LAPORAN PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN - ElrinAlria
LAPORAN PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN
I. JUDUL : PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN 
II. TUJUAN : UNTUK MENGETAHUI PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN
III. HARI/TANGGAL : MINGGU 10 MEI 2015
IV. NAMA/STAMBUK: 

V. Latar Belakang
Durian adalah nama tumbuhan tropis, nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Durian dengan nama latin Durio zibethinus merupakan tanaman buah berupa pohon. Di Indonesia tercatat ada 20 spesies anggota durian, sembilan di antaranya dapat dimakan. 

Lembaga penelitian di Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah merilis berbagai kultivar durian unggul. Selain itu terdapat pula ras-ras lokal yang dikenal baik namun belum mengalami tahap seleksi untuk meningkatkan kualitasnya. Tanaman buah durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M.

Menurut (Tirtawinata 2006) produksi durian dalam negeri masih rendah dan tidak mencukupi kebutuhan konsumen. Hal ini ditandai dengan masuknya buah impor dari Thailand. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam agribisnis durian, antara lain adanya penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora. 

Menurut (Hasan dan Siew, 2000) di Penang, dilaporkan kerusakan tanaman durian akibat penyakit ini mencapai 30% dan teknik budidaya yang diterapkan masih rendah. Pada umumnya tanaman durian tumbuh liar dan sebagian kecil diusahakan dalam bentuk tanaman pekarangan. Sifat tanaman durian juga spesifik wilayah sehingga memberikan variasi produksi yang berbeda pula. Di samping itu, sifat penyerbukan bunga tanaman durian yang terbuka sehingga menyebabkan variasi produksi dan bentuk.

Menurut (Soetiarso et al. 1995) dalam upaya memecahkan masalah tersebut, salah satunya dapat dilakukan dengan penanaman benih durian bermutu. Pemerintah telah melepas varietas durian tidak kurang dari 50 jenis sejak tahun 1986. Dengan dilepasnya beberapa varietas tersebut, diharapkan mampu menunjang pembangunan pertanian, yang diharapkan dengan dukungan teknologi tepat guna mampu menyumbang pertumbuhan pendapatan petani. Tetapi upaya tersebut belum memberikan pengaruh yang konkrit, dengan belum diketahuinya varietas yang disukai konsumen, pasca pelepasan varietas. Dengan adanya kenyataan tersebut, perlu ditentukan karakter durian nasional, karena karakter ini menjadi penting sebagai dasar bagi pengembangan dan kegiatan perbaikan tanaman durian.

Indonesia seharusnya dapat menciptakan jenis durian unggulan sendiri, tidak hanya mengembangkan bibit durian dari luar negeri. Sehingga Indonesia dapat dibuat komoditas durian unggulan yang dapat bersaing di dunia. Salah satu cara untuk menghasilkan komoditas unggulan dilakukan melalui metode penyambungan yang dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman, dihasilkan gabungan tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari segi perakaran dan produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan berbuah serta menghasilkan tanaman yang sifat berbuahnya sama dengan induknya. 

Teknik perbanyakan tanaman ini dilakukan dengan teknik sambung, yang merupakan gabungan antara perbanyakan secara generatif dan vegetatif. Teknik sambung dilakukan dengan menyambungkan atau menyisipkan batang atas ke batang bawah. Keuntungan perbanyakan tanaman dengan cara sambung tersebut diantaranya adalah buah durian yang akan dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan tanaman induk yang diambil untuk batang atasnya serta masa berbuah tanaman yang lebih cepat dibanding perbanyakan dengan biji. Berdasarkan uraian sebelumnya maka perlu pembahasan yang lebih rinci mengenai teknik perbanyakan tumbuhan durian dengan cara penyambungan.

VI. Metode Praktikum 
A. Alat dan Bahan 
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
LAPORAN PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
  • a. Mata tempel durian unggul
  • b. Batang bawah durian
  • c. Tanah 
  • d. Biji durian

B. Prosedur Kerja 
a. Urutan kerja dalam mempersiapkan persemaian dan pendederan biji adalah :
  1. Menyiapkan biji atau benih yang berasal dari durian matang, selanjutnya menyeleksi dengan memilih biji yang ukurannya sedang. Membersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat pada biji. Mengindarkan dari terpaan sinar matahari langsung. 
  2. Membuat bedengan persemaian/pendederan. Menyemai biji yang tersedia dengan membenamkannya ke dalam tanah pada posisi pusar (hilum) menghadap ke bawah. Menekan dan Menutupnya dengan tanah.
  3. Membuat naungan kolektif untuk bedengan pendederan benih selama satu bulan. 

b. Tunas sambung berupa pucuk, dari pohon induk terpilih, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Menetapkan pohon induk durian sebagai sumber mata tunas. Pohon induk sebaiknya dipangkas kira-kira empat bulan sebelum pengambilan entris agar diperoleh mata tunas sambungan dalam jumlah banyak dan bermutu.
  2. Memilih tunas pucuk dari ranting yang tegak sampai miring dan tangkai pucuk bernas sepanjang 12 cm. Memotong tangkai daun, dengan menyisakan tiga helai daun (satu pasang ditambah satu daun pada bagian ujung). Memotong daun-daun tersebut dengan menyisakan masing-masing seperti bagian helai daun. 
  3. Menggunakan pucuk yang tidak dorman, maka pilih ranting yang lebih panjang, karena bagian pucuk yang tidak dorman harus dipotong, selanjutnya memberi perlakuan yang sama pada ranting yang dorman tersebut diatas. 
  4. Ranting tunas sambung dapat disimpan maksimal 4-5 jam, dengan penyimpanan yang baik dengan dikemas. 

c. Langkah kerja kegiatan penyambungan yaitu : 
  1. Mempersiapkan alat dan bahan-bahan yang diperlukan, diantaranya silet. 
  2. Menyediakan plastik pengikat dan panjangnya sesuai kebutuhan.
  3. Kegiatan penyambungan diawali dengan memotong semaian batang bawah bekas atau dibawah kotiledon, buat celah dan masukkan tunas sambung yang telah diruncing (bentuk V), dan selanjutnya diikat dengan lembaran plastik pengikat yang telah disiapkan. 
  4. Mengupayakan tidak ada celah antara tunas sambung dengan batang bawah untuk mencegah masukknya air dan penyakit pada bekas perlukaan tersebut, yang dapat menggagalkan pertautan antara tunas sambung dengan batang bawah. 

