LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN - ElrinAlria
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pertumbuhan tanaman dapat didefinisikan sebagai peristiwa perubahan yang terjadi pada makhluk hidup berupa pertumbuhan ukuran (jumlah sel, panjang sel, volume sel, dan biomassa). Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan yang menyertai pertumbuhan. Perubahan itu meliputi perubahan bentuk dan tingkat kematangan makhluk hidup. Secara sederhana, perkembangan merupakan proses perubahan menjadi dewasa. Perkembangan merupakan suatu konsep kualitatif (Fritz, 2008).

Pertumbuhan vegetatif tanaman diawali dengan proses perkecambahan biji. Proses perkecambahan awal menghasilkan akar primer yaitu radikula dan akar seminal yang muncul dari bagian pangkal biji yang terbentuk dari cadangan makanan (endosperm) dalam biji. Faktor yang mempengaruhi perkecambahan biji, yaitu proses imbibisi (penyerapan air), umur, dan varietas biji. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman ditentukan oleh proses fisiologis yang berlangsung di dalamnya. Proses fisiologis dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim seperti radiasi matahari, suhu, curah hujan, serta kelembaban udara. Dengan demikan hasil produksi tanaman mutlak merupakan konversi energi radiasi matahari, air, dan hara dalam tanah ke dalam produk akhir. 

Kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal saat pertumbuhan vegetatif menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam menunjukkan potensi produksinya yang merupakan hasil interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan. Fase vegetatif terjadi dengan ditandai pertambahan daun, akar, dan batang. Fase ini berhubungan dengan 3 proses penting yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap pertama dari diferensiasi. Dalam pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh lingkungan dimana tanaman tumbuh, lingkungan yang ekstrim ialah lingkungan yang dapat menimbulkan cekaman pada tumbuhan. Penyebab cekaman dapat berupa berbagai bahan kimia dan faktor-faktor fisik yang bersifat permanen maupun dapat balik.

Berdasarkan uraian latar belakang maka dilakukanlah praktikum mengenai pengaruh cekaman kekeringan dan cahaya, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan cekaman kekeringan dan pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman kacang hijau dan jagung.

1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum ini, yaitu :
  1. Bagaimana pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman ? 
  2. Bagaimana pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman? 

1.3. Manfaat
Manfaat penulisan laporan pertumbuhan dan perkembangan ini sebagai berikut : 
  1. Bagi penulis, penulisan laporan ini bermanfaat dalam menambah ilmu serta wawasan penulis mengenai pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu cekaman kekeringan dan intensitas cahaya, penulisan laporan ini juga merupakan referensi awal dari sebuah permasalahan ilmiah untuk penyusunan tugas nantinya.
  2. Bagi pembaca, penulisan laporan ini dapat menambah wawasan, menjadi referensi atau acuan dalam pembuatan laporan terkait pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 
  3. Bagi masyarakat, penulisan laporan ini bermanfaat bagi mereka yang berkecipung didunia tumbuhan sehingga dapat membantu pengelolaan dan pemeliharaan tumbuhan dan tanaman pertanian dalam mengatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhadap perubahan lingkungan yang terus berubah yang tentunya mempengaruhi proses keduanya. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pertumbuhan pada suatu makhluk hidup atau organisme dapat diartikan sebagai proses pertambahan biomassa atau ukuran (berat, volume, atau jumlah) yang sifatnya tetap dan irreversible (tidak dapat balik ke kondisi semula). Jadi, pertumbuhan merupakan suatu konsep kuantitatif yang berkaitan dengan pertambahan massa suatu organisme. Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan yang menyertai pertumbuhan. Perubahan itu meliputi perubahan bentuk dan tingkat kematangan makhluk hidup. Secara sederhana, perkembangan merupakan proses perubahan menjadi dewasa. Perkembangan merupakan suatu konsep kualitatif (Frits, 2008).

Jagung adalah salah satu bahan makanan yang utama di dunia bersama gandum dan beras. Jagung adalah salah satu tumbuhan C4 dengan aktivitas fotosintesis hebat. Jagung tumbuh pada kebutuhan lahan bawahan paling tidak 500 mm dari pengendapan baik sepanjang musim. Suhu optimum untuk pertumbuhan ini di lahan bawahan pada daerah tropis terbentang dari 30°C ke 34°C. Pertumbuhan juga bergantung kepada suhu. Suhu yang sesuai biasanya menghasilkan perkembangan yang baik (Jean, 2013).

Dibanding dengan tanaman kacang-kacangan lainnya, kacang hijau memiliki kelebihan dari segi agronomi dan ekonomis, seperti: (a) lebih tahan kekeringan, (b) serangan hama dan penyakit lebih sedikit, (c) dapat dipanen pada umur 55-60 hari, (d) dapat ditanam pada tanah yang kurang subur, dan (e) cara budidayanya mudah Oleh karena itu, sangat penting bagi mahasiswa dan petani untuk dapat mengetahui teknik budidaya kacang hijau baik secara teori maupun aplikasi dan prakteknya (Salisbury, 1995).

Lingkungan yang ekstrim ialah lingkungan yang dapat menimbulkan cekaman pada tumbuhan. Penyebab cekaman dapat berupa berbagai bahan kimia dan faktor-faktor fisik yang bersifat permanen maupun dapat balik. Kekeringan dapat merupakan cekaman primer maupun cekaman sekunder. Cekaman primer disebabkan oleh kekurangan air di lingkungan sekitar tumbuhan, sedangkan cekaman sekunder diinduksi oleh keadaan dingin, pembekuan, panas atau kadar garam. Cekaman air pada tanaman dapat disebabkan oleh kekurangan suplai air di daerah perakaran (Nio, 2011).

Kelembaban yang cukup mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan dari yang bertanggung jawab untuk serapan dari rhizosfir. Stress kekeringan umumnya menunjukkan satu sistem dari kekurangan air. Penurunan interval pengairan menyebabkan satu penyusutan pola dari perkembangan akar adalah akibat dari perbedaan distribusi kelembaban. Panjang akar menyusut berpengaruh signifikan dengan penekanan air. Kelembaban yang tidak cukup pada tanah yang dihasilkan dapat mengurangi ekstensi akar (Habtamu, 2014). 

Kekurangan air mempengaruhi semua aspek pertumbuhan tanaman, yang meliputi proses fisiologi, biokimia, anatomi dan morfologi. Pada saat kekurangan air, sebagian stomata daun menutup sehingga terjadi hambatan masuknya CO2 dan menurunkan aktivitas fotosintesis. Kekurangan air juga menghambat sintesis protein dan dinding sel.. Respons tanaman yang mengalami kekurangan air berupa berkurangnya luas daun dan peningkatan rasio akar dan tajuk (Yunia, 2011).

Cara adaptasi tanaman terhadap kekeringan bervariasi tergantung jenis tumbuhan dan tahap-tahap perkembangan tumbuhan. Respon adaptasi tanaman terhadap cekaman kekeringan dapat berupa respon jangka panjang, seperti perubahan pertumbuhan, dan perubahan biokimiawi. Perubahan pertumbuhan meliputi penurunan pertumbuhan batang dan daun, sedangkan perubahan biokimia dapat berupa akumulasi senyawa organik compatible yang berfungsi menjaga keseimbangan osmolit dalam tubuh tumbuhan (Sinay, 2015).

Mekanisme toleransi pada tanaman sebagai respon adanya cekaman kekeringan meliputi kemampuan tanaman tetap tumbuh pada kondisi kekurangan air yaitu dengan menurunkan luas daun dan memperpendek siklus tumbuh, kemampuan akar untuk menyerap air di lapisan tanah paling dalam, kemampuan untuk melindungi meristem akar dari kekeringan dengan meningkatkan akumulasi senyawa tertentu seperti glisin, betain, gula alkohol atau prolin untuk osmotic adjustment dan mengoptimalkan peranan stomata untuk mencegah hilangnya air melalui daun (Endang, 2006).

Kenaikan luas daun akan menyebabkan kenaikan biomasa tanaman sampai pada suatu keadaan tertentu. Intensitas cahaya yang diterima tajuk tanaman cmerupakan salah satu faktor paling berpengaruh terhadap luas daun dan produksi biomasa tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi cenderung menurunkan tinggi tanaman, luas daun dan berat kering total tanaman. Semakin tinggi intensitas cahaya maka luas daun tanaman cenderung lebih sempit. Apabila intensitas cahaya yang diterima rendah, maka jumlah cahaya yang diterima oleh setiap luasan permukaan daun dalam jangka waktu tertentu rendah (Gardner et al., 1991).

Tanaman monokotil kurang terpancar oleh pancaran sinar UV dibandingkan tanaman dikotil sebab dari orientasi daun mereka yang vertikal, dasar yang bersifat melindungi sarung pelindung, dan apikal meristem. Dampak negatif dari hasil pancaran UV mengakibatkan parameter analisa berubah. Pada taraf yang tinggi UV b dengan jelas menurunkan laju pertumbuhan relatif dan produktifitas nitrogen, seperti rasio area daun, produktifitas area daun dan produktifitas nitrogen, semua mengalami penurunan (K.zuk. 2003).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu 21 Desember 2015 sampai 02 Januari 2016, bertempat di Laboratorium Jurusan Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2. Alat dan Bahan
a. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum pertumbuhan dan perkembangan yaitu : alat tulis, botol, cangkul, gunting, jangka sorong, lidi, mistal, neraca ohause, oven, paranet dan tali rafia

b. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum pertumbuhan dan perkembangan yaitu : air, jagung (Zea mays), kacang hijau (Radiatus phaseolus L.), karet, kertas, kertas label, polybag, pupuk dan tanah.

3.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum ini, adalah sebagai berikut :
• Penanaman Tanaman:
  • a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
  • b. Mencampurkan tanah humus yang telah disaring dengan dengan pupuk kandang.
  • c. Memasukan tanah yang telah dicampur ke dalam polybag yang telah dibalik.
  • d. Menanam kacang hijau dan jagung yang telah direndam pada masing-masing polybag.
  • e. Memberikan label nama pada masing-masing polybag yang telah ditanami kacang hijau dan jagung.
  • f. Menyiram polybag dengan air dan ditempatkan pada masing-masing perlakuan yang diberikan.
  • g. Menyiram tanaman setiap hari pagi dan sore selama 2 minggu.

• Pengukuran Tanaman :
  • a. Melakukan pengukuran tanaman pengaruh cekaman kekeringan pada masing-masing perlakuan, kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Serta pengaruh intensitas cahaya, pada tanaman yang dinaungi dan tanaman yang tak ternaungi
  • b. Pengukuran cekaman kekeringan dilakukan setiap 3 hari sekali. Sedangkan untuk pengaruh intensitas cahaya setiap seminggu sekali.
  • c. Mencatat hasil pengukuran pada tabel hasil pengamatan.

• Penimbangan Tanaman:
  • a. Memanen tanaman yang telah dipelihara selama kurang lebih 1 bulan.
  • b. Membersihkan bagian-bagian tanaman dari tanah sampai bersih dengan menggunakan air.
  • c. Setelah dibersihkan, kemudian menimbang berat basah masing-masing tanaman, dan mencatat hasil pengukuran berat basah (gr).
  • d. Membungkus masing-masing tanaman dengan menggunakan kertas dan diikat dengan menggunakan karet.
  • e. Memasukan tanaman yang telah dibungkus ke dalam oven selama 2 jam untuk kemudian di keringkan.
  • f. Menimbang berat kering (gr) tanaman yang telah dipanaskan di oven dan mencatat hasil pengukuran pada tabel hasil pengamatan.

3.4. Analisis Data
Analisis data yang digunakan pada praktikum pertumbuhan dan perkembangan adalah analisis data varian (ANOVA) dengan menggunakan SPSS.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Deskripsi :
Tanaman jagung yang diberi perlakuan cekaman kekeringan memiliki 3 perlakuan, untuk perlakuan kontrol menunjukkan hasil ukuran yang sama pada perlakuan 2, sedangkan pada perlakuan 1 menunjukkan ukuran panjang tanaman paling tinggi, jumlah daun untuk ke 3 perlakuan yaitu tetap yaitu 8 daun. Untuk panjang daun, lebar daun, dan luas daun pada ke 3 perlakuan menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. pada berat basah tanaman perlakuan kontrol menunjukkan hasil yang signifikan terhadap perlakuan 1 sedangkan perlakuan 1 dan perlakuan 2 hasilnya tidak jauh berbeda, untuk berat kering tanaman ke 3 perlakuan juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda.
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Deskripsi :
Tabel kacang hijau yang diberi perlakuan cekaman kekeringan, memiliki 3 perlakuan, untuk hasil pengukuran pada tinggi tanaman dan panjang daun ke 3 perlakuan menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda, untuk jumlah daun perlakuan 1 memiliki jumlah daun paling banyak, lebar daun perlakuan kontrol dan perlakuan 1 memiliki hasil pengukuran yang sama yaitu 2,22 cm, sedangkan pada pengukuran luas daun perlakuan 2 memiliki hasil yang signifikan terhadap kontrol dan perlakuan 1. Pada berat basah dan berat kering tanaman menunjukkan hasil pada 3 perlakuan yang tidak jauh berbeda.

b. Hasil Pengamatan Intensitas Cahaya
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Deskripsi :
Kacang hijau yang diberi perlakuan pengaruh intensitas cahaya memiliki 2 perlakuan yaitu untuk yang ternaung dan yang tidak ternaungi. Untuk tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan lebar daun pada kedua perlakuan hasil pengukurannya sangat singnifikan dan pada kacang hijau yang diberi naungan nilai hasil pengukurannya lebih besar dibanding yang tidak ternaungi. Untuk berat basah tanaman perlakuan ternaungi hasilnya lebih rendah daripada yang tidak ternaungi dan hasil sebaliknya pada berat kering tanaman kacang hijau.
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Deskripsi :
Tanaman jagung yang diberi perlakuan pengaruh intensitas cahaya, memiliki 2 perlakuan yaitu tanaman yang ternaung dan tidak ternaung, untuk tinggi tanaman, panjang daun, dan luas daun menunjukkan hasil yang signifikan, tinggi tanaman untuk yang tidak ternaung pengukurannya lebih tinggi daripada tanaman yang ternaung, sedangkan luas daun dan lebar daun tanaman yang ternaung menunjukkan hasil pengukuran yang lebih tinggi daripada tanaman yang tidak ternaungi. berat basah pada tanaman ternaung lebih tinggi hasilnya sedangkan pada berat kering tanaman tidak ternaung menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibanding tanaman ternaung. 

4.2 Pembahasan 
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman ditentukan oleh proses fisiologis yang berlangsung di dalamnya. Proses fisiologis dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim seperti radiasi matahari, suhu, curah hujan, serta kelembaban udara. Dengan demikan hasil produksi tanaman mutlak merupakan konversi energi radiasi matahari, air, dan hara dalam tanah ke dalam produk akhir. Kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal saat pertumbuhan vegetatif menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam menunjukkan potensi produksinya yang merupakan hasil interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan. Fase vegetatif terjadi dengan ditandai pertambahan daun, akar, dan batang. 

Fase ini berhubungan dengan 3 proses penting yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap pertama dari diferensiasi. Apabila tanaman kekurangan unsur hara pertumbuhan tanaman akan terhambat, keadaan daun menjadi kuning pucat. Keadaan tersebut menyebabkan protein, lemak dan karbohidrat tanaman kurang terbentuk, sehingga dapat mengganggu proses metabolisme, khususnya pembentukan sel-sel baru pada jaringan meristematik tanaman, sehingga pada akhirnya menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk hayati didalam tanah akan membantu proses dekomposisi, pada proses ini berbagai unsur hara yang terkandung di dalam tanah akan terlepas secara berangsur-angsur, terutama senyawa nitrogen dan fosfor. Selain itu proses dekomposisi akan memberikan pengaruh positif terhadap keadaan sifat-sifat kimia dan biologi tanah. Bila unsur N cukup tersedia bagi tanaman maka kandungan klorofil pada daun akan meningkat dan proses fotosintesis juga meningkat sehingga asimilat yang dihasilkan lebih banyak, akibatnya pertumbuhan tanaman lebih baik.

Kacang hijau merupakan salah satu tanaman leguminosae yang cukup penting di Indonesia setelah tanaman kedelai dan kacang tanah. Dalam setiap 100 gram biji kacang hijau mengandung 345 kal kalori, 22 gram protein, 1,2 g lemak, 62,9 g karbohidrat, 125 mg kalsium, 320 mg fosfor, 6,7 mg besi, 157 SI vitamin A, 0,64 mg vitamin B 1, 6 mg vitamin C dan 10 g air. Kacang hijau dalam pertumbuhannya mampu mengikat Nitrogen (N) dari udara bebas, karena mempunyai bintil akar yang berfungsi sebagai bakteri rhizobium. Untuk itu pemberian pemupukan N perlu diperhatikan pada proses budidaya kacang hijau.

Jagung merupakan tanaman C4 dimana fotosintesis tanaman C4 semakin efektif pada intensitas cahaya matahari yang semakin tinggi. Bahkan pada kisaran intensitas cahaya matahari dimana bagi tanaman C3 misalnya tanaman kacang hijau telah mencapai titik jenuh, pada tanaman C4 justru masih mengalami peningkatan yang signifikan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik pada daerah terbuka dengan tingkat intensitas cahaya yang tinggi.

Pertanaman jagung yang mendapat cekaman kekeringan secara umum ditandai dengan menggulungnya daun yang terjadi pada siang hari yang bertujuan untuk mengurangi dehidrasi pada daun. Dengan menggulungnya daun laju asimilasi neto berkurang. Akibat cekaman kekeringan menimbulkan pengaruh yang kompleks terhadap pertumbuhan tanaman. Secara morfologi dan fisiologi pengaruh cekaman air dapat dilihat pada penampilan luas daun individu, kecepatan muncul daun, aktivitas asimilasi CO2, membuka menutupnya stomata, kecepatan pertumbuhan biji dan pengisian biji. 

Stress air menurunkan luas daun, menurunkan kecepatan proses fotosintesis dan alokasi asimilat dari tajuk ke akar. Pada kondisi stress berat, berat kering akar meningkat 20% sehingga terjadi penurunan produksi biji. Tanaman yang mengalami kekeringan mulai pada fase berbunga sampai panen hasilnya 15-35% dari hasil tanaman yang tidak tercekam kekeringan. Hal tersebut diperlukan varietas yang peka terhadap kekeringan pada fase tersebut. Tanaman jagung yang mengalami cekaman kekeringan pada fase pembungaan akan langsung berpengaruh terhadap produksi. Oleh karena itu pada fase pembungaan sangat sesuai seleksi genotipe jagung yang toleran cekaman kekeringan dengan melihat kemampuan mempertahankan atau penurunan potensi hasil.

Diketahui bahwa daerah-daerah (zona) titik tumbuh pada tanaman dikenal sebagai daerah (zona) meristematik. daerah ini dipenuhi dengan sel-sel meristematik yang selalu membelah. Aktivitas pembelahan sel dapat menyebabkan pertambahan jumlah sel yang mempengaruhi pertambahan ukuran tubuh tanaman. Akan tetapi pada kondisi kekurangan air, aktivitas pembelahan sel dapat menurun atau bahkan terhenti, sehingga tidak ada penambahan ukuran sel. Selain itu, panjang daun yang terhambat karena terhambatnya pembelahan sel juga berkaitan dengan ketersediaan unsur hara, sehingga pembelahan sel di daerah titik tumbuh menjadi lambat atau bahkan terhenti. 

Pertumbuhan meliputi dua tahap yaitu pembelahan sel (cell division) dan pemanjangan/pembentangan sel (cell enlargement/cell expansion). Kedua proses ini dipengaruhi oleh tekanan turgor sel (tekanan hidrostatik). Pada kondisi cekaman kekeringan dengan potensial air sel lebih rendah, pembelahan dan pembentangan sel terbatas sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan menurun. Pada tanaman yang mengalami cekaman kekeringan, terjadi penghambatan panjang daun juga dimaksudkan untuk mengurangi luas permukaan daun dan reduksi jumlah stomata untuk mencegah proses penguapan. Transpirasi yang berlebihan tanpa diimbangi dengan ketersediaan air tanah yang cukup, dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, gangguan fungsi fisiologi, biokimiawi, dan kematian pada tanaman.

Cekaman fisiologis pada fase perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif masih dapat ditoleransi oleh tanaman jagung sebab tanaman jagung termasuk salah satu tanaman yang relatif efisien dalam penggunaan air, sebaliknya cekaman fisiologis pada awal fase generatif akan menunda proses pembentukan bunga betina (rambut tongkol). Hal ini disebabkan pada fase generatif merupakan fase terlemah tanaman jagung terhadap cekaman karena pada masa ini tanaman jagung sedang mengumpulkan energi yang cukup untuk membentuk organ generatif dan penyimpanan makanan. 

Cekaman kekeringan mempengaruhi semua aspek pertumbuhan dan metabolisme tanaman termasuk integritas membran, kandungan pigmen, keseimbangan osmotik, aktivitas fotosintesis, penurunan potensial air protoplasma, penurunan pertumbuhan, dan penurunan diameter batang. Jika kebutuhan air tidak dipenuhi maka pertumbuhan tanaman akan terhambat, karena air berfungsi melarutkan unsur hara dan membantu proses metabolisme dalam tanaman termasuk juga tanaman jagung. Cara adaptasi tanaman terhadap kekeringan bervariasi tergantung jenis tumbuhan dan tahap-tahap perkembangan tumbuhan.

Respon adaptasi tanaman terhadap cekaman kekeringan dapat berupa respon jangka panjang, seperti perubahan pertumbuhan, dan perubahan biokimiawi. Perubahan pertumbuhan meliputi penurunan pertumbuhan batang dan daun, sedangkan perubahan biokimia dapat berupa akumulasi senyawa organik compatible yang berfungsi menjaga keseimbangan osmolit dalam tubuh tumbuhan. Salah satu senyawa organik kompatibel yang sering diamukulasi oleh tanaman ketika berada pada kondisi kekeringan yaitu prolin (Farooq et al., 2009)) Akumulasi prolin terhadap cekaman kekeringan telah dilaporkan oleh banyak peneliti misalnya pada kelapa sawit (Mathius, dkk. 2004), kedelai (Mapegau, 2006), kacang tanah (Riduan, dkk. 2005) dan pada nilam (Kadir, 2011). Pada jagung Hirricks et al.,(2012) menyatakan bahwa kekeringan akan menyebabkan penurunan pertumbuhan akar, penurunan panjang daun, indeks luas daun, dan keterlambatan memasuki fase reproduksi, serta penurunan hasil.

Memperoleh laju pertumbuhan tanaman yang maksimal harus terdapat cukup banyak daun dalam tajuk untuk menyerap sebagian besar radiasi matahari jatuh keatas tajuk tanaman yang digunakan untuk proses fotosintesis. Tanaman yang menerima cahaya lebih banyak, cenderung memiliki jumlah daun lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang kurang menerima cahaya. Peningkatan jumlah daun seiring dengan bertambahnya umur tanaman dan dengan pertambahan jumlah daun mempengaruhi luas daun per tanaman. Hasil fotosintesis dapat digunakan sebagai sumber energi untuk pembentukan daun-daun baru dan organ tanaman lain, sehingga daun yang dihasilkan lebih. Dengan meningkatnya jumlah klorofil dan jumlah daun yang terbentuk maka proses fotosintesis berjalan dengan baik dan fotosintat yang dihasilkan akan lebih tinggi maka pertumbuhan pun semakin baik. Dengan demikian peningkatan laju pertumbuhan tanaman akan cenderung menghasilkan bobot kering pupus tanaman yang lebih banyak.

Respon tanaman pada lingkungan ternaungi ditentukan oleh toleransi tanaman terhadap pengurangan intensitas cahaya. Salah satu pengaruh naungan terhadap morfologi tanaman adalah batang tanaman menjadi lebih tinggi karena batang tanaman mengalami etiolasi. Keadaan morfologi tersebut mengakibatkan tanaman mudah rebah sehingga dapat menurunkan hasil biji. Naungan sebesar 50% selama pertumbuhan mengakibatkan penurunan hasil biji kedelai antara 37 hingga 74%, dan pada tanaman padi mengakibatkan penurunan produktivitas hasil lebih dari 55%. Pengaruh lain naungan terhadap morfologi tanaman adalah peningkatan luas daun (Tankou et al., 1990; Djukri dan Purwoko, 2003; Kisman et al., 2007) yang bertujuan agar penyerapan cahaya lebih efisien sehingga proses fotosintesis dapat berjalan secara normal. Pada fase reproduktif beberapa varietas, cekaman naungan menyebabkan umur berbunga dan umur panen yang lebih cepat dibandingkan pada lingkungan tidak ternaungi.

BAB V 
PENUTUP 
5.1 Kesimpulan
  1. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan, terjadi penghambatan panjang daun juga dimaksudkan untuk mengurangi luas permukaan daun dan reduksi jumlah stomata untuk mencegah proses penguapan. Transpirasi yang berlebihan tanpa diimbangi dengan ketersediaan air tanah yang cukup, dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, gangguan fungsi fisiologi, biokimiawi, dan kematian pada tanaman. Cekaman kekeringan mempengaruhi semua aspek pertumbuhan dan metabolisme tanaman termasuk integritas membran, kandungan pigmen, keseimbangan osmotik, aktivitas fotosintesis, penurunan potensial air protoplasma, penurunan pertumbuhan, dan penurunan diameter batang.
  2. Tanaman yang menerima cahaya lebih banyak, cenderung memiliki jumlah daun lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang kurang menerima cahaya. Peningkatan jumlah daun seiring dengan bertambahnya umur tanaman dan dengan pertambahan jumlah daun mempengaruhi luas daun per tanaman. Hasil fotosintesis dapat digunakan sebagai sumber energi untuk pembentukan daun-daun baru dan organ tanaman lain, sehingga daun yang dihasilkan lebih. Dengan meningkatnya jumlah klorofil dan jumlah daun yang terbentuk maka proses fotosintesis berjalan dengan baik dan fotosintat yang dihasilkan akan lebih tinggi maka pertumbuhan pun semakin baik. 

5.2 Saran 
Saran yang dapat saya berikan terkait praktikum pertumbuhan dan perkembangan sebaiknya penyiapan lahan untuk tempat peletakkan tanaman-tanaman yang dipelihara oleh tiap kelompok diatur dan dibagi sebaik mungkin agar tidak terjadi lagi kehilangan tanaman-tanaman pada kelompok tertentu. Kemudian sebelum melakukan penanaman benih kacang hijau dan jagung perlu diberi petunjuk indikator benih yang baik agar benih dapat tumbuh dan berkecambah dengan baik sehingga penggunaan waktu untuk praktikum pertumbuhan dan perkembangan menjadi efisien karena tidak ada pengulangan penanaman bagi kelompok yang benihnya tidak berhasil berkecambah. Selanjutnya dalam proses analisis data sebaiknya diperika terlebih dahulu oleh masing-masing asisten agar kita mendapatkan keakuratan data dan dalam melaksanakan praktikum sebaiknya diawasi dengan ketat sehingga semua anggota kelompok dapat berpartisipasi dalam praktikum ini. 

DAFTAR PUSTAKA
Endang Gati Lestari. 2006. Hubungan Antara Kerapatan Stomata Dengan Ketahanan Kekeringan Pada Somaklon Padi Gajahmungkur, Towuti, Dan Ir 64. Journal Biodiversitas. ISSN : 1412-033. 7(1) : 44-48.

Frits Bernard. 2008. The Effect Of Plant Stimulant/Fertilizer “Resistim” On Growth And Development Of Strawberry Plants. Journal Of Fruit And Ornamental Plant Research. Vol 18(1) : 111-124.

Gardner, F.P., R. B. Pearce and R. L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants. Indonesia University. Jakarta.

Habtamu Ashagre. 2014. Emergence and Seedling Growth of Corn (Zea mays L.) as Influenced by Irrigation Schedules on Vertisol. International Research Journal of Plant Science. ISSN: 2141-5447. Vol 5 (1) : 17-22. 

Jean Claude. 2013. Growth And Leaf Area Index Simulation In Maize (Zea Mays L.) Under Small-Scale Farm Conditions In A Sub-Saharan African Region. American Journal Of Plant Sciences. Vol 4 : 575-583.

K. Zuk-Golaszewska. 2006. The Effect Of Uv-B Radiation On Plant Growth And Development. Plant Soil Environ. Vol 49 (3): 135–140.

Nio Song Ai, 2011. Biomassa Dan Kandungan Klorofil Total Daun Jahe (Zingiber Officinale L.) Yang Mengalami Cekaman Kekeringan. Jurnal Ilmiah Sains Vol. 11 (1) : 1-5.

Salisbury, F.B. and C.W, Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Penerbit ITB. Bandung.

Sinay Kocjk. 2015. Effect of Drought Stress Treatment Towards Growth and Proline Content at The Vegetative Phase of Few Local Corn Cultivars From Kisar Island Under Green House Condition. Journal Of Fruit And Ornamental Plant Research. Vol 11 (3) :228-237.

Yunia Banyo. 2011. Konsentrasi Klorofil Daun Sebagai Indikator Kekurangan Air Pada Tanaman. Jurnal Ilmiah Sains. Vol. 11 (2). 167- 173.

LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pertumbuhan tanaman dapat didefinisikan sebagai peristiwa perubahan yang terjadi pada makhluk hidup berupa pertumbuhan ukuran (jumlah sel, panjang sel, volume sel, dan biomassa). Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan yang menyertai pertumbuhan. Perubahan itu meliputi perubahan bentuk dan tingkat kematangan makhluk hidup. Secara sederhana, perkembangan merupakan proses perubahan menjadi dewasa. Perkembangan merupakan suatu konsep kualitatif (Fritz, 2008).

Pertumbuhan vegetatif tanaman diawali dengan proses perkecambahan biji. Proses perkecambahan awal menghasilkan akar primer yaitu radikula dan akar seminal yang muncul dari bagian pangkal biji yang terbentuk dari cadangan makanan (endosperm) dalam biji. Faktor yang mempengaruhi perkecambahan biji, yaitu proses imbibisi (penyerapan air), umur, dan varietas biji. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman ditentukan oleh proses fisiologis yang berlangsung di dalamnya. Proses fisiologis dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim seperti radiasi matahari, suhu, curah hujan, serta kelembaban udara. Dengan demikan hasil produksi tanaman mutlak merupakan konversi energi radiasi matahari, air, dan hara dalam tanah ke dalam produk akhir. 

Kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal saat pertumbuhan vegetatif menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam menunjukkan potensi produksinya yang merupakan hasil interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan. Fase vegetatif terjadi dengan ditandai pertambahan daun, akar, dan batang. Fase ini berhubungan dengan 3 proses penting yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap pertama dari diferensiasi. Dalam pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh lingkungan dimana tanaman tumbuh, lingkungan yang ekstrim ialah lingkungan yang dapat menimbulkan cekaman pada tumbuhan. Penyebab cekaman dapat berupa berbagai bahan kimia dan faktor-faktor fisik yang bersifat permanen maupun dapat balik.

Berdasarkan uraian latar belakang maka dilakukanlah praktikum mengenai pengaruh cekaman kekeringan dan cahaya, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan cekaman kekeringan dan pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman kacang hijau dan jagung.

1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum ini, yaitu :
  1. Bagaimana pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman ? 
  2. Bagaimana pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman? 

1.3. Manfaat
Manfaat penulisan laporan pertumbuhan dan perkembangan ini sebagai berikut : 
  1. Bagi penulis, penulisan laporan ini bermanfaat dalam menambah ilmu serta wawasan penulis mengenai pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu cekaman kekeringan dan intensitas cahaya, penulisan laporan ini juga merupakan referensi awal dari sebuah permasalahan ilmiah untuk penyusunan tugas nantinya.
  2. Bagi pembaca, penulisan laporan ini dapat menambah wawasan, menjadi referensi atau acuan dalam pembuatan laporan terkait pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 
  3. Bagi masyarakat, penulisan laporan ini bermanfaat bagi mereka yang berkecipung didunia tumbuhan sehingga dapat membantu pengelolaan dan pemeliharaan tumbuhan dan tanaman pertanian dalam mengatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhadap perubahan lingkungan yang terus berubah yang tentunya mempengaruhi proses keduanya. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pertumbuhan pada suatu makhluk hidup atau organisme dapat diartikan sebagai proses pertambahan biomassa atau ukuran (berat, volume, atau jumlah) yang sifatnya tetap dan irreversible (tidak dapat balik ke kondisi semula). Jadi, pertumbuhan merupakan suatu konsep kuantitatif yang berkaitan dengan pertambahan massa suatu organisme. Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan yang menyertai pertumbuhan. Perubahan itu meliputi perubahan bentuk dan tingkat kematangan makhluk hidup. Secara sederhana, perkembangan merupakan proses perubahan menjadi dewasa. Perkembangan merupakan suatu konsep kualitatif (Frits, 2008).

Jagung adalah salah satu bahan makanan yang utama di dunia bersama gandum dan beras. Jagung adalah salah satu tumbuhan C4 dengan aktivitas fotosintesis hebat. Jagung tumbuh pada kebutuhan lahan bawahan paling tidak 500 mm dari pengendapan baik sepanjang musim. Suhu optimum untuk pertumbuhan ini di lahan bawahan pada daerah tropis terbentang dari 30°C ke 34°C. Pertumbuhan juga bergantung kepada suhu. Suhu yang sesuai biasanya menghasilkan perkembangan yang baik (Jean, 2013).

Dibanding dengan tanaman kacang-kacangan lainnya, kacang hijau memiliki kelebihan dari segi agronomi dan ekonomis, seperti: (a) lebih tahan kekeringan, (b) serangan hama dan penyakit lebih sedikit, (c) dapat dipanen pada umur 55-60 hari, (d) dapat ditanam pada tanah yang kurang subur, dan (e) cara budidayanya mudah Oleh karena itu, sangat penting bagi mahasiswa dan petani untuk dapat mengetahui teknik budidaya kacang hijau baik secara teori maupun aplikasi dan prakteknya (Salisbury, 1995).

Lingkungan yang ekstrim ialah lingkungan yang dapat menimbulkan cekaman pada tumbuhan. Penyebab cekaman dapat berupa berbagai bahan kimia dan faktor-faktor fisik yang bersifat permanen maupun dapat balik. Kekeringan dapat merupakan cekaman primer maupun cekaman sekunder. Cekaman primer disebabkan oleh kekurangan air di lingkungan sekitar tumbuhan, sedangkan cekaman sekunder diinduksi oleh keadaan dingin, pembekuan, panas atau kadar garam. Cekaman air pada tanaman dapat disebabkan oleh kekurangan suplai air di daerah perakaran (Nio, 2011).

Kelembaban yang cukup mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan dari yang bertanggung jawab untuk serapan dari rhizosfir. Stress kekeringan umumnya menunjukkan satu sistem dari kekurangan air. Penurunan interval pengairan menyebabkan satu penyusutan pola dari perkembangan akar adalah akibat dari perbedaan distribusi kelembaban. Panjang akar menyusut berpengaruh signifikan dengan penekanan air. Kelembaban yang tidak cukup pada tanah yang dihasilkan dapat mengurangi ekstensi akar (Habtamu, 2014). 

Kekurangan air mempengaruhi semua aspek pertumbuhan tanaman, yang meliputi proses fisiologi, biokimia, anatomi dan morfologi. Pada saat kekurangan air, sebagian stomata daun menutup sehingga terjadi hambatan masuknya CO2 dan menurunkan aktivitas fotosintesis. Kekurangan air juga menghambat sintesis protein dan dinding sel.. Respons tanaman yang mengalami kekurangan air berupa berkurangnya luas daun dan peningkatan rasio akar dan tajuk (Yunia, 2011).

Cara adaptasi tanaman terhadap kekeringan bervariasi tergantung jenis tumbuhan dan tahap-tahap perkembangan tumbuhan. Respon adaptasi tanaman terhadap cekaman kekeringan dapat berupa respon jangka panjang, seperti perubahan pertumbuhan, dan perubahan biokimiawi. Perubahan pertumbuhan meliputi penurunan pertumbuhan batang dan daun, sedangkan perubahan biokimia dapat berupa akumulasi senyawa organik compatible yang berfungsi menjaga keseimbangan osmolit dalam tubuh tumbuhan (Sinay, 2015).

Mekanisme toleransi pada tanaman sebagai respon adanya cekaman kekeringan meliputi kemampuan tanaman tetap tumbuh pada kondisi kekurangan air yaitu dengan menurunkan luas daun dan memperpendek siklus tumbuh, kemampuan akar untuk menyerap air di lapisan tanah paling dalam, kemampuan untuk melindungi meristem akar dari kekeringan dengan meningkatkan akumulasi senyawa tertentu seperti glisin, betain, gula alkohol atau prolin untuk osmotic adjustment dan mengoptimalkan peranan stomata untuk mencegah hilangnya air melalui daun (Endang, 2006).

Kenaikan luas daun akan menyebabkan kenaikan biomasa tanaman sampai pada suatu keadaan tertentu. Intensitas cahaya yang diterima tajuk tanaman cmerupakan salah satu faktor paling berpengaruh terhadap luas daun dan produksi biomasa tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi cenderung menurunkan tinggi tanaman, luas daun dan berat kering total tanaman. Semakin tinggi intensitas cahaya maka luas daun tanaman cenderung lebih sempit. Apabila intensitas cahaya yang diterima rendah, maka jumlah cahaya yang diterima oleh setiap luasan permukaan daun dalam jangka waktu tertentu rendah (Gardner et al., 1991).

Tanaman monokotil kurang terpancar oleh pancaran sinar UV dibandingkan tanaman dikotil sebab dari orientasi daun mereka yang vertikal, dasar yang bersifat melindungi sarung pelindung, dan apikal meristem. Dampak negatif dari hasil pancaran UV mengakibatkan parameter analisa berubah. Pada taraf yang tinggi UV b dengan jelas menurunkan laju pertumbuhan relatif dan produktifitas nitrogen, seperti rasio area daun, produktifitas area daun dan produktifitas nitrogen, semua mengalami penurunan (K.zuk. 2003).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu 21 Desember 2015 sampai 02 Januari 2016, bertempat di Laboratorium Jurusan Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2. Alat dan Bahan
a. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum pertumbuhan dan perkembangan yaitu : alat tulis, botol, cangkul, gunting, jangka sorong, lidi, mistal, neraca ohause, oven, paranet dan tali rafia

b. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum pertumbuhan dan perkembangan yaitu : air, jagung (Zea mays), kacang hijau (Radiatus phaseolus L.), karet, kertas, kertas label, polybag, pupuk dan tanah.

3.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum ini, adalah sebagai berikut :
• Penanaman Tanaman:
  • a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
  • b. Mencampurkan tanah humus yang telah disaring dengan dengan pupuk kandang.
  • c. Memasukan tanah yang telah dicampur ke dalam polybag yang telah dibalik.
  • d. Menanam kacang hijau dan jagung yang telah direndam pada masing-masing polybag.
  • e. Memberikan label nama pada masing-masing polybag yang telah ditanami kacang hijau dan jagung.
  • f. Menyiram polybag dengan air dan ditempatkan pada masing-masing perlakuan yang diberikan.
  • g. Menyiram tanaman setiap hari pagi dan sore selama 2 minggu.

• Pengukuran Tanaman :
  • a. Melakukan pengukuran tanaman pengaruh cekaman kekeringan pada masing-masing perlakuan, kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Serta pengaruh intensitas cahaya, pada tanaman yang dinaungi dan tanaman yang tak ternaungi
  • b. Pengukuran cekaman kekeringan dilakukan setiap 3 hari sekali. Sedangkan untuk pengaruh intensitas cahaya setiap seminggu sekali.
  • c. Mencatat hasil pengukuran pada tabel hasil pengamatan.

• Penimbangan Tanaman:
  • a. Memanen tanaman yang telah dipelihara selama kurang lebih 1 bulan.
  • b. Membersihkan bagian-bagian tanaman dari tanah sampai bersih dengan menggunakan air.
  • c. Setelah dibersihkan, kemudian menimbang berat basah masing-masing tanaman, dan mencatat hasil pengukuran berat basah (gr).
  • d. Membungkus masing-masing tanaman dengan menggunakan kertas dan diikat dengan menggunakan karet.
  • e. Memasukan tanaman yang telah dibungkus ke dalam oven selama 2 jam untuk kemudian di keringkan.
  • f. Menimbang berat kering (gr) tanaman yang telah dipanaskan di oven dan mencatat hasil pengukuran pada tabel hasil pengamatan.

3.4. Analisis Data
Analisis data yang digunakan pada praktikum pertumbuhan dan perkembangan adalah analisis data varian (ANOVA) dengan menggunakan SPSS.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Deskripsi :
Tanaman jagung yang diberi perlakuan cekaman kekeringan memiliki 3 perlakuan, untuk perlakuan kontrol menunjukkan hasil ukuran yang sama pada perlakuan 2, sedangkan pada perlakuan 1 menunjukkan ukuran panjang tanaman paling tinggi, jumlah daun untuk ke 3 perlakuan yaitu tetap yaitu 8 daun. Untuk panjang daun, lebar daun, dan luas daun pada ke 3 perlakuan menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. pada berat basah tanaman perlakuan kontrol menunjukkan hasil yang signifikan terhadap perlakuan 1 sedangkan perlakuan 1 dan perlakuan 2 hasilnya tidak jauh berbeda, untuk berat kering tanaman ke 3 perlakuan juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda.
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Deskripsi :
Tabel kacang hijau yang diberi perlakuan cekaman kekeringan, memiliki 3 perlakuan, untuk hasil pengukuran pada tinggi tanaman dan panjang daun ke 3 perlakuan menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda, untuk jumlah daun perlakuan 1 memiliki jumlah daun paling banyak, lebar daun perlakuan kontrol dan perlakuan 1 memiliki hasil pengukuran yang sama yaitu 2,22 cm, sedangkan pada pengukuran luas daun perlakuan 2 memiliki hasil yang signifikan terhadap kontrol dan perlakuan 1. Pada berat basah dan berat kering tanaman menunjukkan hasil pada 3 perlakuan yang tidak jauh berbeda.

b. Hasil Pengamatan Intensitas Cahaya
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Deskripsi :
Kacang hijau yang diberi perlakuan pengaruh intensitas cahaya memiliki 2 perlakuan yaitu untuk yang ternaung dan yang tidak ternaungi. Untuk tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan lebar daun pada kedua perlakuan hasil pengukurannya sangat singnifikan dan pada kacang hijau yang diberi naungan nilai hasil pengukurannya lebih besar dibanding yang tidak ternaungi. Untuk berat basah tanaman perlakuan ternaungi hasilnya lebih rendah daripada yang tidak ternaungi dan hasil sebaliknya pada berat kering tanaman kacang hijau.
LAPORAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Deskripsi :
Tanaman jagung yang diberi perlakuan pengaruh intensitas cahaya, memiliki 2 perlakuan yaitu tanaman yang ternaung dan tidak ternaung, untuk tinggi tanaman, panjang daun, dan luas daun menunjukkan hasil yang signifikan, tinggi tanaman untuk yang tidak ternaung pengukurannya lebih tinggi daripada tanaman yang ternaung, sedangkan luas daun dan lebar daun tanaman yang ternaung menunjukkan hasil pengukuran yang lebih tinggi daripada tanaman yang tidak ternaungi. berat basah pada tanaman ternaung lebih tinggi hasilnya sedangkan pada berat kering tanaman tidak ternaung menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibanding tanaman ternaung. 

4.2 Pembahasan 
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman ditentukan oleh proses fisiologis yang berlangsung di dalamnya. Proses fisiologis dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim seperti radiasi matahari, suhu, curah hujan, serta kelembaban udara. Dengan demikan hasil produksi tanaman mutlak merupakan konversi energi radiasi matahari, air, dan hara dalam tanah ke dalam produk akhir. Kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal saat pertumbuhan vegetatif menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam menunjukkan potensi produksinya yang merupakan hasil interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan. Fase vegetatif terjadi dengan ditandai pertambahan daun, akar, dan batang. 

Fase ini berhubungan dengan 3 proses penting yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap pertama dari diferensiasi. Apabila tanaman kekurangan unsur hara pertumbuhan tanaman akan terhambat, keadaan daun menjadi kuning pucat. Keadaan tersebut menyebabkan protein, lemak dan karbohidrat tanaman kurang terbentuk, sehingga dapat mengganggu proses metabolisme, khususnya pembentukan sel-sel baru pada jaringan meristematik tanaman, sehingga pada akhirnya menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk hayati didalam tanah akan membantu proses dekomposisi, pada proses ini berbagai unsur hara yang terkandung di dalam tanah akan terlepas secara berangsur-angsur, terutama senyawa nitrogen dan fosfor. Selain itu proses dekomposisi akan memberikan pengaruh positif terhadap keadaan sifat-sifat kimia dan biologi tanah. Bila unsur N cukup tersedia bagi tanaman maka kandungan klorofil pada daun akan meningkat dan proses fotosintesis juga meningkat sehingga asimilat yang dihasilkan lebih banyak, akibatnya pertumbuhan tanaman lebih baik.

Kacang hijau merupakan salah satu tanaman leguminosae yang cukup penting di Indonesia setelah tanaman kedelai dan kacang tanah. Dalam setiap 100 gram biji kacang hijau mengandung 345 kal kalori, 22 gram protein, 1,2 g lemak, 62,9 g karbohidrat, 125 mg kalsium, 320 mg fosfor, 6,7 mg besi, 157 SI vitamin A, 0,64 mg vitamin B 1, 6 mg vitamin C dan 10 g air. Kacang hijau dalam pertumbuhannya mampu mengikat Nitrogen (N) dari udara bebas, karena mempunyai bintil akar yang berfungsi sebagai bakteri rhizobium. Untuk itu pemberian pemupukan N perlu diperhatikan pada proses budidaya kacang hijau.

Jagung merupakan tanaman C4 dimana fotosintesis tanaman C4 semakin efektif pada intensitas cahaya matahari yang semakin tinggi. Bahkan pada kisaran intensitas cahaya matahari dimana bagi tanaman C3 misalnya tanaman kacang hijau telah mencapai titik jenuh, pada tanaman C4 justru masih mengalami peningkatan yang signifikan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik pada daerah terbuka dengan tingkat intensitas cahaya yang tinggi.

Pertanaman jagung yang mendapat cekaman kekeringan secara umum ditandai dengan menggulungnya daun yang terjadi pada siang hari yang bertujuan untuk mengurangi dehidrasi pada daun. Dengan menggulungnya daun laju asimilasi neto berkurang. Akibat cekaman kekeringan menimbulkan pengaruh yang kompleks terhadap pertumbuhan tanaman. Secara morfologi dan fisiologi pengaruh cekaman air dapat dilihat pada penampilan luas daun individu, kecepatan muncul daun, aktivitas asimilasi CO2, membuka menutupnya stomata, kecepatan pertumbuhan biji dan pengisian biji. 

Stress air menurunkan luas daun, menurunkan kecepatan proses fotosintesis dan alokasi asimilat dari tajuk ke akar. Pada kondisi stress berat, berat kering akar meningkat 20% sehingga terjadi penurunan produksi biji. Tanaman yang mengalami kekeringan mulai pada fase berbunga sampai panen hasilnya 15-35% dari hasil tanaman yang tidak tercekam kekeringan. Hal tersebut diperlukan varietas yang peka terhadap kekeringan pada fase tersebut. Tanaman jagung yang mengalami cekaman kekeringan pada fase pembungaan akan langsung berpengaruh terhadap produksi. Oleh karena itu pada fase pembungaan sangat sesuai seleksi genotipe jagung yang toleran cekaman kekeringan dengan melihat kemampuan mempertahankan atau penurunan potensi hasil.

Diketahui bahwa daerah-daerah (zona) titik tumbuh pada tanaman dikenal sebagai daerah (zona) meristematik. daerah ini dipenuhi dengan sel-sel meristematik yang selalu membelah. Aktivitas pembelahan sel dapat menyebabkan pertambahan jumlah sel yang mempengaruhi pertambahan ukuran tubuh tanaman. Akan tetapi pada kondisi kekurangan air, aktivitas pembelahan sel dapat menurun atau bahkan terhenti, sehingga tidak ada penambahan ukuran sel. Selain itu, panjang daun yang terhambat karena terhambatnya pembelahan sel juga berkaitan dengan ketersediaan unsur hara, sehingga pembelahan sel di daerah titik tumbuh menjadi lambat atau bahkan terhenti. 

Pertumbuhan meliputi dua tahap yaitu pembelahan sel (cell division) dan pemanjangan/pembentangan sel (cell enlargement/cell expansion). Kedua proses ini dipengaruhi oleh tekanan turgor sel (tekanan hidrostatik). Pada kondisi cekaman kekeringan dengan potensial air sel lebih rendah, pembelahan dan pembentangan sel terbatas sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan menurun. Pada tanaman yang mengalami cekaman kekeringan, terjadi penghambatan panjang daun juga dimaksudkan untuk mengurangi luas permukaan daun dan reduksi jumlah stomata untuk mencegah proses penguapan. Transpirasi yang berlebihan tanpa diimbangi dengan ketersediaan air tanah yang cukup, dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, gangguan fungsi fisiologi, biokimiawi, dan kematian pada tanaman.

Cekaman fisiologis pada fase perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif masih dapat ditoleransi oleh tanaman jagung sebab tanaman jagung termasuk salah satu tanaman yang relatif efisien dalam penggunaan air, sebaliknya cekaman fisiologis pada awal fase generatif akan menunda proses pembentukan bunga betina (rambut tongkol). Hal ini disebabkan pada fase generatif merupakan fase terlemah tanaman jagung terhadap cekaman karena pada masa ini tanaman jagung sedang mengumpulkan energi yang cukup untuk membentuk organ generatif dan penyimpanan makanan. 

Cekaman kekeringan mempengaruhi semua aspek pertumbuhan dan metabolisme tanaman termasuk integritas membran, kandungan pigmen, keseimbangan osmotik, aktivitas fotosintesis, penurunan potensial air protoplasma, penurunan pertumbuhan, dan penurunan diameter batang. Jika kebutuhan air tidak dipenuhi maka pertumbuhan tanaman akan terhambat, karena air berfungsi melarutkan unsur hara dan membantu proses metabolisme dalam tanaman termasuk juga tanaman jagung. Cara adaptasi tanaman terhadap kekeringan bervariasi tergantung jenis tumbuhan dan tahap-tahap perkembangan tumbuhan.

Respon adaptasi tanaman terhadap cekaman kekeringan dapat berupa respon jangka panjang, seperti perubahan pertumbuhan, dan perubahan biokimiawi. Perubahan pertumbuhan meliputi penurunan pertumbuhan batang dan daun, sedangkan perubahan biokimia dapat berupa akumulasi senyawa organik compatible yang berfungsi menjaga keseimbangan osmolit dalam tubuh tumbuhan. Salah satu senyawa organik kompatibel yang sering diamukulasi oleh tanaman ketika berada pada kondisi kekeringan yaitu prolin (Farooq et al., 2009)) Akumulasi prolin terhadap cekaman kekeringan telah dilaporkan oleh banyak peneliti misalnya pada kelapa sawit (Mathius, dkk. 2004), kedelai (Mapegau, 2006), kacang tanah (Riduan, dkk. 2005) dan pada nilam (Kadir, 2011). Pada jagung Hirricks et al.,(2012) menyatakan bahwa kekeringan akan menyebabkan penurunan pertumbuhan akar, penurunan panjang daun, indeks luas daun, dan keterlambatan memasuki fase reproduksi, serta penurunan hasil.

Memperoleh laju pertumbuhan tanaman yang maksimal harus terdapat cukup banyak daun dalam tajuk untuk menyerap sebagian besar radiasi matahari jatuh keatas tajuk tanaman yang digunakan untuk proses fotosintesis. Tanaman yang menerima cahaya lebih banyak, cenderung memiliki jumlah daun lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang kurang menerima cahaya. Peningkatan jumlah daun seiring dengan bertambahnya umur tanaman dan dengan pertambahan jumlah daun mempengaruhi luas daun per tanaman. Hasil fotosintesis dapat digunakan sebagai sumber energi untuk pembentukan daun-daun baru dan organ tanaman lain, sehingga daun yang dihasilkan lebih. Dengan meningkatnya jumlah klorofil dan jumlah daun yang terbentuk maka proses fotosintesis berjalan dengan baik dan fotosintat yang dihasilkan akan lebih tinggi maka pertumbuhan pun semakin baik. Dengan demikian peningkatan laju pertumbuhan tanaman akan cenderung menghasilkan bobot kering pupus tanaman yang lebih banyak.

Respon tanaman pada lingkungan ternaungi ditentukan oleh toleransi tanaman terhadap pengurangan intensitas cahaya. Salah satu pengaruh naungan terhadap morfologi tanaman adalah batang tanaman menjadi lebih tinggi karena batang tanaman mengalami etiolasi. Keadaan morfologi tersebut mengakibatkan tanaman mudah rebah sehingga dapat menurunkan hasil biji. Naungan sebesar 50% selama pertumbuhan mengakibatkan penurunan hasil biji kedelai antara 37 hingga 74%, dan pada tanaman padi mengakibatkan penurunan produktivitas hasil lebih dari 55%. Pengaruh lain naungan terhadap morfologi tanaman adalah peningkatan luas daun (Tankou et al., 1990; Djukri dan Purwoko, 2003; Kisman et al., 2007) yang bertujuan agar penyerapan cahaya lebih efisien sehingga proses fotosintesis dapat berjalan secara normal. Pada fase reproduktif beberapa varietas, cekaman naungan menyebabkan umur berbunga dan umur panen yang lebih cepat dibandingkan pada lingkungan tidak ternaungi.

BAB V 
PENUTUP 
5.1 Kesimpulan
  1. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan, terjadi penghambatan panjang daun juga dimaksudkan untuk mengurangi luas permukaan daun dan reduksi jumlah stomata untuk mencegah proses penguapan. Transpirasi yang berlebihan tanpa diimbangi dengan ketersediaan air tanah yang cukup, dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, gangguan fungsi fisiologi, biokimiawi, dan kematian pada tanaman. Cekaman kekeringan mempengaruhi semua aspek pertumbuhan dan metabolisme tanaman termasuk integritas membran, kandungan pigmen, keseimbangan osmotik, aktivitas fotosintesis, penurunan potensial air protoplasma, penurunan pertumbuhan, dan penurunan diameter batang.
  2. Tanaman yang menerima cahaya lebih banyak, cenderung memiliki jumlah daun lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang kurang menerima cahaya. Peningkatan jumlah daun seiring dengan bertambahnya umur tanaman dan dengan pertambahan jumlah daun mempengaruhi luas daun per tanaman. Hasil fotosintesis dapat digunakan sebagai sumber energi untuk pembentukan daun-daun baru dan organ tanaman lain, sehingga daun yang dihasilkan lebih. Dengan meningkatnya jumlah klorofil dan jumlah daun yang terbentuk maka proses fotosintesis berjalan dengan baik dan fotosintat yang dihasilkan akan lebih tinggi maka pertumbuhan pun semakin baik. 

5.2 Saran 
Saran yang dapat saya berikan terkait praktikum pertumbuhan dan perkembangan sebaiknya penyiapan lahan untuk tempat peletakkan tanaman-tanaman yang dipelihara oleh tiap kelompok diatur dan dibagi sebaik mungkin agar tidak terjadi lagi kehilangan tanaman-tanaman pada kelompok tertentu. Kemudian sebelum melakukan penanaman benih kacang hijau dan jagung perlu diberi petunjuk indikator benih yang baik agar benih dapat tumbuh dan berkecambah dengan baik sehingga penggunaan waktu untuk praktikum pertumbuhan dan perkembangan menjadi efisien karena tidak ada pengulangan penanaman bagi kelompok yang benihnya tidak berhasil berkecambah. Selanjutnya dalam proses analisis data sebaiknya diperika terlebih dahulu oleh masing-masing asisten agar kita mendapatkan keakuratan data dan dalam melaksanakan praktikum sebaiknya diawasi dengan ketat sehingga semua anggota kelompok dapat berpartisipasi dalam praktikum ini. 

DAFTAR PUSTAKA
Endang Gati Lestari. 2006. Hubungan Antara Kerapatan Stomata Dengan Ketahanan Kekeringan Pada Somaklon Padi Gajahmungkur, Towuti, Dan Ir 64. Journal Biodiversitas. ISSN : 1412-033. 7(1) : 44-48.

Frits Bernard. 2008. The Effect Of Plant Stimulant/Fertilizer “Resistim” On Growth And Development Of Strawberry Plants. Journal Of Fruit And Ornamental Plant Research. Vol 18(1) : 111-124.

Gardner, F.P., R. B. Pearce and R. L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants. Indonesia University. Jakarta.

Habtamu Ashagre. 2014. Emergence and Seedling Growth of Corn (Zea mays L.) as Influenced by Irrigation Schedules on Vertisol. International Research Journal of Plant Science. ISSN: 2141-5447. Vol 5 (1) : 17-22. 

Jean Claude. 2013. Growth And Leaf Area Index Simulation In Maize (Zea Mays L.) Under Small-Scale Farm Conditions In A Sub-Saharan African Region. American Journal Of Plant Sciences. Vol 4 : 575-583.

K. Zuk-Golaszewska. 2006. The Effect Of Uv-B Radiation On Plant Growth And Development. Plant Soil Environ. Vol 49 (3): 135–140.

Nio Song Ai, 2011. Biomassa Dan Kandungan Klorofil Total Daun Jahe (Zingiber Officinale L.) Yang Mengalami Cekaman Kekeringan. Jurnal Ilmiah Sains Vol. 11 (1) : 1-5.

Salisbury, F.B. and C.W, Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Penerbit ITB. Bandung.

Sinay Kocjk. 2015. Effect of Drought Stress Treatment Towards Growth and Proline Content at The Vegetative Phase of Few Local Corn Cultivars From Kisar Island Under Green House Condition. Journal Of Fruit And Ornamental Plant Research. Vol 11 (3) :228-237.

Yunia Banyo. 2011. Konsentrasi Klorofil Daun Sebagai Indikator Kekurangan Air Pada Tanaman. Jurnal Ilmiah Sains. Vol. 11 (2). 167- 173.