LAPORAN PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URINE KUMULATIF - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URINE KUMULATIF
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA DASAR
PERCOBAAN IV 
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL ENGGUNAKAN DATA EKSKRESI URINE KUMULATIF

I. Pendahuluan 
1. Tujuan Percobaan :
Untuk mengetahui cara penetapan parameter farmakokinetika obat setelah pemberian dosis tunggal menggunakan data eksresi urine kumulatif 

2. Latar Belakang
Farmakokinetik adalah studi yang menghubungkan antara regimen dosis dan perubahan konsentrasi obat di dalam tubuh setiap waktunya. Tipe konsentrasi diukur di dalam darah, serum atau plasma, dan antara konsentrasi obat di dalam darah dengan respon klinik atau farmakodinamik, berikut efek teraupetik dan efet toksik, diukur dengan menggunakan profil konsentrasi-waktu yang juga dapat menggambarkan respon optimal dan resiko minimum toksisitas (Oktaviani).

Obat memiliki peran yang sangat penting bagi kesehatan. Penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dari obat. Berbagai pemilihan obat saat ini tersedia sehingga diperlukan pertimbangan yang sangat cermat dalam memilih obat untuk kasus penyakit (Utami, dkk., 2009).

Pada umumnya setiap obat yang masuk ke dalam tubuh, akan mengalami empat proses yaitu (1) absorbsi yaitu proses obat memasuki sirkulasi cairan tubuh, (2) distribusi yaitu proses obat diangkut ke area tubuh dimana obat diharapkan bereaksi atau disimpan dalam tubuh, (3) biotransformasi yaitu proses dimana obat diubah menajdi bentuk kurang aktif, (4) ekskresi yaitu proses dimana obat dikeluarkan dari tubuh (Priharjo, 1994).

Ketersediaan hayati zat aktif suatu obat timbul sejak adanya ketidaksetaraan terapetik diantara sediaan bermerk dagang yang mengandung zat aktif yang sama dan dibuat dalam bentuk sediaan farmasetik yang serupa, serta diberikan dengan dosis yang sama. Berbagai kejadian (zat aktif menjadi tidak aktif atau menjadi toksik) dapat merupakan sebab ketidaksetaraan ((Utami, dkk., 2009).

Proses fisiologis dimana obat dan metabolit dikeluarkan dari tubuh disebut eksresi. Sebagian besar ekskresi berlangsung melalui ginjal dalam bentuk urine. Namun, obat juga dikeluarkan melalui paru-paru misalnya obat anastesi, melalui feses, keringat, air mata dan saliva. Untuk memperkirakan berapa lama suatu obat diekskresikan, ada suatu teori yang dikelan dengan “half-life” (waktu yang diperlukan oleh konsentrasi obat dalam plasma untuk berkurang menjadi 50% dari konsentrasi awalnya) (Priharjo, 1994).

Obar bebas yang tidak berikatan, yang larut dalam air, dan obat-obat yang tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal. Sekali obat dilepaskan ikatannya dengan protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akan diekskresikan melalui urine. pH urine mempengaruhi ekskresi obat. pH urine bervariasi dari 4,5 sampai 8 (Kee dan Evelyn, 1994).

Spektrofotometri merupakan suatu metode analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu jalur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan tabung foton hampa. Metode spektrofotometri memiliki keuntungan yaitu dapat digunakan untuk menganalisa suatu zat dalam jumlah kecil (Harini, dkk., 2012).

Spektrofotometri UV-Vis merupakan salah satu metode analisis yang beragam terhadap suatu obat dalam sediaan dan juga cairan biologis yang memiliki banyak kelebihan, diantaranya lebih praktis dan murah bila dibandingkan dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, serta lebih akurat bila dibandingkan dengan titrasi (Utami, dkk., 2009).

Metampiron (C13H16N3NaO4S.H2O) memiliki bobit molekul 351,4. Titik lebur metampiron 172C. Larut dalam 1,5 bagian air, 30 bagian etanol, praktis tidak larut dalam eter, aseton, benzen, dan kloroform. Metampiron memiliki efek analgetik dan sering digunakan sebagai Antinflamatory Drug (NSAID), dan pereda rasa nyeri. Pada pemakaian secara oral, dosis tunggal metampiron 500-1000 mg. Efek samping yang parah adalah agranulositosis alergik. Semakin tinggi dosis dan jangka pengobatan, semakin besar resikonya (Soewandhi, dkk., 2007).

