LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA
LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

I. PENDAHULUAN
1. Tujuan Percobaan 
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui waktu pengambilan cuplikan dan asumsi asumsi model kompartemen.

2. Latar Belakang
Ilmu biofarmasetika dan farmakokinetika obat dan produk obat bermanfaat dalam memahami hubungan antara sifat fisiko kimia obat maupun efek farmakologi dan klinik dari obat tersebut. Studi biofarmasetika memerlukan penyelidikan berbagai faktor yang mungkin mempengaruhi laju serta jumlah obat yang juga mempengaruhi pelepasan obat dari suatu produk obat (sediaan). Sedangkan farmakokinetika mempelajari tentang absorbsi obat, distribusi serta eliminasinya ( proses ekskresi dan metabolisme).

Ketika suatu sediaan obat diberikan dengan cara ekstravaskuler (per oral, intramuskular, intraperitonial, subkutan atau melalui rektum) kepada pasien, maka obat akan mengalami proses absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME), sebelum ia mencapai reseptor. Pada pemberian sediaan obat secara ekstravaskuler, molekul obat harus terlepas dari vehikel (bahan pembawa) dan melarut di cairan tubuh di daerah tempat pemberian obat. Dalam hal pemberian obat per oral, molekul obat harus melarut di dalam cairan lumen usus sebelum terabsorbsi. Kecepatan dan jumlah obat yang terabsorbsi, tergantung dari sifat fisiko kimiawi obat (Hakim, 2012).

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.

Dalam tubuh, obat berada dalam suatu keadaan dinamik. Dalam suatu sistem biologik peristiwa – peristiwa yang dialami obat sering terjadi secara serentak. Dalam menggambarkan sistem biologik yang kompleks tersebut, dibuat penyederhanaan anggapan mengenai pergerakan obat tersebut. Suatu hipotesis atau model disusun dengan menggunakan istilah matematik, yang memberi arti singkat dari pernyataan hubungan kuantitatif. Berbagai model matematik dapat dirancang untuk meniru proses laju absorpsi, distribusi, dan eliminasi obat. Model matematik ini memungkinkan pengembangan persamaan untuk menggambarkan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi waktu (Shargel dan Andrew, 2005).

Penetapan waktu pengambilan sampel merupakan tahap penting yang harus diketahui setelah memahami cara analisa obat dalam cairan hayati dengan menetapkan waktu pengambilan cuplikan. Setelah memahami analisis obat dalam cairan hayati dan dikuti dengan perkiraan model kompartemen. Kedua faktor ini saling terkait sehingga kesalahan waktu pengambilan cuplikan dapat menyebabkan kesalahan dalam penentuan model kompartemen (Shargel and Yu, 1998).

Pemilihan lama dan banyaknya waktu pengambilan cuplikan hayati Sesuai dengan takrif parameter farmakokinetika yang dimaksud cuplikan hayati meliputi darah dan urin. Sebenarnya dalam penelitian farmakokinetika dapat pula dikerjakan dengan cuplikan hayati lainnya seperti saliva. Namun, darah dan urin yang paling banyak dipergunakan. Strategi pemilihan lama dan banyaknya waktu pengambilan cuplikan darah dan urin, sesuai dengan takrif parameter farmakokinetika yang dipergunakan. Jika cuplikan darah yang dipergunakan, pengambilan cuplikan dianjurkan berlangsung selama 3 – 5 kali harga waktu paruh eliminasi obat yang diuji. Dan 7 – 10 kali th obat. jika cuplikan urin yang dipergunakan, yakni praktis 99,2 – 99,9% obat telah diekskresikan (Ritschell, 1980).

II. CARA KERJA
1. Bahan dan Alat
A. Bahan
Bahan yang digunkan pada percobaan ini adalah :
  • a. Alkohol 70%
  • b. Aluminium Foil
  • c. Antalgin
  • d. Aquadest
  • e. Kapas 
  • f. Larutan antikoagulan
  • g. Larutan pengendap
  • h. Sampel darah tikus
  • i. Tisu

B. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • a. Batang Pengaduk
  • b. Botol Gelap
  • c. Erlenmeyer
  • d. Filler
  • e. Gelas Kimia 
  • f. Kuvet
  • g. Labu Takar
  • h. Lumpang dan alu
  • i. Pipet tetes
  • j. Pipet ukur
  • k. Silet
  • l. Spatula besi
  • m. Spoit
  • n. Timbangan analitik

LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

IV. Pembahasan
Farmakokinetik atau kinetika obat adalah nasib obat dalam tubuh atau efek tubuh terhadap obat. Farmakokinetik mencakup 4 proses, yaitu proses absorpsi (A), distribusi (D), metabolisme (M), dan ekskresi (E). Metabolisme atau biotransformasi dan ekskresi bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan proses eliminasi obat. Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah. Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan dan cairan tubuh. Metabolisme/biotransformasi obat adalah proses tubuh merubah komposisi obat sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat dibuang keluar tubuh. Ekskresi obat artinya eliminasi/pembuangan obat dari tubuh. Sebagian besar obat dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat juga dapat dibuang melalui paru-paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara), kulit dan taraktusintestinal.

Percobaan ini digunakan darah tikus untuk menghitung kadar obat dalam darah pada waktu 15, 30, 45, 60, 75 dan 90 menit ketika darah diinjeksikan kedalam tubuh tikus melalui rute inravena. Penggunaan rute ini dilakukan karena injeksi secara intravena efek obat yang dihasilkan akan langsung mencapai puncak karena tidak melalui fase absorbsi terlebih dahulu, sehingga efek yang diinginkan akan cepat dihasilkan. Sebelum diinjeksikan, terlebih dahulu dilakukan perhitungan dosis obat, larutan stok, berat yang ditimbang dan volume pemberian. Hal ini bertujuan agar dapat mencapai hasil yang diinginkan. 

Sampel obat yang digunakan percobaan ini yaitu metamprion (antalgin). Metampiron adalah suatu obat analgesik- antipiretik. Metampiron mempunyai kerja sebagai antiansietas, juga memiliki sifat relaksasi otot rangka. Kombinasi ini dimaksudkan untuk menghilangkan rasa nyeri dan spasme organ visceral. Dosis dari metamiron adalah Analgesik antipiretik: oral, Dewasa: 3-4 x sehari 1-2 tablet; sc, im: 0,5-1 g. Adapun efek samping dari metamipron adalah Agranulositosis, insidennya kurang dari 0,01%, risiko meningkat pada dosis tinggi dan penggunaan jangka waktu lama, sehingga tes darah harus dilakukan secara berkala. Intoksikasi akut yang dapat mengakibatkan kejang. 

Sebelum dilakukan pengambilan darah, terlebih dahulu dibuat larutan antikoagulan. Tujuannya dari pembuatan larutan antikoagulan yaitu agar darah tidak mudah menggumpal setelah dilakuakan pencuplikan. Pada pembuatan larutan antikoagulan, terlebih dahulu ditimbang 0,125 gram asam sitrat, kemudian dimasukan kedalam gelas kimia, dilarutkan dengan aquadest, dan diencerkan ke dalam labu takar. Selain larutan antikoagulan, perlu dibuat larutan pengendap. Pembuatan larutan pengendap menggunakan bahan yaitu merkuri II klorida ( HgCl2). Tujuannya dari pembuatan larutan pengendap agar mengendapkan protein yang terdapat didalam darah, sehingga supernatan yang diukur merupakan serum yang mengandung kadar obat. Proses pembuatan larutan pengendap dilakukan dengan melarutkan dengan HCl, Karen HgCl2 tidak larut dalam air dan larut dalam HCl, dan dicukupkan volumenya hingga 100 ml menggunakan aquadest. 

Perlakuan yang pertama dilakukan yaitu menyuntikkan sampel obat ke tubuh tikus dengan mengunakan rute intravena. Kemudian dihitung waktu pengambilan setiap 15 menit setelah penyuntikan dan diulangi pengambilan darah pada 15 menit setelah pengambilan darah sebelumnya. Darah yag diperoleh dimasukkan kedalam tabung sentrifuge, dan ditambahkan larutan antikoagulan. Hal ini bertujuan agar darah yang diperoleh tidak mengalami penggumpalan sehingga hasil yang diperoleh akurat. Setelah diberikan larutan antikoagulan, selanjutnya sampel ditambahkan 5 ml larutan pengendap. Penambahan ini bertujuan agar mengendapkan protein yang terdapat didalam darah, sehingga pada saat dimasukkan kedalam tabung sentrifuge darah tersebut akan mudah terpisah. Langkah selanjutnya yaitu dilakukan sentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Hal ini bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen darah berdasarkan perbedaan berat molekul, dimana komponen yang memiliki berat molekul yang lebih berat akan berada dibawah dan mengendap pada tabung sentrifuge. Kemudian supernatan yang diperoleh akan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

