LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL - ElrinAlria
LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL

LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
PERCOBAAN VI

A. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami cara penentuan ukuran partikel dengan metode ayakan.

B. Landasan Teori
Farmasi Fisik adalah bidang ilmu yang mempelajari persoalan yang berhubungan dengan fenomena fisika dan kimia terutama yang erat kaitannya dengan formulasi sediaaan dan sistem dispersi. Untuk dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena fisika dan kimia yang terkait dengan formulasi sediaan dan sistem dispersi maka diperlukan praktek di laboratorium (Irawan, 2006).

Ilmu dan teknologi partikel kecil diberi nama mikromeritik oleh Dalla Valle. Disperse koloid dicirikan oleh partikel yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mikroskop biasa, sedang partikel emulsi dan suspense farmasi serta serbuk halus berada dalam jangkauan mikroskop optik. Partikel yang mempunyai ukuran serbuk lebih kasar dari granul tablet dan garam granula berada dalam kisaran ayakan (Martin dkk., 1993).

Distribusi ukuran partikel (PSD) dari bubuk, atau bahan granular, atau partikel tersebar dalam cairan, adalah daftar nilai-nilai atau fungsi matematika yang mendefinisikan jumlah relatif, biasanya dengan massa, partikel hadir sesuai dengan ukuran. PSD juga dikenal sebagai distribusi ukuran butir. PSD material dapat menjadi penting dalam memahami sifat fisik dan kimianya. Ini mempengaruhikekuatan dan beban-bantalan sifat batuan dan tanah. Ini mempengaruhi reaktivitas padatan berpartisipasi dalam kimia reaksi, dan kebutuhan akan dikontrol ketat di banyak produk industri seperti pembuatan toner printer dan kosmetik. Cara PSD biasanya didefinisikan adalah dengan metode yang ditentukan. Yang paling mudah Metode dipahami determinasi adalah analisis saringan, di mana bubuk dipisahkan pada saringan ukuran yang berbeda. Dengan demikian, PSD didefinisikan dalam hal ukuran rentang diskrit: misalnya "% Dari sampel antara 45 m dan 53 m", ketika saringan ukuran ini digunakan. PSD biasanya ditentukan melalui daftar rentang ukuran yang mencakup hampir semua ukuran hadir dalam sampel. Beberapa metode penentuan memungkinkan ukuran jauh lebih sempit berkisar didefinisikan dari dapat diperoleh dengan menggunakan saringan, dan berlaku untuk ukuran partikel luar jangkauan tersedia di saringan. Namun, ide nosional "saringan", bahwa "mempertahankan" partikel di atas ukuran tertentu, dan "melewati" partikel bawah ukuran itu, secara universal digunakan dalam menyajikan data PSD dari semua jenis. (Ujam dan Enebe, 2013). 

Metode pengayakan merupakan metode yang paling umum digunakan untuk mengukur distribusi ukuran partikel karena murah, sederhana dan cepat dengan variasi yang sedikit antara operator. konsentrasi PVP mempengaruhi diameter partikel dimana PVP berbentuk serbuk halus sehingga banyak granul yang melewati ayakan. Oleh karena itu semakin banyak PVP akan menghasilkan diameter partikel yang kecil (Mulyadi, dkk., 2011).

Salah satu faktor yang menentukan sifat/karakter polimer emulsi adalah ukuran partikel. Polimer emulsi mengandung partikel dengan diameter berkisar antara 10 sampai dengan 1.500 nm. Pada umumnya ukuran partikel polimer emulsi berkisar antara 100 sampai dengan 250 nm. Ukuran partikel sangat menentukan sifat polimer emulsi seperti sifat aliran dan kestabilan polimer. Sebagai contoh suatu bahan pelapis dengan ukuran partikel yang kecil akan memberikan hasil coating yang halus, kekuatan adhesi yang baik, ketahanan terhadap air yang cukup baik serta kestabilan lateks yang cukup lama. Disamping itu ukuran diameter partikel polimer yang kecil dapat menyebabkan bahan pelapis akan lebih glossy atau transparan karena partikel-partikel polimer dari pelapis akan lebih rapat, jadi tidak ada ruang untuk ditempati partikel lain. (Budianto dkk., 2008)

