LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO) - ElrinAlria
LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK FARMASI 
PERCOBAAN VI
UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)

A. Tujuan Percobaan 
Adapun tujuan pada percobaan ini, yaitu: 
  1. Mempelajari dan memperkenalkan salah satu metode identifikasi senyawa berdasarkan perbedaan gugus fungsi. 
  2. Memberi pemahaman identifikasi secara kimia senyawa golongan amina, amida dan nitro. 

B. Landasan Teori 
Test karateristik senyawa kimia untuk mendeteksi senyawa-senyawa ini jarang dilakukan. Biasanya dilakukan dengan penentuan gugus fungsional dengan menggunakan spektroskopi inframerah, analisis unsur dan tes kelarutan. Tes reaksi yang dapat dilakukan untuk menunjukan adanya gugus fungsi tersebut salah satunya adalah tes CuSO4 atau dikenal dengan tes biuret. Tes ini dipakai untuk menunjukkan adanya amina yang larut dalam air dan mempunyai berat molakul rendah. Hasil tes ini positif bila terbentuk warna biru atau hijau kebiru-biruan (Anwar, 1994). 

Dalam menentukan identifikasi senyawa organik yang belum diketahui perlu dilakukan pemisahan dan pemurnian komponen senyawa campuran. Dalam uji karateristik kimia digunakan pereaksi tertentu yang dapat bereaksi secara selektif dengan gugus fugsional organik. Hasil reaksi ini diharapkan menghasilkan perubahan yang dapat dengan mudah diamati (seperti dihasilkannya endapan berwarna, timbulnya gas, dan lain-lain). Tes dikatakan positif apabila terjadi reaksi yang diharapkan pada gugus fungsional yang terjadi (Natsir, 2004). 

Amina dapat dianggap dianggap sebagai turunan dengan menganti satu, dua atau tiga hidrogen dari amonia dengan organik. Seperti amonia, amina bersifat basa. Pada kenyataannya amonia adalah jenis basa organik penting diatom. Amina digolongkan menjadi amina primer, amina sekunder, dan amina tersier, tergantung apakah satu, dua atau tiga gugus organik yang melekat pada nitrogen. Gugus R pada struktur ini dapat berupa alkil dan aril dan kedua gugus tersebut dapat berbeda atau satu sama lain. Sama halnya dengan amonia, amonia membentuk larutan basa (alkali) dengan air. Amina juga dapat bereaksi dengan asam kuat membentuk garam alkalamonium (Hart, 1983). 

Suatu amida adalah suatu senyawa yang memiliki sutu nitrogen yang trivalen yang terikat pada suatu gugus karbonil. Amida disintesis dari derivat asam karboksilat dan amonia atau amina yang sesuai. Suatu amida mengandung nitrogen yang mempunyai sepasang elektron yang menyendiri suatu orbital terisi. Amida merupakan basa sangat lemah. Salah satu senyawa yang berhubungan dengan amida adalah urea (Fessenden, 1999). 

Turunan senyawa alpha asam amino sebagai amida maupun poliamida dengan berbagai asam lemak dapat dimanfaatkan sebagai bahan antimikroba dan surfaktan. Turunan asam lemak dengan asam amino tersebut telah banyak dikembangkan sebagai antimikroba yang memberikan efek yang positif dan efektif terhadap jenis mikroba seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas, aeruginosa, Microccus luteus, Bacillus cerceus, dan candida albicans melakukan amidasi langsung melalui pemanasan antara asam karbosilat dengan senyawa amin yaitu reaksi antara asam azelat dengan urea menghasilkan senyawa amida yang berguna sebagai surfaktan (Budijanto, 2002) dan reaksi antara dodekilamania dengan asam ß-hidroksi pelargonat yang merupakan turunan asam azelat menghasilkan dodekil ß-hidroksi pelargonamida yang berguna sebagai zat anti penuaan dan anti keriput dalam industri kosmetika.

