LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI - ElrinAlria
LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI

LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI
LAPORAN FARMASI FISIK II
PERCOBAAN IV

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaa sediaan partikel suspensi yaitu
  1. Untuk mengetahui faktor-faktor dan parameter-parameter yang mempengaruhi stabilitas suspensi
  2. Unutk memahami stabilitas suatu suspensi
  3. Untuk memahami perbedaan antara sistem suspensi terflokulasi dan deflokulsi

B. DASAR TEORI
Suspensi farmasi merupakan dispersi kasar dimana partikel padat yang tidak larut terdispersi dalam medium cair. Suspensi dalam farmasi digunakan dalam berbagai cara, antara lain injeksi intramuskuler, tetes mata, oral, dan rektal. Suspensi oral dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi secara halus disebarkan secara merata dalam pembawa dimana obat menunjukan kelarutan yang sangat minimum. Stabilitas sediaan suspensi dipengaruhi oleh komponen-komponen yang terdapat dalam formulasi tersebut, salah satu adalah zat pensuspensi atau suspending agent. Oleh karena itu untuk mendapatkan suspensi yang stabil dan baik diperlukan penanganan dalam proses pembuatan, penyimpanan maupun pemilihan bahan pensuspensi. Contoh suspending agent yang digunakan adalah CMC Na (Carboxymethylcellulose Natrium) dan PGS (pulvis gummosus) (Fitriani, dkk 2015).

Stabiitas suatu suspensi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ukuran partikel yang aerat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu.Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya.Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier.Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya. Viskositas, yang mana dapat mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hokum stokes. Jumlah partikel/konsentrasi yangg mepengaruhi gerakan dan benturan antar partikel suspensi. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat (Lachman, 2008)

Suspensi terdiri dari sua sistem yaitu suspensi flokulasi dan suspensi deflokulasi. Flokulasi, yaitu suatu proses bersatunya partikel-partikel koloid menjadi unit yang lebih besar. Flokulasi terjadi karena adanya gaya tarik menarik antara partikel suspensi (Syaifudin, 2010). Deflokulasi yaitu sistem yang apabila aprtikel dalam suspensi mengendap perlahan dan akhirnya terbentuk cakae yang keras dan sukar tersuspensi kembali (Syamsuni, 2009).

Kecepatan pengendapan partikel padat dalam fluida. bergantung pada bentuk dan ukuran partikel, densitas partikel, viskositas fluida, dan aliran fluida. Suatu partikel padat bila ditempatkan dalam fluida yang diam maka partikel tersebut akan jatuh ke bawah karena adanya gaya gravitasi. Gaya-gaya yang bekerja pada partikel tersebut antara lain gaya gravitasi, gaya apung yang disebabkan oleh fluida yang dipindahkan, gaya gesek yang disebabkan oleh gesekan antara partikel dan fluida, semakin cepat partikel bergerak, semakin besar pula gaya gesek yang ditimbulkan. Pada suatu saat gaya gesek dan gaya angkat oleh fluida akan sama dengan gaya gravitasi, dan kecepatan partikel menjadi konstan. (Masdian dan Rifki., 2012).

Suspensi dalam pembuatannya digunakan suatu zat yang disebus suspending agent. Penggunaan suspending agent bertujuan untuk meningkatkan viskositas dan memperlambat proses pengendapan sehingga menghasilkan suspensi yang stabil. Suspensi stabil apabila zat yang tersuspensi tidak cepat mengendap, harus terdispersi kembali menjadi campuran yang homogen dan tidak terlalu kental agar mudah dituang dari wadahnya (Anjani dkk., 2011).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
alat-alat yang dignakan dalam percoban sediaan partikel suspensi yaitu
  • a. Batang pengaduk
  • b. Gelas ukur 50 mL dan 100 mL
  • c. Gelas kimia 100 mL
  • d. Lumpang dan alu
  • e. Timbangan analitik
  • f. Spatula
  • g. Stopwatch

2. Bahan
Bahan-bahna yangdigunakan dalam percobaan sediaan partikel suspensi yaitu
  • a. Akuades
  • b. Prpilenglikol
  • c. Na-CMC
  • d. Paracetamol
  • e. Tissu
  • f. Kertas perkamen

D. URAIAN BAHAN
1. Aquades (Dtjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua Destilata
Nama lain : air suling 
RM/Bm : H2O/18,02
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : zat pelarut

2. Propilenglikol (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Propylenglycolum
Nama lain : Propilenglikol
RM/BM : ¬C3H8OH/76,10 g/mol
Pemerian : cairan kental, jernih, tidak berwarna; tidak berbau; rasa agak manis; higroskopik.
Kelarutan : dapat campur dengan air, etanol (95%) P, larut dalam 6 bgaian eter P, tidak dapaat campur dengan eter minyak tanah P, dan dengan minyak lemak
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : zat tamabahan, pelarut

3. Na-CMC (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Natriis Carboxy Methyl Cellulosum
Nama lain : Natrium Karbksi Metilselulolsa
Pemerian : serbuk atau butiran; putih atau putih kuning gading, tidak berbau, atau hampir tidak berbau, higroskopis
Kelarutan : mudah mendispersi ke dalam suspensi koloida, tidak larut dalam etnol (95%)P, dalam eter P, dan dalam pelarut organik lain
Penyimpanan : dalma wadah trtutup rapat
Kegunaan : sebagai zat tambahan

4. Paracetamol
Nama resmi : Acetaminofen
Nama resmi : Asetaminofen, parcetamol
RM/BM : C¬8O9O2 / 151, 16
Rumus struktur : 
Pemerian :hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau, rasa pahit
Kelarutan : larut dalm 70 bagian air, dalm 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol, dalam larutan alkali hidroksida

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI


F. Hasil Pengamatan
1. Tabel pengamatan
LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI


G. PEMBAHASAN
Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase. fase kontinue atau fase luar umumnya merupakan cairan atau semi padat dan fase terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel” kecil, yang pada dasarnya tidak larut, tetapi terdispersi seluruhnya dalam fase kontinu zat yang tidak larut bisa dimaksudkan untuk diabsorpsi fisiologis atau untuk fungsi pelapisan dalam dan luar. Dalam suspensi dikenal dua sistim yaitu suspensi flokulasi dan deeflokulasi. Suspensi flokulasi yiatu apabila partikel dalam suspensi tersebut relatif cepat mengendap namun masih bisa didisperisikan kembali dengan cara pengocokkan sednagkan suspensi deflokulasi yaitu apabila partikel dalam suatu supensi memerlukan waktu yang sangat lama untuk mengendap atau mebentuk sedimen namun ketika sduah mengendap atau mebentuk sedimen maka tidak dapat didspersikan kembali. Kestabilan suatu suspensi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu jumlah dan ukuran partikel serta viskositas atau kekentalan.

Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dan parameter-parameter yang mempengaruhi stabilitas suspensi, memahami stabilitas suatu suspensi, dan memahami perbedaan antara sistem suspensi terflokulasi dan deflokulsi. Percobaan dilakukan dengan membandingkan waktu yang diperlukan partikel suspensi untuk mengendap atau membentuk sedimen dengan konsentrasi suspending agent yang berbeda-beda dengan parameter waktu pengukuran yaitu 10 menit dan pengukuran diulangi sebanyak dua kali. Suspending agent merupakan bahan tambahan pada sediaan suspensi yang berfungsi mendispersikan partikel tidak larut dalam cairan dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan sedimentasi dari fase terdispersi dapat diperlambat. Dalam hal ini bahan yang digunakan seagai suspending agent adalah Na-CMC (Natrium Karboksil Metil Selulosa), dengan bahan obat yang digunakan sebagai sampel sekaligus juga berperan sebagai fase terdispersi dalam suspensi yang dibuat yaitu paracetamol. Paracetamol merupakan zat berupa serbuk hablur yang tidak larut dalam air. Karena sifatnya yang tidak dapat larut dalam air maka digunakan pula zat pembasah (wetting agent). Zat pembasah berfungsi mengurangi tegangan permukaan larutan dan memudahkan partikel padat dapat lebih mudah menyebar dalam fase kontinu. Fase kontinu dalam hal ini yaitu air.

DAFTAR PUSTAKA
Anjani, M. R., Ika T. D K., Peni I., dan Anita S., 2011, Formulasi Suspensi Siprofloksasin dengan Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici dan Daya Antibakterinya, Pharmacon, Vol. 12 (1).

Dirjen, Pom. 1979 . Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indosnesia : Jakarta

Fitriani, Y. N., Cikra INHS., Ninis Y., dan Dyah A., 2016, Formulasi dan Evaluasi Stabilitas Fisik Suspensi Ubi Cilembu (Ipomoea batatas L.) dengan Suspending Agent CMC Na dan PGS sebagai Antihiperkolesterol, Jurnal Farmasi Sains dan Terapan, Vol. 2 (1).

Lachman, dkk . 2008. Teori Dan Praktek Farmasi Industri Edisi III , Universitas Indonesia : Jakarta

Masdian, R., dan Rifki N. B., 2012, Pemisahan Partikel Padat-Padat pada Aliran Pipa Spiral, Journal of Chemistry, Vol. 1 (1).

Syaifuddin dan Buhaerah. 2010. “Pengaruh Urea Terhadap Dispersi Tanah Ultisol Pada Regim Air Yang Berbeda Effect Of Urea On Dispersion Of Ultisol Soil Under Different Water Regime”. Jurnal Agrisistem Jurnal Agrisistem. Vol.6(2).

Syamsuni, 2012, Ilmu Resep, EGC: Jakarta.

LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI

LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI

LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI
LAPORAN FARMASI FISIK II
PERCOBAAN IV

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaa sediaan partikel suspensi yaitu
  1. Untuk mengetahui faktor-faktor dan parameter-parameter yang mempengaruhi stabilitas suspensi
  2. Unutk memahami stabilitas suatu suspensi
  3. Untuk memahami perbedaan antara sistem suspensi terflokulasi dan deflokulsi

B. DASAR TEORI
Suspensi farmasi merupakan dispersi kasar dimana partikel padat yang tidak larut terdispersi dalam medium cair. Suspensi dalam farmasi digunakan dalam berbagai cara, antara lain injeksi intramuskuler, tetes mata, oral, dan rektal. Suspensi oral dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi secara halus disebarkan secara merata dalam pembawa dimana obat menunjukan kelarutan yang sangat minimum. Stabilitas sediaan suspensi dipengaruhi oleh komponen-komponen yang terdapat dalam formulasi tersebut, salah satu adalah zat pensuspensi atau suspending agent. Oleh karena itu untuk mendapatkan suspensi yang stabil dan baik diperlukan penanganan dalam proses pembuatan, penyimpanan maupun pemilihan bahan pensuspensi. Contoh suspending agent yang digunakan adalah CMC Na (Carboxymethylcellulose Natrium) dan PGS (pulvis gummosus) (Fitriani, dkk 2015).

Stabiitas suatu suspensi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ukuran partikel yang aerat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu.Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya.Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier.Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya. Viskositas, yang mana dapat mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hokum stokes. Jumlah partikel/konsentrasi yangg mepengaruhi gerakan dan benturan antar partikel suspensi. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat (Lachman, 2008)

Suspensi terdiri dari sua sistem yaitu suspensi flokulasi dan suspensi deflokulasi. Flokulasi, yaitu suatu proses bersatunya partikel-partikel koloid menjadi unit yang lebih besar. Flokulasi terjadi karena adanya gaya tarik menarik antara partikel suspensi (Syaifudin, 2010). Deflokulasi yaitu sistem yang apabila aprtikel dalam suspensi mengendap perlahan dan akhirnya terbentuk cakae yang keras dan sukar tersuspensi kembali (Syamsuni, 2009).

Kecepatan pengendapan partikel padat dalam fluida. bergantung pada bentuk dan ukuran partikel, densitas partikel, viskositas fluida, dan aliran fluida. Suatu partikel padat bila ditempatkan dalam fluida yang diam maka partikel tersebut akan jatuh ke bawah karena adanya gaya gravitasi. Gaya-gaya yang bekerja pada partikel tersebut antara lain gaya gravitasi, gaya apung yang disebabkan oleh fluida yang dipindahkan, gaya gesek yang disebabkan oleh gesekan antara partikel dan fluida, semakin cepat partikel bergerak, semakin besar pula gaya gesek yang ditimbulkan. Pada suatu saat gaya gesek dan gaya angkat oleh fluida akan sama dengan gaya gravitasi, dan kecepatan partikel menjadi konstan. (Masdian dan Rifki., 2012).

Suspensi dalam pembuatannya digunakan suatu zat yang disebus suspending agent. Penggunaan suspending agent bertujuan untuk meningkatkan viskositas dan memperlambat proses pengendapan sehingga menghasilkan suspensi yang stabil. Suspensi stabil apabila zat yang tersuspensi tidak cepat mengendap, harus terdispersi kembali menjadi campuran yang homogen dan tidak terlalu kental agar mudah dituang dari wadahnya (Anjani dkk., 2011).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
alat-alat yang dignakan dalam percoban sediaan partikel suspensi yaitu
  • a. Batang pengaduk
  • b. Gelas ukur 50 mL dan 100 mL
  • c. Gelas kimia 100 mL
  • d. Lumpang dan alu
  • e. Timbangan analitik
  • f. Spatula
  • g. Stopwatch

2. Bahan
Bahan-bahna yangdigunakan dalam percobaan sediaan partikel suspensi yaitu
  • a. Akuades
  • b. Prpilenglikol
  • c. Na-CMC
  • d. Paracetamol
  • e. Tissu
  • f. Kertas perkamen

D. URAIAN BAHAN
1. Aquades (Dtjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua Destilata
Nama lain : air suling 
RM/Bm : H2O/18,02
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : zat pelarut

2. Propilenglikol (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Propylenglycolum
Nama lain : Propilenglikol
RM/BM : ¬C3H8OH/76,10 g/mol
Pemerian : cairan kental, jernih, tidak berwarna; tidak berbau; rasa agak manis; higroskopik.
Kelarutan : dapat campur dengan air, etanol (95%) P, larut dalam 6 bgaian eter P, tidak dapaat campur dengan eter minyak tanah P, dan dengan minyak lemak
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : zat tamabahan, pelarut

3. Na-CMC (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Natriis Carboxy Methyl Cellulosum
Nama lain : Natrium Karbksi Metilselulolsa
Pemerian : serbuk atau butiran; putih atau putih kuning gading, tidak berbau, atau hampir tidak berbau, higroskopis
Kelarutan : mudah mendispersi ke dalam suspensi koloida, tidak larut dalam etnol (95%)P, dalam eter P, dan dalam pelarut organik lain
Penyimpanan : dalma wadah trtutup rapat
Kegunaan : sebagai zat tambahan

4. Paracetamol
Nama resmi : Acetaminofen
Nama resmi : Asetaminofen, parcetamol
RM/BM : C¬8O9O2 / 151, 16
Rumus struktur : 
Pemerian :hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau, rasa pahit
Kelarutan : larut dalm 70 bagian air, dalm 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol, dalam larutan alkali hidroksida

E. PROSEDUR KERJA
LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI


F. Hasil Pengamatan
1. Tabel pengamatan
LAPORAN SEDIAAN PARTIKEL SUSPENSI


G. PEMBAHASAN
Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase. fase kontinue atau fase luar umumnya merupakan cairan atau semi padat dan fase terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel” kecil, yang pada dasarnya tidak larut, tetapi terdispersi seluruhnya dalam fase kontinu zat yang tidak larut bisa dimaksudkan untuk diabsorpsi fisiologis atau untuk fungsi pelapisan dalam dan luar. Dalam suspensi dikenal dua sistim yaitu suspensi flokulasi dan deeflokulasi. Suspensi flokulasi yiatu apabila partikel dalam suspensi tersebut relatif cepat mengendap namun masih bisa didisperisikan kembali dengan cara pengocokkan sednagkan suspensi deflokulasi yaitu apabila partikel dalam suatu supensi memerlukan waktu yang sangat lama untuk mengendap atau mebentuk sedimen namun ketika sduah mengendap atau mebentuk sedimen maka tidak dapat didspersikan kembali. Kestabilan suatu suspensi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu jumlah dan ukuran partikel serta viskositas atau kekentalan.

Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dan parameter-parameter yang mempengaruhi stabilitas suspensi, memahami stabilitas suatu suspensi, dan memahami perbedaan antara sistem suspensi terflokulasi dan deflokulsi. Percobaan dilakukan dengan membandingkan waktu yang diperlukan partikel suspensi untuk mengendap atau membentuk sedimen dengan konsentrasi suspending agent yang berbeda-beda dengan parameter waktu pengukuran yaitu 10 menit dan pengukuran diulangi sebanyak dua kali. Suspending agent merupakan bahan tambahan pada sediaan suspensi yang berfungsi mendispersikan partikel tidak larut dalam cairan dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan sedimentasi dari fase terdispersi dapat diperlambat. Dalam hal ini bahan yang digunakan seagai suspending agent adalah Na-CMC (Natrium Karboksil Metil Selulosa), dengan bahan obat yang digunakan sebagai sampel sekaligus juga berperan sebagai fase terdispersi dalam suspensi yang dibuat yaitu paracetamol. Paracetamol merupakan zat berupa serbuk hablur yang tidak larut dalam air. Karena sifatnya yang tidak dapat larut dalam air maka digunakan pula zat pembasah (wetting agent). Zat pembasah berfungsi mengurangi tegangan permukaan larutan dan memudahkan partikel padat dapat lebih mudah menyebar dalam fase kontinu. Fase kontinu dalam hal ini yaitu air.

DAFTAR PUSTAKA
Anjani, M. R., Ika T. D K., Peni I., dan Anita S., 2011, Formulasi Suspensi Siprofloksasin dengan Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici dan Daya Antibakterinya, Pharmacon, Vol. 12 (1).

Dirjen, Pom. 1979 . Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indosnesia : Jakarta

Fitriani, Y. N., Cikra INHS., Ninis Y., dan Dyah A., 2016, Formulasi dan Evaluasi Stabilitas Fisik Suspensi Ubi Cilembu (Ipomoea batatas L.) dengan Suspending Agent CMC Na dan PGS sebagai Antihiperkolesterol, Jurnal Farmasi Sains dan Terapan, Vol. 2 (1).

Lachman, dkk . 2008. Teori Dan Praktek Farmasi Industri Edisi III , Universitas Indonesia : Jakarta

Masdian, R., dan Rifki N. B., 2012, Pemisahan Partikel Padat-Padat pada Aliran Pipa Spiral, Journal of Chemistry, Vol. 1 (1).

Syaifuddin dan Buhaerah. 2010. “Pengaruh Urea Terhadap Dispersi Tanah Ultisol Pada Regim Air Yang Berbeda Effect Of Urea On Dispersion Of Ultisol Soil Under Different Water Regime”. Jurnal Agrisistem Jurnal Agrisistem. Vol.6(2).

Syamsuni, 2012, Ilmu Resep, EGC: Jakarta.