Ukuran partikel padatan menjadi salah satu faktor yang penting dalam proses ekstraksi. Menurut Purseglove (1981) besar ukuran bahan yang dipakai untuk keperluan ekstraksi adalah 50 mesh dan bahan terhalus adalah ukuran 60 mesh. Ukuran partikel simplisia yang berbeda- beda memiliki luas permukaan kontak yang berbeda-beda pula. Luas permukaan kontak simplisia yang berbeda akan menyebabkan jumlah antosianin yang tersari berbeda. Kontak yang luas antara simplisia dan pelarut akan memberikan kesempatan yang lebih besar dalam mengekstrasi antosianin (Maulida dan Any, 2015)

Suspensi yang baik adalah suspensi yang memiliki ukuran partikel yang kecil, akan tetapi tidak terlalu kecil karena bila partikel terlalu kecil partikel akan mengambang dan akan sangat sukar didistribusikan secara seragam dalam pembawanya. Ha s il p enelit i a n menu nju kka n bahwa pada formula 3 memiliki ukuran partikel yang lebih kecil bila dibandingkan dengan formula 1 dan 2 . Hal ini dikarenakan konsentrasi PGA yang besar, makin besar jumlah PGA maka makin besar pula viskositasnya sehingga ukuran partikel akan sema kin kecil (Hu kum St okes ) (Chasanah dkk., 2010)

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
  • a) Mesh ukuran 80
  • b) Saringan
  • c) Sikat tabung
  • d) Stopwatch
  • e) Spatula
  • f) Timbangan analitik

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
  • a) Kertas HVS
  • b) Pati beras
  • c) Talk

D. Uraian Bahan
1. Pati Beras (Ditjen POM, 1979 : 93)
Nama resmi : Amylum Oryzae
Nama lain : Pati beras 
Pemerian : Serbuk sangat halus, putih, tidak berbau, tidak berasa. 
Kelarutan : Keasam-basahan, batas jasad renik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering
Khasiat : Sampel

2. Talk (Ditjen POM, 1979 : 591)
Nama resmi : Talkum
Nama lain : Talk 
Pemerian : Serbuk hablur, sangat halus, licin, mudah melekatpada kulit, bebas dari butiran, warna putih atau hablur kelabu
Kelarutan : Keasam-basahan, batas jasad renik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering
Khasiat : Sampel

E. Prosedur Kerja
LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL

F. Hasil Pengamatan
LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL

G. Pembahasan
Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang partikel yang kecil. Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran luas permukaan rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya. Pengertian ukuran partikel adalah ukuran diameter rata-rata dari suatu partikel. Untuk memulai setiap analisis ukuran partikel harus diambil dari umunya jumlah bahan besar suatu contoh yang representatif. Karenanya suatu pemisahan bahan awal dihindari oleh karena dari suatu pemisahan, contoh yang diambil berupa bahan halus atau bahan kasar. Pada jumlah dasar yang amat besar harus ditarik beberapa contoh dimana tempat pengambilan contoh sebaiknya dipilih menurut program acak.

Penentuan partikel seperti selayaknya banyak percobaan lain memiliki berbagai metode. Metode-metode tersebut ialah metode mikroskopik, metode pengayakan, metode sedimentasi, dan metode pengukuran volume partikel. 

Setiap ayakan memiliki diameter lubang yang berbeda. Ayakan nomor 4 memiliki diameter lubang ayakan 4,75 (mm). Ayakan nomor 6 memiliki diameter lubang ayakan 3,35 (mm). Ayakan nomor 8 memiliki diameter lubang ayakan 2,36 (mm). Ayakan nomor 10 memiliki diameter lubang ayakan 2,00 (mm). Ayakan nomor 20 memiliki diameter lubang ayakan 0,85 (mm). Ayakan nomor 30 memiliki diameter lubang ayakan 0,60 (mm). Ayakan nomor 40 memiliki diameter lubang ayakan 0,425 (mm). Ayakan nomor 50 memiliki diameter lubang ayakan 0,30 (mm). Ayakan nomor 60 memiliki diameter lubang ayakan 0,25 (mm). Ayakan nomor 80 memiliki diameter lubang ayakan 0,18 (mm). Ayakan nomor 100 memiliki diameter lubang ayakan 0,15 (mm). Ayakan nomor 140 memiliki diameter lubang ayakan 0,106 (mm). Ayakan nomor 170 memiliki diameter lubang ayakan 0,088 (mm). Ayakan nomor 200 memiliki diameter lubang ayakan 0,075 (mm). 

