LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

PERCOBAAN VPENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

A. Tujuan
Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk menetapkan kadar flavonoid secara spektrofotometri visibel

B. Landasan Teori
Kimia farmasi analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek kualitatif dan kuantitatif. Proses ini berkaitan dengan sejumlah sifat atom dan molekul serta fenomena yang mampu menjadikan elemen-elemen atau senyawa-senyawa tersebut dapat dideteksi atau di ukur secara kuantitatif pada kondisi yang dapat di kontrol ( Gandjar dan Rohman, 2007).

Spektrofotometer, yaitu suatu alat yang di gunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan atau absorbansi dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Pada titrasi spektrofotometri, sinar yang digunakan merupakan satu berkas yang panjangnya tidak berbeda banyak antara satu dengan yang lainnya, sedangkan dalam kalorimetri perbedaan panjang gelombang dapat lebih besar. Dalam hubungan ini dapat disebut juga spektrofotometri adsorbsi atomic (Hardjadi, 1990). 

Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor, sedangkan untuk melakukan analisis senyawa dalam daerah sinar tampak, senyawa harus memiliki warna (Fatimah, 2003).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV-Vis terutama senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa berwarna. Tahap-tahap yang yang harus diperhatikan yaitu pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vi, waktu operasional, pemilihan panjang gelombang, pembuatan kurva baku, dan pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan (Gandjar dan Rohman, 2007).

Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunkana monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fotube (Setiono, dkk., 2013).

Spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Dalam aspek kualitatif, data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Sedangkan dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya (Gandjar dan Rohman, 2007). 

Metode spektrofotometri sering dilakukan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu mempunyai sensitifitas yang tinggi, cara pengerjaan sederhana, cepat dan biaya relatif lebih murah (Sudjarwo, dkk., 2013).

Metode spektrofotometri memiliki kelemahan pada pandeteksi analit jika analit berada pada sampel air yang mengandung banyak ion pengganggu. Interferensi ion dan senyawa pengganggu dalam sampel dapat menyebabkan kesalahan deteksi, sehingga serapan radiasi dapat berasal dari pengganggu. Hal ini akan menyebabkan kesalahan analisis, terutama untuk analisis kuantitatif. Sehingga untuk meminimalkan kesalahan analisis dalam spektrofotometri, telah dilakukan beberapa pengembangan metode, antara lain dengan penggunaan spketrofotometri derivatif (Fatimah, 2003).

Selanjutnya kedua nilai parameter tersebut dijadikan dasar karakterisasi komponen untuk menetukan jenis transisi elektronik yang mungkin terjadi, sehingga dapat diprediksi jenis gugus fungsional dan sifat struktur senyawa berupa struktur alipati atau aromatik (Muhardi, dkk., 2004).

Apabila radiasi atau cahaya putih dilewatkan melalui larutan berwarna, maka radiasi dengan panjang gelombang tertentu akan diserap (absorbsi) secara selektif dan radiasi lainnya akan diteruskan (transmisi). Absorbansi adalah perbandingan intensitas sinar yang diserap dengan intensitas sinar datang. Nilai absorbansi ini akan bergantung pada kadar zat yang terkandung di dalamnya, semakin banyak kadar zat yang terkandung dalam suatu sampel maka semakin banyak molekul yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu sehingga nilai absorbansi semakin besar atau dengan kata lain nilai absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang terkandung didalam suatu sampel (Neldawati, dkk., 2013).

Jika suatu molekul bergerak dari suatu tingkat energi ke tingkat energi yang lebih rendah maka beberapa energi akan dilepaskan. Energi ini dapat hilang sebagai radiasi dan dapat dikatakan telah terjadi emisi radiasi. Jika suatu molekul dikenai suatu radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang sesuai sehingga energi molekul tersebut ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, maka terjadi perristiwa penyerapan (absorbsi) energi oleh molekul (Neldawati, dkk., 2013). 

Ketika cahaya dengan berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis) mengenai suatu molekul, maka cahaya dengan panjang gelombang tertentu saja yang akan diserap. Jika molekul menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan elektron dari keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah maka elektron yang ada dalam atom atau elektron ikatan pada suatu molekul hanya akan bergetar (vibrasi), sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi (Neldawati, dkk., 2013). 

Flavonoid adalah senyawa fenol alam yang terdapat dalam hampir semua tumbuhan. Sejumlah tanaman obat yang mengandung flavonoid telah dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antivirus, antiradang, antialergi, dan antikanker. Efek antioksidan senyawa ini disebabkan oleh penangkapan radikal bebas melalui donor atom hidrogen dari gugus hidroksil flavonoid. Spektrum flavonoid biasanya ditentukan dalam larutan dengan pelarut metanol atau etanol. Spektrum khas flavonoid terdiri atas dua maksimal pada rentang 230-295 nm (pita II) dan 300-560 nm (pita I). Rumus struktur dari flavonoid yaitu (Nieldawati, dkk., 2013).

Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan, termasuk melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi. Status vitamin C seseorang sangat tergantung dari usia, jenis kelamin, asupan vitamin C harian, kemampuan absorpsi dan ekskresi, serta adanya penyakit tertentu. Rendahnya asupan serat dapat mempengaruhi asupan vitamin C karena bahan makanan sumber serat dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin C (Karinda, dkk., 2013).

Ada beberapa metode yang dikembangkan untuk penentuan kadar vitamin C diantaranya adalah metode spektrofotometri UV-Vis dan metode iodimetri. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai bidang analisis kimia terutama farmasi. Sedangkan metode iodimetri merupakan metode yang sederhana dan mudah diterapkan dalam suatu penelitian (Karinda, dkk., 2013). 

C. Alat dan Bahan
1. Alat
  • Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Batang pengaduk 
  • Gelas kimia 
  • Gelas ukur 
  • Labu takar 
  • Spatula besi 
  • Lumpang dan alu 
  • Timbangan analitik 
  • Kuvet 
  • Spektrofotometri UV-Vis 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Alkohol 
  • Aquadest 
  • Asam askorbat (vitamin C) murni 
  • Sampel yang mengandung vitamin C (Vit. C) 

D. Uraian Bahan
a. Vitamin C (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : ACIDUM ASCORBICUM
Nama Lain : Asam askorbat (Vitamin C)
Rumus Molekul : C6H8O6
Berat Molekul : 176,13
Rumus Struktur : 
Pemerian : Serbuk atau hablur, putih atau agak kuning, tidak berbau, rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di udara, dalam larutan cepat teroksidasi.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam benzen P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya matahari
Kegunaan : Antiskorbut

b. Alkohol (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol, alkohol
RM/BM : C2H6O/46,07
Rumus Struktur : 
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya
Kegunaan : Zat tambahan

c. Aquadest (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua destillata
Sinonim : Air suling
Rumus molekul / Berat molekul : H2O / 18,02
Rumus struktur : 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Pelarut

E. Prosedur Kerja
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL


F. Hasil Pengamatan
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL


G. Pembahasan
Kimia farmasi analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek kualitatif dan kuantitatif. Proses ini berkaitan dengan sejumlah sifat atom dan molekul serta fenomena yang mampu menjadikan elemen-elemen atau senyawa-senyawa tersebut dapat dideteksi atau di ukur secara kuantitatif pada kondisi yang dapat di kontrol.

Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk menetapkan kadar flavonoid secara spektrofotometri UV-Vis menggunakan sampel yang mengandung asam askorbat atau yang lebih dikenal dengan vitamin C. Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan, termasuk melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi. 

Flavanoid adalah suatu kelompok senyawa fenol alam yang memiliki kerangka dasar karbon terdiri atas 15 atom C yang tersusun dalam konfigurasi C6–C3–C6 dimana dua cincin benzen dihubungkan oleh tiga satuan atom C yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin. Dalam tumbuhan, flavanoid disintesis dari tiga unit asetat malonat (cincin A) dan fenil propanoid (cincin B dan C). Dalam tumbuhan, flavanoid tersebar merata dalam akar, daun, kulit, tepung saring, bunga dan biji. Sifat kimia dari flavanoid yaitu polar atau semi polar, larut dalam methanol, etanol, n-butanol, air dan eter serta kloroform. Sedangkan sifat fisikanya yaitu padat/kristal, tidak berbau, dan tidak berwarna. Flavanoid dapat dideteksi dengan logam Mg, Cu, larutan NaOH, H2SO4 pekat. 

Ada beberapa metode yang dikembangkan untuk penentuan kadar vitamin C diantaranya adalah metode spektrofotometri UV-Vis dan metode iodimetri. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai bidang analisis kimia terutama farmasi. 

Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor, sedangkan untuk melakukan analisis senyawa dalam daerah sinar tampak, senyawa harus memiliki warna.

Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunkana monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fotube.

Percobaan kali ini tidak hanya menggunakan sampel yang mengandung senyawa flavonoid yang beredar dipasaran tetapi juga menggunakan sampel murni yang mengandung flavonoid. Sampel terebut yaitu asam askorbat murni dan sampel yang mengandung asam askorbat (Vit. C). Asam askorbat murni terlebih dahulu ditimbang sebanyak 0,01 gr lalu dimasukkan kedalam gelas kimia dan dilarutkan dengan menggunakan aquadest. Setelah larut, kemudian dimasukkan kedalam labu takar dan dicukupkan volumenya sehingga terbentuk larutan standar/larutan induk. Dari larutan induk tersebut, diambil 0,25 ml untuk dibuat larutan blanko dengan berbagai konsentrasi.

Perlakuan yang sama dilakukan untuk sampel yang mengandung asam askorbat. Akan tetapi, sampel tersebut digerus terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk memperbesar luas permukaan yang dimiliki oleh sampel sehingga akan lebih mudah untuk berikatan dengan senyawa yang lain. Setelah itu, dimasukkan kedalam gelas kimia dan dilarutkan dengan menggunakan aquadest. Penggunaan aquadest dikarenakan sampel lebih mudah larut dalam aquadest dibandingkan dengan pelarut-pelarut lainnya. Setelah larut, dimasukkan kedalam labu takar untuk diencerkan hingga tanda tera.

Penetapan kadar atau konsentrasi vitamin C, digunakan panjang gelombang maksimum 260 nm. Penggunaan panjang gelombang maksimum pada kisaran tersebut ialah karena larutan asam askorbat (vitamin C) yang digunakan merupakan larutan yang tidak berwarna sehingga hanya dapat terbaca absorbansi atau serapannya pada panjang gelombang ultra violet dengan rentang panjang gelombang 190 nm hingga sekitar di bawah panjang gelombang 300 nm. 

Dalam percobaan dibuat larutan standar asam askorbat (vitamin C) dengan variasi konsentrasi 0,001%; 0,002%; 0,003%; 0,004% dan 0,005%, dengan tujuan untuk pembuatan kurva baku sebagai pembanding antara konsentrasi dan nilai absorbansi, sehingga selanjutnya dengan dengan data-data yang dihasilkan juga melalui garis regresi yang diperoleh pada grafik hasil pengamatan kemudian dapat ditentukan kadar atau konsentrasi vitamin C dalam larutan sampel. Adapun garis yang diperoleh dari grafik hubungan absorbansi larutan terhadap konsentrasinya menunjukkan garis berbanding lurus, di mana semakin besar nilai konsentrasi larutan, maka absorbansinya juga semakin meningkat. Berdasarkan grafik hubungan absorbansi terhadap konsentrasi larutan standar asam askorbat (vitamin C), konsentrasi flavonoid dalam larutan sampel yang diperoleh adalah sebesar 0,021 mg/ml.

H. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini yaitu kadar flavonoid yang terdapat pada sampel vitamin C sebesar 0,021 mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Fatimah, Is., 2003, “Analisis Fenol Dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif”, Logika, 9(10), ISSN.

Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Karinda, Monalisa, Fatimawali, dan Gayatri Citraningtyas, 2013, Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Dan Iodometri, Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 2, No. 1, ISSN, Manado.

Muhardi, Soewarno T., S., Betty S. L. Jennie, Anton Apriyantono, Sedarnawati Yasni, “Karakteristik Spektroskopi Isolat Komponen Antibakteri Biji Atung (Parinarium glaberrimum Hassk)”, Jurnal Teknol dan Industri Pangan, XV(1).

Neldawati, Ratnawulan, dan Gusnedi, 2013, Analisis Nilai Absorbansi dalam Penentuan Kadar Flavonoid Untuk Berbagai Jenis Daun Tanaman Obat, Pillar Of Physics, Vol. 2.

Setiono, M., H., Avriliana Dewi A., 2013, “Penentuan Jenis Solven Dan pH Optimum Pada Analisis Senyawa Delphinidin Dalam Kelopak Bunga Rosela Dengan Metode Spektrovotometri UV-Vis”, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2(2).

Sudjarwono, Poedjiarti S., Pramitasari A., R., 2013, “Validasi Spektrofotometri Bisible Untuk Penentuan Kadar Formalin Dalam Daging Ayam”, Berkala Ilmiah Kimia Framasi, 2(1).

LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

PERCOBAAN VPENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

A. Tujuan
Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk menetapkan kadar flavonoid secara spektrofotometri visibel

B. Landasan Teori
Kimia farmasi analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek kualitatif dan kuantitatif. Proses ini berkaitan dengan sejumlah sifat atom dan molekul serta fenomena yang mampu menjadikan elemen-elemen atau senyawa-senyawa tersebut dapat dideteksi atau di ukur secara kuantitatif pada kondisi yang dapat di kontrol ( Gandjar dan Rohman, 2007).

Spektrofotometer, yaitu suatu alat yang di gunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan atau absorbansi dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Pada titrasi spektrofotometri, sinar yang digunakan merupakan satu berkas yang panjangnya tidak berbeda banyak antara satu dengan yang lainnya, sedangkan dalam kalorimetri perbedaan panjang gelombang dapat lebih besar. Dalam hubungan ini dapat disebut juga spektrofotometri adsorbsi atomic (Hardjadi, 1990). 

Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor, sedangkan untuk melakukan analisis senyawa dalam daerah sinar tampak, senyawa harus memiliki warna (Fatimah, 2003).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV-Vis terutama senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa berwarna. Tahap-tahap yang yang harus diperhatikan yaitu pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vi, waktu operasional, pemilihan panjang gelombang, pembuatan kurva baku, dan pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan (Gandjar dan Rohman, 2007).

Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunkana monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fotube (Setiono, dkk., 2013).

Spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Dalam aspek kualitatif, data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Sedangkan dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya (Gandjar dan Rohman, 2007). 

Metode spektrofotometri sering dilakukan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu mempunyai sensitifitas yang tinggi, cara pengerjaan sederhana, cepat dan biaya relatif lebih murah (Sudjarwo, dkk., 2013).

Metode spektrofotometri memiliki kelemahan pada pandeteksi analit jika analit berada pada sampel air yang mengandung banyak ion pengganggu. Interferensi ion dan senyawa pengganggu dalam sampel dapat menyebabkan kesalahan deteksi, sehingga serapan radiasi dapat berasal dari pengganggu. Hal ini akan menyebabkan kesalahan analisis, terutama untuk analisis kuantitatif. Sehingga untuk meminimalkan kesalahan analisis dalam spektrofotometri, telah dilakukan beberapa pengembangan metode, antara lain dengan penggunaan spketrofotometri derivatif (Fatimah, 2003).

Selanjutnya kedua nilai parameter tersebut dijadikan dasar karakterisasi komponen untuk menetukan jenis transisi elektronik yang mungkin terjadi, sehingga dapat diprediksi jenis gugus fungsional dan sifat struktur senyawa berupa struktur alipati atau aromatik (Muhardi, dkk., 2004).

Apabila radiasi atau cahaya putih dilewatkan melalui larutan berwarna, maka radiasi dengan panjang gelombang tertentu akan diserap (absorbsi) secara selektif dan radiasi lainnya akan diteruskan (transmisi). Absorbansi adalah perbandingan intensitas sinar yang diserap dengan intensitas sinar datang. Nilai absorbansi ini akan bergantung pada kadar zat yang terkandung di dalamnya, semakin banyak kadar zat yang terkandung dalam suatu sampel maka semakin banyak molekul yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu sehingga nilai absorbansi semakin besar atau dengan kata lain nilai absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang terkandung didalam suatu sampel (Neldawati, dkk., 2013).

Jika suatu molekul bergerak dari suatu tingkat energi ke tingkat energi yang lebih rendah maka beberapa energi akan dilepaskan. Energi ini dapat hilang sebagai radiasi dan dapat dikatakan telah terjadi emisi radiasi. Jika suatu molekul dikenai suatu radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang sesuai sehingga energi molekul tersebut ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, maka terjadi perristiwa penyerapan (absorbsi) energi oleh molekul (Neldawati, dkk., 2013). 

Ketika cahaya dengan berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis) mengenai suatu molekul, maka cahaya dengan panjang gelombang tertentu saja yang akan diserap. Jika molekul menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan elektron dari keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah maka elektron yang ada dalam atom atau elektron ikatan pada suatu molekul hanya akan bergetar (vibrasi), sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi (Neldawati, dkk., 2013). 

