LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK - ElrinAlria

LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK

PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
PEROBAAN I

A. TUJUAN
Tujuan pada percobaan ini yaitu:
  1. Mempelajari uji yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur penyusun senyawa tersebut 
  2. Mengamati beberapa perbedaan sifat dasar antara senyawa organik dan anorganik 

B. LANDASAN TEORI
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksidasi karbon. Beberapa golongan senyawa organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya, hidrokarbon aromatic, senyawa yang mengandung paling tidak satu cincin benzene, senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom non karbon dalam struktur cincinnya dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Perbedaan antara kimia organik dan anorganik adalah ada atau tidaknya ikatan karbon hydrogen (Cahyono dan Agung).

Senyawa organik terlibat dalam tiap segi kehidupan, dan banyak manfaatnya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Ada diantaranya yang berwujud bahan makanan, bahan sandang, obat-obatan, kosmetik, dan berbagai jenis plastik. Senyawa organik hanya memiliki satu jenis senyawa kimia, yaitu yang mengandung satu atom karbon atau lebih (Budimarwanti).

Senyawa-senyawa organik sederhana yang menimbulkan bau seperti metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Proses penguraian senyawa organik dengan menggunakan mikroba yang menghasilkan metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) dikenal sebagai proses metanogenesis. Proses metanogenesis adalah proses penguraian oleh spesies mikroba metanogenik (Wiyarno dan Sri).

Zat organik dibagi menjadi 2 yaitu zat organik aromatis dan zat organik non-aromatis. Zat organik aromatis adalah senyawa organik yang beraroma, secara kimia senyawa ini mempunyai ikatan rantai yang melingkar, misalnya benzene, toluene. Sedangkan zat organik non-aromatis adalah senyawa organik yang tidak beraroma, dan secara kimia tidak mempunyai rantai ikatan melingkar, misalnya etana, etanol, formalin (Hidayanti dan Yusrin, 2010).

Asam organik termasuk ke dalam senyawa organik yang umumnya merupakan hasil dari kegiatan jasad hidup. Umumnya ditemukan pada, diatas dan didalam tanah. Bentuk senyawa organik terdiri dari senyawa yang belum terhumuskan dan telah terhumuskan. Senyawa organik yang belum terhumuskan misalnya karbohidrat, protein, asam amino, lemak, lignin, asam nukleat, pigmen, hormon dan asam-asam organik. Asam organik yang termasuk dalam senyawa organik yang belum terhumuskan diistilahkan sebagai asam organik belum terhumuskan. Senyawa organik yang telah terhumuskan adalah asam humat (AH), asam fulfat (AF), dan turunan dari hidroksi benzoat dari asam humat (Ismangil dan Eko, 2005).

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Gelas kimia 100 ml
  • Cawan krus
  • Sendok tanduk
  • pH meter
  • Batang pengaduk
  • Botol semprot
  • Kawat
  • Pipet tetes
  • Tabung reaksi
  • Gegep

2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Gula
  • Garam
  • Urea
  • Lilin
  • Kloroform
  • AgNO3

D. PROSEDUR KERJA
1. Tes unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik
a. Tes Beilstein
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


b. Uji Pengukuran pH
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


E. HASIL PENGAMATAN
1. Tes unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


F. PEMBAHASAN
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksidasi karbon. Beberapa golongan senyawa organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya, hidrokarbon aromatic, senyawa yang mengandung paling tidak satu cincin benzene, senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom non karbon dalam struktur cincinnya dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Perbedaan antara kimia organik dan anorganik adalah ada atau tidaknya ikatan karbon hydrogen.

Pada percobaan kali ini memiliki dua tujuan yaitu mengetahui tes-tes yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur penyusun senyawa yaitu dengan tes Beilstein dan uji pengukuran pH. Dan mengamati beberapa perbedaan sifat dasar antar senyawa organik dan anorganik. 

Pada umumnya, senyawa organik dan anorganik mempunyai ciri-ciri tersendiri untuk membedakan kedua senyawa tersebut. Ada beberapa sifat fisika dan kimia yang menandakan senyawa tersebut merupakan senyawa organik atau senyawa anorganik, misalnya keadaan saat pemanasan dan pembakaran. Unsur-unsur senyawa organik berada dalam struktur yang kompleks, oleh karena itu dapat dilakukan beberapa percobaa untuk melepaskan unsur-unsur penyusun senyawa tersebut. 

