LAPORAN PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) - ElrinAlria
LAPORAN PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)
LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI
PERCOBAAN V
PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan nilai Rf beberapa sediaan obat berdasarkan kromatografi lapis tips (KLT).

B. LANDASAN TEORI
Kromatografi adalah pemisahan campuran komponen-komponen didasarkan pada perbedaan tingkat interaksi terhadap dua fasa material pemisah. Campuran yang akan dipisahkan dibawa fasa gerak, yang kemudian dipaksa bergerak atau disaring melalui fasa diam karena pengaruh gaya berat atau gaya-gaya yang lain. Komponen-komponen dari campuran ditarik dan diperlambat oleh fasa diam pada tingkat yang berbeda-beda sehingga mereka bergerak bersama-sama dengan fasa gerak dalam waktu retensi (retention time) yang berbeda-beda dan dengan demikian mereka terpisah (Widada, 2000). 

Kromatografi lapis tipis digunakan untuk pemisahan zat secara cepat dengan menggunakan zat penyerap berupa serbuk halus yang dilapiskan serba rata pada lempeng kaca. Lempeng yang dilapis, dapat dianggap sebagai kolom kromatografi terbuka dan pemisahan didasarkan pada penyerapan pembagian atau gabungannya tergantung dari jenis zat penyerap pembagian atau gabungannya tergantung dari jenis zat penyerap dan cara pembuatan lapisan zat penyerap dan jenis pelarut. KLT dengan penyerap penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa polar. Harga Rf yang diperoleh pada KLT tidak tetap jika dibandingkan dengan yang diperoleh pada kromatografi kertas karena itu pada lempeng yang sama disamping kromatogram dari zat yang diperiksa perlu dibuat kromatogram dari zat pembanding kimia lebih baik dengan kadar yang berbeda-beda. Pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya menggunakan lapis tipis silika atau alumina yag seragam pada sebuah lempengan gelas atau logam atau plastik yang keras. Gel silika atau alumina mengandung substansi dimana substansi tersebut dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina (alumunium oksida). Sedangkan fase gerak kromatografi disebut juga dengan eluent. Eluent adalah fase gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorbent). Pemisahan komponen sangat dipengaruhi oleh adanya interaksi antara adsorbent dan eluen (Anonim, 1977).

Jumlah yang minim dan banyaknya bagian senyawa yang terjerap merupakan penyebab utama dari tidak adanya pergerakan dari sampel. Namun apabila sampel yang ditempelkan terlalu banyak, maka akan menimbulkan suatu kondisi yang dinamakan tailing atau munculnya ekor. Tailing atau ekor disebabkan oleh aftinitas mol zat pada bahan penyerap yang lebih besar dibandingkan dengan kemampuan fase bergerak untuk membawa zat- zat tersebut sehingga banyak bagian dari zat tersebut yang akan tertinggal di fase tetap. Namun tailing dapat diatasi dengan cara melarutkan kembali zat- zat yang terserap kuat pada fase tetap dengan asam atau dengan melakukan elusi secara bertahap dengan fase bergerak yang semakin polar. Pemakaian fase bergerak yang semakin polar akan berdampak pada perambatan fase yang semakin cepat. Namun apabila fase tetap yang digunakan bersifat sangat polar justru akan memperlambat perambatan zat (Sudarmadji, 2007). 

Berbagai metode kromatografi memberikan cara pemisahan paling kuat dilaboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya yang leluasa, dipakai secara luas untuk pemisahan analitik dan preparatif. Biasanya, kromatografi analitik dipakai pada tahap permulaan untuk semua cuplikan, dan kromatografi preparatif hanya dilakukan juka diperlukan fraksi murni dari campuran. Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengan cara mengotak-atik langsung beberapa sifat fisika umum dari molekul. Sifat utama yang terlibat ialah :(1) Kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan), (2) Kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus (adsorpsi, penjerapan), dan (3) Kecenderungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap (keatsirian) (Gritter, 1991).

Obat yang bersifat analgetik (penahan rasa sakit/nyeri) dan antipiretik (penurun panas/demam) adalah obat yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, karena obat ini dapat berkhasiat untuk menyembuhkan demam, sakit kepala dan rasa nyari, umumnya obat yang bersifat analgesik dan antipiretik ini mengandung zat aktif yang disebut asetaminofen atau lebih dikenal dengan nama parasetamol (Rachdiati, 2008). 