VII. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil
LAPORAN PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN

B. Pembahasan
Tanaman durian termasuk famili Bombaceae sebangsa pohon kapuk-kapukan. Yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Lahia, Boschia dan Coelostegia. Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam. Durian umumnya dapat tumbuh di daerah berketinggian 50-600 m dpl. Tetapi ada juga tanaman durian yang cocok ditanam diberbagai ketinggian hingga mencapai 800 m dpl. Namun durian paling cocok dikebunkan pada daerah berketinggian 200-600 m dpl. Tanah yang cocok untuk durian adalah jenis tanah grumosol dan ondosol.

Tanah yang memiliki ciri-ciri warna hitam keabu-abuan kelam, struktur tanah lapisan atas bebutir-butir, sedangkan bagian bawah bergumpal, dan kemampuan mengikat air tinggi hai ini dikarenakan tanaman durian termasuk tanaman tahunan dengan perakaran dalam, maka membutuhkan kandungan air tanah dengan kedalam cukup, (50-150 cm) dan (150-200 cm). Jika kedalaman air tanah terlalu dangkal/ dalam, rasa buah tidak manis/tanaman akan kekeringan/akarnya busuk akibat selalu tergenang.

Tempat lain yang membudidayakan durian dengan orientasi ekspor adalah Mindanao di Filipina. Durian sangat beraneka ragam. Di Indonesia tercatat ada 20 spesies anggota durian, sembilan di antaranya dapat dimakan. Durian yang benar pun memiliki banyak variasi. Lembaga penelitian di Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah merilis berbagai kultivar durian unggul. Selain itu terdapat pula ras-ras lokal yang dikenal baik namun belum mengalami tahap seleksi untuk meningkatkan kualitasnya. Terdapat lebih dari 55 varietas atau jenis durian budidaya. Hingga 2005 terdapat 38 kultivar unggul yang telah diseleksi dan diperbanyak secara vegetatif.

Perbanyakan durian di desa-desa umumnya dengan menggunakan biji. Perbanyakan dengan biji juga dilakukan untuk memperoleh batang bawah dalam perbanyakan vegetatif. Biji durian bersifat recalcitrant, hanya dapat hidup dengan kadar air tinggi (di atas 30% berat) dan tanpa perlakuan tertentu hanya sanggup bertahan seminggu sebelum akhirnya embrionya mati. Dengan demikian biji harus segera disemaikan setelah buahnya dibuka.

Perbanyakan durian sebenarnya sangat mudah dilakukan secara alamiah buah durian yang telah ranum akan jatuh dari pohon induknya dan banyak yang belah sendirinya, walau pun tidak pecah secara menyeluruh menjadi beberapa segmen bijinya akan tersebardan tumbuh menjadi tanaman baru, akan tetapi pohon durian yang berkembang secara generatif ini akan kurang dapat dipertanggung jawabkan sifatnya.

Sering terjadi bahwa hasilnya tidak selalu dapat memenuhi tuntutan yang sesuai degan selera.hal ini terutama di sebabkan oleh terjadinya persilangan yang akan menghasilkan keturunan yang berbeda- beda. Jadi akhirnya muncul tanaman baru dengan keanekaragaman yang sangat besar dengan demikian kecil kemungkinan mendapat kan tanaman yang memiliki sifat yang persis seperti induknya maka dilakukan kegiatan pembiakan secara vegetatif untuk perbanyakannya.

Pohon durian mulai berbuah setelah 4-5 tahun, namun dalam budidaya dapat dipercepat jika menggunakan bahan tanam hasil perbanyakan vegetatif. Misalnya Teknik dipakai adalah penyambungan celah (cleft grafting). Beberapa penangkar sekarang juga menerapkan penyambungan mikro (micrografting). Teknik ini dilakukan pada saat batang bawah masih berusia muda sehingga mempercepat masa tunggu. Tercatat bahwa durian hasil perbanyakan vegetatif mampu berbunga setelah 2-3 tahun. 

Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. 

Bagian tanaman yang disambungkan atau disebut batang atas (scion) dan merupakan sepotong batang yang mempunyai lebih dari satu mata tunas (entres), baik itu berupa tunas pucuk atau tunas samping. Penyambungan batang bawah dan batang atas ini biasanya dilakukan antara dua varietas tanaman yang masih dalam spesies yang sama. Misalnya penyambungan antar varietas pada tanaman durian. Kadang-kadang bisa juga dilakukan penyambungan antara dua tanaman yang berlainan spesiesnya tetapi masih dalam satu famili.

Manfaat sambungan pada tanaman adalah untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman, dihasilkan gabungan tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari segi perakaran dan produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan berbuah (tanaman berumur genjah) serta menghasilkan tanaman yang sifat berbuahnya sama dengan induknya. Mengatur proporsi tanaman agar memberikan hasil yang lebih baik, tindakan ini dilakukan khususnya pada tanaman yang berumah dua, misalnya tanaman melinjo. Peremajaan tanpa menebang pohon tua, sehingga tidak memerlukan bibit baru dan menghemat biaya eksploitasi. 

Untuk menyiapkan batang bawah dapat menggunakan biji asalan atau "sapuan” sehingga menghasilkan batang bawah, tetapi ada varietas tanaman yang baik khusus untuk batang bawah untuk menghasilkan sistem perakaran yang baik dan tahan terhadap busuk akar. bibit dalam fase pertumbuhan yang optimum (tingkat kesuburannya baik), kambium aktif, sehingga memudahkan dalam pengupasan dan proses merekatnya mata tempel ke batang bawah.


