LAPORAN PENERAAN VOLUMETRI - ElrinAlria
LAPORAN PENERAAN VOLUMETRI
LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR KIMIA ANALITIK I
PERCOBAAN I
PENERAAN VOLUMETRI
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu proses yang dilakukan terkait dengan pekerjaan dan riset dalam bidang kimia adalah pengukuran analitik. Tujuan pengukuran kimia pada prinsipnya adalah untuk mecari “nilai sebenarnya” dari suatu parameter kuantitas kimiawi. Nilai sebenarnya adalah nilai yang mengkararakterisasi suatu kuantitas tersebut diukur

Dalam kegiatan penelitian maupun praktikum, peralatan laboratorium sangatlah diperlukan keberadaannya, karena tanpa alat-alat tersebut kegiatan penelitian atau praktikum tidak dapat berjalan. Nilai sebenarnya adalah nilai yang mengkarakterisasi suatu kuantitas secara benar dan didefinisikan pada kondisi tertentu yang eksis pada saat kuantitas tersebut diukur, beberapa contoh parameter yang dapat ditentukan secara analitik adalah pengerjaan-pengerjaan volumetri alat-alat gelas yang ada tanda teranya, dan lain lain. Pengukuran parameter-parameter ini sangat penting, karena data yang diperoleh nantinya tidak hanya sebagai ukuran angka-angka biasa namun juga baik kualitatif maupun kuantitatif dengan dapat menunjukkan nilai besaran yang sebenarnya.

Sebagaimana biasa dalam pengamatan eksperimen secara umum, hasil yang diperoleh pasti tidak dapat terlepas dari faktor kesalahan. Nilai parameter sebenarnya yang akan ditentukan dari suatu perhitungan analitik tersebut adalah ukuran ideal. Nilai tersebut ini hanya bisa diperoleh jika semua penyebab kesalahan pengukuran dihilangkan dan jumlah populasi tidak terbatas. Faktor penyebab kesalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain adalah faktor bahan kimia, peralatan, pemakai, dan kondisi pengukuran dan lain-lain. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran analitik ini adalah dengan proses kalibrasi. Maka dari itu dilakukan percobaan ini.

B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa dapat melakukan peneraan terhadap alat-alat ukur volume yaitu buret, labu takar, dan pipet volume/pipet skala.

C. PRINSIP PERCOBAAN
Prinsip percobaan adalah peneraan terhadap buret, labu takar, dan pipet volume dilakukan sebelum digunakan dalam pengerjaan-pengerjaan volumetrik karena alat-alat gelas bervariasi terhadap perubahan suhu. 

BAB II
TEORI PENDUKUNG
Dalam ilmu pengetahuan seperti kimia, begitu banyak usaha dilakukan untuk mengumpulakan data kuantitatif. Data tersebut didapat dari perhitungan dalam percobaan dan karenanya mempunyai galat. Penting bagi mahasiswa kimia untuk mempelajari galat-galat yang terjadi dalam pengukuran mereka, agar galat-galat itu dapat diminimalkan. Mahasiswa juga harus mengembangkan kemampuan untuk mengevaluasi data eksperimen dan menarik kesimpulan, serta membuang interpretasi yang mungkin tidak dapat dijamin kebenarannya.

Dasar umum dalam peneraan adalah untuk menentukan berat air yang dimuat atau dikeluarkan oleh suatu alat gelas tertentu, kemudian dengan densitas air yang diketahui volume yang betul dapat dihitung. National Bureau of Standaris telah menetapkan 20oC sebagai suhu untuk mengadakan kalibrasi peralatan gelas. Karena suhu laboratorium biasanya tidak akan tepat 20oC, maka peralatan gelas pada hakikatnya, harus dikoreksi apabila digunakan pada suhu lain (Underwood, 1981).

