LAPORAN PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar asetosal secara spektrofotometri UV.

B. LANDASAN TEORI
Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies, dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang dituju dalam suatu sampel. Sedangkan analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) absolute atau relative dari suatu elemen atau spesies yang ada di dalam sampel (Gandjar dan Rohman, 2007).
Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai bidang analisis kimia terutama farmasi (Karinda, 2013). 

Prinsip dasar spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detector fototube (Setiono, 2013).

Metoda spektrofotometri uv-vis adalah salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini sangat tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, dkk, 2009).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV-Vis terutama senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa berwarna. Tahap-tahap yang yang harus diperhatikan yaitu pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vi, waktu operasional, pemilihan panjang gelombang, pembuatan kurva baku, dan pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan (Gandjar dan Rohman, 2007).

Asam asetil salisilat atau yang lebih dikenal dengan asetosal atau aspirin merupakan senyawa yang memiliki khasiat sebagai analgesik, antipiretik, dan anti inflamasi pada penggunaan dosis besar. Asetosal termasuk produk over the counter (OTC) yang dapat diperoleh tanpa resep dokter dan telah digunakan secara luas di masyarakat. Beberapa dekade terakhir ini, asetosal bukan lagi merupakan pilihan utama sebagai analgesik dikarenakan efek sampingnya yang dapat mengiritasi lambung. Untuk mengurangi efek iritasi lambung ini, asetosal biasanya dibuat dalam bentuk tablet biasa (plain uncoated), buffered tablets, enteric coated tablets, dispersible tablets, suppositoria dll. Khasiat lain yang dimiliki asetosal pada penggunaan dosis kecil adalah sebagai anti platelet yang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya infark miokard pada orang dengan resiko tinggi stroke atau ischemia cerebral, sehingga asetosal diproduksi dengan dosis sediaan 80 dan 160 mg/tablet dengan aturan pakai 1 tablet/hari. Rumus molekul asetosal yaitu (Annuryanti dkk., 2013).

Efek iritasi lambung pada penggunaan asetosal disebabkan karena asetosal bereaksi asam. Selain itu, asetosal merupakan senyawa ester yang mudah terhidrolisis menjadi asam asetat dan asam salisilat selama masa produksi maupun penyimpanan. Mengingat saat ini asetosal banyak digunakan bersama obat jantung yang juga bereaksi asam (seperti isosorbid dinitrat), maka monitoring asam salisilat bebas dalam sediaan asetosal penting dilakukan, terutama karena asetosal sebagai anti thrombus yang digunakan dalam jangka panjang. Hal lain yang menjadi dasar dalam monitoring kadar asam salisilat bebas adalah kondisi penyimpanan tablet asetosal yang tidak sesuai serta adanya kemungkinan cacat pada kemasan primer tablet asetosal yang memungkinkan asetosal terhidrolisis tanpa dapat terlihat dari luar kemasan. (Annuryanti dkk., 2013). 

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
  • Labu takar 100 ml dan10 ml
  • Pipet ukur
  • Filler
  • Gelas kimia 50 ml
  • Batang pengaduk
  • Lumpang dan alu
  • Sendok tanduk
  • Spektrofotometer UV
  • Kuvet
  • Timbangan Analitik

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:.
  • Asetosal murni
  • Alumnium foil
  • Sampel asetosal (bodrexin)
  • Akuades
  • Tissue

D. URAIAN BAHAN
1. Asetosal (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Acidum acetylsalicylicum 
Sinonim : Asetosal, Asam Asetil Salisilat atau Aspirin
Rumus molekul / Berat molekul : C9H8O4 / 180,16
Rumus struktur : 
Pemerian : Pemeriannya hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau,dan rasa asam.
Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol (95%) P, larut dlam kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Asetosal berkhasiat sebagai analgetis dan antiradang pada dosisi tinggi. Pada dosis rendah asetosal berkhasiat untuk merintangi penggumpalan trombosit (antikoagulasia).

