LAPORAN PENYIAPAN SIMPLISIA DAN METODE EKSTRAKSI - ElrinAlria

LAPORAN PENYIAPAN SIMPLISIA DAN METODE EKSTRAKSI

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA IPERCOBAAN I DAN II

A. TUJUAN 
Tujuan pada percobaan ini yaitu: 
  1. Dapat mengetahui cara pembuatan sampel atau simplisia yang baik 
  2. Dapat mengetahui prinsip terektraksinya komponen kimia dari bahan alam 
  3. Dapat mengetahui jenis-jenis metode ekstraksi bahan alam 
  4. Dapat mengetahui ekstraksi komponen kimia dari bahan alam 

B. LANDASAN TEORI 
Simplisia merupakan hasil proses sederhana dari herba tanaman obat yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat. Pembuatan simplisia dengan cara pengeringan dimaksudkan untuk menurunkan kandungan air dalam bahan. Jika kadar air dalam bahan masih tinggi dapat medorong enzim melakukan aktifitasnya mengubah kandungan kimia yang ada dalam bahan menjadi produk lain yang mungkin tidak lagi memiliki efek farmakologi seperti senyawa aslinya. Hal ini tidak akan terjadi jika bahan yang telah dipanen segera dikeringkan sehingga kadar airnya rendah. Beberapa enzim perusak kandungan kimia yang telah lama dikenal antara lain hidrolase, oksidase dan polimerase.(1) 

Suatu simplisia tidak dapat dikatakan bermutu jika tidak memenuhi persyaratan mutu yang tertera dalam monografi simplisia. Persyaratan mutu yang tertera dalam monografi simplisia antara lain susut pengeringan, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, dan kandungan kimia simplisia meliputi kadar minyak atsiri dan kadar kurkuminoid. Persyaratan mutu ini berlaku bagi simplisia yang digunakan dengan tujuan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan.(2) 

Ekstrak merupakan kumpulan senyawa-senyawa dari berbagai golongan yang terlarut didalam pelarut yang sesuai, termasuk didalamnya senyawa-senyawa aktif atau yang tidak aktif. Pengolahan ekstraksi bahan tumbuhan obat dengan pelarut yang sesuai (air, alkohol dan pelarut organik lain) menjadi ekstrak cair atau ekstrak kering banyak dilakukan untuk tujuan standarisasi sediaan obat herba sekaligus memberi keuntungan dari segi formulasi sediaannya.(1) 

Ekstrak sebagai bahan dan produk kefarmasian yang berasal dari simplisia harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan untuk dapat menjadi obat herbal terstandar atau obat fitofarmaka. Salah satu parameter mutu ekstrak secara kimia adalah kandungan senyawa aktif simplisia tersebut. Selain itu, parameter non spesifik juga diperlukan untuk mengetahui mutu ekstrak.(2) 

Ekstraksi (sebagai istilah yang digunakan secara farmasi) adalah pemisahan bagian aktif medicinally tanaman (dan hewan) jaringan menggunakan pelarut selektif melalui prosedur standar. Teknik ekstraksi seperti memisahkan metabolit tanaman larut dan meninggalkan di belakang marc seluler larut. Produk yang diperoleh dari tanaman campuran relatif kompleks metabolit, dalam keadaan cair atau semipadat atau (setelah menghapus pelarut) dalam bentuk bubuk kering, dan dimaksudkan untuk penggunaan oral atau eksternal. Ini termasuk kelas persiapan dikenal sebagai decoctions, infus, ekstrak cairan, tincture, pilular (setengah padat) ekstrak atau bubuk ekstrak. Persiapan tersebut telah populer disebut galenicals, dinamai Galen, dokter Yunani abad kedua. Tujuan dari prosedur ekstraksi standar untuk simplisia (bagian tanaman obat) adalah untuk mencapai bagian terapi yang diinginkan dan untuk menghilangkan bahan yang tidak diinginkan oleh pengobatan dengan pelarut selektif dikenal sebagai pencair. Ekstrak yang diperoleh, setelah standardisasi, dapat digunakan sebagai agen obat seperti itu dalam bentuk tincture atau ekstrak cairan atau diproses lebih lanjut untuk dimasukkan dalam bentuk sediaan seperti tablet dan kapsul. Produk-produk ini semua berisi campuran kompleks dari berbagai metabolit tanaman obat, seperti alkaloid, glikosida, terpenoid, flavonoid dan lignan. Untuk digunakan sebagai obat modern, ekstrak dapat diproses lebih lanjut melalui berbagai teknik fraksinasi untuk mengisolasi entitas kimia individu seperti vinkristin, vinblastin, hyoscyamine, hiosin, pilokarpin, forskolin dan kodein.(3) 