Kafein (1,3,7-trimetil xantin) merupakan salah satu derivat xantin yang mempunyai aya kerja sebagai stimulan sistem saraf pusat, stimulan otot jantung, relaksasi otot polos dan meningkatkan diuresis, dengan tingkatan berbeda. Efek kafein dapat meningkat apabila berinteraksi dengan beberapa jenis obat, antara lain: obat asma, pil KB, antidepresan, antipsikotika, simetidin. Akibatnya mungkin terjadi kofeinisme disertai gejala gelisah dan mudah terangsang, sakit kepala, tremor, pernapasan cepatan insomnia (Hartono, 2009). 

Kafein merupakan senyawa golongan alkaloid turunan xantin yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan seperti kopi, teh, dan coklat. Efek kofein yang menguntungkan pada sakit kepala vasomotorik disebabkan oleh kontriksi pembuluh darah otak dan turunannya tekanan cairan serebrosinal (Wulandari, 2008). 

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • a. Botol flakon
  • b. Gelas kaca bening
  • c. Lempeng KLT
  • d. Oven
  • e. Penggaris
  • f. Pensil
  • g. Pipet tetes
  • h. Sinar UV

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • a. Aluminium voil
  • b. Eluen (metanol, as.asetat, gliserin, dietil eter dan benzen)
  • c. Kafein murni
  • d. Kertas saring
  • e. Metanol
  • f. Parasetamol murni
  • g. Sampel obat bodrexin (parasetamol dan kafein)
  • h. Semprot sulfat

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)


E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)


F. PEMBAHASAN
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan yang didasarkan pada perbedaan migrasi senyawa-senyawa yang dipisahkan pada suatu sistem yang terdiri dari dari fasa diam dan fasa gerak. Pada awal perkembangannya pemisahan dengan kromatografi hanya didasarkan pada perbedaan kemampuan serap senyawa-senyawa yang akan dipisahkan pada suatu fasa diam (kromatografi adsorpsi). Fasa diam kemudian dielusi dengan eluen yang sesuai untuk memisahkan senyawa-senyawa yang terserap tersebut. Senyawa yang tidak terserap dengan baik pada fasa gerak akan bergerak bersama fasa gerak dan yang terserap dengan baik akan tetap pada posisi awal senyawa tersebut diaplikasikan. Pada perkembangannya pemisahan campuran dengan kromatografi juga didasarkan pada perbedaan koefisien partisi, koefisien distribusi (kromatografi partisi), muatan (penukar ion), perbedaan besar molekul (kromatografi saring molekul) dan beberapa prinsip migrasi lainnya.

Jarak antara jalannya pelarut bersifat relatif. Nilai perhitungan tersebut adalah nilai Rf, nilai ini digunakan sebagai nilai perbandingan relatif antar sampel. Nilai Rf menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fase diam sehingga nilai Rf sering juga disebut faktor retensi. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus berikut :

Rf = Jarak yang ditempuh substansi / Jarak yang ditempuh oleh pelarut

Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis. Saat membandingkan dua sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis. Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasikan senyawa. Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki karakteristik yang sama atau mirip. Sedangkan, bila nilai Rfnya berbeda, senyawa tersebut dapat dikatakan merupakan senyawa yang berbeda. Oleh karena itu bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1,0

Silika gel adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan jel silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH.Jadi, pada permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol.. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus –OH.

Silika Gel, Pada umumnya sebagai fase diam digunakan silika gel. Untuk penggunaan dalam suatu tipe pemisahan perbedaan tidak hanya pada struktur, tetapi juga pori-porinya dan struktur lubangnya menjadi penting, di samping pemilihan fase gerak. Dalam perdagangan silika gel mempunyai ukuran 10-40µ. Ukuran ini terutama dipengaruhi oleh ukuran porinya yang bervariasi dari 20-50Å. Silika gel berpori 80-150 dinamakan berpori besar. Luas permukaan silika gel bervariasi dari 300-1000m2/g. Silika gel sangan higroskopis. Pada kelembapan relatif 45-75% dapat mengikat air 7-20%. 