II. Cara kerja
1. Bahan & alat
a. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Sampel urine
  • Antalgin
  • Aquadest
  • Aluminium voil
  • Tisu

b. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Gelas kimia
  • Erlenmeyer
  • Batang pengaduk
  • Kuvet
  • Pipet tetes
  • Spektrofotometri UV-Vis
  • Spatula besi
  • Labu takar

LAPORAN PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URINE KUMULATIF
LAPORAN PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URINE KUMULATIF


IV. Pembahasan
Ketersediaan hayati dapat digunakan utuk menggambarkan keadaan dan kecepatan obat yang diabsorpsi dari bentuk sediaan dan digambarkan dengan kurva kadar-waktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan biologis atau larutan seperti darah dan urine.

Sistem urine adalah suatu sistem saluran dalam tubuh manusia, meliputi ginjal dan saluran keluarnya yang berfungsi untuk membersihkan tubuh dari zat-zat yang tidak diperlukan. Sebanyak 1 cc urin dihasilkan oleh kedua ginjal kiri dan kanan setiap menitnya dan dalam 2 jam dihasilkan sekitar 120 cc urin yang akan mengisi kandung kemih. Saat kandung kemih sudah terisi urin sebanyak itu mulai terjadi rangsangan pada kandung kemih sehingga yang bersangkutan dapat merasakannya. Keinginan mengeluarkan mulai muncul, tetapi biasanya masih bisa ditahan jika volumenya masih berkisar dibawah 150 cc.

Pada praktikum ini, dilakukan penentuan kadar dan parameter farmakokinetik dari sampel menggunakan perhitungan regresi dengan melihat waktu yang diperoleh yang menandakan adanya kandungan metampiron atau antalgin. Praktikum ini juga dilakukan untuk mengetahui kadar antalgin yang terukur masih dalam rentang/jumlah yang sesuai atau tidak. Sampel yang digunakan adalah urin dari probandus. 

Pengumpulan urin dilakukan pada jam ke 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Hal ini bertujuan agar jumlah obat yang diekskresikan memiliki kecepatan eliminasi yang tetap sehingga data urin yang diperoleh menjadi valid. Urin yang pertama kali ditampung adalah urin blanko dimana urin tersebut belum mengandung senyawa metampiron/antalgin. Urin blanko digunakan untuk membandingkan antara urin yang mengandung antalgin dengan yang tidak. Urin blanko juga menandakan tidak ada partikel lain yang akan terukur nantinya selain pelarut itu sendiri (urin). Kemudian, probandus diberikan obat yang ekivalen dengan dosis 500 mg. Dosis tersebut merupakan dosis lazim dimana dapat memberikan efek farmakologis sesuai dengan memberikan efek terapi. Obat tersebut diminum sehari sebelum percobaan. Hal ini untuk memaksimalkan proses biofarmasetik dimana obat akan diabsorbsi, didistribusi, dimetabolisme dan terakhir diekskresi melalui urin. 

Urin tersebut tentunya sudah mengandung antalgin. Selain itu, pada saat pengumpulan urin, perlu dilakukan pengukuran volume urin yang diekskresikan. Pengukuran volume urin tersebut dimaksudkan agar dapat ditentukan berapa jumlah obat (antalgin) yang telah diekskresikan. Farmakokinetika obat pada darah maupun urin hanya dapat memperoleh data berupa konsentrasi, bukan jumlah obat yang terkandungnya. Satuan konsentrasi adalah µg/ml sedangkan jumlah obat adalah µg. Jika dilakukan konversi, maka untuk menentukan jumlah obat perlu dilakukan perkalian antara konsentrasi dengan volume.Volume urin yang diperoleh cukup besar pada rentang waktu yang cukup dekat karena jumlah asupan cairan (air) pada tubuh juga cukup banyak sehingga wajar jika urin yang diekskresikan dalam jumlah yang banyak. Diantara rentang waktu tersebut, pada pagi hari memiliki volume urin yang paling besar karena pada malam hari tubuh tidak melakukan aktivitas apapun sehingga energi difokuskan pada sistem pencernaan dan hasil metabolisme disalurkan salah satunya pada sistem ekskresi urinari. Semakin banyak volume urin yang dihasilkan, semakin banyak pula senyawa yang terdapat didalamnya.

Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi yang dimiliki oleh urine dengan mengguakan spektrofotometri. Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan pembanding, misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih foto sel yang cocok 200 nm-650 nm (650nm-1100nm) agar daerah λ yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup “nol” galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih h yang diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan “nol” galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitansi, kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis.

Pengukuran konsentrasi pada spektrofortometer di mulai dengan konsentrasi yang rendah. Hal ini dikarenakan apa bila di mulai dengan konsentrasi yang tinggi maka absorbansi yang akan di hasilkan akan rendah, sedangkan pada konsentrasi yang rendah akan menghasilkan absorbansi yang rendah pula. Sehingga di lakukan pengukuran absorbansi dari konsentrasi yang rendah agar dapat menghasilkan perbandingan yang di inginkan dari konsentrasi yang rendah ke konsentrasi yang tinggi.

Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi, diperoleh bahwa terjadinya penurunan konsentrasi obat tiap penambahan waktu. Hal ini dikarenakan adanya proses pengeluaran urin pada waktu yang berbeda, pada urin pertama banyak jumlah senyawa obat antalgin yang di keluar sehingga akan berbeda banyaknya senyawa antalgin yang keluar pada jam ke 2- 6. 

Setelah dilakukan pengukuran absorbansi dari urine, selanjutnya akan ditetapkan parameter farmakokinetiknya. Akan tetapi, harus diregresikan terlebih dahulu dengan perbandingan antara tmid dan ln Du/t. Dimana tmid merupakan selisih waktu dari pengambilan urine, Du merupakan hasil perkalian antara absorbansi dan volume urine, sedangkan ln Du/t merupakan hasil dari pembagian Du/t yang kemudian di ln kan. 

Persamaan regresi linear yang diperoleh yaitu y = -0,383x + 4,413. Berdasarkan persamaan tersebut dapat ditentukan nilai dari k, t1/2, dan CL sebagai parameter farmakokinetik. Nilai k dapat diperoleh dari –b, nilai t1/2 diperoleh dari pembagian antara 0,693/k, dan nilai CL diperoleh dari volume distribusi (Vd) dikalikan dengan k. Berdasarkan parameter tersebut, diketahui nilai k sebesar 0,383 jam, nilai t1/2 sebesar 1,809 jam dan nilai CL sebesar 2,320 L.jam. 

V. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini adalah konsentrasi sampel obat dalam urin terjadi penurunan konsentrasi tiap penambahan waktu. Hal ini karenakan adanya proses pengeluaran urin pada waktu yang berbeda, pada urin pertama banyak mengandung senyawa obat antalgin yang di keluar sehingga akan berbeda banyaknya senyawa antalgin yang keluar pada jam ke 2- 6. Parameter farmakokinetik yang diperoleh yaitu nilai k sebesar 0,383 jam, nilai t1/2 sebesar 1,809 jam, dan nilai CL sebesar 2,320 L.jam.

VI. Daftar Pustaka
Harini, B. W., Rini Dwiastuti, dan Lucia Wiwid Wijayanti, 2012, Aplikasi Metode Spketrofotometri Visibel Untuk Mengukur Kadar Curcuminoid pada Rimpang Kunyit (Curcuma domestica), Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III Yogyakarta, ISSN.

Kee, J. L., dan Evelyn R. H., 1994, Farmakologi : Pendekatan Proses Keperawatan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Oktoviani, I., Aspek Farmakokinetika Klinik Obat-Obat yang Digunakan Pasien Sirosis Hati Di Bangsal Interne RSUP DR. M. Djamil, Padang.

Priharjo, R., 1994, Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Soewandhi, S. N., dan Aris H., 2007, Pengaruh Milling Terhadap Laju Disolusi Campuran Metampiron-Fenilbutason (7:3), Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. IV, No. 2, ISSN.

Utami, P. I., Wahyu U., dan Nur A. M., 2009, Optimasi Metode Penetapan Ranitidin Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel, Pharmacy, Vol. 06, No. 03.

LAPORAN PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URINE KUMULATIF

LAPORAN PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URINE KUMULATIF
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA DASAR
PERCOBAAN IV 
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL ENGGUNAKAN DATA EKSKRESI URINE KUMULATIF

I. Pendahuluan 
1. Tujuan Percobaan :
Untuk mengetahui cara penetapan parameter farmakokinetika obat setelah pemberian dosis tunggal menggunakan data eksresi urine kumulatif 

2. Latar Belakang
Farmakokinetik adalah studi yang menghubungkan antara regimen dosis dan perubahan konsentrasi obat di dalam tubuh setiap waktunya. Tipe konsentrasi diukur di dalam darah, serum atau plasma, dan antara konsentrasi obat di dalam darah dengan respon klinik atau farmakodinamik, berikut efek teraupetik dan efet toksik, diukur dengan menggunakan profil konsentrasi-waktu yang juga dapat menggambarkan respon optimal dan resiko minimum toksisitas (Oktaviani).

Obat memiliki peran yang sangat penting bagi kesehatan. Penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dari obat. Berbagai pemilihan obat saat ini tersedia sehingga diperlukan pertimbangan yang sangat cermat dalam memilih obat untuk kasus penyakit (Utami, dkk., 2009).

Pada umumnya setiap obat yang masuk ke dalam tubuh, akan mengalami empat proses yaitu (1) absorbsi yaitu proses obat memasuki sirkulasi cairan tubuh, (2) distribusi yaitu proses obat diangkut ke area tubuh dimana obat diharapkan bereaksi atau disimpan dalam tubuh, (3) biotransformasi yaitu proses dimana obat diubah menajdi bentuk kurang aktif, (4) ekskresi yaitu proses dimana obat dikeluarkan dari tubuh (Priharjo, 1994).

Ketersediaan hayati zat aktif suatu obat timbul sejak adanya ketidaksetaraan terapetik diantara sediaan bermerk dagang yang mengandung zat aktif yang sama dan dibuat dalam bentuk sediaan farmasetik yang serupa, serta diberikan dengan dosis yang sama. Berbagai kejadian (zat aktif menjadi tidak aktif atau menjadi toksik) dapat merupakan sebab ketidaksetaraan ((Utami, dkk., 2009).

Proses fisiologis dimana obat dan metabolit dikeluarkan dari tubuh disebut eksresi. Sebagian besar ekskresi berlangsung melalui ginjal dalam bentuk urine. Namun, obat juga dikeluarkan melalui paru-paru misalnya obat anastesi, melalui feses, keringat, air mata dan saliva. Untuk memperkirakan berapa lama suatu obat diekskresikan, ada suatu teori yang dikelan dengan “half-life” (waktu yang diperlukan oleh konsentrasi obat dalam plasma untuk berkurang menjadi 50% dari konsentrasi awalnya) (Priharjo, 1994).

Obar bebas yang tidak berikatan, yang larut dalam air, dan obat-obat yang tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal. Sekali obat dilepaskan ikatannya dengan protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akan diekskresikan melalui urine. pH urine mempengaruhi ekskresi obat. pH urine bervariasi dari 4,5 sampai 8 (Kee dan Evelyn, 1994).

Spektrofotometri merupakan suatu metode analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu jalur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan tabung foton hampa. Metode spektrofotometri memiliki keuntungan yaitu dapat digunakan untuk menganalisa suatu zat dalam jumlah kecil (Harini, dkk., 2012).

Spektrofotometri UV-Vis merupakan salah satu metode analisis yang beragam terhadap suatu obat dalam sediaan dan juga cairan biologis yang memiliki banyak kelebihan, diantaranya lebih praktis dan murah bila dibandingkan dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, serta lebih akurat bila dibandingkan dengan titrasi (Utami, dkk., 2009).

Metampiron (C13H16N3NaO4S.H2O) memiliki bobit molekul 351,4. Titik lebur metampiron 172C. Larut dalam 1,5 bagian air, 30 bagian etanol, praktis tidak larut dalam eter, aseton, benzen, dan kloroform. Metampiron memiliki efek analgetik dan sering digunakan sebagai Antinflamatory Drug (NSAID), dan pereda rasa nyeri. Pada pemakaian secara oral, dosis tunggal metampiron 500-1000 mg. Efek samping yang parah adalah agranulositosis alergik. Semakin tinggi dosis dan jangka pengobatan, semakin besar resikonya (Soewandhi, dkk., 2007).

II. Cara kerja
1. Bahan & alat
a. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Sampel urine
  • Antalgin
  • Aquadest
  • Aluminium voil
  • Tisu

b. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Gelas kimia
  • Erlenmeyer
  • Batang pengaduk
  • Kuvet
  • Pipet tetes
  • Spektrofotometri UV-Vis
  • Spatula besi
  • Labu takar

LAPORAN PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URINE KUMULATIF
LAPORAN PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URINE KUMULATIF


IV. Pembahasan
Ketersediaan hayati dapat digunakan utuk menggambarkan keadaan dan kecepatan obat yang diabsorpsi dari bentuk sediaan dan digambarkan dengan kurva kadar-waktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan biologis atau larutan seperti darah dan urine.

Sistem urine adalah suatu sistem saluran dalam tubuh manusia, meliputi ginjal dan saluran keluarnya yang berfungsi untuk membersihkan tubuh dari zat-zat yang tidak diperlukan. Sebanyak 1 cc urin dihasilkan oleh kedua ginjal kiri dan kanan setiap menitnya dan dalam 2 jam dihasilkan sekitar 120 cc urin yang akan mengisi kandung kemih. Saat kandung kemih sudah terisi urin sebanyak itu mulai terjadi rangsangan pada kandung kemih sehingga yang bersangkutan dapat merasakannya. Keinginan mengeluarkan mulai muncul, tetapi biasanya masih bisa ditahan jika volumenya masih berkisar dibawah 150 cc.

Pada praktikum ini, dilakukan penentuan kadar dan parameter farmakokinetik dari sampel menggunakan perhitungan regresi dengan melihat waktu yang diperoleh yang menandakan adanya kandungan metampiron atau antalgin. Praktikum ini juga dilakukan untuk mengetahui kadar antalgin yang terukur masih dalam rentang/jumlah yang sesuai atau tidak. Sampel yang digunakan adalah urin dari probandus. 

Pengumpulan urin dilakukan pada jam ke 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Hal ini bertujuan agar jumlah obat yang diekskresikan memiliki kecepatan eliminasi yang tetap sehingga data urin yang diperoleh menjadi valid. Urin yang pertama kali ditampung adalah urin blanko dimana urin tersebut belum mengandung senyawa metampiron/antalgin. Urin blanko digunakan untuk membandingkan antara urin yang mengandung antalgin dengan yang tidak. Urin blanko juga menandakan tidak ada partikel lain yang akan terukur nantinya selain pelarut itu sendiri (urin). Kemudian, probandus diberikan obat yang ekivalen dengan dosis 500 mg. Dosis tersebut merupakan dosis lazim dimana dapat memberikan efek farmakologis sesuai dengan memberikan efek terapi. Obat tersebut diminum sehari sebelum percobaan. Hal ini untuk memaksimalkan proses biofarmasetik dimana obat akan diabsorbsi, didistribusi, dimetabolisme dan terakhir diekskresi melalui urin. 

Urin tersebut tentunya sudah mengandung antalgin. Selain itu, pada saat pengumpulan urin, perlu dilakukan pengukuran volume urin yang diekskresikan. Pengukuran volume urin tersebut dimaksudkan agar dapat ditentukan berapa jumlah obat (antalgin) yang telah diekskresikan. Farmakokinetika obat pada darah maupun urin hanya dapat memperoleh data berupa konsentrasi, bukan jumlah obat yang terkandungnya. Satuan konsentrasi adalah µg/ml sedangkan jumlah obat adalah µg. Jika dilakukan konversi, maka untuk menentukan jumlah obat perlu dilakukan perkalian antara konsentrasi dengan volume.Volume urin yang diperoleh cukup besar pada rentang waktu yang cukup dekat karena jumlah asupan cairan (air) pada tubuh juga cukup banyak sehingga wajar jika urin yang diekskresikan dalam jumlah yang banyak. Diantara rentang waktu tersebut, pada pagi hari memiliki volume urin yang paling besar karena pada malam hari tubuh tidak melakukan aktivitas apapun sehingga energi difokuskan pada sistem pencernaan dan hasil metabolisme disalurkan salah satunya pada sistem ekskresi urinari. Semakin banyak volume urin yang dihasilkan, semakin banyak pula senyawa yang terdapat didalamnya.

Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi yang dimiliki oleh urine dengan mengguakan spektrofotometri. Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan pembanding, misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih foto sel yang cocok 200 nm-650 nm (650nm-1100nm) agar daerah λ yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup “nol” galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih h yang diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan “nol” galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitansi, kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis.

Pengukuran konsentrasi pada spektrofortometer di mulai dengan konsentrasi yang rendah. Hal ini dikarenakan apa bila di mulai dengan konsentrasi yang tinggi maka absorbansi yang akan di hasilkan akan rendah, sedangkan pada konsentrasi yang rendah akan menghasilkan absorbansi yang rendah pula. Sehingga di lakukan pengukuran absorbansi dari konsentrasi yang rendah agar dapat menghasilkan perbandingan yang di inginkan dari konsentrasi yang rendah ke konsentrasi yang tinggi.

Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi, diperoleh bahwa terjadinya penurunan konsentrasi obat tiap penambahan waktu. Hal ini dikarenakan adanya proses pengeluaran urin pada waktu yang berbeda, pada urin pertama banyak jumlah senyawa obat antalgin yang di keluar sehingga akan berbeda banyaknya senyawa antalgin yang keluar pada jam ke 2- 6. 

Setelah dilakukan pengukuran absorbansi dari urine, selanjutnya akan ditetapkan parameter farmakokinetiknya. Akan tetapi, harus diregresikan terlebih dahulu dengan perbandingan antara tmid dan ln Du/t. Dimana tmid merupakan selisih waktu dari pengambilan urine, Du merupakan hasil perkalian antara absorbansi dan volume urine, sedangkan ln Du/t merupakan hasil dari pembagian Du/t yang kemudian di ln kan. 

Persamaan regresi linear yang diperoleh yaitu y = -0,383x + 4,413. Berdasarkan persamaan tersebut dapat ditentukan nilai dari k, t1/2, dan CL sebagai parameter farmakokinetik. Nilai k dapat diperoleh dari –b, nilai t1/2 diperoleh dari pembagian antara 0,693/k, dan nilai CL diperoleh dari volume distribusi (Vd) dikalikan dengan k. Berdasarkan parameter tersebut, diketahui nilai k sebesar 0,383 jam, nilai t1/2 sebesar 1,809 jam dan nilai CL sebesar 2,320 L.jam. 

V. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini adalah konsentrasi sampel obat dalam urin terjadi penurunan konsentrasi tiap penambahan waktu. Hal ini karenakan adanya proses pengeluaran urin pada waktu yang berbeda, pada urin pertama banyak mengandung senyawa obat antalgin yang di keluar sehingga akan berbeda banyaknya senyawa antalgin yang keluar pada jam ke 2- 6. Parameter farmakokinetik yang diperoleh yaitu nilai k sebesar 0,383 jam, nilai t1/2 sebesar 1,809 jam, dan nilai CL sebesar 2,320 L.jam.

VI. Daftar Pustaka
Harini, B. W., Rini Dwiastuti, dan Lucia Wiwid Wijayanti, 2012, Aplikasi Metode Spketrofotometri Visibel Untuk Mengukur Kadar Curcuminoid pada Rimpang Kunyit (Curcuma domestica), Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III Yogyakarta, ISSN.

Kee, J. L., dan Evelyn R. H., 1994, Farmakologi : Pendekatan Proses Keperawatan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Oktoviani, I., Aspek Farmakokinetika Klinik Obat-Obat yang Digunakan Pasien Sirosis Hati Di Bangsal Interne RSUP DR. M. Djamil, Padang.

Priharjo, R., 1994, Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Soewandhi, S. N., dan Aris H., 2007, Pengaruh Milling Terhadap Laju Disolusi Campuran Metampiron-Fenilbutason (7:3), Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. IV, No. 2, ISSN.

Utami, P. I., Wahyu U., dan Nur A. M., 2009, Optimasi Metode Penetapan Ranitidin Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel, Pharmacy, Vol. 06, No. 03.