LAPORAN PENGAMBILAN SAMPEL - ElrinAlria
LAPORAN PENGAMBILAN SAMPEL
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN I
PENGAMBILAN SAMPEL
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Produk alamiah hingga saat ini memegang peranan penting dalam penemuan obat. Sekitar 50 persen lebih dari obat yang diakui oleh FDA (Food and Drug Association) merupakan produk alamiah atau derivat produk alamiah (Gu dkk. 2013). Dua puluh persen obat paten yang beredar berasal dari senyawa bahan alam secara langsung, sedangkan sisanya merupakan hasil modifikasi senyawa bahan alam dan hasil sintesis (Verpoorte. 2001). Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kemampuan tumbuhan menghasilkan sejumlah molekul berstruktur kompleks dan beragam yang menakjubkan (Heinrich dkk. 2004).

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya dengan berbagai spesies tumbuhan. Sebagian besar tumbuhan tersebut telah dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan maupun obat-obatan, namun dari 1260 spesies tanaman obat yang ada di Indonesia hanya beberapa spesies yang telah diketahui kandungannya (Aryanti. 2005). Banyaknya penggunaan tanaman sebagai obat tradisional memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut, salah satunya adalah famili Polygonaceae.

B. RUMUSAN MASALAH
Masalah yang diangkat pada percobaan kali ini adalah bagaimanakah teknik mengambil sampel yang benar?

C. TUJUAN
Tujuan yang akan dicapai pada percobaan kali ini adalah untuk mengetahui teknik pengambilan sampel yang benar.

D. MANFAAT
Manfaat yang diterima dari percobaan ini adalah dapat diketahui cara pengambilan sampel yang baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. BAMBU-BAMBU (Polygonum pulchurm Bl.)
Tanaman P. pulchrum Bl., atau biasanya disebut oleh masyarakat Sulawesi Tenggara dengan nama bambu-bambu, sedangkan di daerah Pulau Jawa biasanya disebut ketanan atau kumpai air (Ardianor & Gumiri. 2006) merupakan tumbuhan parenial, dengan batang tegak lurus, keras dan berbulu, kadang-kadang mengarah ke bawah, tinggi 80-100cm. Ukuran bunga cukup besar dan berbentuk rangkaian berwarna putih. Daun berwarna hijau pucat berdimensi 10-15 x1,5-3 cm. Tumbuhan ini di Indonesia banyak ditemukan di daerah rawa maupun perairan dangkal pada ketinggian 100-300m (Shu. 2003). 

Tanaman Polygonum (Polygonaceae) memiliki spesies besar serta manfaat tradisional. Genus ini terdiri dari kira-kira 150-300 spesies dan umumnya tumbuh di tempat basah (rawa). Tanaman ini sering digunakan sebagai obat tradisional, perasa masakan, dan bahan parfum. Studi fitokimia Polygonum dilaporkan bahwa kira-kira 24 spesies dari tanaman Polygonum menghasilkan lebih dari seratus senyawa dengan aktivitas biologi. Senyawa itu termasuk antrakuinon, flavonoid, stilbene, chromon dan terpenoid. Aktivitas biologi triterpen steroid telah dilaporkan -sitosterol sebagai antihelmintik dan aktivitas anti mutagenik, hiperkolesterolemia, anti kanker, dan anti proliferasi sel leukemia pada manusia, dan α-sitosterol sebagai sitotoksik terhadap Artemiasalina (Sahidin, et al., 2014).

Resveratrol (3,49,5-trihydroxystilbene) adalah polifenol phytoalexine alami yang ditemukan dalam tanaman obat dari spesies Polygonum (Polygonaceae). Dalam laporan sebelumnya, kami menunjukkan bahwa resveratrol mengurangi lipogenesis dari palmitat dalam hati dan jaringan adiposa in vivo. Selain itu, kami melaporkan bahwa resveratrol sangat menghambat pembentukan produk 5-lipoxygenase, asam 5-hidroksi-6,8,11,14-eicosatetraenoic, leukotrien B4 dan C4, dan siklooksigenase tromboksan B2 produk dari asam arakidonat. Kami juga menunjukkan efek penghambatan resveratrol pada arachidonic agregasi platelet asam-diinduksi. Resveratrol dan turunannya telah lebih terbukti sangat menghambat degranulasi leukosit polimorfonuklear manusia. Baru-baru ini, telah ada sejumlah laporan bahwa resveratrol menghambat pertumbuhan tumor dan menyebabkan apoptosis sebagai mekanisme kemopreventif kanker (Kimura & Okuda, 2001). Ekstrak Polygonum cuspidatum (PCE) -mengandung resveratrol mengurangi tingkat stres oksidatif dan peradangan pada manusia. Karena beberapa mediator kunci dari resistensi insulin yang mengganggu sinyal insulin transduksi juga proinflamasi (Ghanim et al, 2010).

Polygonum pulchrum Blume terdapat dalam tempat yang dangkal dari rawa, area daerah rawa; 100-300 m. Tanaman ini tumbuh di Guangdong, Guangxi, Taiwan (India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Philippines, Sri Lanka, Thailand, Africa, Australia). Polygonum pulchrum Blume merupakan tumbuhan parenial. Batang tegak lurus, kadang-kadang mengarah ke bawah, tinggi 80-100 cm, tegap, sederhana, berbulu atau keras. Petiolus 1-2 cm; helai daun lanset, 10-15 x 1,5-3 cm, kedua permukaan rapat, cilia 4-6 mm. Susunan bunga di tangkai, tegak lurus, 3-6 cm; daun kecil pada bunga, tiap 3 atau 4 berbunga. Tangkai lebih panjang dari daun kecil pada bunga. Berbentuk rangkaian berwarna putih, 5 bagian; tepal berbentuk bulat panjang, 3-3,5 mm. Termasuk, 7 atau 8 benang sari (Brans, 1826).

B. METODE PEMETIKAN
BAB III
METODE PENELITIAN

A. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN
Pengambilan sampel dilakukan dari beberapa tempat yaitu pada perumahan dosen, lingkunagan UHO, dan kompleks perumahan Magaga. Waktu pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2014 dan 17 Oktober 2014, sore hari pukul 16.00-17.00 WITA.

B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakanpada percobaan ini adalah kantung plastik.

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah Polygonum pulchurm Bl.

C. PROSEDUR KERJA
  1. Mencari lokasi dimana terdapat sampel Polygonum puchurm Bl. 
  2. Setelah lokasi diketahui, ditunggu hingga sore hari. 
  3. Dipetik bunga Polygonum pulchurm Bl. 
  4. Dimasukkan sampel bunga polygonum pulchurm Bl. kedalam kantung plastic 
  5. Dibungkus sampel dalam kertas Koran kemudian bungkus lagi dengan plastik 
  6. Disimpan pada lemari es. 
LAPORAN PENGAMBILAN SAMPEL

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
(cari sendiri :v)

B. PEMBAHASAN
Dalam melakukan penelitian dalam bidang fitokimia, hal pertama yang harus dilakukan adalah pengambilan sampel. Pengambilan sampel merupakan salah satuh tahap yang sebelum dilakukannya preparasi, ekstraksi, uji aktivitas ekstrak, isolasi dan identifikasi serta uji aktivitas senyawa yang terkandung dalam suatu tanaman.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Polygonum pulchurm Bl. Tumbuhan ini banyak terdapat di daerah Sulawesi Tenggara. Tumbuhan ini banyak ditemukan tumbuh liar di daerah berair khususnya dirawa. Dilihat dari segi etnobotani, tanaman ini biasa dimanfaatkan warga sebagai sebagai penambah stamina, depuratif dan sebagai antibakteri.

Ada perlakuan atau cara khusus dalam pengambilan sampel bahan alam, khususnya tumbuhan. Cara pengambilan sampel yang berasal dari bagian tumbuhan/tanaman yaitu pada akar (Radix), diambil bagian yang berada di bawah tanah. Batang (Caulis), diambil mulai dari cabang pertama sampai leher akar, dipotong dengan panjang dan diameter tertentu. Kulit batang/klika (Kortex), diambil dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu dan tidak mengambilnya dengan satu lingkaran penuh pada batang. Kayu (Lignum) diambil dari cabang atau batang, kulit dikelupas dan dipotong-potong kecil. Daun (Folium), diambil daun tua (bukan daun kuning) daun kelima dari pucuk. Daun dipetik satu persatu secara manual. Bunga (Flos), dapat berupa kuncup, bunga mekar atau mahkota bunga atau daun bunga, dipetik langsung dengan tangan. Rimpang (Rhizoma), diambil dan dibersihkan dari bulu-bulu akar, kemudian dipotong melintang dengan ketebalan tertentu. Dipanen pada saat daun meluruh (layu). Buah (Fructus), dapat berupa buah matang, buah muda, dipetik dengan tangan. Biji (Semen), buah dikupas dan biji dikumpulkan dan dibersihkan, diambil dari buah yang masak. Hal ini dikarenakan setiap sampel memiliki sifat yang berbeda dari sampel yang lain. Selain itu, waktu pengambilan dan alat yang digunakan pada saat pengambilan serta cara pengolahannya setelah masa pengumpulan/panen telah dilakukan.

