LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN - ElrinAlria


LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN


LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
PERCOBAAN I

A. Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui penentuan tegangan permukaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

B. Landasan Teori
Farmasi Fisik adalah bidang ilmu yang mempelajari persoalan yang berhubungan dengan fenomena fisika dan kimia terutama yang erat kaitannya dengan formulasi sediaaan dan sistem dispersi. Untuk dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena fisika dan kimia yang terkait dengan formulasi sediaan dan sistem dispersi maka diperlukan praktek di laboratorium (Irawan, 2006).


Tegangan permukaan adalah salah satu sifat fisik yang penting. Evaluasi diperlukan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terkait industri dan mengembangkan teknologi pemisahan baru. Tegangan permukaan ini menyediakan informasi yang cukup dari pengaruh molekul pada intensitas interaksi dalam campuran. Selanjutnya, tegangan permukaan memainkan peran penting dalam proses perpindahan massa seperti distilasi, penyerapan, pemisahan dan ekstraksi (Mjalli dkk., 2013).

Tegangan permukaan merupakan sifat permukaan suatu zat cair yang berperilaku layaknya selapis kulit tipis yang kenyal atau lentur akibat pengaruh tegangan. Pengaruh tegangan tersebut disebabkan oleh adanya gaya tarik-menarik antar- molekul di permukaan zat cair tersebut. Untuk mengetahui seberapa besar nilai tegangan permukaan suatu zat, maka cara sederhana yang dilakukan adalah dengan melakukan praktikum terhadap beberapa zat cair dengan menggunakan susunan alat (Indarniati dan Frida , 2008).

Tegangan muka juga merupakan fungsi temperatur, karena kenaikan temperatur yang dinaikkan dari energik kinetik molekul-molekul secara individual akan menurunkan efektivitas gaya tarik menraik antar molekul, maka tegangan muka akan berkurang jika temperature dinaikkan (Mochtar, 1990).

Suatu cairan disebuah gelas piala akan naik melalui pipa kapiler sampai ketinggian tertentu disebabkan karena kekuatan adhesi antara molekul cairan dan dinding kapiler lebih besar daripada kohesi antara molekul-molekul cairan. Dengan mengetahui cairan dalam pipa kapiler, memungkinkan kita untuk menentukan tegangan muka cairan (Martin, 1993).

Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku yang volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan dalam decimal. Penting untuk membedakan antara kerapatan (density) dan bobot jenis. Bobot jenis menggambarkan hubungan anatar bobot suatu zat terhadap bobot suatu zat baku, misalnya air, yang merupakan zat baku untuk sebagian besar perhitungan daam farmasi dan dinyatakan memiliki bobot jenis 1,00 (Ansel, 2006).

Densitas secara teoritis merupakan massa per satuan volume, ini berarti pada spesimen dengan massa yang sama tetapi mempunyai volume yang lebih kecil akan menghasilkan densitas yang lebih besar. segregasi dapat terjadi karena perbedaan bentuk, densitas, dan ukuran partikel serbuk. kompaksi atau tekanan yang diberikan pada serbuk akan meningkatkan densitas spesimen sehingga mudah untuk di-handling. sintering adalah pengikatan bersama antar partikel pada temperatur tinggi dan merupakan proses terpenting dalam teknologi serbuk (Sukanto, 2009)

Minyak merupakan salah satu zat makanan yang penting bagi kebutuhan tubuh manusia. Selain itu minyak juga merupakan sumber energi dimana satu gram minyak dapat menghasilkan 9 kkal. Minyak (nabati) mengandung asam lemak tak jenuh dan beberapa asam lemak esensial seperti asam olet, linolet dan linolenat. Penggunaan minyak kelapa di Indonesia nomer dua terbanyak setelah minyak sawit (lebih dari 70%). Minyak kelapa dapat diperoleh melalui proses basah dan proses kering. Proses basah yang umum dilakukan dibedakan menjadi dua yaitu cara kelentik dan fermentasi. Minyak kelentik dihasilkan dengan cara basah yang disertai dengan pemanasan. Proses ini menghasilkan minyak yang jernih dan mempunyai bau yang lebih baik dari pada minyak kelapa yang dihasilkan dari kelapa kering (kopra) (Suastuti, 2009).

