LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK - ElrinAlria
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK FARMASI
PERCOBAAN I
PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK 

A. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dalam percobaan ini dalah untuk: 
  1. Mempelajari tes-tes yang digunakan untuk mengindetifikasi unsur penyusun senyawa tersebut.
  2. Mengamati beberapa perbedaan sifat dasar antara senyawa organik dan anorganik.

B. Landasan Teori
Sekitar tahun 1850, kimia organik didefenisikan sebagai kimia dari senyawa yang datang dari benda hidup sehingga timbul istilah organik. Suatu pengetahuan mengenai kimia organik tak dapat diabaikan bagi kebanyakan ilmuwan. Misalnya, karena sistem kehidupan terutama terdiri dari air dan senyawa organik, hampir semua bidang yang berurusan dengan tanaman, hewan, atau mikroorganisme bergantung pada prinsip kimia organik (Fessenden, 1997).

Pada awalnya, perkembangan ilmu kimia sekitar tahun 1850, kimia organik didefenisikan sebagai kimia yang datang dari benda hidup. Pada saat ini, kimia organik dengan definisi semacam itu dianggap orang sejak sekitar tahun 1900. Ahli kimia mensintesa senyawa kimia baru dan tidak mempunyai hubungan dengan benda hidup. Sekarang ini, kimia organik adalah kimia senyawa karbon. Definisi ini pun tak terlalu tepat, karena beberapa senyawa karbon seperti karbon dioksida, natrium karbonat dan kalium sianida dianggap sebagai senyawa anorganik. Namun demikian, definisi ini dapat diterima sebab semua senyawa organik mengandung karbon (Fessenden, 1997).

Senyawa karbon atau yang biasa dikenal dengan senyawa organik ialah suatu senyawa yang unsus-unsur penyusunnya terdiri dari atom karbon dan atom-atom hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, halogen, atau fosfor. Pada awalnya senyawa karbon ini secara tidak langsung menunjukan hubungannya dengan sistem kehidupan. Namun dalam perkembangannya, ada senyawa organik yang tidak mempunyai hubungan dengan sistem kehidupan. Misalnya urea yang merupakan senyawa organik dari makhluk hidup yang berasal dari urin. Urea dapat dibuat dengan cara menguapkan garam amonium sianat yang merupakan senyawa anorganik menjadi senyawa organik (Siswoyo, 2009). 

Senyawa organik terutama mengandung atom karbon dan atom hidrogen, ditambah nitrogen, oksigen belerang dan atom unsur lainnya. Senyawa induk untuk semua senyawa organik adalah hidrokarbon-alkana (hanya mengandung ikatan tunggal), alkena (mengandung ikatan rangkap karbon-karbon), alkena (mengandung ikatan rangkap tiga karbon-karbon), dan hidrokarbon aromatik (mengandung cincin benzena) (Chang, 2004).

Gugus fungsional sebagai ciri utama suatu senyawa organik yang pada dasarnya dapat diketahui secara jelas dengan mengelompokkan molekul-molekul tersebut saling berkaitan sehingga sulit untuk membahas suatu gugus fungsional tanpa menyinggung gugus fungsional yang lainnya. Tetapi secara sederhana dapat dikatakan bahwa gugus fungsional adalah suatu atom-atom, gugus atom dalam suatu senyawa organik yang boleh dikatakan paling menentukan sifat zat tersebut (Arsyad, 2001).

Asam oganik adalah termasuk senyawa organik yang umumnya merupakan hasil dari kegiatan jasad hidup. Umumnya, di alam, ditemukan pada, di atas dan di dalam tanah. Bentuk senyawa organik terdiri dari senyawa yang belum terhumuskan dan telah terhumuskan. Senyawa organik yang belum terhumuskan misalnya karbohidrat, asam amino, protein, lemak, lignin, asam nukleat, pigment, hormon dan asam-asam organik. Asam organik yang termasuk dalam senyawa organik belum terhumuskan selanjutnya diistilahkan asam organik belum terhumuskan. Senyawa organik yang telah terhumuskan adalah asam humat (AH), asam fulfat (AF), dan turunan dari hidroksi bensoat dari asam humat (Ismangil, 2005).

Asam organik mampu mengkomplek logam dalam larutan. Derajat kompleksasi tergantung: 1) sifat asam organik (jumlah gugus karboksil dan hidroksil), 2) konsentrasi asam organik, 3) tipe loka permukaan, dan 4) pH dan kekuatan ionik larutan tanah (Tamad, 2008).

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain :
  • Gelas Kimia
  • Penangas Air
  • Timbangan Analitik
  • Pipet ukur
  • Pipet Tetes
  • Filler 
  • Tabung reaksi
  • Pipet 

2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain :
  • Ca(OH)2
  • Kloroform (CHCl3) 
  • Akuades
  • Natrium Hidroksida (NaOH)
  • Natrium klorida (NaCl)
  • Perak Nitrat (AgNO3)
  • Etanol 
  • Urea 

D. Prosedur Kerja
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK

E. Hasil Pengamatan
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


F. Pembahasan
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia. Sedangkan senyawa non organik adalah senyawa pada alam yang pada umumnya menyusun materi atau benda tak hidup.

Pada umumnya senyawa organik merupakan senyawa yang mengandung unsur karbon, selain itu juga terdapat unsur hydrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), dan posfor (P). Senyawa organik merupakan dari seluruh atau sebagian atom yang terkandung didalam jasad hidup. Sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa yang merupakan semua senyawa kimia yang jika dipanaskan terbentuk endapan dan pada umumnya membentuk ikatan kovalen. Senyawa anorganik pada umumnya berasal dari sintesis mineral. 

Pada percobaan kali ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari tes-tes yang digunakan untuk mengindetifikasi unsur penyusun senyawa tersebut serta mengamati beberapa perbedaan sifat dasar antara senyawa organik dan anorganik. Umumnya golongan senyawa organik dan senyawa anorganik mempunyai karakteristik yang menandakan perbedaan pada kedua golongan senyawa tersebut seperti dilakukan dengan cara pembakaran, pemanasan, ionisasi, dan kelarutannya.

Pada percobaan pertama yaitu untuk mendeteksi adanya atom C yang dilakukan dengan udara pernapasan yang dilewatkan melalui pipet kedalam larutan Ca(OH)2. Dari perlakuan menunjukkan hasil yang positif yang ditandai bahwa larutan tersebut yang awalnya bening menjadi keruh dan ketika didiamkan membentuk endapan putih CaCO3. Perubahan larutan menjadi endapan merupakan bukti adanya gas CO2 yang dihasilkan dari pernapasan mengandung atom C. CO2 yang kita keluarkan tersebut merupakan hasil metabolisme (respirasi) seluler yang terjadi di dalam tubuh, yaitu pembakaran karbohidrat oleh oksigen yang dihirup oleh manusia.

Percobaan selanjutnya dilakukan untuk melihat perbedaan sifat senyawa organik dan anorganik karena pemanasan. Pada percobaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya unsur nitrogen pada senyawa organik tersebut dan tes paling sederhana untuk mendeteksinya yaitu tergantung pada kecenderungan senyawa tersebut menghasilkan amoniak. Sampel senyawa organik yang digunakan adalah urea yang direaksikan dengan NaOH kemudian dipanaskan guna untuk mempercepat terjadinya reaksi. Hasil positif didapatkan dengan adanya gas dengan bau yang khas dari larutan tersebut yaitu bau pesing. Gas tersebut merupakan amoniak (NH3) yang bersifat basa lemah. Jadi dapat pastikan bahwa urea merupakan senyawa organik yang mengandung unsur nitrogen.

Uji selanjutnya yaitu membandingkan senyawa organik dan anorganik dari pemanasan. Sampel senyawa organik yang digunakan yaitu kloroform (CHCl3) dan senyawa anorganiknya yaitu akuades. Dari perlakuan diperoleh hasil bahwa kloroform yang memiliki titik didih yang lebih rendah lebih cepat mendidih dan menguap dibandingkan dengan akuades. Hal ini menunjukkan bahwa senya organik ketika dikenakan pembakaran ataupun pemanasan akan lebih mudah terurai dibandingkan dengan senyawa anorganik yang sukar terurai ketika dilakukan pembakaran atau pemanasan.