Sampel pada penelitian ini diambil berupa bunga Polygonum pulchurm Bl. seperti yang dijelaskan diatas, sampel bunga diambil dengan cara dipetik dengan tangan. Hal ini dikarenakan bunga tidak memiliki bagian yang cukup kokoh terikat pada batang tanaman. Selain itu, apabila digunakan alat bantu seperti pisau untuk memotong bunga dari tangkai atau batang tanaman, komponen kimia yang ada pada sampel akan bereaksi dengan alat bantu tersebut. Berdasarkan literatur untuk pemilihan waktu, bunga sebaiknya dipetik pada pukul 6-10 pagi, karena menghasilkan rendemen dua kali lebih besar daripada pemetikan pada siang dan sore hari. Intensitas sinar matahari belum begitu kuat sehingga proses fotosintesis belum dimulai sepenuhnya. Rendemen adalah jumlah produk reaksi yang dihasilkan pada reaksi kimia dalam tumbuhan. Kali ini pemetikan dilakukan pada sore hari. Sampel yang telah diambil dibungkus dengan Koran lalu dengan plastik dan dimasukkan kedalam kulkas untuk tetap menjaga rendemen, kualitas dan bau dari bunga yang telah diambil. Sebaiknya sampel yang telah diambil segera diolah karena Sampel yang basah sangat rentan tehadap pertumbuhan mikroba. Maksimal penyimpanan sampel basah adalah 3 hari, apabila dimasukkan ke dalam lemari pendingin akan lebih lama karena akan mempersulit pertumbuhan mikroba.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pengambilan sampel tanaman yang baik dilakukan pada pagi hari.

B. SARAN
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah kepada asisten pratikum agar menerangkan lebih lanjut terlebih dahulu tentang tata cara pengambilan sampel agar dapat memberikan hasil laporan yang lebih baik dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA
Ardrianor, S. Gumiri, 2006, Tinauan Limnologi, Perairan Tawar Kalimantan, Tengah, Journal of Tropical Fisheries, Vol. 1(2).

Aryanti, 2005, Isolasi Senyawa Antikanker dari Akar Berambut Artemisia cina dan Aktivitas Inhibisinya Terhadap Sel kanker Mulut Rahim, Majalah Farmasi Indonesia, Vol. 16(4).

Brans, PH., 1826, Nederlands Pharmacopeia, Pharm Weekbl., Nederland.

Ghanim , Husam, Chang Ling Sia, Sanaa Abuaysheh, Kelly Korzeniewski, Priyanka Patnaik, Anuritha Marumganti, Ajay Chaudhuri, and Paresh Dandona, 2010, An Antiinflammatory and Reactive Oxygen Species Suppressive Effects of an Extract of Polygonum Cuspidatum Containing Resveratrol, J Clin Endocrinol Metab, Vol. 95(9).

Ghu, J., Y. L. Xhen, G. Yuan, H. Lu, X. Xu, 2013, Use of Natural Products as Chemical Library for Drug Discovery and Network Pharmacology, Plos One, Vol. 8(4).

Kimura, Yoshiyuki, Hiromichi Okuda, 2001, Resveratrol Isolated from Polygonum cuspidatum Root Prevents Tumor Growth and Metastasis to Lung and Tumor-Induced Neovascularization in Lewis Lung Carcinoma-Bearing Mice, The Journal of Nutrition,Vol, 1(1). 

Sahidin, Nohong, Asrul S., Marianti A., Asep S., Harto W. & Syarulnataqain B., Radical Scavenging Activity Of Triterpene Steroids From Stem Of Polygonum pulchrum Bl., International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Vol.6 (8).

Shu, L., 2003, Polygonum Linneus, Flora of China, Vol. 5(1).

Verpoorte, R., 2001, Exploration Of Nature‘S Chemodiversity: The Role Of Secondary Metabolites As Leads In Drug Developments, Drug Discovery, Vol.3.

LAPORAN PENGAMBILAN SAMPEL

LAPORAN PENGAMBILAN SAMPEL
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN I
PENGAMBILAN SAMPEL
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Produk alamiah hingga saat ini memegang peranan penting dalam penemuan obat. Sekitar 50 persen lebih dari obat yang diakui oleh FDA (Food and Drug Association) merupakan produk alamiah atau derivat produk alamiah (Gu dkk. 2013). Dua puluh persen obat paten yang beredar berasal dari senyawa bahan alam secara langsung, sedangkan sisanya merupakan hasil modifikasi senyawa bahan alam dan hasil sintesis (Verpoorte. 2001). Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kemampuan tumbuhan menghasilkan sejumlah molekul berstruktur kompleks dan beragam yang menakjubkan (Heinrich dkk. 2004).

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya dengan berbagai spesies tumbuhan. Sebagian besar tumbuhan tersebut telah dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan maupun obat-obatan, namun dari 1260 spesies tanaman obat yang ada di Indonesia hanya beberapa spesies yang telah diketahui kandungannya (Aryanti. 2005). Banyaknya penggunaan tanaman sebagai obat tradisional memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut, salah satunya adalah famili Polygonaceae.

B. RUMUSAN MASALAH
Masalah yang diangkat pada percobaan kali ini adalah bagaimanakah teknik mengambil sampel yang benar?

C. TUJUAN
Tujuan yang akan dicapai pada percobaan kali ini adalah untuk mengetahui teknik pengambilan sampel yang benar.

D. MANFAAT
Manfaat yang diterima dari percobaan ini adalah dapat diketahui cara pengambilan sampel yang baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. BAMBU-BAMBU (Polygonum pulchurm Bl.)
Tanaman P. pulchrum Bl., atau biasanya disebut oleh masyarakat Sulawesi Tenggara dengan nama bambu-bambu, sedangkan di daerah Pulau Jawa biasanya disebut ketanan atau kumpai air (Ardianor & Gumiri. 2006) merupakan tumbuhan parenial, dengan batang tegak lurus, keras dan berbulu, kadang-kadang mengarah ke bawah, tinggi 80-100cm. Ukuran bunga cukup besar dan berbentuk rangkaian berwarna putih. Daun berwarna hijau pucat berdimensi 10-15 x1,5-3 cm. Tumbuhan ini di Indonesia banyak ditemukan di daerah rawa maupun perairan dangkal pada ketinggian 100-300m (Shu. 2003). 

Tanaman Polygonum (Polygonaceae) memiliki spesies besar serta manfaat tradisional. Genus ini terdiri dari kira-kira 150-300 spesies dan umumnya tumbuh di tempat basah (rawa). Tanaman ini sering digunakan sebagai obat tradisional, perasa masakan, dan bahan parfum. Studi fitokimia Polygonum dilaporkan bahwa kira-kira 24 spesies dari tanaman Polygonum menghasilkan lebih dari seratus senyawa dengan aktivitas biologi. Senyawa itu termasuk antrakuinon, flavonoid, stilbene, chromon dan terpenoid. Aktivitas biologi triterpen steroid telah dilaporkan -sitosterol sebagai antihelmintik dan aktivitas anti mutagenik, hiperkolesterolemia, anti kanker, dan anti proliferasi sel leukemia pada manusia, dan α-sitosterol sebagai sitotoksik terhadap Artemiasalina (Sahidin, et al., 2014).

Resveratrol (3,49,5-trihydroxystilbene) adalah polifenol phytoalexine alami yang ditemukan dalam tanaman obat dari spesies Polygonum (Polygonaceae). Dalam laporan sebelumnya, kami menunjukkan bahwa resveratrol mengurangi lipogenesis dari palmitat dalam hati dan jaringan adiposa in vivo. Selain itu, kami melaporkan bahwa resveratrol sangat menghambat pembentukan produk 5-lipoxygenase, asam 5-hidroksi-6,8,11,14-eicosatetraenoic, leukotrien B4 dan C4, dan siklooksigenase tromboksan B2 produk dari asam arakidonat. Kami juga menunjukkan efek penghambatan resveratrol pada arachidonic agregasi platelet asam-diinduksi. Resveratrol dan turunannya telah lebih terbukti sangat menghambat degranulasi leukosit polimorfonuklear manusia. Baru-baru ini, telah ada sejumlah laporan bahwa resveratrol menghambat pertumbuhan tumor dan menyebabkan apoptosis sebagai mekanisme kemopreventif kanker (Kimura & Okuda, 2001). Ekstrak Polygonum cuspidatum (PCE) -mengandung resveratrol mengurangi tingkat stres oksidatif dan peradangan pada manusia. Karena beberapa mediator kunci dari resistensi insulin yang mengganggu sinyal insulin transduksi juga proinflamasi (Ghanim et al, 2010).