2. Aquades (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua destillata
Sinonim : Air suling
Rumus molekul / Berat molekul : H2O / 18,02
Rumus struktur :
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Pelarut

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV


F. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

F. PEMBAHASAN
Pada hakikatnya analisis kimia untuk penentuan suatu struktur maupun konsentrasi suatu zat dalam sampel, didasarkan pada dua prinsip dasar, yaitu interaksi antara materi dengan materi digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam larutan, biasanya menggunakan analisis volumetri. Interaksi antara energi dan materi digunakan dalam analisis suatu zat ataupun penentuan struktur dalam spektroskopi.Pada hakikatnya analisis kimia untuk penentuan sautu struktur maupun konsentrasi suatu zat dalam sampel, didasarkan pada dua prinsip dasar, yaitu interaksi antara materi dengan materi digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam larutan, biasanya menggunakan analisis volumetri. Interaksi antara energi dan materi digunakan dalam analisis suatu zat ataupun penentuan struktur dalam spektroskopi.

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi.

Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda.

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah spektrofotometer UV, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Spektrofotometer ultra violet menggunakan radiasi dengan panjang gelombang 200-400 nm. Molekul yang dapat memberikan absorbsi yang bermakna pada panjang gelombang 200-780 nm adalah molekul-molekul yang mempunyai gugus kromofor dan gugus auksokrom. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet.

Sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah Asetosal murni, dan sediaan obat yang mengandung asetosal (bodrexin). Asetosal terlebih dahulu ditimbang sebanyak 0,01 gr, dimasukkan kedalam gelas kimia, kemudian ditambahkan 5 ml alkohol dan dicukupkan volumenya hingga 50 ml. Setelah dibuat larutan induk, selanjutnya dibuat seri larutan standar dengan mengambil sejumlah volume tertentu dari larutan induk. Pertama- tama asetosal murni yang dijadikan larutan induk, kemudian ditentukan kadar dari sediaan obat yang digunakan. 

Sampel yang mengandung asetosal sebelum diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometri terlebih dahulu ditimbang sebanyak 0,01 gr kemudian ditambahkan 5 ml alkohol dan dicukupkan volumenya hingga 50 ml. Penambahan alkohol bertujuan agar sampel dan air dapat larut secara sempurna. Hal ini dikarenakan alkohol merupakan senyawa yang bersifat semi polar, artinya mempunyai sifat polar dan non polar. Sifat polar yang terdapat didalam alkohol akan berikatan dengan sifat polar yang dimiliki oleh akuades dan sifat non polar akan berikatan dengan sifat non polar yang dimiliki oleh sampel sehingga larutan tersebut dapat bercampur serta dengan adanya alkohol dapat meningkatkan kelarutan suatu larutan yang dibuat.

Pengukuran absorbansi larutan induk, larutan standar dan larutan sampel menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Akan tetapi, terlebih dahulu ditentukan panjang gelombang yang akan digunakan. Berdasarkan pengukuran, diperoleh panjang gelombang maksimum dari asam salisilat yaitu 226 nm. Setelah diperoleh panjang gelombang maksium yang dimilik oleh asam salisilat, selanjutnya dapat ditentukan absorbansi yang dimiliki oleh sampel yang mengandung asam salisilat. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan, hasil oabsorbansi yang dimiliki oleh sampel yang mengandung asetosal yaitu 5,50 mg/ml.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dengan menggunakan alat spektrofotometer UV dapat diketahui absorbansi sampel yang mengandung asetosal (bodexin) sebesar 5,50 mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA
Annuryanti, Febri, Juniar Moechtar, dan Asri Darmawati, 2013, Kandungan Salisilat Bebas Dalam Tablet Asetosal Yang Beredar Di Surabaya, Berkala Ilmiah Kimia Farmasi, Vol. 2, No. 2.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Republik Indonesia, Jakarta.

Fatimah, S., Iis Haryati, dan Agus Jamaludin, 2009, Pengaruh Uanium Terhadap Analisis Thorium Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis, Seminar Nasional V SDM Teknologi Nuklir, ISSN.

Gandjar, I.G., dan Abdul Rohman, 2012, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Karinda, Monalisa, Fatimawali, dan Gayatri Citraningtyas, 2013, Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Dan Iodometri, Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 2, No. 1, ISSN, Manado.

Setiono, Monica dan Avrilliana Dewi A., 2013, Penentuan Jenis Solven dan pH Optimum pada Analisis Senyawa Delphinidin Dalam Kelopak Bunga Rosela Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 2,Universitas Diponegoro, Semarang.

LAPORAN PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

LAPORAN PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar asetosal secara spektrofotometri UV.

B. LANDASAN TEORI
Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies, dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang dituju dalam suatu sampel. Sedangkan analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) absolute atau relative dari suatu elemen atau spesies yang ada di dalam sampel (Gandjar dan Rohman, 2007).
Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai bidang analisis kimia terutama farmasi (Karinda, 2013). 

Prinsip dasar spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detector fototube (Setiono, 2013).

Metoda spektrofotometri uv-vis adalah salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini sangat tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, dkk, 2009).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV-Vis terutama senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa berwarna. Tahap-tahap yang yang harus diperhatikan yaitu pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vi, waktu operasional, pemilihan panjang gelombang, pembuatan kurva baku, dan pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan (Gandjar dan Rohman, 2007).

Asam asetil salisilat atau yang lebih dikenal dengan asetosal atau aspirin merupakan senyawa yang memiliki khasiat sebagai analgesik, antipiretik, dan anti inflamasi pada penggunaan dosis besar. Asetosal termasuk produk over the counter (OTC) yang dapat diperoleh tanpa resep dokter dan telah digunakan secara luas di masyarakat. Beberapa dekade terakhir ini, asetosal bukan lagi merupakan pilihan utama sebagai analgesik dikarenakan efek sampingnya yang dapat mengiritasi lambung. Untuk mengurangi efek iritasi lambung ini, asetosal biasanya dibuat dalam bentuk tablet biasa (plain uncoated), buffered tablets, enteric coated tablets, dispersible tablets, suppositoria dll. Khasiat lain yang dimiliki asetosal pada penggunaan dosis kecil adalah sebagai anti platelet yang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya infark miokard pada orang dengan resiko tinggi stroke atau ischemia cerebral, sehingga asetosal diproduksi dengan dosis sediaan 80 dan 160 mg/tablet dengan aturan pakai 1 tablet/hari. Rumus molekul asetosal yaitu (Annuryanti dkk., 2013).

Efek iritasi lambung pada penggunaan asetosal disebabkan karena asetosal bereaksi asam. Selain itu, asetosal merupakan senyawa ester yang mudah terhidrolisis menjadi asam asetat dan asam salisilat selama masa produksi maupun penyimpanan. Mengingat saat ini asetosal banyak digunakan bersama obat jantung yang juga bereaksi asam (seperti isosorbid dinitrat), maka monitoring asam salisilat bebas dalam sediaan asetosal penting dilakukan, terutama karena asetosal sebagai anti thrombus yang digunakan dalam jangka panjang. Hal lain yang menjadi dasar dalam monitoring kadar asam salisilat bebas adalah kondisi penyimpanan tablet asetosal yang tidak sesuai serta adanya kemungkinan cacat pada kemasan primer tablet asetosal yang memungkinkan asetosal terhidrolisis tanpa dapat terlihat dari luar kemasan. (Annuryanti dkk., 2013). 

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
  • Labu takar 100 ml dan10 ml
  • Pipet ukur
  • Filler
  • Gelas kimia 50 ml
  • Batang pengaduk
  • Lumpang dan alu
  • Sendok tanduk
  • Spektrofotometer UV
  • Kuvet
  • Timbangan Analitik

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:.
  • Asetosal murni
  • Alumnium foil
  • Sampel asetosal (bodrexin)
  • Akuades
  • Tissue

D. URAIAN BAHAN
1. Asetosal (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Acidum acetylsalicylicum 
Sinonim : Asetosal, Asam Asetil Salisilat atau Aspirin
Rumus molekul / Berat molekul : C9H8O4 / 180,16
Rumus struktur : 
Pemerian : Pemeriannya hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau,dan rasa asam.
Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol (95%) P, larut dlam kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Asetosal berkhasiat sebagai analgetis dan antiradang pada dosisi tinggi. Pada dosis rendah asetosal berkhasiat untuk merintangi penggumpalan trombosit (antikoagulasia).

2. Aquades (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua destillata
Sinonim : Air suling
Rumus molekul / Berat molekul : H2O / 18,02
Rumus struktur :
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Pelarut

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV


F. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENETAPAN KADAR ASETOSAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

F. PEMBAHASAN
Pada hakikatnya analisis kimia untuk penentuan suatu struktur maupun konsentrasi suatu zat dalam sampel, didasarkan pada dua prinsip dasar, yaitu interaksi antara materi dengan materi digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam larutan, biasanya menggunakan analisis volumetri. Interaksi antara energi dan materi digunakan dalam analisis suatu zat ataupun penentuan struktur dalam spektroskopi.Pada hakikatnya analisis kimia untuk penentuan sautu struktur maupun konsentrasi suatu zat dalam sampel, didasarkan pada dua prinsip dasar, yaitu interaksi antara materi dengan materi digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam larutan, biasanya menggunakan analisis volumetri. Interaksi antara energi dan materi digunakan dalam analisis suatu zat ataupun penentuan struktur dalam spektroskopi.

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi.

Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda.

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah spektrofotometer UV, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Spektrofotometer ultra violet menggunakan radiasi dengan panjang gelombang 200-400 nm. Molekul yang dapat memberikan absorbsi yang bermakna pada panjang gelombang 200-780 nm adalah molekul-molekul yang mempunyai gugus kromofor dan gugus auksokrom. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet.

Sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah Asetosal murni, dan sediaan obat yang mengandung asetosal (bodrexin). Asetosal terlebih dahulu ditimbang sebanyak 0,01 gr, dimasukkan kedalam gelas kimia, kemudian ditambahkan 5 ml alkohol dan dicukupkan volumenya hingga 50 ml. Setelah dibuat larutan induk, selanjutnya dibuat seri larutan standar dengan mengambil sejumlah volume tertentu dari larutan induk. Pertama- tama asetosal murni yang dijadikan larutan induk, kemudian ditentukan kadar dari sediaan obat yang digunakan. 

Sampel yang mengandung asetosal sebelum diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometri terlebih dahulu ditimbang sebanyak 0,01 gr kemudian ditambahkan 5 ml alkohol dan dicukupkan volumenya hingga 50 ml. Penambahan alkohol bertujuan agar sampel dan air dapat larut secara sempurna. Hal ini dikarenakan alkohol merupakan senyawa yang bersifat semi polar, artinya mempunyai sifat polar dan non polar. Sifat polar yang terdapat didalam alkohol akan berikatan dengan sifat polar yang dimiliki oleh akuades dan sifat non polar akan berikatan dengan sifat non polar yang dimiliki oleh sampel sehingga larutan tersebut dapat bercampur serta dengan adanya alkohol dapat meningkatkan kelarutan suatu larutan yang dibuat.

Pengukuran absorbansi larutan induk, larutan standar dan larutan sampel menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Akan tetapi, terlebih dahulu ditentukan panjang gelombang yang akan digunakan. Berdasarkan pengukuran, diperoleh panjang gelombang maksimum dari asam salisilat yaitu 226 nm. Setelah diperoleh panjang gelombang maksium yang dimilik oleh asam salisilat, selanjutnya dapat ditentukan absorbansi yang dimiliki oleh sampel yang mengandung asam salisilat. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan, hasil oabsorbansi yang dimiliki oleh sampel yang mengandung asetosal yaitu 5,50 mg/ml.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dengan menggunakan alat spektrofotometer UV dapat diketahui absorbansi sampel yang mengandung asetosal (bodexin) sebesar 5,50 mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA
Annuryanti, Febri, Juniar Moechtar, dan Asri Darmawati, 2013, Kandungan Salisilat Bebas Dalam Tablet Asetosal Yang Beredar Di Surabaya, Berkala Ilmiah Kimia Farmasi, Vol. 2, No. 2.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Republik Indonesia, Jakarta.

Fatimah, S., Iis Haryati, dan Agus Jamaludin, 2009, Pengaruh Uanium Terhadap Analisis Thorium Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis, Seminar Nasional V SDM Teknologi Nuklir, ISSN.

Gandjar, I.G., dan Abdul Rohman, 2012, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Karinda, Monalisa, Fatimawali, dan Gayatri Citraningtyas, 2013, Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Dan Iodometri, Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 2, No. 1, ISSN, Manado.

Setiono, Monica dan Avrilliana Dewi A., 2013, Penentuan Jenis Solven dan pH Optimum pada Analisis Senyawa Delphinidin Dalam Kelopak Bunga Rosela Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 2,Universitas Diponegoro, Semarang.