Metode pengayakan merupakan metode sederhana.Keuntungan dari metode ini ialah praktis dan waktu yang dibutuhkan lumayan cepat. Kerugian dari metode pengayakan ini ialah kita tidak dapat melihat partikel yang menggumpal. Ukuran partikel tidak pasti karena ditentukan secara kelompok, dan adanya agregasi karena adanya getaran sehingga mempengaruhi validasi data.

Metode yang kami gunakan pada percobaan ini ialah metode pengayakan. Pemilihan metode ini dikarenaka praktis dan waktu yang dibutuhkan lumayan singkat. Karena keterbatasan alat kami menggunakan dua ayakan yaitu besar dan kecil. Pengayakan berlangsung selama 5 menit. Sampel bahan yang kami gunakan ialah talk dan pati jagung. Hasil yang didapatkan pada percobaan setelah dihitung diameter panjang rata-rata didapatkan hasil pada tepung beras sebesar 171,8658% dan pada talk sebesar 3840,3848%.

Pentingnya mempelajari mikromiretik, yaitu: menghitung luas permukaan, mengetahui sifat kimia dan fisika dalam formulasi obat, secara teknis mempelajari pelepasan obat yang diberikan secara per oral, suntikan dan topikal, pembuatan obat bentuk emulsi, suspensi dan duspensi, stabilitas obat tergantung dari ukuran partikel. pengaruh kecepatan melarut dan sukar larut melalui ukuran partikelnya yang berkaitan erat dengan kerja pembebasan obat dan reabsorbsi. Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul, pengendalian ukuran partikel penting sekali dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk.

Ukuran partikel memiliki pengaruh terhadap luas permukaan dari partikel tersebut. Semakin kecil ukuran dari partikel maka semakin besar pula luas permukaannya. Semakin luasnya permukaan akan membuat sisi kontak dari partikel tersebut semakin banyak sehingga partikel tersebut akan sangat mudah larut terhadap pelarutnya. 

H. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini adalah dengan penentuan ukuran partikel dengan metode ayakan didapatkan hasil diameter panjang rata-rata pada tepung beras sebesar 171,8658% dan pada talk sebesar 3840,3848%.

DAFTAR PUSTAKA
Budianto, E., Noverra, M.N., Dan Tresye, U., 2008, Pengaruh Teknik Polimerisasi Emulsi Terhadap Ukuran Partikel Kopoli (Stirena / Butil Akrilat / Metil Metakrilat), Jurnal Makara Sains, Vol.12(1)

Chasanah, N., Ika, T.D.K., Dan Peni, I., 2010, Formulasi Suspensi Doksisiklin Menggunakan Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici: Uji Stabilitas Fisik Dan Daya Antibakteri, Juurnal Sains, Vol.2(1)

Ditjen POM RI., l979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI., Jakarta.

Irawan, E. D., 2006, Studi In Vitro Hubungan Logaritma Koefisien Partisi Dengan Ikatan Protein Plasma Dari Antidiabet Turunan Sulfonil Urea Sebagai Bahan Pembelajaran Mata Kuliah Farmasi Fisik, Jurnal Pengembangan Pendidikan, Vol.3(1).

Martin, A., James, S., dan Arthur, C., 1993, Farmasi Fisik, Edisi Ketiga, Jilid 2, UI-Press, Jakarta.

Maulida, R., Any, G.,2015, Pengaruh Ukuran Partikel Beras Hitam (Oryza Sativa L.) Terhadap Rendemen Ekstrak Dan Kandungan Total Antosianin, Jurnal Pharmaciana, Vol.5(1)

Mulyadi M.D., Ika Y.A., dan Binar A.D., 2011, Formulasi Granul Instan Jus Kelopak Bunga Rosela dengan Variasi Konsentrasi Povidon sebagai Bahan Pengikat serta Kontrol Kualitasnya, Jurnal Pharmacy, Vol 8 (3).

Ujam, A. J., dan Eneba, K. O., 2013, Experimental Analysis of Perticle Size Distribution Using Electromagnetic Sieve. American Journal Of engineering research, Vol 2 (10)

LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL

LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL

LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
PERCOBAAN VI

A. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami cara penentuan ukuran partikel dengan metode ayakan.

