LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV) - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)
LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)

A. TUJUAN
Tujuan percobaan ini adalah untuk menetapkan kadar senyawa yang tidak berwarna (tetapi memiliki kromofor) secara spektofotometri ultra-violet (UV).

B. LANDASAN TEORI
Kimia farmasi analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek kualitatif dan kuantitatif. Proses ini berkaitan dengan sejumlah sifat atom dan molekul serta fenomena yang mampu menjadikan elemen-elemen atau senyawa-senyawa tersebut dapat dideteksi atau di ukur secara kuantitatif pada kondisi yang dapat di kontrol ( Gandjar dan Rohman, 2007).

Spektrofotometer, yaitu suatu alat yang di gunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan atau absorbansi dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Pada titrasi spektrofotometri, sinar yang digunakan merupakan satu berkas yang panjangnya tidak berbeda banyak antara satu dengan yang lainnya, sedangkan dalam kalorimetri perbedaan panjang gelombang dapat lebih besar. Dalam hubungan ini dapat disebut juga spektrofotometri adsorbsi atomic (Hardjadi, 1990). 

Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor, sedangkan untuk melakukan analisis senyawa dalam daerah sinar tampak, senyawa harus memiliki warna (Fatimah, 2003).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV-Vis terutama senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa berwarna. Tahap-tahap yang yang harus diperhatikan yaitu pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vi, waktu operasional, pemilihan panjang gelombang, pembuatan kurva baku, dan pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan (Gandjar dan Rohman, 2007).

Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunkana monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fotube (Setiono, dkk., 2013).

Spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Dalam aspek kualitatif, data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Sedangkan dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya (Gandjar dan Rohman, 2007). 

Metode spektrofotometri sering dilakukan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu mempunyai sensitifitas yang tinggi, cara pengerjaan sederhana, cepat dan biaya relatif lebih murah (Sudjarwo, dkk., 2013).

Metode spektrofotometri memiliki kelemahan pada pandeteksi analit jika analit berada pada sampel air yang mengandung banyak ion pengganggu. Interferensi ion dan senyawa pengganggu dalam sampel dapat menyebabkan kesalahan deteksi, sehingga serapan radiasi dapat berasal dari pengganggu. Hal ini akan menyebabkan kesalahan analisis, terutama untuk analisis kuantitatif. Sehingga untuk meminimalkan kesalahan analisis dalam spektrofotometri, telah dilakukan beberapa pengembangan metode, antara lain dengan penggunaan spketrofotometri derivatif (Fatimah, 2003).

Secara umum data dari alat spektrofotometri UV-Vis ditampilkan sebagai nilai A (absorbansi) atau  (absoptifitas molar, L.cm-1.mol-1) pada sumbu ordinat (Y) dan nilai  (panjang gelombang, nm) pada sumbu absis (X). Selanjutnya kedua nilai parameter tersebut ( dan ) dijadikan dasar karakterisasi komponen untuk menetukan jenis transisi elektronik yang mungkin terjadi, sehingga dapat diprediksi jenis gugus fungsional dan sifat struktur senyawa berupa struktur alipati atau aromatik (Muhardi, dkk., 2004).

Kromofor adalah senyawa kimia yang memberikan warna, bukan sebagai zat warna karena kain yang terkena pewarna ini akan terwarnai sementara dan tidak permanen. Kromofor akan tetap terikat dalam bahan bila ada radikal yang mengikatnya yaitu auksokrom (Dewi dan Sri, 2010).

Sufadiazin dapat digunakan sebagai antibiotik, dengan nama dagang mikrosulfon, merupakan golongan obat sulfonamide dan umum digunakan untuk infeksi saluran urin (terkecuali sulfasetamida) juga digunakan untuk infeksi mata. Akan tetapi, memiliki potensi efek samping berupa mual, muntah, murus, alergi (termasuk kulit), batu ginjal, gagal ginjal, penurunan jumlah sel darah putih, dan sensitivitas terhadap matahari (Awad, dkk, 2012).