Batang atas atau entres yang akan disambungkan pada batang bawah diambil dari pohon induk yang sehat dan tidak terserang penyakit. Pengambilan entres ini dilakukan dengan menggunakan gunting stek atau silet yang tajam (agar diperoleh potongan yang halus dan tidak mengalami kerusakan) dan bersih (agar entres tidak terkontaminasi oleh penyakit). Entres yang akan diambil sebaiknya dalam keadaan dorman (istirahat) pucuknya serta tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda (setengah berkayu). Entres sebaiknya dipilih dari bagian cabang yang terkena sinar matahari penuh (tidak ternaungi) sehingga memungkinkan cabang memiliki mata tunas yang tumbuh sehat dan subur. Bila pada waktunya pengambilan entres, keadaan pucuknya sedang tumbuh tunas baru (trubus) atau sedang berdaun muda, maka bagian pucuk muda ini dibuang dan bagian pangkalnya sepanjang 5-10 cm dapat digunakan sebagai entres.

Pada durian bila entres yang digunakan berasal dari cabang yang tumbuh tegak lurus, maka bibit sambungannya akan tumbuh tegak dengan percabangan ke semua arah atau simetris. Namun bila diambil dari cabang yang lain, pertumbuhan bibitnya akan mengarah ke samping, berbentuk seperti kipas. Bentuk ini berangsur-angsur hilang bila tanaman menjelang dewasa. 

Ada dua tipe sambungan, yaitu sambungan pucuk, dan sambungan samping. Sambung pucuk (top grafting) merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian atas atau pucuk dari batang bawah. Memilih batang bawah yang diameter batangnya disesuaikan dengan besarnya batang atas. Umur batang bawah pada keadaan siap sambung ini bervariasi antara 1-24 bulan, tergantung jenis tanamannya. Sebagai contoh, untuk durian umur 3-4 bulan, agar menghasilkan bibit yang baik disarankan penyiraman dalam jumlah yang cukup (media cukup basah) menggunakan media tanam dengan komposisi tanah subur.

Tipe sambungan kedua adalah sambungan samping. Pada dasarnya, pelaksanaan sambung samping sama seperti pelaksanaan model sambung pucuk. Sambung samping merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian samping batang bawah. Ukuran batang atas tidak perlu sama dengan batang bawah, bahkan lebih baik dibuat lebih kecil. Pada batang bawah dibuat irisan belah dengan mengupas bagian kulit tanpa mengenai kayu atau dapat juga dengan sedikit menembus bagian kayunya. Irisan kulit batang bawah dibiarkan atau tidak dipotong. Batang atas dibuat irisan meruncing pada kedua sisinya. Sisi irisan yang menempel pada batang bawah dibuat lebih panjang menyesuaikan irisan di batang bawah dari sisi luarnya. Batang atas tersebut disisipkan pada irisan belah dari batang bawah. Dengan demikian, batang bawah dan batang atas akan saling berhimpitan. Kedua lapisan kambium harus diusahakan agar saling bersentuhan dan bertaut bersama.

Setelah selesai disambung, kemudian diikat dengan tali plastik. Untuk menjaga agar tidak terkontaminasi atau mengering, sambungan dan batang atas ditutup dengan kantong plastik. Setelah batang atas menunjukkan pertumbuhan tunas, kurang lebih 2 minggu setelah penyambungan, kantong plastik serta tali plastik bagian atas sambungan dibuka lebih dulu, sedangkan tali plastik yang mengikat langsung tempelan batang atas dan kulit batang bawah dibiarkan, sampai tautan sambungan cukup kuat.

Bilamana sudah dipastikan bahwa batang atas dapat tumbuh dengan baik, bagian batang bawah di atas sambungan dipotong. Pemotongan perlu dilakukan supaya tidak terjadi kompetisi kebutuhan zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan lanjutan dari batang atas. Penyediaan benih bermutu dalam jumlah yang banyak masih menjadi masalah. Pada umumnya tanaman durian yang diusahakan petani berasal dari okulasi dan sambungan. Benih sambungan yang baik adalah yang kompatibel antara batang bawah dengan batang atasnya. Keberhasilan penyambungan ditandai dengan terbentuknya pertautan yang sempurna antara batang bawah dan batang atas serta laju pertumbuhan benih hasil sambungan. 

Pengamatan yang telah kami lakukan yaitu menggunakan 3 sampel pohon durian yang dilakukan teknik penyambungan, namun dalam waktu 1 bulan tidak mengalami perubahan ke hasil yang baik bahkan sampel dari 3 pohon durian tersebut mengalami kekeringan. Ini menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan teknik penyambungan diantaranya faktor keaseptikan saat proses pengirisan batang batang atas dan faktor keterampilan dalam teknik menyambung tanaman yaitu pada tanaman durian. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyambungan lebih rincinya yaitu pertama Scion yang dijadikan bahan sambungan tersebut tidak cacat dan masih dalam keadaan segar, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda dan berbatang bulat. Grafting tidak terkena secara langsung terik matahari maupun air hujan. Bagian sambungan kambium harus menempel seerat mungkin, paling tidak salah satu dari bagiannya. Pisau dan gunting yang digunakan untuk kegiatan sambungan ini yang tajam dan tidak berkarat agar sambungan tidak terinfeksi oleh penyakit. Dikerjakan dengan secepat mungkin, dengan kerusakan minimum pada kambium, dan diusahakan penyayatan pada scion jangan sampai berulang-ulang. Usahakan untuk menjaga bagian yang terluka, baik pada scion maupun pada rootstock agar tetap dalam keadaan lembab. Bagian sambungan harus dijaga dari kekeringan sampai beberapa minggu setelah penyambungan. 