Maserasi. Dalam proses ini, seluruh atau kasar bubuk simplisia ditempatkan dalam wadah bertutup dengan pelarut dan didiamkan pada suhu kamar selama minimal 3 hari dengan sering agitasi sampai materi larut larut. Campuran kemudian disaring, yang marc (bahan padat basah) ditekan, dan cairan gabungan diklasifikasikan oleh filtrasi atau dekantasi setelah berdiri.(3) 

Infusi. Infus segar disusun oleh macerating obat mentah untuk waktu singkat dengan air dingin atau mendidih. Ini adalah solusi encer dari konstituen mudah larut obat mentah.(3) 

Dekokta. Dalam proses ini, simplisia direbus dalam volume tertentu air untuk waktu yang ditentukan; itu kemudian didinginkan dan disaring atau disaring. Prosedur ini cocok untuk mengekstraksi larut dalam air, konstituen panas yang stabil. Proses ini biasanya digunakan dalam penyusunan ekstrak Ayurvedic disebut "kwath" atau "kwath". Rasio mulai dari simplisia ke air yang tetap, misalnya 1: 4 atau 1:16; Volume ini kemudian dibawa ke seperempat volume awalnya dengan merebus selama prosedur ekstraksi. Kemudian, ekstrak terkonsentrasi disaring dan digunakan seperti atau diproses lebih lanjut.(3) 

Perkolasi. Ini adalah prosedur yang paling sering digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan ekstrak cairan. Sebuah cerek penapis (sempit, berbentuk kerucut terbuka kapal di kedua ujungnya) umumnya digunakan. Bahan-bahan padat dibasahi dengan jumlah yang tepat dari pencair ditentukan dan didiamkan selama sekitar 4 jam dalam wadah tertutup baik, setelah massa dikemas dan atas perkolator ditutup. Pencair tambahan ditambahkan untuk membentuk lapisan dangkal di atas massa, dan campuran dibiarkan basah dalam cerek penapis tertutup selama 24 jam. Outlet cerek penapis kemudian dibuka dan cairan yang terkandung di dalamnya diperbolehkan menetes perlahan. Pencair tambahan ditambahkan sebagai diperlukan, sampai tindakan meresap sekitar tiga-perempat dari volume yang diperlukan dari produk jadi. Marc ini kemudian ditekan dan cairan menyatakan ditambahkan ke cerek penapis tersebut. Pencair yang cukup ditambahkan untuk menghasilkan volume yang dibutuhkan, dan cairan campuran adalah klarifi ed dengan penyaringan atau dengan berdiri diikuti oleh decanting.(3)

Pemilihan pelarut sangat penting dalam proses ekstraksi sehingga bahan berkhasiat yang akan ditarik dapat tersari sempurna. Departemen Kesehata merekomendasikan air, alkohol dan air dengan alkohol untuk cairan penyari ekstrak untuk keperluan bahan baku obat tradisional.(1) 

Syarat pelarut yang digunakan sebagai berikut: 1. Harus dapat melarutkan semua zat wangi bunga dengan cepat dan sempurna, dan sedikit mungkin melarutkan bahan seperti: lilin, pigmen, serta pelarut harus bersifat selektif. 2. Harus mempunyai titik didih yang cukup rendah, agar pelarut mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi. 3. Pelarut tidak boleh larut dalam air. 4. Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan komponen minyak bunga. 5. Pelarut harus mempunyai titik didih yang seragam, dan jika diuapkan tidak akan tertinggal dalam minyak. 6. Harga pelarut harus serendah mungkin, dan tidak mudah terbakar.(4)

Pada mulanya istilah “minyak atsiri” adalah istilah yang digunakan untuk minyak yang bersifat mudah menguap, yang terdiri dari campuran zat yang mudah menguap, dengan komposisi dan titik didih yang berbeda-beda. Minyak atsiri yang mudah menguap terdapat di dalam kelenjar minyak yang harus dibebaskan sebelum disuling yaitu dengan merajang/memotong jaringan tanaman dan membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin, sehingga minyak dapat dengan mudah diuapkan. Minyak atsiri banyak digunakan dalam industri sebagai pemberi aroma dan rasa. Nilai jual dari minyak atsiri sangat ditentukan oleh kualitas minyak dan kadar komponen utamanya.(4) 

Minyak atsiri digunakan dalam berbagai macam barang-barang konsumen seperti deterjen, sabun, produk toilet, kosmetik, obat-obatan, parfum, produk makanan kembang gula, minuman ringan, minuman beralkohol suling (minuman keras) dan insektisida. Produksi dunia dan konsumsi minyak esensial dan parfum meningkat sangat cepat. Teknologi produksi merupakan elemen penting untuk meningkatkan hasil keseluruhan dan kualitas minyak esensial. Teknologi tradisional yang berkaitan dengan pengolahan minyak esensial yang sangat penting dan masih digunakan di berbagai belahan dunia. Penyulingan air, air dan uap destilasi, distilasi uap, cohobation, maserasi dan enfleurage adalah metode yang paling tradisional dan umum digunakan.(3) 

Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri. tanaman nilam (Pogestemon cablin), berupa semak dan dapat tumbuh diberbagai jenis tanah (andosol, latosol, regosol, podsolik, dan grumusol) dengan tekstur lempung, liat berpasir dengan drainase yang baik dan pH tanah 5-7. Tanaman ini membutuhkan curah hujan atau ketersediaan air yang cukup dengan suhu 24-28 °C.(5)

Minyak atsiri pada tanaman Nilam terdapat pada pada bagian akar, batang, ranting maupun daun tanaman. Umumnya, kandungan minyak atsiri pada bagian akar, batang dan ranting tanaman Nilam lebih kecil (0,4-0,5%) dibandingkan kandungan minyak atsiri pada bagian daun (2,5-5,0%). Minyak Nilam biasanya digunakan sebagai fiksatif (zat pengikat) dalam industri parfum dan merupakan salah satu campuran pembuatan produk kosmetika seperti sabun, pasta gigi, sampo, lotion, deodoran dan tonik rambut. Minyak Nilam juga bermanfaat dalam pembuatan obat antiradang, antifungi, antiserangga, afrodisiak, anti-inflamasi, antidepresi, antiflogistik dan dekongestan. Minyak Nilam juga terbukti dapat mencerahkan kulit dan mengobati jerawat.(6) 

C. METODE KERJA 
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu: 
  • a. Gelas kimia 
  • b. Panci 
  • c. Saringan 
  • d. Sendok tanduk 
  • e. Spatula besi 
  • f. Toples kaca 
  • g. Wadah kaca 
  • h. Wadah penangas air 
  • i. Waterbath 

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu: 
  • a. Aquadest 
  • b. Kain flanel 
  • c. Sampel daun nilam 

3. Prosedur Kerja
LAPORAN PENYIAPAN SIMPLISIA DAN METODE EKSTRAKSI


D. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENYIAPAN SIMPLISIA DAN METODE EKSTRAKSI

E. PEMBAHASAN
Simplisia adalah bahan alamiah yang diunakan sebagao obat yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang dikeringkan.

Sampel yang digunakan pada percobaan ini yaitu daun nilam yang mengandung minyak atsiri. Nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri. Nilam berupa semak dan dapat tumbuh diberbagai jenis tanah. Kandungan minyak atsiri pada nilam terdapat pada akar, batang, ranting dan daun. Akan tetapi, kandungan minyak atsiri pada daun lebih banyak dibandingkan pada bagian-bagian yang lain.

Nilam terlebih dahulu akan dipreparasi sebelum digunakan untuk menghasilkan simplisia yang baik. Proses preparasi tersebut dimulai dari proses pengumpulan bahan baku,. Dalam proses pengumpulan bahan baku, dapat dipengauhi oleh waktu pengumpulan dan teknik pengumpulan. Setelah bahan baku terkumpul, langkah selanjutnya yaitu dilakukan proses sortasi basah. Proses ini bertujan untuk membersihkan sampel dari benda-benda asing seperti tanah, kerikil, rumput, bagian tanaman yang telah mati dan bahan yang lain. Langkah selanjutnya yaitu proses pencucian yang bertujuan untuk memastikan bahwa sampel bernar-benar bersih dari benda asing. Dalam proses pencucian menggunakan air. Akan tetapi, air yang digunakan harus diperhatikan agar tidak mengganggu pada proses penyarian simplisia akibat air yang telah tercemar. Proses yang terakhir yaitu perajangan/perubahan bentuk yang dimiliki oleh sampel. Hal in bertujuan untuk memperkecil luas permukaan yang terdapat pada sampel agar pada saat proses ekstraksi, pelarut yang digunakan dapat dengan mudah menarik senyawa-senyawa yang terkandung di dalam sampel.

Simplisia yang diperoleh selanjutnya akan diekstraksi menggunakan metode yang sesuai. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan bagian aktif dari tanaman meggunakan pelarut yang selektif melalui prosedur yang standar. Tujuan dari proses ekstraksi yaitu untuk mencapai bagian terapi yang diinginkan dan untuk menghilangkan bahan yang tidak digunakan untuk pengobatan dengan menggunakan pelarut yang selektif. Pelarut yang digunakan juga harus memenuhi syarat yang telah ditentukan. Syarat tersebut diantaranya harus dapat melarutkan semua senyawa yang terdapat pada sampel, mempunyai titik didih yang cukup rendah agar mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu yang tinggi, serta pelarut harus bersifat inert.