Hal pertama yang dilakulan pada percobaan ini adalah pembuatan lempeng. Pada dasarnya ada 4 cara yang digunakan dalam pembuattam lapis tipis, yaitu pembentangan, penuangan, penyemprotan dan pencelupan. Dalam percobaan ini digunakan metode penuangan dengan menuang hasil pelarutan silika ke atas kaca preparat. Silika yang telah dituangkan dibiarkan hingga mengeras, namun perlakuan terhadap lempeng harus hati-hati agar silika. yang sudah mengeras tidak retak. Dibuat garis atas dab garis bawah pada lempeng dengan masing-masing 0,5 cm dari ujung atas lempeng dan 1 cm dari ujung bawah lempeng. Diberi tanda sebelum ditotolkan sampel dan larutan pembanding. Pemisahan pada KLT yang optimal akan diperoleh hanya jika penotolan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin. Namun apabila sampel yang ditempelkan terlalu banyak, maka akan menimbulkan suatu kondisi yang dinamakan tailing atau munculnya ekor. Tailing atau ekor disebabkan oleh aftinitas mol zat pada bahan penyerap yang lebih besar dibandingkan dengan kemampuan fasa bergerak untuk membawa zat- zat tersebut sehingga banyak bagian dari zat tersebut yang akan tertinggal di fasa tetap. Berdasarakan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa nilai Rf untuk sampel adalah 0,15 cm., parasetamol yaitu 0,13 cm dan untuk kafein yaitu 0,083 cm.

G. KESIMPULAN
Berdasarakan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa nilai Rf untuk sampel adalah 0,15 cm., parasetamol yaitu 0,13 cm dan untuk kafein yaitu 0,083 cm.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.1977. Materi Medika Indonesia Jilid V. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Gritter, R. J., James M. B. dan Arthur E. S. 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB. Bandung.

Hartono, E. 2009. Penetapan Kafein dalam Biji Kopi secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Biomedika. Vol. 2(1). Surakarta.

Rachdiati, H., Ricson P.H., dan Erna R. 2008. Penentuan Waktu Kelarutan Parasetamol pada Uji Disolusi. Nusa Kimia Journal, Vol. 8 (1). Bandung.

Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhardi, 2007. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty. Yogyakarta.

Widada, B. 2000. Pengenalan Alat Kromatografi Gas. Urania. No.23-24. ISSN 0852-4777. Batan.

Wulandari, F. 2008. Penetapan Kadar Paraetamol dan Kofein dalam Sediaan Tablet yang Beredar dengan Metoda Spektrofometri UV Multikomponen. Skripsi Sarjana Farmasi. FF Universitas Andalas. Padang.

LAPORAN PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

LAPORAN PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)
LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI
PERCOBAAN V
PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan nilai Rf beberapa sediaan obat berdasarkan kromatografi lapis tips (KLT).

B. LANDASAN TEORI
Kromatografi adalah pemisahan campuran komponen-komponen didasarkan pada perbedaan tingkat interaksi terhadap dua fasa material pemisah. Campuran yang akan dipisahkan dibawa fasa gerak, yang kemudian dipaksa bergerak atau disaring melalui fasa diam karena pengaruh gaya berat atau gaya-gaya yang lain. Komponen-komponen dari campuran ditarik dan diperlambat oleh fasa diam pada tingkat yang berbeda-beda sehingga mereka bergerak bersama-sama dengan fasa gerak dalam waktu retensi (retention time) yang berbeda-beda dan dengan demikian mereka terpisah (Widada, 2000). 

Kromatografi lapis tipis digunakan untuk pemisahan zat secara cepat dengan menggunakan zat penyerap berupa serbuk halus yang dilapiskan serba rata pada lempeng kaca. Lempeng yang dilapis, dapat dianggap sebagai kolom kromatografi terbuka dan pemisahan didasarkan pada penyerapan pembagian atau gabungannya tergantung dari jenis zat penyerap pembagian atau gabungannya tergantung dari jenis zat penyerap dan cara pembuatan lapisan zat penyerap dan jenis pelarut. KLT dengan penyerap penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa polar. Harga Rf yang diperoleh pada KLT tidak tetap jika dibandingkan dengan yang diperoleh pada kromatografi kertas karena itu pada lempeng yang sama disamping kromatogram dari zat yang diperiksa perlu dibuat kromatogram dari zat pembanding kimia lebih baik dengan kadar yang berbeda-beda. Pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya menggunakan lapis tipis silika atau alumina yag seragam pada sebuah lempengan gelas atau logam atau plastik yang keras. Gel silika atau alumina mengandung substansi dimana substansi tersebut dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina (alumunium oksida). Sedangkan fase gerak kromatografi disebut juga dengan eluent. Eluent adalah fase gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorbent). Pemisahan komponen sangat dipengaruhi oleh adanya interaksi antara adsorbent dan eluen (Anonim, 1977).