Curah hujan yang cukup tinggi juga menyebabkan basahnya sambungan, kondisi ini terjadi terutama pada saat hujan turun dengan waktu yang cukup lama. Air masuk menembus sungkup dan lilitan plastik sehingga secara langsung membasahi sambungan. Ketersediaan air memang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama untuk keberhasilan. Ketersediaan air mempengaruhi pertumbuhan , terutama perluasan sel namun air juga dapat memberikan pengaruh yang negatif bagi tanaman, khususnya pada saat sambungan belum menyatu sempurna, adanya titik-titik air dapat menyebabkan kebusukan pada sayatan. Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh unsur hara baik itu makro maupun mikro. Unsur hara nitrogen merupakan unsur hara yang berperan dalam merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, daun, dan cabang tanaman.

Konsentrasi N tinggi umumnya menghasilkan daun yang lebih besar. Nitrogen organik dari bahan organik menghasilkan protein untuk pembelahan sel-sel tanaman, sehingga mempengaruhi perkembangan luas daun untuk melakukan fotosintesis. Sejalan dengan meningkatnya fotosintesis akan menghasilkan fotosintat yang digunakan untuk metabolisme dalam tanaman sehingga akan meningkatkan biomassa tanaman tersebut. Kandungan cadangan makanan yang terdapat didalam entris juga memberikan pengaruh tidak nyata pada setiap variabel pengamatan. Hal ini disebabkan kandungan cadangan makanan dalam keadaan seimbang sehingga pembelahan, pembesaran dan diferensiasi sel juga berjalan dengan seimbang. Kondisi seimbang ini memiliki maksud bahwa kandungan cadangan makanan yang terdapat pada masing-masing perlakuan panjang entris sama-sama memadai untuk terjadinya penyambungan. Menurut Winarno entris yang digunakan dalam penyambungan harus mengandung cadangan makanan yang cukup memadai, selain untuk proses pembentukan kalus sampai terbentuknya jaringan pembuluh juga untuk menunjang kelangsungan hidup sampai terjadinya aliran hara dari batang bawah. 

Sebab lain yang menyebabkan perlakuan panjang entris ini berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan panjang entris adalah cepatnya pembentukan kalus dan graft union relatif sama sehingga aliran unsur hara dari batang bawah kebatang atas begitu juga sebaliknya, aliran hasil fotosintesis daun yang mengandung zat-zat makanan menuju batang bawah terjadi dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh untuk masing-masing tanaman.

Ketersediaan air memang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama untuk keberhasilan terbentuknya graf union. Ketersediaan air mempengaruhi pertumbuhan ruas, terutama perluasan sel namun air juga dapat memberikan pengaruh yang negatif bagi tanaman karena air dapat menjadi media pembawa (carrier) mikroorganisme dan juga penyakit yang dapat menginfeksi tanaman terutama apabila adanya luka pada tanaman tersebut. proses tersebut, maka semakin cepat daun terbentuk. Pertumbuhan daun sangat dipengaruhi oleh unsur hara baik itu makro maupun mikro. Unsur hara nitrogen merupakan unsur hara yang berperan dalam merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, daun, dan cabang tanaman. 

Berkurangnya konsentrasi nitrogen dalam tanah salah satunya disebabkan oleh pencucian air hujan maupun penyiraman. Jika konsentrasi dalam sel lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi diluar sel tanaman maka air akan bergerak keluar dari dalam sel tanaman. Konsentrasi N tinggi umumnya menghasilkan daun yang lebih besar (Lakitan, 1996). Nitrogen organik dari bahan organik menghasilkan protein untuk pembelahan sel-sel tanaman, sehingga mempengaruhi perkembangan luas daun untuk melakukan fotosintesis. Sejalan dengan meningkatnya fotosintesis akan menghasilkan fotosintat yang digunakan untuk metabolisme dalam tanaman sehingga akan meningkatkan biomassa tanaman tersebut.

VII. Penutup
A. Kesimpulan 
Berdasarkan uraian sebelumnya mengenai teknik perbanyak tumbuhan dengan cara penyambungan yaitu pada tumbuhan durian (Durio zibethinus) maka dapat disimpulkan bahwa : 
  1. Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya.
  2. Ada dua tipe sambungan, yaitu sambungan pucuk, dan sambungan samping. Sambung pucuk (top grafting) merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian atas atau pucuk dari batang bawah dan sambung samping merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian samping batang bawah. 
  3. Keuntungan perbanyakan tanaman dengan cara sambung tersebut diantaranya adalah buah durian yang akan dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan tanaman induk yang diambil untuk batang atasnya serta masa berbuah tanaman yang lebih cepat dibanding perbanyakan dengan biji. 


B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan yaitu sebaiknya dalam perbanyakan tumbuhan dengan teknik penyambungan pada tumbuhan durian (Durio zibethinus) diperhatikan penggunaan entres yang akan disambungkan pada batang bawah yaitu harus diseleksi terlebih dahulu agar pohon induk yang digunakan adalah yang sehat dan tidak terserang penyakit kemudian penggunaan plastik pengikat disesuaikan dengan kebutuhan sehingga tidak melebihi ukuran agar teknik penyambungan yang dilakukan menjadi berhasil.

DAFTAR PUSTAKA 
Depa Putu, 2012. Pengaruh Panjang Entris Terhadap Keberhasilan Sambung Pucuk Bibit Jambu Air. 1 (1) 1-9. Untan. 

Hamid Abdul, 2011. Keberhasilan Okulasi Varietas Jeruk Manis Pada Berbagai Perbandingan Pupuk Kandang. 2 (4) 97-104. Universitas Tadulako Palu. 

Sukarmin, 2011. Teknik Uji Daya Simpan Entres Durian Varietas Kani Sebagai Bahan Penyambungan. 2 (16) 48-51. Buletin Teknik Pertanian. 

Tiyar Fajar, 2010. Pembudidayaan Durian di Kebun Benih Hortikultura Ranukitri Pendem Mojogedang. Surakarta.

Suwandi, 2010. Petunjuk Teknis Perbanyakan Tanaman Dengan Cara Sambungan (Grafting). 1 (2) 1-10. Jakarta.