Polygonum pulchrum Blume terdapat dalam tempat yang dangkal dari rawa, area daerah rawa; 100-300 m. Tanaman ini tumbuh di Guangdong, Guangxi, Taiwan (India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Philippines, Sri Lanka, Thailand, Africa, Australia). Polygonum pulchrum Blume merupakan tumbuhan parenial. Batang tegak lurus, kadang-kadang mengarah ke bawah, tinggi 80-100 cm, tegap, sederhana, berbulu atau keras. Petiolus 1-2 cm; helai daun lanset, 10-15 x 1,5-3 cm, kedua permukaan rapat, cilia 4-6 mm. Susunan bunga di tangkai, tegak lurus, 3-6 cm; daun kecil pada bunga, tiap 3 atau 4 berbunga. Tangkai lebih panjang dari daun kecil pada bunga. Berbentuk rangkaian berwarna putih, 5 bagian; tepal berbentuk bulat panjang, 3-3,5 mm. Termasuk, 7 atau 8 benang sari (Brans, 1826).

B. METODE PEMETIKAN
BAB III
METODE PENELITIAN

A. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN
Pengambilan sampel dilakukan dari beberapa tempat yaitu pada perumahan dosen, lingkunagan UHO, dan kompleks perumahan Magaga. Waktu pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2014 dan 17 Oktober 2014, sore hari pukul 16.00-17.00 WITA.

B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakanpada percobaan ini adalah kantung plastik.

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah Polygonum pulchurm Bl.

C. PROSEDUR KERJA
  1. Mencari lokasi dimana terdapat sampel Polygonum puchurm Bl. 
  2. Setelah lokasi diketahui, ditunggu hingga sore hari. 
  3. Dipetik bunga Polygonum pulchurm Bl. 
  4. Dimasukkan sampel bunga polygonum pulchurm Bl. kedalam kantung plastic 
  5. Dibungkus sampel dalam kertas Koran kemudian bungkus lagi dengan plastik 
  6. Disimpan pada lemari es. 
LAPORAN PENGAMBILAN SAMPEL

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
(cari sendiri :v)

B. PEMBAHASAN
Dalam melakukan penelitian dalam bidang fitokimia, hal pertama yang harus dilakukan adalah pengambilan sampel. Pengambilan sampel merupakan salah satuh tahap yang sebelum dilakukannya preparasi, ekstraksi, uji aktivitas ekstrak, isolasi dan identifikasi serta uji aktivitas senyawa yang terkandung dalam suatu tanaman.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Polygonum pulchurm Bl. Tumbuhan ini banyak terdapat di daerah Sulawesi Tenggara. Tumbuhan ini banyak ditemukan tumbuh liar di daerah berair khususnya dirawa. Dilihat dari segi etnobotani, tanaman ini biasa dimanfaatkan warga sebagai sebagai penambah stamina, depuratif dan sebagai antibakteri.

Ada perlakuan atau cara khusus dalam pengambilan sampel bahan alam, khususnya tumbuhan. Cara pengambilan sampel yang berasal dari bagian tumbuhan/tanaman yaitu pada akar (Radix), diambil bagian yang berada di bawah tanah. Batang (Caulis), diambil mulai dari cabang pertama sampai leher akar, dipotong dengan panjang dan diameter tertentu. Kulit batang/klika (Kortex), diambil dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu dan tidak mengambilnya dengan satu lingkaran penuh pada batang. Kayu (Lignum) diambil dari cabang atau batang, kulit dikelupas dan dipotong-potong kecil. Daun (Folium), diambil daun tua (bukan daun kuning) daun kelima dari pucuk. Daun dipetik satu persatu secara manual. Bunga (Flos), dapat berupa kuncup, bunga mekar atau mahkota bunga atau daun bunga, dipetik langsung dengan tangan. Rimpang (Rhizoma), diambil dan dibersihkan dari bulu-bulu akar, kemudian dipotong melintang dengan ketebalan tertentu. Dipanen pada saat daun meluruh (layu). Buah (Fructus), dapat berupa buah matang, buah muda, dipetik dengan tangan. Biji (Semen), buah dikupas dan biji dikumpulkan dan dibersihkan, diambil dari buah yang masak. Hal ini dikarenakan setiap sampel memiliki sifat yang berbeda dari sampel yang lain. Selain itu, waktu pengambilan dan alat yang digunakan pada saat pengambilan serta cara pengolahannya setelah masa pengumpulan/panen telah dilakukan.