B. Landasan Teori
Farmasi Fisik adalah bidang ilmu yang mempelajari persoalan yang berhubungan dengan fenomena fisika dan kimia terutama yang erat kaitannya dengan formulasi sediaaan dan sistem dispersi. Untuk dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena fisika dan kimia yang terkait dengan formulasi sediaan dan sistem dispersi maka diperlukan praktek di laboratorium (Irawan, 2006).

Ilmu dan teknologi partikel kecil diberi nama mikromeritik oleh Dalla Valle. Disperse koloid dicirikan oleh partikel yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mikroskop biasa, sedang partikel emulsi dan suspense farmasi serta serbuk halus berada dalam jangkauan mikroskop optik. Partikel yang mempunyai ukuran serbuk lebih kasar dari granul tablet dan garam granula berada dalam kisaran ayakan (Martin dkk., 1993).

Distribusi ukuran partikel (PSD) dari bubuk, atau bahan granular, atau partikel tersebar dalam cairan, adalah daftar nilai-nilai atau fungsi matematika yang mendefinisikan jumlah relatif, biasanya dengan massa, partikel hadir sesuai dengan ukuran. PSD juga dikenal sebagai distribusi ukuran butir. PSD material dapat menjadi penting dalam memahami sifat fisik dan kimianya. Ini mempengaruhikekuatan dan beban-bantalan sifat batuan dan tanah. Ini mempengaruhi reaktivitas padatan berpartisipasi dalam kimia reaksi, dan kebutuhan akan dikontrol ketat di banyak produk industri seperti pembuatan toner printer dan kosmetik. Cara PSD biasanya didefinisikan adalah dengan metode yang ditentukan. Yang paling mudah Metode dipahami determinasi adalah analisis saringan, di mana bubuk dipisahkan pada saringan ukuran yang berbeda. Dengan demikian, PSD didefinisikan dalam hal ukuran rentang diskrit: misalnya "% Dari sampel antara 45 m dan 53 m", ketika saringan ukuran ini digunakan. PSD biasanya ditentukan melalui daftar rentang ukuran yang mencakup hampir semua ukuran hadir dalam sampel. Beberapa metode penentuan memungkinkan ukuran jauh lebih sempit berkisar didefinisikan dari dapat diperoleh dengan menggunakan saringan, dan berlaku untuk ukuran partikel luar jangkauan tersedia di saringan. Namun, ide nosional "saringan", bahwa "mempertahankan" partikel di atas ukuran tertentu, dan "melewati" partikel bawah ukuran itu, secara universal digunakan dalam menyajikan data PSD dari semua jenis. (Ujam dan Enebe, 2013). 

Metode pengayakan merupakan metode yang paling umum digunakan untuk mengukur distribusi ukuran partikel karena murah, sederhana dan cepat dengan variasi yang sedikit antara operator. konsentrasi PVP mempengaruhi diameter partikel dimana PVP berbentuk serbuk halus sehingga banyak granul yang melewati ayakan. Oleh karena itu semakin banyak PVP akan menghasilkan diameter partikel yang kecil (Mulyadi, dkk., 2011).

Salah satu faktor yang menentukan sifat/karakter polimer emulsi adalah ukuran partikel. Polimer emulsi mengandung partikel dengan diameter berkisar antara 10 sampai dengan 1.500 nm. Pada umumnya ukuran partikel polimer emulsi berkisar antara 100 sampai dengan 250 nm. Ukuran partikel sangat menentukan sifat polimer emulsi seperti sifat aliran dan kestabilan polimer. Sebagai contoh suatu bahan pelapis dengan ukuran partikel yang kecil akan memberikan hasil coating yang halus, kekuatan adhesi yang baik, ketahanan terhadap air yang cukup baik serta kestabilan lateks yang cukup lama. Disamping itu ukuran diameter partikel polimer yang kecil dapat menyebabkan bahan pelapis akan lebih glossy atau transparan karena partikel-partikel polimer dari pelapis akan lebih rapat, jadi tidak ada ruang untuk ditempati partikel lain. (Budianto dkk., 2008)