LAPORAN PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN

LAPORAN PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN
I. JUDUL : PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN 
II. TUJUAN : UNTUK MENGETAHUI PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN
III. HARI/TANGGAL : MINGGU 10 MEI 2015
IV. NAMA/STAMBUK: 

V. Latar Belakang
Durian adalah nama tumbuhan tropis, nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Durian dengan nama latin Durio zibethinus merupakan tanaman buah berupa pohon. Di Indonesia tercatat ada 20 spesies anggota durian, sembilan di antaranya dapat dimakan. 

Lembaga penelitian di Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah merilis berbagai kultivar durian unggul. Selain itu terdapat pula ras-ras lokal yang dikenal baik namun belum mengalami tahap seleksi untuk meningkatkan kualitasnya. Tanaman buah durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M.

Menurut (Tirtawinata 2006) produksi durian dalam negeri masih rendah dan tidak mencukupi kebutuhan konsumen. Hal ini ditandai dengan masuknya buah impor dari Thailand. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam agribisnis durian, antara lain adanya penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora. 

Menurut (Hasan dan Siew, 2000) di Penang, dilaporkan kerusakan tanaman durian akibat penyakit ini mencapai 30% dan teknik budidaya yang diterapkan masih rendah. Pada umumnya tanaman durian tumbuh liar dan sebagian kecil diusahakan dalam bentuk tanaman pekarangan. Sifat tanaman durian juga spesifik wilayah sehingga memberikan variasi produksi yang berbeda pula. Di samping itu, sifat penyerbukan bunga tanaman durian yang terbuka sehingga menyebabkan variasi produksi dan bentuk.

Menurut (Soetiarso et al. 1995) dalam upaya memecahkan masalah tersebut, salah satunya dapat dilakukan dengan penanaman benih durian bermutu. Pemerintah telah melepas varietas durian tidak kurang dari 50 jenis sejak tahun 1986. Dengan dilepasnya beberapa varietas tersebut, diharapkan mampu menunjang pembangunan pertanian, yang diharapkan dengan dukungan teknologi tepat guna mampu menyumbang pertumbuhan pendapatan petani. Tetapi upaya tersebut belum memberikan pengaruh yang konkrit, dengan belum diketahuinya varietas yang disukai konsumen, pasca pelepasan varietas. Dengan adanya kenyataan tersebut, perlu ditentukan karakter durian nasional, karena karakter ini menjadi penting sebagai dasar bagi pengembangan dan kegiatan perbaikan tanaman durian.

Indonesia seharusnya dapat menciptakan jenis durian unggulan sendiri, tidak hanya mengembangkan bibit durian dari luar negeri. Sehingga Indonesia dapat dibuat komoditas durian unggulan yang dapat bersaing di dunia. Salah satu cara untuk menghasilkan komoditas unggulan dilakukan melalui metode penyambungan yang dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman, dihasilkan gabungan tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari segi perakaran dan produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan berbuah serta menghasilkan tanaman yang sifat berbuahnya sama dengan induknya. 

Teknik perbanyakan tanaman ini dilakukan dengan teknik sambung, yang merupakan gabungan antara perbanyakan secara generatif dan vegetatif. Teknik sambung dilakukan dengan menyambungkan atau menyisipkan batang atas ke batang bawah. Keuntungan perbanyakan tanaman dengan cara sambung tersebut diantaranya adalah buah durian yang akan dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan tanaman induk yang diambil untuk batang atasnya serta masa berbuah tanaman yang lebih cepat dibanding perbanyakan dengan biji. Berdasarkan uraian sebelumnya maka perlu pembahasan yang lebih rinci mengenai teknik perbanyakan tumbuhan durian dengan cara penyambungan.

VI. Metode Praktikum 
A. Alat dan Bahan 
1. Alat 
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
LAPORAN PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
  • a. Mata tempel durian unggul
  • b. Batang bawah durian
  • c. Tanah 
  • d. Biji durian

B. Prosedur Kerja 
a. Urutan kerja dalam mempersiapkan persemaian dan pendederan biji adalah :
  1. Menyiapkan biji atau benih yang berasal dari durian matang, selanjutnya menyeleksi dengan memilih biji yang ukurannya sedang. Membersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat pada biji. Mengindarkan dari terpaan sinar matahari langsung. 
  2. Membuat bedengan persemaian/pendederan. Menyemai biji yang tersedia dengan membenamkannya ke dalam tanah pada posisi pusar (hilum) menghadap ke bawah. Menekan dan Menutupnya dengan tanah.
  3. Membuat naungan kolektif untuk bedengan pendederan benih selama satu bulan. 

b. Tunas sambung berupa pucuk, dari pohon induk terpilih, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Menetapkan pohon induk durian sebagai sumber mata tunas. Pohon induk sebaiknya dipangkas kira-kira empat bulan sebelum pengambilan entris agar diperoleh mata tunas sambungan dalam jumlah banyak dan bermutu.
  2. Memilih tunas pucuk dari ranting yang tegak sampai miring dan tangkai pucuk bernas sepanjang 12 cm. Memotong tangkai daun, dengan menyisakan tiga helai daun (satu pasang ditambah satu daun pada bagian ujung). Memotong daun-daun tersebut dengan menyisakan masing-masing seperti bagian helai daun. 
  3. Menggunakan pucuk yang tidak dorman, maka pilih ranting yang lebih panjang, karena bagian pucuk yang tidak dorman harus dipotong, selanjutnya memberi perlakuan yang sama pada ranting yang dorman tersebut diatas. 
  4. Ranting tunas sambung dapat disimpan maksimal 4-5 jam, dengan penyimpanan yang baik dengan dikemas. 

c. Langkah kerja kegiatan penyambungan yaitu : 
  1. Mempersiapkan alat dan bahan-bahan yang diperlukan, diantaranya silet. 
  2. Menyediakan plastik pengikat dan panjangnya sesuai kebutuhan.
  3. Kegiatan penyambungan diawali dengan memotong semaian batang bawah bekas atau dibawah kotiledon, buat celah dan masukkan tunas sambung yang telah diruncing (bentuk V), dan selanjutnya diikat dengan lembaran plastik pengikat yang telah disiapkan. 
  4. Mengupayakan tidak ada celah antara tunas sambung dengan batang bawah untuk mencegah masukknya air dan penyakit pada bekas perlukaan tersebut, yang dapat menggagalkan pertautan antara tunas sambung dengan batang bawah. 

VII. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil
LAPORAN PERBANYAKAN TUMBUHAN DURIAN DENGAN CARA PENYAMBUNGAN

B. Pembahasan
Tanaman durian termasuk famili Bombaceae sebangsa pohon kapuk-kapukan. Yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Lahia, Boschia dan Coelostegia. Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam. Durian umumnya dapat tumbuh di daerah berketinggian 50-600 m dpl. Tetapi ada juga tanaman durian yang cocok ditanam diberbagai ketinggian hingga mencapai 800 m dpl. Namun durian paling cocok dikebunkan pada daerah berketinggian 200-600 m dpl. Tanah yang cocok untuk durian adalah jenis tanah grumosol dan ondosol.

Tanah yang memiliki ciri-ciri warna hitam keabu-abuan kelam, struktur tanah lapisan atas bebutir-butir, sedangkan bagian bawah bergumpal, dan kemampuan mengikat air tinggi hai ini dikarenakan tanaman durian termasuk tanaman tahunan dengan perakaran dalam, maka membutuhkan kandungan air tanah dengan kedalam cukup, (50-150 cm) dan (150-200 cm). Jika kedalaman air tanah terlalu dangkal/ dalam, rasa buah tidak manis/tanaman akan kekeringan/akarnya busuk akibat selalu tergenang.

Tempat lain yang membudidayakan durian dengan orientasi ekspor adalah Mindanao di Filipina. Durian sangat beraneka ragam. Di Indonesia tercatat ada 20 spesies anggota durian, sembilan di antaranya dapat dimakan. Durian yang benar pun memiliki banyak variasi. Lembaga penelitian di Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah merilis berbagai kultivar durian unggul. Selain itu terdapat pula ras-ras lokal yang dikenal baik namun belum mengalami tahap seleksi untuk meningkatkan kualitasnya. Terdapat lebih dari 55 varietas atau jenis durian budidaya. Hingga 2005 terdapat 38 kultivar unggul yang telah diseleksi dan diperbanyak secara vegetatif.

Perbanyakan durian di desa-desa umumnya dengan menggunakan biji. Perbanyakan dengan biji juga dilakukan untuk memperoleh batang bawah dalam perbanyakan vegetatif. Biji durian bersifat recalcitrant, hanya dapat hidup dengan kadar air tinggi (di atas 30% berat) dan tanpa perlakuan tertentu hanya sanggup bertahan seminggu sebelum akhirnya embrionya mati. Dengan demikian biji harus segera disemaikan setelah buahnya dibuka.

Perbanyakan durian sebenarnya sangat mudah dilakukan secara alamiah buah durian yang telah ranum akan jatuh dari pohon induknya dan banyak yang belah sendirinya, walau pun tidak pecah secara menyeluruh menjadi beberapa segmen bijinya akan tersebardan tumbuh menjadi tanaman baru, akan tetapi pohon durian yang berkembang secara generatif ini akan kurang dapat dipertanggung jawabkan sifatnya.

Sering terjadi bahwa hasilnya tidak selalu dapat memenuhi tuntutan yang sesuai degan selera.hal ini terutama di sebabkan oleh terjadinya persilangan yang akan menghasilkan keturunan yang berbeda- beda. Jadi akhirnya muncul tanaman baru dengan keanekaragaman yang sangat besar dengan demikian kecil kemungkinan mendapat kan tanaman yang memiliki sifat yang persis seperti induknya maka dilakukan kegiatan pembiakan secara vegetatif untuk perbanyakannya.

Pohon durian mulai berbuah setelah 4-5 tahun, namun dalam budidaya dapat dipercepat jika menggunakan bahan tanam hasil perbanyakan vegetatif. Misalnya Teknik dipakai adalah penyambungan celah (cleft grafting). Beberapa penangkar sekarang juga menerapkan penyambungan mikro (micrografting). Teknik ini dilakukan pada saat batang bawah masih berusia muda sehingga mempercepat masa tunggu. Tercatat bahwa durian hasil perbanyakan vegetatif mampu berbunga setelah 2-3 tahun. 

Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. 

Bagian tanaman yang disambungkan atau disebut batang atas (scion) dan merupakan sepotong batang yang mempunyai lebih dari satu mata tunas (entres), baik itu berupa tunas pucuk atau tunas samping. Penyambungan batang bawah dan batang atas ini biasanya dilakukan antara dua varietas tanaman yang masih dalam spesies yang sama. Misalnya penyambungan antar varietas pada tanaman durian. Kadang-kadang bisa juga dilakukan penyambungan antara dua tanaman yang berlainan spesiesnya tetapi masih dalam satu famili.

Manfaat sambungan pada tanaman adalah untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman, dihasilkan gabungan tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari segi perakaran dan produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan berbuah (tanaman berumur genjah) serta menghasilkan tanaman yang sifat berbuahnya sama dengan induknya. Mengatur proporsi tanaman agar memberikan hasil yang lebih baik, tindakan ini dilakukan khususnya pada tanaman yang berumah dua, misalnya tanaman melinjo. Peremajaan tanpa menebang pohon tua, sehingga tidak memerlukan bibit baru dan menghemat biaya eksploitasi. 

Untuk menyiapkan batang bawah dapat menggunakan biji asalan atau "sapuan” sehingga menghasilkan batang bawah, tetapi ada varietas tanaman yang baik khusus untuk batang bawah untuk menghasilkan sistem perakaran yang baik dan tahan terhadap busuk akar. bibit dalam fase pertumbuhan yang optimum (tingkat kesuburannya baik), kambium aktif, sehingga memudahkan dalam pengupasan dan proses merekatnya mata tempel ke batang bawah.


Batang atas atau entres yang akan disambungkan pada batang bawah diambil dari pohon induk yang sehat dan tidak terserang penyakit. Pengambilan entres ini dilakukan dengan menggunakan gunting stek atau silet yang tajam (agar diperoleh potongan yang halus dan tidak mengalami kerusakan) dan bersih (agar entres tidak terkontaminasi oleh penyakit). Entres yang akan diambil sebaiknya dalam keadaan dorman (istirahat) pucuknya serta tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda (setengah berkayu). Entres sebaiknya dipilih dari bagian cabang yang terkena sinar matahari penuh (tidak ternaungi) sehingga memungkinkan cabang memiliki mata tunas yang tumbuh sehat dan subur. Bila pada waktunya pengambilan entres, keadaan pucuknya sedang tumbuh tunas baru (trubus) atau sedang berdaun muda, maka bagian pucuk muda ini dibuang dan bagian pangkalnya sepanjang 5-10 cm dapat digunakan sebagai entres.

Pada durian bila entres yang digunakan berasal dari cabang yang tumbuh tegak lurus, maka bibit sambungannya akan tumbuh tegak dengan percabangan ke semua arah atau simetris. Namun bila diambil dari cabang yang lain, pertumbuhan bibitnya akan mengarah ke samping, berbentuk seperti kipas. Bentuk ini berangsur-angsur hilang bila tanaman menjelang dewasa. 

Ada dua tipe sambungan, yaitu sambungan pucuk, dan sambungan samping. Sambung pucuk (top grafting) merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian atas atau pucuk dari batang bawah. Memilih batang bawah yang diameter batangnya disesuaikan dengan besarnya batang atas. Umur batang bawah pada keadaan siap sambung ini bervariasi antara 1-24 bulan, tergantung jenis tanamannya. Sebagai contoh, untuk durian umur 3-4 bulan, agar menghasilkan bibit yang baik disarankan penyiraman dalam jumlah yang cukup (media cukup basah) menggunakan media tanam dengan komposisi tanah subur.

Tipe sambungan kedua adalah sambungan samping. Pada dasarnya, pelaksanaan sambung samping sama seperti pelaksanaan model sambung pucuk. Sambung samping merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian samping batang bawah. Ukuran batang atas tidak perlu sama dengan batang bawah, bahkan lebih baik dibuat lebih kecil. Pada batang bawah dibuat irisan belah dengan mengupas bagian kulit tanpa mengenai kayu atau dapat juga dengan sedikit menembus bagian kayunya. Irisan kulit batang bawah dibiarkan atau tidak dipotong. Batang atas dibuat irisan meruncing pada kedua sisinya. Sisi irisan yang menempel pada batang bawah dibuat lebih panjang menyesuaikan irisan di batang bawah dari sisi luarnya. Batang atas tersebut disisipkan pada irisan belah dari batang bawah. Dengan demikian, batang bawah dan batang atas akan saling berhimpitan. Kedua lapisan kambium harus diusahakan agar saling bersentuhan dan bertaut bersama.

Setelah selesai disambung, kemudian diikat dengan tali plastik. Untuk menjaga agar tidak terkontaminasi atau mengering, sambungan dan batang atas ditutup dengan kantong plastik. Setelah batang atas menunjukkan pertumbuhan tunas, kurang lebih 2 minggu setelah penyambungan, kantong plastik serta tali plastik bagian atas sambungan dibuka lebih dulu, sedangkan tali plastik yang mengikat langsung tempelan batang atas dan kulit batang bawah dibiarkan, sampai tautan sambungan cukup kuat.

Bilamana sudah dipastikan bahwa batang atas dapat tumbuh dengan baik, bagian batang bawah di atas sambungan dipotong. Pemotongan perlu dilakukan supaya tidak terjadi kompetisi kebutuhan zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan lanjutan dari batang atas. Penyediaan benih bermutu dalam jumlah yang banyak masih menjadi masalah. Pada umumnya tanaman durian yang diusahakan petani berasal dari okulasi dan sambungan. Benih sambungan yang baik adalah yang kompatibel antara batang bawah dengan batang atasnya. Keberhasilan penyambungan ditandai dengan terbentuknya pertautan yang sempurna antara batang bawah dan batang atas serta laju pertumbuhan benih hasil sambungan. 

Pengamatan yang telah kami lakukan yaitu menggunakan 3 sampel pohon durian yang dilakukan teknik penyambungan, namun dalam waktu 1 bulan tidak mengalami perubahan ke hasil yang baik bahkan sampel dari 3 pohon durian tersebut mengalami kekeringan. Ini menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan teknik penyambungan diantaranya faktor keaseptikan saat proses pengirisan batang batang atas dan faktor keterampilan dalam teknik menyambung tanaman yaitu pada tanaman durian. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyambungan lebih rincinya yaitu pertama Scion yang dijadikan bahan sambungan tersebut tidak cacat dan masih dalam keadaan segar, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda dan berbatang bulat. Grafting tidak terkena secara langsung terik matahari maupun air hujan. Bagian sambungan kambium harus menempel seerat mungkin, paling tidak salah satu dari bagiannya. Pisau dan gunting yang digunakan untuk kegiatan sambungan ini yang tajam dan tidak berkarat agar sambungan tidak terinfeksi oleh penyakit. Dikerjakan dengan secepat mungkin, dengan kerusakan minimum pada kambium, dan diusahakan penyayatan pada scion jangan sampai berulang-ulang. Usahakan untuk menjaga bagian yang terluka, baik pada scion maupun pada rootstock agar tetap dalam keadaan lembab. Bagian sambungan harus dijaga dari kekeringan sampai beberapa minggu setelah penyambungan. 

Curah hujan yang cukup tinggi juga menyebabkan basahnya sambungan, kondisi ini terjadi terutama pada saat hujan turun dengan waktu yang cukup lama. Air masuk menembus sungkup dan lilitan plastik sehingga secara langsung membasahi sambungan. Ketersediaan air memang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama untuk keberhasilan. Ketersediaan air mempengaruhi pertumbuhan , terutama perluasan sel namun air juga dapat memberikan pengaruh yang negatif bagi tanaman, khususnya pada saat sambungan belum menyatu sempurna, adanya titik-titik air dapat menyebabkan kebusukan pada sayatan. Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh unsur hara baik itu makro maupun mikro. Unsur hara nitrogen merupakan unsur hara yang berperan dalam merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, daun, dan cabang tanaman.

Konsentrasi N tinggi umumnya menghasilkan daun yang lebih besar. Nitrogen organik dari bahan organik menghasilkan protein untuk pembelahan sel-sel tanaman, sehingga mempengaruhi perkembangan luas daun untuk melakukan fotosintesis. Sejalan dengan meningkatnya fotosintesis akan menghasilkan fotosintat yang digunakan untuk metabolisme dalam tanaman sehingga akan meningkatkan biomassa tanaman tersebut. Kandungan cadangan makanan yang terdapat didalam entris juga memberikan pengaruh tidak nyata pada setiap variabel pengamatan. Hal ini disebabkan kandungan cadangan makanan dalam keadaan seimbang sehingga pembelahan, pembesaran dan diferensiasi sel juga berjalan dengan seimbang. Kondisi seimbang ini memiliki maksud bahwa kandungan cadangan makanan yang terdapat pada masing-masing perlakuan panjang entris sama-sama memadai untuk terjadinya penyambungan. Menurut Winarno entris yang digunakan dalam penyambungan harus mengandung cadangan makanan yang cukup memadai, selain untuk proses pembentukan kalus sampai terbentuknya jaringan pembuluh juga untuk menunjang kelangsungan hidup sampai terjadinya aliran hara dari batang bawah. 

Sebab lain yang menyebabkan perlakuan panjang entris ini berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan panjang entris adalah cepatnya pembentukan kalus dan graft union relatif sama sehingga aliran unsur hara dari batang bawah kebatang atas begitu juga sebaliknya, aliran hasil fotosintesis daun yang mengandung zat-zat makanan menuju batang bawah terjadi dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh untuk masing-masing tanaman.

Ketersediaan air memang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama untuk keberhasilan terbentuknya graf union. Ketersediaan air mempengaruhi pertumbuhan ruas, terutama perluasan sel namun air juga dapat memberikan pengaruh yang negatif bagi tanaman karena air dapat menjadi media pembawa (carrier) mikroorganisme dan juga penyakit yang dapat menginfeksi tanaman terutama apabila adanya luka pada tanaman tersebut. proses tersebut, maka semakin cepat daun terbentuk. Pertumbuhan daun sangat dipengaruhi oleh unsur hara baik itu makro maupun mikro. Unsur hara nitrogen merupakan unsur hara yang berperan dalam merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, daun, dan cabang tanaman. 

Berkurangnya konsentrasi nitrogen dalam tanah salah satunya disebabkan oleh pencucian air hujan maupun penyiraman. Jika konsentrasi dalam sel lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi diluar sel tanaman maka air akan bergerak keluar dari dalam sel tanaman. Konsentrasi N tinggi umumnya menghasilkan daun yang lebih besar (Lakitan, 1996). Nitrogen organik dari bahan organik menghasilkan protein untuk pembelahan sel-sel tanaman, sehingga mempengaruhi perkembangan luas daun untuk melakukan fotosintesis. Sejalan dengan meningkatnya fotosintesis akan menghasilkan fotosintat yang digunakan untuk metabolisme dalam tanaman sehingga akan meningkatkan biomassa tanaman tersebut.

VII. Penutup
A. Kesimpulan 
Berdasarkan uraian sebelumnya mengenai teknik perbanyak tumbuhan dengan cara penyambungan yaitu pada tumbuhan durian (Durio zibethinus) maka dapat disimpulkan bahwa : 
  1. Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya.
  2. Ada dua tipe sambungan, yaitu sambungan pucuk, dan sambungan samping. Sambung pucuk (top grafting) merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian atas atau pucuk dari batang bawah dan sambung samping merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian samping batang bawah. 
  3. Keuntungan perbanyakan tanaman dengan cara sambung tersebut diantaranya adalah buah durian yang akan dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan tanaman induk yang diambil untuk batang atasnya serta masa berbuah tanaman yang lebih cepat dibanding perbanyakan dengan biji. 


B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan yaitu sebaiknya dalam perbanyakan tumbuhan dengan teknik penyambungan pada tumbuhan durian (Durio zibethinus) diperhatikan penggunaan entres yang akan disambungkan pada batang bawah yaitu harus diseleksi terlebih dahulu agar pohon induk yang digunakan adalah yang sehat dan tidak terserang penyakit kemudian penggunaan plastik pengikat disesuaikan dengan kebutuhan sehingga tidak melebihi ukuran agar teknik penyambungan yang dilakukan menjadi berhasil.

DAFTAR PUSTAKA 
Depa Putu, 2012. Pengaruh Panjang Entris Terhadap Keberhasilan Sambung Pucuk Bibit Jambu Air. 1 (1) 1-9. Untan. 

Hamid Abdul, 2011. Keberhasilan Okulasi Varietas Jeruk Manis Pada Berbagai Perbandingan Pupuk Kandang. 2 (4) 97-104. Universitas Tadulako Palu. 

Sukarmin, 2011. Teknik Uji Daya Simpan Entres Durian Varietas Kani Sebagai Bahan Penyambungan. 2 (16) 48-51. Buletin Teknik Pertanian. 

Tiyar Fajar, 2010. Pembudidayaan Durian di Kebun Benih Hortikultura Ranukitri Pendem Mojogedang. Surakarta.

Suwandi, 2010. Petunjuk Teknis Perbanyakan Tanaman Dengan Cara Sambungan (Grafting). 1 (2) 1-10. Jakarta.