Terdapat beberapa metode ekstraksi diantaranya metode maserasi, refluks, soxhletasi, perkolasi dan infusa. Akan tetapi, metode yang digunakan yaitu metode infusa. Infusa merupakan suatu metode penyarian dengan cara menyari simplisia dalam air pada suhu 90°C selama 15 menit. Metode ini merupakan metode yang umum dilakukan untuk menyari zat dengan kandungan zat aktif yang dapat larut didalam air yang berasal dari bahan-bahan nabati. Metode infusa memiliki beberapa keuntungan diantaranya alat yang digunakan sederhana serta biaya yang dibutuhkan relatif rendah. Sedangkan kerugiannya yaitu zat-zat yang tertarik kemungkinan akan mengendap kembali apabila sudah dingin, serta tidak dapat digunakan untuk zat yang tidak tahan terhadap pemanasan.

Penyarian dengan metode infusa dilakukan dengan membasahi simplisia menggunakan cairan penyari (aquadest) yang terdapat didalam wadah. Setelah itu, dimasukkan kedalam wadah penangas air dan dipanaskan selama 15 menit terhitung pada suhu 90°C, sambil sesekali diaduk. Setelah 15 menit, hasil infusa diangkat dan disaring menggunakan kain flanel. Setelah itu, dimasukkan kedalam toples kaca dan didinginkan. Pada proses penyarian, pelarut yang digunakan mengalami perubahan warna dari bening menjadi hitam. Hal ini dikarenakan terjadinya proses terekstraksinya zat aktif yang terdapat didalam sampel. Dimana aquadest akan menembus dinding sel dan mesuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, yang mengakibatkan zat aktif akan terlarut sehingga terjadi perbedaan knsentrasi antara larutan zat aktid yang terdapat didalam sel dan pelarut diluar sel. Larutan dengan konsentrasi tinggi akan berdifusi keluar sel, dan proses ini akan terus berlangsung hingga terjadinya kesetimbangan antara konsentrasi zat aktif didalam sel dan diluar sel.

Hasil infusa yang telah dingin, selanjutnya dipindahkan kedalam gelas kimia untuk dimasukkan kedalam waterbath. Hal ini bertujuan untuk menguapkan pelarut yang digunakan sehingga dapat diperoleh ekstrak kenatal. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya akan dimasukkan kedalam wadah kaca untuk selanjutnya akan dihitung nilai rendemennya. Perhitungan nilai rendemen dapat dilakukan dengan membandingkan berat ekstrak dan berat sampel segar. Akan tetapi, berat ekstrak dapat diperoleh dengan mengurangkan berat ekstrak ditambah dengan wadah dengan berat wadah kosong sehingga diperoleh berat ekstrak sebesar 37,8 gram, dan nilai rendemen sebesar 7,56%.

F. KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini adalah:
  1. Cara pembuatan sampel atau simplisia yang baik yaitu dengan mengambil sampel dan merajang sampel dengan benar.
  2. Prinsip terekstraksinya komponen kimia dari bahan alam yaitu dimana pelarut organik akan menembus dinding sel dan mesuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, yang mengakibatkan zat aktif akan terlarut sehingga terjadi perbedaan knsentrasi antara larutan zat aktid yang terdapat didalam sel dan pelarut diluar sel. Larutan dengan konsentrasi tinggi akan berdifusi keluar sel, dan proses ini akan terus berlangsung hingga terjadinya kesetimbangan antara konsentrasi zat aktif didalam sel dan diluar sel. 
  3. Macam-macam metode ekstraksi yaitu maserasi, soxhletasi, perkolasi, refluks, dan metode infusa. 
  4. Ekstraksi komponen kimia dari bahan alam menggunakan metode yang telah digunakan dalam hal ini menggunakan metode infusa. 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Ma’um, S. Suhirman, F. Manoi, B. S. Sembiring, Tritianingsih, M. Sukmasari, A. Gani, Tjitjah F., dan D. Kuswita, 2006, Teknik Pembuatan Simplisia Dan Ekstran Purwoceng, Laporan Pelaksanaan Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.
  2. Azizah, B., dan Nina S., 2013, Standarisasi Parameter Non Spesifik Dan Perbandingan Kadar Kurkumin Ekstrak Etanol Dan Ekstrak Terpurifikasi Rimpang Kunyit, Jurnal Ilmiah Kefarmasian, Vol. 3, No. 1. 
  3. Handa, Sukhdev Swami, Suman Preet Singh Khanuja, Gennaro Longo, and Dev Dutt Rakesh, 2008, Extraction Technologies For Medical and Aromatic Plants, International Center For Science and High Technology, Italy. 
  4. Munawaroh, Safaatul, dan Prima Astuti Handayani, 2010, Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksan, Jurnal Kompetensi Tekniki, Vol. 2, No.1. 
  5. Halimah, Diana Pranifta Putri dan Yulfi Zetra, 2010, Minyak Atsiri Dari Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Melalui Metode Fermentasi Dan Hidrodistilasi Serta Uji Bioavaibilitasnya, Prosidin Tugas Akhir Semester Genap, Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 
  6. Schaduw, Jonathan, Jody A. Pojoh, dan Try Oktaria Djabar,Isolasi dan Identifikasi Minyak Atsiri Pada Daun Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Jurusan Farmasi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado.