Uji terakhir perbedaan antara senyawa organik dan anorganik yaitu dengan cara ionisasi. NaCl yang direaksikan dengan AgNO3 maka larutan akan keruh dan terdapat endapan putih, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan energi ionisasi. NaCl yang memiliki ikatan ion mudah melepaskan dan membentuk ion ion positif sehingga lebih reaktif karena energi ionisasi yang dimilikinya kecil bila dibandingkan dengan Ag yang energi ionisasinya besar dan membentuk ion positif. Sedangkan CHCl3 yang direaksikan dengan AgNO3 larutan terdiri dari dua lapisan,yang menunjukkan tidak terjadinya reaksi antara dua senyawa tersebut. Hal ini disebabkan karena CHCl3 memiliki energi ionisasi yang sangat kuat sebab kloroform mempunyai ikatan kovalen yang menyebabkan ia tidak dapat bereaksi dengan AgNO3 sehingga sukar untuk membentuk ion positif, sama dengan Ag yang sukar membentuk ion positif, sehingga keduanya sukar larut. Dari hasil tersebut dapat menunjukkan bahwa senyawa organik (CHCl3) akan lebih sukar untuk membentuk ion positif dibandingkan dengan senyawa anorganik (NaCl) yang lebih mudah membentuk ion positif. 

G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. Beberapa uji yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi unsur penyusun suatu senyawa antara lain uji dengan pembakaran senyawa anorganik, pemanasan, dan ionisasi.
  2. Perbedaan senyawa organik dan anorganik dapat dilihat dari sifat fisika dan kimia seperti keadaan saat pemanasan senyawa organik akan lebih mudah mendidih dan menguap dibandingkan senyawa anorganik serta perbedaan ionisasi (dissosiasi), dan kelarutan. 

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad. 2001. Kamus Kimia. Gramedi Pustaka: Jakarta.

Chang, R.p 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti, Edisi Ketiga Jilid I. Erlangga: Jakarta. 

Fessenden, R. J., dan Fessenden, J. S. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Bina Aksara: Jakarta.

Ismangil, dan Eko H. 2005. Degradasi Mineral Batuan oleh Asam-Asam Organik. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Vol. 5 (1). 

Siswoyo, Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Erlangga: Jakarta. 

Tamad, dan Eko H. 2008. Kompetisi Anion Organik dan Anorganik Dalam Membentuk Kompleks dengan Allofan Dalam Upaya Perbaikan Ketersediaan Fosfat pada Andisol. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Vol. 8 (2).

LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK

LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK FARMASI
PERCOBAAN I
PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK 

A. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dalam percobaan ini dalah untuk: 
  1. Mempelajari tes-tes yang digunakan untuk mengindetifikasi unsur penyusun senyawa tersebut.
  2. Mengamati beberapa perbedaan sifat dasar antara senyawa organik dan anorganik.

B. Landasan Teori
Sekitar tahun 1850, kimia organik didefenisikan sebagai kimia dari senyawa yang datang dari benda hidup sehingga timbul istilah organik. Suatu pengetahuan mengenai kimia organik tak dapat diabaikan bagi kebanyakan ilmuwan. Misalnya, karena sistem kehidupan terutama terdiri dari air dan senyawa organik, hampir semua bidang yang berurusan dengan tanaman, hewan, atau mikroorganisme bergantung pada prinsip kimia organik (Fessenden, 1997).

Pada awalnya, perkembangan ilmu kimia sekitar tahun 1850, kimia organik didefenisikan sebagai kimia yang datang dari benda hidup. Pada saat ini, kimia organik dengan definisi semacam itu dianggap orang sejak sekitar tahun 1900. Ahli kimia mensintesa senyawa kimia baru dan tidak mempunyai hubungan dengan benda hidup. Sekarang ini, kimia organik adalah kimia senyawa karbon. Definisi ini pun tak terlalu tepat, karena beberapa senyawa karbon seperti karbon dioksida, natrium karbonat dan kalium sianida dianggap sebagai senyawa anorganik. Namun demikian, definisi ini dapat diterima sebab semua senyawa organik mengandung karbon (Fessenden, 1997).

Senyawa karbon atau yang biasa dikenal dengan senyawa organik ialah suatu senyawa yang unsus-unsur penyusunnya terdiri dari atom karbon dan atom-atom hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, halogen, atau fosfor. Pada awalnya senyawa karbon ini secara tidak langsung menunjukan hubungannya dengan sistem kehidupan. Namun dalam perkembangannya, ada senyawa organik yang tidak mempunyai hubungan dengan sistem kehidupan. Misalnya urea yang merupakan senyawa organik dari makhluk hidup yang berasal dari urin. Urea dapat dibuat dengan cara menguapkan garam amonium sianat yang merupakan senyawa anorganik menjadi senyawa organik (Siswoyo, 2009). 

Senyawa organik terutama mengandung atom karbon dan atom hidrogen, ditambah nitrogen, oksigen belerang dan atom unsur lainnya. Senyawa induk untuk semua senyawa organik adalah hidrokarbon-alkana (hanya mengandung ikatan tunggal), alkena (mengandung ikatan rangkap karbon-karbon), alkena (mengandung ikatan rangkap tiga karbon-karbon), dan hidrokarbon aromatik (mengandung cincin benzena) (Chang, 2004).

Gugus fungsional sebagai ciri utama suatu senyawa organik yang pada dasarnya dapat diketahui secara jelas dengan mengelompokkan molekul-molekul tersebut saling berkaitan sehingga sulit untuk membahas suatu gugus fungsional tanpa menyinggung gugus fungsional yang lainnya. Tetapi secara sederhana dapat dikatakan bahwa gugus fungsional adalah suatu atom-atom, gugus atom dalam suatu senyawa organik yang boleh dikatakan paling menentukan sifat zat tersebut (Arsyad, 2001).

Asam oganik adalah termasuk senyawa organik yang umumnya merupakan hasil dari kegiatan jasad hidup. Umumnya, di alam, ditemukan pada, di atas dan di dalam tanah. Bentuk senyawa organik terdiri dari senyawa yang belum terhumuskan dan telah terhumuskan. Senyawa organik yang belum terhumuskan misalnya karbohidrat, asam amino, protein, lemak, lignin, asam nukleat, pigment, hormon dan asam-asam organik. Asam organik yang termasuk dalam senyawa organik belum terhumuskan selanjutnya diistilahkan asam organik belum terhumuskan. Senyawa organik yang telah terhumuskan adalah asam humat (AH), asam fulfat (AF), dan turunan dari hidroksi bensoat dari asam humat (Ismangil, 2005).

Asam organik mampu mengkomplek logam dalam larutan. Derajat kompleksasi tergantung: 1) sifat asam organik (jumlah gugus karboksil dan hidroksil), 2) konsentrasi asam organik, 3) tipe loka permukaan, dan 4) pH dan kekuatan ionik larutan tanah (Tamad, 2008).

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain :
  • Gelas Kimia
  • Penangas Air
  • Timbangan Analitik
  • Pipet ukur
  • Pipet Tetes
  • Filler 
  • Tabung reaksi
  • Pipet 

2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain :
  • Ca(OH)2
  • Kloroform (CHCl3) 
  • Akuades
  • Natrium Hidroksida (NaOH)
  • Natrium klorida (NaCl)
  • Perak Nitrat (AgNO3)
  • Etanol 
  • Urea 

D. Prosedur Kerja
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK

E. Hasil Pengamatan
LAPORAN PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


F. Pembahasan
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia. Sedangkan senyawa non organik adalah senyawa pada alam yang pada umumnya menyusun materi atau benda tak hidup.

Pada umumnya senyawa organik merupakan senyawa yang mengandung unsur karbon, selain itu juga terdapat unsur hydrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), dan posfor (P). Senyawa organik merupakan dari seluruh atau sebagian atom yang terkandung didalam jasad hidup. Sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa yang merupakan semua senyawa kimia yang jika dipanaskan terbentuk endapan dan pada umumnya membentuk ikatan kovalen. Senyawa anorganik pada umumnya berasal dari sintesis mineral. 

Pada percobaan kali ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari tes-tes yang digunakan untuk mengindetifikasi unsur penyusun senyawa tersebut serta mengamati beberapa perbedaan sifat dasar antara senyawa organik dan anorganik. Umumnya golongan senyawa organik dan senyawa anorganik mempunyai karakteristik yang menandakan perbedaan pada kedua golongan senyawa tersebut seperti dilakukan dengan cara pembakaran, pemanasan, ionisasi, dan kelarutannya.