Flavonoid adalah senyawa fenol alam yang terdapat dalam hampir semua tumbuhan. Sejumlah tanaman obat yang mengandung flavonoid telah dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antivirus, antiradang, antialergi, dan antikanker. Efek antioksidan senyawa ini disebabkan oleh penangkapan radikal bebas melalui donor atom hidrogen dari gugus hidroksil flavonoid. Spektrum flavonoid biasanya ditentukan dalam larutan dengan pelarut metanol atau etanol. Spektrum khas flavonoid terdiri atas dua maksimal pada rentang 230-295 nm (pita II) dan 300-560 nm (pita I). Rumus struktur dari flavonoid yaitu (Nieldawati, dkk., 2013).

Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan, termasuk melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi. Status vitamin C seseorang sangat tergantung dari usia, jenis kelamin, asupan vitamin C harian, kemampuan absorpsi dan ekskresi, serta adanya penyakit tertentu. Rendahnya asupan serat dapat mempengaruhi asupan vitamin C karena bahan makanan sumber serat dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin C (Karinda, dkk., 2013).

Ada beberapa metode yang dikembangkan untuk penentuan kadar vitamin C diantaranya adalah metode spektrofotometri UV-Vis dan metode iodimetri. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai bidang analisis kimia terutama farmasi. Sedangkan metode iodimetri merupakan metode yang sederhana dan mudah diterapkan dalam suatu penelitian (Karinda, dkk., 2013). 

C. Alat dan Bahan
1. Alat
  • Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Batang pengaduk 
  • Gelas kimia 
  • Gelas ukur 
  • Labu takar 
  • Spatula besi 
  • Lumpang dan alu 
  • Timbangan analitik 
  • Kuvet 
  • Spektrofotometri UV-Vis 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Alkohol 
  • Aquadest 
  • Asam askorbat (vitamin C) murni 
  • Sampel yang mengandung vitamin C (Vit. C) 

D. Uraian Bahan
a. Vitamin C (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : ACIDUM ASCORBICUM
Nama Lain : Asam askorbat (Vitamin C)
Rumus Molekul : C6H8O6
Berat Molekul : 176,13
Rumus Struktur : 
Pemerian : Serbuk atau hablur, putih atau agak kuning, tidak berbau, rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di udara, dalam larutan cepat teroksidasi.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam benzen P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya matahari
Kegunaan : Antiskorbut

b. Alkohol (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol, alkohol
RM/BM : C2H6O/46,07
Rumus Struktur : 
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya
Kegunaan : Zat tambahan

c. Aquadest (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua destillata
Sinonim : Air suling
Rumus molekul / Berat molekul : H2O / 18,02
Rumus struktur : 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Pelarut

E. Prosedur Kerja
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL


F. Hasil Pengamatan
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL


G. Pembahasan
Kimia farmasi analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek kualitatif dan kuantitatif. Proses ini berkaitan dengan sejumlah sifat atom dan molekul serta fenomena yang mampu menjadikan elemen-elemen atau senyawa-senyawa tersebut dapat dideteksi atau di ukur secara kuantitatif pada kondisi yang dapat di kontrol.

Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk menetapkan kadar flavonoid secara spektrofotometri UV-Vis menggunakan sampel yang mengandung asam askorbat atau yang lebih dikenal dengan vitamin C. Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan, termasuk melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi. 

Flavanoid adalah suatu kelompok senyawa fenol alam yang memiliki kerangka dasar karbon terdiri atas 15 atom C yang tersusun dalam konfigurasi C6–C3–C6 dimana dua cincin benzen dihubungkan oleh tiga satuan atom C yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin. Dalam tumbuhan, flavanoid disintesis dari tiga unit asetat malonat (cincin A) dan fenil propanoid (cincin B dan C). Dalam tumbuhan, flavanoid tersebar merata dalam akar, daun, kulit, tepung saring, bunga dan biji. Sifat kimia dari flavanoid yaitu polar atau semi polar, larut dalam methanol, etanol, n-butanol, air dan eter serta kloroform. Sedangkan sifat fisikanya yaitu padat/kristal, tidak berbau, dan tidak berwarna. Flavanoid dapat dideteksi dengan logam Mg, Cu, larutan NaOH, H2SO4 pekat. 

Ada beberapa metode yang dikembangkan untuk penentuan kadar vitamin C diantaranya adalah metode spektrofotometri UV-Vis dan metode iodimetri. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai bidang analisis kimia terutama farmasi. 

Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor, sedangkan untuk melakukan analisis senyawa dalam daerah sinar tampak, senyawa harus memiliki warna.

Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunkana monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fotube.

Percobaan kali ini tidak hanya menggunakan sampel yang mengandung senyawa flavonoid yang beredar dipasaran tetapi juga menggunakan sampel murni yang mengandung flavonoid. Sampel terebut yaitu asam askorbat murni dan sampel yang mengandung asam askorbat (Vit. C). Asam askorbat murni terlebih dahulu ditimbang sebanyak 0,01 gr lalu dimasukkan kedalam gelas kimia dan dilarutkan dengan menggunakan aquadest. Setelah larut, kemudian dimasukkan kedalam labu takar dan dicukupkan volumenya sehingga terbentuk larutan standar/larutan induk. Dari larutan induk tersebut, diambil 0,25 ml untuk dibuat larutan blanko dengan berbagai konsentrasi.

Perlakuan yang sama dilakukan untuk sampel yang mengandung asam askorbat. Akan tetapi, sampel tersebut digerus terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk memperbesar luas permukaan yang dimiliki oleh sampel sehingga akan lebih mudah untuk berikatan dengan senyawa yang lain. Setelah itu, dimasukkan kedalam gelas kimia dan dilarutkan dengan menggunakan aquadest. Penggunaan aquadest dikarenakan sampel lebih mudah larut dalam aquadest dibandingkan dengan pelarut-pelarut lainnya. Setelah larut, dimasukkan kedalam labu takar untuk diencerkan hingga tanda tera.

Penetapan kadar atau konsentrasi vitamin C, digunakan panjang gelombang maksimum 260 nm. Penggunaan panjang gelombang maksimum pada kisaran tersebut ialah karena larutan asam askorbat (vitamin C) yang digunakan merupakan larutan yang tidak berwarna sehingga hanya dapat terbaca absorbansi atau serapannya pada panjang gelombang ultra violet dengan rentang panjang gelombang 190 nm hingga sekitar di bawah panjang gelombang 300 nm. 

Dalam percobaan dibuat larutan standar asam askorbat (vitamin C) dengan variasi konsentrasi 0,001%; 0,002%; 0,003%; 0,004% dan 0,005%, dengan tujuan untuk pembuatan kurva baku sebagai pembanding antara konsentrasi dan nilai absorbansi, sehingga selanjutnya dengan dengan data-data yang dihasilkan juga melalui garis regresi yang diperoleh pada grafik hasil pengamatan kemudian dapat ditentukan kadar atau konsentrasi vitamin C dalam larutan sampel. Adapun garis yang diperoleh dari grafik hubungan absorbansi larutan terhadap konsentrasinya menunjukkan garis berbanding lurus, di mana semakin besar nilai konsentrasi larutan, maka absorbansinya juga semakin meningkat. Berdasarkan grafik hubungan absorbansi terhadap konsentrasi larutan standar asam askorbat (vitamin C), konsentrasi flavonoid dalam larutan sampel yang diperoleh adalah sebesar 0,021 mg/ml.

H. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini yaitu kadar flavonoid yang terdapat pada sampel vitamin C sebesar 0,021 mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Fatimah, Is., 2003, “Analisis Fenol Dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif”, Logika, 9(10), ISSN.

Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Karinda, Monalisa, Fatimawali, dan Gayatri Citraningtyas, 2013, Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Dan Iodometri, Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 2, No. 1, ISSN, Manado.

Muhardi, Soewarno T., S., Betty S. L. Jennie, Anton Apriyantono, Sedarnawati Yasni, “Karakteristik Spektroskopi Isolat Komponen Antibakteri Biji Atung (Parinarium glaberrimum Hassk)”, Jurnal Teknol dan Industri Pangan, XV(1).

Neldawati, Ratnawulan, dan Gusnedi, 2013, Analisis Nilai Absorbansi dalam Penentuan Kadar Flavonoid Untuk Berbagai Jenis Daun Tanaman Obat, Pillar Of Physics, Vol. 2.

Setiono, M., H., Avriliana Dewi A., 2013, “Penentuan Jenis Solven Dan pH Optimum Pada Analisis Senyawa Delphinidin Dalam Kelopak Bunga Rosela Dengan Metode Spektrovotometri UV-Vis”, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2(2).

Sudjarwono, Poedjiarti S., Pramitasari A., R., 2013, “Validasi Spektrofotometri Bisible Untuk Penentuan Kadar Formalin Dalam Daging Ayam”, Berkala Ilmiah Kimia Framasi, 2(1).