C. Alat dan Bahan
1. Alat 
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
  • a. Batang pengaduk
  • b. Botol semprot
  • c. Gelas kimia
  • d. Gelas ukur
  • e. Hot plate
  • f. Piknometer
  • g. Pipa kapiler
  • h. Pipet tetes
  • i. Spatula
  • j. Timbangan analitik

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
  • a. Akuades
  • b. Alkohol
  • c. Gula
  • d. Garam
  • e. Minyak
  • f. Sabun 

D. Uraian Bahan 
1. Aquadest (Ditjen POM RI, 1979 : 96)
Nama resmi : Aqua destillata
Nama lain : Aquadest, air suling
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18,02 g/mol
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut, media distribusi

2. Minyak kelapa (Ditjen POM RI, 1979 : 456)
Nama resmi : Oleum cocos
Nama lain : Minyak kelapa
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, kuning pucat, bau khas tidak tengik.
Kelarutan : Larut dalam 2 bagian etanol (95 %) P, sangat mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut, media distribusi

3. Etanol (Ditjen POM RI, 1979 : 65)
Nama resmi : Aethanolium
Nama lain : Etanol
BM / RM : 46,068 gr/mol / C2H5OH
Rumus struktur : C2H5 – OH
Pemerian : cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wada tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai antiseptik

4. Glukosa (Ditjen POM RI, 1979 : 268)
Nama resmi : Glucosum
Nama lain : Glukosa
BM / RM : 198,17 g/mol
Rumus molekul : C6H12O6
Rumus bangun : 
Pemerian : hablur tidak berwarna, serbuk halus atau butiran putih; tidak berbau; rasa manis.
Kelarutan : mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol (95%) mendidih; sukar larut dalam etanol (95%).
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : sebagai bahan uji

E. Prosedur Kerja
LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN


F. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN

LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN


G. PEMBAHASAN
Tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang yang dikerjakan sejajar permukaan untuk mengimbangi gaya tarikan kedalam pada cairan, hal tersebut karena gaya adhesi lebih kecil dari gaya kohesi antara molekul cairan sehingga menyebabkan terjadinya gaya kedalam pada permukaan cairan. Tegangan permukaan adalah gaya atau tarikan kebawah yang menyebabkan permukaan cairan berkontraksi dan benda dalam keadaan tegang. Hal ini disebabkan oleh gaya-gaya tarik yang tidak seimbang pada antar muka cairan. Gaya ini biasa segera diketahui pada kenaikan cairan biasa dalam pipa kapiler dan bentuk suatu tetesan kecil cairan. tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (fluida) yang berada dalam keadaan diam (statis). 

Besarnya tegangan permukaan diperngaruhi oleh beberapa faktor, seperti suhu, tekanan, konsentrasi zat terlarut, dan kerapatan serta surfaktan. Semakin besar densitas berarti semakin rapat muatan – muatan atau partikel-partiekl dari cairan tersebut. Sebaliknya cairan yang mempunyai densitas kecil akan mempunyai tegangan permukaan yang kecil pula. Konsentrasi zat terlarut (solut) suatu larutan biner mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat larutan termasuk tegangan muka dan adsorbsi pada permukaan larutan. Telah diamati bahwa solut yang ditambahkan kedalam larutan akan menurunkan tegangan muka, karena mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih besar daripada di dalam larutan. Tegangan permukaan cairan turun bila suhu naik, karena dengan bertambahnya suhu molekul- molekul cairan bergerak lebih cepat dan pengaruh interaksi antara molekul berkurang sehingga tegangan permukaannya menurun. Adanya zat terlarut pada cairan dapat menaikkan atau menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus.

Ada beberapa metode dalam melakukan tegangan permukaan ialah metode kenaikan pipa kapiler dan metode Du Nouy. Metode kenaikan kapiler, tegangan permukaan diukur dengan melihat ketinggian air/ cairan yang naik melalui suatu kapiler. Metode kenaikan kapiler hanya dapat digunakan untuk mengukur tegangan permukaan tidak bisa untuk mengukur tegangan antar muka.

Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode kenaikan kapiler dengan menggunakan pipa kapiler dan melihat kenaikan tiap sampel. Dalam percobaan ini dilakukan empat pengujian yaitu penentuan densitas, penentuan tegangan permukaan, penambahan konsentrasi fluida, pengaruh suhu terhadap tegangan permukaan. 