Jumlah yang minim dan banyaknya bagian senyawa yang terjerap merupakan penyebab utama dari tidak adanya pergerakan dari sampel. Namun apabila sampel yang ditempelkan terlalu banyak, maka akan menimbulkan suatu kondisi yang dinamakan tailing atau munculnya ekor. Tailing atau ekor disebabkan oleh aftinitas mol zat pada bahan penyerap yang lebih besar dibandingkan dengan kemampuan fase bergerak untuk membawa zat- zat tersebut sehingga banyak bagian dari zat tersebut yang akan tertinggal di fase tetap. Namun tailing dapat diatasi dengan cara melarutkan kembali zat- zat yang terserap kuat pada fase tetap dengan asam atau dengan melakukan elusi secara bertahap dengan fase bergerak yang semakin polar. Pemakaian fase bergerak yang semakin polar akan berdampak pada perambatan fase yang semakin cepat. Namun apabila fase tetap yang digunakan bersifat sangat polar justru akan memperlambat perambatan zat (Sudarmadji, 2007). 

Berbagai metode kromatografi memberikan cara pemisahan paling kuat dilaboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya yang leluasa, dipakai secara luas untuk pemisahan analitik dan preparatif. Biasanya, kromatografi analitik dipakai pada tahap permulaan untuk semua cuplikan, dan kromatografi preparatif hanya dilakukan juka diperlukan fraksi murni dari campuran. Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengan cara mengotak-atik langsung beberapa sifat fisika umum dari molekul. Sifat utama yang terlibat ialah :(1) Kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan), (2) Kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus (adsorpsi, penjerapan), dan (3) Kecenderungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap (keatsirian) (Gritter, 1991).

Obat yang bersifat analgetik (penahan rasa sakit/nyeri) dan antipiretik (penurun panas/demam) adalah obat yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, karena obat ini dapat berkhasiat untuk menyembuhkan demam, sakit kepala dan rasa nyari, umumnya obat yang bersifat analgesik dan antipiretik ini mengandung zat aktif yang disebut asetaminofen atau lebih dikenal dengan nama parasetamol (Rachdiati, 2008). 

Kafein (1,3,7-trimetil xantin) merupakan salah satu derivat xantin yang mempunyai aya kerja sebagai stimulan sistem saraf pusat, stimulan otot jantung, relaksasi otot polos dan meningkatkan diuresis, dengan tingkatan berbeda. Efek kafein dapat meningkat apabila berinteraksi dengan beberapa jenis obat, antara lain: obat asma, pil KB, antidepresan, antipsikotika, simetidin. Akibatnya mungkin terjadi kofeinisme disertai gejala gelisah dan mudah terangsang, sakit kepala, tremor, pernapasan cepatan insomnia (Hartono, 2009). 

Kafein merupakan senyawa golongan alkaloid turunan xantin yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan seperti kopi, teh, dan coklat. Efek kofein yang menguntungkan pada sakit kepala vasomotorik disebabkan oleh kontriksi pembuluh darah otak dan turunannya tekanan cairan serebrosinal (Wulandari, 2008). 

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • a. Botol flakon
  • b. Gelas kaca bening
  • c. Lempeng KLT
  • d. Oven
  • e. Penggaris
  • f. Pensil
  • g. Pipet tetes
  • h. Sinar UV

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • a. Aluminium voil
  • b. Eluen (metanol, as.asetat, gliserin, dietil eter dan benzen)
  • c. Kafein murni
  • d. Kertas saring
  • e. Metanol
  • f. Parasetamol murni
  • g. Sampel obat bodrexin (parasetamol dan kafein)
  • h. Semprot sulfat

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)


E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENENTUAN NILAI Rf BEBERAPA SEDIAAN OBAT BERDASARKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)


F. PEMBAHASAN
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan yang didasarkan pada perbedaan migrasi senyawa-senyawa yang dipisahkan pada suatu sistem yang terdiri dari dari fasa diam dan fasa gerak. Pada awal perkembangannya pemisahan dengan kromatografi hanya didasarkan pada perbedaan kemampuan serap senyawa-senyawa yang akan dipisahkan pada suatu fasa diam (kromatografi adsorpsi). Fasa diam kemudian dielusi dengan eluen yang sesuai untuk memisahkan senyawa-senyawa yang terserap tersebut. Senyawa yang tidak terserap dengan baik pada fasa gerak akan bergerak bersama fasa gerak dan yang terserap dengan baik akan tetap pada posisi awal senyawa tersebut diaplikasikan. Pada perkembangannya pemisahan campuran dengan kromatografi juga didasarkan pada perbedaan koefisien partisi, koefisien distribusi (kromatografi partisi), muatan (penukar ion), perbedaan besar molekul (kromatografi saring molekul) dan beberapa prinsip migrasi lainnya.