Alat pengukur volume merupakan alat bantu yang penting untuk setiap penentuan kuantitatif. Dari sifat dan fungsi dapat dibedakan yaitu pipet, buret, dan labu takar. Pipet merupakan alat untuk mengukur volume kecil. Pipet volume digunakan untuk mengukur volume tertentu. Pipet harus ditera sebelum digunakan, yaitu pada penggunaan pipet volume tertentu cairan harus mengalir keluar secara kuantitatif. Buret mempunyai ujung pelepasan yang dapat diatur, berupa tabung kaca dengan ukuran isi 5, 10, 20, atau 50 ml yang bagian bawahnya ditutup dengan keran gelas. Buret ditera melalui pelepasannya. Labu takar atau labu ukur adalah labu berleher panjang yang mempunyai bagian bundar (perut) dengan volume 10, 25, 50, 100, 250 atau 1000 ml, yang ditutup dengan sumbat gelas yang diasah atau sumbat dari zat sinafsis. Ruang isinya ditandai dengan batas garis pada lehernya (Herman, 1988).

Salah satu proses yang dilakukan terkait dengan pekerjaan dan riset dalam bidang kimia adalah pengukuran analitik. Tujuan pengukuran kimia pada prinsipnya adalah untuk mencari “nilai sebenarnya” dari suatu parameter kuantitas kimiawi. Nilai sebenarnya adalah nilai yang mengkarakterisasi suatu kuantitas secara benar dan diidentifikasikan pada kondisi tertentu yang eksis pada saat kuantitas tersebut diukur, beberapa contoh parameter yang dapat ditentukan secara analitik adalah konsentrasi, pH, temperatur, titik didih, kecepatan reaksi, dan lain-lain. Pengukuran parameter-parameter ini sangat penting, karena data yang diperoleh nantinya tidak hanya sebagai ukuran angka-angka biasa namun juga baik kuantitatif maupun dengan menunjukan nilai besaran yang sebenarnya. Sebagaimana biasa dalam pengamatan eksperimen secara umum, hasil yang diperoleh pasti tidak dapat terlepas dari faktor kesalahan. Nilai parameter sebenarnya yang akan ditentukan dari suatu perhitungan analitik tersebut adalah ukuran ideal. Nilai tersebut hanya bisa diperoleh jika semua penyebab kesalahan pengukuran dihilangkan dan jumlah populasi tidak terbatas. Faktor penyebab kesalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain adalah faktor bahan kimia, peralatan, pemakaian dan kondisi pengukuran dan lain-lain. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran analitik ini adalah dengan proses kalibrasi (Tahir, 2004).

Ketelitian pengukuran merupakan cara pembacaan skala yang tepat pada alat ukur volumetri (labu takar, pipet gondok, ataupun buret) memperhatikan angka signifikan, toleransi pembacaan skala, dan ketelitian standar dari alat. Pembacaan skala pada alat ukur volumetri (buret, pipet gondok, labu takar, labu ukur) harus benar-benar diperhatikan, dalam hal melihat skala, kedudukan badan, jenis alat maupun jenis larutan, dengan memperhatikan angka signifikan, toleransi pembacaan skala, dan sifat ketelitian alat. Kalibrasi dilakukan agar hasil pengukuran selalu sesuai dengan alat ukur standar/alat ukur yang sudah ditera (Skoog, 1997).

Semua barang volumetrik yang akan diteliti seharusnya terbebas ari air Sebelum diuji. Buret dan pipet tidak perlu dikeringkan. Botol volumetric seharusnya kosong dan kering pada suhu ruang. Air yang digunakan untuk pengujian seharusnya dalam keadaan panas yang seimbang dengan keadaan sekelilingnya. Kondisi yang baik dibuktikan oleh gambaran yang baik. Pentingnya teori umum kesalahan dalam praktek tidak terletak pada perhitungan kesalahan, tetapi dalam mencari kondisI ideal, dimana kesAlahan akan menjadi minimum. Disini akan ditunjukkan prosedurnya saja. Dari matematika diketahui bahwa sebuah fngsi mencapai minimum untuk nilai-nilai variable bebas kalau turunan pertama sebuah variable sama dengan nol (syarat yang perlu). Dengan demikian, kita cari turunan partial orde pertama untuk semua variable yang mungkin dari fungsi perhitungan kesalahan, menyamakannya dengan nol dan menghitung persamaan itu dari suatu variable. Lebih jauh kemungkinan kesalahan alat yang digunakan tidak turur dipertimbangkan dalam perhitungan ini. Jadi hasil perhtngan semacam itu harus selalu diperkuat dengan pertimbangan logika, dan teristimewa harus dibuktikan dengan percobaan Dalam menaksir kesalahan volume dengan buret, di satu pihak kita harus memperhatikan kesalahan waktu menetapkan titik nol dan pembacaan volume akhir (misalnya kesalahan akibat paralaks, pembacaan skala). Jika yang diguanakn adalah alat gelas yang ditera, kesalahan volume yang mungkin dikehtahui dari standar yang telah ditetapkan dengan aturan peneraan resmi.. (Eckschlager, 1972).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. ALAT DAN BAHAN
-Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
  • Buret 50 mL 1 buah 
  • Labu takar 50 mL 1 buah
  • Labu takar 100 mL 1 buah
  • Pipet volume 10 mL 1 buah
  • Pipet volume 25 mL 1 buah
  • Erlenmeyer 250 mL 3 buah
  • Statif dan klem 1 buah
  • Filler 1 buah
  • Botol semprot 1 buah
  • Gelas kimia 3 buah

-Bahan
  • Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah aquades.

B. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENERAAN VOLUMETRI

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENERAAN VOLUMETRI

B. PEMBAHASAN
Dasar umum dalam peneraan adalah untuk menentukan berat air yang dimuat atau dikeluarkan oleh suatu alat gelas tertentu, kemudian dengan densitas air yang diketahui volume yang betul dapat dihitung. National Bureau of Standaris telah menetapkan 20oC sebagai suhu untuk mengadakan kalibrasi peralatan gelas, karena suhu Laboratorium biasanya tidak akan tepat 20oC. Maka peralatan gelas pada hakikatnya, harus dikoreksi apabila digunakan pada suhu lain.

Alat perngukur volume merupakan alat bantu yang penting untuk setiap penentuan kuantitatif dari sifat dan fungsi dapat dibedakan : pipet volume, buret, dan labu takar. Pipet volume digunakan untuk mengukur volume tertentu. Pipet harus ditera sebelum digunakan, yaitu pada penggunaan pipet volume tertentu cairan harus mengalir keluar secara kuantitatif. Buret mempunyai ujung pelepasan yang dapat diatur, berupa tabung kaca dengan ukuran isi, 5, 10, 20, atau 50 mL yang bagian bawahnya ditutup dengan keran gelas. Buret ditera melalui pelepasannya.

Peralatan volumetrik yang digunakan sebagai alat ukur volume yang mempengaruhi hasil uji dan/atau pengukuran harus dikalibrasi secara individu. Kalibrasi dan/atau rekalibrasi peralatan volumetrik mungkin tidak diperlukan bila pengukuran volume di mana peralatan tersebut digunakan tidak mempengaruhi hasil uji dan/atau pengukuran atau terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kontribusi ketidakpastian pengukuran volumetrik tidak berkontribusi signifikan terhadap ketidakpastian total pengujian dan/atau pengukuran dimana peralatan tersebut digunakan. Kapasitas peralatan volumetrik dapat berubah karena waktu dan penggunaan. 

Dari percobaan menunjukkan bahwa peneraan yang dilakukan pada beberapa bahan gelas seperti pipet ukur, buret, daan labu takar menggunakan suhu yang telah dipilih yaitu 20OC sedang suhu yang dipergunakan pada suhu kerja adalah 29OC. sebelum dilakukan pengerjaan-pengerjaan volumetric ini harus terlebih dahulu ditera pada suhu yang telah ditentukan.

Pada peneraan pipet volume atau pipet seukuran dilakukan perlahan-lahan pada saat menuangkan isinya pada gelas kimia, hal ini dilakukan agar pada titrasi dengan menggunakan larutan lain akan lebih baik hasil titrasi yang diperoleh , demikian pula tingkat kesalahannya cenderung lebih kecil. Pada perberapa pipet volume yang berat air diudara yaitu 6,5969 gram, diperoleh berat air pada suhu penimbangan kerja (Wt) Sebesar 6,59 gram dan diperoleh Vt dan Vo sebesar 6,6171 mL dan 6,6156 mL. Untuk perlakuan ke 2 dan ke 3 nilai suhu penimmbangan kerja sebesar 9,86 gram dan 9,87 gram. Ini menunjukkan bahwa alat tersebut masih layak pakai karena masih menjaungkaui batas toleransi yang ditetapkan.

Peneraan pada labu takar dilakukan sama dengan peneraan terhadap pipet volume dan di dapatkan nilai yang menunjukkan bahwa labu takar yang digunakan masih layak pakai. Nilai Wo (berat air di udara) yaitu 49,2233 gram, diperoleh berat air pada suhu penimbangan (Wt) sebesar 49,1711 gram dan diperoleh Vt dan Vo sebesar 49,3735 mL dan 49,3632 mL. Begitu pula peneraan yang dilakukan pada buret, nilai perhitungan yang didapatkan masih menjangkaui batas toleransi yang ditetapkan. Sehingga nilai b yang didapatkan adalah 0,99273 ≈1, dan % penyimpangannya 100%.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Peneraan terhadap alat-alat gelas laboraturium seperti pipet volume, labu takar dan buret dilakukan sebelum digunakan dalam pengerjaan volumetri. Nilai perhitungan yang didapatkan masih menjangkaui batas toleransi yang didapatkan, sehinggan nilai b yang didapatkan adalah 1 dan % penyimpangannya sebesar 100%.

B. SARAN
Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini ini adalah sebaiknya perlu diadakan peneraan terhadap alat-alat ukur lain maupun timbangan, agar dapat diketahui kelayakan pakai dari alat-alat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Day, R.A dan Underwood, L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi keenam. Erlangga. Jakarta.

Harmita. 2004. Petunjuk Penggunaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmsian. Vol.1, Hal. 117

Khopkar S.M. 2002 dasar-dasar kimia analitik. Universitas Indonesia. Jakarta.

Sajima, Indriati, Tanjung dan Mulyono. 2007. Pembuatan Larutan Umpan Proses Pengendapan Zr(OH)4 Menggunakan Metode Re-ekstraksi. Seminar Nasional III SDM Seminar Nuklir. Vol.2 No.1. Hal.75
Sulaeman, Cecep. 2011. Kalibrasi Temperatur pada PT100 dan Thermocouple. Jurnal Ilmiah Elektro. Vol.2, No.1. Hal.99

Widodo, dkk. 2010. Kimia Analisis Kuantitatif. Graha Ilmu. Jakarta.

LAPORAN PENERAAN VOLUMETRI

LAPORAN PENERAAN VOLUMETRI
LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR KIMIA ANALITIK I
PERCOBAAN I
PENERAAN VOLUMETRI
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu proses yang dilakukan terkait dengan pekerjaan dan riset dalam bidang kimia adalah pengukuran analitik. Tujuan pengukuran kimia pada prinsipnya adalah untuk mecari “nilai sebenarnya” dari suatu parameter kuantitas kimiawi. Nilai sebenarnya adalah nilai yang mengkararakterisasi suatu kuantitas tersebut diukur

Dalam kegiatan penelitian maupun praktikum, peralatan laboratorium sangatlah diperlukan keberadaannya, karena tanpa alat-alat tersebut kegiatan penelitian atau praktikum tidak dapat berjalan. Nilai sebenarnya adalah nilai yang mengkarakterisasi suatu kuantitas secara benar dan didefinisikan pada kondisi tertentu yang eksis pada saat kuantitas tersebut diukur, beberapa contoh parameter yang dapat ditentukan secara analitik adalah pengerjaan-pengerjaan volumetri alat-alat gelas yang ada tanda teranya, dan lain lain. Pengukuran parameter-parameter ini sangat penting, karena data yang diperoleh nantinya tidak hanya sebagai ukuran angka-angka biasa namun juga baik kualitatif maupun kuantitatif dengan dapat menunjukkan nilai besaran yang sebenarnya.

Sebagaimana biasa dalam pengamatan eksperimen secara umum, hasil yang diperoleh pasti tidak dapat terlepas dari faktor kesalahan. Nilai parameter sebenarnya yang akan ditentukan dari suatu perhitungan analitik tersebut adalah ukuran ideal. Nilai tersebut ini hanya bisa diperoleh jika semua penyebab kesalahan pengukuran dihilangkan dan jumlah populasi tidak terbatas. Faktor penyebab kesalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain adalah faktor bahan kimia, peralatan, pemakai, dan kondisi pengukuran dan lain-lain. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran analitik ini adalah dengan proses kalibrasi. Maka dari itu dilakukan percobaan ini.

B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa dapat melakukan peneraan terhadap alat-alat ukur volume yaitu buret, labu takar, dan pipet volume/pipet skala.

C. PRINSIP PERCOBAAN
Prinsip percobaan adalah peneraan terhadap buret, labu takar, dan pipet volume dilakukan sebelum digunakan dalam pengerjaan-pengerjaan volumetrik karena alat-alat gelas bervariasi terhadap perubahan suhu. 

BAB II
TEORI PENDUKUNG
Dalam ilmu pengetahuan seperti kimia, begitu banyak usaha dilakukan untuk mengumpulakan data kuantitatif. Data tersebut didapat dari perhitungan dalam percobaan dan karenanya mempunyai galat. Penting bagi mahasiswa kimia untuk mempelajari galat-galat yang terjadi dalam pengukuran mereka, agar galat-galat itu dapat diminimalkan. Mahasiswa juga harus mengembangkan kemampuan untuk mengevaluasi data eksperimen dan menarik kesimpulan, serta membuang interpretasi yang mungkin tidak dapat dijamin kebenarannya.

Dasar umum dalam peneraan adalah untuk menentukan berat air yang dimuat atau dikeluarkan oleh suatu alat gelas tertentu, kemudian dengan densitas air yang diketahui volume yang betul dapat dihitung. National Bureau of Standaris telah menetapkan 20oC sebagai suhu untuk mengadakan kalibrasi peralatan gelas. Karena suhu laboratorium biasanya tidak akan tepat 20oC, maka peralatan gelas pada hakikatnya, harus dikoreksi apabila digunakan pada suhu lain (Underwood, 1981).

Alat pengukur volume merupakan alat bantu yang penting untuk setiap penentuan kuantitatif. Dari sifat dan fungsi dapat dibedakan yaitu pipet, buret, dan labu takar. Pipet merupakan alat untuk mengukur volume kecil. Pipet volume digunakan untuk mengukur volume tertentu. Pipet harus ditera sebelum digunakan, yaitu pada penggunaan pipet volume tertentu cairan harus mengalir keluar secara kuantitatif. Buret mempunyai ujung pelepasan yang dapat diatur, berupa tabung kaca dengan ukuran isi 5, 10, 20, atau 50 ml yang bagian bawahnya ditutup dengan keran gelas. Buret ditera melalui pelepasannya. Labu takar atau labu ukur adalah labu berleher panjang yang mempunyai bagian bundar (perut) dengan volume 10, 25, 50, 100, 250 atau 1000 ml, yang ditutup dengan sumbat gelas yang diasah atau sumbat dari zat sinafsis. Ruang isinya ditandai dengan batas garis pada lehernya (Herman, 1988).

Salah satu proses yang dilakukan terkait dengan pekerjaan dan riset dalam bidang kimia adalah pengukuran analitik. Tujuan pengukuran kimia pada prinsipnya adalah untuk mencari “nilai sebenarnya” dari suatu parameter kuantitas kimiawi. Nilai sebenarnya adalah nilai yang mengkarakterisasi suatu kuantitas secara benar dan diidentifikasikan pada kondisi tertentu yang eksis pada saat kuantitas tersebut diukur, beberapa contoh parameter yang dapat ditentukan secara analitik adalah konsentrasi, pH, temperatur, titik didih, kecepatan reaksi, dan lain-lain. Pengukuran parameter-parameter ini sangat penting, karena data yang diperoleh nantinya tidak hanya sebagai ukuran angka-angka biasa namun juga baik kuantitatif maupun dengan menunjukan nilai besaran yang sebenarnya. Sebagaimana biasa dalam pengamatan eksperimen secara umum, hasil yang diperoleh pasti tidak dapat terlepas dari faktor kesalahan. Nilai parameter sebenarnya yang akan ditentukan dari suatu perhitungan analitik tersebut adalah ukuran ideal. Nilai tersebut hanya bisa diperoleh jika semua penyebab kesalahan pengukuran dihilangkan dan jumlah populasi tidak terbatas. Faktor penyebab kesalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain adalah faktor bahan kimia, peralatan, pemakaian dan kondisi pengukuran dan lain-lain. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran analitik ini adalah dengan proses kalibrasi (Tahir, 2004).

Ketelitian pengukuran merupakan cara pembacaan skala yang tepat pada alat ukur volumetri (labu takar, pipet gondok, ataupun buret) memperhatikan angka signifikan, toleransi pembacaan skala, dan ketelitian standar dari alat. Pembacaan skala pada alat ukur volumetri (buret, pipet gondok, labu takar, labu ukur) harus benar-benar diperhatikan, dalam hal melihat skala, kedudukan badan, jenis alat maupun jenis larutan, dengan memperhatikan angka signifikan, toleransi pembacaan skala, dan sifat ketelitian alat. Kalibrasi dilakukan agar hasil pengukuran selalu sesuai dengan alat ukur standar/alat ukur yang sudah ditera (Skoog, 1997).

Semua barang volumetrik yang akan diteliti seharusnya terbebas ari air Sebelum diuji. Buret dan pipet tidak perlu dikeringkan. Botol volumetric seharusnya kosong dan kering pada suhu ruang. Air yang digunakan untuk pengujian seharusnya dalam keadaan panas yang seimbang dengan keadaan sekelilingnya. Kondisi yang baik dibuktikan oleh gambaran yang baik. Pentingnya teori umum kesalahan dalam praktek tidak terletak pada perhitungan kesalahan, tetapi dalam mencari kondisI ideal, dimana kesAlahan akan menjadi minimum. Disini akan ditunjukkan prosedurnya saja. Dari matematika diketahui bahwa sebuah fngsi mencapai minimum untuk nilai-nilai variable bebas kalau turunan pertama sebuah variable sama dengan nol (syarat yang perlu). Dengan demikian, kita cari turunan partial orde pertama untuk semua variable yang mungkin dari fungsi perhitungan kesalahan, menyamakannya dengan nol dan menghitung persamaan itu dari suatu variable. Lebih jauh kemungkinan kesalahan alat yang digunakan tidak turur dipertimbangkan dalam perhitungan ini. Jadi hasil perhtngan semacam itu harus selalu diperkuat dengan pertimbangan logika, dan teristimewa harus dibuktikan dengan percobaan Dalam menaksir kesalahan volume dengan buret, di satu pihak kita harus memperhatikan kesalahan waktu menetapkan titik nol dan pembacaan volume akhir (misalnya kesalahan akibat paralaks, pembacaan skala). Jika yang diguanakn adalah alat gelas yang ditera, kesalahan volume yang mungkin dikehtahui dari standar yang telah ditetapkan dengan aturan peneraan resmi.. (Eckschlager, 1972).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. ALAT DAN BAHAN
-Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
  • Buret 50 mL 1 buah 
  • Labu takar 50 mL 1 buah
  • Labu takar 100 mL 1 buah
  • Pipet volume 10 mL 1 buah
  • Pipet volume 25 mL 1 buah
  • Erlenmeyer 250 mL 3 buah
  • Statif dan klem 1 buah
  • Filler 1 buah
  • Botol semprot 1 buah
  • Gelas kimia 3 buah

-Bahan
  • Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah aquades.

B. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENERAAN VOLUMETRI

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENERAAN VOLUMETRI

B. PEMBAHASAN
Dasar umum dalam peneraan adalah untuk menentukan berat air yang dimuat atau dikeluarkan oleh suatu alat gelas tertentu, kemudian dengan densitas air yang diketahui volume yang betul dapat dihitung. National Bureau of Standaris telah menetapkan 20oC sebagai suhu untuk mengadakan kalibrasi peralatan gelas, karena suhu Laboratorium biasanya tidak akan tepat 20oC. Maka peralatan gelas pada hakikatnya, harus dikoreksi apabila digunakan pada suhu lain.

Alat perngukur volume merupakan alat bantu yang penting untuk setiap penentuan kuantitatif dari sifat dan fungsi dapat dibedakan : pipet volume, buret, dan labu takar. Pipet volume digunakan untuk mengukur volume tertentu. Pipet harus ditera sebelum digunakan, yaitu pada penggunaan pipet volume tertentu cairan harus mengalir keluar secara kuantitatif. Buret mempunyai ujung pelepasan yang dapat diatur, berupa tabung kaca dengan ukuran isi, 5, 10, 20, atau 50 mL yang bagian bawahnya ditutup dengan keran gelas. Buret ditera melalui pelepasannya.

Peralatan volumetrik yang digunakan sebagai alat ukur volume yang mempengaruhi hasil uji dan/atau pengukuran harus dikalibrasi secara individu. Kalibrasi dan/atau rekalibrasi peralatan volumetrik mungkin tidak diperlukan bila pengukuran volume di mana peralatan tersebut digunakan tidak mempengaruhi hasil uji dan/atau pengukuran atau terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kontribusi ketidakpastian pengukuran volumetrik tidak berkontribusi signifikan terhadap ketidakpastian total pengujian dan/atau pengukuran dimana peralatan tersebut digunakan. Kapasitas peralatan volumetrik dapat berubah karena waktu dan penggunaan. 

Dari percobaan menunjukkan bahwa peneraan yang dilakukan pada beberapa bahan gelas seperti pipet ukur, buret, daan labu takar menggunakan suhu yang telah dipilih yaitu 20OC sedang suhu yang dipergunakan pada suhu kerja adalah 29OC. sebelum dilakukan pengerjaan-pengerjaan volumetric ini harus terlebih dahulu ditera pada suhu yang telah ditentukan.

Pada peneraan pipet volume atau pipet seukuran dilakukan perlahan-lahan pada saat menuangkan isinya pada gelas kimia, hal ini dilakukan agar pada titrasi dengan menggunakan larutan lain akan lebih baik hasil titrasi yang diperoleh , demikian pula tingkat kesalahannya cenderung lebih kecil. Pada perberapa pipet volume yang berat air diudara yaitu 6,5969 gram, diperoleh berat air pada suhu penimbangan kerja (Wt) Sebesar 6,59 gram dan diperoleh Vt dan Vo sebesar 6,6171 mL dan 6,6156 mL. Untuk perlakuan ke 2 dan ke 3 nilai suhu penimmbangan kerja sebesar 9,86 gram dan 9,87 gram. Ini menunjukkan bahwa alat tersebut masih layak pakai karena masih menjaungkaui batas toleransi yang ditetapkan.

Peneraan pada labu takar dilakukan sama dengan peneraan terhadap pipet volume dan di dapatkan nilai yang menunjukkan bahwa labu takar yang digunakan masih layak pakai. Nilai Wo (berat air di udara) yaitu 49,2233 gram, diperoleh berat air pada suhu penimbangan (Wt) sebesar 49,1711 gram dan diperoleh Vt dan Vo sebesar 49,3735 mL dan 49,3632 mL. Begitu pula peneraan yang dilakukan pada buret, nilai perhitungan yang didapatkan masih menjangkaui batas toleransi yang ditetapkan. Sehingga nilai b yang didapatkan adalah 0,99273 ≈1, dan % penyimpangannya 100%.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Peneraan terhadap alat-alat gelas laboraturium seperti pipet volume, labu takar dan buret dilakukan sebelum digunakan dalam pengerjaan volumetri. Nilai perhitungan yang didapatkan masih menjangkaui batas toleransi yang didapatkan, sehinggan nilai b yang didapatkan adalah 1 dan % penyimpangannya sebesar 100%.

B. SARAN
Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini ini adalah sebaiknya perlu diadakan peneraan terhadap alat-alat ukur lain maupun timbangan, agar dapat diketahui kelayakan pakai dari alat-alat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Day, R.A dan Underwood, L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi keenam. Erlangga. Jakarta.

Harmita. 2004. Petunjuk Penggunaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmsian. Vol.1, Hal. 117

Khopkar S.M. 2002 dasar-dasar kimia analitik. Universitas Indonesia. Jakarta.

Sajima, Indriati, Tanjung dan Mulyono. 2007. Pembuatan Larutan Umpan Proses Pengendapan Zr(OH)4 Menggunakan Metode Re-ekstraksi. Seminar Nasional III SDM Seminar Nuklir. Vol.2 No.1. Hal.75
Sulaeman, Cecep. 2011. Kalibrasi Temperatur pada PT100 dan Thermocouple. Jurnal Ilmiah Elektro. Vol.2, No.1. Hal.99

Widodo, dkk. 2010. Kimia Analisis Kuantitatif. Graha Ilmu. Jakarta.