Ukuran partikel padatan menjadi salah satu faktor yang penting dalam proses ekstraksi. Menurut Purseglove (1981) besar ukuran bahan yang dipakai untuk keperluan ekstraksi adalah 50 mesh dan bahan terhalus adalah ukuran 60 mesh. Ukuran partikel simplisia yang berbeda- beda memiliki luas permukaan kontak yang berbeda-beda pula. Luas permukaan kontak simplisia yang berbeda akan menyebabkan jumlah antosianin yang tersari berbeda. Kontak yang luas antara simplisia dan pelarut akan memberikan kesempatan yang lebih besar dalam mengekstrasi antosianin (Maulida dan Any, 2015)

Suspensi yang baik adalah suspensi yang memiliki ukuran partikel yang kecil, akan tetapi tidak terlalu kecil karena bila partikel terlalu kecil partikel akan mengambang dan akan sangat sukar didistribusikan secara seragam dalam pembawanya. Ha s il p enelit i a n menu nju kka n bahwa pada formula 3 memiliki ukuran partikel yang lebih kecil bila dibandingkan dengan formula 1 dan 2 . Hal ini dikarenakan konsentrasi PGA yang besar, makin besar jumlah PGA maka makin besar pula viskositasnya sehingga ukuran partikel akan sema kin kecil (Hu kum St okes ) (Chasanah dkk., 2010)

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
  • a) Mesh ukuran 80
  • b) Saringan
  • c) Sikat tabung
  • d) Stopwatch
  • e) Spatula
  • f) Timbangan analitik

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
  • a) Kertas HVS
  • b) Pati beras
  • c) Talk

D. Uraian Bahan
1. Pati Beras (Ditjen POM, 1979 : 93)
Nama resmi : Amylum Oryzae
Nama lain : Pati beras 
Pemerian : Serbuk sangat halus, putih, tidak berbau, tidak berasa. 
Kelarutan : Keasam-basahan, batas jasad renik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering
Khasiat : Sampel

2. Talk (Ditjen POM, 1979 : 591)
Nama resmi : Talkum
Nama lain : Talk 
Pemerian : Serbuk hablur, sangat halus, licin, mudah melekatpada kulit, bebas dari butiran, warna putih atau hablur kelabu
Kelarutan : Keasam-basahan, batas jasad renik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering
Khasiat : Sampel

E. Prosedur Kerja
LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL

F. Hasil Pengamatan
LAPORAN PENENTUAN UKURAN PARTIKEL

G. Pembahasan
Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang partikel yang kecil. Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran luas permukaan rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya. Pengertian ukuran partikel adalah ukuran diameter rata-rata dari suatu partikel. Untuk memulai setiap analisis ukuran partikel harus diambil dari umunya jumlah bahan besar suatu contoh yang representatif. Karenanya suatu pemisahan bahan awal dihindari oleh karena dari suatu pemisahan, contoh yang diambil berupa bahan halus atau bahan kasar. Pada jumlah dasar yang amat besar harus ditarik beberapa contoh dimana tempat pengambilan contoh sebaiknya dipilih menurut program acak.

Penentuan partikel seperti selayaknya banyak percobaan lain memiliki berbagai metode. Metode-metode tersebut ialah metode mikroskopik, metode pengayakan, metode sedimentasi, dan metode pengukuran volume partikel. 

Setiap ayakan memiliki diameter lubang yang berbeda. Ayakan nomor 4 memiliki diameter lubang ayakan 4,75 (mm). Ayakan nomor 6 memiliki diameter lubang ayakan 3,35 (mm). Ayakan nomor 8 memiliki diameter lubang ayakan 2,36 (mm). Ayakan nomor 10 memiliki diameter lubang ayakan 2,00 (mm). Ayakan nomor 20 memiliki diameter lubang ayakan 0,85 (mm). Ayakan nomor 30 memiliki diameter lubang ayakan 0,60 (mm). Ayakan nomor 40 memiliki diameter lubang ayakan 0,425 (mm). Ayakan nomor 50 memiliki diameter lubang ayakan 0,30 (mm). Ayakan nomor 60 memiliki diameter lubang ayakan 0,25 (mm). Ayakan nomor 80 memiliki diameter lubang ayakan 0,18 (mm). Ayakan nomor 100 memiliki diameter lubang ayakan 0,15 (mm). Ayakan nomor 140 memiliki diameter lubang ayakan 0,106 (mm). Ayakan nomor 170 memiliki diameter lubang ayakan 0,088 (mm). Ayakan nomor 200 memiliki diameter lubang ayakan 0,075 (mm). 

Metode pengayakan merupakan metode sederhana.Keuntungan dari metode ini ialah praktis dan waktu yang dibutuhkan lumayan cepat. Kerugian dari metode pengayakan ini ialah kita tidak dapat melihat partikel yang menggumpal. Ukuran partikel tidak pasti karena ditentukan secara kelompok, dan adanya agregasi karena adanya getaran sehingga mempengaruhi validasi data.

Metode yang kami gunakan pada percobaan ini ialah metode pengayakan. Pemilihan metode ini dikarenaka praktis dan waktu yang dibutuhkan lumayan singkat. Karena keterbatasan alat kami menggunakan dua ayakan yaitu besar dan kecil. Pengayakan berlangsung selama 5 menit. Sampel bahan yang kami gunakan ialah talk dan pati jagung. Hasil yang didapatkan pada percobaan setelah dihitung diameter panjang rata-rata didapatkan hasil pada tepung beras sebesar 171,8658% dan pada talk sebesar 3840,3848%.

Pentingnya mempelajari mikromiretik, yaitu: menghitung luas permukaan, mengetahui sifat kimia dan fisika dalam formulasi obat, secara teknis mempelajari pelepasan obat yang diberikan secara per oral, suntikan dan topikal, pembuatan obat bentuk emulsi, suspensi dan duspensi, stabilitas obat tergantung dari ukuran partikel. pengaruh kecepatan melarut dan sukar larut melalui ukuran partikelnya yang berkaitan erat dengan kerja pembebasan obat dan reabsorbsi. Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul, pengendalian ukuran partikel penting sekali dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk.

Ukuran partikel memiliki pengaruh terhadap luas permukaan dari partikel tersebut. Semakin kecil ukuran dari partikel maka semakin besar pula luas permukaannya. Semakin luasnya permukaan akan membuat sisi kontak dari partikel tersebut semakin banyak sehingga partikel tersebut akan sangat mudah larut terhadap pelarutnya. 

H. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini adalah dengan penentuan ukuran partikel dengan metode ayakan didapatkan hasil diameter panjang rata-rata pada tepung beras sebesar 171,8658% dan pada talk sebesar 3840,3848%.

DAFTAR PUSTAKA
Budianto, E., Noverra, M.N., Dan Tresye, U., 2008, Pengaruh Teknik Polimerisasi Emulsi Terhadap Ukuran Partikel Kopoli (Stirena / Butil Akrilat / Metil Metakrilat), Jurnal Makara Sains, Vol.12(1)

Chasanah, N., Ika, T.D.K., Dan Peni, I., 2010, Formulasi Suspensi Doksisiklin Menggunakan Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici: Uji Stabilitas Fisik Dan Daya Antibakteri, Juurnal Sains, Vol.2(1)

Ditjen POM RI., l979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI., Jakarta.

Irawan, E. D., 2006, Studi In Vitro Hubungan Logaritma Koefisien Partisi Dengan Ikatan Protein Plasma Dari Antidiabet Turunan Sulfonil Urea Sebagai Bahan Pembelajaran Mata Kuliah Farmasi Fisik, Jurnal Pengembangan Pendidikan, Vol.3(1).

Martin, A., James, S., dan Arthur, C., 1993, Farmasi Fisik, Edisi Ketiga, Jilid 2, UI-Press, Jakarta.

Maulida, R., Any, G.,2015, Pengaruh Ukuran Partikel Beras Hitam (Oryza Sativa L.) Terhadap Rendemen Ekstrak Dan Kandungan Total Antosianin, Jurnal Pharmaciana, Vol.5(1)

Mulyadi M.D., Ika Y.A., dan Binar A.D., 2011, Formulasi Granul Instan Jus Kelopak Bunga Rosela dengan Variasi Konsentrasi Povidon sebagai Bahan Pengikat serta Kontrol Kualitasnya, Jurnal Pharmacy, Vol 8 (3).

Ujam, A. J., dan Eneba, K. O., 2013, Experimental Analysis of Perticle Size Distribution Using Electromagnetic Sieve. American Journal Of engineering research, Vol 2 (10)