LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK - ElrinAlria
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA 
PERCOBAAN IV

A. TUJUAN 
Tujuan yang ingin dicapai dalam percobaan partisi ekstrak ini adalah: 
  1. Untuk mengetahui prinsip dasar uji kandungan kimia ekstrak 
  2. Untuk melakukan identifikasi kandungan kimia dalam suatu ekstrak bahan alam 

B. LANDASAN TEORI
Banyak jenis tanaman yang dapat tumbuh di Indonesia yang sebagian besar dapat digunakan sebagai sumber bahan obat alam dan telah banyak digunakan oleh masyarakat secara turun temurun untuk keperluan pengobatan guna mengatasi masalah kesehatan. Obat tradisional tersebut perlu diteliti dan dikembangkan sehingga dapat bermanfaat secara optimal untuk peningkatan kesehatan masyarakat[1]. 

Nilam (Pogestemon cablin Benth) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri. Tanaman nilam berupa semak dan dapat tumbuh diberbagai jenis tanah (andosol, latosol, regosol, padsolik dan grumasol) dengan tekstur lempung, liat berpasir dengan drainase yang baik dan pH tanah 5-7. Tanaman ni membutuhkan urah hujan atau ketersediaan air yang cukup dengan suhu 24-28°C[2].

Minyak atsiri pada tanaman nilam terdapat pada bagian akar, batang, ranting maupun daun tanaman. Umumnya, kandungan minyak atsiri pada bagian akar, batang dan ranting tanaman nilam lebih kecil (0,4-0,5%) dibandingkan dengan kandungan minyak atsiri pada bagian daun (2,5-5,0%). Minyak nilam biasanya digunakan sebagai fiksasif (zat pengikat) dalam industri parfum dan merupakan salah sau campuran pembuatan produk kosmetika seperti sabun, pasta gigi, shampo, lotion, deodoran dan tonik rambut. Minyak nilam juga bermanfaat dalam pembuatan obat antiradang, antifungi, antiserangga, afrodisiak, antiinflamasi, antidepresi, antiflogistik dan dekongestan. Minyak nilam juga terbukti dapat mencerahkan kulit dan mengobati jerawat[3]. 

Uji fitokimia merupakan suatu pemeriksaan golongan senyawa kimia yang terdapat dalam suatu simplisia tumbuhan. Uji tersebut dapat digunakan untuk membuktikan ada tidaknya senyawa kimia tertentu dalam tumbuhan untuk dapat dikaitkan dengan aktivitas bioliginya sehingga dapat membantu langkah-langkah fitofarmakologi[4]. 

Kemampuan yang dimiliki suatu tanaman didukung dari metabolit sekunder yang terkandung di dalamnya. Faktor iklim yang di dalamnya termasuk suhu udara, sinar matahari, kelembaban udara dan angin serta keadaan tanah sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan tanaman hingga variasi metabolit sekunder yang terkandung[5]. Penentuan kandungan metabolit sekunder secara kualitatif dilakukan melalui skrining fitokimia. Metabolit sekunder yang antioksidatif adalah alkaloid, flavonoid, senyawa fenolik, saponin, steroid dan triterpenoid[6].

Senyawa metabolit sekunder mempunyai lebih dari satu gugus fungsi sehingga tumbuhan tersebut menunjukkan banyak kegunaan dan bioaktivitas karena dapat berinteraksi dengan lebih dari satu molekul target. Salah satu senyawa metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas biologis yang sangat penting adalah senyawa alkaloid. Alkaloid adalah salah satu golongan senyawa organik yang banyak ditemukan di alam. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang bersifat basa dan sebagian besar ataom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik[7]. 

Alkaloid merupakan salah satu metabolit sekunder yang banyak ditemukan di alam dan mempunyai keaktifan fisiologis tertentu. Alkaloid ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan misalnya kuinin, morfin dan striknin[8]. Pada skrining alkaloid prinsipnya yaitu reaksi pengendapan yang terjadi karena adanya penggantian ligan. Atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas pada alkaloid dapat mengganti ion iod dalam pereaksi dragendroff dan pereaksi mayer. Pada pengujian ini tidak terbentuk endapan jingga setelah penambahan pereaksi dragendroff dan tidak terbentuk endapan kuning setelah penambahan pereaksi mayer. Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tanaman, tetapi sering kali kadar alkaloid dalam jaringan tumbuhan kurang dari 1%. Hal ini yang dapat menyebabkan uji skrining alkaloid memberikan hasil yang negatif[9]. 

Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik dengan struktur kimia C6-C3-C6 Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin aromatik A, satu cincin aromatik B, dan cincin tengah berupa heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin ini dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya. Sistem penomoran digunakan untuk membedakan posisi karbon di sekitar molekulnya Berbagai jenis senyawa, kandungan dan aktivitas antioksidatif flavonoid sebagai salah satu kelompok antioksidan alami yang terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah, telah banyak dipublikasikan. Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam, berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon[10]. 

Saponin adalah senyawa polar yang keberadaanya dalam tumbuhan dapat diekstraksi dengan pelarut semi polar dan polar[11]. Saponin merupakan bentuk glikosida dari sapogenin sehingga akan bersifat polar. Saponin adalah senyawa yang bersifat aktif permukaan dan dapat menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Timbulnya busa pada uji saponin menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan untuk membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya. Senyawa saponin tersebut akan cenderung tertarik oleh pelarut yang bersifat semi polar seperti methanol[12]. 

Senyawa tannin adalah senyawa astringent yang memiliki rasa pahit dari gugus polifenolnya yang dapat mengikat dan mengendapkan atau menyusutkan protein. Sifat Kimia Tannin diantarannya tannin memiliki sifat umum, yaitu memiliki gugus phenol dan bersifat koloid, sehingga jika terlarut dalam air bersifat koloid dan asam lemah. Umumnya tannin dapat larut dalam air. Kelarutannya besar dan akan meningkat apabila dilarutkan dalam air panas. Begitu juga tannin akan larut dalam pelarut organik seperti metanol, etanol, aseton dan pelarut organik lainnya. Tannin akan terurai menjadi pyrogallol, pyrocatechol dan phloroglucinol bila dipanaskan sampai suhu 210oF-215oF (98,89oC-101,67oC). Tannin dapat dihidrolisa oleh asam, basa, dan enzim. Ikatan kimia yang terjadi antara tannin-protein atau polimer-polimer lainnya terdiri dari ikatan hidrogen, ikatan ionik, dan ikatan kovalen. Sifat fisika tannin, umumnya tannin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah dioksidasi menjadi suatu polimer, sebagian besar tannin bentuknya amorf dan tidak mempunyai titik leleh. Tannin berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat terang, tergantung dari sumber tannin tersebut. Tannin berbentuk serbuk atau berlapis-lapis seperti kulit kerang, berbau khas dan mempunyai rasa sepat (astrigent). Warna tannin akan menjadi gelap apabila terkena cahaya langsung atau dibiarkan di udara terbuka. Tannin mempunyai sifat atau daya bakterostatik, fungistatik dan merupakan racun[13]. 

Minyak atsiri tersusun atas senyawa triterpenoid. Triterpenoid tersusun dari rantai panjang hidrokarbon C yang menyebabkan sifatnya non polar sehingga mudah terekstrak dalam pelarut yang bersifat non polar. Ada beberapa senyawa triterpenoid memiliki struktur siklik yang berupa alkohol. Senyawa triterpenoid juga dapat terikat dengan gugus gula sehingga akan dapat tertarik oleh pelarut yang bersifat semi polar bahkan pelarut polar[14]. 

C. METODE KERJA 
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah : 
  • Pipet Tetes 
  • Tabung Reaksi
  • Rak Tabung 

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah : 
  • Ekstrak 
  • Fraksi etil asetat 
  • HCL 
  • H2O 
  • FeCL3 0,5 M 
  • Kloroform 
  • Pereaksi Dragendrof 
  • Pereaksi Lieberman-Buchard 

3. Uraian Bahan 
a. N-heksan (Ditjen POM, 1979: 53) 
Nama : n-heksana 
Berat molekul : 86.18 g/mol 
Rumus molekul : C6H14 
Pemerian : Cairan tak berwarna, dapat dibakar 
Kegunaan : Pelarut organik 

b. Etil asetat (Ditjen POM, 1979: 41) 
Nama resmi : Acidum aceticum 
Nama lain : Cuka 
Berat molekul : 60,05 g/mol 
Rumus molekul : C2H4O2 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam 
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat 
Khasiat : zat tambahan 

c. Etanol (Ditjen POM, 1979: 56) 
Nama Resmi : Etil Alkohol / etanol 
Nama Lain : Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol absolut 
Berat molekul : 46,07 g/mol 
Rumus Molekul : C2H5OH 
Pemerian : Cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 
Kegunaan : Sebagai pelarut. 

d. Akuades (Ditjen POM, 1979 : 96) 
Nama Resmi : Aqua destilata. 
Nama Lain : Air suling 
Rumus Molekul : H2O 
Berat molekul : 18 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. 
Kegunaan : Sebagai pelarut 

4. Uraian Tanaman
1. Klasifikasi 
Kingdom : Plantae 
Divisio : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) 
Sub Divisio : Spermatophyta (Menghasilkan biji) 
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) 
Subkelas : Asteridae 
Ordo : Lamiales 
Famili : Lamiaceae
Genus : Pogostemon
Species : Pogostemon cablin Benth. 

2. Morfologi 
Tanaman nilam adalah tanaman yang memiliki akar serabut yang wangi, memiliki daun halus beludru, dan agar membulat lonjong seperti jantung serta berwarna pucat. Bagian bawah dauan dan ranting berbulu halus, berbabatang kayu dengan diameter 10-20 mm membentuk segi empat, serta sebagian besar daun yang melekat pada ranting hampir selalu berpasangan satu sama lain. Jumlah cabang yang banyak dan bertingkat mengelilingin batang antara 3-5 cabang per tingkat. 

3. Kandungan Kimia 
Kandungan yang terdapat di dalam minyak nilam meliputi : patchouli alkohol, patchouli camphor, eugenol, benzaldehyde, cinnamic aldehyde, kariofilen, α-patchaolena, dan bulnessen (Santoso, 1990). 

5. Prosedur kerja
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK


D. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK


E. PEMBAHASAN
Percobaan kali ini, kami melakukan uji kandungan metabolit sekunder dari ekstrak daun nilam (Pogestemon cablia Benth). Minyak nilam biasanya digunakan sebagai fiksasif (zat pengikat) dalam industri parfum dan merupakan salah sau campuran pembuatan produk kosmetika seperti sabun, pasta gigi, shampo, lotion, deodoran dan tonik rambut. Minyak nilam juga bermanfaat dalam pembuatan obat antiradang, antifungi, antiserangga, afrodisiak, antiinflamasi, antidepresi, antiflogistik dan dekongestan. Minyak nilam juga terbukti dapat mencerahkan kulit dan mengobati jerawat. Metabolit sekunder adalah golongan senyawa yang terkandung dalam tubuh organisme yang terbentuk melalui proses metabolisme sekunder yang disintesis dari banyak senyawa metabolisme primer, seperti asam amino, asetil koenzim A, asam mevalonat dan senyawa antara dari jalur shikimat. 

Fungsi senyawa metabolit sekunder adalah sebagai pertahanan tubuh bagi tumbuhan dari serangan hama dan patogen penyebab penyakit, sebagai atraktan hewan polinator dan sebagai hormon pengatur pertumbuhan. Bagi manusia, senyawa metabolit sekunder digunakan sebagai bahan obat-obatan, pewangi, fragran pada makanan dan minuman serta senyawa yang digunakan dalam industri kosmetika. Pada praktikum metabolit sekunder kali ini dilakukan pengujian metabolit sekunder seperti uji Alkaloid, Flavonoid, Tanin, Saponin, dan terpenoid.

Uji pertama yang dilakukan adalah uji flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik dengan struktur kimia C6-C3-C6 Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin aromatik A, satu cincin aromatik B, dan cincin tengah berupa heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin ini dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya. Sistem penomoran digunakan untuk membedakan posisi karbon di sekitar molekulnya Berbagai jenis senyawa, kandungan dan aktivitas antioksidatif flavonoid sebagai salah satu kelompok antioksidan alami yang terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah, telah banyak dipublikasikan. Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam, berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon.

Identifikasi senyawa flavonoid dilakukan dalam suatu sampel hasil fraksinasi yakni fraksi etil asetat dan fraksi yang tidak larut. Fraksi yang diuji tersebut diambil sebanyak 2 ml kemudian ditambahkan 2 ml HCL. Hasil yang diperoleh dari uji flavonoid menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dan fraksi yang tidak larut positif (+) mengandung senyawa flavonid. 

Uji kedua yang dilakukan adalah uji tannin. Senyawa tannin adalah senyawa astringent yang memiliki rasa pahit dari gugus polifenolnya yang dapat mengikat dan mengendapkan atau menyusutkan protein. Sifat Kimia Tannin diantarannya tannin memiliki sifat umum, yaitu memiliki gugus phenol dan bersifat koloid, sehingga jika terlarut dalam air bersifat koloid dan asam lemah. Umumnya tannin dapat larut dalam air. Kelarutannya besar dan akan meningkat apabila dilarutkan dalam air panas. Begitu juga tannin akan larut dalam pelarut organik seperti metanol, etanol, aseton dan pelarut organik lainnya. Tannin akan terurai menjadi pyrogallol, pyrocatechol dan phloroglucinol bila dipanaskan sampai suhu 210F-215F (98,89C-101,67C). Tannin dapat dihidrolisa oleh asam, basa, dan enzim. Ikatan kimia yang terjadi antara tannin-protein atau polimer-polimer lainnya terdiri dari ikatan hidrogen, ikatan ionik, dan ikatan kovalen. Sifat fisika tannin, umumnya tannin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah dioksidasi menjadi suatu polimer, sebagian besar tannin bentuknya amorf dan tidak mempunyai titik leleh. Tannin berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat terang, tergantung dari sumber tannin tersebut. Tannin berbentuk serbuk atau berlapis-lapis seperti kulit kerang, berbau khas dan mempunyai rasa sepat (astrigent). Warna tannin akan menjadi gelap apabila terkena cahaya langsung atau dibiarkan di udara terbuka. Tannin mempunyai sifat atau daya bakterostatik, fungistatik dan merupakan racun. 

Uji tanin merupakan uji terhadap adanya tanin pada tanaman. Sebanyak 1 ml ekstrak tanaman nilam ditambahkan FeCl3. Terbentuknya warna biru tua atau hitam kehijauan menunjukkan terdapatnya tannin salam tanaman tersebut. Selain itu, uji tannin dapat juga dilakukan dengan penambahan larutan gelatin. Terbentuknya endapan putih menunjukan bahwa tanaman tersebut positif mengandung tannin. Hasil yang diperoleh dari pengujian tanin yang terdapat pada fraksi etil asetat dan fraksi yang tidak larut menunjukkan bahwa tanaman nilam positif (+) mengandung senyawa tanin, yang ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi hijau kehitaman. Reaksi antara FeCl3 dan Senyawa Tanin yang menghasilkan warna hijau kehitaman

Uji ketiga yang dilakukan adalah uji saponin. Saponin adalah senyawa polar yang keberadaanya dalam tumbuhan dapat diekstraksi dengan pelarut semi polar dan polar. Saponin merupakan bentuk glikosida dari sapogenin sehingga akan bersifat polar. Saponin adalah senyawa yang bersifat aktif permukaan dan dapat menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Timbulnya busa pada uji saponin menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan untuk membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya. Senyawa saponin tersebut akan cenderung tertarik oleh pelarut yang bersifat semi polar seperti methanol.

Sampel yang digunakan dalam uji identifikasi saponin adalah ekstrak daun nilam yang telah difraksinasi menggunakan etil asetat dan n-heksan, yang diambil 10 ml dan ditambahkan H2O sebanyak 5 ml. Sampel yang positif mengandung saponin akan ditunjukkan dengan adanya pembentukan busa stabil selama 10 menit setelah dilakukan pengocokan selama 5 menit serta akan menghasilkan busa dengan ketinggian 1–3 cm. Hasil yang diperoleh dari pengujian senyawa tanin menunjukkan bahwa ekstrak nilam dalam fraksi etil asetat dan fraksi yang tidak larut menunjukkan bahwa tanaman nilam mengandung senyawa saponin, yang ditandai dengan asanya busa yang stabil selama 10 menit. 

Uji keempat yang dilakukan adalah uji alkaloid. Alkaloid merupakan salah satu metabolit sekunder yang banyak ditemukan di alam dan mempunyai keaktifan fisiologis tertentu. Alkaloid ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan misalnya kuinin, morfin dan striknin. Pada skrining alkaloid prinsipnya yaitu reaksi pengendapan yang terjadi karena adanya penggantian ligan. Atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas pada alkaloid dapat mengganti ion iod dalam pereaksi dragendroff dan pereaksi mayer. Pada pengujian ini tidak terbentuk endapan jingga setelah penambahan pereaksi dragendroff dan tidak terbentuk endapan kuning setelah penambahan pereaksi mayer. 

Uji alkaloid dilakukan dengan memfraksinasi hasil ekstrak daun nilam yang ditambahkan HCl 2% sebanyak 0,5 ml kemudian diuji dengan pereaksi Dragendorff. Hasil uji dinyatakan positif bila terbentuk endapan merah hingga jingga dengan pereaksi Dragendorff. Hasil uji alkaloid yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan pereaksi Dragendorff, positif (+) mengandung senyawa alkaloid.

Uji kelima yang dilakukan adalah uji terpenoid. Terpenoid merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa terpen. Terpen merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan sebagian kelompok hewan. Rumus molekul terpen adalah (C5H8)n.

Pengujian terpenoid dilakukan untuk mengetahui apakah suatu sampel tanaman memiliki kandungan terpenoid didalamnya. Pengujian ini dilakukan dengan cara sampel uji diambil 5 ml, dimasukkan kedalam tabung reaksi. Setelah itu dilarutkan dengan 2 ml kloroform, dan ditambahkan 3 tetes pereaksi Lieberman Buchard. Hasil yang terjadi jika sampel positif mengandung terpenoid maka warna yang terjadi pada cincin kecoklatan/violet. Akan tetapi, pada tanaman daun nilam tidak mengandung senyawa terpenoid. Berikut reaksi yang terjadi antara triterpenoid dengan pereksi Liebermann Buchard

F. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari laporan ini adalah sebagai berikut :
  1. Prinsip dasar uji kandungan kimia ekstrak yaitu Ekstrak diekstraksi dengan pelarut dan cara tertentu, kemudian dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola kromatogram yang jelas. Tujuan : Memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram (KLT, KCKT, KG). Nilai : Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu. 
  2. Proses idenfikasi kandungn kimia ekstrak dari bahan alamm dapat dilakukan dengan menggunakan kromotografi lapis tips aaw menggunakan sinar ukatraviolet. 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Dewi Andriyani, D., Pri, I. U., Binar, A. D., 2010, Penetapan Kadar Tanin Daun Rambutan (Nephelium lappaceum.L) Secara Spektrofotometri Ultraviolet Visibel, PHARMACY, Vol.07 No. 02. 
  2. Halimah, Diana Pranifta Putri dan Yulfi Zetra, 2010, Minyak Atsiri Dari Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Melalui Metode Fermentasi Dan Hidrodistilasi Serta Uji Bioavaibilitasnya, Prosidin Tugas Akhir Semester Genap, Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 
  3. Schaduw, Jonathan, Jody A. Pojoh, dan Try Oktaria Djabar,Isolasi dan Identifikasi Minyak Atsiri Pada Daun Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Jurusan Farmasi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado. 
  4. Risfaheri , 2012, Diversifikasi Produk Lada (Piper Nigrum) Untuk Peningkatan Nilai Tambah, Buletin Teknologi Pascananen Pertanian, Vol.8, No.1. 
  5. Tirtana, E., Nora, I., Warsidah, Afghani, J., 2013, Analisa Proksimat, Uji Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Pada Buah Tampoi (Baccaurea macrocarpa), JKK, Vol. 2, No. 1. 
  6. Wijayanti, T. Y., Harlia, Rudiyansyah, 2013, Pengaruh Asam Terhadap Kandungan Alkaloid pada Ekstrak (Syzygium polyanthum), JKK, Vol. 2, No. 3. 
  7. Maryanti, E., 2006, Karakterisasi Senyawa Alkaloid Fraksi Etil Asetat Hasil Isolasi dari Daun Tumbuhan Pacah Piriang (Ervatamia coronaria (Jacq.) Stapf) Jurnal Gradien, Vol. 2 No. 2. 
  8. Astuti, K. W., Warditiani, N. K. Astarina, N. W. G., 2013, Skrining Fitokimia Ekstrak Metanol Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb.), Jurnal Farmasi Udiyana. 
  9. Redha, A., 2010, Flavonoid: Struktur, Sifat Antioksidatif Dan Peranannya Dalam Sistem Biologis, Jurnal Belian, Vol. 9 No. 2. 
  10. Saidi, N., Frida, O., Murniana, Muhammad, K., 2010, Antifungal Activity Of Alkaloid From Bark Of Cerbera odollam, Jurnal Natural, Vol. 10, No. 2. 
  11. Ismarani, 2012, Potensi Senyawa Tannin dalam Menunjang Produksi Ramah Lingkungan, Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah, Vol. 3 No. 2.

LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK

LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA 
PERCOBAAN IV

A. TUJUAN 
Tujuan yang ingin dicapai dalam percobaan partisi ekstrak ini adalah: 
  1. Untuk mengetahui prinsip dasar uji kandungan kimia ekstrak 
  2. Untuk melakukan identifikasi kandungan kimia dalam suatu ekstrak bahan alam 

B. LANDASAN TEORI
Banyak jenis tanaman yang dapat tumbuh di Indonesia yang sebagian besar dapat digunakan sebagai sumber bahan obat alam dan telah banyak digunakan oleh masyarakat secara turun temurun untuk keperluan pengobatan guna mengatasi masalah kesehatan. Obat tradisional tersebut perlu diteliti dan dikembangkan sehingga dapat bermanfaat secara optimal untuk peningkatan kesehatan masyarakat[1]. 

Nilam (Pogestemon cablin Benth) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri. Tanaman nilam berupa semak dan dapat tumbuh diberbagai jenis tanah (andosol, latosol, regosol, padsolik dan grumasol) dengan tekstur lempung, liat berpasir dengan drainase yang baik dan pH tanah 5-7. Tanaman ni membutuhkan urah hujan atau ketersediaan air yang cukup dengan suhu 24-28°C[2].

Minyak atsiri pada tanaman nilam terdapat pada bagian akar, batang, ranting maupun daun tanaman. Umumnya, kandungan minyak atsiri pada bagian akar, batang dan ranting tanaman nilam lebih kecil (0,4-0,5%) dibandingkan dengan kandungan minyak atsiri pada bagian daun (2,5-5,0%). Minyak nilam biasanya digunakan sebagai fiksasif (zat pengikat) dalam industri parfum dan merupakan salah sau campuran pembuatan produk kosmetika seperti sabun, pasta gigi, shampo, lotion, deodoran dan tonik rambut. Minyak nilam juga bermanfaat dalam pembuatan obat antiradang, antifungi, antiserangga, afrodisiak, antiinflamasi, antidepresi, antiflogistik dan dekongestan. Minyak nilam juga terbukti dapat mencerahkan kulit dan mengobati jerawat[3]. 

Uji fitokimia merupakan suatu pemeriksaan golongan senyawa kimia yang terdapat dalam suatu simplisia tumbuhan. Uji tersebut dapat digunakan untuk membuktikan ada tidaknya senyawa kimia tertentu dalam tumbuhan untuk dapat dikaitkan dengan aktivitas bioliginya sehingga dapat membantu langkah-langkah fitofarmakologi[4]. 

Kemampuan yang dimiliki suatu tanaman didukung dari metabolit sekunder yang terkandung di dalamnya. Faktor iklim yang di dalamnya termasuk suhu udara, sinar matahari, kelembaban udara dan angin serta keadaan tanah sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan tanaman hingga variasi metabolit sekunder yang terkandung[5]. Penentuan kandungan metabolit sekunder secara kualitatif dilakukan melalui skrining fitokimia. Metabolit sekunder yang antioksidatif adalah alkaloid, flavonoid, senyawa fenolik, saponin, steroid dan triterpenoid[6].

Senyawa metabolit sekunder mempunyai lebih dari satu gugus fungsi sehingga tumbuhan tersebut menunjukkan banyak kegunaan dan bioaktivitas karena dapat berinteraksi dengan lebih dari satu molekul target. Salah satu senyawa metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas biologis yang sangat penting adalah senyawa alkaloid. Alkaloid adalah salah satu golongan senyawa organik yang banyak ditemukan di alam. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang bersifat basa dan sebagian besar ataom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik[7]. 

Alkaloid merupakan salah satu metabolit sekunder yang banyak ditemukan di alam dan mempunyai keaktifan fisiologis tertentu. Alkaloid ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan misalnya kuinin, morfin dan striknin[8]. Pada skrining alkaloid prinsipnya yaitu reaksi pengendapan yang terjadi karena adanya penggantian ligan. Atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas pada alkaloid dapat mengganti ion iod dalam pereaksi dragendroff dan pereaksi mayer. Pada pengujian ini tidak terbentuk endapan jingga setelah penambahan pereaksi dragendroff dan tidak terbentuk endapan kuning setelah penambahan pereaksi mayer. Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tanaman, tetapi sering kali kadar alkaloid dalam jaringan tumbuhan kurang dari 1%. Hal ini yang dapat menyebabkan uji skrining alkaloid memberikan hasil yang negatif[9]. 

Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik dengan struktur kimia C6-C3-C6 Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin aromatik A, satu cincin aromatik B, dan cincin tengah berupa heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin ini dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya. Sistem penomoran digunakan untuk membedakan posisi karbon di sekitar molekulnya Berbagai jenis senyawa, kandungan dan aktivitas antioksidatif flavonoid sebagai salah satu kelompok antioksidan alami yang terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah, telah banyak dipublikasikan. Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam, berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon[10]. 

Saponin adalah senyawa polar yang keberadaanya dalam tumbuhan dapat diekstraksi dengan pelarut semi polar dan polar[11]. Saponin merupakan bentuk glikosida dari sapogenin sehingga akan bersifat polar. Saponin adalah senyawa yang bersifat aktif permukaan dan dapat menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Timbulnya busa pada uji saponin menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan untuk membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya. Senyawa saponin tersebut akan cenderung tertarik oleh pelarut yang bersifat semi polar seperti methanol[12]. 

Senyawa tannin adalah senyawa astringent yang memiliki rasa pahit dari gugus polifenolnya yang dapat mengikat dan mengendapkan atau menyusutkan protein. Sifat Kimia Tannin diantarannya tannin memiliki sifat umum, yaitu memiliki gugus phenol dan bersifat koloid, sehingga jika terlarut dalam air bersifat koloid dan asam lemah. Umumnya tannin dapat larut dalam air. Kelarutannya besar dan akan meningkat apabila dilarutkan dalam air panas. Begitu juga tannin akan larut dalam pelarut organik seperti metanol, etanol, aseton dan pelarut organik lainnya. Tannin akan terurai menjadi pyrogallol, pyrocatechol dan phloroglucinol bila dipanaskan sampai suhu 210oF-215oF (98,89oC-101,67oC). Tannin dapat dihidrolisa oleh asam, basa, dan enzim. Ikatan kimia yang terjadi antara tannin-protein atau polimer-polimer lainnya terdiri dari ikatan hidrogen, ikatan ionik, dan ikatan kovalen. Sifat fisika tannin, umumnya tannin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah dioksidasi menjadi suatu polimer, sebagian besar tannin bentuknya amorf dan tidak mempunyai titik leleh. Tannin berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat terang, tergantung dari sumber tannin tersebut. Tannin berbentuk serbuk atau berlapis-lapis seperti kulit kerang, berbau khas dan mempunyai rasa sepat (astrigent). Warna tannin akan menjadi gelap apabila terkena cahaya langsung atau dibiarkan di udara terbuka. Tannin mempunyai sifat atau daya bakterostatik, fungistatik dan merupakan racun[13]. 

Minyak atsiri tersusun atas senyawa triterpenoid. Triterpenoid tersusun dari rantai panjang hidrokarbon C yang menyebabkan sifatnya non polar sehingga mudah terekstrak dalam pelarut yang bersifat non polar. Ada beberapa senyawa triterpenoid memiliki struktur siklik yang berupa alkohol. Senyawa triterpenoid juga dapat terikat dengan gugus gula sehingga akan dapat tertarik oleh pelarut yang bersifat semi polar bahkan pelarut polar[14]. 

C. METODE KERJA 
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah : 
  • Pipet Tetes 
  • Tabung Reaksi
  • Rak Tabung 

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah : 
  • Ekstrak 
  • Fraksi etil asetat 
  • HCL 
  • H2O 
  • FeCL3 0,5 M 
  • Kloroform 
  • Pereaksi Dragendrof 
  • Pereaksi Lieberman-Buchard 

3. Uraian Bahan 
a. N-heksan (Ditjen POM, 1979: 53) 
Nama : n-heksana 
Berat molekul : 86.18 g/mol 
Rumus molekul : C6H14 
Pemerian : Cairan tak berwarna, dapat dibakar 
Kegunaan : Pelarut organik 

b. Etil asetat (Ditjen POM, 1979: 41) 
Nama resmi : Acidum aceticum 
Nama lain : Cuka 
Berat molekul : 60,05 g/mol 
Rumus molekul : C2H4O2 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam 
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat 
Khasiat : zat tambahan 

c. Etanol (Ditjen POM, 1979: 56) 
Nama Resmi : Etil Alkohol / etanol 
Nama Lain : Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol absolut 
Berat molekul : 46,07 g/mol 
Rumus Molekul : C2H5OH 
Pemerian : Cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 
Kegunaan : Sebagai pelarut. 

d. Akuades (Ditjen POM, 1979 : 96) 
Nama Resmi : Aqua destilata. 
Nama Lain : Air suling 
Rumus Molekul : H2O 
Berat molekul : 18 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. 
Kegunaan : Sebagai pelarut 

4. Uraian Tanaman
1. Klasifikasi 
Kingdom : Plantae 
Divisio : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) 
Sub Divisio : Spermatophyta (Menghasilkan biji) 
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) 
Subkelas : Asteridae 
Ordo : Lamiales 
Famili : Lamiaceae
Genus : Pogostemon
Species : Pogostemon cablin Benth. 

2. Morfologi 
Tanaman nilam adalah tanaman yang memiliki akar serabut yang wangi, memiliki daun halus beludru, dan agar membulat lonjong seperti jantung serta berwarna pucat. Bagian bawah dauan dan ranting berbulu halus, berbabatang kayu dengan diameter 10-20 mm membentuk segi empat, serta sebagian besar daun yang melekat pada ranting hampir selalu berpasangan satu sama lain. Jumlah cabang yang banyak dan bertingkat mengelilingin batang antara 3-5 cabang per tingkat. 

3. Kandungan Kimia 
Kandungan yang terdapat di dalam minyak nilam meliputi : patchouli alkohol, patchouli camphor, eugenol, benzaldehyde, cinnamic aldehyde, kariofilen, α-patchaolena, dan bulnessen (Santoso, 1990). 

5. Prosedur kerja
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK


D. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK


E. PEMBAHASAN
Percobaan kali ini, kami melakukan uji kandungan metabolit sekunder dari ekstrak daun nilam (Pogestemon cablia Benth). Minyak nilam biasanya digunakan sebagai fiksasif (zat pengikat) dalam industri parfum dan merupakan salah sau campuran pembuatan produk kosmetika seperti sabun, pasta gigi, shampo, lotion, deodoran dan tonik rambut. Minyak nilam juga bermanfaat dalam pembuatan obat antiradang, antifungi, antiserangga, afrodisiak, antiinflamasi, antidepresi, antiflogistik dan dekongestan. Minyak nilam juga terbukti dapat mencerahkan kulit dan mengobati jerawat. Metabolit sekunder adalah golongan senyawa yang terkandung dalam tubuh organisme yang terbentuk melalui proses metabolisme sekunder yang disintesis dari banyak senyawa metabolisme primer, seperti asam amino, asetil koenzim A, asam mevalonat dan senyawa antara dari jalur shikimat. 

Fungsi senyawa metabolit sekunder adalah sebagai pertahanan tubuh bagi tumbuhan dari serangan hama dan patogen penyebab penyakit, sebagai atraktan hewan polinator dan sebagai hormon pengatur pertumbuhan. Bagi manusia, senyawa metabolit sekunder digunakan sebagai bahan obat-obatan, pewangi, fragran pada makanan dan minuman serta senyawa yang digunakan dalam industri kosmetika. Pada praktikum metabolit sekunder kali ini dilakukan pengujian metabolit sekunder seperti uji Alkaloid, Flavonoid, Tanin, Saponin, dan terpenoid.

Uji pertama yang dilakukan adalah uji flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik dengan struktur kimia C6-C3-C6 Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin aromatik A, satu cincin aromatik B, dan cincin tengah berupa heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin ini dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya. Sistem penomoran digunakan untuk membedakan posisi karbon di sekitar molekulnya Berbagai jenis senyawa, kandungan dan aktivitas antioksidatif flavonoid sebagai salah satu kelompok antioksidan alami yang terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah, telah banyak dipublikasikan. Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam, berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon.

Identifikasi senyawa flavonoid dilakukan dalam suatu sampel hasil fraksinasi yakni fraksi etil asetat dan fraksi yang tidak larut. Fraksi yang diuji tersebut diambil sebanyak 2 ml kemudian ditambahkan 2 ml HCL. Hasil yang diperoleh dari uji flavonoid menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dan fraksi yang tidak larut positif (+) mengandung senyawa flavonid. 

Uji kedua yang dilakukan adalah uji tannin. Senyawa tannin adalah senyawa astringent yang memiliki rasa pahit dari gugus polifenolnya yang dapat mengikat dan mengendapkan atau menyusutkan protein. Sifat Kimia Tannin diantarannya tannin memiliki sifat umum, yaitu memiliki gugus phenol dan bersifat koloid, sehingga jika terlarut dalam air bersifat koloid dan asam lemah. Umumnya tannin dapat larut dalam air. Kelarutannya besar dan akan meningkat apabila dilarutkan dalam air panas. Begitu juga tannin akan larut dalam pelarut organik seperti metanol, etanol, aseton dan pelarut organik lainnya. Tannin akan terurai menjadi pyrogallol, pyrocatechol dan phloroglucinol bila dipanaskan sampai suhu 210F-215F (98,89C-101,67C). Tannin dapat dihidrolisa oleh asam, basa, dan enzim. Ikatan kimia yang terjadi antara tannin-protein atau polimer-polimer lainnya terdiri dari ikatan hidrogen, ikatan ionik, dan ikatan kovalen. Sifat fisika tannin, umumnya tannin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah dioksidasi menjadi suatu polimer, sebagian besar tannin bentuknya amorf dan tidak mempunyai titik leleh. Tannin berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat terang, tergantung dari sumber tannin tersebut. Tannin berbentuk serbuk atau berlapis-lapis seperti kulit kerang, berbau khas dan mempunyai rasa sepat (astrigent). Warna tannin akan menjadi gelap apabila terkena cahaya langsung atau dibiarkan di udara terbuka. Tannin mempunyai sifat atau daya bakterostatik, fungistatik dan merupakan racun. 

Uji tanin merupakan uji terhadap adanya tanin pada tanaman. Sebanyak 1 ml ekstrak tanaman nilam ditambahkan FeCl3. Terbentuknya warna biru tua atau hitam kehijauan menunjukkan terdapatnya tannin salam tanaman tersebut. Selain itu, uji tannin dapat juga dilakukan dengan penambahan larutan gelatin. Terbentuknya endapan putih menunjukan bahwa tanaman tersebut positif mengandung tannin. Hasil yang diperoleh dari pengujian tanin yang terdapat pada fraksi etil asetat dan fraksi yang tidak larut menunjukkan bahwa tanaman nilam positif (+) mengandung senyawa tanin, yang ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi hijau kehitaman. Reaksi antara FeCl3 dan Senyawa Tanin yang menghasilkan warna hijau kehitaman

Uji ketiga yang dilakukan adalah uji saponin. Saponin adalah senyawa polar yang keberadaanya dalam tumbuhan dapat diekstraksi dengan pelarut semi polar dan polar. Saponin merupakan bentuk glikosida dari sapogenin sehingga akan bersifat polar. Saponin adalah senyawa yang bersifat aktif permukaan dan dapat menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Timbulnya busa pada uji saponin menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan untuk membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya. Senyawa saponin tersebut akan cenderung tertarik oleh pelarut yang bersifat semi polar seperti methanol.

Sampel yang digunakan dalam uji identifikasi saponin adalah ekstrak daun nilam yang telah difraksinasi menggunakan etil asetat dan n-heksan, yang diambil 10 ml dan ditambahkan H2O sebanyak 5 ml. Sampel yang positif mengandung saponin akan ditunjukkan dengan adanya pembentukan busa stabil selama 10 menit setelah dilakukan pengocokan selama 5 menit serta akan menghasilkan busa dengan ketinggian 1–3 cm. Hasil yang diperoleh dari pengujian senyawa tanin menunjukkan bahwa ekstrak nilam dalam fraksi etil asetat dan fraksi yang tidak larut menunjukkan bahwa tanaman nilam mengandung senyawa saponin, yang ditandai dengan asanya busa yang stabil selama 10 menit. 

Uji keempat yang dilakukan adalah uji alkaloid. Alkaloid merupakan salah satu metabolit sekunder yang banyak ditemukan di alam dan mempunyai keaktifan fisiologis tertentu. Alkaloid ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan misalnya kuinin, morfin dan striknin. Pada skrining alkaloid prinsipnya yaitu reaksi pengendapan yang terjadi karena adanya penggantian ligan. Atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas pada alkaloid dapat mengganti ion iod dalam pereaksi dragendroff dan pereaksi mayer. Pada pengujian ini tidak terbentuk endapan jingga setelah penambahan pereaksi dragendroff dan tidak terbentuk endapan kuning setelah penambahan pereaksi mayer. 

Uji alkaloid dilakukan dengan memfraksinasi hasil ekstrak daun nilam yang ditambahkan HCl 2% sebanyak 0,5 ml kemudian diuji dengan pereaksi Dragendorff. Hasil uji dinyatakan positif bila terbentuk endapan merah hingga jingga dengan pereaksi Dragendorff. Hasil uji alkaloid yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan pereaksi Dragendorff, positif (+) mengandung senyawa alkaloid.

Uji kelima yang dilakukan adalah uji terpenoid. Terpenoid merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa terpen. Terpen merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan sebagian kelompok hewan. Rumus molekul terpen adalah (C5H8)n.

Pengujian terpenoid dilakukan untuk mengetahui apakah suatu sampel tanaman memiliki kandungan terpenoid didalamnya. Pengujian ini dilakukan dengan cara sampel uji diambil 5 ml, dimasukkan kedalam tabung reaksi. Setelah itu dilarutkan dengan 2 ml kloroform, dan ditambahkan 3 tetes pereaksi Lieberman Buchard. Hasil yang terjadi jika sampel positif mengandung terpenoid maka warna yang terjadi pada cincin kecoklatan/violet. Akan tetapi, pada tanaman daun nilam tidak mengandung senyawa terpenoid. Berikut reaksi yang terjadi antara triterpenoid dengan pereksi Liebermann Buchard

F. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari laporan ini adalah sebagai berikut :
  1. Prinsip dasar uji kandungan kimia ekstrak yaitu Ekstrak diekstraksi dengan pelarut dan cara tertentu, kemudian dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola kromatogram yang jelas. Tujuan : Memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram (KLT, KCKT, KG). Nilai : Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu. 
  2. Proses idenfikasi kandungn kimia ekstrak dari bahan alamm dapat dilakukan dengan menggunakan kromotografi lapis tips aaw menggunakan sinar ukatraviolet. 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Dewi Andriyani, D., Pri, I. U., Binar, A. D., 2010, Penetapan Kadar Tanin Daun Rambutan (Nephelium lappaceum.L) Secara Spektrofotometri Ultraviolet Visibel, PHARMACY, Vol.07 No. 02. 
  2. Halimah, Diana Pranifta Putri dan Yulfi Zetra, 2010, Minyak Atsiri Dari Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Melalui Metode Fermentasi Dan Hidrodistilasi Serta Uji Bioavaibilitasnya, Prosidin Tugas Akhir Semester Genap, Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 
  3. Schaduw, Jonathan, Jody A. Pojoh, dan Try Oktaria Djabar,Isolasi dan Identifikasi Minyak Atsiri Pada Daun Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Jurusan Farmasi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado. 
  4. Risfaheri , 2012, Diversifikasi Produk Lada (Piper Nigrum) Untuk Peningkatan Nilai Tambah, Buletin Teknologi Pascananen Pertanian, Vol.8, No.1. 
  5. Tirtana, E., Nora, I., Warsidah, Afghani, J., 2013, Analisa Proksimat, Uji Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Pada Buah Tampoi (Baccaurea macrocarpa), JKK, Vol. 2, No. 1. 
  6. Wijayanti, T. Y., Harlia, Rudiyansyah, 2013, Pengaruh Asam Terhadap Kandungan Alkaloid pada Ekstrak (Syzygium polyanthum), JKK, Vol. 2, No. 3. 
  7. Maryanti, E., 2006, Karakterisasi Senyawa Alkaloid Fraksi Etil Asetat Hasil Isolasi dari Daun Tumbuhan Pacah Piriang (Ervatamia coronaria (Jacq.) Stapf) Jurnal Gradien, Vol. 2 No. 2. 
  8. Astuti, K. W., Warditiani, N. K. Astarina, N. W. G., 2013, Skrining Fitokimia Ekstrak Metanol Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb.), Jurnal Farmasi Udiyana. 
  9. Redha, A., 2010, Flavonoid: Struktur, Sifat Antioksidatif Dan Peranannya Dalam Sistem Biologis, Jurnal Belian, Vol. 9 No. 2. 
  10. Saidi, N., Frida, O., Murniana, Muhammad, K., 2010, Antifungal Activity Of Alkaloid From Bark Of Cerbera odollam, Jurnal Natural, Vol. 10, No. 2. 
  11. Ismarani, 2012, Potensi Senyawa Tannin dalam Menunjang Produksi Ramah Lingkungan, Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah, Vol. 3 No. 2.