LAPORAN PENYIAPAN SIMPLISIA DAN METODE EKSTRAKSI


LAPORAN PENYIAPAN SIMPLISIA DAN METODE EKSTRAKSI

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA IPERCOBAAN I DAN II

A. TUJUAN 
Tujuan pada percobaan ini yaitu: 
  1. Dapat mengetahui cara pembuatan sampel atau simplisia yang baik 
  2. Dapat mengetahui prinsip terektraksinya komponen kimia dari bahan alam 
  3. Dapat mengetahui jenis-jenis metode ekstraksi bahan alam 
  4. Dapat mengetahui ekstraksi komponen kimia dari bahan alam 

B. LANDASAN TEORI 
Simplisia merupakan hasil proses sederhana dari herba tanaman obat yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat. Pembuatan simplisia dengan cara pengeringan dimaksudkan untuk menurunkan kandungan air dalam bahan. Jika kadar air dalam bahan masih tinggi dapat medorong enzim melakukan aktifitasnya mengubah kandungan kimia yang ada dalam bahan menjadi produk lain yang mungkin tidak lagi memiliki efek farmakologi seperti senyawa aslinya. Hal ini tidak akan terjadi jika bahan yang telah dipanen segera dikeringkan sehingga kadar airnya rendah. Beberapa enzim perusak kandungan kimia yang telah lama dikenal antara lain hidrolase, oksidase dan polimerase.(1) 

Suatu simplisia tidak dapat dikatakan bermutu jika tidak memenuhi persyaratan mutu yang tertera dalam monografi simplisia. Persyaratan mutu yang tertera dalam monografi simplisia antara lain susut pengeringan, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, dan kandungan kimia simplisia meliputi kadar minyak atsiri dan kadar kurkuminoid. Persyaratan mutu ini berlaku bagi simplisia yang digunakan dengan tujuan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan.(2) 

Ekstrak merupakan kumpulan senyawa-senyawa dari berbagai golongan yang terlarut didalam pelarut yang sesuai, termasuk didalamnya senyawa-senyawa aktif atau yang tidak aktif. Pengolahan ekstraksi bahan tumbuhan obat dengan pelarut yang sesuai (air, alkohol dan pelarut organik lain) menjadi ekstrak cair atau ekstrak kering banyak dilakukan untuk tujuan standarisasi sediaan obat herba sekaligus memberi keuntungan dari segi formulasi sediaannya.(1) 

Ekstrak sebagai bahan dan produk kefarmasian yang berasal dari simplisia harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan untuk dapat menjadi obat herbal terstandar atau obat fitofarmaka. Salah satu parameter mutu ekstrak secara kimia adalah kandungan senyawa aktif simplisia tersebut. Selain itu, parameter non spesifik juga diperlukan untuk mengetahui mutu ekstrak.(2) 

Ekstraksi (sebagai istilah yang digunakan secara farmasi) adalah pemisahan bagian aktif medicinally tanaman (dan hewan) jaringan menggunakan pelarut selektif melalui prosedur standar. Teknik ekstraksi seperti memisahkan metabolit tanaman larut dan meninggalkan di belakang marc seluler larut. Produk yang diperoleh dari tanaman campuran relatif kompleks metabolit, dalam keadaan cair atau semipadat atau (setelah menghapus pelarut) dalam bentuk bubuk kering, dan dimaksudkan untuk penggunaan oral atau eksternal. Ini termasuk kelas persiapan dikenal sebagai decoctions, infus, ekstrak cairan, tincture, pilular (setengah padat) ekstrak atau bubuk ekstrak. Persiapan tersebut telah populer disebut galenicals, dinamai Galen, dokter Yunani abad kedua. Tujuan dari prosedur ekstraksi standar untuk simplisia (bagian tanaman obat) adalah untuk mencapai bagian terapi yang diinginkan dan untuk menghilangkan bahan yang tidak diinginkan oleh pengobatan dengan pelarut selektif dikenal sebagai pencair. Ekstrak yang diperoleh, setelah standardisasi, dapat digunakan sebagai agen obat seperti itu dalam bentuk tincture atau ekstrak cairan atau diproses lebih lanjut untuk dimasukkan dalam bentuk sediaan seperti tablet dan kapsul. Produk-produk ini semua berisi campuran kompleks dari berbagai metabolit tanaman obat, seperti alkaloid, glikosida, terpenoid, flavonoid dan lignan. Untuk digunakan sebagai obat modern, ekstrak dapat diproses lebih lanjut melalui berbagai teknik fraksinasi untuk mengisolasi entitas kimia individu seperti vinkristin, vinblastin, hyoscyamine, hiosin, pilokarpin, forskolin dan kodein.(3) 

Maserasi. Dalam proses ini, seluruh atau kasar bubuk simplisia ditempatkan dalam wadah bertutup dengan pelarut dan didiamkan pada suhu kamar selama minimal 3 hari dengan sering agitasi sampai materi larut larut. Campuran kemudian disaring, yang marc (bahan padat basah) ditekan, dan cairan gabungan diklasifikasikan oleh filtrasi atau dekantasi setelah berdiri.(3) 

Infusi. Infus segar disusun oleh macerating obat mentah untuk waktu singkat dengan air dingin atau mendidih. Ini adalah solusi encer dari konstituen mudah larut obat mentah.(3) 

Dekokta. Dalam proses ini, simplisia direbus dalam volume tertentu air untuk waktu yang ditentukan; itu kemudian didinginkan dan disaring atau disaring. Prosedur ini cocok untuk mengekstraksi larut dalam air, konstituen panas yang stabil. Proses ini biasanya digunakan dalam penyusunan ekstrak Ayurvedic disebut "kwath" atau "kwath". Rasio mulai dari simplisia ke air yang tetap, misalnya 1: 4 atau 1:16; Volume ini kemudian dibawa ke seperempat volume awalnya dengan merebus selama prosedur ekstraksi. Kemudian, ekstrak terkonsentrasi disaring dan digunakan seperti atau diproses lebih lanjut.(3) 

Perkolasi. Ini adalah prosedur yang paling sering digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan ekstrak cairan. Sebuah cerek penapis (sempit, berbentuk kerucut terbuka kapal di kedua ujungnya) umumnya digunakan. Bahan-bahan padat dibasahi dengan jumlah yang tepat dari pencair ditentukan dan didiamkan selama sekitar 4 jam dalam wadah tertutup baik, setelah massa dikemas dan atas perkolator ditutup. Pencair tambahan ditambahkan untuk membentuk lapisan dangkal di atas massa, dan campuran dibiarkan basah dalam cerek penapis tertutup selama 24 jam. Outlet cerek penapis kemudian dibuka dan cairan yang terkandung di dalamnya diperbolehkan menetes perlahan. Pencair tambahan ditambahkan sebagai diperlukan, sampai tindakan meresap sekitar tiga-perempat dari volume yang diperlukan dari produk jadi. Marc ini kemudian ditekan dan cairan menyatakan ditambahkan ke cerek penapis tersebut. Pencair yang cukup ditambahkan untuk menghasilkan volume yang dibutuhkan, dan cairan campuran adalah klarifi ed dengan penyaringan atau dengan berdiri diikuti oleh decanting.(3)

Pemilihan pelarut sangat penting dalam proses ekstraksi sehingga bahan berkhasiat yang akan ditarik dapat tersari sempurna. Departemen Kesehata merekomendasikan air, alkohol dan air dengan alkohol untuk cairan penyari ekstrak untuk keperluan bahan baku obat tradisional.(1) 

Syarat pelarut yang digunakan sebagai berikut: 1. Harus dapat melarutkan semua zat wangi bunga dengan cepat dan sempurna, dan sedikit mungkin melarutkan bahan seperti: lilin, pigmen, serta pelarut harus bersifat selektif. 2. Harus mempunyai titik didih yang cukup rendah, agar pelarut mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi. 3. Pelarut tidak boleh larut dalam air. 4. Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan komponen minyak bunga. 5. Pelarut harus mempunyai titik didih yang seragam, dan jika diuapkan tidak akan tertinggal dalam minyak. 6. Harga pelarut harus serendah mungkin, dan tidak mudah terbakar.(4)

Pada mulanya istilah “minyak atsiri” adalah istilah yang digunakan untuk minyak yang bersifat mudah menguap, yang terdiri dari campuran zat yang mudah menguap, dengan komposisi dan titik didih yang berbeda-beda. Minyak atsiri yang mudah menguap terdapat di dalam kelenjar minyak yang harus dibebaskan sebelum disuling yaitu dengan merajang/memotong jaringan tanaman dan membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin, sehingga minyak dapat dengan mudah diuapkan. Minyak atsiri banyak digunakan dalam industri sebagai pemberi aroma dan rasa. Nilai jual dari minyak atsiri sangat ditentukan oleh kualitas minyak dan kadar komponen utamanya.(4) 

Minyak atsiri digunakan dalam berbagai macam barang-barang konsumen seperti deterjen, sabun, produk toilet, kosmetik, obat-obatan, parfum, produk makanan kembang gula, minuman ringan, minuman beralkohol suling (minuman keras) dan insektisida. Produksi dunia dan konsumsi minyak esensial dan parfum meningkat sangat cepat. Teknologi produksi merupakan elemen penting untuk meningkatkan hasil keseluruhan dan kualitas minyak esensial. Teknologi tradisional yang berkaitan dengan pengolahan minyak esensial yang sangat penting dan masih digunakan di berbagai belahan dunia. Penyulingan air, air dan uap destilasi, distilasi uap, cohobation, maserasi dan enfleurage adalah metode yang paling tradisional dan umum digunakan.(3) 

Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri. tanaman nilam (Pogestemon cablin), berupa semak dan dapat tumbuh diberbagai jenis tanah (andosol, latosol, regosol, podsolik, dan grumusol) dengan tekstur lempung, liat berpasir dengan drainase yang baik dan pH tanah 5-7. Tanaman ini membutuhkan curah hujan atau ketersediaan air yang cukup dengan suhu 24-28 °C.(5)

Minyak atsiri pada tanaman Nilam terdapat pada pada bagian akar, batang, ranting maupun daun tanaman. Umumnya, kandungan minyak atsiri pada bagian akar, batang dan ranting tanaman Nilam lebih kecil (0,4-0,5%) dibandingkan kandungan minyak atsiri pada bagian daun (2,5-5,0%). Minyak Nilam biasanya digunakan sebagai fiksatif (zat pengikat) dalam industri parfum dan merupakan salah satu campuran pembuatan produk kosmetika seperti sabun, pasta gigi, sampo, lotion, deodoran dan tonik rambut. Minyak Nilam juga bermanfaat dalam pembuatan obat antiradang, antifungi, antiserangga, afrodisiak, anti-inflamasi, antidepresi, antiflogistik dan dekongestan. Minyak Nilam juga terbukti dapat mencerahkan kulit dan mengobati jerawat.(6) 

C. METODE KERJA 
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu: 
  • a. Gelas kimia 
  • b. Panci 
  • c. Saringan 
  • d. Sendok tanduk 
  • e. Spatula besi 
  • f. Toples kaca 
  • g. Wadah kaca 
  • h. Wadah penangas air 
  • i. Waterbath 

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu: 
  • a. Aquadest 
  • b. Kain flanel 
  • c. Sampel daun nilam 

3. Prosedur Kerja
LAPORAN PENYIAPAN SIMPLISIA DAN METODE EKSTRAKSI


D. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENYIAPAN SIMPLISIA DAN METODE EKSTRAKSI

E. PEMBAHASAN
Simplisia adalah bahan alamiah yang diunakan sebagao obat yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang dikeringkan.

Sampel yang digunakan pada percobaan ini yaitu daun nilam yang mengandung minyak atsiri. Nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri. Nilam berupa semak dan dapat tumbuh diberbagai jenis tanah. Kandungan minyak atsiri pada nilam terdapat pada akar, batang, ranting dan daun. Akan tetapi, kandungan minyak atsiri pada daun lebih banyak dibandingkan pada bagian-bagian yang lain.

Nilam terlebih dahulu akan dipreparasi sebelum digunakan untuk menghasilkan simplisia yang baik. Proses preparasi tersebut dimulai dari proses pengumpulan bahan baku,. Dalam proses pengumpulan bahan baku, dapat dipengauhi oleh waktu pengumpulan dan teknik pengumpulan. Setelah bahan baku terkumpul, langkah selanjutnya yaitu dilakukan proses sortasi basah. Proses ini bertujan untuk membersihkan sampel dari benda-benda asing seperti tanah, kerikil, rumput, bagian tanaman yang telah mati dan bahan yang lain. Langkah selanjutnya yaitu proses pencucian yang bertujuan untuk memastikan bahwa sampel bernar-benar bersih dari benda asing. Dalam proses pencucian menggunakan air. Akan tetapi, air yang digunakan harus diperhatikan agar tidak mengganggu pada proses penyarian simplisia akibat air yang telah tercemar. Proses yang terakhir yaitu perajangan/perubahan bentuk yang dimiliki oleh sampel. Hal in bertujuan untuk memperkecil luas permukaan yang terdapat pada sampel agar pada saat proses ekstraksi, pelarut yang digunakan dapat dengan mudah menarik senyawa-senyawa yang terkandung di dalam sampel.

Simplisia yang diperoleh selanjutnya akan diekstraksi menggunakan metode yang sesuai. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan bagian aktif dari tanaman meggunakan pelarut yang selektif melalui prosedur yang standar. Tujuan dari proses ekstraksi yaitu untuk mencapai bagian terapi yang diinginkan dan untuk menghilangkan bahan yang tidak digunakan untuk pengobatan dengan menggunakan pelarut yang selektif. Pelarut yang digunakan juga harus memenuhi syarat yang telah ditentukan. Syarat tersebut diantaranya harus dapat melarutkan semua senyawa yang terdapat pada sampel, mempunyai titik didih yang cukup rendah agar mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu yang tinggi, serta pelarut harus bersifat inert.

Terdapat beberapa metode ekstraksi diantaranya metode maserasi, refluks, soxhletasi, perkolasi dan infusa. Akan tetapi, metode yang digunakan yaitu metode infusa. Infusa merupakan suatu metode penyarian dengan cara menyari simplisia dalam air pada suhu 90°C selama 15 menit. Metode ini merupakan metode yang umum dilakukan untuk menyari zat dengan kandungan zat aktif yang dapat larut didalam air yang berasal dari bahan-bahan nabati. Metode infusa memiliki beberapa keuntungan diantaranya alat yang digunakan sederhana serta biaya yang dibutuhkan relatif rendah. Sedangkan kerugiannya yaitu zat-zat yang tertarik kemungkinan akan mengendap kembali apabila sudah dingin, serta tidak dapat digunakan untuk zat yang tidak tahan terhadap pemanasan.

Penyarian dengan metode infusa dilakukan dengan membasahi simplisia menggunakan cairan penyari (aquadest) yang terdapat didalam wadah. Setelah itu, dimasukkan kedalam wadah penangas air dan dipanaskan selama 15 menit terhitung pada suhu 90°C, sambil sesekali diaduk. Setelah 15 menit, hasil infusa diangkat dan disaring menggunakan kain flanel. Setelah itu, dimasukkan kedalam toples kaca dan didinginkan. Pada proses penyarian, pelarut yang digunakan mengalami perubahan warna dari bening menjadi hitam. Hal ini dikarenakan terjadinya proses terekstraksinya zat aktif yang terdapat didalam sampel. Dimana aquadest akan menembus dinding sel dan mesuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, yang mengakibatkan zat aktif akan terlarut sehingga terjadi perbedaan knsentrasi antara larutan zat aktid yang terdapat didalam sel dan pelarut diluar sel. Larutan dengan konsentrasi tinggi akan berdifusi keluar sel, dan proses ini akan terus berlangsung hingga terjadinya kesetimbangan antara konsentrasi zat aktif didalam sel dan diluar sel.

Hasil infusa yang telah dingin, selanjutnya dipindahkan kedalam gelas kimia untuk dimasukkan kedalam waterbath. Hal ini bertujuan untuk menguapkan pelarut yang digunakan sehingga dapat diperoleh ekstrak kenatal. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya akan dimasukkan kedalam wadah kaca untuk selanjutnya akan dihitung nilai rendemennya. Perhitungan nilai rendemen dapat dilakukan dengan membandingkan berat ekstrak dan berat sampel segar. Akan tetapi, berat ekstrak dapat diperoleh dengan mengurangkan berat ekstrak ditambah dengan wadah dengan berat wadah kosong sehingga diperoleh berat ekstrak sebesar 37,8 gram, dan nilai rendemen sebesar 7,56%.

F. KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini adalah:
  1. Cara pembuatan sampel atau simplisia yang baik yaitu dengan mengambil sampel dan merajang sampel dengan benar.
  2. Prinsip terekstraksinya komponen kimia dari bahan alam yaitu dimana pelarut organik akan menembus dinding sel dan mesuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, yang mengakibatkan zat aktif akan terlarut sehingga terjadi perbedaan knsentrasi antara larutan zat aktid yang terdapat didalam sel dan pelarut diluar sel. Larutan dengan konsentrasi tinggi akan berdifusi keluar sel, dan proses ini akan terus berlangsung hingga terjadinya kesetimbangan antara konsentrasi zat aktif didalam sel dan diluar sel. 
  3. Macam-macam metode ekstraksi yaitu maserasi, soxhletasi, perkolasi, refluks, dan metode infusa. 
  4. Ekstraksi komponen kimia dari bahan alam menggunakan metode yang telah digunakan dalam hal ini menggunakan metode infusa. 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Ma’um, S. Suhirman, F. Manoi, B. S. Sembiring, Tritianingsih, M. Sukmasari, A. Gani, Tjitjah F., dan D. Kuswita, 2006, Teknik Pembuatan Simplisia Dan Ekstran Purwoceng, Laporan Pelaksanaan Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.
  2. Azizah, B., dan Nina S., 2013, Standarisasi Parameter Non Spesifik Dan Perbandingan Kadar Kurkumin Ekstrak Etanol Dan Ekstrak Terpurifikasi Rimpang Kunyit, Jurnal Ilmiah Kefarmasian, Vol. 3, No. 1. 
  3. Handa, Sukhdev Swami, Suman Preet Singh Khanuja, Gennaro Longo, and Dev Dutt Rakesh, 2008, Extraction Technologies For Medical and Aromatic Plants, International Center For Science and High Technology, Italy. 
  4. Munawaroh, Safaatul, dan Prima Astuti Handayani, 2010, Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksan, Jurnal Kompetensi Tekniki, Vol. 2, No.1. 
  5. Halimah, Diana Pranifta Putri dan Yulfi Zetra, 2010, Minyak Atsiri Dari Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Melalui Metode Fermentasi Dan Hidrodistilasi Serta Uji Bioavaibilitasnya, Prosidin Tugas Akhir Semester Genap, Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 
  6. Schaduw, Jonathan, Jody A. Pojoh, dan Try Oktaria Djabar,Isolasi dan Identifikasi Minyak Atsiri Pada Daun Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Jurusan Farmasi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado.