LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI - ElrinAlria

LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI

LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN IX

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar besi pada sampel air secara spektrofotometri.

B. LANDASAN TEORI
Air konsumsi adalah air yang memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan Kepmenkes RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum yaitu kadar Fe sebesar 0,3 mg/l. Secara kualitas, ditemukan beberapa penyimpangan terhadap parameter kualitas air bersih, baik kualitas fisik, kimia, biologi, ataupun radioaktif. Penurunan kualitas air diantaranya diakibatkan oleh adanya kandungan besi yang sudah ada pada tanah karena lapisan-lapisan tanah yang dilewati air mengandung unsur-unsur kimia tertentu, salah satunya adalah persenyawaan besi. Besi merupakan salah satu unsur pokok alamiah dalam kerak bumi. Keberadaan besi dalam air tanah biasanya berhubungan dengan pelarutan batuan dan mineral terutama oksida, sulfida karbonat, dan silikat yang mengandung logam-logam tersebut (Poerwadio dkk, 2004).

Besi (Fe) merupakan mineral makro dalam kerak bumi, tetapi dalam sistem biologi tubuh merupakan mineral mikro. Besi dalam tubuh berasal dari tiga sumber, yaitu hasil perusakan sel-sel darah merah (hemolisis), dari penyimpanan di dalam tubuh, dan hasil penyerapan pada saluran pencernaan. Dari ketiga sumber tersebut, Fe hasil hemolisis merupakan sumber utama. Bentuk-bentuk senyawa yang ada ialah senyawa heme (hemoglobin, mioglobin, enzim heme) dan poliporfirin (tranfirin, ferritin, dan hemosiderin). Sebagian besar Fe disimpan dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Zat besi dalam tubuh berperan penting dalam berbagai reaksi biokimia, antara lain dalam memproduksi sel darah merah. Sel ini sangat diperlukan untuk mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Zat besi berperan sebagai pembawa oksigen, bukan saja oksigen pernapasan menuju jaringan, tetapi juga dalam jaringan atau dalam sel (Arifin, 2008).

Secara fisiologis Fe berperan ganda sebagai logam esensial tetapi juga bisa toksik. Batas pemisahnya adalah konsentrasinya. Fe terutama terdapat sebagai heme dari molekul hemoprotein, transferin (protein pengangkut) dan ferritin (gudang besi). Intake Fe yang terlalu besar bisa menyebabkan logam ini terakumulasi sebagai ferritin. Senyawaan ini sangat toksik karena berbentuk Fe(OH)3, sumber besi untuk reaksi (Rahman dan Budi, 2004).

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang dapat digunakan untuk menentukan unsur-unsur dalam suatu bahan/cuplikan dengan kepekaan, ketelitian serta selektifitas yang tinggi. Metoda analisis ini banyak dipakai untuk menentukan kadar unsur logam dalam suatu bahan. Penggunaan spektrofotometri untuk analisis unsur logam memberikan keuntungan berupa sensitivitas yang cukup tinggi, waktu analisa relativ singkat ketelitian dan ketepatan dapat dipercaya dan tanpa pemisahan dari logam-logam pengganggu lainnya (Asminar dkk, 2008).

Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai bidang analisis kimia terutama farmasi (Karinda, 2013).

Spektra UV-VIS dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan analisis kuantitatif. Dari aspek kualitatif, jika digabung dengan cara lain seperti spektroskopi inframerah, resonansi magnet inti, dan spektroskopi massa, maka dapat digunakan untuk maksud identifikasi/ analisis kualitatif suatu senyawa. Data yang diperoleh dari spektroskopi UV dan VIS adalah panjang gelombang maksimal, intensitas, efek pH, dan pelarut. Sedangkan dari aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarannya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan radiasi cahaa sebanding dengan jumlah foton yang melalui satu satuan luas penampang perdetik (Gandjar dan Rohman, 2004).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
  • Spektrofotometer UV-VIS 
  • Kuvet 
  • Labu takar 
  • Pipet ukur 
  • Filler 
  • Pipet tetes 
  • Gelas kimia 
  • Gelas ukur 

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 
  • Sampel air sumur 
  • Sampel air sungai 
  • Larutan induk FeCl3 1 M 
  • Larutan CTM 

D. URAIAN BAHAN
1. Air Suling (Dirjen POM, 1979: Hal. 96)
Nama resmi : Aqua Destillata
Berat molekul : 18,02
Rumus molekul : H2O
Rumus struktur :
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai sampel.

2. Besi (III) Klorida (Dirjen POM, 1979: Hal. 659)
Nama resmi : Besi (III) Klorida
Rumus molekul : FeCl3
Pemerian : Hablur atauu serbuk hablur; hitam kehijauan, bebas warna jingga dari garam hidrat yang telah terpengaruh oleh kelembaban.
Kelarutan : Larut dalam air, larutan beropalesensi berwarna jingga.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai larutan induk.

3. CTM (Dirjen POM, 1979: Hal. 153)
Nama resmi : Chlorpheniramini Maleas)
Sinonim : Klorfeniramina maleat
Berat molekul : 390,87
Rumus molekul : C16H19ClN2, C4H4O4
Rumus struktur :
Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian etanol dan dalam 10 bagian kloroform; sukar larut dalam eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : antihistaminikum, zat tambahan.

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI

F. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI

G. PEMBAHASAN
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer. Spektroskopi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi materi dengan energi pada level mikroskopis.

Spektrofotometri dapat dibedakan menjadi empat, yaitu spektrofotometri UV, spektrofotometri Visible, spektrofotometri UV-Visible, dan spektrofotometri IR (Infra red). Instrumen spektrofotometri UV disebut spektrofotometer UV, spektrofotometri Visible disebut spektrofotometer Visible, spektrofotometri UV-Visible disebut spektrofotometer UV-Visible, dan spektrofotometer IR Prinsip kerja dari masing-masing spektrofotometer intinya sama, yaitu adanya interaksi antara materi dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Perbedaannya terletak pada panjang gelombang yang digunakan. 

Spektrum UV terentang dari 200 – 400 nm, sedangkan spektrum visibel terentang dari 400 – 800 nm. Radiasi UV dan radiasi visibel merupakan radiasi elektromagnetik yang mempunyai energi yang tergantung pada frekuensi dan panjang gelombang cahaya, sesuai dengan persamaan berikut :
E = h v = (h.c)/λ
h merupakan ketetapan Plank (6,6 . 10-32 joule det), c merupakan kecepatan cahaya (3 . 1010 cm/det), dan λ merupakan panjang gelombang (cm). Dari persamaan tersebut, dapat diketahui semakin besar nilai panjang gelombang, maka semakin kecil energinya, sebaliknya semakin kecil nilai panjang gelombang, maka semakin besar energinya.

Dalam spektrofotometri UV, larutan yang diukur absorbansinya merupakan larutan tidak berwarna, sedangkan pada spektrofotometri Visible, larutan yang diukur absorbansinya merupakan larutan berwarna. Hal ini berhubungan dengan absorpsi radiasi UV-Visibel mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah keorbital keadaan tereksitasi yang berenergi lebih tinggi. Suatu molekul untuk melakukan transisi elektron membutuhkan energi yang sesuai, sehingga energi tersebut dapat diserap untuk transisi elektron. Energi yang pas atau sesuai diperoleh pada λ maksimum. Dalam setiap panjang gelombang memiliki energinya masing-masing., sehingga harus dicari panjang gelombang yang benar-benar sesuai atau pas (λ maksimum), sehingga seluruh energi dapat diserap dengan maksimal. Suatu larutan berwarna membutuhkan energi yang kecil, sehingga mudah untuk melakukan transisi elektron, sedangkan larutan tidak berwarna membutuhkan energi yang besar, sehingga tidak mudah untuk melakukan transisi elektron. 

Dalam percobaan ini dilakukan pengukuran absorbansi untuk menentukan konsentrasi besi dalam sampel air. Metode yang digunakan adalah spektrofotometri Visible, sebab larutan yang digunakan adalah larutan berwarna. Untuk mengukur absorbansinya, terlebih dahulu ditentukan panjang gelombang maksimumnya agar seluruh energi pada panjang gelombang tersebut dapat diserap, sehingga dapat diukur absorbansinya. Panjang gelombang maksimum yang digunakan adalah 387 nm. Sebelumnya, dilakukan pengukuran absorbansi pada larutan standar FeCl3. Larutan standar yang diukur absorbansinya dibuat dengan konsentrasi yang berbeda-beda, yaitu 0,001 M, 0,002 M, 0,003 M, 0,004 M, dan 0,005 M. Tujuannya untuk mengetahui berapa besar kadar besi dalam FeCl3 dengan konsentrasi tertentu. Larutan FeCl3 dan sampel air yang akan diukur absorbansinya terlebih dahulu ditambahkan larutan CTM yang dapat mengomplekskan FeCl3, dimana Fe dalam FeCl3 menggantikan posisi Cl dalam CTM. Sebaiknya, larutan yang digunakan untuk membentuk larutan kompleks adalah fenantrolin, sebab satu fenantrolin dapat mengikat dua bilangan koordinasi. Semakin banyak fenantrolin yang terikat, semakin kompleks larutannya. Senyawa kompleks terbentuk dari kovalen koordinasi yang dimiliki atom pusat atau berapa pasang elektron yang diberikatan untuk berikatan.Penambahan CTM juga dapat membentuk larutan menjadi berwarna sehingga nilai absorbansinya dapat diukur. Dalam percobaan ini, sebaiknya juga ditambahkan hidroksilamin dan natrium asetat yang berfungsi untuk menjaga Fe agar tidak terlarut mejadi Fe3. Namun, penambahan hidroksilamin dan natrium asetat dapat menimbulkan endapan pada larutan akibat reaksi dari CTM dengan hidroksilamin dan natrium asetat. Larutan yang mengendap tidak dapat diukur absorbansinya dengan spektrofotometer, sehingga tidak dilakukan penambahan hidroksilamin dan natrium asetat.

Dalam pengukuran absorbansi, dilakukan pula pengukuran larutan blanko. Larutan blanko ini berfungsi untuk mengantisipasi adanya Fe atau senyawa yang dicari dalam pelarut yang digunakan. Sehingga, larutan blanko yang digunakan adalah larutan yang digunakan sebagai pelarut. Dalam percobaan ini pelarut yang digunakan adalah akuades. Dari hasil pengukuran, diperoleh nilai absorbansi larutan standar FeCl3 0,01 M : 2,677 Å, FeCl3 0,02 M : 2,677 Å, FeCl3 0,03 M : 2,677 Å, FeCl3 0,04 M : 2,698 Å, FeCl3 0,05 M : 2,677 Å. Sedangkan, pada sampel air diperoleh nilai absorbansi sampel air sungai : 1.205 Å dan sampel air sumur : 1.169 Å. Konsentrasi Fe yang diperoleh dalam sampel air sungai adalah -0.8398 dan pada air sumur adalah -0.8610. Kadar Fe bernilai negatif yang menunjukkan kandungan Fe dalam sampel air rendah. 

Zat besi merupakan elemen esensial yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit. Zat besi adalah mineral penting bagi tubuh. Manfaat zat besi terutama untuk membawa oksigen ke sel-sel darah. Sekitar 2/3 zat besi dalam tubuh terdapat dalam hemoglobin. Jika dalam tubuh kekurangan zat besi, maka pengangkutan oksigen ke sel-sel darah dapat terganggu yang dapat menyebabkan anemia. Anemia disebabkan oleh rendahnya kadar zat besi dalam darah karena gangguan penyerapan zat besi, keasaman rendah dalam perut, atau gangguan pada mukosa usus. Sebaliknya, kadar besi dalam tubuh yang berlebih dapat membahayakan tubuh. Sebab besi merupakan logam berat yang akan memicu berbagai efek samping yang merugikan, diantaranya masalah pencernaan, perubahan warna gigi, dan keracunan besi.

H. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi Fe yang diperoleh dalam sampel air sungai adalah -0.8398 dan pada air sumur adalah -0.8610.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal, 2008, Beberapa Unsur Mineral Esensial Mikro Dalam Sistem Biologi dan Metode Analisisnya, Jurnal Litbang Vol. 3 No. 27, Bogor.

Asminar, Rahmiati, dan Ahmad S., 2008, Analisis Unsur Cu, Cr, Fe, Mg, dan Zn Dalam Paduan AlMgSi-1, Prosiding Seminar Pengelolaan Perangkat Nuklir ISSN 1978-9858, BATAN.

Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. (Hal. 241)

Karinda, M., Fatimawali dan Gayatri C., 2013, Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Dan Iodometri, Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT, Vol. 2 No. 01, Unsrat Manado.

Poerwadio, A. D. dan Ali M., Penurunan Kadar Besi oleh Media Zeolit Alam Ponorogo Secara Kontinyu, Jurnal Purifikasi Vol. 5 No. 4, Institut Teknologi Surabaya.

Rahman, Abdur dan Budi H., 2004, Penyaringan Air Tanah Dengan Seolit Alami Untuk Menurunkan Kadar Besi dan Mangan, Jurnal Makara Kesehatan Vol. 8 No. 1, Universitas Indonesia.

LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI


LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI

LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN IX

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar besi pada sampel air secara spektrofotometri.

B. LANDASAN TEORI
Air konsumsi adalah air yang memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan Kepmenkes RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum yaitu kadar Fe sebesar 0,3 mg/l. Secara kualitas, ditemukan beberapa penyimpangan terhadap parameter kualitas air bersih, baik kualitas fisik, kimia, biologi, ataupun radioaktif. Penurunan kualitas air diantaranya diakibatkan oleh adanya kandungan besi yang sudah ada pada tanah karena lapisan-lapisan tanah yang dilewati air mengandung unsur-unsur kimia tertentu, salah satunya adalah persenyawaan besi. Besi merupakan salah satu unsur pokok alamiah dalam kerak bumi. Keberadaan besi dalam air tanah biasanya berhubungan dengan pelarutan batuan dan mineral terutama oksida, sulfida karbonat, dan silikat yang mengandung logam-logam tersebut (Poerwadio dkk, 2004).

Besi (Fe) merupakan mineral makro dalam kerak bumi, tetapi dalam sistem biologi tubuh merupakan mineral mikro. Besi dalam tubuh berasal dari tiga sumber, yaitu hasil perusakan sel-sel darah merah (hemolisis), dari penyimpanan di dalam tubuh, dan hasil penyerapan pada saluran pencernaan. Dari ketiga sumber tersebut, Fe hasil hemolisis merupakan sumber utama. Bentuk-bentuk senyawa yang ada ialah senyawa heme (hemoglobin, mioglobin, enzim heme) dan poliporfirin (tranfirin, ferritin, dan hemosiderin). Sebagian besar Fe disimpan dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Zat besi dalam tubuh berperan penting dalam berbagai reaksi biokimia, antara lain dalam memproduksi sel darah merah. Sel ini sangat diperlukan untuk mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Zat besi berperan sebagai pembawa oksigen, bukan saja oksigen pernapasan menuju jaringan, tetapi juga dalam jaringan atau dalam sel (Arifin, 2008).

Secara fisiologis Fe berperan ganda sebagai logam esensial tetapi juga bisa toksik. Batas pemisahnya adalah konsentrasinya. Fe terutama terdapat sebagai heme dari molekul hemoprotein, transferin (protein pengangkut) dan ferritin (gudang besi). Intake Fe yang terlalu besar bisa menyebabkan logam ini terakumulasi sebagai ferritin. Senyawaan ini sangat toksik karena berbentuk Fe(OH)3, sumber besi untuk reaksi (Rahman dan Budi, 2004).

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang dapat digunakan untuk menentukan unsur-unsur dalam suatu bahan/cuplikan dengan kepekaan, ketelitian serta selektifitas yang tinggi. Metoda analisis ini banyak dipakai untuk menentukan kadar unsur logam dalam suatu bahan. Penggunaan spektrofotometri untuk analisis unsur logam memberikan keuntungan berupa sensitivitas yang cukup tinggi, waktu analisa relativ singkat ketelitian dan ketepatan dapat dipercaya dan tanpa pemisahan dari logam-logam pengganggu lainnya (Asminar dkk, 2008).

Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai bidang analisis kimia terutama farmasi (Karinda, 2013).

Spektra UV-VIS dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan analisis kuantitatif. Dari aspek kualitatif, jika digabung dengan cara lain seperti spektroskopi inframerah, resonansi magnet inti, dan spektroskopi massa, maka dapat digunakan untuk maksud identifikasi/ analisis kualitatif suatu senyawa. Data yang diperoleh dari spektroskopi UV dan VIS adalah panjang gelombang maksimal, intensitas, efek pH, dan pelarut. Sedangkan dari aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarannya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan radiasi cahaa sebanding dengan jumlah foton yang melalui satu satuan luas penampang perdetik (Gandjar dan Rohman, 2004).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
  • Spektrofotometer UV-VIS 
  • Kuvet 
  • Labu takar 
  • Pipet ukur 
  • Filler 
  • Pipet tetes 
  • Gelas kimia 
  • Gelas ukur 

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 
  • Sampel air sumur 
  • Sampel air sungai 
  • Larutan induk FeCl3 1 M 
  • Larutan CTM 

D. URAIAN BAHAN
1. Air Suling (Dirjen POM, 1979: Hal. 96)
Nama resmi : Aqua Destillata
Berat molekul : 18,02
Rumus molekul : H2O
Rumus struktur :
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai sampel.

2. Besi (III) Klorida (Dirjen POM, 1979: Hal. 659)
Nama resmi : Besi (III) Klorida
Rumus molekul : FeCl3
Pemerian : Hablur atauu serbuk hablur; hitam kehijauan, bebas warna jingga dari garam hidrat yang telah terpengaruh oleh kelembaban.
Kelarutan : Larut dalam air, larutan beropalesensi berwarna jingga.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai larutan induk.

3. CTM (Dirjen POM, 1979: Hal. 153)
Nama resmi : Chlorpheniramini Maleas)
Sinonim : Klorfeniramina maleat
Berat molekul : 390,87
Rumus molekul : C16H19ClN2, C4H4O4
Rumus struktur :
Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian etanol dan dalam 10 bagian kloroform; sukar larut dalam eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : antihistaminikum, zat tambahan.

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI

F. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENENTUAN KADAR BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI

G. PEMBAHASAN
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer. Spektroskopi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi materi dengan energi pada level mikroskopis.

Spektrofotometri dapat dibedakan menjadi empat, yaitu spektrofotometri UV, spektrofotometri Visible, spektrofotometri UV-Visible, dan spektrofotometri IR (Infra red). Instrumen spektrofotometri UV disebut spektrofotometer UV, spektrofotometri Visible disebut spektrofotometer Visible, spektrofotometri UV-Visible disebut spektrofotometer UV-Visible, dan spektrofotometer IR Prinsip kerja dari masing-masing spektrofotometer intinya sama, yaitu adanya interaksi antara materi dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Perbedaannya terletak pada panjang gelombang yang digunakan. 

Spektrum UV terentang dari 200 – 400 nm, sedangkan spektrum visibel terentang dari 400 – 800 nm. Radiasi UV dan radiasi visibel merupakan radiasi elektromagnetik yang mempunyai energi yang tergantung pada frekuensi dan panjang gelombang cahaya, sesuai dengan persamaan berikut :
E = h v = (h.c)/λ
h merupakan ketetapan Plank (6,6 . 10-32 joule det), c merupakan kecepatan cahaya (3 . 1010 cm/det), dan λ merupakan panjang gelombang (cm). Dari persamaan tersebut, dapat diketahui semakin besar nilai panjang gelombang, maka semakin kecil energinya, sebaliknya semakin kecil nilai panjang gelombang, maka semakin besar energinya.

Dalam spektrofotometri UV, larutan yang diukur absorbansinya merupakan larutan tidak berwarna, sedangkan pada spektrofotometri Visible, larutan yang diukur absorbansinya merupakan larutan berwarna. Hal ini berhubungan dengan absorpsi radiasi UV-Visibel mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah keorbital keadaan tereksitasi yang berenergi lebih tinggi. Suatu molekul untuk melakukan transisi elektron membutuhkan energi yang sesuai, sehingga energi tersebut dapat diserap untuk transisi elektron. Energi yang pas atau sesuai diperoleh pada λ maksimum. Dalam setiap panjang gelombang memiliki energinya masing-masing., sehingga harus dicari panjang gelombang yang benar-benar sesuai atau pas (λ maksimum), sehingga seluruh energi dapat diserap dengan maksimal. Suatu larutan berwarna membutuhkan energi yang kecil, sehingga mudah untuk melakukan transisi elektron, sedangkan larutan tidak berwarna membutuhkan energi yang besar, sehingga tidak mudah untuk melakukan transisi elektron. 

Dalam percobaan ini dilakukan pengukuran absorbansi untuk menentukan konsentrasi besi dalam sampel air. Metode yang digunakan adalah spektrofotometri Visible, sebab larutan yang digunakan adalah larutan berwarna. Untuk mengukur absorbansinya, terlebih dahulu ditentukan panjang gelombang maksimumnya agar seluruh energi pada panjang gelombang tersebut dapat diserap, sehingga dapat diukur absorbansinya. Panjang gelombang maksimum yang digunakan adalah 387 nm. Sebelumnya, dilakukan pengukuran absorbansi pada larutan standar FeCl3. Larutan standar yang diukur absorbansinya dibuat dengan konsentrasi yang berbeda-beda, yaitu 0,001 M, 0,002 M, 0,003 M, 0,004 M, dan 0,005 M. Tujuannya untuk mengetahui berapa besar kadar besi dalam FeCl3 dengan konsentrasi tertentu. Larutan FeCl3 dan sampel air yang akan diukur absorbansinya terlebih dahulu ditambahkan larutan CTM yang dapat mengomplekskan FeCl3, dimana Fe dalam FeCl3 menggantikan posisi Cl dalam CTM. Sebaiknya, larutan yang digunakan untuk membentuk larutan kompleks adalah fenantrolin, sebab satu fenantrolin dapat mengikat dua bilangan koordinasi. Semakin banyak fenantrolin yang terikat, semakin kompleks larutannya. Senyawa kompleks terbentuk dari kovalen koordinasi yang dimiliki atom pusat atau berapa pasang elektron yang diberikatan untuk berikatan.Penambahan CTM juga dapat membentuk larutan menjadi berwarna sehingga nilai absorbansinya dapat diukur. Dalam percobaan ini, sebaiknya juga ditambahkan hidroksilamin dan natrium asetat yang berfungsi untuk menjaga Fe agar tidak terlarut mejadi Fe3. Namun, penambahan hidroksilamin dan natrium asetat dapat menimbulkan endapan pada larutan akibat reaksi dari CTM dengan hidroksilamin dan natrium asetat. Larutan yang mengendap tidak dapat diukur absorbansinya dengan spektrofotometer, sehingga tidak dilakukan penambahan hidroksilamin dan natrium asetat.

Dalam pengukuran absorbansi, dilakukan pula pengukuran larutan blanko. Larutan blanko ini berfungsi untuk mengantisipasi adanya Fe atau senyawa yang dicari dalam pelarut yang digunakan. Sehingga, larutan blanko yang digunakan adalah larutan yang digunakan sebagai pelarut. Dalam percobaan ini pelarut yang digunakan adalah akuades. Dari hasil pengukuran, diperoleh nilai absorbansi larutan standar FeCl3 0,01 M : 2,677 Å, FeCl3 0,02 M : 2,677 Å, FeCl3 0,03 M : 2,677 Å, FeCl3 0,04 M : 2,698 Å, FeCl3 0,05 M : 2,677 Å. Sedangkan, pada sampel air diperoleh nilai absorbansi sampel air sungai : 1.205 Å dan sampel air sumur : 1.169 Å. Konsentrasi Fe yang diperoleh dalam sampel air sungai adalah -0.8398 dan pada air sumur adalah -0.8610. Kadar Fe bernilai negatif yang menunjukkan kandungan Fe dalam sampel air rendah. 

Zat besi merupakan elemen esensial yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit. Zat besi adalah mineral penting bagi tubuh. Manfaat zat besi terutama untuk membawa oksigen ke sel-sel darah. Sekitar 2/3 zat besi dalam tubuh terdapat dalam hemoglobin. Jika dalam tubuh kekurangan zat besi, maka pengangkutan oksigen ke sel-sel darah dapat terganggu yang dapat menyebabkan anemia. Anemia disebabkan oleh rendahnya kadar zat besi dalam darah karena gangguan penyerapan zat besi, keasaman rendah dalam perut, atau gangguan pada mukosa usus. Sebaliknya, kadar besi dalam tubuh yang berlebih dapat membahayakan tubuh. Sebab besi merupakan logam berat yang akan memicu berbagai efek samping yang merugikan, diantaranya masalah pencernaan, perubahan warna gigi, dan keracunan besi.

H. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi Fe yang diperoleh dalam sampel air sungai adalah -0.8398 dan pada air sumur adalah -0.8610.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal, 2008, Beberapa Unsur Mineral Esensial Mikro Dalam Sistem Biologi dan Metode Analisisnya, Jurnal Litbang Vol. 3 No. 27, Bogor.

Asminar, Rahmiati, dan Ahmad S., 2008, Analisis Unsur Cu, Cr, Fe, Mg, dan Zn Dalam Paduan AlMgSi-1, Prosiding Seminar Pengelolaan Perangkat Nuklir ISSN 1978-9858, BATAN.

Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. (Hal. 241)

Karinda, M., Fatimawali dan Gayatri C., 2013, Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Dan Iodometri, Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT, Vol. 2 No. 01, Unsrat Manado.

Poerwadio, A. D. dan Ali M., Penurunan Kadar Besi oleh Media Zeolit Alam Ponorogo Secara Kontinyu, Jurnal Purifikasi Vol. 5 No. 4, Institut Teknologi Surabaya.

Rahman, Abdur dan Budi H., 2004, Penyaringan Air Tanah Dengan Seolit Alami Untuk Menurunkan Kadar Besi dan Mangan, Jurnal Makara Kesehatan Vol. 8 No. 1, Universitas Indonesia.