LAPORAN REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN - ElrinAlria
LAPORAN REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG  MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN
REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN
PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN II

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu untuk mengetahui reaksi-reaksi khusus senyawa yang mengandung C, H, O, N yang lain.

B. LANDASAN TEORI
Vitamin C (asam askorbat) merupakan salah satu vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin C mempunyai sifat sebagai antioksidan yang dapat melindungi molekul-molekul yang sangat diperlukan oleh tubuh, seperti protein, lipid, karbohidrat dan asam nukleat dari kerusakan radikal bebas (Arifin, dkk., 2007).

Selain itu, vitamin C juga dibutuhkan untuk memelihara kehamilan, mengatur kontrol kapilerdarah secara memadai, mencegah hemoroid, mengurangi diabetes, dan lain-lain. Kekurangan vitamin C menyebabkan penyakit sariawan, dengan gejala seperti gusi berdarah, sakit lidah, nyeri otot dan sendi, berat badan berkurang, lesu, dan lain-lain (Arifin, dkk., 2007).

Vitamin C pada tubuh manusia berfungsi sebagai sintesis kolagen, sintesis karnitin, noradrenalin, seroronin, adsorbsi dan metabolisme besi, adsorbsi kalsium, mencegah infeksi serta mencegah kanker dan penyakit jantung (Ika, 2009).

Vitamin C dipercaya sebagai salah sau vitamin untuk mencegah penyakit yang terdapat pada manusia, seperti asma, penderita alergi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Mengonsumsi vitamin C 1 gram/hari dapat mencegah penyakit pilek. Selain itu, mengonsumsi 400 mg bitamin C dalam 6 hari dapat melindungi DNA dari kerusakan (Nugraheni, dkk., 2003).

Ada beberapa metode yang digunakan untuk menentukan kadar vitamin C diantaranya metode spektrofotometri UV-Vis dan metode iodimetri. Metode spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena perangkat lunak yang dimiliki mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer (Karinda, 2013). 

Antibiotik adalah substansi yang dihasilkan oleh salah satu mikroorganisme yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain dalam konsentrasi yang rendah (Anastasia, 2011).

Kloromfenikol merupakan antibiotika yang berspektrum luas, namun penggunaan yang lama dan dosis yang cukup besar dapat menimbulkan kelainan pada pematangan sel darah merah, peningkatan kadar besi dalam serum dan anemia, bahkan dapat pula menimbulkan schock sirkulasi yang parah. Sehingga penggunaan klorofenikol sebagai anti infeksi menjadi terbatas mengingat efek sampingnya pada darah yang akan membahayakan kesehatan (Sudjaswandi, 1999).

Selain kloromfenikol, antibiotik yang sering digunakan yaitu tetrasiklin yang digunakan untuk menghambat sintesis protein bakteri. Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan aturan karena apabila tidak sesuai dengan aturan maka akan mengakibatkan residu. Residu antibiotik dapat menimbulkan alergi, kecanduan, gagalnya pengobatan akibat resistensi, dan gangguan jumlah mikroflora dalam saluran pencernaan (Anastasia, 2011).

Ampisilin berupa serbuk hablur putih, praktis tidak berbau, rasa pahit, higroskopis. Ampisilin stabil terhadap asam sehingga adapt digunakan secara oral. Laju absorbansinya sekitar 50% dan akan meningkat dengan adanya makanan. Di dalam perdagangan ampisilin dapat dijumpai dalam bentuk sediaan kapsul, serbuk, tablet, serbuk untuk suspensi oral, dan injeksi. Sediaan-sediaan ini beredar dengan nama dagang dan nama generik. Dimana sediaan dengan nama dagang antara lain Binatol (Bayer), Cetacillin (Soho), Kalpicillin (Kalbe farma), Parpicillin (Prafa). Sedangkan dengan nama generik dikeluarkan oleh Kimia Farma, Indofarma, dan Phapros (Putra, 2002).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Lumpang dan alu 
  • Tabung reaksi 
  • Pipet tetes 
  • Sendok tanduk 
  • Gegep 
  • Gelas kimia 
  • Hotplate 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Vitamin C murni 
  • Vitamin C sampel 
  • CTM murni 
  • CTM sampel 
  • Amoxilin 
  • Aquadest 
  • Pereaksi fehling 
  • KMnO4 
  • AgNO3 
  • Ampisilin 
  • Kloromfenikol sampel 
  • Kloromfenikol murni 

D. PROSEDUR KERJA
1. Vitamin C 
LAPORAN REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG  MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN

E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG  MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN


F. PEMBAHASAN
Vitamin C telah dikenal berfungsi sebagai antioksidan. Sehingga sesuatu yang dapat mengoksidasi akan melindungi tubuh kita, maka akan terlebih dahulu mengoksidasi dengan cara teroksidasi. Selain itu, vitamin C juga mempunyai sifat sebagai pereduksi.

Pada percobaan ini, vitamin C direaksikan dengan pereaksi fehling. Karena vitamin C mempunyai sifar sebagai pereduksi, maka vitamin C dapat mereduksi pereaksi fehling. Perubahan warna yang dihasilkan dari warna biru yang merupakan warna dari pereaksi fehling akan berubah menjadi warna merah bata jika direaksikan dengan vitamin C. Warna merah bata ini diperoleh dari hasil reduksi antara pereaksi fehling dengan vitamin C. Pereaksi fehling mengandung ion Cu2+, sehingga ketika bereaksi dengan vitamin C, maka vitamin C akan mereduksi ion Cu2+ tersebut. Sehingga ion Cu2+ tersebut setelah tereduksi akan menjadi ion Cu+. Kemudian ion Cu+ tersebut akan membentuk senyawa dengan oksigen, yang akan membentuk ion Cu2O yang nantinya akan berwarna merah.

Ketika vitamin C bereaksi dengan perak nitrat (AgNO3), vitamin C juga dapat mereduksi Ag. AgNO3 di dalam larutan akan terionisasi menjadi NO3+ dan Ag+, ion Ag+ ini dapat larut di dalam air, sehingga ketika bereaksi dengan vitamin C, vitamin C tersebut akan mereduksi Ag+ menjadi Ag. Karena Ag tidak mempunyai muatan, maka ion Ag tidak dapat larut di dalam air, sehingga dapat mengendap di pinggir tabung reaksi dan berbentuk endapan perak. 

Vitamin C yang direaksikan dengan KMnO4. KMnO4 mempunyai warna dasar yaitu ungu, sedangkan larutan vitamin C mempunyai warna bening, sehingga ketika KMnO4 yang ditambahkan dengan vitamin C akan menghasilkan warna bening. Sekilas jika dilihat dari hasil reaksi tersebut tidak terjadi reaksi antara KMnO4 dengan vitamin C. Salah satu tanda suatu senyawa mengalami proses reaksi yaitu ditandai dengan adanya perubahan warna. Sehingga pada KMnO4 yang direaksikan dengan vitamin C mengalami proses reaksi, hal ini ditunjukkan oleh adanya perubahan warna dari KMnO4 yang mempunyai warna ungu berubah menjadi warna bening ketika ditambahkan dengan vitamin C. 

Pada senyawa kloromfenikol dan ampisilin yang dilakukan dengan penambahan FeCL3 bertujuan untuk menghasilkan senyawa kompleks di dalam larutan. FeCl3 di dalam larutan akan menghasilkan Fe3+ + 3Cl-. Ion Fe3+ yang akan bereaksi dengan kloromfenikol dan akan membentuk senyawa kompleks, dimana kloramfenikol dan ampisilin sebagai wadahnya dan Fe3+ sebagai atom pusatnya.

Selanjutnya mereaksikan CTM dan CuSO4, prinsip yang digunakan sama dengan mereaksikan kloromfenikol dengan FeCl3 yaitu untuk menghasilkan senyawa kompleks di dalam suatu larutan. CuSO4 di dalam larutan akan terurai menjadi Cu2+ + SO42-. Ion Cu2+ akan bereaksi dengan CTM dan akan membentuk senyawa komleks dimana CTM sebagai wadah dan Cu2+ sebagai atom pusatnya.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan ini, dapat disimpulkan bahwa reaksi khusus senyawa yang mengandung C, H, O, N yang lain adalah perubahan warna dan terbentuk endapan.

DAFTAR PUSTAKA
Anastasia, Yessy, 2011, “Teknik Analisis Residu Golongan Tetrasiklin Dalam Daging Ayam Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi”, Buletin Teknik Pertanian, 16. 

Arifin, Helmi, Vilvi Delvita, Almahdy A., 2007. “Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Fetus pada Mencit Diabetes”, Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 12(1). Jurusan Farmasi FMIPA, Universitas Andalas. Padang.

Ika, Dani, 2009, “Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi Asam Basa”, Jurnal Neutrino, 1(2).

Karinda, M., Fatimawali, Gayatri Citraningtyas, 2013, “Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis dan Iodometri”, Jurnal Ilmiah Farmasi, 2(1). Universitas Sam Ratulangi. Manado.

Nugraheni, T., Okid Parama Astirin, Tetri Widyani, 2003, “Pengaruh Vitamin C Terhadap Perbaikan Spermatogenesis Dan Kualitas Spermatozoa Mencit (Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Tembakau”, Biofarmasi, 1(1).

Putra, Effendy de Lux, 2002, “Penetapan Kadar Ampisilin Dalam Tablet Dengan Nama Generik Dan Dagang Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)”, Majalah Farmasi Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Medan. 

Sudjaswadi, Riswaka, 1999, “Peningkatan Daya Hambat Kloramfenikol Terhadap Staphylococcus Aureus Atcc 25923 Dan Escherichia Coli Atcc 25922 Karena Campuran Polietilenglikol 4000-Tween 80 (1:1)”,SIGMA, II, Universitas Gadjah Mada.

LAPORAN REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN

LAPORAN REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG  MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN
REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN
PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN II

A. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini yaitu untuk mengetahui reaksi-reaksi khusus senyawa yang mengandung C, H, O, N yang lain.

B. LANDASAN TEORI
Vitamin C (asam askorbat) merupakan salah satu vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin C mempunyai sifat sebagai antioksidan yang dapat melindungi molekul-molekul yang sangat diperlukan oleh tubuh, seperti protein, lipid, karbohidrat dan asam nukleat dari kerusakan radikal bebas (Arifin, dkk., 2007).

Selain itu, vitamin C juga dibutuhkan untuk memelihara kehamilan, mengatur kontrol kapilerdarah secara memadai, mencegah hemoroid, mengurangi diabetes, dan lain-lain. Kekurangan vitamin C menyebabkan penyakit sariawan, dengan gejala seperti gusi berdarah, sakit lidah, nyeri otot dan sendi, berat badan berkurang, lesu, dan lain-lain (Arifin, dkk., 2007).

Vitamin C pada tubuh manusia berfungsi sebagai sintesis kolagen, sintesis karnitin, noradrenalin, seroronin, adsorbsi dan metabolisme besi, adsorbsi kalsium, mencegah infeksi serta mencegah kanker dan penyakit jantung (Ika, 2009).

Vitamin C dipercaya sebagai salah sau vitamin untuk mencegah penyakit yang terdapat pada manusia, seperti asma, penderita alergi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Mengonsumsi vitamin C 1 gram/hari dapat mencegah penyakit pilek. Selain itu, mengonsumsi 400 mg bitamin C dalam 6 hari dapat melindungi DNA dari kerusakan (Nugraheni, dkk., 2003).

Ada beberapa metode yang digunakan untuk menentukan kadar vitamin C diantaranya metode spektrofotometri UV-Vis dan metode iodimetri. Metode spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena perangkat lunak yang dimiliki mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer (Karinda, 2013). 

Antibiotik adalah substansi yang dihasilkan oleh salah satu mikroorganisme yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain dalam konsentrasi yang rendah (Anastasia, 2011).

Kloromfenikol merupakan antibiotika yang berspektrum luas, namun penggunaan yang lama dan dosis yang cukup besar dapat menimbulkan kelainan pada pematangan sel darah merah, peningkatan kadar besi dalam serum dan anemia, bahkan dapat pula menimbulkan schock sirkulasi yang parah. Sehingga penggunaan klorofenikol sebagai anti infeksi menjadi terbatas mengingat efek sampingnya pada darah yang akan membahayakan kesehatan (Sudjaswandi, 1999).

Selain kloromfenikol, antibiotik yang sering digunakan yaitu tetrasiklin yang digunakan untuk menghambat sintesis protein bakteri. Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan aturan karena apabila tidak sesuai dengan aturan maka akan mengakibatkan residu. Residu antibiotik dapat menimbulkan alergi, kecanduan, gagalnya pengobatan akibat resistensi, dan gangguan jumlah mikroflora dalam saluran pencernaan (Anastasia, 2011).

Ampisilin berupa serbuk hablur putih, praktis tidak berbau, rasa pahit, higroskopis. Ampisilin stabil terhadap asam sehingga adapt digunakan secara oral. Laju absorbansinya sekitar 50% dan akan meningkat dengan adanya makanan. Di dalam perdagangan ampisilin dapat dijumpai dalam bentuk sediaan kapsul, serbuk, tablet, serbuk untuk suspensi oral, dan injeksi. Sediaan-sediaan ini beredar dengan nama dagang dan nama generik. Dimana sediaan dengan nama dagang antara lain Binatol (Bayer), Cetacillin (Soho), Kalpicillin (Kalbe farma), Parpicillin (Prafa). Sedangkan dengan nama generik dikeluarkan oleh Kimia Farma, Indofarma, dan Phapros (Putra, 2002).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Lumpang dan alu 
  • Tabung reaksi 
  • Pipet tetes 
  • Sendok tanduk 
  • Gegep 
  • Gelas kimia 
  • Hotplate 

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
  • Vitamin C murni 
  • Vitamin C sampel 
  • CTM murni 
  • CTM sampel 
  • Amoxilin 
  • Aquadest 
  • Pereaksi fehling 
  • KMnO4 
  • AgNO3 
  • Ampisilin 
  • Kloromfenikol sampel 
  • Kloromfenikol murni 

D. PROSEDUR KERJA
1. Vitamin C 
LAPORAN REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG  MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN

E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG  MENGANDUNG C, H, O, N YANG LAIN


F. PEMBAHASAN
Vitamin C telah dikenal berfungsi sebagai antioksidan. Sehingga sesuatu yang dapat mengoksidasi akan melindungi tubuh kita, maka akan terlebih dahulu mengoksidasi dengan cara teroksidasi. Selain itu, vitamin C juga mempunyai sifat sebagai pereduksi.

Pada percobaan ini, vitamin C direaksikan dengan pereaksi fehling. Karena vitamin C mempunyai sifar sebagai pereduksi, maka vitamin C dapat mereduksi pereaksi fehling. Perubahan warna yang dihasilkan dari warna biru yang merupakan warna dari pereaksi fehling akan berubah menjadi warna merah bata jika direaksikan dengan vitamin C. Warna merah bata ini diperoleh dari hasil reduksi antara pereaksi fehling dengan vitamin C. Pereaksi fehling mengandung ion Cu2+, sehingga ketika bereaksi dengan vitamin C, maka vitamin C akan mereduksi ion Cu2+ tersebut. Sehingga ion Cu2+ tersebut setelah tereduksi akan menjadi ion Cu+. Kemudian ion Cu+ tersebut akan membentuk senyawa dengan oksigen, yang akan membentuk ion Cu2O yang nantinya akan berwarna merah.

Ketika vitamin C bereaksi dengan perak nitrat (AgNO3), vitamin C juga dapat mereduksi Ag. AgNO3 di dalam larutan akan terionisasi menjadi NO3+ dan Ag+, ion Ag+ ini dapat larut di dalam air, sehingga ketika bereaksi dengan vitamin C, vitamin C tersebut akan mereduksi Ag+ menjadi Ag. Karena Ag tidak mempunyai muatan, maka ion Ag tidak dapat larut di dalam air, sehingga dapat mengendap di pinggir tabung reaksi dan berbentuk endapan perak. 

Vitamin C yang direaksikan dengan KMnO4. KMnO4 mempunyai warna dasar yaitu ungu, sedangkan larutan vitamin C mempunyai warna bening, sehingga ketika KMnO4 yang ditambahkan dengan vitamin C akan menghasilkan warna bening. Sekilas jika dilihat dari hasil reaksi tersebut tidak terjadi reaksi antara KMnO4 dengan vitamin C. Salah satu tanda suatu senyawa mengalami proses reaksi yaitu ditandai dengan adanya perubahan warna. Sehingga pada KMnO4 yang direaksikan dengan vitamin C mengalami proses reaksi, hal ini ditunjukkan oleh adanya perubahan warna dari KMnO4 yang mempunyai warna ungu berubah menjadi warna bening ketika ditambahkan dengan vitamin C. 

Pada senyawa kloromfenikol dan ampisilin yang dilakukan dengan penambahan FeCL3 bertujuan untuk menghasilkan senyawa kompleks di dalam larutan. FeCl3 di dalam larutan akan menghasilkan Fe3+ + 3Cl-. Ion Fe3+ yang akan bereaksi dengan kloromfenikol dan akan membentuk senyawa kompleks, dimana kloramfenikol dan ampisilin sebagai wadahnya dan Fe3+ sebagai atom pusatnya.

Selanjutnya mereaksikan CTM dan CuSO4, prinsip yang digunakan sama dengan mereaksikan kloromfenikol dengan FeCl3 yaitu untuk menghasilkan senyawa kompleks di dalam suatu larutan. CuSO4 di dalam larutan akan terurai menjadi Cu2+ + SO42-. Ion Cu2+ akan bereaksi dengan CTM dan akan membentuk senyawa komleks dimana CTM sebagai wadah dan Cu2+ sebagai atom pusatnya.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan ini, dapat disimpulkan bahwa reaksi khusus senyawa yang mengandung C, H, O, N yang lain adalah perubahan warna dan terbentuk endapan.

DAFTAR PUSTAKA
Anastasia, Yessy, 2011, “Teknik Analisis Residu Golongan Tetrasiklin Dalam Daging Ayam Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi”, Buletin Teknik Pertanian, 16. 

Arifin, Helmi, Vilvi Delvita, Almahdy A., 2007. “Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Fetus pada Mencit Diabetes”, Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 12(1). Jurusan Farmasi FMIPA, Universitas Andalas. Padang.

Ika, Dani, 2009, “Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi Asam Basa”, Jurnal Neutrino, 1(2).

Karinda, M., Fatimawali, Gayatri Citraningtyas, 2013, “Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis dan Iodometri”, Jurnal Ilmiah Farmasi, 2(1). Universitas Sam Ratulangi. Manado.

Nugraheni, T., Okid Parama Astirin, Tetri Widyani, 2003, “Pengaruh Vitamin C Terhadap Perbaikan Spermatogenesis Dan Kualitas Spermatozoa Mencit (Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Tembakau”, Biofarmasi, 1(1).

Putra, Effendy de Lux, 2002, “Penetapan Kadar Ampisilin Dalam Tablet Dengan Nama Generik Dan Dagang Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)”, Majalah Farmasi Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Medan. 

Sudjaswadi, Riswaka, 1999, “Peningkatan Daya Hambat Kloramfenikol Terhadap Staphylococcus Aureus Atcc 25923 Dan Escherichia Coli Atcc 25922 Karena Campuran Polietilenglikol 4000-Tween 80 (1:1)”,SIGMA, II, Universitas Gadjah Mada.