Sulfonamid merupakan obat antimikroba turunan para-aminobenzensulfomanida yang digunakan secara sistemik untuk mengobati dan mencegah beberapa penyakit infeksi turunan sulfonamid ini dapat dibuat secara sintetis di laboratorium dari senyawa bahan alam alkaloid papaverine dengan terlebih dahulu melakukan reaksi sulfonasi sehingga diperoleh papaverine sulfonyl chlorida (Sudarma, 2007).

Mekanisme kerja dari sulfadiazine yaitu Sulfadiazin adalah antibakteri inhibitor kompetitif para-aminobenzoic acid (PABA), sebuah substrat dari enzim dihydropteroate sintetase. Reaksi yang menghambat diperlukan dalam organisme ini untuk sintesis asam folat (Seto, 2013).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
  • Batang pengaduk;
  • Erlenmeyer 
  • Labu takar 100 ml
  • Gelas ukur 
  • Sendok tanduk; 
  • Spektrofotometer UV-vis;
  • Timbangan analitik;
  • Gelas kimia

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
  • Aquadest 
  • Sulfadiazine murni
  • Sampel yang mengandung sulfadiazine

D. URAIAN BAHAN
a. Sulfadiazine (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : SULFADIAZINUM
Nama Lain : Sulfadiazin
Rumus Molekul : C10H10N4O2S
Berat Molekul : 250, 27
Rumus Struktur : 
Pemerian : Serbuk putih kekunigan atau putih agak merah jambu, hampir tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam alkohol (95%) P dan dalam aseton P, mudah larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya matahari
Kegunaan : Antibakteri

b. Alkohol (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol, alkohol
RM/BM : C2H6O/46,07
Rumus Struktur : 
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p dan dalam eter p
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya
Kegunaan : Zat tambahan

c. Aquadest (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua destillata
Sinonim : Air suling
Rumus molekul / Berat molekul: H2O / 18,02
Rumus struktur : 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Pelarut

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)


F. HASIL PENGAMATAN
1. Data Pengamatan

LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)

G. PEMBAHASAN
Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada besarnya nilai absorbsi suatu zat terhadap radiasi sinar elektromagnetik. Prinsip kerja spektrofotometri adalah apabila sinar monokromatis melewati suatu media atau larutan maka sebagian dari cahay tersebut akan diserap, dipantulkan dan dibiaskan. 

Sumber radiasi spektrofotometer dapat digunakan lampu deuterium untuk radiasi di daerah sinar ultraviolet sampai 350 nm, atau lampu filamen untuk sinar tampak sampai inframerah. Sinar yang dikeluarkan sumber radiasi merupakan sinar polikromatis, sehingga harus dibuat menjadi sinar monokromatis oleh monokromator. Radiasi yang melewati monokromator diteruskan ke zat yang akan diukur dan sebagian radiasinya akan diserap oleh zat tersebut. Zat yang akan diukur nilai absorbannya diletakkan pada sel dengan wadah kuvet. Sinar yang diteruskan akan mencapai fotosel dan energi sinar diubah menjadi energi listrik.

Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat Menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor.

Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk menetapkan kadar senyawa yang tidak berwarna (tetapi memiliki kromofor) secara spektofotometri ultra-violet (UV). Analisis dalam percobaan ini menggunakan obat trisulfa untuk menentukan kadar sulfadiazine dalam obat tersebut. Gugus kromofor pada sulfadiazine yaitu gugus benzene yang merupakan kromofor tunggal. Kromofor artinya suatu senyawa memiliki gugus yang dapat menyebabkan suatu senyawa memiliki warna sehingga nantinya akan membentuk kompleks sehingga akan menghasilkan warna tertentu pada larutan.

Tidak adanya warna dari larutan sulfadiazin meskipun senyawa tersebut memiliki kromofor dalam dua cincin benzennya dikarenakan oleh cahaya yang tidak diserap kromofornya (cahaya kompartemen, diterima oleh mata) memiliki panjang gelombang dalam rentang daerah sinar UV dalam spektrum gelombang. Daerah UV berada diluar spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang lebih kecil. 

Penentuan kadar sulfadiazine yang terdapat pada sampel obat trisulfa dilakukan dilakukan penentuan panjang gelombang maksimal dan mengukur absorbansi dari larutan induk dan larutan sampel yang telah dibuat sebelummya. Kurva yang menyatakan hubungan antara Perbedaan Konsentrasi Sulfadiazine dengan Absorbansi dapat diperoleh dari Pembuatan larutan seri baku. Dengan menggunakan kurva tersebut, kadar senyawa kompleks sulfadiazine dalam sampel dapat ditentukan dengan memasukkan nilai absorbansinya dalam persamaan yang diperoleh dari kurva standar. Maka kadar sulfadiazine yang terkandung dalam sampel tri sulfa adalah sebesar 0,003 mg/mL.

Secara universal golongan sulfonamide seperti sulfadiazine dikenal sebagai antibiotik. Sulfadiazin dengan dosis 8 gram sehari merupakan senyawa antibakteri sehingga ketepatan kadarnya dalam sediaan obat sangatlah diperlukan untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri. Pemakaian sulfadiazine dapat menginduksi terbentuknya kristal anuria dalam ginjal pemakai karena kelarutannya yang sangat kecil meskipun telah mengalami reaksi metabolism fase I dan II di hati. Untuk mencegah hal tersebut maka umumnya sulfadiazin dalam sediaan oral diberikan bersamaan dengan obat golongan sulfa lainnya yang juga merupakan senyawa antimikroba yaitu sulfamerazin dan sulfadimidin (lebih lazim disebut trisulfa).

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dapat diambil dalam praktikum ini yaitu besarnya konsentrasi sulfadiazine adalah 0,003 mg/mL.

DAFTAR PUSTAKA
Awad, Hassan M., Shahed, Kamal Y. I., Aziz, Ramlan., Sarmidi, Mohamed Roji., Hesham., El- Enshasy A., Antibiotics as Microbial Secondary Metabolites: Production and Application, Jurnal Teknologi, 2012, Vol.1, No. 59, ISSN.

Dewi, R.S., dan Sri, L., 2010, Dekolorisasi Limbah Batik Tulis Menggunakan Jamur Indigenous Hasil Isolasi Pada Konsentrasi Limbah Yang Berbeda, Molekul, Vol. 5. No. 2.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Fatimah, Is., 2003, “Analisis Fenol Dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif”, Logika, 9(10), ISSN.

Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Muhardi, Soewarno T., S., Betty S. L. Jennie, Anton Apriyantono, Sedarnawati Yasni, “Karakteristik Spektroskopi Isolat Komponen Antibakteri Biji Atung (Parinarium glaberrimum Hassk)”, Jurnal Teknol dan Industri Pangan, XV(1).

Setiono, M., H., Avriliana Dewi A., 2013, “Penentuan Jenis Solven Dan pH Optimum Pada Analisis Senyawa Delphinidin Dalam Kelopak Bunga Rosela Dengan Metode Spektrovotometri UV-Vis”, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2(2).

Seto, S., 2008, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Koper POM, Jakarta.

Sudjarwono, Poedjiarti S., Pramitasari A., R., 2013, “Validasi Spektrofotometri Bisible Untuk Penentuan Kadar Formalin Dalam Daging Ayam”, Berkala Ilmiah Kimia Framasi, 2(1).

Sudarma, I Made., 2007, The Sulfonation Study of Reaction Mechanism on Papaverine Alkaloid by GC-MS nd FT-IR, Indo. J. Chem, Vol.7, No.1.

LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)

LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)
LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)

A. TUJUAN
Tujuan percobaan ini adalah untuk menetapkan kadar senyawa yang tidak berwarna (tetapi memiliki kromofor) secara spektofotometri ultra-violet (UV).

B. LANDASAN TEORI
Kimia farmasi analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek kualitatif dan kuantitatif. Proses ini berkaitan dengan sejumlah sifat atom dan molekul serta fenomena yang mampu menjadikan elemen-elemen atau senyawa-senyawa tersebut dapat dideteksi atau di ukur secara kuantitatif pada kondisi yang dapat di kontrol ( Gandjar dan Rohman, 2007).

Spektrofotometer, yaitu suatu alat yang di gunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan atau absorbansi dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Pada titrasi spektrofotometri, sinar yang digunakan merupakan satu berkas yang panjangnya tidak berbeda banyak antara satu dengan yang lainnya, sedangkan dalam kalorimetri perbedaan panjang gelombang dapat lebih besar. Dalam hubungan ini dapat disebut juga spektrofotometri adsorbsi atomic (Hardjadi, 1990). 

Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor, sedangkan untuk melakukan analisis senyawa dalam daerah sinar tampak, senyawa harus memiliki warna (Fatimah, 2003).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV-Vis terutama senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa berwarna. Tahap-tahap yang yang harus diperhatikan yaitu pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vi, waktu operasional, pemilihan panjang gelombang, pembuatan kurva baku, dan pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan (Gandjar dan Rohman, 2007).

Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunkana monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fotube (Setiono, dkk., 2013).

Spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Dalam aspek kualitatif, data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Sedangkan dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya (Gandjar dan Rohman, 2007). 

Metode spektrofotometri sering dilakukan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu mempunyai sensitifitas yang tinggi, cara pengerjaan sederhana, cepat dan biaya relatif lebih murah (Sudjarwo, dkk., 2013).

Metode spektrofotometri memiliki kelemahan pada pandeteksi analit jika analit berada pada sampel air yang mengandung banyak ion pengganggu. Interferensi ion dan senyawa pengganggu dalam sampel dapat menyebabkan kesalahan deteksi, sehingga serapan radiasi dapat berasal dari pengganggu. Hal ini akan menyebabkan kesalahan analisis, terutama untuk analisis kuantitatif. Sehingga untuk meminimalkan kesalahan analisis dalam spektrofotometri, telah dilakukan beberapa pengembangan metode, antara lain dengan penggunaan spketrofotometri derivatif (Fatimah, 2003).

Secara umum data dari alat spektrofotometri UV-Vis ditampilkan sebagai nilai A (absorbansi) atau  (absoptifitas molar, L.cm-1.mol-1) pada sumbu ordinat (Y) dan nilai  (panjang gelombang, nm) pada sumbu absis (X). Selanjutnya kedua nilai parameter tersebut ( dan ) dijadikan dasar karakterisasi komponen untuk menetukan jenis transisi elektronik yang mungkin terjadi, sehingga dapat diprediksi jenis gugus fungsional dan sifat struktur senyawa berupa struktur alipati atau aromatik (Muhardi, dkk., 2004).

Kromofor adalah senyawa kimia yang memberikan warna, bukan sebagai zat warna karena kain yang terkena pewarna ini akan terwarnai sementara dan tidak permanen. Kromofor akan tetap terikat dalam bahan bila ada radikal yang mengikatnya yaitu auksokrom (Dewi dan Sri, 2010).

Sufadiazin dapat digunakan sebagai antibiotik, dengan nama dagang mikrosulfon, merupakan golongan obat sulfonamide dan umum digunakan untuk infeksi saluran urin (terkecuali sulfasetamida) juga digunakan untuk infeksi mata. Akan tetapi, memiliki potensi efek samping berupa mual, muntah, murus, alergi (termasuk kulit), batu ginjal, gagal ginjal, penurunan jumlah sel darah putih, dan sensitivitas terhadap matahari (Awad, dkk, 2012).

Sulfonamid merupakan obat antimikroba turunan para-aminobenzensulfomanida yang digunakan secara sistemik untuk mengobati dan mencegah beberapa penyakit infeksi turunan sulfonamid ini dapat dibuat secara sintetis di laboratorium dari senyawa bahan alam alkaloid papaverine dengan terlebih dahulu melakukan reaksi sulfonasi sehingga diperoleh papaverine sulfonyl chlorida (Sudarma, 2007).

Mekanisme kerja dari sulfadiazine yaitu Sulfadiazin adalah antibakteri inhibitor kompetitif para-aminobenzoic acid (PABA), sebuah substrat dari enzim dihydropteroate sintetase. Reaksi yang menghambat diperlukan dalam organisme ini untuk sintesis asam folat (Seto, 2013).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
  • Batang pengaduk;
  • Erlenmeyer 
  • Labu takar 100 ml
  • Gelas ukur 
  • Sendok tanduk; 
  • Spektrofotometer UV-vis;
  • Timbangan analitik;
  • Gelas kimia

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
  • Aquadest 
  • Sulfadiazine murni
  • Sampel yang mengandung sulfadiazine

D. URAIAN BAHAN
a. Sulfadiazine (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : SULFADIAZINUM
Nama Lain : Sulfadiazin
Rumus Molekul : C10H10N4O2S
Berat Molekul : 250, 27
Rumus Struktur : 
Pemerian : Serbuk putih kekunigan atau putih agak merah jambu, hampir tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam alkohol (95%) P dan dalam aseton P, mudah larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya matahari
Kegunaan : Antibakteri

b. Alkohol (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol, alkohol
RM/BM : C2H6O/46,07
Rumus Struktur : 
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p dan dalam eter p
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya
Kegunaan : Zat tambahan

c. Aquadest (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua destillata
Sinonim : Air suling
Rumus molekul / Berat molekul: H2O / 18,02
Rumus struktur : 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Pelarut

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)


F. HASIL PENGAMATAN
1. Data Pengamatan

LAPORAN PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET (UV)

G. PEMBAHASAN
Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada besarnya nilai absorbsi suatu zat terhadap radiasi sinar elektromagnetik. Prinsip kerja spektrofotometri adalah apabila sinar monokromatis melewati suatu media atau larutan maka sebagian dari cahay tersebut akan diserap, dipantulkan dan dibiaskan. 

Sumber radiasi spektrofotometer dapat digunakan lampu deuterium untuk radiasi di daerah sinar ultraviolet sampai 350 nm, atau lampu filamen untuk sinar tampak sampai inframerah. Sinar yang dikeluarkan sumber radiasi merupakan sinar polikromatis, sehingga harus dibuat menjadi sinar monokromatis oleh monokromator. Radiasi yang melewati monokromator diteruskan ke zat yang akan diukur dan sebagian radiasinya akan diserap oleh zat tersebut. Zat yang akan diukur nilai absorbannya diletakkan pada sel dengan wadah kuvet. Sinar yang diteruskan akan mencapai fotosel dan energi sinar diubah menjadi energi listrik.

Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat Menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor.

Tujuan pada percobaan ini yaitu untuk menetapkan kadar senyawa yang tidak berwarna (tetapi memiliki kromofor) secara spektofotometri ultra-violet (UV). Analisis dalam percobaan ini menggunakan obat trisulfa untuk menentukan kadar sulfadiazine dalam obat tersebut. Gugus kromofor pada sulfadiazine yaitu gugus benzene yang merupakan kromofor tunggal. Kromofor artinya suatu senyawa memiliki gugus yang dapat menyebabkan suatu senyawa memiliki warna sehingga nantinya akan membentuk kompleks sehingga akan menghasilkan warna tertentu pada larutan.

Tidak adanya warna dari larutan sulfadiazin meskipun senyawa tersebut memiliki kromofor dalam dua cincin benzennya dikarenakan oleh cahaya yang tidak diserap kromofornya (cahaya kompartemen, diterima oleh mata) memiliki panjang gelombang dalam rentang daerah sinar UV dalam spektrum gelombang. Daerah UV berada diluar spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang lebih kecil. 

Penentuan kadar sulfadiazine yang terdapat pada sampel obat trisulfa dilakukan dilakukan penentuan panjang gelombang maksimal dan mengukur absorbansi dari larutan induk dan larutan sampel yang telah dibuat sebelummya. Kurva yang menyatakan hubungan antara Perbedaan Konsentrasi Sulfadiazine dengan Absorbansi dapat diperoleh dari Pembuatan larutan seri baku. Dengan menggunakan kurva tersebut, kadar senyawa kompleks sulfadiazine dalam sampel dapat ditentukan dengan memasukkan nilai absorbansinya dalam persamaan yang diperoleh dari kurva standar. Maka kadar sulfadiazine yang terkandung dalam sampel tri sulfa adalah sebesar 0,003 mg/mL.

Secara universal golongan sulfonamide seperti sulfadiazine dikenal sebagai antibiotik. Sulfadiazin dengan dosis 8 gram sehari merupakan senyawa antibakteri sehingga ketepatan kadarnya dalam sediaan obat sangatlah diperlukan untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri. Pemakaian sulfadiazine dapat menginduksi terbentuknya kristal anuria dalam ginjal pemakai karena kelarutannya yang sangat kecil meskipun telah mengalami reaksi metabolism fase I dan II di hati. Untuk mencegah hal tersebut maka umumnya sulfadiazin dalam sediaan oral diberikan bersamaan dengan obat golongan sulfa lainnya yang juga merupakan senyawa antimikroba yaitu sulfamerazin dan sulfadimidin (lebih lazim disebut trisulfa).

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dapat diambil dalam praktikum ini yaitu besarnya konsentrasi sulfadiazine adalah 0,003 mg/mL.

DAFTAR PUSTAKA
Awad, Hassan M., Shahed, Kamal Y. I., Aziz, Ramlan., Sarmidi, Mohamed Roji., Hesham., El- Enshasy A., Antibiotics as Microbial Secondary Metabolites: Production and Application, Jurnal Teknologi, 2012, Vol.1, No. 59, ISSN.

Dewi, R.S., dan Sri, L., 2010, Dekolorisasi Limbah Batik Tulis Menggunakan Jamur Indigenous Hasil Isolasi Pada Konsentrasi Limbah Yang Berbeda, Molekul, Vol. 5. No. 2.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Fatimah, Is., 2003, “Analisis Fenol Dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif”, Logika, 9(10), ISSN.

Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Muhardi, Soewarno T., S., Betty S. L. Jennie, Anton Apriyantono, Sedarnawati Yasni, “Karakteristik Spektroskopi Isolat Komponen Antibakteri Biji Atung (Parinarium glaberrimum Hassk)”, Jurnal Teknol dan Industri Pangan, XV(1).

Setiono, M., H., Avriliana Dewi A., 2013, “Penentuan Jenis Solven Dan pH Optimum Pada Analisis Senyawa Delphinidin Dalam Kelopak Bunga Rosela Dengan Metode Spektrovotometri UV-Vis”, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2(2).

Seto, S., 2008, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Koper POM, Jakarta.

Sudjarwono, Poedjiarti S., Pramitasari A., R., 2013, “Validasi Spektrofotometri Bisible Untuk Penentuan Kadar Formalin Dalam Daging Ayam”, Berkala Ilmiah Kimia Framasi, 2(1).

Sudarma, I Made., 2007, The Sulfonation Study of Reaction Mechanism on Papaverine Alkaloid by GC-MS nd FT-IR, Indo. J. Chem, Vol.7, No.1.