Percobaan yang pertama yaitu pembakaran senyawa organik dengan menggunakan tes Beilstein dan uji pengukuran pH. Tes Beilstein adalah tes yang digunakan untuk mendeteksi adanya unsur C dan H dalam suatu senyawa organik. Pada tes ini menggunakan kawat tembaga yang dicelupkan ke dalam masing-masing larutan. Larutan yang digunakan yaitu garam bersifat anorganik dan gula bersifat organik. Karena bersifat organik maka kawat yang dicelupkan ke dalam larutan gula akan enghasilkan gelembung.

Unsur-unsur penyusun senyawa organik dapat pula dideteksi dengan basa kuat. Proses ini bertujuan untuk mendeteksi adanya unsur nitrogen dalam senyawa organik. Urea merupakan salah suatu senyawa yang mengandung unsur nitrogen di dalam senyawanya. Urea yang telah ditambahkan dengan aquadest kemudian diukur pH-nya dengan menggunakan pH meter sehingga hasil pH nya yaitu 8,49.

Percobaan yang kedua yaitu untuk mengetahui perbedaan senyawa organik dan anorganik yang ditunjau dari perbedaan sifat karena pemanasan. Langkah pertama yang kami lakukan yaitu menaruh gula dan daram di atas cawan krus dan memanaskannya di atas hot plate. Setelah beberapa menit, terlihat perbedaan antara garam dan gula, dimana pada cawan krus yang berisi garam tidak terjadi perubahan, sedangkan pada cawan krus yang berisi gula terjadi perubahan dimana gula tersebut meleleh dan mengalami perubahan warna menjadi warna coklat. Hal ini menunjukkan bahwa gula merupakan salah satu senyawa yang mengandung unsur karbon (C), sehingga ketika dipanaskan unsur karbon yang terdapat didalam gula akan mengalami reaksi.

Sedangkan jika ditinjau dari perbedaan ionisasi, AgNO3 yang di tambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisis kloroform, akan mengalami perubahan yaitu terbentuknya dua lapisan, lapisan atas berisis kloroform dan lapisan bawah berisi AgNO3. Hal ini menunjukkan bahwa dari kedua larutan tersebut mempunyai perbedaan kepolaran dan berat jenis yang besar. Sedangkan jika AgNO3 yang ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang telah terisi NaCl, terjadi perubahan yaitu warna larutan berubah menjadi keruh dan terbentuknya endapan putih. Hal ini menunjukkan bahwa AgNO3 yang direaksikan dengan NaCl akan menghasilkan AgCl yang nantinya akan menjadi endapan putih 

G. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu:
  1. Uji yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur penyusun senyawa organik yaitu dengan menggunakan uji Beilstein, uji pengukuran pH.
  2. Senyawa organik merupakan senyawa golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksidasi karbon, serta zat penyusunnya sebagian besar berasal dari makhluk hidup. Sedangkan senyawa anorganik yaitu senyawa yang berasal dari sintesis mineral, umumnya berikatan ion, dan tidak terurai bila dibakar. 

DAFTAR PUSTAKA
Budimarwanti, C., Penggolongan Senyawa Organik dan Dasar-Dasar Reaksi Organik, Word To PDF Converter.

Cahyono, A., D., Tuhu Agung R., Pemanfaatan Fly Ash Batubara Sebagai Adsorben Dalam Penyisihan COD Dari Limbah Cair Domestik Rumah Susun Wonorejo Surabaya, Jurnal Ilmiah Tiknik Lingkungan, Vol.4, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, Jawa Timur.

Hidayanti, A., M., Yusrin, 2010, Pengaruh Lama Waktu Simpan Pada Suhu Ruang (27-29C) Terhadap Zat Organik Pada Air Minum Isi Ulang, Prosiding Seminar Nasional Unimus, ISBN, Universitas Muhammadiyah, Semarang.

Ismangil, Eko Hanudin, 2005, Degradasi Mineral Batuan Oleh Asam-Asam Organik, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Vol.5, Fakultas Pertanian Universitas Jendral Sudirman, Purwokerto., dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 

Wiyarno, Y., Sri Widyastuti, Isolasi Dan Identifikasi Komponen Senyawa Penyusun Bau Pada Limbah Pabrik Tapioka, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, Vol.1, Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya.

LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK

PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
PEROBAAN I

A. TUJUAN
Tujuan pada percobaan ini yaitu:
  1. Mempelajari uji yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur penyusun senyawa tersebut 
  2. Mengamati beberapa perbedaan sifat dasar antara senyawa organik dan anorganik 

B. LANDASAN TEORI
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksidasi karbon. Beberapa golongan senyawa organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya, hidrokarbon aromatic, senyawa yang mengandung paling tidak satu cincin benzene, senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom non karbon dalam struktur cincinnya dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Perbedaan antara kimia organik dan anorganik adalah ada atau tidaknya ikatan karbon hydrogen (Cahyono dan Agung).

Senyawa organik terlibat dalam tiap segi kehidupan, dan banyak manfaatnya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Ada diantaranya yang berwujud bahan makanan, bahan sandang, obat-obatan, kosmetik, dan berbagai jenis plastik. Senyawa organik hanya memiliki satu jenis senyawa kimia, yaitu yang mengandung satu atom karbon atau lebih (Budimarwanti).

Senyawa-senyawa organik sederhana yang menimbulkan bau seperti metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Proses penguraian senyawa organik dengan menggunakan mikroba yang menghasilkan metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) dikenal sebagai proses metanogenesis. Proses metanogenesis adalah proses penguraian oleh spesies mikroba metanogenik (Wiyarno dan Sri).

Zat organik dibagi menjadi 2 yaitu zat organik aromatis dan zat organik non-aromatis. Zat organik aromatis adalah senyawa organik yang beraroma, secara kimia senyawa ini mempunyai ikatan rantai yang melingkar, misalnya benzene, toluene. Sedangkan zat organik non-aromatis adalah senyawa organik yang tidak beraroma, dan secara kimia tidak mempunyai rantai ikatan melingkar, misalnya etana, etanol, formalin (Hidayanti dan Yusrin, 2010).

Asam organik termasuk ke dalam senyawa organik yang umumnya merupakan hasil dari kegiatan jasad hidup. Umumnya ditemukan pada, diatas dan didalam tanah. Bentuk senyawa organik terdiri dari senyawa yang belum terhumuskan dan telah terhumuskan. Senyawa organik yang belum terhumuskan misalnya karbohidrat, protein, asam amino, lemak, lignin, asam nukleat, pigmen, hormon dan asam-asam organik. Asam organik yang termasuk dalam senyawa organik yang belum terhumuskan diistilahkan sebagai asam organik belum terhumuskan. Senyawa organik yang telah terhumuskan adalah asam humat (AH), asam fulfat (AF), dan turunan dari hidroksi benzoat dari asam humat (Ismangil dan Eko, 2005).

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Gelas kimia 100 ml
  • Cawan krus
  • Sendok tanduk
  • pH meter
  • Batang pengaduk
  • Botol semprot
  • Kawat
  • Pipet tetes
  • Tabung reaksi
  • Gegep

2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Gula
  • Garam
  • Urea
  • Lilin
  • Kloroform
  • AgNO3

D. PROSEDUR KERJA
1. Tes unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik
a. Tes Beilstein
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


b. Uji Pengukuran pH
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


E. HASIL PENGAMATAN
1. Tes unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


F. PEMBAHASAN
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksidasi karbon. Beberapa golongan senyawa organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya, hidrokarbon aromatic, senyawa yang mengandung paling tidak satu cincin benzene, senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom non karbon dalam struktur cincinnya dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Perbedaan antara kimia organik dan anorganik adalah ada atau tidaknya ikatan karbon hydrogen.

Pada percobaan kali ini memiliki dua tujuan yaitu mengetahui tes-tes yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur penyusun senyawa yaitu dengan tes Beilstein dan uji pengukuran pH. Dan mengamati beberapa perbedaan sifat dasar antar senyawa organik dan anorganik. 

Pada umumnya, senyawa organik dan anorganik mempunyai ciri-ciri tersendiri untuk membedakan kedua senyawa tersebut. Ada beberapa sifat fisika dan kimia yang menandakan senyawa tersebut merupakan senyawa organik atau senyawa anorganik, misalnya keadaan saat pemanasan dan pembakaran. Unsur-unsur senyawa organik berada dalam struktur yang kompleks, oleh karena itu dapat dilakukan beberapa percobaa untuk melepaskan unsur-unsur penyusun senyawa tersebut. 