Hasil yang diperoleh dari percobaan ini yaitu didapatkan densitas dari aquadest sebesar 1,021 g/cm3 , densitas dari alkohol sebessar 0,902 g/cm3 , dan densitas dari minyak sebesar 0,953 g/cm3. Menurut teori salah satu faktor yang mempengaruhi densitas adalah massa zat itu sendiri, semakin besar massa suatu zat maka semakin besar pula desitasnya. Berdasarkan hasil yang didapat maka massa aquadest yang lebih besar menyebabkan aquaest memiliki massa jenis yang lebih besar pula disbanding alkohol dan minyak. Adapun tegangan permukaan dari masing-masing sampel setelah dilakukan perhitungan yaitu pada aquadest sebesar 91,89 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 3,6 cm , pada alkohol sebesar 99,22 dyne/cm3 dengan kenaikn didalam pipa kapiler sebanyak 4,4 cm , pada minyak sebesar 76,24 dne/cm3 dengan kenaikan sebanyak 3,2 cm. Berdasarkan teori yang ada, ssalah satu faktor yang mempengaruhi besarnya tegangan permukaan adalah massa jenis/ densitas (D), semakin besar densitas berarti semakin rapat muatan – muatan atau partikel-partiekl dari cairan tersebut. Kerapatan partikel ini menyebabkan makin besarnya gaya yang diperlukan untuk memecahkan permukaan cairan tersebut. Hal ini karena partikel yang rapat mempunyai gaya tarik menarik antar partikel yang kuat. Sebaliknya cairan yang mempunyai densitas kecil akan mempunyai tegangan permukaan yang kecil pula. 

Pada penentuan penambahan fluida , hasil yang diperoleh yaitu tegagan permukaan paling besar terjadi pada alkohol + gula sebesar 117,26 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 5,2 cm, pada alkohol + garam sebesar 83,43 dyne/cm3 dengan kenaikan di dalam pipa kapiler sebanyak 3,7 cm, pada alkohol + sabun sebesar 81,18 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 3,6 cm. Menurut teori fluida adalah suatu zat yang dapat mengalir. Konsentrasi zat terlarut (solut) suatu larutan biner mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat larutan termasuk tegangan muka dan adsorbsi pada permukaan larutan. Telah diamati bahwa solut yang ditambahkan kedalam larutan akan menurunkan tegangan muka, karena mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih besar daripada di dalam larutan. Untuk air adanya elektrolit anorganik dan non elektrolit tertentu seperti sukrosa dan gliserin menaikkan tegangan permukaan.

Pada pengujian pengaruh suhu terhadap tegangan permukaan hasil yang didapat yaitu tegangan permukaan pada aquadest sebesar 176,57 dyne/cm3 dengan kenikan didalam pipa kapiler sebanyak 3,0 cm, pada alkohol sebesar 81,18 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 3,6 cm , dan pada minyak sebesar 57,18 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 2,4 cm. menurut teori suhu dapat menurunkan tegangan permukaan cairan, karena suhu secara langsung mempengaruhi energy kinetik molekul dalam cairan. Energy kinetik berbanding lurus dengan suhu, setiap kenaikan suhu akan menyebabkan peningkatan kecepatan rata-rata dari molekul. Jika energy kinetik meningkat, gaya tarik menarik antar molekul akan lebih sehingga menyebabkan penuruna tegangan permukaan seperti pada hasil yang didapatkan. Adapun yang menyebabkan teradinya perbedaan jumlah kenaikan setiap zat didalam pipa kapiler adalah viskositas atau kekentalan dari zat itu sendiri, semakin rendah kekentalannya maka semakin mudah suatu zat untuk naik dalam pipa kapiler, dan sebaliknya semakin tinggi kekentalannya maka semakin sulit suatu zat untuk naik didalam pipa kapiler dan membutuhkan waktu yang lebih lama pula. Berdasarkan yang diperoleh maka cairan yang memiliki tegangan permukaan paling besar yaitu aquadest, kemudian alkohol, dan terakhir minya.

Manfaat tegangan permukaan dalam bidang farmasi yaitu dalam mempengaruhi penyerapan obat pada bahan pembantu padat pada sediaan obat, penetrasi molekul melalui membrane biologis, pembentukan dan kestabilan emulsi dan dispersi partikel tidak larut dalam media cair untuk membentuk sediaan suspensi. Tegangan muka ini dalam farmasi adalah faktor yang mempengaruhi adsorbsi obat dalam bentuk sediaan padat, penetrasi molekul melalui membrane biologi, penting pada sediaan emulsi dan stabilitasnya.

H. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa tegangan permukaan pada aquades (air) adalah sebesar 91,89 dyne/cm, pada minyak goreng sebesar 76,24 dyne/cm, dan pada alkohol sebesar 99,22 dyne/cm. Penambahan konsentrasi fluida yang meliputi penambahan larutan gula,garam dan sabun menyebabkan perubahan tegangan permukaan. Suhu dan viskositas juga memberikan pengaruh terhadap nilai tegangan permukaan.

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H.C., 2006, Kalkukalsi Farmasetik : Panduan Untuk Apoteker, EGC, Jakarta.

Ditjen POM RI., l979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI., Jakarta.

Ditjen POM RI., l995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI., Jakarta.

Indarniati, dan Frida, U.M., 2008 ,Perancangan Alat Ukur Tegangan Permukaan dengan Induksi Elektromagnetik, Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Vol.4(1)

Irawan, E. D., 2006, Studi In Vitro Hubungan Logaritma Koefisien Partisi Dengan Ikatan Protein Plasma Dari Antidiabet Turunan Sulfonil Urea Sebagai Bahan Pembelajaran Mata Kuliah Farmasi Fisik, Jurnal Pengembangan Pendidikan, Vol.3(1). 

Martin, A., 1993, Farmasi Fisik jilid I Edisi III, UI-Press, Jakarta

Mjalli, F.S., Shahbaz, K., Hashim, M.A., dan AlNashef, I.M., 2013, Surface Tension of Ionic Liquids Analogues Using the QSPR Correlation, International Journal of Chemical Engineering and Applications, Vol.4(3).

Mochtar, 1990, Farmasi Fisik, UGM-press, Yogyakarta.

Suastuti, N. G. A. M. D.A., 2009, Kadar Air Dan Bilangan Asam Dari Minyak Kelapa Yang Dibuat Dengan Cara Tradisional Dan Fermentasi, Jurnal Kimia, Vol.3(2)

Sukanto, H., 2009, Pengaruh Suhu Sintering Terhadap Densitas Dan Kekuatan Komposit Plastik – Karet, Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Cakram, Vol3(1)

LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN



LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN


LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
PERCOBAAN I

A. Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui penentuan tegangan permukaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

B. Landasan Teori
Farmasi Fisik adalah bidang ilmu yang mempelajari persoalan yang berhubungan dengan fenomena fisika dan kimia terutama yang erat kaitannya dengan formulasi sediaaan dan sistem dispersi. Untuk dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena fisika dan kimia yang terkait dengan formulasi sediaan dan sistem dispersi maka diperlukan praktek di laboratorium (Irawan, 2006).


Tegangan permukaan adalah salah satu sifat fisik yang penting. Evaluasi diperlukan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terkait industri dan mengembangkan teknologi pemisahan baru. Tegangan permukaan ini menyediakan informasi yang cukup dari pengaruh molekul pada intensitas interaksi dalam campuran. Selanjutnya, tegangan permukaan memainkan peran penting dalam proses perpindahan massa seperti distilasi, penyerapan, pemisahan dan ekstraksi (Mjalli dkk., 2013).

Tegangan permukaan merupakan sifat permukaan suatu zat cair yang berperilaku layaknya selapis kulit tipis yang kenyal atau lentur akibat pengaruh tegangan. Pengaruh tegangan tersebut disebabkan oleh adanya gaya tarik-menarik antar- molekul di permukaan zat cair tersebut. Untuk mengetahui seberapa besar nilai tegangan permukaan suatu zat, maka cara sederhana yang dilakukan adalah dengan melakukan praktikum terhadap beberapa zat cair dengan menggunakan susunan alat (Indarniati dan Frida , 2008).

Tegangan muka juga merupakan fungsi temperatur, karena kenaikan temperatur yang dinaikkan dari energik kinetik molekul-molekul secara individual akan menurunkan efektivitas gaya tarik menraik antar molekul, maka tegangan muka akan berkurang jika temperature dinaikkan (Mochtar, 1990).

Suatu cairan disebuah gelas piala akan naik melalui pipa kapiler sampai ketinggian tertentu disebabkan karena kekuatan adhesi antara molekul cairan dan dinding kapiler lebih besar daripada kohesi antara molekul-molekul cairan. Dengan mengetahui cairan dalam pipa kapiler, memungkinkan kita untuk menentukan tegangan muka cairan (Martin, 1993).

Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku yang volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan dalam decimal. Penting untuk membedakan antara kerapatan (density) dan bobot jenis. Bobot jenis menggambarkan hubungan anatar bobot suatu zat terhadap bobot suatu zat baku, misalnya air, yang merupakan zat baku untuk sebagian besar perhitungan daam farmasi dan dinyatakan memiliki bobot jenis 1,00 (Ansel, 2006).

Densitas secara teoritis merupakan massa per satuan volume, ini berarti pada spesimen dengan massa yang sama tetapi mempunyai volume yang lebih kecil akan menghasilkan densitas yang lebih besar. segregasi dapat terjadi karena perbedaan bentuk, densitas, dan ukuran partikel serbuk. kompaksi atau tekanan yang diberikan pada serbuk akan meningkatkan densitas spesimen sehingga mudah untuk di-handling. sintering adalah pengikatan bersama antar partikel pada temperatur tinggi dan merupakan proses terpenting dalam teknologi serbuk (Sukanto, 2009)

Minyak merupakan salah satu zat makanan yang penting bagi kebutuhan tubuh manusia. Selain itu minyak juga merupakan sumber energi dimana satu gram minyak dapat menghasilkan 9 kkal. Minyak (nabati) mengandung asam lemak tak jenuh dan beberapa asam lemak esensial seperti asam olet, linolet dan linolenat. Penggunaan minyak kelapa di Indonesia nomer dua terbanyak setelah minyak sawit (lebih dari 70%). Minyak kelapa dapat diperoleh melalui proses basah dan proses kering. Proses basah yang umum dilakukan dibedakan menjadi dua yaitu cara kelentik dan fermentasi. Minyak kelentik dihasilkan dengan cara basah yang disertai dengan pemanasan. Proses ini menghasilkan minyak yang jernih dan mempunyai bau yang lebih baik dari pada minyak kelapa yang dihasilkan dari kelapa kering (kopra) (Suastuti, 2009).

C. Alat dan Bahan
1. Alat 
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
  • a. Batang pengaduk
  • b. Botol semprot
  • c. Gelas kimia
  • d. Gelas ukur
  • e. Hot plate
  • f. Piknometer
  • g. Pipa kapiler
  • h. Pipet tetes
  • i. Spatula
  • j. Timbangan analitik

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
  • a. Akuades
  • b. Alkohol
  • c. Gula
  • d. Garam
  • e. Minyak
  • f. Sabun 

D. Uraian Bahan 
1. Aquadest (Ditjen POM RI, 1979 : 96)
Nama resmi : Aqua destillata
Nama lain : Aquadest, air suling
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18,02 g/mol
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut, media distribusi

2. Minyak kelapa (Ditjen POM RI, 1979 : 456)
Nama resmi : Oleum cocos
Nama lain : Minyak kelapa
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, kuning pucat, bau khas tidak tengik.
Kelarutan : Larut dalam 2 bagian etanol (95 %) P, sangat mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut, media distribusi

3. Etanol (Ditjen POM RI, 1979 : 65)
Nama resmi : Aethanolium
Nama lain : Etanol
BM / RM : 46,068 gr/mol / C2H5OH
Rumus struktur : C2H5 – OH
Pemerian : cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wada tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai antiseptik

4. Glukosa (Ditjen POM RI, 1979 : 268)
Nama resmi : Glucosum
Nama lain : Glukosa
BM / RM : 198,17 g/mol
Rumus molekul : C6H12O6
Rumus bangun : 
Pemerian : hablur tidak berwarna, serbuk halus atau butiran putih; tidak berbau; rasa manis.
Kelarutan : mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol (95%) mendidih; sukar larut dalam etanol (95%).
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : sebagai bahan uji

E. Prosedur Kerja
LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN


F. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN

LAPORAN PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN


G. PEMBAHASAN
Tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang yang dikerjakan sejajar permukaan untuk mengimbangi gaya tarikan kedalam pada cairan, hal tersebut karena gaya adhesi lebih kecil dari gaya kohesi antara molekul cairan sehingga menyebabkan terjadinya gaya kedalam pada permukaan cairan. Tegangan permukaan adalah gaya atau tarikan kebawah yang menyebabkan permukaan cairan berkontraksi dan benda dalam keadaan tegang. Hal ini disebabkan oleh gaya-gaya tarik yang tidak seimbang pada antar muka cairan. Gaya ini biasa segera diketahui pada kenaikan cairan biasa dalam pipa kapiler dan bentuk suatu tetesan kecil cairan. tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (fluida) yang berada dalam keadaan diam (statis). 

Besarnya tegangan permukaan diperngaruhi oleh beberapa faktor, seperti suhu, tekanan, konsentrasi zat terlarut, dan kerapatan serta surfaktan. Semakin besar densitas berarti semakin rapat muatan – muatan atau partikel-partiekl dari cairan tersebut. Sebaliknya cairan yang mempunyai densitas kecil akan mempunyai tegangan permukaan yang kecil pula. Konsentrasi zat terlarut (solut) suatu larutan biner mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat larutan termasuk tegangan muka dan adsorbsi pada permukaan larutan. Telah diamati bahwa solut yang ditambahkan kedalam larutan akan menurunkan tegangan muka, karena mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih besar daripada di dalam larutan. Tegangan permukaan cairan turun bila suhu naik, karena dengan bertambahnya suhu molekul- molekul cairan bergerak lebih cepat dan pengaruh interaksi antara molekul berkurang sehingga tegangan permukaannya menurun. Adanya zat terlarut pada cairan dapat menaikkan atau menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus.

Ada beberapa metode dalam melakukan tegangan permukaan ialah metode kenaikan pipa kapiler dan metode Du Nouy. Metode kenaikan kapiler, tegangan permukaan diukur dengan melihat ketinggian air/ cairan yang naik melalui suatu kapiler. Metode kenaikan kapiler hanya dapat digunakan untuk mengukur tegangan permukaan tidak bisa untuk mengukur tegangan antar muka.

Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode kenaikan kapiler dengan menggunakan pipa kapiler dan melihat kenaikan tiap sampel. Dalam percobaan ini dilakukan empat pengujian yaitu penentuan densitas, penentuan tegangan permukaan, penambahan konsentrasi fluida, pengaruh suhu terhadap tegangan permukaan. 

Hasil yang diperoleh dari percobaan ini yaitu didapatkan densitas dari aquadest sebesar 1,021 g/cm3 , densitas dari alkohol sebessar 0,902 g/cm3 , dan densitas dari minyak sebesar 0,953 g/cm3. Menurut teori salah satu faktor yang mempengaruhi densitas adalah massa zat itu sendiri, semakin besar massa suatu zat maka semakin besar pula desitasnya. Berdasarkan hasil yang didapat maka massa aquadest yang lebih besar menyebabkan aquaest memiliki massa jenis yang lebih besar pula disbanding alkohol dan minyak. Adapun tegangan permukaan dari masing-masing sampel setelah dilakukan perhitungan yaitu pada aquadest sebesar 91,89 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 3,6 cm , pada alkohol sebesar 99,22 dyne/cm3 dengan kenaikn didalam pipa kapiler sebanyak 4,4 cm , pada minyak sebesar 76,24 dne/cm3 dengan kenaikan sebanyak 3,2 cm. Berdasarkan teori yang ada, ssalah satu faktor yang mempengaruhi besarnya tegangan permukaan adalah massa jenis/ densitas (D), semakin besar densitas berarti semakin rapat muatan – muatan atau partikel-partiekl dari cairan tersebut. Kerapatan partikel ini menyebabkan makin besarnya gaya yang diperlukan untuk memecahkan permukaan cairan tersebut. Hal ini karena partikel yang rapat mempunyai gaya tarik menarik antar partikel yang kuat. Sebaliknya cairan yang mempunyai densitas kecil akan mempunyai tegangan permukaan yang kecil pula. 

Pada penentuan penambahan fluida , hasil yang diperoleh yaitu tegagan permukaan paling besar terjadi pada alkohol + gula sebesar 117,26 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 5,2 cm, pada alkohol + garam sebesar 83,43 dyne/cm3 dengan kenaikan di dalam pipa kapiler sebanyak 3,7 cm, pada alkohol + sabun sebesar 81,18 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 3,6 cm. Menurut teori fluida adalah suatu zat yang dapat mengalir. Konsentrasi zat terlarut (solut) suatu larutan biner mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat larutan termasuk tegangan muka dan adsorbsi pada permukaan larutan. Telah diamati bahwa solut yang ditambahkan kedalam larutan akan menurunkan tegangan muka, karena mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih besar daripada di dalam larutan. Untuk air adanya elektrolit anorganik dan non elektrolit tertentu seperti sukrosa dan gliserin menaikkan tegangan permukaan.

