LAPORAN SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK - ElrinAlria


LAPORAN SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK


SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
PERCOBAAN II

A. TUJUAN
Tujuan dilakukanya praktikum ini antara lain :
  1. Mempelajari sifat-sifat kelarutan senyawa organik
  2. Membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa pelarut
B. LANDASAN TEORI
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawa organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawa organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia. Di antara beberapa golongan senyawa organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatic, senyawa yang mengandung paling tidak satu cincin benzene; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom non karbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada atau tidaknya ikatan karbon hydrogen. Sehingga asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama organik (Cahyono dan tuhu, 2012).

Zat organik adalah zat yang banya megandung unsur karbon. Contohnya antara lain benzen, chlroroform, detergen, methoxychlor dan pentachlorophenol. Zat organik dibagi menjadi duayaitu zat organik aromatis yaitu senyawa organik yang beraroma, secara kimia senyawa ini mempunyai ikatan rantai yang melingkar, misalnya benzen dan toluena. dan zat non aromatis yaitu senyawa organik yang tidak beraroma, dan secara kimia tidak mempunyai ikatan rantai yang melingkar, misalnya etana, etanol dan formalin. Zat organik dapat digunakan sebagai bahan makanan, zat adiktif dan bahan peledak (Hidayati dan yusrin, 2010).

Asam oganik adalah termasuk senyawa organik yang umumnya merupakan hasil dari kegiatan jasad hidup. Umumnya, di alam, ditemukan pada, di atas dan di dalam tanah. Bentuk senyawa organik terdiri dari senyawa yang belum terhumuskan dan telah terhumuskan. Senyawa organik yang belum terhumuskan misalnya karbohidrat, asam amino, protein, lemak, lignin, asam nukleat, pigment, hormon dan asam-asam organik. Asam organik yang termasuk dalam senyawa organik belum terhumuskan selanjutnya diistilahkan asam organik belum terhumuskan. Senyawa organik yang telah terhumuskan adalah asam humat (AH), asam fulfat (AF), dan turunan dari hidroksi bensoat dari asam humat (ismangil dan eko, 2005).

Asam organik mampu mengkomplek logam dalam larutan. Derajat kompleksasi tergantung sifat asam organik (jumlah gugus karboksil dan hidroksil), konsentrasi asam organik, tipe loka permukaan, dan pH serta kekuatan ionik larutan tanah. Asam oksalat, sitrat, dan malat merupakan agen kelat yang kuat yang berafinitas kuat terhadap logam trivalen, misalnya Al3+, dan Fe3+ dan mempengaruhi mobilitas ion tersebut dalam lingkungan tanah. Ligan organik tersebut dapat dijerap oleh mineral bermuatan variabel sebagi komplek inner-sphere menggantikan grup air dan hidroksil. Asam humat, fulvat, LMWOAs, dan ligan inorganik (mencakup sulfat) bisa berkompetisi dengan fosfat untuk menduduki loka jerapan (Tamad dan hanudin, 2008).

Senyawa organik hanya mewakili satu jenis senyawa kimia, yaitu yang mengandung satu atom karbon atau lebih. Karbon adalah suatu unsur utama penyusun jasat hidup ini sehingga atom karbon menjadi tulang punggung pembentuk senyawa yang beraneka ragam. Mengapa karbon dapat membentuk senyawa-senyawa yang begitu banyak, dimana hal ini tidak ditunjukkan oleh unsur lain. Karbon memiliki empat elektron di kulit terluarnya. Masing-masing elektron dapat disumbangkan kepada unsur-unsur lain sehingga terpenuhi susunan elektroniknya, dan dengan elektron-elektron pasangan membentuk ikatan kovalen. Nitrogen, oksigen dan hidrogen adalah unsur-unsur yang dapat berikatan dengan karbon. Satu atom karbon dapat menyumbangkan paling banyak empat elektron untuk dipasangkan dengan empat elektron dari unsur lain. Sebagai contoh dalam molekul metana (Budimarwanti, 2010).

Senyawa-senyawa organik sederhana yang menimbulkan bau seperti metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Proses penguraian senyawa organik dengan menggunakan mikroba yang menghasilkan metana (CH4 ) dan karbondioksida (CO2) dikenal sebagai proses metanogenesis. Proses metanogenesis adalah proses peruraian oleh spesies mikroba metanogenik (Wiyarno dan sri, 2011).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  1. Gegep
  2. Pipet tetes
  3. Tabung reaksi


2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  1. Akuades (H2O)
  2. Ammonuim Hidroksida (NH3OH) 0,1%
  3. Asam Asetat (CH3COOH)
  4. Asam klorida (HCl) 0,02 N
  5. Asam Sulfat (H2SO4) 0,5 N
  6. Bensin
  7. Etanol (C2H4OH)
  8. Eter
  9. Etil Asetat (C2H5COOH)
  10. Kloroform (CHCl3)
  11. Lilin
  12. Methanol (CH4OH)
  13. Minyak Goreng
  14. Minyak Tanah
  15. n-Heksan (C6H14)
  16. Pertamax
  17. Solar


D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK


F. PEMBAHASAN
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa yang tidak memiliki atom karbon, atau senyawa yang ada pada alam umumnya menyusun material atau benda tak hidup. Studi mengenai senyawa organik disebut kimia organik. Pada umumnya, senyawa organik dan senyawa anorganik mempunyai karakteristik yang menandakan perbedaan kedua golongan senyawa tersebut. Ada beberapa sifat fisika maupun kimia yang memberikan deskripsi dalam suatu senyawa termasuk dalam senyawa organik dan anorganik, seperti keadaan saat pembakaran dan juga pemanasan. Unsur-unsur senyawa organik berada dalam struktur yang kompleks, oleh karena dilakukan beberapa metode dalam pelepasan unsur-unsur organik tersebut. Senyawa organik merupakan senyawa yang mengandung unsur karbon, selain itu juga terdapat unsur hidrogen (H), oksigen(O), nitrogen (N), sulfur (S) dan fosfor (P). Senyawa organik dapat diperoleh dari hasil suatu reaksi atau hasil isolasi bahan-bahan alam.

Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Kelarutan diartikan sebagai kadar jenuh solut dalam sejumlah solven pada suhu tertentu yang menunjukkan bahwa interaksi spontan satu atau lebih solut atau solven telah terjadi dan membentuk dispersi molekul yang homogen.

Kelarutan dari senyawa organic dalam pelarut diramalkan berdasarkan hukum kelarutan like dissolved like antara lain : suatu zat sangat larut dalam suatu pelarut jika mempunyai struktur yang sangat mirip. Kedua, suatu senyawa yang memiliki rantai cabang, lebih mudah larut dalam pelarut daripada rantai lurus isomernya. Ketiga, dalam beberapa deret homolog, anggota yang memiliki jumlah karbon lebih banyak lebih mendekati sifat hidrokarbonnya. Keempat, senyawa yang mempunyai berat molekul tinggi ( misalnya polimer) sedikit larut dalam pelarut inert, tetapi polimer sering membentuk dispersi koloid dalam pelarut tertentu. Kelima, zat cair dan zat padat yang titik lelehnya rendah umumnya mudah larut daripada zat padat yang titik lelehnya tinggi dalam pelarut inert.

Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari sifat - sifat kelarutan senyawa organik dan membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa pelarut. Senyawa-senyawa organik yang diuji kelarutannya sekaligus dijadikan sebagai pelarutnya. Senyawa-senyawa tersebut adalah air, asam asetat, asam klorida, asam sulfat, bensin, etanol, eter, etilasetat, kloroform, metanol, minyak goreng, minyak tanah, n-heksana, natrium hidroksida, paraffin, pertamax, dan solar.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa senyawa-senyawa polar yaitu air, asam asetat, asam sulfat, etanol, eter, HCl, metanol, dan NaOH. Senyawa-senyawa nonpolar yaitu bensin, eter, etil asetat, kloroform, minyak tanah, n-heksana, paraffin, pertamax, dan solar. Penggolongan ini didasarkan pada kelarutan senyawa- senyawa tersebut di dalam air. Kelarutan tersebut di sebabkan pula oleh struktur senyawa terebut yang memiliki kemiripn struktur dengan air ( H2O) dalam hal ini gugus -OH nya. Hal ini berkaitan dengan prinsip “like dissolved like” yang pertama yakni penggolongan senyawa berdasarkan kepolarannya.

Kelarutan juga dipengaruhi oleh kemampuan zat terlarut untuk membentuk ikatan hidrogen dengan molekul pelarut. Larutan asam sulfat mempunyai kemampuan untuk membentuk ikatan hidrogen dengan molekul pelarut. asam sulfat merupakan senyawa non polar, dimana asam sulfat dibentuk oleh ikatan kovalen dan muatan dieletriknya adalah O karena kecilnya perbedaan elektronegativitasnya. asam sulfat dapat membentuk ikatan hidrogen melalui atom O pada gugus asam sulfat yang melakukan ikatan dengan atom H pada air sehingga asam sulfat dapat larut dalam pelarut air. Senyawa asam sulfat dapat membentuk ikatan hidrogen, pada pelarut polar lainnya juga seperti asam asetat, etanol, eter, HCl , metanol, dan NaOH. Gugus oksigen dalam asam sulfat membentuk jembatan hidrogen dengan unsur hidrogen pada pelarut tersebut.

Uji kelarutan di dalam pelarut kloroform, senyawa-senyawa seperti air, bensin, NaOH, paraffin, dan solar juga tidak larut. Hal ini dikarenakan antara pelarut dan senyawa-senyawa tersebut tidak mempunyai struktur yang mirip. Kloroform merupakan golongan pelarut semipolar, sehingga pada proses pencampurannya, terbentuk dua lapisan yang tidak saling bercampur. Minyak merupakan senyawa yang tidak dapat larut dalam pelarut polar tetapi akan sedikit larut dalam pelarut semipolar.

Pada golongan minyak bumi seperti bensin, pertamax, dan solar tidak larut pada beberapa jenis pelarut yaitu pada pelarut polar dan semipolar. Contohnya pada pelarut metanol, etanol, air, dan asam sulfat. Golongan minyak bumi tersebut tidak dapat larut dalam pelarut polar karena memiliki rantai karbon yang cukup panjang sehingga lebih mendekati sifat hidrokarbonnya.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kelarutan, yaitu sifat dari solute dan solven, cosolvensi, kelarutan, temperatur, salting out, salting in dan pembentukan kompleks. Pada umumnya solut yang polar akan larut dalam solven yang polar pula sedangkan solut yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpoar pula. Namun, tidak semua zat memenuhi pernyataan tersebut sehingga pernyataan ini . Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.

Dalam bidang farmasi kelarutan sangat penting, karena dapat mengetahui dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (dibidang farmasi) dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kelarutan serta untuk memastikan obat dapat larut dalam cairan maupun lemak tubuh.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
  1. Sifat-sifat kelarutan senyawa organik dapat diketahui dari prinsip like dissolved like.
  2. Kelarutan suatu senyawa dapat dipengaruhi oleh struktur molekulnya dan tingkat kepolarannya.


DAFTAR PUSTAKA
Budimarwanti C., 2010, Penggolongan Senyawa Organik Dan Dasar-Dasar Reaksi Organik, Word To Pdf Conventer.

Cahyono, Ari Dwi Dan Tuhu Agung R., 2012, Pemanfaatan Fly Ash Batubara Sebagai Adsorben Dalam Penyisihan Cod Dari Limbah Cair Domestik Rumah Susun Wonorejo Surabaya, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol. 4 No. 1.

Hidayati Ana M, dan Yusrin, 2010, Pengaruh Lama Waktu Simpan Pada Suhu Ruang (27-29oc) Terhadap Kadar Zat Organik Pada Air Minum Isi Ulang (The Effect On The Long Time Storage Of The Room Temperature (27-29oc) Towards The Organic Matter Concentration In The Refill Drinking Water), Prosisiding Seminar Nasional Unimus, ISBN 978.979.704.883.9.

Ismangil dan Eko Hanudin, 2005, Degradasi Mineral Batuan Oleh Asam-Asam Organik, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1).

Tamad dan Eko Hanudin, 2008, Kompetisi Anion Organik Dan Anorganik Dalam Membentuk Kompleks Dengan Allofan Dalam Upaya Perbaikan Ketersediaan Fosfat Pada, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 8, No.2

Wiyarno Y. Dan Sri Widyastuti, 2011, Isolasi Dan Identifikasi Komponen Senyawa Penyusun Bau Pada Limbah Pabrik Tapioka, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol.1 No. 2.

LAPORAN SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK



LAPORAN SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK


SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
PERCOBAAN II

A. TUJUAN
Tujuan dilakukanya praktikum ini antara lain :
  1. Mempelajari sifat-sifat kelarutan senyawa organik
  2. Membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa pelarut
B. LANDASAN TEORI
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawa organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawa organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia. Di antara beberapa golongan senyawa organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatic, senyawa yang mengandung paling tidak satu cincin benzene; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom non karbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada atau tidaknya ikatan karbon hydrogen. Sehingga asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama organik (Cahyono dan tuhu, 2012).

Zat organik adalah zat yang banya megandung unsur karbon. Contohnya antara lain benzen, chlroroform, detergen, methoxychlor dan pentachlorophenol. Zat organik dibagi menjadi duayaitu zat organik aromatis yaitu senyawa organik yang beraroma, secara kimia senyawa ini mempunyai ikatan rantai yang melingkar, misalnya benzen dan toluena. dan zat non aromatis yaitu senyawa organik yang tidak beraroma, dan secara kimia tidak mempunyai ikatan rantai yang melingkar, misalnya etana, etanol dan formalin. Zat organik dapat digunakan sebagai bahan makanan, zat adiktif dan bahan peledak (Hidayati dan yusrin, 2010).

Asam oganik adalah termasuk senyawa organik yang umumnya merupakan hasil dari kegiatan jasad hidup. Umumnya, di alam, ditemukan pada, di atas dan di dalam tanah. Bentuk senyawa organik terdiri dari senyawa yang belum terhumuskan dan telah terhumuskan. Senyawa organik yang belum terhumuskan misalnya karbohidrat, asam amino, protein, lemak, lignin, asam nukleat, pigment, hormon dan asam-asam organik. Asam organik yang termasuk dalam senyawa organik belum terhumuskan selanjutnya diistilahkan asam organik belum terhumuskan. Senyawa organik yang telah terhumuskan adalah asam humat (AH), asam fulfat (AF), dan turunan dari hidroksi bensoat dari asam humat (ismangil dan eko, 2005).

Asam organik mampu mengkomplek logam dalam larutan. Derajat kompleksasi tergantung sifat asam organik (jumlah gugus karboksil dan hidroksil), konsentrasi asam organik, tipe loka permukaan, dan pH serta kekuatan ionik larutan tanah. Asam oksalat, sitrat, dan malat merupakan agen kelat yang kuat yang berafinitas kuat terhadap logam trivalen, misalnya Al3+, dan Fe3+ dan mempengaruhi mobilitas ion tersebut dalam lingkungan tanah. Ligan organik tersebut dapat dijerap oleh mineral bermuatan variabel sebagi komplek inner-sphere menggantikan grup air dan hidroksil. Asam humat, fulvat, LMWOAs, dan ligan inorganik (mencakup sulfat) bisa berkompetisi dengan fosfat untuk menduduki loka jerapan (Tamad dan hanudin, 2008).

Senyawa organik hanya mewakili satu jenis senyawa kimia, yaitu yang mengandung satu atom karbon atau lebih. Karbon adalah suatu unsur utama penyusun jasat hidup ini sehingga atom karbon menjadi tulang punggung pembentuk senyawa yang beraneka ragam. Mengapa karbon dapat membentuk senyawa-senyawa yang begitu banyak, dimana hal ini tidak ditunjukkan oleh unsur lain. Karbon memiliki empat elektron di kulit terluarnya. Masing-masing elektron dapat disumbangkan kepada unsur-unsur lain sehingga terpenuhi susunan elektroniknya, dan dengan elektron-elektron pasangan membentuk ikatan kovalen. Nitrogen, oksigen dan hidrogen adalah unsur-unsur yang dapat berikatan dengan karbon. Satu atom karbon dapat menyumbangkan paling banyak empat elektron untuk dipasangkan dengan empat elektron dari unsur lain. Sebagai contoh dalam molekul metana (Budimarwanti, 2010).

Senyawa-senyawa organik sederhana yang menimbulkan bau seperti metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Proses penguraian senyawa organik dengan menggunakan mikroba yang menghasilkan metana (CH4 ) dan karbondioksida (CO2) dikenal sebagai proses metanogenesis. Proses metanogenesis adalah proses peruraian oleh spesies mikroba metanogenik (Wiyarno dan sri, 2011).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  1. Gegep
  2. Pipet tetes
  3. Tabung reaksi


2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  1. Akuades (H2O)
  2. Ammonuim Hidroksida (NH3OH) 0,1%
  3. Asam Asetat (CH3COOH)
  4. Asam klorida (HCl) 0,02 N
  5. Asam Sulfat (H2SO4) 0,5 N
  6. Bensin
  7. Etanol (C2H4OH)
  8. Eter
  9. Etil Asetat (C2H5COOH)
  10. Kloroform (CHCl3)
  11. Lilin
  12. Methanol (CH4OH)
  13. Minyak Goreng
  14. Minyak Tanah
  15. n-Heksan (C6H14)
  16. Pertamax
  17. Solar


D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK


F. PEMBAHASAN
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa yang tidak memiliki atom karbon, atau senyawa yang ada pada alam umumnya menyusun material atau benda tak hidup. Studi mengenai senyawa organik disebut kimia organik. Pada umumnya, senyawa organik dan senyawa anorganik mempunyai karakteristik yang menandakan perbedaan kedua golongan senyawa tersebut. Ada beberapa sifat fisika maupun kimia yang memberikan deskripsi dalam suatu senyawa termasuk dalam senyawa organik dan anorganik, seperti keadaan saat pembakaran dan juga pemanasan. Unsur-unsur senyawa organik berada dalam struktur yang kompleks, oleh karena dilakukan beberapa metode dalam pelepasan unsur-unsur organik tersebut. Senyawa organik merupakan senyawa yang mengandung unsur karbon, selain itu juga terdapat unsur hidrogen (H), oksigen(O), nitrogen (N), sulfur (S) dan fosfor (P). Senyawa organik dapat diperoleh dari hasil suatu reaksi atau hasil isolasi bahan-bahan alam.

Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Kelarutan diartikan sebagai kadar jenuh solut dalam sejumlah solven pada suhu tertentu yang menunjukkan bahwa interaksi spontan satu atau lebih solut atau solven telah terjadi dan membentuk dispersi molekul yang homogen.

Kelarutan dari senyawa organic dalam pelarut diramalkan berdasarkan hukum kelarutan like dissolved like antara lain : suatu zat sangat larut dalam suatu pelarut jika mempunyai struktur yang sangat mirip. Kedua, suatu senyawa yang memiliki rantai cabang, lebih mudah larut dalam pelarut daripada rantai lurus isomernya. Ketiga, dalam beberapa deret homolog, anggota yang memiliki jumlah karbon lebih banyak lebih mendekati sifat hidrokarbonnya. Keempat, senyawa yang mempunyai berat molekul tinggi ( misalnya polimer) sedikit larut dalam pelarut inert, tetapi polimer sering membentuk dispersi koloid dalam pelarut tertentu. Kelima, zat cair dan zat padat yang titik lelehnya rendah umumnya mudah larut daripada zat padat yang titik lelehnya tinggi dalam pelarut inert.

Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari sifat - sifat kelarutan senyawa organik dan membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa pelarut. Senyawa-senyawa organik yang diuji kelarutannya sekaligus dijadikan sebagai pelarutnya. Senyawa-senyawa tersebut adalah air, asam asetat, asam klorida, asam sulfat, bensin, etanol, eter, etilasetat, kloroform, metanol, minyak goreng, minyak tanah, n-heksana, natrium hidroksida, paraffin, pertamax, dan solar.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa senyawa-senyawa polar yaitu air, asam asetat, asam sulfat, etanol, eter, HCl, metanol, dan NaOH. Senyawa-senyawa nonpolar yaitu bensin, eter, etil asetat, kloroform, minyak tanah, n-heksana, paraffin, pertamax, dan solar. Penggolongan ini didasarkan pada kelarutan senyawa- senyawa tersebut di dalam air. Kelarutan tersebut di sebabkan pula oleh struktur senyawa terebut yang memiliki kemiripn struktur dengan air ( H2O) dalam hal ini gugus -OH nya. Hal ini berkaitan dengan prinsip “like dissolved like” yang pertama yakni penggolongan senyawa berdasarkan kepolarannya.

Kelarutan juga dipengaruhi oleh kemampuan zat terlarut untuk membentuk ikatan hidrogen dengan molekul pelarut. Larutan asam sulfat mempunyai kemampuan untuk membentuk ikatan hidrogen dengan molekul pelarut. asam sulfat merupakan senyawa non polar, dimana asam sulfat dibentuk oleh ikatan kovalen dan muatan dieletriknya adalah O karena kecilnya perbedaan elektronegativitasnya. asam sulfat dapat membentuk ikatan hidrogen melalui atom O pada gugus asam sulfat yang melakukan ikatan dengan atom H pada air sehingga asam sulfat dapat larut dalam pelarut air. Senyawa asam sulfat dapat membentuk ikatan hidrogen, pada pelarut polar lainnya juga seperti asam asetat, etanol, eter, HCl , metanol, dan NaOH. Gugus oksigen dalam asam sulfat membentuk jembatan hidrogen dengan unsur hidrogen pada pelarut tersebut.

Uji kelarutan di dalam pelarut kloroform, senyawa-senyawa seperti air, bensin, NaOH, paraffin, dan solar juga tidak larut. Hal ini dikarenakan antara pelarut dan senyawa-senyawa tersebut tidak mempunyai struktur yang mirip. Kloroform merupakan golongan pelarut semipolar, sehingga pada proses pencampurannya, terbentuk dua lapisan yang tidak saling bercampur. Minyak merupakan senyawa yang tidak dapat larut dalam pelarut polar tetapi akan sedikit larut dalam pelarut semipolar.

Pada golongan minyak bumi seperti bensin, pertamax, dan solar tidak larut pada beberapa jenis pelarut yaitu pada pelarut polar dan semipolar. Contohnya pada pelarut metanol, etanol, air, dan asam sulfat. Golongan minyak bumi tersebut tidak dapat larut dalam pelarut polar karena memiliki rantai karbon yang cukup panjang sehingga lebih mendekati sifat hidrokarbonnya.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kelarutan, yaitu sifat dari solute dan solven, cosolvensi, kelarutan, temperatur, salting out, salting in dan pembentukan kompleks. Pada umumnya solut yang polar akan larut dalam solven yang polar pula sedangkan solut yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpoar pula. Namun, tidak semua zat memenuhi pernyataan tersebut sehingga pernyataan ini . Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.

Dalam bidang farmasi kelarutan sangat penting, karena dapat mengetahui dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (dibidang farmasi) dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kelarutan serta untuk memastikan obat dapat larut dalam cairan maupun lemak tubuh.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
  1. Sifat-sifat kelarutan senyawa organik dapat diketahui dari prinsip like dissolved like.
  2. Kelarutan suatu senyawa dapat dipengaruhi oleh struktur molekulnya dan tingkat kepolarannya.


DAFTAR PUSTAKA
Budimarwanti C., 2010, Penggolongan Senyawa Organik Dan Dasar-Dasar Reaksi Organik, Word To Pdf Conventer.

Cahyono, Ari Dwi Dan Tuhu Agung R., 2012, Pemanfaatan Fly Ash Batubara Sebagai Adsorben Dalam Penyisihan Cod Dari Limbah Cair Domestik Rumah Susun Wonorejo Surabaya, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol. 4 No. 1.

Hidayati Ana M, dan Yusrin, 2010, Pengaruh Lama Waktu Simpan Pada Suhu Ruang (27-29oc) Terhadap Kadar Zat Organik Pada Air Minum Isi Ulang (The Effect On The Long Time Storage Of The Room Temperature (27-29oc) Towards The Organic Matter Concentration In The Refill Drinking Water), Prosisiding Seminar Nasional Unimus, ISBN 978.979.704.883.9.

Ismangil dan Eko Hanudin, 2005, Degradasi Mineral Batuan Oleh Asam-Asam Organik, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 (1).

Tamad dan Eko Hanudin, 2008, Kompetisi Anion Organik Dan Anorganik Dalam Membentuk Kompleks Dengan Allofan Dalam Upaya Perbaikan Ketersediaan Fosfat Pada, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 8, No.2

Wiyarno Y. Dan Sri Widyastuti, 2011, Isolasi Dan Identifikasi Komponen Senyawa Penyusun Bau Pada Limbah Pabrik Tapioka, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol.1 No. 2.