Pada percobaan pertama yaitu untuk mendeteksi adanya atom C yang dilakukan dengan udara pernapasan yang dilewatkan melalui pipet kedalam larutan Ca(OH)2. Dari perlakuan menunjukkan hasil yang positif yang ditandai bahwa larutan tersebut yang awalnya bening menjadi keruh dan ketika didiamkan membentuk endapan putih CaCO3. Perubahan larutan menjadi endapan merupakan bukti adanya gas CO2 yang dihasilkan dari pernapasan mengandung atom C. CO2 yang kita keluarkan tersebut merupakan hasil metabolisme (respirasi) seluler yang terjadi di dalam tubuh, yaitu pembakaran karbohidrat oleh oksigen yang dihirup oleh manusia.

Percobaan selanjutnya dilakukan untuk melihat perbedaan sifat senyawa organik dan anorganik karena pemanasan. Pada percobaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya unsur nitrogen pada senyawa organik tersebut dan tes paling sederhana untuk mendeteksinya yaitu tergantung pada kecenderungan senyawa tersebut menghasilkan amoniak. Sampel senyawa organik yang digunakan adalah urea yang direaksikan dengan NaOH kemudian dipanaskan guna untuk mempercepat terjadinya reaksi. Hasil positif didapatkan dengan adanya gas dengan bau yang khas dari larutan tersebut yaitu bau pesing. Gas tersebut merupakan amoniak (NH3) yang bersifat basa lemah. Jadi dapat pastikan bahwa urea merupakan senyawa organik yang mengandung unsur nitrogen.

Uji selanjutnya yaitu membandingkan senyawa organik dan anorganik dari pemanasan. Sampel senyawa organik yang digunakan yaitu kloroform (CHCl3) dan senyawa anorganiknya yaitu akuades. Dari perlakuan diperoleh hasil bahwa kloroform yang memiliki titik didih yang lebih rendah lebih cepat mendidih dan menguap dibandingkan dengan akuades. Hal ini menunjukkan bahwa senya organik ketika dikenakan pembakaran ataupun pemanasan akan lebih mudah terurai dibandingkan dengan senyawa anorganik yang sukar terurai ketika dilakukan pembakaran atau pemanasan.

Uji terakhir perbedaan antara senyawa organik dan anorganik yaitu dengan cara ionisasi. NaCl yang direaksikan dengan AgNO3 maka larutan akan keruh dan terdapat endapan putih, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan energi ionisasi. NaCl yang memiliki ikatan ion mudah melepaskan dan membentuk ion ion positif sehingga lebih reaktif karena energi ionisasi yang dimilikinya kecil bila dibandingkan dengan Ag yang energi ionisasinya besar dan membentuk ion positif. Sedangkan CHCl3 yang direaksikan dengan AgNO3 larutan terdiri dari dua lapisan,yang menunjukkan tidak terjadinya reaksi antara dua senyawa tersebut. Hal ini disebabkan karena CHCl3 memiliki energi ionisasi yang sangat kuat sebab kloroform mempunyai ikatan kovalen yang menyebabkan ia tidak dapat bereaksi dengan AgNO3 sehingga sukar untuk membentuk ion positif, sama dengan Ag yang sukar membentuk ion positif, sehingga keduanya sukar larut. Dari hasil tersebut dapat menunjukkan bahwa senyawa organik (CHCl3) akan lebih sukar untuk membentuk ion positif dibandingkan dengan senyawa anorganik (NaCl) yang lebih mudah membentuk ion positif. 

G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. Beberapa uji yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi unsur penyusun suatu senyawa antara lain uji dengan pembakaran senyawa anorganik, pemanasan, dan ionisasi.
  2. Perbedaan senyawa organik dan anorganik dapat dilihat dari sifat fisika dan kimia seperti keadaan saat pemanasan senyawa organik akan lebih mudah mendidih dan menguap dibandingkan senyawa anorganik serta perbedaan ionisasi (dissosiasi), dan kelarutan. 

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad. 2001. Kamus Kimia. Gramedi Pustaka: Jakarta.

Chang, R.p 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti, Edisi Ketiga Jilid I. Erlangga: Jakarta. 

Fessenden, R. J., dan Fessenden, J. S. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Bina Aksara: Jakarta.

Ismangil, dan Eko H. 2005. Degradasi Mineral Batuan oleh Asam-Asam Organik. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Vol. 5 (1). 

Siswoyo, Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Erlangga: Jakarta. 

Tamad, dan Eko H. 2008. Kompetisi Anion Organik dan Anorganik Dalam Membentuk Kompleks dengan Allofan Dalam Upaya Perbaikan Ketersediaan Fosfat pada Andisol. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Vol. 8 (2).