Pada pengujian pengaruh suhu terhadap tegangan permukaan hasil yang didapat yaitu tegangan permukaan pada aquadest sebesar 176,57 dyne/cm3 dengan kenikan didalam pipa kapiler sebanyak 3,0 cm, pada alkohol sebesar 81,18 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 3,6 cm , dan pada minyak sebesar 57,18 dyne/cm3 dengan kenaikan didalam pipa kapiler sebanyak 2,4 cm. menurut teori suhu dapat menurunkan tegangan permukaan cairan, karena suhu secara langsung mempengaruhi energy kinetik molekul dalam cairan. Energy kinetik berbanding lurus dengan suhu, setiap kenaikan suhu akan menyebabkan peningkatan kecepatan rata-rata dari molekul. Jika energy kinetik meningkat, gaya tarik menarik antar molekul akan lebih sehingga menyebabkan penuruna tegangan permukaan seperti pada hasil yang didapatkan. Adapun yang menyebabkan teradinya perbedaan jumlah kenaikan setiap zat didalam pipa kapiler adalah viskositas atau kekentalan dari zat itu sendiri, semakin rendah kekentalannya maka semakin mudah suatu zat untuk naik dalam pipa kapiler, dan sebaliknya semakin tinggi kekentalannya maka semakin sulit suatu zat untuk naik didalam pipa kapiler dan membutuhkan waktu yang lebih lama pula. Berdasarkan yang diperoleh maka cairan yang memiliki tegangan permukaan paling besar yaitu aquadest, kemudian alkohol, dan terakhir minya.

Manfaat tegangan permukaan dalam bidang farmasi yaitu dalam mempengaruhi penyerapan obat pada bahan pembantu padat pada sediaan obat, penetrasi molekul melalui membrane biologis, pembentukan dan kestabilan emulsi dan dispersi partikel tidak larut dalam media cair untuk membentuk sediaan suspensi. Tegangan muka ini dalam farmasi adalah faktor yang mempengaruhi adsorbsi obat dalam bentuk sediaan padat, penetrasi molekul melalui membrane biologi, penting pada sediaan emulsi dan stabilitasnya.

H. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa tegangan permukaan pada aquades (air) adalah sebesar 91,89 dyne/cm, pada minyak goreng sebesar 76,24 dyne/cm, dan pada alkohol sebesar 99,22 dyne/cm. Penambahan konsentrasi fluida yang meliputi penambahan larutan gula,garam dan sabun menyebabkan perubahan tegangan permukaan. Suhu dan viskositas juga memberikan pengaruh terhadap nilai tegangan permukaan.

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H.C., 2006, Kalkukalsi Farmasetik : Panduan Untuk Apoteker, EGC, Jakarta.

Ditjen POM RI., l979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI., Jakarta.

Ditjen POM RI., l995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI., Jakarta.

Indarniati, dan Frida, U.M., 2008 ,Perancangan Alat Ukur Tegangan Permukaan dengan Induksi Elektromagnetik, Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Vol.4(1)

Irawan, E. D., 2006, Studi In Vitro Hubungan Logaritma Koefisien Partisi Dengan Ikatan Protein Plasma Dari Antidiabet Turunan Sulfonil Urea Sebagai Bahan Pembelajaran Mata Kuliah Farmasi Fisik, Jurnal Pengembangan Pendidikan, Vol.3(1). 

Martin, A., 1993, Farmasi Fisik jilid I Edisi III, UI-Press, Jakarta

Mjalli, F.S., Shahbaz, K., Hashim, M.A., dan AlNashef, I.M., 2013, Surface Tension of Ionic Liquids Analogues Using the QSPR Correlation, International Journal of Chemical Engineering and Applications, Vol.4(3).

Mochtar, 1990, Farmasi Fisik, UGM-press, Yogyakarta.

Suastuti, N. G. A. M. D.A., 2009, Kadar Air Dan Bilangan Asam Dari Minyak Kelapa Yang Dibuat Dengan Cara Tradisional Dan Fermentasi, Jurnal Kimia, Vol.3(2)

Sukanto, H., 2009, Pengaruh Suhu Sintering Terhadap Densitas Dan Kekuatan Komposit Plastik – Karet, Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Cakram, Vol3(1)