuk simplisia sebelum dilakukan pemanasan dengan menggunakan tanur pada suhu 750C dalam waktu tertentu. Setelah pemanasan selesai, abu yang dihasilkan kemudian ditimbang kembali untuk memperoleh nilai kadar abu dari serbuk simplisia. 

Penentuan kadar abu dengan metode tanur memiliki prinsip yaitu kadar abu yang terukur merupakan bahan-bahan anorganik yang tidak terbakar dalam proses pengabuan, sedangkan bahan-bahan organik akan terbakar. Dalam penetapan kadar abu ini digunakan suhu tinggi yaitu dengan suhu 900C dilakukan agar perubahan suhu pada simplisia maupun porselin tidak secara tiba-tiba, agar tidak memecahkan krus yang mudah pecah pada perubahan suhu yang tiba-tiba. Penggunaan suhu yang tinggi juga akan menyebabkan beberapa mineral tidak larut. 

Selain penetapan kadar air dan kadar abu, juga dapat dilakukan penetapan kadar sari yang terdapat pada simplisia. Kadar sari merupakan suatu metode kuantitatif untuk menentukan jumlah kandungan senyawa dalam suatu simplisia yang dapat tersari dalam pelarut tertentu. Penetapan kadar sari ini, dapat dilakukan dengan dua metode yaitu penetapan kadar sari larut etanol dan penetapan kadar sari larut air. Penetapan kadar sari larut etanol digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dapat larut dalam pelarut organik. Sedangkan penetapan kadar sari larut air digunakan untuk menentukan kemampuan suatu sampel apakah tersari dalam pelarut air. 

Penetapan kadar sari larut etanol dan larut air mempunyai proses yang sama, hanya saja memiliki pelarut yang berbeda pada proses maserasi. Proses tersebut yaitu sampel terlebih dahulu ditimbang kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer. Pada penetapan kadar sari larut air terlebih dahulu ditambahkan dengan kloroform kemudian dijenuhkan dengan menggunakan air. Penambahan kloroform bertujuan sebagai zat antimikroba sehingga mikroorganisme yang melekat pada sampel dapat dihilangkan pada saat proses meserasi, karena jika hanya menggunakan air ada kemungkinan simplisia menjadi rusak karena air merupakan tempat pertumbuhan yang baik bagi mikroorganisme, selain itu dikhawatirkan terjadinya proses hidrolisis yang nantinya akan merusak simplisia sehingga dapat menurunkan mutu dan kualitas dari simplisia. Sedangkan pada penetapan kadar sari larut etanol, tidak dilakukan penambahan kloroform, hal ini dikarenakan etanol telah memiliki sifat sebagai antibakteri sehingga tidak diperlukan lagi adanya penambahan kloroform. Setelah penambahan pelarut, selanjutnya dilakukan proses pengocokan setelah 6 jam. Pengocokan ini bertujuan agar pelarut tersebar merata kesemua bagian simplisia.

Proses selanjutnya, sampel didiamkan selama 18 jam. Proses ini bertujuan untuk memisahkan antara sampel dan pelarut. Setelah didiamkan, selanjutnya diambil 20 ml filtrat dari sampel lalu dimasukkan kedalam cawa porselin dan dipanaskan pada suhu 105C. Proses pemanasan ini bertujuan untuk menguapkan pelarut-pelarut yang digunakan sehingga yang diperoleh adalah berat sari yang larut dalam etanol dan air. 

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penetapan kadar air dengan metode oven pada suhu 1050C diperoleh nilai kadar air dari ekstrak yaitu sebesar 36%, penetapan kadar abu dari serbuk simplisia dengan metode tanur pada suhu 900C diperoleh sebesar 62%. Hasil yang diperoleh pada penetapan kadar sari larut etanol sebesar 11% sedangkan kadar sari larut air sebesar 11,6%.

F. KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini adalah 
  1. Kadar abu ekstrak daun advokat (Persea americana P. Mill.) sebesar 62% 
  2. Kadar air ekstrak daun advokat (Persea americana P. Mill.) sebesar 36% 
  3. Kadar sari simplisia larut etanol sebesar 11%, sedangkan kadar sari simplisia larut air sebesar 11,6%. 

DAFTAR PUSTAKA
Badan POM, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Volume Kelima Edisi Pertama, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 1989 dan 1995, Materi Medika Indonesia, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi Pertama, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.