Jarak antara jalannya pelarut bersifat relatif. Nilai perhitungan tersebut adalah nilai Rf, nilai ini digunakan sebagai nilai perbandingan relatif antar sampel. Nilai Rf menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fase diam sehingga nilai Rf sering juga disebut faktor retensi. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus berikut :

Rf = Jarak yang ditempuh substansi / Jarak yang ditempuh oleh pelarut

Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis. Saat membandingkan dua sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis. Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasikan senyawa. Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki karakteristik yang sama atau mirip. Sedangkan, bila nilai Rfnya berbeda, senyawa tersebut dapat dikatakan merupakan senyawa yang berbeda. Oleh karena itu bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1,0

Silika gel adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan jel silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH.Jadi, pada permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol.. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus –OH.

Silika Gel, Pada umumnya sebagai fase diam digunakan silika gel. Untuk penggunaan dalam suatu tipe pemisahan perbedaan tidak hanya pada struktur, tetapi juga pori-porinya dan struktur lubangnya menjadi penting, di samping pemilihan fase gerak. Dalam perdagangan silika gel mempunyai ukuran 10-40µ. Ukuran ini terutama dipengaruhi oleh ukuran porinya yang bervariasi dari 20-50Å. Silika gel berpori 80-150 dinamakan berpori besar. Luas permukaan silika gel bervariasi dari 300-1000m2/g. Silika gel sangan higroskopis. Pada kelembapan relatif 45-75% dapat mengikat air 7-20%. 

Hal pertama yang dilakulan pada percobaan ini adalah pembuatan lempeng. Pada dasarnya ada 4 cara yang digunakan dalam pembuattam lapis tipis, yaitu pembentangan, penuangan, penyemprotan dan pencelupan. Dalam percobaan ini digunakan metode penuangan dengan menuang hasil pelarutan silika ke atas kaca preparat. Silika yang telah dituangkan dibiarkan hingga mengeras, namun perlakuan terhadap lempeng harus hati-hati agar silika. yang sudah mengeras tidak retak. Dibuat garis atas dab garis bawah pada lempeng dengan masing-masing 0,5 cm dari ujung atas lempeng dan 1 cm dari ujung bawah lempeng. Diberi tanda sebelum ditotolkan sampel dan larutan pembanding. Pemisahan pada KLT yang optimal akan diperoleh hanya jika penotolan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin. Namun apabila sampel yang ditempelkan terlalu banyak, maka akan menimbulkan suatu kondisi yang dinamakan tailing atau munculnya ekor. Tailing atau ekor disebabkan oleh aftinitas mol zat pada bahan penyerap yang lebih besar dibandingkan dengan kemampuan fasa bergerak untuk membawa zat- zat tersebut sehingga banyak bagian dari zat tersebut yang akan tertinggal di fasa tetap. Berdasarakan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa nilai Rf untuk sampel adalah 0,15 cm., parasetamol yaitu 0,13 cm dan untuk kafein yaitu 0,083 cm.

G. KESIMPULAN
Berdasarakan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa nilai Rf untuk sampel adalah 0,15 cm., parasetamol yaitu 0,13 cm dan untuk kafein yaitu 0,083 cm.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.1977. Materi Medika Indonesia Jilid V. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Gritter, R. J., James M. B. dan Arthur E. S. 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB. Bandung.

Hartono, E. 2009. Penetapan Kafein dalam Biji Kopi secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Biomedika. Vol. 2(1). Surakarta.

Rachdiati, H., Ricson P.H., dan Erna R. 2008. Penentuan Waktu Kelarutan Parasetamol pada Uji Disolusi. Nusa Kimia Journal, Vol. 8 (1). Bandung.

Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhardi, 2007. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty. Yogyakarta.

Widada, B. 2000. Pengenalan Alat Kromatografi Gas. Urania. No.23-24. ISSN 0852-4777. Batan.

Wulandari, F. 2008. Penetapan Kadar Paraetamol dan Kofein dalam Sediaan Tablet yang Beredar dengan Metoda Spektrofometri UV Multikomponen. Skripsi Sarjana Farmasi. FF Universitas Andalas. Padang.