Sampel pada penelitian ini diambil berupa bunga Polygonum pulchurm Bl. seperti yang dijelaskan diatas, sampel bunga diambil dengan cara dipetik dengan tangan. Hal ini dikarenakan bunga tidak memiliki bagian yang cukup kokoh terikat pada batang tanaman. Selain itu, apabila digunakan alat bantu seperti pisau untuk memotong bunga dari tangkai atau batang tanaman, komponen kimia yang ada pada sampel akan bereaksi dengan alat bantu tersebut. Berdasarkan literatur untuk pemilihan waktu, bunga sebaiknya dipetik pada pukul 6-10 pagi, karena menghasilkan rendemen dua kali lebih besar daripada pemetikan pada siang dan sore hari. Intensitas sinar matahari belum begitu kuat sehingga proses fotosintesis belum dimulai sepenuhnya. Rendemen adalah jumlah produk reaksi yang dihasilkan pada reaksi kimia dalam tumbuhan. Kali ini pemetikan dilakukan pada sore hari. Sampel yang telah diambil dibungkus dengan Koran lalu dengan plastik dan dimasukkan kedalam kulkas untuk tetap menjaga rendemen, kualitas dan bau dari bunga yang telah diambil. Sebaiknya sampel yang telah diambil segera diolah karena Sampel yang basah sangat rentan tehadap pertumbuhan mikroba. Maksimal penyimpanan sampel basah adalah 3 hari, apabila dimasukkan ke dalam lemari pendingin akan lebih lama karena akan mempersulit pertumbuhan mikroba.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pengambilan sampel tanaman yang baik dilakukan pada pagi hari.

B. SARAN
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah kepada asisten pratikum agar menerangkan lebih lanjut terlebih dahulu tentang tata cara pengambilan sampel agar dapat memberikan hasil laporan yang lebih baik dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA
Ardrianor, S. Gumiri, 2006, Tinauan Limnologi, Perairan Tawar Kalimantan, Tengah, Journal of Tropical Fisheries, Vol. 1(2).

Aryanti, 2005, Isolasi Senyawa Antikanker dari Akar Berambut Artemisia cina dan Aktivitas Inhibisinya Terhadap Sel kanker Mulut Rahim, Majalah Farmasi Indonesia, Vol. 16(4).

Brans, PH., 1826, Nederlands Pharmacopeia, Pharm Weekbl., Nederland.

Ghanim , Husam, Chang Ling Sia, Sanaa Abuaysheh, Kelly Korzeniewski, Priyanka Patnaik, Anuritha Marumganti, Ajay Chaudhuri, and Paresh Dandona, 2010, An Antiinflammatory and Reactive Oxygen Species Suppressive Effects of an Extract of Polygonum Cuspidatum Containing Resveratrol, J Clin Endocrinol Metab, Vol. 95(9).

Ghu, J., Y. L. Xhen, G. Yuan, H. Lu, X. Xu, 2013, Use of Natural Products as Chemical Library for Drug Discovery and Network Pharmacology, Plos One, Vol. 8(4).

Kimura, Yoshiyuki, Hiromichi Okuda, 2001, Resveratrol Isolated from Polygonum cuspidatum Root Prevents Tumor Growth and Metastasis to Lung and Tumor-Induced Neovascularization in Lewis Lung Carcinoma-Bearing Mice, The Journal of Nutrition,Vol, 1(1). 

Sahidin, Nohong, Asrul S., Marianti A., Asep S., Harto W. & Syarulnataqain B., Radical Scavenging Activity Of Triterpene Steroids From Stem Of Polygonum pulchrum Bl., International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Vol.6 (8).

Shu, L., 2003, Polygonum Linneus, Flora of China, Vol. 5(1).

Verpoorte, R., 2001, Exploration Of Nature‘S Chemodiversity: The Role Of Secondary Metabolites As Leads In Drug Developments, Drug Discovery, Vol.3.