C. Alat dan Bahan 
1. Alat 
  • Tabung reaksi 
  • Gelas kimia 
  • Pipet tetes 
  • Elektromantel 
  • Batang pengaduk 
  • Kertas lakmus 

2. Bahan 
  • Larutan 10% CuSO4
  • Padatan urea
  • Asetamida
  • NaOH
  • H2SO4
  • Akuades 

D. Prosedur Kerja 
LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)


LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)


E. Hasil Pengamatan 
1. Reaksi oksidasi dengan asam kromat 
LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)

F. Pembahasan 
Dalam uji karateristik kimia digunakan pereaksi tertentu yang dapat bereaksi secara selektif dengan gugus fugsional organik. Hasil reaksi ini diharapkan menghasilkan perubahan yang dapat dengan mudah diamati seperti dihasilkannya endapan berwarna, timbulnya gas, perubahan suhu dan lain-lain. Tes dikatakan positif apabila terjadi reaksi yang diharapkan pada gugus fungsional yang terjadi.

Pada percobaan ini salah satu uji yang dilakukan adalah uji dengan tembaga sulfat, dengan senyawa yang digunakan adalah metil amin. Perubahan warna yang terjadi dari biru menjadi ungu disebabkan karena terbentuknya Cu(NH2)2. 

Pada uji karateristik asetamida dan urea yang merupakan amida, dapat larut dalam air. Hal ini disebabkan karena dalam strukturnya asetamida dan urea mengandung nitrogen yang mempunyai sepasang elektron bebas dalam suatu orbital nitrogen. Elektron bebas tersebut menyebabkan penyebaran muatan-muatannya tidak merata dan memiliki momen dipol yang lebih besar dari pada nol. Karena momen dipol yang lebih besar dari nol tersebut maka amida digolongkan sebagai senyawa yang polar dan berdasarkan persamaan sifat kepolaran dengan air sehingga keduanya dapat larut. 

Suatu amida dapat mengalami hidrolisis oleh asam kuat dan basa kuat melalui pemanasan. Pada hidrolisis dengan basa kuat, asetamida dan urea dengan penambahan larutan NaOH yang dipanaskan, struktur senyawa keduanya yang merupakan suatu amida akan berubah menjadi nitril, yaitu senyawa yang mengandung gugus –C-N dan melepas gas NH3. Gas NH3 ini bersifat basa, sehingga ketika melewati kertas lakmus biru tidak mengalami perubahan warna. 

Hal serupa terjadi pada hidrolisis dengan asam kuat. Asetamida dan urea pada penambahan larutan H2SO4 yang dipanaskan, struktur senyawa keduanya yang merupakan suatu amida akan berubah menjadi nitril, yaitu senyawa yang mengandung gugus –C-N dan terbentuk HSO4-. Pada uji ini uap yang dihasilkan bersifat asam, sehingga ketika melewati kertas lakmus biru mengakibatkan perubahan warna menjadi merah.

G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 
  1. Identifikasi senyawa organik dilakukan untuk mengetahui senyawa-senyawa organik tertentu berdasarkan perbedaan gugus fungsi dengan mereaksikan terhadap pereaksi tertentu.
  2. Untuk mengetahui sifat kimia dan fisika dari suatu senyawa organik, maka perlu dilakukan uji karateristik kimia dengan penambahan pereaski-pereaksi tertentu. 
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., 1994, Pengantar Praktikum Kimia Organik. UGM, Yogyakarta. 

Fessenden, R.J dan Fessenden J.S., 1999, Dasar-dasar Kimia Organik, Jilid I, Erlangga, Jakarta. 

Hart, H., 1983, Kimia Organik. Erlangga, Jakarta. 

Natsir, M., 2004. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Universitas Haluoleo, Kendari

Sahidin, 2009, Penuntun Praktikum Kimia organik I, Unhalu, Kendari.

LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)

LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK FARMASI 
PERCOBAAN VI
UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)

A. Tujuan Percobaan 
Adapun tujuan pada percobaan ini, yaitu: 
  1. Mempelajari dan memperkenalkan salah satu metode identifikasi senyawa berdasarkan perbedaan gugus fungsi. 
  2. Memberi pemahaman identifikasi secara kimia senyawa golongan amina, amida dan nitro. 

B. Landasan Teori 
Test karateristik senyawa kimia untuk mendeteksi senyawa-senyawa ini jarang dilakukan. Biasanya dilakukan dengan penentuan gugus fungsional dengan menggunakan spektroskopi inframerah, analisis unsur dan tes kelarutan. Tes reaksi yang dapat dilakukan untuk menunjukan adanya gugus fungsi tersebut salah satunya adalah tes CuSO4 atau dikenal dengan tes biuret. Tes ini dipakai untuk menunjukkan adanya amina yang larut dalam air dan mempunyai berat molakul rendah. Hasil tes ini positif bila terbentuk warna biru atau hijau kebiru-biruan (Anwar, 1994). 

Dalam menentukan identifikasi senyawa organik yang belum diketahui perlu dilakukan pemisahan dan pemurnian komponen senyawa campuran. Dalam uji karateristik kimia digunakan pereaksi tertentu yang dapat bereaksi secara selektif dengan gugus fugsional organik. Hasil reaksi ini diharapkan menghasilkan perubahan yang dapat dengan mudah diamati (seperti dihasilkannya endapan berwarna, timbulnya gas, dan lain-lain). Tes dikatakan positif apabila terjadi reaksi yang diharapkan pada gugus fungsional yang terjadi (Natsir, 2004). 

Amina dapat dianggap dianggap sebagai turunan dengan menganti satu, dua atau tiga hidrogen dari amonia dengan organik. Seperti amonia, amina bersifat basa. Pada kenyataannya amonia adalah jenis basa organik penting diatom. Amina digolongkan menjadi amina primer, amina sekunder, dan amina tersier, tergantung apakah satu, dua atau tiga gugus organik yang melekat pada nitrogen. Gugus R pada struktur ini dapat berupa alkil dan aril dan kedua gugus tersebut dapat berbeda atau satu sama lain. Sama halnya dengan amonia, amonia membentuk larutan basa (alkali) dengan air. Amina juga dapat bereaksi dengan asam kuat membentuk garam alkalamonium (Hart, 1983). 

Suatu amida adalah suatu senyawa yang memiliki sutu nitrogen yang trivalen yang terikat pada suatu gugus karbonil. Amida disintesis dari derivat asam karboksilat dan amonia atau amina yang sesuai. Suatu amida mengandung nitrogen yang mempunyai sepasang elektron yang menyendiri suatu orbital terisi. Amida merupakan basa sangat lemah. Salah satu senyawa yang berhubungan dengan amida adalah urea (Fessenden, 1999). 

Turunan senyawa alpha asam amino sebagai amida maupun poliamida dengan berbagai asam lemak dapat dimanfaatkan sebagai bahan antimikroba dan surfaktan. Turunan asam lemak dengan asam amino tersebut telah banyak dikembangkan sebagai antimikroba yang memberikan efek yang positif dan efektif terhadap jenis mikroba seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas, aeruginosa, Microccus luteus, Bacillus cerceus, dan candida albicans melakukan amidasi langsung melalui pemanasan antara asam karbosilat dengan senyawa amin yaitu reaksi antara asam azelat dengan urea menghasilkan senyawa amida yang berguna sebagai surfaktan (Budijanto, 2002) dan reaksi antara dodekilamania dengan asam ß-hidroksi pelargonat yang merupakan turunan asam azelat menghasilkan dodekil ß-hidroksi pelargonamida yang berguna sebagai zat anti penuaan dan anti keriput dalam industri kosmetika.

C. Alat dan Bahan 
1. Alat 
  • Tabung reaksi 
  • Gelas kimia 
  • Pipet tetes 
  • Elektromantel 
  • Batang pengaduk 
  • Kertas lakmus 

2. Bahan 
  • Larutan 10% CuSO4
  • Padatan urea
  • Asetamida
  • NaOH
  • H2SO4
  • Akuades 

D. Prosedur Kerja 
LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)


LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)


E. Hasil Pengamatan 
1. Reaksi oksidasi dengan asam kromat 
LAPORAN UJI KARATERISTIK SENYAWA KELOMPOK NITROGEN (AMINA, AMIDA DAN NITRO)

F. Pembahasan 
Dalam uji karateristik kimia digunakan pereaksi tertentu yang dapat bereaksi secara selektif dengan gugus fugsional organik. Hasil reaksi ini diharapkan menghasilkan perubahan yang dapat dengan mudah diamati seperti dihasilkannya endapan berwarna, timbulnya gas, perubahan suhu dan lain-lain. Tes dikatakan positif apabila terjadi reaksi yang diharapkan pada gugus fungsional yang terjadi.

Pada percobaan ini salah satu uji yang dilakukan adalah uji dengan tembaga sulfat, dengan senyawa yang digunakan adalah metil amin. Perubahan warna yang terjadi dari biru menjadi ungu disebabkan karena terbentuknya Cu(NH2)2. 

Pada uji karateristik asetamida dan urea yang merupakan amida, dapat larut dalam air. Hal ini disebabkan karena dalam strukturnya asetamida dan urea mengandung nitrogen yang mempunyai sepasang elektron bebas dalam suatu orbital nitrogen. Elektron bebas tersebut menyebabkan penyebaran muatan-muatannya tidak merata dan memiliki momen dipol yang lebih besar dari pada nol. Karena momen dipol yang lebih besar dari nol tersebut maka amida digolongkan sebagai senyawa yang polar dan berdasarkan persamaan sifat kepolaran dengan air sehingga keduanya dapat larut. 

Suatu amida dapat mengalami hidrolisis oleh asam kuat dan basa kuat melalui pemanasan. Pada hidrolisis dengan basa kuat, asetamida dan urea dengan penambahan larutan NaOH yang dipanaskan, struktur senyawa keduanya yang merupakan suatu amida akan berubah menjadi nitril, yaitu senyawa yang mengandung gugus –C-N dan melepas gas NH3. Gas NH3 ini bersifat basa, sehingga ketika melewati kertas lakmus biru tidak mengalami perubahan warna. 

Hal serupa terjadi pada hidrolisis dengan asam kuat. Asetamida dan urea pada penambahan larutan H2SO4 yang dipanaskan, struktur senyawa keduanya yang merupakan suatu amida akan berubah menjadi nitril, yaitu senyawa yang mengandung gugus –C-N dan terbentuk HSO4-. Pada uji ini uap yang dihasilkan bersifat asam, sehingga ketika melewati kertas lakmus biru mengakibatkan perubahan warna menjadi merah.

G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 
  1. Identifikasi senyawa organik dilakukan untuk mengetahui senyawa-senyawa organik tertentu berdasarkan perbedaan gugus fungsi dengan mereaksikan terhadap pereaksi tertentu.
  2. Untuk mengetahui sifat kimia dan fisika dari suatu senyawa organik, maka perlu dilakukan uji karateristik kimia dengan penambahan pereaski-pereaksi tertentu. 
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., 1994, Pengantar Praktikum Kimia Organik. UGM, Yogyakarta. 

Fessenden, R.J dan Fessenden J.S., 1999, Dasar-dasar Kimia Organik, Jilid I, Erlangga, Jakarta. 

Hart, H., 1983, Kimia Organik. Erlangga, Jakarta. 

Natsir, M., 2004. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Universitas Haluoleo, Kendari

Sahidin, 2009, Penuntun Praktikum Kimia organik I, Unhalu, Kendari.