Akan tetapi, sebelum dilakukan pengukuran absorbansi sampel, terlebih dahulu dibuat larutan standar. Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui. Tujuan pembuatan larutan standar pada percobaan ini yaitu untuk membandingkan absorbansi dari larutan baku dang absorbansi dari sampel. Dari larutan standar terseut dapat diperoleh panjang gelombang maksimal untuk mengukur absorbansi sampel. Penggunaan panjang gelombang maksimum dikarenakan di sekitar panjang gelombang maksimum tersebut, bentuk kurva serapan adalah datar sehingga hukum Lambert-Beer akan terpenuhi dengan baik sehingga kesalahan yang ditimbulkan panjang gelombang maksimum dapat diperkecil. 

Langkah selanjutnya yaitu mengukur absorbansi sampel dengan menggunakan spektrofotometri. Prinsip kerja dari spektrofotometri yaitu apabila suatu cahaya monokromatis melewati suatu media atau cairan, maka sebagian cahaya akan diserap, dipantulkan dan dibiaskan. Dari hasil absorbansi yang diperoleh, dapat ditentukan kadar yang dimiliki oleh masing-masing sampel. Kadar pada menit ke 15 sebesar 686,5 mg/L, kadar sampel pada menit ke 30 sebesar 605,25 mg/L, kadar pada menit ke 45 sebesar 452,375 mg/L, kadar pada menit ke 60 sebear 436,625 mg/L, kadar pada menit ke 75 sebesar 351,5 mg/L dan kadar pada menit ke 90 sebesar 289 mg/L. Berdasarkan grafik yang diperoleh dari hubungan antara kadar dan waktu, diperoleh bahwa pada percobaan ini mengikuti model kompartemen I. Hal ini dikarenakan kurva yang diperoleh hanya menunjukkan adanya fase distribusi dan eliminasi, tetapi tidak menunjukkan fase absorbsi. Hal ini dikarenakan rute pemberian obat yang dilakukan menggunakan rute pemberian secara intravena, dimana pada rute pemberian tersebut, kadar obat yang terdapat didalam darah langsung mencapai puncak tanpa melalui fase absorbsi terlebih dahulu.

Berdasarkan model kompartemen tersebut, dapat diketahui persamaan yang mengikuti persamaan tersebut, serta dapat pula diketahui parameter farmakokinetikanya. Persamaan berdasarkan model kompartemen tersebut yaitu Cp = 0,458e-4,778t + 0,437e-6,901t. Berdasarkan persamaana tersebut dapat ditentukan parameter farmakokinetika yang mengikuti model kompartemen tersebut, parameter-parameter tersebut antara lain laju eliminasi, waktu paruh, volume distribusi, klirens dan AUC. Laju eliminasi yang diperoleh yaitu 0,437 menit, waktu paruhnya selama 0,100 jam, volume distribusi yang diperoleh sebesar 0,318 ml/jam dan nilai AUC yang diperoleh sebesar 0,354.

V. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kurva mengikuti model kompartemen 1. Parameter yang digunakan untuk mengukur kadar obat dalam tubuh dengan tikus sebagai sampel percobaan antara lain adalah Vd, Kel, klirens, t1/2 dan AUC. Kel metampiron adalah 0,013/menit. Vd metampiron adalah 0,728 l. Klirens metampiron adalah 0,009464 ml/menit. T1/2 metampiron adalah 53,307 menit. AUC metampiron adalah 0,354.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Arvin, B.K., 2000, Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Gandjar, I,G dan Abdul, R., 2013, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Belajar:Yogyakarta.

Hakim, Lukman., 2012, Farmakokinetik Klinik, Bursa Ilmu, Yogyakarta.

Lestari,P., Sabikis, Pri , I.U., 2011, Analisis Natrium Nitrit Secara Spektrofotometri Visibel Dalam Daging Burger Yang Beredar Di Swalayan Purwokerto, jurnal pharmacy, Vol.08 No. 03.

Ritschell, W. A., 1980, Handbook Of Basic Pharmacokinetics 2nd Ed, Drus Intelligence Publication, INC.

Shargel, L. dan Andrew B.C.Y.U., 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Edisi kedua, Airlangga University Press, Surabaya.

LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA
LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

I. PENDAHULUAN
1. Tujuan Percobaan 
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui waktu pengambilan cuplikan dan asumsi asumsi model kompartemen.

2. Latar Belakang
Ilmu biofarmasetika dan farmakokinetika obat dan produk obat bermanfaat dalam memahami hubungan antara sifat fisiko kimia obat maupun efek farmakologi dan klinik dari obat tersebut. Studi biofarmasetika memerlukan penyelidikan berbagai faktor yang mungkin mempengaruhi laju serta jumlah obat yang juga mempengaruhi pelepasan obat dari suatu produk obat (sediaan). Sedangkan farmakokinetika mempelajari tentang absorbsi obat, distribusi serta eliminasinya ( proses ekskresi dan metabolisme).

Ketika suatu sediaan obat diberikan dengan cara ekstravaskuler (per oral, intramuskular, intraperitonial, subkutan atau melalui rektum) kepada pasien, maka obat akan mengalami proses absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME), sebelum ia mencapai reseptor. Pada pemberian sediaan obat secara ekstravaskuler, molekul obat harus terlepas dari vehikel (bahan pembawa) dan melarut di cairan tubuh di daerah tempat pemberian obat. Dalam hal pemberian obat per oral, molekul obat harus melarut di dalam cairan lumen usus sebelum terabsorbsi. Kecepatan dan jumlah obat yang terabsorbsi, tergantung dari sifat fisiko kimiawi obat (Hakim, 2012).

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.

Dalam tubuh, obat berada dalam suatu keadaan dinamik. Dalam suatu sistem biologik peristiwa – peristiwa yang dialami obat sering terjadi secara serentak. Dalam menggambarkan sistem biologik yang kompleks tersebut, dibuat penyederhanaan anggapan mengenai pergerakan obat tersebut. Suatu hipotesis atau model disusun dengan menggunakan istilah matematik, yang memberi arti singkat dari pernyataan hubungan kuantitatif. Berbagai model matematik dapat dirancang untuk meniru proses laju absorpsi, distribusi, dan eliminasi obat. Model matematik ini memungkinkan pengembangan persamaan untuk menggambarkan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi waktu (Shargel dan Andrew, 2005).

Penetapan waktu pengambilan sampel merupakan tahap penting yang harus diketahui setelah memahami cara analisa obat dalam cairan hayati dengan menetapkan waktu pengambilan cuplikan. Setelah memahami analisis obat dalam cairan hayati dan dikuti dengan perkiraan model kompartemen. Kedua faktor ini saling terkait sehingga kesalahan waktu pengambilan cuplikan dapat menyebabkan kesalahan dalam penentuan model kompartemen (Shargel and Yu, 1998).

Pemilihan lama dan banyaknya waktu pengambilan cuplikan hayati Sesuai dengan takrif parameter farmakokinetika yang dimaksud cuplikan hayati meliputi darah dan urin. Sebenarnya dalam penelitian farmakokinetika dapat pula dikerjakan dengan cuplikan hayati lainnya seperti saliva. Namun, darah dan urin yang paling banyak dipergunakan. Strategi pemilihan lama dan banyaknya waktu pengambilan cuplikan darah dan urin, sesuai dengan takrif parameter farmakokinetika yang dipergunakan. Jika cuplikan darah yang dipergunakan, pengambilan cuplikan dianjurkan berlangsung selama 3 – 5 kali harga waktu paruh eliminasi obat yang diuji. Dan 7 – 10 kali th obat. jika cuplikan urin yang dipergunakan, yakni praktis 99,2 – 99,9% obat telah diekskresikan (Ritschell, 1980).

II. CARA KERJA
1. Bahan dan Alat
A. Bahan
Bahan yang digunkan pada percobaan ini adalah :
  • a. Alkohol 70%
  • b. Aluminium Foil
  • c. Antalgin
  • d. Aquadest
  • e. Kapas 
  • f. Larutan antikoagulan
  • g. Larutan pengendap
  • h. Sampel darah tikus
  • i. Tisu

B. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • a. Batang Pengaduk
  • b. Botol Gelap
  • c. Erlenmeyer
  • d. Filler
  • e. Gelas Kimia 
  • f. Kuvet
  • g. Labu Takar
  • h. Lumpang dan alu
  • i. Pipet tetes
  • j. Pipet ukur
  • k. Silet
  • l. Spatula besi
  • m. Spoit
  • n. Timbangan analitik