Percobaan yang pertama yaitu pembakaran senyawa organik dengan menggunakan tes Beilstein dan uji pengukuran pH. Tes Beilstein adalah tes yang digunakan untuk mendeteksi adanya unsur C dan H dalam suatu senyawa organik. Pada tes ini menggunakan kawat tembaga yang dicelupkan ke dalam masing-masing larutan. Larutan yang digunakan yaitu garam bersifat anorganik dan gula bersifat organik. Karena bersifat organik maka kawat yang dicelupkan ke dalam larutan gula akan enghasilkan gelembung.

Unsur-unsur penyusun senyawa organik dapat pula dideteksi dengan basa kuat. Proses ini bertujuan untuk mendeteksi adanya unsur nitrogen dalam senyawa organik. Urea merupakan salah suatu senyawa yang mengandung unsur nitrogen di dalam senyawanya. Urea yang telah ditambahkan dengan aquadest kemudian diukur pH-nya dengan menggunakan pH meter sehingga hasil pH nya yaitu 8,49.

Percobaan yang kedua yaitu untuk mengetahui perbedaan senyawa organik dan anorganik yang ditunjau dari perbedaan sifat karena pemanasan. Langkah pertama yang kami lakukan yaitu menaruh gula dan daram di atas cawan krus dan memanaskannya di atas hot plate. Setelah beberapa menit, terlihat perbedaan antara garam dan gula, dimana pada cawan krus yang berisi garam tidak terjadi perubahan, sedangkan pada cawan krus yang berisi gula terjadi perubahan dimana gula tersebut meleleh dan mengalami perubahan warna menjadi warna coklat. Hal ini menunjukkan bahwa gula merupakan salah satu senyawa yang mengandung unsur karbon (C), sehingga ketika dipanaskan unsur karbon yang terdapat didalam gula akan mengalami reaksi.

Sedangkan jika ditinjau dari perbedaan ionisasi, AgNO3 yang di tambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisis kloroform, akan mengalami perubahan yaitu terbentuknya dua lapisan, lapisan atas berisis kloroform dan lapisan bawah berisi AgNO3. Hal ini menunjukkan bahwa dari kedua larutan tersebut mempunyai perbedaan kepolaran dan berat jenis yang besar. Sedangkan jika AgNO3 yang ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang telah terisi NaCl, terjadi perubahan yaitu warna larutan berubah menjadi keruh dan terbentuknya endapan putih. Hal ini menunjukkan bahwa AgNO3 yang direaksikan dengan NaCl akan menghasilkan AgCl yang nantinya akan menjadi endapan putih 

G. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu:
  1. Uji yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur penyusun senyawa organik yaitu dengan menggunakan uji Beilstein, uji pengukuran pH.
  2. Senyawa organik merupakan senyawa golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksidasi karbon, serta zat penyusunnya sebagian besar berasal dari makhluk hidup. Sedangkan senyawa anorganik yaitu senyawa yang berasal dari sintesis mineral, umumnya berikatan ion, dan tidak terurai bila dibakar. 

DAFTAR PUSTAKA
Budimarwanti, C., Penggolongan Senyawa Organik dan Dasar-Dasar Reaksi Organik, Word To PDF Converter.

Cahyono, A., D., Tuhu Agung R., Pemanfaatan Fly Ash Batubara Sebagai Adsorben Dalam Penyisihan COD Dari Limbah Cair Domestik Rumah Susun Wonorejo Surabaya, Jurnal Ilmiah Tiknik Lingkungan, Vol.4, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, Jawa Timur.

Hidayanti, A., M., Yusrin, 2010, Pengaruh Lama Waktu Simpan Pada Suhu Ruang (27-29C) Terhadap Zat Organik Pada Air Minum Isi Ulang, Prosiding Seminar Nasional Unimus, ISBN, Universitas Muhammadiyah, Semarang.

Ismangil, Eko Hanudin, 2005, Degradasi Mineral Batuan Oleh Asam-Asam Organik, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Vol.5, Fakultas Pertanian Universitas Jendral Sudirman, Purwokerto., dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 

Wiyarno, Y., Sri Widyastuti, Isolasi Dan Identifikasi Komponen Senyawa Penyusun Bau Pada Limbah Pabrik Tapioka, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, Vol.1, Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya.