LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM - ElrinAlria
LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM
LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia sudah mengenal dan memakai tumbuhan berkhasiat obat sebagai salah satu upaya penanggulangan masalah kesehatan yang dihadapi. Hal ini telah dilakukan jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat obatan mobern menyentuh masyarakat. Pengetahuan tentang merupakan warisan budaya bangsa turun temurun.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan ternyata tidak mampu begitu saja menghilangkan arti pengobatan tradisional, apalagi keadaan perekonomian Indonesia saat ini yang mengakibatkan harga obat obatan modern menjadi mahal. Oleh karena itu salah satu pengobatan alternative yang dilakukan adalah meningkatkan penggunaan tumbuhan berkhasiat obat di kalangan masyarakat agar peranan obat tradisional dalam pelayanan kesehatan masyarakat dapat di tingkatkan, perlu dilakukan upaya pengenalan , penelitian , pengujian dan pengembangan khasiat dan keamanan suatu tumbuhan obat.

Pada ilmu mikrobiologi ini kita mempelajari banyak tentang jasad-jasad renik yang disebut juga dengan microba atau protista, di mana adanya, ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, penggunaan dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa di antaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. 

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada aktivitas antimikroba pada eksrak tanaman dari bahan alam dengan menggunakan metode skrining dan untuk mengetahui seberapa besar aktivitas yang dimiliki oleh ektrak tanaman dari bahan alam tersebut dengan menggunakan metode dufusi agar.

B. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui uji aktivitas antimikroba yang ada pada bahan alam.

C. MANFAAT PERCOBAAN
Mafaat dari percobaan ini adalah untuk mengetahui uji aktivitas antimikroba yang ada pada bahan alam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TEORI UMUM
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme hidup yang berukuran kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme ada yang tersusun atas satu sel (uniseluler) dan ada yang tersusun dari beberapa sel (multiseluler). Walaupun mikroorganisme uniseluler hanya tersusun atas satu sel, namun mikroorganisme tersebut menunjukkan semua karakteristik organism hidup, yaitu bermetabolisme, bereproduksi, berdiferensiasi, melakukan komunikasi, melakukan pergerakan, dan brevolusi (Pratiwi, 2008).

Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula.Akan tetapi karena ukurannya yang kecil,maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang tidak diperlukan tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan. Enzim-enzim tertentu yang diperlukan untuk pengolahan bahan makanan akan diproduksi bila bahan makanan tersebut sudah ada (Nurtjahyani, 2011).

Mikroorganisme ini merupakan kelompok bakteri yang keberadaannya dimakanan di atas batasan jumlah tertentu, yang dapat menjadi indikator suatu kondisi yang terekspos yang dapat mengintroduksi organisme hazardous (berbahaya) dan menyebabkan proliferasi spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E. coli tipe I, coliform dan fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak higinis, termasuk keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme indikator ini sering digunakan sebagai indaktor kualitas mikrobiologi pada pangan dan air (Nurtjahyani, 2011).

Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang, bergerak dengan flagel, dan bersifat aerob. Bakteri ini banyak menginfeksi penderita di rumah sakit dengan predisposisi tertentu. Banyak faktor-faktor penentu patogenitas dari bakteri ini diantaranya yang berhubungan dengan struktur sel seperti pili (fimbriae) dan bahan yang dikeluarkan seperti exotoxin A dan protease. Bakteri P. aeruginosa dapat melaku-kan adhesi dan membentuk koloni pada bermacam–macam tipe sel yaitu epitel sel buccal, paru, ginjal dan sel endothel. Adhesin bakteri Gram negatif diperankan oleh suatu protein yang mampu mengaglutinasi eritrosit mamalia protein ini disebut dengan protein hemaglutinin, salah satu contoh adalah protein adhesin Klebsiella pneumoniae yang diperankan oleh protein hemaglutinin 29 kDa (Hidayati, 2010).

Pada tumbuhan sudah dikenal mengandung berbagai golongan senyawa kimia tertentusebagai bahan obat yang mempunyai efek fisiologis terhadap organisme lain. Senyawa alam hasilisolasi dari tumbuhan juga digunakan sebagai bahan asal untuk sintesis bahan-bahan biologis aktif dansebagai senyawa untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus (Kurniati, 2011).

Staphylococcus aureus adalah bakteri yang berpotensi untuk menyebabkan keracunan pangan pada manusia. Berdasarkan virulensinya, dapat dibedakan menjadi beberapa tipe dan virulensinya ditentukan oleh substansi yang diproduksi oleh bakteri tersebut seperti hemolisin, koagulasi plasma dan enterotoksin. Kemampuannya untuk menginfeksi sel inang ditentukan oleh virulensi bakteri dan faktor penentu virulensinya tersebut yang terdapat pada permukaan sel bakteri, seperti sifat hidrofobisitas, substansi hemaglutinin, keberadaan kapsul dan fimbria. Hemaglutinin berfungsi sebagai adesin untuk pelekatan bakteri pada sel epitel hospes. Sifat hidrofobisitas pada permukaan bakteri bertanggung jawab terhadap fase pelekatan awal dari infeksi (Khusnan, dkk., 2008).

Bakteri S. aureus merupakan bakteri flora normal pada kulit dan selaput lendir pada manusia.Staphylococcus dapat menjadi penyebab infeksi baik pada manusia maupun pada hewan. Bakteri S.aureus dapat mengakibatkan infeksi kerusakan pada kulit atau luka pada organ tubuh jika bakteri inimengalahkan mekanisme pertahanan tubuh. Saat bakteri masuk ke peredaran darah bakteri dapatmenyebar ke organ lain dan meyebabkan infeksi (Kurniati, 2011).

B. URAIAN BAHAN
1. Agar (Ditjen POM, 1979: 74)
Nama resmi : Agar
Nama lain : Agar-agar
Pemerian : Tidak berbau atau bau lemah, berasa musilago pada lidah
Kelarutan : Tidak larut dalam air dingin, dan larut dalam air mendidih
Kegunaan : Sebagai bahan pemadat medium
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik

2. Pepton (Ditjen POM, 1979 : 721)
Nama resmi : Pepton
Nama lain : Pepton
Pemerian : Serbuk, kuning kemerahan sampai coklat, bau khas tidak busuk
Kelarutan :Larut dalam air, memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang bereaksi asam

3. Ekstrak Beef (Ditjen POM, 1995 : 1152)
Nama resmi : Beef Extract
Nama lain : Kaldu nabati, kaldu hewani, ekstrak beef
Pemerian : Berbau dan berasa pada lidah. Kaldu daging sapi konsentrat diperoleh dengan mengekstraksi daging sapi segar tanpa lemak, dengan cara merebus dalam air dan menguapkan kaldu pada suhu rendah dalam hampa udara sampai terbentuk residu kental berbentuk pasta. Massa berbentuk pasta, berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua, bau dan rasa seperti daging, sedikit asam.
Kelarutan : Larut dalam air dingin.
Kegunaan :Sumber protein untuk pertumbuhan mikroorganisme
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
Produksi : Difco TM, Bocton, Dickinson and company, Sparks, MD 21152 USA

4. Natrium Klorida (Ditjen POM, 1979 : 403)
Nama Resmi : Natrii Chloridum
Nama Lain : Natrium klorida
RM/BM : NaCl / 58,44
Rumus Struktur : Na Cl
Pemerian : Hablur putih, berbentuk kubus atau berbentuk prisma, tidak berbau, rasa asin, mantap diudara.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai sampel

5. Aqua Pro Injection (Ditjen POM, 1979 : 97)
Nama Resmi : Aqua Pro Injection
Sinonim : Aqua untuk injeksi
Pemerian : Keasaman, kebasaan, ammonium, besi, tembaga, timbal, kalsium klorida, nitrat, sulfat, zat teroksidasi menurut syarat yang tertera pada aqua destillata.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut untuk injeksi (zat tambahan)

6. Ekstrak Yeast (Ditjen POM, 1979 :671).
Nama resmi : Yeast Extract
Sinonim : Sari ragi, ekstrak ragi
Pemerian : Serbuk; kuning kemerahan sampai coklat, bau khas tidak busuk
Kelarutan : Larut dalam air, membentuk larutan kuning sampai coklat, bereaksi asam lemah

C. URAIAN TANAMAN
1. Klasifikasi tanaman
a. Brotowali ( Tinospora Crispa L)
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta
Class : Ordo
Famili : Menisoermaceae
Genus : Tinospora
Species : Tinospora Crispa L.

b. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
Regnum : Plantae
Divisi : Angiospermae
Class : Dicotiledoneae
Ordo : Umbelliferae
Famili : Apiaceae
Genus : Centella
Spesies : Centella asiatica

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L.

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Spesies : Elephantopus scaber L.

d. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana P. Mill.

e. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Alpini
Spesies : Langualis Rizoma

f. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber aromaticum Val

2. Deskripsi Tanaman 
a. Brotowali (Tinospora Crispa L)
Perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 cm, berkutil – kutil yang rapat, pepagannya mudah tergelupas. Daun bertangkai, panjang 16 cm, bentuknya seperti jantung atau agak membundar terlur tetapi berujung runcing. Lebar 6 cm sampai 13 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1 sampai 3 bunga bersama – sama, menggantung panjang 7 cm samapi 25 cm. Bunga (jantan) bergagang pendek 3 mm sampai 4 mm, kelopak 6, hijau, panjang lebih kurang 3,5 mm, daun mahkota 3, panjang lebih kurang 8 mm (Ditjen POM, 1989).

b. Daun Kaki Kuda (Centellae Herba)
Pegagan berdaun tunggal, berbentuk ginjal, panjang tangkai daun antara 5 cm – 15 cm. Tepi daun bergerigi atau beringgit, penampang 1 cm – 7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2 – 10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan berbentuk payung, tunggal atau 3 – 5 bersama-sama keluar dari ketiak daun, panjang tangkai bunga 5 mm – 50 cm. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit. Panjang buah antara 2 mm – 2,5 mm (Ditjen POM, 1989). 

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5) dengan susunan berhadapan, tumbuh menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum) berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan (Ditjen POM, 1989)

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek; bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35 x 2-7cm (Ditjen POM, 2009).

Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi lima bagian dan mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam 13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar jam 16 bunga telah tertutup kembali. Bunganya berwarna ungu dan tumbuh dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat (Ditjen POM, 2009).

e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Tanaman ini berbentuk pohon, dengan ketinggian pohon dapat mencapai 3–10 m. Daun banyak menumpuk di ujung ranting, bentuk oval sampai lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 3 cm. Bunga tersusun malai, berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, warna hijau atau hijau kekuningan, berbintik ungu. Biji satu berbentuk bola berwarna coklat (Ditjen POM, 1989)

f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Lengkuas adalah terna tegak yang tingginya 2 m atau lebih. Batangnya yang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua. Seluruh batangnya ditutupi pelepah daun. Batangnya ini bertipe batang semu. Daunnya tunggal, bertangkai pendek, berbentuk daun lanset memanjang, ujungnya runcing, pangkalnya tumpul, dan tepinya rata. Ukurannya daunnya adalah: 25-50 cm × 7-15 cm. Pelepah daunnya berukuran 15-30 cm, beralur, dan berwarna hijau (Ditjen POM, 1989). 

Umbinya berbau harum, ada yang putih, juga ada yang merah. Menurut ukurannya, ada yang besar juga ada yang kecil. Karenanya, dikenal 3 kultivar yang dibedakan berdasarkan warna dan ukuran rimpangnya. Rimpangnya ini merayap, berdaging, kulitnya mengkilap, beraroma khas, ia berserat kasar, dan pedas jika tua. Untuk mendapatkan rimpang muda yang belum banyak seratnya, panen dilakukan pada saat tanaman berusia 2,5-4 bulan( Ditjen POM, 1989).

g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Batangnya berupa kumpulan pelepah daun yang berseling, di atas tanah, beberapa batang berkoloni, hijau, rimpang; merayap, berdaging, gemuk, aromatik. Daun: tunggal, berpelepah, duduk berseling, pelepah membentuk batang semu, helaian; bentuk 1 lanset sempit, terlebar di tengah atau di atas tengah, panjang 3-7 kali lebar, pangkal runcing atau tumpul, ujung sangat runcing atau meruncing, berambut di permukaan atas, tulang daun atau di pangkal. Bunga tersusun majemuk, bentuk bulat telur, muncul di atas tanah, tegak, berambut halus, ramping tebal (Ditjen POM, 1989).

D. URAIAN MIKROBA UJI
1. Pseudomonas aeruginosa
a. Klasifikasi
Kingdom : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Pseudomonadales
Famili : Pseudomonadaceae
Genus : Pseudomonas
Spesies : Pseudomonas aeruginosa

b. Morfologi
Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri gram negatifaerob obligat, berkapsul, mempunyai flagella polar sehingga bakteri ini bersifat motil, berukuran sekitar 0,5-1,0 µm. Bakteri aerob ini mensekresikan beberapa jenis pigmen, di antaranya pyocyanin (hijau-biru), fluorescein (kuning-hijau) dan pyorubin (merah-cokelat). Bakteri ini dapat tumbuh tanpa oksigen jika tersedia NO3 sebagai akseptor elektron. Pseudomonas aeruginosa mampu tumbuh di lingkungan yang mengandung oli dan bahan bakar minyak lainnya. Suhu optimum untuk pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa adalah 42oC. Pseudomonas aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena kebutuhan nutrisinya sangat sederhana.

2. Staphylococcus aureus
a. Klasifikasi
Kingdom : Monera
Divisio : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphilococcus
Species : Staphilococcus aureus

b. Morfologi
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul. Berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur . Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari berat kering dinding selnya. Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen dari Staphylococcus. Asam teikoat mengandung aglutinogen dan N-asetilglukosamin.

BAB III
METODE KERJA
A. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • a. Autoklaf
  • b. Batang pengaduk
  • c. Botol Vial
  • d. Pinset
  • e. Cawan petri 
  • f. Gelas kimia
  • g. Inkubator
  • h. Labu Erlenmeyer 
  • i. Ose bulat
  • j. Ose lurus
  • k. Rak tabung
  • l. Spatula
  • m. Spoit 1 ml
  • n. Spoit 10 ml
  • o. Tabung reaksi
  • p. Timbangan analitik

2. Bahan 
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • a. Alkohol
  • b. Aluminium voil
  • c. Aquades
  • d. Ekstrak tanaman
  • e. Kapas 
  • f. Kertas bekas
  • g. NA (Nutrient Agar)
  • h. Paper disk
  • i. Sampel bakteri PA (Pseudomonas Aeruginosa)
  • j. Sampel bakteri SA (Staphylococcus aerus)
  • k. Tisu

B. CARA KERJA
1. Uji Skrinning
  • a. Disiapkan alat dan bahan.
  • b. Ditimbang ekstrak tanaman sebanyak 0,1 gram, 0,2 gram dan 0,3 gram
  • c. Dimasukkan ke dalam gelas kimia
  • d. Dilarutkan dengan Aquades sebanyak 1 mL.
  • e. Dimasukkan kedalam cawan petri yang telah berisi 10 mL media Nutrient Agar (NA)
  • f. Dihomogenkan
  • g. Ditunggu hingga media Nutrient Agar (NA) memadat
  • h. Ditandai menjadi dua bagian pada cawan petri untuk menanamkan bakteri Pseudomonas aeruginosadan Staphylococcus aureus.
  • i. Diambil biakan bakteri dengan menggunakan jarum inokulum (ose).
  • j. Digoreskan suspensi bakteri pada media Nutrient Agar (NA) secara zig-zag sesuai dengan bagian yang telah diberi tanda.
  • k. Diinkubasikan pada incubator dengan suhu 370C selama 1 x 24 jam.
  • l. Diamati.

2. Difusi Agar
  • a. Disiapkan alat dan bahan.
  • b. Diambil media Nutrient Agar (NA) sebanyak 10 mL.
  • c. Dimasukkan ke dalam cawan petri.
  • d. Diambil suspensi biakan bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus sebanyak 2 mL.
  • e. Dimasukkan kedalam cawan petrisuspensi biakan bakteri Staphylococcus aureus.
  • f. Dihomogenkan.
  • g. Ditandai menjadi tiga bagian tiap cawan petri.
  • h. Diambil paper disk beberapa lembar.
  • i. Dimasukkan masing-masing kedalam larutan ekstrak tanaman dengan konsentrasi 0,1%, 0,2% dan 0,3%.
  • j. Ditempelkan paper disk dalam cawan petri sesuai dengan konsentrasi yang telah ditandai.
  • k. Diinkubasi pada incubator dengan suhu 370C selama 1 x 24 jam.
  • l. Diamati.

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN
a) Gambar Pengamatan
LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM
LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM

B. PEMBAHASAN
Antimikroba ialah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia. Suatu zat antimikroba yang ideal memiliki toksisitas selektif. Istilah ini berarti bahwa suatu obat berbahaya bagi parasit tetapi tidak membahayakan inang. Seringkali, toksisitas selektif lebih bersifat relatif dan bukan absolut, ini berarti bahwa suatu obat yang pada konsentrasi tertentu dapat ditoleransi oleh inang, dapat merusak parasit.

Pada percobaan ini akan dilakukan uji aktivitas antimikroba terhadap beberapa biakan bakteri dengan menggunakan ekstrak tanaman dari bahan alam. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui uji aktivitas antimikroba melalui uji skrinning dan uji kadar hambat dengan menggunakan metode difusi agar. Antimikroba yang digunakan berasal dari bahan alam, yaitu ekstrak tapak liman, brotowali, kaki kuda, lempuyang wangi, lengkuas, advokad dan kencur. 

Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak tanaman terutama golongan flavonoid, fenol, terpenoid, dan minyak atsiri umumnya dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen yang merugikan kehidupan manusia dan hewan.Dalam uji aktivitas antimikroba dikenal beberapa metode, yaitu metode Dilusi (pengenceran), metode Difusi dengan menggunakan silinder pipih, difusi dengan mangkuk pipih, difusi dengan kertas saring atau Kirby-Bauer, dan metode KLT-Bioautografi. 

Pada percobaan ini dilakukan Uji skrinning dan Difusi Agar. Uji skrinning dilakukan dengan cara menimbang ekstrak sebanyak 0,1 yang kemudian dilarutkan dalam Aquades sebanyak 10 mL. Kemudian dimasukkan kedalam medium NA, digunakan medium NA karena yang akan ditumbuhkan pada cawan petri adalah bakteri. Bakteri yang digunakan adalah bakteri patogen yaitu Pseudomonas aeruginosadan Staphylococcus aureus. 

Pada cawan petri dilakukan pembagian menjadi dua bagian, agar dapat diketahui bagaimana aktivitas antimikroba tersebut terhadap masing-masing bakteri tersebut. Kemudian diinkubasikan pada inkubator dengan suhu 370C selama 1 x 24 jam. Dalam tiap tahap perlakuan, serilisasi alat dan bahan serta lingkungan sekitar perlakuan selalu diperhatikan, agar tidak terjadi kontaminasi dari lingkungan sekitar berupa mikroba kontaminan. 

Uji skrinning dimaksudkan untuk mengetahui ekstrak tanaman mana yang mempunyai aktivitas antibakteri. Hasil yang di dapatkan berupa, dari 7 tanaman yang diuji hanya 4 ekstrak tanaman saja yang memiliki aktivitas antibakteri, yakni pada tanaman alpukat, tapak liman, lempuyang wangi dan tapak kuda.Uji aktifitas digunakan metode difusi agar karena metode difusi agar karena akan ditentukan konsentrasi optimal dari antimikroba terhadap bakteri patogen tersebut dengan melihat zona hambatnya. Metode ini dianggap metode yang paling sederhana dan efisien dilakukan dalam percobaandi laboratorium dibanding metode lainnya. 

Uji aktivitas ini dilakukan dengan cara menyiapkan 3 cawan petri yang masing-masing telah ditandai menjadi dua bagian. Cawan petri tersebut diisikan medium NA sebanyak 10 mL dan telah berisi 1 suspensi biakan bakteriStaphylococcus aureus sebanyak 0,2 mL. Ekstrak tersebut kemudian dibuat menjadi 3 konsentrasi yaitu 0,1%;0,2% dan 0,3% dalam 10 mL Digunakannya variasi konsetrasi dengan maksud mengetahui, pada konsentrasi mana yang efektif untuk aktivitas antibakteri.

Digunakan paper disk untuk dapat mengukur zona hambat dari ekstrak jahe tersebut. Paper Disk merupakan bahan yang terbuat dari kertas saring dan dicelupkan ke dalam cairan antimikroba yang sebelumnya telah disterilisasi dengan oven. Masing-masing cawan petri tersebut kemudian diinkubasikan kedalam inkubator pada suhu 370C selama 1 x 24 jam.

Setelah diinkubasi, ditemukan zona hambat pada cawan petri yang berisi Staphylococcus aureus dengan ekstrak daaun alpukat ukuran zona hambat pada konsentrasi 0,1%cm adalah 0,56 cm, konsentrasi 0,2% tidak ditemukan zona hambat yang terbentuk dan pada konsentrasi 0,3% adalah 0,76 cm. Hal ini menunjukkan hanya pada konsetrasi 0,1% dan 0,3% saja yang terbentuk zona hambat, berarti pada konsentrasi tersebut yang efektif untuk menghambat aktivitas mikroba (aktivitas antimikroba).

Ekstrak tanaman lempuyang wangi pada konsentrasi 0,1%tidak ditemukan zona hambat, konsentrasi 0,2% adalah 0,4 cm dan pada konsentrasi 0,3% adalah 0,6 cm. Hasil menunjukkan bahwa pada kosentrasi 0,1% belum bersifat antibakteri sedangkan pada konsentrasi 0,2% dan 0,3% menunjukkan semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula zona hambat yang terbentuk.

Ekstrak tapak liman tidak ditemukan aktivitas antibakteri pada konsentrasi 0,1%; 0,2% dan 0,3%. Hal ini menunjukkan bahwa tapak liman mungkin akan menunjukkan aktivitas antibakteri pada konsentarsi yang lebih besar lagi. Karena berdasarkan literatur dan uji skrining yang telah dilakukan tapak liman memiliki aktivitas antibakteri.

Ekstrak tanaman tapak kuda pada konsentrasi 0,1%cm adalah 0,86 cm, konsentrasi 0,2% adalah 0,7 cm dan pada konsentrasi 0,3% adalah 0,66 cm. Hal ini menunjukkan hanya pada konsetrasi 0,1% yang terbentuk zona hambat paling besar.Berarti pada konsentrasi tersebut yang efektif dan paling baik untuk menghambat aktivitas mikroba (aktivitas antimikroba), karena untuk ekstrak yang baik digunakan adalah semakin besar zona hambat yang terbentuk namun memiliki konsentrasi yang kecil, sehingga baik digunakan untuk obat.

Senyawa-senyawa metabolit sekunder golongan fenol, flavanoid, terpenoid dan minyak atsiri yang terdapat pada ekstrak tanaman diduga merupakan golongan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa senyawa fenol, terpenoid dan flavonoid merupakan senyawa produk metabolisme sekunder tumbuhan yang aktif menghambat pertumbuhan bakteri.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini yaitu ditemukannya diameter zona hambat pada pada cawan petri yang berisi Staphilococcus aureus pada ekstrak, lempuyang wangi, tapak kuda, dan daun advokat . Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak tanaman yang digunakan mampu menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Akan tetapi zona hambatana tidak terbentuk pada cawan petri yang berisi bakteri Staphilococcus aureus pada ekstrak lempuyang wangi. 

B. SARAN
Sebaiknya dalam pengerjaan praktikum ini harus dilakukan secara aseptik dan dengan ketelitian tinggi agar tidak ada mikroorganisme yang tidak diharapkan tumbuh.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.

Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.

Hidayati, D.Y.N., 2010, Identifikasi Molekul Adhesi Pili Pseudomonas aeruginosa pada Human Umbilical Vein Endothelial Cells (HUVECs) Culture, J.Exp.Life.Sci.,Volume 1 Nomor 1.

Khusnan, Siti I.O.S. dan Soegiyono, 2008, Isolasi Identifikasi dan Karakterisasi Fenotip Bakteri Staphylococcus aureus Dari Penyembelihan Dan Karkas Ayam Potong, Jurnal Veteriner, Volume 9 Nomor 1.

Kurniati, Melki, dan Wike A.EP., 2011, Uji Antibakteri Ekstrak Gracilara sp (Rumput Laut) Terhadap Bakteri E. coli dan S. Aureus, Indallaya, Indonesia.

Nurtjahyani, S.D., 2011, Peran Mikroorganisme Dalam Perkembangan Mikrobiologi Pangan, Prospektus, Volume IX Nomor 1.

Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta.

LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM

LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM
LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia sudah mengenal dan memakai tumbuhan berkhasiat obat sebagai salah satu upaya penanggulangan masalah kesehatan yang dihadapi. Hal ini telah dilakukan jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat obatan mobern menyentuh masyarakat. Pengetahuan tentang merupakan warisan budaya bangsa turun temurun.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan ternyata tidak mampu begitu saja menghilangkan arti pengobatan tradisional, apalagi keadaan perekonomian Indonesia saat ini yang mengakibatkan harga obat obatan modern menjadi mahal. Oleh karena itu salah satu pengobatan alternative yang dilakukan adalah meningkatkan penggunaan tumbuhan berkhasiat obat di kalangan masyarakat agar peranan obat tradisional dalam pelayanan kesehatan masyarakat dapat di tingkatkan, perlu dilakukan upaya pengenalan , penelitian , pengujian dan pengembangan khasiat dan keamanan suatu tumbuhan obat.

Pada ilmu mikrobiologi ini kita mempelajari banyak tentang jasad-jasad renik yang disebut juga dengan microba atau protista, di mana adanya, ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, penggunaan dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa di antaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. 

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada aktivitas antimikroba pada eksrak tanaman dari bahan alam dengan menggunakan metode skrining dan untuk mengetahui seberapa besar aktivitas yang dimiliki oleh ektrak tanaman dari bahan alam tersebut dengan menggunakan metode dufusi agar.

B. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui uji aktivitas antimikroba yang ada pada bahan alam.

C. MANFAAT PERCOBAAN
Mafaat dari percobaan ini adalah untuk mengetahui uji aktivitas antimikroba yang ada pada bahan alam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TEORI UMUM
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme hidup yang berukuran kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme ada yang tersusun atas satu sel (uniseluler) dan ada yang tersusun dari beberapa sel (multiseluler). Walaupun mikroorganisme uniseluler hanya tersusun atas satu sel, namun mikroorganisme tersebut menunjukkan semua karakteristik organism hidup, yaitu bermetabolisme, bereproduksi, berdiferensiasi, melakukan komunikasi, melakukan pergerakan, dan brevolusi (Pratiwi, 2008).

Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula.Akan tetapi karena ukurannya yang kecil,maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang tidak diperlukan tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan. Enzim-enzim tertentu yang diperlukan untuk pengolahan bahan makanan akan diproduksi bila bahan makanan tersebut sudah ada (Nurtjahyani, 2011).

Mikroorganisme ini merupakan kelompok bakteri yang keberadaannya dimakanan di atas batasan jumlah tertentu, yang dapat menjadi indikator suatu kondisi yang terekspos yang dapat mengintroduksi organisme hazardous (berbahaya) dan menyebabkan proliferasi spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E. coli tipe I, coliform dan fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak higinis, termasuk keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme indikator ini sering digunakan sebagai indaktor kualitas mikrobiologi pada pangan dan air (Nurtjahyani, 2011).

Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang, bergerak dengan flagel, dan bersifat aerob. Bakteri ini banyak menginfeksi penderita di rumah sakit dengan predisposisi tertentu. Banyak faktor-faktor penentu patogenitas dari bakteri ini diantaranya yang berhubungan dengan struktur sel seperti pili (fimbriae) dan bahan yang dikeluarkan seperti exotoxin A dan protease. Bakteri P. aeruginosa dapat melaku-kan adhesi dan membentuk koloni pada bermacam–macam tipe sel yaitu epitel sel buccal, paru, ginjal dan sel endothel. Adhesin bakteri Gram negatif diperankan oleh suatu protein yang mampu mengaglutinasi eritrosit mamalia protein ini disebut dengan protein hemaglutinin, salah satu contoh adalah protein adhesin Klebsiella pneumoniae yang diperankan oleh protein hemaglutinin 29 kDa (Hidayati, 2010).

Pada tumbuhan sudah dikenal mengandung berbagai golongan senyawa kimia tertentusebagai bahan obat yang mempunyai efek fisiologis terhadap organisme lain. Senyawa alam hasilisolasi dari tumbuhan juga digunakan sebagai bahan asal untuk sintesis bahan-bahan biologis aktif dansebagai senyawa untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus (Kurniati, 2011).

Staphylococcus aureus adalah bakteri yang berpotensi untuk menyebabkan keracunan pangan pada manusia. Berdasarkan virulensinya, dapat dibedakan menjadi beberapa tipe dan virulensinya ditentukan oleh substansi yang diproduksi oleh bakteri tersebut seperti hemolisin, koagulasi plasma dan enterotoksin. Kemampuannya untuk menginfeksi sel inang ditentukan oleh virulensi bakteri dan faktor penentu virulensinya tersebut yang terdapat pada permukaan sel bakteri, seperti sifat hidrofobisitas, substansi hemaglutinin, keberadaan kapsul dan fimbria. Hemaglutinin berfungsi sebagai adesin untuk pelekatan bakteri pada sel epitel hospes. Sifat hidrofobisitas pada permukaan bakteri bertanggung jawab terhadap fase pelekatan awal dari infeksi (Khusnan, dkk., 2008).

Bakteri S. aureus merupakan bakteri flora normal pada kulit dan selaput lendir pada manusia.Staphylococcus dapat menjadi penyebab infeksi baik pada manusia maupun pada hewan. Bakteri S.aureus dapat mengakibatkan infeksi kerusakan pada kulit atau luka pada organ tubuh jika bakteri inimengalahkan mekanisme pertahanan tubuh. Saat bakteri masuk ke peredaran darah bakteri dapatmenyebar ke organ lain dan meyebabkan infeksi (Kurniati, 2011).

B. URAIAN BAHAN
1. Agar (Ditjen POM, 1979: 74)
Nama resmi : Agar
Nama lain : Agar-agar
Pemerian : Tidak berbau atau bau lemah, berasa musilago pada lidah
Kelarutan : Tidak larut dalam air dingin, dan larut dalam air mendidih
Kegunaan : Sebagai bahan pemadat medium
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik

2. Pepton (Ditjen POM, 1979 : 721)
Nama resmi : Pepton
Nama lain : Pepton
Pemerian : Serbuk, kuning kemerahan sampai coklat, bau khas tidak busuk
Kelarutan :Larut dalam air, memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang bereaksi asam

3. Ekstrak Beef (Ditjen POM, 1995 : 1152)
Nama resmi : Beef Extract
Nama lain : Kaldu nabati, kaldu hewani, ekstrak beef
Pemerian : Berbau dan berasa pada lidah. Kaldu daging sapi konsentrat diperoleh dengan mengekstraksi daging sapi segar tanpa lemak, dengan cara merebus dalam air dan menguapkan kaldu pada suhu rendah dalam hampa udara sampai terbentuk residu kental berbentuk pasta. Massa berbentuk pasta, berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua, bau dan rasa seperti daging, sedikit asam.
Kelarutan : Larut dalam air dingin.
Kegunaan :Sumber protein untuk pertumbuhan mikroorganisme
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
Produksi : Difco TM, Bocton, Dickinson and company, Sparks, MD 21152 USA

4. Natrium Klorida (Ditjen POM, 1979 : 403)
Nama Resmi : Natrii Chloridum
Nama Lain : Natrium klorida
RM/BM : NaCl / 58,44
Rumus Struktur : Na Cl
Pemerian : Hablur putih, berbentuk kubus atau berbentuk prisma, tidak berbau, rasa asin, mantap diudara.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai sampel

5. Aqua Pro Injection (Ditjen POM, 1979 : 97)
Nama Resmi : Aqua Pro Injection
Sinonim : Aqua untuk injeksi
Pemerian : Keasaman, kebasaan, ammonium, besi, tembaga, timbal, kalsium klorida, nitrat, sulfat, zat teroksidasi menurut syarat yang tertera pada aqua destillata.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut untuk injeksi (zat tambahan)

6. Ekstrak Yeast (Ditjen POM, 1979 :671).
Nama resmi : Yeast Extract
Sinonim : Sari ragi, ekstrak ragi
Pemerian : Serbuk; kuning kemerahan sampai coklat, bau khas tidak busuk
Kelarutan : Larut dalam air, membentuk larutan kuning sampai coklat, bereaksi asam lemah

C. URAIAN TANAMAN
1. Klasifikasi tanaman
a. Brotowali ( Tinospora Crispa L)
Regnum : Plantae 
Divisi : Spermatophyta
Class : Ordo
Famili : Menisoermaceae
Genus : Tinospora
Species : Tinospora Crispa L.

b. Daun Kaki kuda ( Centellae Herba )
Regnum : Plantae
Divisi : Angiospermae
Class : Dicotiledoneae
Ordo : Umbelliferae
Famili : Apiaceae
Genus : Centella
Spesies : Centella asiatica

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L.

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Spesies : Elephantopus scaber L.

d. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana P. Mill.

e. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Alpini
Spesies : Langualis Rizoma

f. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber aromaticum Val

2. Deskripsi Tanaman 
a. Brotowali (Tinospora Crispa L)
Perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 cm, berkutil – kutil yang rapat, pepagannya mudah tergelupas. Daun bertangkai, panjang 16 cm, bentuknya seperti jantung atau agak membundar terlur tetapi berujung runcing. Lebar 6 cm sampai 13 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1 sampai 3 bunga bersama – sama, menggantung panjang 7 cm samapi 25 cm. Bunga (jantan) bergagang pendek 3 mm sampai 4 mm, kelopak 6, hijau, panjang lebih kurang 3,5 mm, daun mahkota 3, panjang lebih kurang 8 mm (Ditjen POM, 1989).

b. Daun Kaki Kuda (Centellae Herba)
Pegagan berdaun tunggal, berbentuk ginjal, panjang tangkai daun antara 5 cm – 15 cm. Tepi daun bergerigi atau beringgit, penampang 1 cm – 7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2 – 10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan berbentuk payung, tunggal atau 3 – 5 bersama-sama keluar dari ketiak daun, panjang tangkai bunga 5 mm – 50 cm. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit. Panjang buah antara 2 mm – 2,5 mm (Ditjen POM, 1989). 

c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5) dengan susunan berhadapan, tumbuh menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum) berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan (Ditjen POM, 1989)

d. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek; bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35 x 2-7cm (Ditjen POM, 2009).

Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi lima bagian dan mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam 13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar jam 16 bunga telah tertutup kembali. Bunganya berwarna ungu dan tumbuh dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat (Ditjen POM, 2009).

e. Daun Alpukat (Persea americana P. Mill.)
Tanaman ini berbentuk pohon, dengan ketinggian pohon dapat mencapai 3–10 m. Daun banyak menumpuk di ujung ranting, bentuk oval sampai lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 3 cm. Bunga tersusun malai, berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, warna hijau atau hijau kekuningan, berbintik ungu. Biji satu berbentuk bola berwarna coklat (Ditjen POM, 1989)

f. Lengkuas (Langualis Rizoma)
Lengkuas adalah terna tegak yang tingginya 2 m atau lebih. Batangnya yang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua. Seluruh batangnya ditutupi pelepah daun. Batangnya ini bertipe batang semu. Daunnya tunggal, bertangkai pendek, berbentuk daun lanset memanjang, ujungnya runcing, pangkalnya tumpul, dan tepinya rata. Ukurannya daunnya adalah: 25-50 cm × 7-15 cm. Pelepah daunnya berukuran 15-30 cm, beralur, dan berwarna hijau (Ditjen POM, 1989). 

Umbinya berbau harum, ada yang putih, juga ada yang merah. Menurut ukurannya, ada yang besar juga ada yang kecil. Karenanya, dikenal 3 kultivar yang dibedakan berdasarkan warna dan ukuran rimpangnya. Rimpangnya ini merayap, berdaging, kulitnya mengkilap, beraroma khas, ia berserat kasar, dan pedas jika tua. Untuk mendapatkan rimpang muda yang belum banyak seratnya, panen dilakukan pada saat tanaman berusia 2,5-4 bulan( Ditjen POM, 1989).

g. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)
Batangnya berupa kumpulan pelepah daun yang berseling, di atas tanah, beberapa batang berkoloni, hijau, rimpang; merayap, berdaging, gemuk, aromatik. Daun: tunggal, berpelepah, duduk berseling, pelepah membentuk batang semu, helaian; bentuk 1 lanset sempit, terlebar di tengah atau di atas tengah, panjang 3-7 kali lebar, pangkal runcing atau tumpul, ujung sangat runcing atau meruncing, berambut di permukaan atas, tulang daun atau di pangkal. Bunga tersusun majemuk, bentuk bulat telur, muncul di atas tanah, tegak, berambut halus, ramping tebal (Ditjen POM, 1989).

D. URAIAN MIKROBA UJI
1. Pseudomonas aeruginosa
a. Klasifikasi
Kingdom : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Pseudomonadales
Famili : Pseudomonadaceae
Genus : Pseudomonas
Spesies : Pseudomonas aeruginosa

b. Morfologi
Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri gram negatifaerob obligat, berkapsul, mempunyai flagella polar sehingga bakteri ini bersifat motil, berukuran sekitar 0,5-1,0 µm. Bakteri aerob ini mensekresikan beberapa jenis pigmen, di antaranya pyocyanin (hijau-biru), fluorescein (kuning-hijau) dan pyorubin (merah-cokelat). Bakteri ini dapat tumbuh tanpa oksigen jika tersedia NO3 sebagai akseptor elektron. Pseudomonas aeruginosa mampu tumbuh di lingkungan yang mengandung oli dan bahan bakar minyak lainnya. Suhu optimum untuk pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa adalah 42oC. Pseudomonas aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena kebutuhan nutrisinya sangat sederhana.

2. Staphylococcus aureus
a. Klasifikasi
Kingdom : Monera
Divisio : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphilococcus
Species : Staphilococcus aureus

b. Morfologi
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul. Berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur . Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari berat kering dinding selnya. Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen dari Staphylococcus. Asam teikoat mengandung aglutinogen dan N-asetilglukosamin.

BAB III
METODE KERJA
A. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • a. Autoklaf
  • b. Batang pengaduk
  • c. Botol Vial
  • d. Pinset
  • e. Cawan petri 
  • f. Gelas kimia
  • g. Inkubator
  • h. Labu Erlenmeyer 
  • i. Ose bulat
  • j. Ose lurus
  • k. Rak tabung
  • l. Spatula
  • m. Spoit 1 ml
  • n. Spoit 10 ml
  • o. Tabung reaksi
  • p. Timbangan analitik

2. Bahan 
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • a. Alkohol
  • b. Aluminium voil
  • c. Aquades
  • d. Ekstrak tanaman
  • e. Kapas 
  • f. Kertas bekas
  • g. NA (Nutrient Agar)
  • h. Paper disk
  • i. Sampel bakteri PA (Pseudomonas Aeruginosa)
  • j. Sampel bakteri SA (Staphylococcus aerus)
  • k. Tisu

B. CARA KERJA
1. Uji Skrinning
  • a. Disiapkan alat dan bahan.
  • b. Ditimbang ekstrak tanaman sebanyak 0,1 gram, 0,2 gram dan 0,3 gram
  • c. Dimasukkan ke dalam gelas kimia
  • d. Dilarutkan dengan Aquades sebanyak 1 mL.
  • e. Dimasukkan kedalam cawan petri yang telah berisi 10 mL media Nutrient Agar (NA)
  • f. Dihomogenkan
  • g. Ditunggu hingga media Nutrient Agar (NA) memadat
  • h. Ditandai menjadi dua bagian pada cawan petri untuk menanamkan bakteri Pseudomonas aeruginosadan Staphylococcus aureus.
  • i. Diambil biakan bakteri dengan menggunakan jarum inokulum (ose).
  • j. Digoreskan suspensi bakteri pada media Nutrient Agar (NA) secara zig-zag sesuai dengan bagian yang telah diberi tanda.
  • k. Diinkubasikan pada incubator dengan suhu 370C selama 1 x 24 jam.
  • l. Diamati.

2. Difusi Agar
  • a. Disiapkan alat dan bahan.
  • b. Diambil media Nutrient Agar (NA) sebanyak 10 mL.
  • c. Dimasukkan ke dalam cawan petri.
  • d. Diambil suspensi biakan bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus sebanyak 2 mL.
  • e. Dimasukkan kedalam cawan petrisuspensi biakan bakteri Staphylococcus aureus.
  • f. Dihomogenkan.
  • g. Ditandai menjadi tiga bagian tiap cawan petri.
  • h. Diambil paper disk beberapa lembar.
  • i. Dimasukkan masing-masing kedalam larutan ekstrak tanaman dengan konsentrasi 0,1%, 0,2% dan 0,3%.
  • j. Ditempelkan paper disk dalam cawan petri sesuai dengan konsentrasi yang telah ditandai.
  • k. Diinkubasi pada incubator dengan suhu 370C selama 1 x 24 jam.
  • l. Diamati.

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN
a) Gambar Pengamatan
LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM
LAPORAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI BAHAN ALAM

B. PEMBAHASAN
Antimikroba ialah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia. Suatu zat antimikroba yang ideal memiliki toksisitas selektif. Istilah ini berarti bahwa suatu obat berbahaya bagi parasit tetapi tidak membahayakan inang. Seringkali, toksisitas selektif lebih bersifat relatif dan bukan absolut, ini berarti bahwa suatu obat yang pada konsentrasi tertentu dapat ditoleransi oleh inang, dapat merusak parasit.

Pada percobaan ini akan dilakukan uji aktivitas antimikroba terhadap beberapa biakan bakteri dengan menggunakan ekstrak tanaman dari bahan alam. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui uji aktivitas antimikroba melalui uji skrinning dan uji kadar hambat dengan menggunakan metode difusi agar. Antimikroba yang digunakan berasal dari bahan alam, yaitu ekstrak tapak liman, brotowali, kaki kuda, lempuyang wangi, lengkuas, advokad dan kencur. 

Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak tanaman terutama golongan flavonoid, fenol, terpenoid, dan minyak atsiri umumnya dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen yang merugikan kehidupan manusia dan hewan.Dalam uji aktivitas antimikroba dikenal beberapa metode, yaitu metode Dilusi (pengenceran), metode Difusi dengan menggunakan silinder pipih, difusi dengan mangkuk pipih, difusi dengan kertas saring atau Kirby-Bauer, dan metode KLT-Bioautografi. 

Pada percobaan ini dilakukan Uji skrinning dan Difusi Agar. Uji skrinning dilakukan dengan cara menimbang ekstrak sebanyak 0,1 yang kemudian dilarutkan dalam Aquades sebanyak 10 mL. Kemudian dimasukkan kedalam medium NA, digunakan medium NA karena yang akan ditumbuhkan pada cawan petri adalah bakteri. Bakteri yang digunakan adalah bakteri patogen yaitu Pseudomonas aeruginosadan Staphylococcus aureus. 

Pada cawan petri dilakukan pembagian menjadi dua bagian, agar dapat diketahui bagaimana aktivitas antimikroba tersebut terhadap masing-masing bakteri tersebut. Kemudian diinkubasikan pada inkubator dengan suhu 370C selama 1 x 24 jam. Dalam tiap tahap perlakuan, serilisasi alat dan bahan serta lingkungan sekitar perlakuan selalu diperhatikan, agar tidak terjadi kontaminasi dari lingkungan sekitar berupa mikroba kontaminan. 

Uji skrinning dimaksudkan untuk mengetahui ekstrak tanaman mana yang mempunyai aktivitas antibakteri. Hasil yang di dapatkan berupa, dari 7 tanaman yang diuji hanya 4 ekstrak tanaman saja yang memiliki aktivitas antibakteri, yakni pada tanaman alpukat, tapak liman, lempuyang wangi dan tapak kuda.Uji aktifitas digunakan metode difusi agar karena metode difusi agar karena akan ditentukan konsentrasi optimal dari antimikroba terhadap bakteri patogen tersebut dengan melihat zona hambatnya. Metode ini dianggap metode yang paling sederhana dan efisien dilakukan dalam percobaandi laboratorium dibanding metode lainnya. 

Uji aktivitas ini dilakukan dengan cara menyiapkan 3 cawan petri yang masing-masing telah ditandai menjadi dua bagian. Cawan petri tersebut diisikan medium NA sebanyak 10 mL dan telah berisi 1 suspensi biakan bakteriStaphylococcus aureus sebanyak 0,2 mL. Ekstrak tersebut kemudian dibuat menjadi 3 konsentrasi yaitu 0,1%;0,2% dan 0,3% dalam 10 mL Digunakannya variasi konsetrasi dengan maksud mengetahui, pada konsentrasi mana yang efektif untuk aktivitas antibakteri.

Digunakan paper disk untuk dapat mengukur zona hambat dari ekstrak jahe tersebut. Paper Disk merupakan bahan yang terbuat dari kertas saring dan dicelupkan ke dalam cairan antimikroba yang sebelumnya telah disterilisasi dengan oven. Masing-masing cawan petri tersebut kemudian diinkubasikan kedalam inkubator pada suhu 370C selama 1 x 24 jam.

Setelah diinkubasi, ditemukan zona hambat pada cawan petri yang berisi Staphylococcus aureus dengan ekstrak daaun alpukat ukuran zona hambat pada konsentrasi 0,1%cm adalah 0,56 cm, konsentrasi 0,2% tidak ditemukan zona hambat yang terbentuk dan pada konsentrasi 0,3% adalah 0,76 cm. Hal ini menunjukkan hanya pada konsetrasi 0,1% dan 0,3% saja yang terbentuk zona hambat, berarti pada konsentrasi tersebut yang efektif untuk menghambat aktivitas mikroba (aktivitas antimikroba).

Ekstrak tanaman lempuyang wangi pada konsentrasi 0,1%tidak ditemukan zona hambat, konsentrasi 0,2% adalah 0,4 cm dan pada konsentrasi 0,3% adalah 0,6 cm. Hasil menunjukkan bahwa pada kosentrasi 0,1% belum bersifat antibakteri sedangkan pada konsentrasi 0,2% dan 0,3% menunjukkan semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula zona hambat yang terbentuk.

Ekstrak tapak liman tidak ditemukan aktivitas antibakteri pada konsentrasi 0,1%; 0,2% dan 0,3%. Hal ini menunjukkan bahwa tapak liman mungkin akan menunjukkan aktivitas antibakteri pada konsentarsi yang lebih besar lagi. Karena berdasarkan literatur dan uji skrining yang telah dilakukan tapak liman memiliki aktivitas antibakteri.

Ekstrak tanaman tapak kuda pada konsentrasi 0,1%cm adalah 0,86 cm, konsentrasi 0,2% adalah 0,7 cm dan pada konsentrasi 0,3% adalah 0,66 cm. Hal ini menunjukkan hanya pada konsetrasi 0,1% yang terbentuk zona hambat paling besar.Berarti pada konsentrasi tersebut yang efektif dan paling baik untuk menghambat aktivitas mikroba (aktivitas antimikroba), karena untuk ekstrak yang baik digunakan adalah semakin besar zona hambat yang terbentuk namun memiliki konsentrasi yang kecil, sehingga baik digunakan untuk obat.

Senyawa-senyawa metabolit sekunder golongan fenol, flavanoid, terpenoid dan minyak atsiri yang terdapat pada ekstrak tanaman diduga merupakan golongan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa senyawa fenol, terpenoid dan flavonoid merupakan senyawa produk metabolisme sekunder tumbuhan yang aktif menghambat pertumbuhan bakteri.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini yaitu ditemukannya diameter zona hambat pada pada cawan petri yang berisi Staphilococcus aureus pada ekstrak, lempuyang wangi, tapak kuda, dan daun advokat . Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak tanaman yang digunakan mampu menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Akan tetapi zona hambatana tidak terbentuk pada cawan petri yang berisi bakteri Staphilococcus aureus pada ekstrak lempuyang wangi. 

B. SARAN
Sebaiknya dalam pengerjaan praktikum ini harus dilakukan secara aseptik dan dengan ketelitian tinggi agar tidak ada mikroorganisme yang tidak diharapkan tumbuh.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.

Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.

Hidayati, D.Y.N., 2010, Identifikasi Molekul Adhesi Pili Pseudomonas aeruginosa pada Human Umbilical Vein Endothelial Cells (HUVECs) Culture, J.Exp.Life.Sci.,Volume 1 Nomor 1.

Khusnan, Siti I.O.S. dan Soegiyono, 2008, Isolasi Identifikasi dan Karakterisasi Fenotip Bakteri Staphylococcus aureus Dari Penyembelihan Dan Karkas Ayam Potong, Jurnal Veteriner, Volume 9 Nomor 1.

Kurniati, Melki, dan Wike A.EP., 2011, Uji Antibakteri Ekstrak Gracilara sp (Rumput Laut) Terhadap Bakteri E. coli dan S. Aureus, Indallaya, Indonesia.

Nurtjahyani, S.D., 2011, Peran Mikroorganisme Dalam Perkembangan Mikrobiologi Pangan, Prospektus, Volume IX Nomor 1.

Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta.