LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK - ElrinAlria
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK

LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN IV

A. TUJUAN
Tujuan pada percobaan ini yaitu:
  1. Untuk mengetahui prinsip dasar uji kandungan kimia ekstrak
  2. Untuk dapat melakukan identifikasi kandungan kimia dalam suatu ekstrak bahan alam. 

B. LANDASAN TEORI
Tumbuhan obat adalah semua jenis tumbuhan yang menghasilkan satu atau lebih komponen aktif yang digunakan untuk perawatan kesehatan dan pengobatan atau seluruh spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat obat . Penggunaan tumbuhan obat sangat banyak macamnya, ada yang dipergunakan sebagai obat kuat (tonikum), sebagai obat penyakit maupun tujuan untuk mempercantik diri (kosmetika). [1]

Obat tradisional dalam kimia bahan alam mengandung senyawa-senyawa yang dikenal dengan metabolit sekunder. Metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang terbentuk dalam tanaman. Senyawa-senyawa yang tergolong ke dalam kelompok metabolit sekunder ini antara lain: alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponin dan lain-lain. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan biokaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan. [2]

Alkaloid mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem sikliknya serta mengandung substituen yang bervariasi seperti gugus amina, amida, fenol, dan metoksi sehingga alkaloid bersifat semipolar. Senyawa triterpenoid ada yang memiliki struktur siklik berupa alkohol yang menyebabkan senyawa ini cenderung bersifat semipolar. Golongan tannin merupakan senyawa fenolik yang cenderung larut dalam air dan pelarut polar. Saponin merupakan glikosida triterpen yang memiliki sifat cenderung polar karena ikatan glikosidanya. Flavanoid memiliki ikatan dengan gugus gula yang menyebabkan flavonoid bersifat polar. [3]

Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Ekstrak awal sulit dipisahkan melalui teknik pemisahan tunggal untuk mengisolasi senyawa tunggal. Oleh karena itu, ekstrak awal perlu dipisahkan ke dalam fraksi yang memiliki polaritas dan ukuran molekul yang sama [4]. 

Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara, ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran, pelarut polar akan melarutkan solute yang polar dan pelarut non polar akan melarutkan solute yang non polar[5].

Tujuan dari ekstraksi adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman melalui mekanisme pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel[6].

Proses ekstraksi dan fraksinasi dengan pelarut organik yang berbeda tingkat kepolaran akan mempengaruhi jenis dan kadar senyawa bioaktif serta aktivitas antioksidannya. Pemilihan pelarut pada proses ekstraksi dilakukan dengan alasan karena pelarut mampu melarutkan senyawa yang akan diekstrak, mudah dipisahkan (menguap) dan dimurnikan kembali. Pelarut organik digunakan didasarkan pada sifat kepolaran, kelarutan dan transfer massa dari senyawa yang diekstrak. Kelarutan senyawa sangat ditentukan oleh kepolaran, momen dipol, polarisabilitas dan ikatan hidrogen [7].

Ekstraksi cair-cair atau yang dikenal dengan ekstraksi solvent merupakan proses pemisahan fasa cair yang memanfaatkan perbedaan kelarutan zat terlarut yang akan dipisahkan antara larutan asal dan pelarut pengekstrak (solvent). Aplikasi ekstraksi cair-cair terbagi menjadi dua kategori yaitu aplikasi yang bersaing langsung dengan operasi pemisahan lain dan aplikasi yang tidak mungkin dilakukan oleh operasi pemisahan lain. Apabila ekstraksi cair-cair menjadi opersai pemisahan yang bersaing dengan operasi pemisahan lain, maka biaya akan menjadi tolak ukur yang sangat penting[8]. 

Prinsip dasar ekstraksi cair-cair ini melibatkan pengontakan suatu larutan dengan pelarut (solvent) lain yang tidak saling melarut (immisible) dengan pelarut asal yang mempunyai densitas yang berbeda sehingga akan terbentuk dua fasa beberapa saat setelah penambahan solvent. Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan massa dari pelarut asal ke pelarut pengekstrak (solvent). Perpindahan zat terlarut ke dalam pelarut baru yang diberikan, disebabkan oleh adanya daya dorong (dirving force) yang muncul akibat adanya beda potensial kimia antara kedua pelarut. Sehingga proses ektraksi cair-cair merupakan proses perpindahan massa yang berlangsung secara difusional[8].

Proses ekstraksi cair-cair berlangsung pada suatu alat yang dirancang sedemikian rupa sehingga mempunyai luas permukaan yang mencukupi untuk terjadinya kontak antar fasa-fasa yang terlibat (fasa kontinyu yang berisi zat terlarut dan fasa dispersi) sehingga distribusi komposisi dalam kedua fasa menjadi lebih sempurna dan berhasil dengan baik[8].

Partisi menggunakan dua pelarut tak campur yang ditambahkan ke dalam ekstrak, hal ini dapat dilakukan secara terus-menerus dengan menggunakan dua pelarut tak bercampur yang kepolarannya meningkat. Partisi biasanya melalui dua tahap : (1) air/petroleum eter ringan (heksana) untuk menghasilkan fraksi nonpolar dilapisan organik; (2) air/diklorometan atau air/kloroform atau air /etil asetat untuk membuat fraksi agak polar dilapisan organik. Lapisan berair yang terasa akan mengandung bahan alam larut-air yang polar. Ini merupakan metode pemisahan yang mudah dan mengandalkan kelaruta bahan alam dan bukan interaksi fisik dengan medium lain. Partisi dapat memberikan pemisahan yang sangat baik, terutama untuk senyawa-senyawa yang memiliki kelarutan yang sangat berbeda[9].

Proses penguapan atau evaporasi adalah proses pemisahan uap air dalam bentuk murni dari suatu campuran berupa larutan (cairan) yang mengandung air dalam jumlah yang relatif banyak[10].

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • a. Batang pengaduk
  • b. Botol vial
  • c. Gegep
  • d. Gelas ukur
  • e. Pipet tetes
  • f. Tabung reaksi
  • g. Timbangan analitik

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • a. Akuades
  • b. Aluminium foil
  • c. Ekstrak daun nilam
  • d. Etanol
  • e. Etil asetat
  • f. N-heksan
  • g. Tisue

3. Uraian Bahan
a. N-heksan (FI III : 53)
Nama : n-heksana
Berat molekul : 86.18 g/mol
Rumus molekul : C6H14
Pemerian : Cairan tak berwarna, dapat dibakar
Kegunaan : Pelarut organik

b. Etil asetat (FI III : 41)
Nama resmi : Acidum aceticum
Nama lain : Cuka
Berat molekul : 60,05 g/mol
Rumus molekul : C2H4O2
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Khasiat : zat tambahan.

c. Etanol (FI III : 56)
Nama Resmi : Etil Alkohol / etanol
Nama Lain : Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol absolut
Berat molekul : 46,07 g/mol
Rumus Molekul : C2H5OH
Pemerian : Cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 
Kegunaan : Sebagai pelarut.

d. Akuades (FI III : 96)
Nama Resmi : Aqua destilata.
Nama Lain : Air suling
Rumus Molekul : H2O
Berat molekul : 18
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : sebagai pelarut.

3. Uraian Tanaman
1. Klasifikasi 
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Sub Divisio : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Subkelas : Asteridae
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Pogostemon
Species : Pogostemon cablin Benth.

2. Morfologi
Tanaman nilam adalah tanaman yang memiliki akar serabut yang wangi, memiliki daun halus beludru, dan agar membulat lonjong seperti jantung serta berwarna pucat. Bagian bawah dauan dan ranting berbulu halus, berbabatang kayu dengan diameter 10-20 mm membentuk segi empat, serta sebagian besar daun yang melekat pada ranting hampir selalu berpasangan satu sama lain. Jumlah cabang yang banyak dan bertingkat mengelilingin batang antara 3-5 cabang per tingkat.

3. Kandungan Kimia
Kandungan yang terdapat di dalam minyak nilam meliputi : patchouli alkohol, patchouli camphor, eugenol, benzaldehyde, cinnamic aldehyde, kariofilen, α-patchaolena, dan bulnessen (Santoso, 1990). 

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK

E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK


F. PEMBAHASAN
Tanaman obat merupakan aset nasional yang perlu digali, diteliti, dikembangkan dan dioptimalkan pemanfaatannya. Keamanan dan mutu suatu tanaman obat belum banyak didukung oleh penelitian ilmiah. Pengembangan penggunaan tanaman obat semakin pesat dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kembali ke alam (back to nature) dengan memanfaatkan obat-obat alami. Disamping itu, efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obat tradisional relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan obat-obat dari bahan kimia. 

Bahan alam yang sering digunakan sebagai obat tradisional salah satunya adalah nilam. Nilam merupakan suatu jenis tanaman penghasil minyak atsiri yang cukup penting. Minyak nilam dalam industri farmasi biasanya digunakan sebagai antiinflamasi, antidepresi, diuretik, antifungi dan antibakteri. Nilam juga mengandung senyawa-senyawa metabolit sekunder oleh karena itu dikakukan uji kandungan kimia terhadap daun nilam untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terdapat di tanaman nilam.

Pada pengujian kandungan kimia tanaman nilam terlebih dahulu dilakukan partisi ekstrak. Partisi ekstrak (ekstraksi cair-cair) adalah proses pemisahan zat terlarut di dalam dua macam zat pelarut yang tidak saling bercampur, dengan kata lain perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik dan pelarut air. Hal tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang dapat larut dalam air dan ada pula yang dapat terlarut dalam pelarut organik. Tujuan dilakukannya partisi yaitu untuk memisahkan komponen kimia dari sampel berdasarkan tingkat kepolarannya. 

Prinsip dari proses partisi yaitu digunakannya dua pelarut yang tidak saling bercampur untuk melarutkan zat-zat yang ada dalam ekstrak sehingga akan terbentuk dua fasE. Ekstrak yang digunakan dalam percobaan ini adalah ekstrak daun nilam (Pogostemon cablin Benth.). Pelarut yang digunakan yaitu etanol, n-heksan dan etil asetat dan air.

Langkah pertama partisi ekstrak yaitu ekstrak dilarutkan dengan etanol dan di partisi dengan menggunakan pelarut non polar (n-heksan) dan dikocok pada satu arah hingga terlihat adanya dua lapisan, dimana lapisan atas adalah lapisan n-heksan, sedangkan lapisan bawah adalah lapisan ekstrak nilam. Hal ini disebabkan karena ekstrak nilam memiliki massa jenis yang lebih besar daripada n-heksan. Penambahan n-heksan disebabkan karena n-heksan dapat menarik senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak yang bersifat nonpolar. Proses partisi menggunakan n-heksan dilakukan 3 kali untuk meningkatkan jumlah komponen senyawa yang larut dalam n-heksan (senyawa non polar). 

Senyawa tidak larut n-heksan kemudian dipartisi dengan menggunakan etil asetat., dengan melakukan proses yang sama dengan penggunaan pelarut n-heksan. Penambahan pelarut etil asetat bertujuan untuk menarik senyawa-senyawa yang bersifat semipolar. Tetapi setelah penambahan etil asetat tidak terbentuk dua lapisan karena ekstrak daun nilam memiliki sifat polar yang lebih besar sehingga dilakukan pemisahan kembali dengan penambahan etanol dan air. Penambahan etanol dan air ini berfungsi untuk lebih memperjelas pemisahan antara dua pelarut yang digunakan sehingga diperoleh fraksi larut etanol, n-heksan dan etil asetat. Kemudian dilakukan uji kandungan kimia ekstrak teradap fraksi larut etanol dan etil asetat. Pengujian yang dilakukan adalah uji kandungan senyawa alkaloid, flavonoid,saponin, terpenoid dan tanin.

Uji kandungan kimia yang pertama dilakukan adalah uji alkaloid. Alkaloid merupakan senyawa bersifat basa, mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya berwarna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal tapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotin) pada suhu kamar. Uji alkaloid pada fraksi etil asetat dan fraksi etanol dilakukan dengan pencampuran alkaloid, HCl dan pereaksi dragendorf. Penambahan HCl ini berfungsi untuk membentuk garam alkaloid, karena alkaloid yang bersifat basa dapat larut dalam pelarut yang bersifat asam sedangkan pereaksi dragendorff dapat mengendapkan alkaloid karena dalam senyawa alkaloid terdapat gugus nitrogen yang memiliki satu pasang elektron bebas menyebabkan senyawa alkaloid bersifat nukleofilik (basa). Oleh karena itu, senyawa alkaloid mampu mengikat ion logam berat (Dragendorff) yang mempunyai muatan positif sehingga menghasilkan warna jingga. Hasil yang diperoleh dari penambahan HCl dan pereaksi dragendorf pada fraksi etil asetat dan fraksi etanol yaitu tidak menghasilkan warna jingga, sehingga pada tanaman nilam tidak terdapat senyawa alkaloid. 

Uji kandungan kimia yang kedua dilakukan adalah uji flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar, mengandung 15 atom karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatis yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga. Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida. Uji flavonoid pada fraksi etil asetat dan fraksi etanol dilakukan dengan pencampuran flavonoid dan HCl. Penambahan HCl bertujuan untuk menghidrolisis flavonoid menjadi aglikonnya, yaitu dengan menghidrolisis O-glikosil. Glikosil akan tergantikan oleh H+dari asam karena sifatnya yang elektrofilik. Terbentuknya warna merah,kuning atau jingga menunjukkan adanya flavonoid dalam sampel. Hasil yang diperoleh dari penambahan HCl pada fraksi etil asetat yaitu tidak terdapat flavonoid sedangkan pada fraksi etanol positif terdapat flavonoid karena menghasilkan warna merah.

Uji kandungan kimia yang ketiga yaitu uji saponin. saponin adalah senyawa aktif permukaan kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi rendah sering menyebabkan heomolisis sel darah merah. Uji saponin pada fraksi etil asetat dan fraksi etanol dilakukan dengan pencampuran saponin dan air hangat. Tujuan penambahan air hangat ini adalah untuk membentuk busa. Hasil yang diperoleh yaitu positif mengandung saponin karena busanya tidak hilang.

G. KESIMPULAN
  1. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari laporan ini adalah sebagai berikut :
  2. Prinsip dasar uji kandungan kimia ekstrak yaitu Ekstrak diekstraksi dengan pelarut dan cara tertentu, kemudian dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola kromatogram yang jelas. Tujuan : Memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram (KLT, KCKT, KG). Nilai : Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu.
  3. Proses idenfikasi kandungn kimia ekstrak dari bahan alamm dapat dilakukan dengan menggunakan kromotografi lapis tips aaw menggunakan sinar ukatraviolet. 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Tudjuka Kurniawan , Sri Ningsih dan Bau Toknok., 2014, Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat Pada Kawasan Hutan Lindung Di Desa Tindoli Kecamatan Pamona Tenggara Kabupaten Poso, Warta Rimba, Vol.2, No.1.
  2. Aksara R, Weny J.A. Musa dan La Alio., 2013, Identifikasi Senyawa Alkaloid Dari Ekstrak Metanol Kulit Batang Mangga (Mangifera indica L), Jurnal Entropi, Vol.8, No.1.
  3. Simaremare Eva Susanty., 2014, Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Gatal (Laportea Decumana (Roxb.) Wedd), Pharmacy, Vol.11 No. 01.
  4. Mukhriani., 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif, Jurnal Kesehatan, Vol.7, No.2.
  5. Irawan, B. dan Bakti J., 2010, Peningkatan Mutu Minyak Nilam Dengan Ekstraksi Dan Destilasi Pada Berbagai Komposisi Pelarut, Seminar Rekayasa Kimia dan Proses, ISSN : 1411-4216.
  6. Dewanti, S. dan Teguh W., 2011, Antibacteri Activity Of Bay Leaf Infuse (Folia Syzygium Polyanthum Wight) to Escherichia Coli In-Vitr, Jurnal Medika Planta, Vol. 1 No. 4.
  7. Widyawati, Paini S., C Hanny Wijaya, Peni Suprapti Harjosworo dan Dondin Sajuthi, 2010, Pengaruh Ekstraksi Dan Fraksinasi Terhadap Kemampuan Menangkap Radikal Bebas Dpph (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil) Ekstrak Dan Fraksi Daun Beluntas (Pluchea Indica Less), Seminar Rekayasa Kimia Dan Proses, Universitas Diponegoro Semarang.
  8. Mirwan Agus., 2013, Keberlakuan Model Hb-Gft Sistem N-Heksana – Mek – Air Pada Ekstraksi Cair-Cair Kolom Isian, Konversi, Vol.2, No.1.
  9. Heinrich, M., J. Barnes, Simon G., dan E. M. W., Farmakognosi dan Fitoterapi, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
  10. Setyanto, N. W., R. Himawan, Z. D., Endra Y. A., Puteri R. M. S., Kurnia N, 2012, Perancangan Alat Pengering Mie Ramah Lingkungan, Jurnal Rekayasa Mesin Vol.3, No. 3, ISSN 0216-468X.

LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK

LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK

LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN IV

A. TUJUAN
Tujuan pada percobaan ini yaitu:
  1. Untuk mengetahui prinsip dasar uji kandungan kimia ekstrak
  2. Untuk dapat melakukan identifikasi kandungan kimia dalam suatu ekstrak bahan alam. 

B. LANDASAN TEORI
Tumbuhan obat adalah semua jenis tumbuhan yang menghasilkan satu atau lebih komponen aktif yang digunakan untuk perawatan kesehatan dan pengobatan atau seluruh spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat obat . Penggunaan tumbuhan obat sangat banyak macamnya, ada yang dipergunakan sebagai obat kuat (tonikum), sebagai obat penyakit maupun tujuan untuk mempercantik diri (kosmetika). [1]

Obat tradisional dalam kimia bahan alam mengandung senyawa-senyawa yang dikenal dengan metabolit sekunder. Metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang terbentuk dalam tanaman. Senyawa-senyawa yang tergolong ke dalam kelompok metabolit sekunder ini antara lain: alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, saponin dan lain-lain. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan biokaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan. [2]

Alkaloid mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem sikliknya serta mengandung substituen yang bervariasi seperti gugus amina, amida, fenol, dan metoksi sehingga alkaloid bersifat semipolar. Senyawa triterpenoid ada yang memiliki struktur siklik berupa alkohol yang menyebabkan senyawa ini cenderung bersifat semipolar. Golongan tannin merupakan senyawa fenolik yang cenderung larut dalam air dan pelarut polar. Saponin merupakan glikosida triterpen yang memiliki sifat cenderung polar karena ikatan glikosidanya. Flavanoid memiliki ikatan dengan gugus gula yang menyebabkan flavonoid bersifat polar. [3]

Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Ekstrak awal sulit dipisahkan melalui teknik pemisahan tunggal untuk mengisolasi senyawa tunggal. Oleh karena itu, ekstrak awal perlu dipisahkan ke dalam fraksi yang memiliki polaritas dan ukuran molekul yang sama [4]. 

Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara, ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran, pelarut polar akan melarutkan solute yang polar dan pelarut non polar akan melarutkan solute yang non polar[5].

Tujuan dari ekstraksi adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman melalui mekanisme pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel[6].

Proses ekstraksi dan fraksinasi dengan pelarut organik yang berbeda tingkat kepolaran akan mempengaruhi jenis dan kadar senyawa bioaktif serta aktivitas antioksidannya. Pemilihan pelarut pada proses ekstraksi dilakukan dengan alasan karena pelarut mampu melarutkan senyawa yang akan diekstrak, mudah dipisahkan (menguap) dan dimurnikan kembali. Pelarut organik digunakan didasarkan pada sifat kepolaran, kelarutan dan transfer massa dari senyawa yang diekstrak. Kelarutan senyawa sangat ditentukan oleh kepolaran, momen dipol, polarisabilitas dan ikatan hidrogen [7].

Ekstraksi cair-cair atau yang dikenal dengan ekstraksi solvent merupakan proses pemisahan fasa cair yang memanfaatkan perbedaan kelarutan zat terlarut yang akan dipisahkan antara larutan asal dan pelarut pengekstrak (solvent). Aplikasi ekstraksi cair-cair terbagi menjadi dua kategori yaitu aplikasi yang bersaing langsung dengan operasi pemisahan lain dan aplikasi yang tidak mungkin dilakukan oleh operasi pemisahan lain. Apabila ekstraksi cair-cair menjadi opersai pemisahan yang bersaing dengan operasi pemisahan lain, maka biaya akan menjadi tolak ukur yang sangat penting[8]. 

Prinsip dasar ekstraksi cair-cair ini melibatkan pengontakan suatu larutan dengan pelarut (solvent) lain yang tidak saling melarut (immisible) dengan pelarut asal yang mempunyai densitas yang berbeda sehingga akan terbentuk dua fasa beberapa saat setelah penambahan solvent. Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan massa dari pelarut asal ke pelarut pengekstrak (solvent). Perpindahan zat terlarut ke dalam pelarut baru yang diberikan, disebabkan oleh adanya daya dorong (dirving force) yang muncul akibat adanya beda potensial kimia antara kedua pelarut. Sehingga proses ektraksi cair-cair merupakan proses perpindahan massa yang berlangsung secara difusional[8].

Proses ekstraksi cair-cair berlangsung pada suatu alat yang dirancang sedemikian rupa sehingga mempunyai luas permukaan yang mencukupi untuk terjadinya kontak antar fasa-fasa yang terlibat (fasa kontinyu yang berisi zat terlarut dan fasa dispersi) sehingga distribusi komposisi dalam kedua fasa menjadi lebih sempurna dan berhasil dengan baik[8].

Partisi menggunakan dua pelarut tak campur yang ditambahkan ke dalam ekstrak, hal ini dapat dilakukan secara terus-menerus dengan menggunakan dua pelarut tak bercampur yang kepolarannya meningkat. Partisi biasanya melalui dua tahap : (1) air/petroleum eter ringan (heksana) untuk menghasilkan fraksi nonpolar dilapisan organik; (2) air/diklorometan atau air/kloroform atau air /etil asetat untuk membuat fraksi agak polar dilapisan organik. Lapisan berair yang terasa akan mengandung bahan alam larut-air yang polar. Ini merupakan metode pemisahan yang mudah dan mengandalkan kelaruta bahan alam dan bukan interaksi fisik dengan medium lain. Partisi dapat memberikan pemisahan yang sangat baik, terutama untuk senyawa-senyawa yang memiliki kelarutan yang sangat berbeda[9].

Proses penguapan atau evaporasi adalah proses pemisahan uap air dalam bentuk murni dari suatu campuran berupa larutan (cairan) yang mengandung air dalam jumlah yang relatif banyak[10].

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • a. Batang pengaduk
  • b. Botol vial
  • c. Gegep
  • d. Gelas ukur
  • e. Pipet tetes
  • f. Tabung reaksi
  • g. Timbangan analitik

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  • a. Akuades
  • b. Aluminium foil
  • c. Ekstrak daun nilam
  • d. Etanol
  • e. Etil asetat
  • f. N-heksan
  • g. Tisue

3. Uraian Bahan
a. N-heksan (FI III : 53)
Nama : n-heksana
Berat molekul : 86.18 g/mol
Rumus molekul : C6H14
Pemerian : Cairan tak berwarna, dapat dibakar
Kegunaan : Pelarut organik

b. Etil asetat (FI III : 41)
Nama resmi : Acidum aceticum
Nama lain : Cuka
Berat molekul : 60,05 g/mol
Rumus molekul : C2H4O2
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Khasiat : zat tambahan.

c. Etanol (FI III : 56)
Nama Resmi : Etil Alkohol / etanol
Nama Lain : Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol absolut
Berat molekul : 46,07 g/mol
Rumus Molekul : C2H5OH
Pemerian : Cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 
Kegunaan : Sebagai pelarut.

d. Akuades (FI III : 96)
Nama Resmi : Aqua destilata.
Nama Lain : Air suling
Rumus Molekul : H2O
Berat molekul : 18
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : sebagai pelarut.

3. Uraian Tanaman
1. Klasifikasi 
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Sub Divisio : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Subkelas : Asteridae
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Pogostemon
Species : Pogostemon cablin Benth.

2. Morfologi
Tanaman nilam adalah tanaman yang memiliki akar serabut yang wangi, memiliki daun halus beludru, dan agar membulat lonjong seperti jantung serta berwarna pucat. Bagian bawah dauan dan ranting berbulu halus, berbabatang kayu dengan diameter 10-20 mm membentuk segi empat, serta sebagian besar daun yang melekat pada ranting hampir selalu berpasangan satu sama lain. Jumlah cabang yang banyak dan bertingkat mengelilingin batang antara 3-5 cabang per tingkat.

3. Kandungan Kimia
Kandungan yang terdapat di dalam minyak nilam meliputi : patchouli alkohol, patchouli camphor, eugenol, benzaldehyde, cinnamic aldehyde, kariofilen, α-patchaolena, dan bulnessen (Santoso, 1990). 

D. PROSEDUR KERJA
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK

E. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN UJI KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK


F. PEMBAHASAN
Tanaman obat merupakan aset nasional yang perlu digali, diteliti, dikembangkan dan dioptimalkan pemanfaatannya. Keamanan dan mutu suatu tanaman obat belum banyak didukung oleh penelitian ilmiah. Pengembangan penggunaan tanaman obat semakin pesat dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kembali ke alam (back to nature) dengan memanfaatkan obat-obat alami. Disamping itu, efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obat tradisional relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan obat-obat dari bahan kimia. 

Bahan alam yang sering digunakan sebagai obat tradisional salah satunya adalah nilam. Nilam merupakan suatu jenis tanaman penghasil minyak atsiri yang cukup penting. Minyak nilam dalam industri farmasi biasanya digunakan sebagai antiinflamasi, antidepresi, diuretik, antifungi dan antibakteri. Nilam juga mengandung senyawa-senyawa metabolit sekunder oleh karena itu dikakukan uji kandungan kimia terhadap daun nilam untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terdapat di tanaman nilam.

Pada pengujian kandungan kimia tanaman nilam terlebih dahulu dilakukan partisi ekstrak. Partisi ekstrak (ekstraksi cair-cair) adalah proses pemisahan zat terlarut di dalam dua macam zat pelarut yang tidak saling bercampur, dengan kata lain perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik dan pelarut air. Hal tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang dapat larut dalam air dan ada pula yang dapat terlarut dalam pelarut organik. Tujuan dilakukannya partisi yaitu untuk memisahkan komponen kimia dari sampel berdasarkan tingkat kepolarannya. 

Prinsip dari proses partisi yaitu digunakannya dua pelarut yang tidak saling bercampur untuk melarutkan zat-zat yang ada dalam ekstrak sehingga akan terbentuk dua fasE. Ekstrak yang digunakan dalam percobaan ini adalah ekstrak daun nilam (Pogostemon cablin Benth.). Pelarut yang digunakan yaitu etanol, n-heksan dan etil asetat dan air.

Langkah pertama partisi ekstrak yaitu ekstrak dilarutkan dengan etanol dan di partisi dengan menggunakan pelarut non polar (n-heksan) dan dikocok pada satu arah hingga terlihat adanya dua lapisan, dimana lapisan atas adalah lapisan n-heksan, sedangkan lapisan bawah adalah lapisan ekstrak nilam. Hal ini disebabkan karena ekstrak nilam memiliki massa jenis yang lebih besar daripada n-heksan. Penambahan n-heksan disebabkan karena n-heksan dapat menarik senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak yang bersifat nonpolar. Proses partisi menggunakan n-heksan dilakukan 3 kali untuk meningkatkan jumlah komponen senyawa yang larut dalam n-heksan (senyawa non polar). 

Senyawa tidak larut n-heksan kemudian dipartisi dengan menggunakan etil asetat., dengan melakukan proses yang sama dengan penggunaan pelarut n-heksan. Penambahan pelarut etil asetat bertujuan untuk menarik senyawa-senyawa yang bersifat semipolar. Tetapi setelah penambahan etil asetat tidak terbentuk dua lapisan karena ekstrak daun nilam memiliki sifat polar yang lebih besar sehingga dilakukan pemisahan kembali dengan penambahan etanol dan air. Penambahan etanol dan air ini berfungsi untuk lebih memperjelas pemisahan antara dua pelarut yang digunakan sehingga diperoleh fraksi larut etanol, n-heksan dan etil asetat. Kemudian dilakukan uji kandungan kimia ekstrak teradap fraksi larut etanol dan etil asetat. Pengujian yang dilakukan adalah uji kandungan senyawa alkaloid, flavonoid,saponin, terpenoid dan tanin.

Uji kandungan kimia yang pertama dilakukan adalah uji alkaloid. Alkaloid merupakan senyawa bersifat basa, mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya berwarna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal tapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotin) pada suhu kamar. Uji alkaloid pada fraksi etil asetat dan fraksi etanol dilakukan dengan pencampuran alkaloid, HCl dan pereaksi dragendorf. Penambahan HCl ini berfungsi untuk membentuk garam alkaloid, karena alkaloid yang bersifat basa dapat larut dalam pelarut yang bersifat asam sedangkan pereaksi dragendorff dapat mengendapkan alkaloid karena dalam senyawa alkaloid terdapat gugus nitrogen yang memiliki satu pasang elektron bebas menyebabkan senyawa alkaloid bersifat nukleofilik (basa). Oleh karena itu, senyawa alkaloid mampu mengikat ion logam berat (Dragendorff) yang mempunyai muatan positif sehingga menghasilkan warna jingga. Hasil yang diperoleh dari penambahan HCl dan pereaksi dragendorf pada fraksi etil asetat dan fraksi etanol yaitu tidak menghasilkan warna jingga, sehingga pada tanaman nilam tidak terdapat senyawa alkaloid. 

Uji kandungan kimia yang kedua dilakukan adalah uji flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar, mengandung 15 atom karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatis yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga. Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida. Uji flavonoid pada fraksi etil asetat dan fraksi etanol dilakukan dengan pencampuran flavonoid dan HCl. Penambahan HCl bertujuan untuk menghidrolisis flavonoid menjadi aglikonnya, yaitu dengan menghidrolisis O-glikosil. Glikosil akan tergantikan oleh H+dari asam karena sifatnya yang elektrofilik. Terbentuknya warna merah,kuning atau jingga menunjukkan adanya flavonoid dalam sampel. Hasil yang diperoleh dari penambahan HCl pada fraksi etil asetat yaitu tidak terdapat flavonoid sedangkan pada fraksi etanol positif terdapat flavonoid karena menghasilkan warna merah.

Uji kandungan kimia yang ketiga yaitu uji saponin. saponin adalah senyawa aktif permukaan kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi rendah sering menyebabkan heomolisis sel darah merah. Uji saponin pada fraksi etil asetat dan fraksi etanol dilakukan dengan pencampuran saponin dan air hangat. Tujuan penambahan air hangat ini adalah untuk membentuk busa. Hasil yang diperoleh yaitu positif mengandung saponin karena busanya tidak hilang.

G. KESIMPULAN
  1. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari laporan ini adalah sebagai berikut :
  2. Prinsip dasar uji kandungan kimia ekstrak yaitu Ekstrak diekstraksi dengan pelarut dan cara tertentu, kemudian dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola kromatogram yang jelas. Tujuan : Memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram (KLT, KCKT, KG). Nilai : Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu.
  3. Proses idenfikasi kandungn kimia ekstrak dari bahan alamm dapat dilakukan dengan menggunakan kromotografi lapis tips aaw menggunakan sinar ukatraviolet. 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Tudjuka Kurniawan , Sri Ningsih dan Bau Toknok., 2014, Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat Pada Kawasan Hutan Lindung Di Desa Tindoli Kecamatan Pamona Tenggara Kabupaten Poso, Warta Rimba, Vol.2, No.1.
  2. Aksara R, Weny J.A. Musa dan La Alio., 2013, Identifikasi Senyawa Alkaloid Dari Ekstrak Metanol Kulit Batang Mangga (Mangifera indica L), Jurnal Entropi, Vol.8, No.1.
  3. Simaremare Eva Susanty., 2014, Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Gatal (Laportea Decumana (Roxb.) Wedd), Pharmacy, Vol.11 No. 01.
  4. Mukhriani., 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif, Jurnal Kesehatan, Vol.7, No.2.
  5. Irawan, B. dan Bakti J., 2010, Peningkatan Mutu Minyak Nilam Dengan Ekstraksi Dan Destilasi Pada Berbagai Komposisi Pelarut, Seminar Rekayasa Kimia dan Proses, ISSN : 1411-4216.
  6. Dewanti, S. dan Teguh W., 2011, Antibacteri Activity Of Bay Leaf Infuse (Folia Syzygium Polyanthum Wight) to Escherichia Coli In-Vitr, Jurnal Medika Planta, Vol. 1 No. 4.
  7. Widyawati, Paini S., C Hanny Wijaya, Peni Suprapti Harjosworo dan Dondin Sajuthi, 2010, Pengaruh Ekstraksi Dan Fraksinasi Terhadap Kemampuan Menangkap Radikal Bebas Dpph (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil) Ekstrak Dan Fraksi Daun Beluntas (Pluchea Indica Less), Seminar Rekayasa Kimia Dan Proses, Universitas Diponegoro Semarang.
  8. Mirwan Agus., 2013, Keberlakuan Model Hb-Gft Sistem N-Heksana – Mek – Air Pada Ekstraksi Cair-Cair Kolom Isian, Konversi, Vol.2, No.1.
  9. Heinrich, M., J. Barnes, Simon G., dan E. M. W., Farmakognosi dan Fitoterapi, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
  10. Setyanto, N. W., R. Himawan, Z. D., Endra Y. A., Puteri R. M. S., Kurnia N, 2012, Perancangan Alat Pengering Mie Ramah Lingkungan, Jurnal Rekayasa Mesin Vol.3, No. 3, ISSN 0216-468X.