LAPORAN PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

IV. Pembahasan
Farmakokinetik atau kinetika obat adalah nasib obat dalam tubuh atau efek tubuh terhadap obat. Farmakokinetik mencakup 4 proses, yaitu proses absorpsi (A), distribusi (D), metabolisme (M), dan ekskresi (E). Metabolisme atau biotransformasi dan ekskresi bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan proses eliminasi obat. Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah. Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan dan cairan tubuh. Metabolisme/biotransformasi obat adalah proses tubuh merubah komposisi obat sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat dibuang keluar tubuh. Ekskresi obat artinya eliminasi/pembuangan obat dari tubuh. Sebagian besar obat dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat juga dapat dibuang melalui paru-paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara), kulit dan taraktusintestinal.

Percobaan ini digunakan darah tikus untuk menghitung kadar obat dalam darah pada waktu 15, 30, 45, 60, 75 dan 90 menit ketika darah diinjeksikan kedalam tubuh tikus melalui rute inravena. Penggunaan rute ini dilakukan karena injeksi secara intravena efek obat yang dihasilkan akan langsung mencapai puncak karena tidak melalui fase absorbsi terlebih dahulu, sehingga efek yang diinginkan akan cepat dihasilkan. Sebelum diinjeksikan, terlebih dahulu dilakukan perhitungan dosis obat, larutan stok, berat yang ditimbang dan volume pemberian. Hal ini bertujuan agar dapat mencapai hasil yang diinginkan. 

Sampel obat yang digunakan percobaan ini yaitu metamprion (antalgin). Metampiron adalah suatu obat analgesik- antipiretik. Metampiron mempunyai kerja sebagai antiansietas, juga memiliki sifat relaksasi otot rangka. Kombinasi ini dimaksudkan untuk menghilangkan rasa nyeri dan spasme organ visceral. Dosis dari metamiron adalah Analgesik antipiretik: oral, Dewasa: 3-4 x sehari 1-2 tablet; sc, im: 0,5-1 g. Adapun efek samping dari metamipron adalah Agranulositosis, insidennya kurang dari 0,01%, risiko meningkat pada dosis tinggi dan penggunaan jangka waktu lama, sehingga tes darah harus dilakukan secara berkala. Intoksikasi akut yang dapat mengakibatkan kejang. 

Sebelum dilakukan pengambilan darah, terlebih dahulu dibuat larutan antikoagulan. Tujuannya dari pembuatan larutan antikoagulan yaitu agar darah tidak mudah menggumpal setelah dilakuakan pencuplikan. Pada pembuatan larutan antikoagulan, terlebih dahulu ditimbang 0,125 gram asam sitrat, kemudian dimasukan kedalam gelas kimia, dilarutkan dengan aquadest, dan diencerkan ke dalam labu takar. Selain larutan antikoagulan, perlu dibuat larutan pengendap. Pembuatan larutan pengendap menggunakan bahan yaitu merkuri II klorida ( HgCl2). Tujuannya dari pembuatan larutan pengendap agar mengendapkan protein yang terdapat didalam darah, sehingga supernatan yang diukur merupakan serum yang mengandung kadar obat. Proses pembuatan larutan pengendap dilakukan dengan melarutkan dengan HCl, Karen HgCl2 tidak larut dalam air dan larut dalam HCl, dan dicukupkan volumenya hingga 100 ml menggunakan aquadest. 

Perlakuan yang pertama dilakukan yaitu menyuntikkan sampel obat ke tubuh tikus dengan mengunakan rute intravena. Kemudian dihitung waktu pengambilan setiap 15 menit setelah penyuntikan dan diulangi pengambilan darah pada 15 menit setelah pengambilan darah sebelumnya. Darah yag diperoleh dimasukkan kedalam tabung sentrifuge, dan ditambahkan larutan antikoagulan. Hal ini bertujuan agar darah yang diperoleh tidak mengalami penggumpalan sehingga hasil yang diperoleh akurat. Setelah diberikan larutan antikoagulan, selanjutnya sampel ditambahkan 5 ml larutan pengendap. Penambahan ini bertujuan agar mengendapkan protein yang terdapat didalam darah, sehingga pada saat dimasukkan kedalam tabung sentrifuge darah tersebut akan mudah terpisah. Langkah selanjutnya yaitu dilakukan sentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Hal ini bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen darah berdasarkan perbedaan berat molekul, dimana komponen yang memiliki berat molekul yang lebih berat akan berada dibawah dan mengendap pada tabung sentrifuge. Kemudian supernatan yang diperoleh akan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

Akan tetapi, sebelum dilakukan pengukuran absorbansi sampel, terlebih dahulu dibuat larutan standar. Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui. Tujuan pembuatan larutan standar pada percobaan ini yaitu untuk membandingkan absorbansi dari larutan baku dang absorbansi dari sampel. Dari larutan standar terseut dapat diperoleh panjang gelombang maksimal untuk mengukur absorbansi sampel. Penggunaan panjang gelombang maksimum dikarenakan di sekitar panjang gelombang maksimum tersebut, bentuk kurva serapan adalah datar sehingga hukum Lambert-Beer akan terpenuhi dengan baik sehingga kesalahan yang ditimbulkan panjang gelombang maksimum dapat diperkecil. 

Langkah selanjutnya yaitu mengukur absorbansi sampel dengan menggunakan spektrofotometri. Prinsip kerja dari spektrofotometri yaitu apabila suatu cahaya monokromatis melewati suatu media atau cairan, maka sebagian cahaya akan diserap, dipantulkan dan dibiaskan. Dari hasil absorbansi yang diperoleh, dapat ditentukan kadar yang dimiliki oleh masing-masing sampel. Kadar pada menit ke 15 sebesar 686,5 mg/L, kadar sampel pada menit ke 30 sebesar 605,25 mg/L, kadar pada menit ke 45 sebesar 452,375 mg/L, kadar pada menit ke 60 sebear 436,625 mg/L, kadar pada menit ke 75 sebesar 351,5 mg/L dan kadar pada menit ke 90 sebesar 289 mg/L. Berdasarkan grafik yang diperoleh dari hubungan antara kadar dan waktu, diperoleh bahwa pada percobaan ini mengikuti model kompartemen I. Hal ini dikarenakan kurva yang diperoleh hanya menunjukkan adanya fase distribusi dan eliminasi, tetapi tidak menunjukkan fase absorbsi. Hal ini dikarenakan rute pemberian obat yang dilakukan menggunakan rute pemberian secara intravena, dimana pada rute pemberian tersebut, kadar obat yang terdapat didalam darah langsung mencapai puncak tanpa melalui fase absorbsi terlebih dahulu.

Berdasarkan model kompartemen tersebut, dapat diketahui persamaan yang mengikuti persamaan tersebut, serta dapat pula diketahui parameter farmakokinetikanya. Persamaan berdasarkan model kompartemen tersebut yaitu Cp = 0,458e-4,778t + 0,437e-6,901t. Berdasarkan persamaana tersebut dapat ditentukan parameter farmakokinetika yang mengikuti model kompartemen tersebut, parameter-parameter tersebut antara lain laju eliminasi, waktu paruh, volume distribusi, klirens dan AUC. Laju eliminasi yang diperoleh yaitu 0,437 menit, waktu paruhnya selama 0,100 jam, volume distribusi yang diperoleh sebesar 0,318 ml/jam dan nilai AUC yang diperoleh sebesar 0,354.

V. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kurva mengikuti model kompartemen 1. Parameter yang digunakan untuk mengukur kadar obat dalam tubuh dengan tikus sebagai sampel percobaan antara lain adalah Vd, Kel, klirens, t1/2 dan AUC. Kel metampiron adalah 0,013/menit. Vd metampiron adalah 0,728 l. Klirens metampiron adalah 0,009464 ml/menit. T1/2 metampiron adalah 53,307 menit. AUC metampiron adalah 0,354.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Arvin, B.K., 2000, Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Gandjar, I,G dan Abdul, R., 2013, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Belajar:Yogyakarta.

Hakim, Lukman., 2012, Farmakokinetik Klinik, Bursa Ilmu, Yogyakarta.

Lestari,P., Sabikis, Pri , I.U., 2011, Analisis Natrium Nitrit Secara Spektrofotometri Visibel Dalam Daging Burger Yang Beredar Di Swalayan Purwokerto, jurnal pharmacy, Vol.08 No. 03.

Ritschell, W. A., 1980, Handbook Of Basic Pharmacokinetics 2nd Ed, Drus Intelligence Publication, INC.

Shargel, L. dan Andrew B.C.Y.U., 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Edisi kedua, Airlangga University Press, Surabaya.