MAKALAH EKOSISTEM MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA DI DAERAH PESISIR SULAWESI TENGGARA - ElrinAlria
MAKALAH EKOSISTEM MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA DI DAERAH PESISIR SULAWESI TENGGARA
MAKALAH EKOSISTEM MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA DI DAERAH PESISIR SULAWESI TENGGARA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sejak awal tahun 1990-an fenomena degradasi bio-geofisik sumber daya pesisir semakin berkembang dan meluas akibat pemanfaatan yang berlebihan yang menyebabkan hilangnya ekosistem mangrove, terumbu karang dan estuaria yang selanjutnya dapat mengganggu lingkungan biosfer wilayah pantai dan pesisir yang memiliki peran produksi yang besar.

Sekitar 75% dari luas wilayah nasional adalah berupa lautan. Salah satu bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan wilayah interaksi/peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang memiliki sifat dan ciri yang unik, dan mengandung produksi biologi cukup besar serta jasa lingkungan lainnya. Kekayaan sumber daya yang dimiliki wilayah tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung atau untuk meregulasi pemanfaatannya karena secara sektoral memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan ekonomi misalnya pertambangan, perikanan, kehutanan, industri, pariwisata dan lain-lain.

Sebelumnya banyak yang menganggap hutan mangrove seperti lahan terlantar yang tidak bermanfaat. Oleh karenanya lebih baik dikonversi menjadi areal tambak, perkebunan (kelapa sawit), misalnya, yang jelas hitungan keuntungannya. Praktek konversi mangrove yang umum dilakukan adalah menebang habis pepohonan mangrove sampai ke pinggir pantai. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tambak yang diusahakan dengan menebang habis hutan mangrove hanya produktif selama 3-4 tahun awal saja, setelahnya sudah tidak menguntungkan sehingga kemudian areal tersebut ditinggalkan begitu saja. Dampak kondisi ini adalah meningkatnya abrasi pantai, instrusi air laut dan berbagai dampak lainnya kerena pelindung alami pantai yang berupa tegakan hutan mangrove hilang. Kasus abrasi di pantai utara Jawa, pantai selatan Lampung merupakan bukti nyatanya, dimana pantai hilang dengan lebar lebih dari 10 m. Bisa dibayangkan luasnya pantai yang hilang atau pulau-pulau kecil, misalnya pulau Tapak Kuda di Langkat. 

Sumberdaya mangrove yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilihat dari dua tingkatan, yaitu tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer (primary biotic component). Sebelum membicarakan pemanfaatan secara lestari, akan terlebih dahulu digambarkan berbagai fungsi mangrove, lalu bentuk-bentuk pemanfaatan ril di lapangan apa adanya, kemudian baru bentuk pemanfaatannya yang lestari.

Hutan mangrove merupakan sumberdaya alam daerah tropika yang mempunyai manfaat ganda dengan pengaruh yang sangat luas ditinjau dari aspek sosial, ekonomis, dan ekologi. Besarnya peranan hutan atau ekosistem mangrove bagi kehidupan, dapat diketahui dari banyaknya jenis flora dan fauna yang hidup di dalam ekosistem perairan dan daratan yang membentuk ekosistem mangrove. Para ahli antara lain, Harger (1982), Hamilton & Snedaker (1984), Naamin (1990), Odum et al. (1982), dan Snedaker (1978) sependapat bahwa hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang unik, dengan berbagai macam fungsi, yaitu fungsi fisik, biologi, dan fungsi ekonomi atau produksi.

2.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini, yaitu:
  1. Apakah Definisi Mangrove? 
  2. Bagaimana kondisi mangrove di Indoensia? 
  3. Bagaimana ekosistem mangrove di daerah pesisir Sulawesi Tenggara? 
  4. Apakah Fungsi Mangrove? 
  5. Apakah Manfaat Mangrove? 
  6. Bagaimana pengelolaan mangrove? 

2.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini yaitu:
  1. Untuk mengetahui definisi mangrove. 
  2. Untuk menganalisa kondisi mangrove di Indonesia. 
  3. Untuk menganalisa ekosistem mangrove di daerah pesisir Sulawesi Tenggara. 
  4. Untuk mengetahui fungsi mangrove. 
  5. Untuk mengetahui manfaat mangrove 
  6. Untuk mengidentifikasi pengelolaan mangrove. 

2.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini yaitu:
1. Manfaat teoritis
Makalah ini dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang ekosistem mangrove dan pemanfaatannya di daerah pesisir Sulawesi Tenggara.

2. Manfaat bagi penulis
Penulis dapat menambah referensi pengetahuan untuk kedepan.

3. Manfaat bagi masyarakat
Masyarakat dapat lebih memahami pengetahuan tentang ekosistem mangrove dan pemanfaatannya di daerah pesisir Sulawesi Tenggara sehingga hutan mangrove dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Mangrove
Pengertian mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut. Hutan mangrove adalah tipe hutan yang secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, tergenang pada saat pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas lingkungan biotic dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove.

2.2 Kondisi Mangrove di Indonesia
Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua. Luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan dari 4,25 juta hektar pada tahun 1982 menjadi sekitar 3,24 juta hektar pada tahun 1987, dan tersisa seluas 2,50 juta hektar pada tahun 1993. Kecenderungan penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata, yaitu sekitar 200 ribu hektar/tahun. Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan konversi menjadi lahan tambak, penebangan liar dan sebagainya (Dahuri, 2002).

Ekosistem hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang tertinggi di dunia, seluruhnya tercatat 89 jenis. Beberapa jenis pohon yang banyak dijumpai di wilayah pesisir Indonesia adalah Bakau (Rhizophora. spp.), Api-api (Avicennia spp.), Pedada (Sonneratia spp.), Tanjang (Bruguiera spp.), Nyirih (Xylocarpus spp.), Tenger (Ceriops spp) dan, Buta-buta (Exoecaria spp.).

2.3 Ekosistem Mangrove di Daerah Pesisir Sulawesi Tenggara
Ekosistem Mangrove di daerah pesisir SULTRA jg memiliki keanekaragaman yang tinggi. Adapun jenis pohon yang bisa di temukan di wilayah pesisir ini antara lain: Bakau (Rhizophora sp.), Api-api (Avicennia sp.), Pedada (Sonneratia sp.), Tanjang (Bruguiera sp.), dan Nyirih (Xylocarpus sp).

2.4 Fungsi Mangrove
1. Fungsi Fisik
Secara fisik hutan mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi laut serta sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan lahan, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan dan gelombang dan angin kencang; mencegah intrusi garam (salt intrution) ke arah darat; mengolah limbah organik, dan sebagainya.

Hutan mangrove mampu meredam energi arus gelombang laut, seperti tergambar dari hasil penelitian Pratikto et al. (2002) dan Instiyanto et al. (2003). Pratikto et al. (2002) melaporkan bahwa di Teluk Grajagan – Banyuwangi yang memiliki tinggi gelombang tersebut sebesar 1,09 m, dan energi gelombang sebesar 1493,33 Joule, maka ekosistem mangrove di daerah tersebut mampu mereduksi energi gelombang sampai 60%, sehingga keberadaan hutan mangrove dapat memperkecil gelombang tsunami yang menyerang daerah pantai.

Istiyanto, Utomo dan Suranto (2003) menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora) memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun tersebut. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan dalam pertimbangan awal bagi perencanaan penanaman hutan mangrove bagi peredaman penjalaran gelombang tsunami di pantai.

Pasca tsunami 26 Desember 2004 yang melanda Asia dengan pusat di pantai barat Aceh terdapat fakta bahwa hutan mangrove yang kompak mampu melindungi pantai dari kerusakan akibat tsunami (Istiyanto et al., 2003, Pratikto et al. 2002, Dahdouh-Guebas, 2005, Onrizal, 2005, Sharma, 2005). Demikian juga hal sama dijumpai pada kawasan pantai dengan hutan pantai yang baik mampu meredam dampak kerusakan tsunami (WIIP, 2005)

Vegetasi mangrove juga dapat menyerap dan mengurangi pencemaran (polutan). Jaringan anatomi tumbuhan mangrove mampu menyerap bahan polutan, misalnya seperti jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap 300 ppm Mn, 20 ppm Zn, 15 ppm Cu (Darmiyati et al., 1995), dan pada daun Avicennia marina terdapat akumulasi Pb ³ 15 ppm, Cd ³ 0,5 ppm, Ni ³ 2,4 ppm (Saepulloh, 1995). Selain itu, hutan mangrove dapat mengendalikan intrusi air laut sebagaimana yang dilaporkan Hilmi (1998), yakni percepatan intrusi air laut di pantai Jakarta meningkat dari 1 km pada hutan mangrove selebar 0,75 km menjadi 4,24 km pada areal tidak berhutan.

2. Fungsi Biologis
Secara biologi hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai daerah berkembang biak (nursery ground), tempat memijah (spawning ground), dan mencari makanan (feeding ground) untuk berbagai organisme yang bernilai ekonomis khususnya ikan dan udang. Habitat berbagai satwa liar antara lain, reptilia, mamalia, hurting dan lain-lain. Selain itu, hutan mangrove juga merupakan sumber plasma nutfah.

Ekosistem hutan mangrove memiliki produktivitas yang tinggi. Produktivitas primer ekosistem mangrove ini sekitar 400-500 gram karbon/m2/tahun adalah tujuh kali lebih produktif dari ekosistem perairan pantai lainnya (White, 1987). Oleh karenanya, ekosistem mangrove mampu menopang keanekaragaman jenis yang tinggi. Daun mangrove yang berguguran diuraikan oleh fungi, bakteri dan protozoa menjadi komponen-komponen bahan organik yang lebih sederhana (detritus) yang menjadi sumber makanan bagi banyak biota perairan (udang, kepiting dan lain-lain) (Naamin, 1990).

Kerusakan mangrove di pantai Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara berdampak pada penurunan volume dan keragaman jenis ikan yang ditangkap (56,32% jenis ikan menjadi langka/sulit didapat, dan 35,36% jenis ikan menjadi hilang/tidak pernah lagi tertangkap). Konversi hutan mangrove di pantai Napabalano, Sulawesi Tenggara dilaporkan Amala (2004) menyebabkan berkurangnya secara nyara kelimpahan kepiting bakau (Scylla serrata). Hasil penelitian Onrizal et al. (2008) menunjukkan bahwa semakin bertambah umur mangrove hasil rehabilitasi akan meningkatkan populasi dan keragaman biota pesisir pantai.

3. Fungsi Ekonomi atau Fungsi Produksi
Mangrove sejak lama telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya (Saenger et al., 1983). Tercatat sekitar 67 macam produk yang dapat dihasilkan oleh ekosistem hutan mangrove dan sebagian besar telah dimanfaatkan oleh masyarakat, misalnya untuk bahan bakar (kayu bakar, arang, alkohol); bahan bangunan (tiang-tiang, papan, pagar); alat-alat penangkapan ikan (tiang sero, bubu, pelampung, tanin untuk penyamak); tekstil dan kulit (rayon, bahan untuk pakaian, tanin untuk menyamak kulit); makanan, minuman dan obat-obatan (gula, alkohol, minyak sayur, cuka); peralatan rumah tangga (mebel, lem, minyak untuk menata rambut); pertanian (pupuk hijau); chips untuk pabrik kertas dan lain-lain.

Menurut Saenger et al. (1983), hutan mangrove juga berperan dalam pendidikan, penelitian dan pariwisata. Bahkan menurut FAO (1982), di kawasan Asia dan Pasifik, areal mangrove juga digunakan sebagai lahan cadangan untuk transmigrasi, industri minyak, pemukiman dan peternakan. 

Dari kawasan hutan mangrove dapat diperoleh tiga macam manfaat. Pertama, berupa hasil hutan, baik bahan pangan maupun bahan keperluan lainnya. Kedua, berupa pembukaan lahan mangrove untuk digunakan dalam kegiatan produksi baik pangan maupun non-pangan serta sarana/prasarana penunjang dan pemukiman. Manfaat ketiga berupa fungsi fisik dari ekosistem mangrove berupa perlindungan terhadap abrasi, pencegah terhadap rembesan air laut dan lain-lain fungsi fisik.

Kerusakan hutan mangrove di Secanggang, menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 33,89% dimana kelompok yang paling besar terkena dampak adalah nelayan. Selain itu sekitar 85,4% masyrakat pesisir di kawasan tersebut kesulitan dalam berusaha dan mendapatkan pekerjaan dibandingkan sebelum kerusakan mangrove.

2.5 Manfaat Mangrove
Sumberdaya mangrove yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilihat dari dua tingkatan, yaitu tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer (primary biotic component), sebagai berikut :

1. Tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan.
Lahan tambak, lahan pertanian dan kolam garam
Di beberapa lokasi di Indonesia, seperti di pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, kawasan pantai Kalimantan, pantai Sulawesi, Bali, Nusa Tenggra dan pulau-pulau lainnya, banyak lahan mangrove dikonversi untuk lahan tambak, lahan pertanian dan kolam pembuatan garam. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengkonversian lahan mangrove menjadi jenis penggunaan lain seperti tersebut di atas dilakukan dengan tidak memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian ekosistem.

Sebenarnya dari sudut pandang ilmiah, lahan mangrove bisa dikonversi menjadi jenis penggunaan lain dalam proporsi dan pada lokasi yang tepat sesuai dengan persyaratan ekologis tumbuhnya mangrove dan persyaratan kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan yang direkomendasikan.

a. Lahan pariwisata
Beberapa potensi ekosistem mangrove yang merupakan modal penting bagi tujuan rekreasi adalah :
  1. Bentuk perakaran yang khas umum ditemukan pada beberapa jenis pohon mangrove, seperti akar tunjang (Rhizophora spp.), akar lutut (Bruguiera spp.), akar pasak (Sonneratia spp. dan Avicennia spp.), akar papan (Heritiera spp.), dan lain-lain. 
  2. Buahnya yang bersifat vivipar (buah berkecambah semasa masih menempel pada pohon) yang diperlihatkan oleh beberapa jenis pohon mangrove, seperti jenis-jenis yang tergolong suku Rhizophoraceae. 
  3. Adanya zonasi yang sering berbeda mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman (transisi dengan hutan rawa). 
  4. Berbagai jenis fauna dan flora yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, dimana jenis fauna dan flora tersebut kadang-kadang jenis endemik bagi daerah yang bersangkutan. 
  5. Atraksi adat istiadat tradisional penduduk setempat yang berkaitan dengan sumberdaya mangrove. 
  6. Saat ini, nampaknya hutan-hutan mangrove yang dikelola secara rasional untuk pertambakan/tambak tumpangsari, penebangan, pembuatan garam, dan lain-lain bisa menarik para wisatawan. 

Bentuk-bentuk kegiatan rekreasi yang dapat dikembangkan di hutan mangrove adalah berburu, memancing, berlayar, berenang, melihat atraksi berbagai satwa, fotografi, piknik dan berkemah, melihat atraksi adat istiadat tradisional penduduk setempat, dan lain-lain.

2. Tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer
a. Flora
Dalam skala komersial, berbagai jenis kayu mangrove dapat digunakan sebagai :
  1. Chips untuk bahan baku kertas terutama jenis Rhizophora spp. dan Bruguiera spp. 
  2. Penghasil industri papan dan plywood, terutama jenis Bruguiera spp. dan Heritiera littoralis. 
  3. Tongkat dan tiang pancang (scalfold) terutama jenis Bruguiera spp., Ceriops spp., Oncosperma sp., dan Rhizophora apiculata. 
  4. Kayu bakar dan arang yang berkualitas sangat baik. 

b. Fauna
Sebagian besar jenis fauna mangrove yang berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat adalah berupa berbagai jenis ikan, kepiting dan burung.

1. Ikan
Berdasarkan hasil penelitian para ahli ada lebih dari sekitar 52 jenis ikan yang hidup di habitat mangrove Indonesia. Dari berbagai jenis ikan tersebut ada enam jenis yang umum diketemukan, yaitu Mullet (Mugil cephalus), Snapper (anggota Lutjanidae), Milkfish (Chanos chanos), seabass (Lates calcarifer), Tilapia (Tillapia sp.), Mudskipper (Periothalmus spp.)

2. Udang dan kepiting
Ada sekitar 61 jenis udang dan kepiting yang hidup di habitat mangrove Indonesia, diantaranya jenis-jenis yang umum diketemukan di habitat tersebut, adalah : Uca spp. (fiddler crab), Sesarma spp., Scylla serata, Macrobrachium rosenbergii, Penaeus spp. Jenis udang, bandeng dan kepiting biasanya dibudidayakan oleh masyarakat dalam bentuk tambak, sedangkan jenis-jenis ikan lainnya dan Crustaceae serta moluska diperoleh oleh masyarakat melalui penangkapan.

3. Burung
Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan di berbagai lokasi dilaporkan bahwa ada sekitar 51 jenis burung yang berasosiasi dengan mangrove, diantaranya yang umum ditemukan adalah pecuk (Anhinga sp. dan Phalacocorax sp.), cangak dan blekok (Ardea sp.), bangau/kuntul (Egretta sp. dan Leotoptilos sp.). Masyarakat sekitar mangrove pada waktu-waktu tertentu berburu burung dan memungut telur burung untuk bahan makanan atau untuk dijual, seperti yang terjadi di hutan mangrove Pulau Rambut (Departemen Kehutanan, 1994), Karang Gading dan Langkat (Hanafiah-Oeliem et al. 2000). Hal yang sama juga penulis temui di berbagai kawasan mangrove seperti di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua dan pulau-pulau lainnya.

4. Lebah madu
Hutan mangrove merupakan salah satu tempat bersarang yang baik bagi lebah madu, sehingga mangrove sangat potensial untuk menghasilkan madu. Umumnya, lebah madu membuat sarang pada pohon Avicennia spp, Ceriops spp., dan Excoecaria agallocha. Dengan adanya lebah madu membuat sarang di pohon-pohon mangrove akan sangat menguntungkan bagi masyarakat di sekitar kawasan mangrove, yakni dapat memungut madu. Selain memungut madu dari alam dari alam, masyarakat juga bisa mendapatkannya dengan beternak lebah madu.

Berdasarkan kegunaan produk yang dihasilkannya maka produk-produk ekosistem mangrove dikelompokkan menjadi dua yaitu : produk langsung (Tabel 2) dan produk tidak langsung (Tabel 3). Beberapa produk mangrove yang saat ini sudah diusahakan secara meluas dan komersial adalah sebagai berikut :

(a) Arang
Arang digunakan secara tradisional untuk memasak sehari-hari. Di beberapa negara berkembang arang tersebut telah diusahakan secara komersial dan diekspor, contoh : Rhizophora mucronata dan Rh. apiculata (nilai kalori kayu 7.300 kal/g).

(b) Kayu Bakar
Kayu bakar dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di sekitar pesisir untuK keperluan sehari-hari, contoh : Ceriops, Avicennia, Xylocarpus, Heritiera, Excoecaria, Bruguiera dan Lumnitzera .

(c) Ekstraksi Tanin
Tanin adalah produk hutan mangrove yang dapat dipakai untuk keperluan pabrik tinta, plastik dan lem. Selain itu juga tanin digunakan untuk mencelup jala ikan dan menyamak bahan dari kulit, contoh : kulit batang Rhizophora (kandungan tanin 27 %), Bruguiera gymnorrhiza (kandungan tanin 41 %), dan Ceriops tagal (kandungan tanin 46 %). 

(d) Destilasi Kayu
Kegiatan destilasi kayu umumnya dilakukan di negara Thailand, alat destilasinya terdapat di Ranong, pesisir barat Thailand. Bahan mentah destilasi ini diperoleh dari lubang-lubang angin alat pembakaran arang. Bahan mentah destilasi ini mengandung pyroligneous yang bisa dipecah menjadi asam asetat, metanol dan tar dengan perbandingan 5.5 %, 3.4 % dan 6.6 % berturut-turut.

(e) Kayu Chips
Kayu chips ini merupakan bahan baku untuk pembuatan rayon, negara yang membuat kayu chips dari mangrove adalah Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina dengan tujuan ekspor terutama ke Jepang.

2.6 Pengelolaan Mangrove
Pengelolaan mangrove yang dimaksud lebih mengacu kepada model pengelolaan yang tertuang dalam Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove Indonesia (2004), untuk memudahkan dalam memahami bentuk pengelolaan yang dilakukan, maka pengelolaan mangrove diklasifikasikan kedalam dua bentuk pengelolaan berdasarkan ketersediaan sumberdaya yaitu pengelolaan terhadap Hasil Hutan Kayu (HHK) dan Hasil Hutan Non Kayu (HHNK). 

1. HHK (Hasil Hutan Kayu) 
Hasil hutan kayu merupakan nilai manfaat langsung (Direct use value) yang diberikan oleh ekosistem mangrove kepada masyarakat pengguna sumberdaya ekosistem mangrove terutama hasil kayu. Beberapa bentuk hasil kayu yang dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan dapat dilihat pada tabel pemanfaatan jenis vegetasi mangrove yangerpotensi untuk dimanfaatkan kayunya berdasarkan Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove 2004

2. HHNK (Hasil Hutan Non Kayu) 
Hasil hutan non kayu umumnya merupakan hasil hutan yang memberikan nilai manfaat tidak langsung (Indirect Use Value) dan hanya sebagai hasil ikutan dari kayu, namun tidak banyak orang atau pihak yang menghitung besarnya nilai ekonomi yang bisa dihasilkan dari manfaat tidak langsung mangrove. Para ahli ekonomi sumberdaya hutan mengklasifikasikan manfaat hutan kedalam beberapa kategori. Beberapa manfaat tidak langsung pada ekosistem mangrove diantarnya:

• Madu 
Beberapa areal ekosistem mangrove memiliki potensi sebagai habitat lebah penghasil madu. Namun potensi ini oleh sebagain masyarakat belum mengetahui teknis pengelolaannya. Vegetasi yang dijadikan sebagai tempat bersarang lebah diantarnya Aviceniia sp., Ceriops spp. dan Excocaria agallocha. 

• Tumbuhan Obat
Ekosistem mangrove memiliki beberapa jenis tumbuhan yang bermanfaat untuk dijadikan sebagai obat meskipun keberadaanya tidak semua masyarakat mengetahui dan teknis pemanfaatannya masih tradisional. Sampai saat ini belum ada penelitian khusus mengenai hal itu, informasi yang diperoleh akan sangat berguna dan sangat membantu dalam proses pengelolaan ekosistem mangrove yang saat ini sedang berjalan. Beberapa jenis tumbuhan mangrove yang berguna sebagai obat dapat dilihat pada tabel dibawah ini berdasarkan Suparpnaibool dan Kongsang Chai (1982); FAO (1985) dalam Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional (2004)

• Tanin 
Tanin merupakan bahan yang diekstrak dari kulit kayu beberapa jenis mangrove tertentu, yang memiliki beragam manfaat antara lain untuk bahan pembuatan tinta, plastik dan perekat, bahan pencelup untuk pcngawet jala ikan serta bahan penyamak kulit, secara tradisional di Asia Tenggara, tanin ini hanya digunakan oleh nelayan sebagai suatu bahan clup untuk mengawetkan jala ikannya. Penggunaan tanin untuk keperluan Icrsebut hampir punah sejak munculnya jala nilon. Ekstraksi tanin di Indonesia tetap dalam skala kecil, sedangkan di negara-negara Amerika Latin pengambilan tanin dalam skala besar terutama dari kulit kayu Rhizophora spp. terus berlangsung. 

• Produk Nipah
Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang mempunyai banyak manfaat, yang umum di temukan pad a ekosistem mangrove. Jenis nipah ini mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat pantai di Indonesia dan di Asia Tenggara. Suku Bajo, Bugis dan Jawa menggunakan daun nipah tua untuk tikar, keranjang, tas, topi dan jas hujan, sedangkan daunnya yang masih muda digunakan untuk pembungkus rokok (di Langkat) dan pembungkus makanan. Biji buahnya yang keras di bakar sebagai bahan makanan, atau dicacah dan direbus untuk meghasilkan garam. Kulit buahnya yang mudah dapat langsung dimakan, direbus atau langsung dapat dibuat manisan. Sedangkan cairan yang manis yang keluar dari bekas potongan tangkai di buat minuman yang beralkohol, cuka dan gula nipah. di Sumatera Selatan, air dari nipah digunakan untuk pembuatan tuak. Produksi alkohol mumi dari 1 ha nipah dapat mencapai 3000 liter dan dengan taksiran 1 juta ha rawa nipah di Indonesia terutama di Kalimantan, Sumatera, dan Irian Jaya, maka potensi ekonomi produksi alkohol murni sangat menjanjikan 

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
  1. Mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut. 
  2. Beberapa jenis pohon yang banyak dijumpai di wilayah pesisir Indonesia adalah Bakau (Rhizophora. spp.), Api-api (Avicennia spp.), Pedada (Sonneratia spp.), Tanjang (Bruguiera spp.), Nyirih (Xylocarpus spp.), Tenger (Ceriops spp) dan, Buta-buta (Exoecaria spp.). 
  3. Ekosistem Mangrove di daerah pesisir SULTRA yang bisa di temukan di wilayah pesisir ini antara lain: Bakau (Rhizophora sp.), Api-api (Avicennia sp.), Pedada (Sonneratia sp.), Tanjang (Bruguiera sp.), dan Nyirih (Xylocarpus sp). 
  4. Fungsi mangrove terbagi menjadi fungsi hutan, fungsi bilogis dan fungsi ekonomi atau fungsi produksi. 
  5. Manfaat mangrove meliputi sumberdaya mangrove yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilihat dari dua tingkatan, yaitu tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer (primary biotic component). 
  6. Pengelolaan mangrove diklasifikasikan kedalam dua bentuk pengelolaan berdasarkan ketersediaan sumberdaya yaitu pengelolaan terhadap Hasil Hutan Kayu (HHK) dan Hasil Hutan Non Kayu (HHNK). 

3.2 Saran
Seharusnya hutan mangrove dikelola dan dilestarikan dengan baik karena memberikan dukungan bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir melalui fungsi fisik, biologi dan ekonomi sehingga bias dimanfaatkan secara lestari. Pada sisi lain, kerusakan hutan mangrove justru mengancam kehidupan masyarakat pesisir, seperti hilangnya ikan, udang, kepiting dan berbagai biota air lainnya, abrasi pantai, intrusi air laut dan berbagai dampak negative lainnya. 

Diharapkan kita menjadi bagian dari yang melakukan perbaikan dan terus berupaya menularkan kepada yang lain sehingga semakin bertambah banyak orang yang berperan dalam perbaikan ekosistem mangrove bagi kehidupan manusia.

MAKALAH EKOSISTEM MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA DI DAERAH PESISIR SULAWESI TENGGARA

MAKALAH EKOSISTEM MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA DI DAERAH PESISIR SULAWESI TENGGARA
MAKALAH EKOSISTEM MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA DI DAERAH PESISIR SULAWESI TENGGARA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sejak awal tahun 1990-an fenomena degradasi bio-geofisik sumber daya pesisir semakin berkembang dan meluas akibat pemanfaatan yang berlebihan yang menyebabkan hilangnya ekosistem mangrove, terumbu karang dan estuaria yang selanjutnya dapat mengganggu lingkungan biosfer wilayah pantai dan pesisir yang memiliki peran produksi yang besar.

Sekitar 75% dari luas wilayah nasional adalah berupa lautan. Salah satu bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan wilayah interaksi/peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang memiliki sifat dan ciri yang unik, dan mengandung produksi biologi cukup besar serta jasa lingkungan lainnya. Kekayaan sumber daya yang dimiliki wilayah tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung atau untuk meregulasi pemanfaatannya karena secara sektoral memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan ekonomi misalnya pertambangan, perikanan, kehutanan, industri, pariwisata dan lain-lain.

Sebelumnya banyak yang menganggap hutan mangrove seperti lahan terlantar yang tidak bermanfaat. Oleh karenanya lebih baik dikonversi menjadi areal tambak, perkebunan (kelapa sawit), misalnya, yang jelas hitungan keuntungannya. Praktek konversi mangrove yang umum dilakukan adalah menebang habis pepohonan mangrove sampai ke pinggir pantai. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tambak yang diusahakan dengan menebang habis hutan mangrove hanya produktif selama 3-4 tahun awal saja, setelahnya sudah tidak menguntungkan sehingga kemudian areal tersebut ditinggalkan begitu saja. Dampak kondisi ini adalah meningkatnya abrasi pantai, instrusi air laut dan berbagai dampak lainnya kerena pelindung alami pantai yang berupa tegakan hutan mangrove hilang. Kasus abrasi di pantai utara Jawa, pantai selatan Lampung merupakan bukti nyatanya, dimana pantai hilang dengan lebar lebih dari 10 m. Bisa dibayangkan luasnya pantai yang hilang atau pulau-pulau kecil, misalnya pulau Tapak Kuda di Langkat. 

Sumberdaya mangrove yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilihat dari dua tingkatan, yaitu tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer (primary biotic component). Sebelum membicarakan pemanfaatan secara lestari, akan terlebih dahulu digambarkan berbagai fungsi mangrove, lalu bentuk-bentuk pemanfaatan ril di lapangan apa adanya, kemudian baru bentuk pemanfaatannya yang lestari.

Hutan mangrove merupakan sumberdaya alam daerah tropika yang mempunyai manfaat ganda dengan pengaruh yang sangat luas ditinjau dari aspek sosial, ekonomis, dan ekologi. Besarnya peranan hutan atau ekosistem mangrove bagi kehidupan, dapat diketahui dari banyaknya jenis flora dan fauna yang hidup di dalam ekosistem perairan dan daratan yang membentuk ekosistem mangrove. Para ahli antara lain, Harger (1982), Hamilton & Snedaker (1984), Naamin (1990), Odum et al. (1982), dan Snedaker (1978) sependapat bahwa hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang unik, dengan berbagai macam fungsi, yaitu fungsi fisik, biologi, dan fungsi ekonomi atau produksi.

2.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini, yaitu:
  1. Apakah Definisi Mangrove? 
  2. Bagaimana kondisi mangrove di Indoensia? 
  3. Bagaimana ekosistem mangrove di daerah pesisir Sulawesi Tenggara? 
  4. Apakah Fungsi Mangrove? 
  5. Apakah Manfaat Mangrove? 
  6. Bagaimana pengelolaan mangrove? 

2.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini yaitu:
  1. Untuk mengetahui definisi mangrove. 
  2. Untuk menganalisa kondisi mangrove di Indonesia. 
  3. Untuk menganalisa ekosistem mangrove di daerah pesisir Sulawesi Tenggara. 
  4. Untuk mengetahui fungsi mangrove. 
  5. Untuk mengetahui manfaat mangrove 
  6. Untuk mengidentifikasi pengelolaan mangrove. 

2.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini yaitu:
1. Manfaat teoritis
Makalah ini dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang ekosistem mangrove dan pemanfaatannya di daerah pesisir Sulawesi Tenggara.

2. Manfaat bagi penulis
Penulis dapat menambah referensi pengetahuan untuk kedepan.

3. Manfaat bagi masyarakat
Masyarakat dapat lebih memahami pengetahuan tentang ekosistem mangrove dan pemanfaatannya di daerah pesisir Sulawesi Tenggara sehingga hutan mangrove dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Mangrove
Pengertian mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut. Hutan mangrove adalah tipe hutan yang secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, tergenang pada saat pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas lingkungan biotic dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove.

2.2 Kondisi Mangrove di Indonesia
Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua. Luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan dari 4,25 juta hektar pada tahun 1982 menjadi sekitar 3,24 juta hektar pada tahun 1987, dan tersisa seluas 2,50 juta hektar pada tahun 1993. Kecenderungan penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata, yaitu sekitar 200 ribu hektar/tahun. Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan konversi menjadi lahan tambak, penebangan liar dan sebagainya (Dahuri, 2002).

Ekosistem hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang tertinggi di dunia, seluruhnya tercatat 89 jenis. Beberapa jenis pohon yang banyak dijumpai di wilayah pesisir Indonesia adalah Bakau (Rhizophora. spp.), Api-api (Avicennia spp.), Pedada (Sonneratia spp.), Tanjang (Bruguiera spp.), Nyirih (Xylocarpus spp.), Tenger (Ceriops spp) dan, Buta-buta (Exoecaria spp.).

2.3 Ekosistem Mangrove di Daerah Pesisir Sulawesi Tenggara
Ekosistem Mangrove di daerah pesisir SULTRA jg memiliki keanekaragaman yang tinggi. Adapun jenis pohon yang bisa di temukan di wilayah pesisir ini antara lain: Bakau (Rhizophora sp.), Api-api (Avicennia sp.), Pedada (Sonneratia sp.), Tanjang (Bruguiera sp.), dan Nyirih (Xylocarpus sp).

2.4 Fungsi Mangrove
1. Fungsi Fisik
Secara fisik hutan mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi laut serta sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan lahan, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan dan gelombang dan angin kencang; mencegah intrusi garam (salt intrution) ke arah darat; mengolah limbah organik, dan sebagainya.

Hutan mangrove mampu meredam energi arus gelombang laut, seperti tergambar dari hasil penelitian Pratikto et al. (2002) dan Instiyanto et al. (2003). Pratikto et al. (2002) melaporkan bahwa di Teluk Grajagan – Banyuwangi yang memiliki tinggi gelombang tersebut sebesar 1,09 m, dan energi gelombang sebesar 1493,33 Joule, maka ekosistem mangrove di daerah tersebut mampu mereduksi energi gelombang sampai 60%, sehingga keberadaan hutan mangrove dapat memperkecil gelombang tsunami yang menyerang daerah pantai.

Istiyanto, Utomo dan Suranto (2003) menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora) memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun tersebut. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan dalam pertimbangan awal bagi perencanaan penanaman hutan mangrove bagi peredaman penjalaran gelombang tsunami di pantai.

Pasca tsunami 26 Desember 2004 yang melanda Asia dengan pusat di pantai barat Aceh terdapat fakta bahwa hutan mangrove yang kompak mampu melindungi pantai dari kerusakan akibat tsunami (Istiyanto et al., 2003, Pratikto et al. 2002, Dahdouh-Guebas, 2005, Onrizal, 2005, Sharma, 2005). Demikian juga hal sama dijumpai pada kawasan pantai dengan hutan pantai yang baik mampu meredam dampak kerusakan tsunami (WIIP, 2005)

Vegetasi mangrove juga dapat menyerap dan mengurangi pencemaran (polutan). Jaringan anatomi tumbuhan mangrove mampu menyerap bahan polutan, misalnya seperti jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap 300 ppm Mn, 20 ppm Zn, 15 ppm Cu (Darmiyati et al., 1995), dan pada daun Avicennia marina terdapat akumulasi Pb ³ 15 ppm, Cd ³ 0,5 ppm, Ni ³ 2,4 ppm (Saepulloh, 1995). Selain itu, hutan mangrove dapat mengendalikan intrusi air laut sebagaimana yang dilaporkan Hilmi (1998), yakni percepatan intrusi air laut di pantai Jakarta meningkat dari 1 km pada hutan mangrove selebar 0,75 km menjadi 4,24 km pada areal tidak berhutan.

2. Fungsi Biologis
Secara biologi hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai daerah berkembang biak (nursery ground), tempat memijah (spawning ground), dan mencari makanan (feeding ground) untuk berbagai organisme yang bernilai ekonomis khususnya ikan dan udang. Habitat berbagai satwa liar antara lain, reptilia, mamalia, hurting dan lain-lain. Selain itu, hutan mangrove juga merupakan sumber plasma nutfah.

Ekosistem hutan mangrove memiliki produktivitas yang tinggi. Produktivitas primer ekosistem mangrove ini sekitar 400-500 gram karbon/m2/tahun adalah tujuh kali lebih produktif dari ekosistem perairan pantai lainnya (White, 1987). Oleh karenanya, ekosistem mangrove mampu menopang keanekaragaman jenis yang tinggi. Daun mangrove yang berguguran diuraikan oleh fungi, bakteri dan protozoa menjadi komponen-komponen bahan organik yang lebih sederhana (detritus) yang menjadi sumber makanan bagi banyak biota perairan (udang, kepiting dan lain-lain) (Naamin, 1990).

Kerusakan mangrove di pantai Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara berdampak pada penurunan volume dan keragaman jenis ikan yang ditangkap (56,32% jenis ikan menjadi langka/sulit didapat, dan 35,36% jenis ikan menjadi hilang/tidak pernah lagi tertangkap). Konversi hutan mangrove di pantai Napabalano, Sulawesi Tenggara dilaporkan Amala (2004) menyebabkan berkurangnya secara nyara kelimpahan kepiting bakau (Scylla serrata). Hasil penelitian Onrizal et al. (2008) menunjukkan bahwa semakin bertambah umur mangrove hasil rehabilitasi akan meningkatkan populasi dan keragaman biota pesisir pantai.

3. Fungsi Ekonomi atau Fungsi Produksi
Mangrove sejak lama telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya (Saenger et al., 1983). Tercatat sekitar 67 macam produk yang dapat dihasilkan oleh ekosistem hutan mangrove dan sebagian besar telah dimanfaatkan oleh masyarakat, misalnya untuk bahan bakar (kayu bakar, arang, alkohol); bahan bangunan (tiang-tiang, papan, pagar); alat-alat penangkapan ikan (tiang sero, bubu, pelampung, tanin untuk penyamak); tekstil dan kulit (rayon, bahan untuk pakaian, tanin untuk menyamak kulit); makanan, minuman dan obat-obatan (gula, alkohol, minyak sayur, cuka); peralatan rumah tangga (mebel, lem, minyak untuk menata rambut); pertanian (pupuk hijau); chips untuk pabrik kertas dan lain-lain.

Menurut Saenger et al. (1983), hutan mangrove juga berperan dalam pendidikan, penelitian dan pariwisata. Bahkan menurut FAO (1982), di kawasan Asia dan Pasifik, areal mangrove juga digunakan sebagai lahan cadangan untuk transmigrasi, industri minyak, pemukiman dan peternakan. 

Dari kawasan hutan mangrove dapat diperoleh tiga macam manfaat. Pertama, berupa hasil hutan, baik bahan pangan maupun bahan keperluan lainnya. Kedua, berupa pembukaan lahan mangrove untuk digunakan dalam kegiatan produksi baik pangan maupun non-pangan serta sarana/prasarana penunjang dan pemukiman. Manfaat ketiga berupa fungsi fisik dari ekosistem mangrove berupa perlindungan terhadap abrasi, pencegah terhadap rembesan air laut dan lain-lain fungsi fisik.

Kerusakan hutan mangrove di Secanggang, menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 33,89% dimana kelompok yang paling besar terkena dampak adalah nelayan. Selain itu sekitar 85,4% masyrakat pesisir di kawasan tersebut kesulitan dalam berusaha dan mendapatkan pekerjaan dibandingkan sebelum kerusakan mangrove.

2.5 Manfaat Mangrove
Sumberdaya mangrove yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilihat dari dua tingkatan, yaitu tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer (primary biotic component), sebagai berikut :

1. Tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan.
Lahan tambak, lahan pertanian dan kolam garam
Di beberapa lokasi di Indonesia, seperti di pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, kawasan pantai Kalimantan, pantai Sulawesi, Bali, Nusa Tenggra dan pulau-pulau lainnya, banyak lahan mangrove dikonversi untuk lahan tambak, lahan pertanian dan kolam pembuatan garam. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengkonversian lahan mangrove menjadi jenis penggunaan lain seperti tersebut di atas dilakukan dengan tidak memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian ekosistem.

Sebenarnya dari sudut pandang ilmiah, lahan mangrove bisa dikonversi menjadi jenis penggunaan lain dalam proporsi dan pada lokasi yang tepat sesuai dengan persyaratan ekologis tumbuhnya mangrove dan persyaratan kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan yang direkomendasikan.

a. Lahan pariwisata
Beberapa potensi ekosistem mangrove yang merupakan modal penting bagi tujuan rekreasi adalah :
  1. Bentuk perakaran yang khas umum ditemukan pada beberapa jenis pohon mangrove, seperti akar tunjang (Rhizophora spp.), akar lutut (Bruguiera spp.), akar pasak (Sonneratia spp. dan Avicennia spp.), akar papan (Heritiera spp.), dan lain-lain. 
  2. Buahnya yang bersifat vivipar (buah berkecambah semasa masih menempel pada pohon) yang diperlihatkan oleh beberapa jenis pohon mangrove, seperti jenis-jenis yang tergolong suku Rhizophoraceae. 
  3. Adanya zonasi yang sering berbeda mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman (transisi dengan hutan rawa). 
  4. Berbagai jenis fauna dan flora yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, dimana jenis fauna dan flora tersebut kadang-kadang jenis endemik bagi daerah yang bersangkutan. 
  5. Atraksi adat istiadat tradisional penduduk setempat yang berkaitan dengan sumberdaya mangrove. 
  6. Saat ini, nampaknya hutan-hutan mangrove yang dikelola secara rasional untuk pertambakan/tambak tumpangsari, penebangan, pembuatan garam, dan lain-lain bisa menarik para wisatawan. 

Bentuk-bentuk kegiatan rekreasi yang dapat dikembangkan di hutan mangrove adalah berburu, memancing, berlayar, berenang, melihat atraksi berbagai satwa, fotografi, piknik dan berkemah, melihat atraksi adat istiadat tradisional penduduk setempat, dan lain-lain.

2. Tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer
a. Flora
Dalam skala komersial, berbagai jenis kayu mangrove dapat digunakan sebagai :
  1. Chips untuk bahan baku kertas terutama jenis Rhizophora spp. dan Bruguiera spp. 
  2. Penghasil industri papan dan plywood, terutama jenis Bruguiera spp. dan Heritiera littoralis. 
  3. Tongkat dan tiang pancang (scalfold) terutama jenis Bruguiera spp., Ceriops spp., Oncosperma sp., dan Rhizophora apiculata. 
  4. Kayu bakar dan arang yang berkualitas sangat baik. 

b. Fauna
Sebagian besar jenis fauna mangrove yang berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat adalah berupa berbagai jenis ikan, kepiting dan burung.

1. Ikan
Berdasarkan hasil penelitian para ahli ada lebih dari sekitar 52 jenis ikan yang hidup di habitat mangrove Indonesia. Dari berbagai jenis ikan tersebut ada enam jenis yang umum diketemukan, yaitu Mullet (Mugil cephalus), Snapper (anggota Lutjanidae), Milkfish (Chanos chanos), seabass (Lates calcarifer), Tilapia (Tillapia sp.), Mudskipper (Periothalmus spp.)

2. Udang dan kepiting
Ada sekitar 61 jenis udang dan kepiting yang hidup di habitat mangrove Indonesia, diantaranya jenis-jenis yang umum diketemukan di habitat tersebut, adalah : Uca spp. (fiddler crab), Sesarma spp., Scylla serata, Macrobrachium rosenbergii, Penaeus spp. Jenis udang, bandeng dan kepiting biasanya dibudidayakan oleh masyarakat dalam bentuk tambak, sedangkan jenis-jenis ikan lainnya dan Crustaceae serta moluska diperoleh oleh masyarakat melalui penangkapan.

3. Burung
Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan di berbagai lokasi dilaporkan bahwa ada sekitar 51 jenis burung yang berasosiasi dengan mangrove, diantaranya yang umum ditemukan adalah pecuk (Anhinga sp. dan Phalacocorax sp.), cangak dan blekok (Ardea sp.), bangau/kuntul (Egretta sp. dan Leotoptilos sp.). Masyarakat sekitar mangrove pada waktu-waktu tertentu berburu burung dan memungut telur burung untuk bahan makanan atau untuk dijual, seperti yang terjadi di hutan mangrove Pulau Rambut (Departemen Kehutanan, 1994), Karang Gading dan Langkat (Hanafiah-Oeliem et al. 2000). Hal yang sama juga penulis temui di berbagai kawasan mangrove seperti di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua dan pulau-pulau lainnya.

4. Lebah madu
Hutan mangrove merupakan salah satu tempat bersarang yang baik bagi lebah madu, sehingga mangrove sangat potensial untuk menghasilkan madu. Umumnya, lebah madu membuat sarang pada pohon Avicennia spp, Ceriops spp., dan Excoecaria agallocha. Dengan adanya lebah madu membuat sarang di pohon-pohon mangrove akan sangat menguntungkan bagi masyarakat di sekitar kawasan mangrove, yakni dapat memungut madu. Selain memungut madu dari alam dari alam, masyarakat juga bisa mendapatkannya dengan beternak lebah madu.

Berdasarkan kegunaan produk yang dihasilkannya maka produk-produk ekosistem mangrove dikelompokkan menjadi dua yaitu : produk langsung (Tabel 2) dan produk tidak langsung (Tabel 3). Beberapa produk mangrove yang saat ini sudah diusahakan secara meluas dan komersial adalah sebagai berikut :

(a) Arang
Arang digunakan secara tradisional untuk memasak sehari-hari. Di beberapa negara berkembang arang tersebut telah diusahakan secara komersial dan diekspor, contoh : Rhizophora mucronata dan Rh. apiculata (nilai kalori kayu 7.300 kal/g).

(b) Kayu Bakar
Kayu bakar dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di sekitar pesisir untuK keperluan sehari-hari, contoh : Ceriops, Avicennia, Xylocarpus, Heritiera, Excoecaria, Bruguiera dan Lumnitzera .

(c) Ekstraksi Tanin
Tanin adalah produk hutan mangrove yang dapat dipakai untuk keperluan pabrik tinta, plastik dan lem. Selain itu juga tanin digunakan untuk mencelup jala ikan dan menyamak bahan dari kulit, contoh : kulit batang Rhizophora (kandungan tanin 27 %), Bruguiera gymnorrhiza (kandungan tanin 41 %), dan Ceriops tagal (kandungan tanin 46 %). 

(d) Destilasi Kayu
Kegiatan destilasi kayu umumnya dilakukan di negara Thailand, alat destilasinya terdapat di Ranong, pesisir barat Thailand. Bahan mentah destilasi ini diperoleh dari lubang-lubang angin alat pembakaran arang. Bahan mentah destilasi ini mengandung pyroligneous yang bisa dipecah menjadi asam asetat, metanol dan tar dengan perbandingan 5.5 %, 3.4 % dan 6.6 % berturut-turut.

(e) Kayu Chips
Kayu chips ini merupakan bahan baku untuk pembuatan rayon, negara yang membuat kayu chips dari mangrove adalah Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina dengan tujuan ekspor terutama ke Jepang.

2.6 Pengelolaan Mangrove
Pengelolaan mangrove yang dimaksud lebih mengacu kepada model pengelolaan yang tertuang dalam Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove Indonesia (2004), untuk memudahkan dalam memahami bentuk pengelolaan yang dilakukan, maka pengelolaan mangrove diklasifikasikan kedalam dua bentuk pengelolaan berdasarkan ketersediaan sumberdaya yaitu pengelolaan terhadap Hasil Hutan Kayu (HHK) dan Hasil Hutan Non Kayu (HHNK). 

1. HHK (Hasil Hutan Kayu) 
Hasil hutan kayu merupakan nilai manfaat langsung (Direct use value) yang diberikan oleh ekosistem mangrove kepada masyarakat pengguna sumberdaya ekosistem mangrove terutama hasil kayu. Beberapa bentuk hasil kayu yang dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan dapat dilihat pada tabel pemanfaatan jenis vegetasi mangrove yangerpotensi untuk dimanfaatkan kayunya berdasarkan Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove 2004

2. HHNK (Hasil Hutan Non Kayu) 
Hasil hutan non kayu umumnya merupakan hasil hutan yang memberikan nilai manfaat tidak langsung (Indirect Use Value) dan hanya sebagai hasil ikutan dari kayu, namun tidak banyak orang atau pihak yang menghitung besarnya nilai ekonomi yang bisa dihasilkan dari manfaat tidak langsung mangrove. Para ahli ekonomi sumberdaya hutan mengklasifikasikan manfaat hutan kedalam beberapa kategori. Beberapa manfaat tidak langsung pada ekosistem mangrove diantarnya:

• Madu 
Beberapa areal ekosistem mangrove memiliki potensi sebagai habitat lebah penghasil madu. Namun potensi ini oleh sebagain masyarakat belum mengetahui teknis pengelolaannya. Vegetasi yang dijadikan sebagai tempat bersarang lebah diantarnya Aviceniia sp., Ceriops spp. dan Excocaria agallocha. 

• Tumbuhan Obat
Ekosistem mangrove memiliki beberapa jenis tumbuhan yang bermanfaat untuk dijadikan sebagai obat meskipun keberadaanya tidak semua masyarakat mengetahui dan teknis pemanfaatannya masih tradisional. Sampai saat ini belum ada penelitian khusus mengenai hal itu, informasi yang diperoleh akan sangat berguna dan sangat membantu dalam proses pengelolaan ekosistem mangrove yang saat ini sedang berjalan. Beberapa jenis tumbuhan mangrove yang berguna sebagai obat dapat dilihat pada tabel dibawah ini berdasarkan Suparpnaibool dan Kongsang Chai (1982); FAO (1985) dalam Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional (2004)

• Tanin 
Tanin merupakan bahan yang diekstrak dari kulit kayu beberapa jenis mangrove tertentu, yang memiliki beragam manfaat antara lain untuk bahan pembuatan tinta, plastik dan perekat, bahan pencelup untuk pcngawet jala ikan serta bahan penyamak kulit, secara tradisional di Asia Tenggara, tanin ini hanya digunakan oleh nelayan sebagai suatu bahan clup untuk mengawetkan jala ikannya. Penggunaan tanin untuk keperluan Icrsebut hampir punah sejak munculnya jala nilon. Ekstraksi tanin di Indonesia tetap dalam skala kecil, sedangkan di negara-negara Amerika Latin pengambilan tanin dalam skala besar terutama dari kulit kayu Rhizophora spp. terus berlangsung. 

• Produk Nipah
Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang mempunyai banyak manfaat, yang umum di temukan pad a ekosistem mangrove. Jenis nipah ini mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat pantai di Indonesia dan di Asia Tenggara. Suku Bajo, Bugis dan Jawa menggunakan daun nipah tua untuk tikar, keranjang, tas, topi dan jas hujan, sedangkan daunnya yang masih muda digunakan untuk pembungkus rokok (di Langkat) dan pembungkus makanan. Biji buahnya yang keras di bakar sebagai bahan makanan, atau dicacah dan direbus untuk meghasilkan garam. Kulit buahnya yang mudah dapat langsung dimakan, direbus atau langsung dapat dibuat manisan. Sedangkan cairan yang manis yang keluar dari bekas potongan tangkai di buat minuman yang beralkohol, cuka dan gula nipah. di Sumatera Selatan, air dari nipah digunakan untuk pembuatan tuak. Produksi alkohol mumi dari 1 ha nipah dapat mencapai 3000 liter dan dengan taksiran 1 juta ha rawa nipah di Indonesia terutama di Kalimantan, Sumatera, dan Irian Jaya, maka potensi ekonomi produksi alkohol murni sangat menjanjikan 

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
  1. Mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut. 
  2. Beberapa jenis pohon yang banyak dijumpai di wilayah pesisir Indonesia adalah Bakau (Rhizophora. spp.), Api-api (Avicennia spp.), Pedada (Sonneratia spp.), Tanjang (Bruguiera spp.), Nyirih (Xylocarpus spp.), Tenger (Ceriops spp) dan, Buta-buta (Exoecaria spp.). 
  3. Ekosistem Mangrove di daerah pesisir SULTRA yang bisa di temukan di wilayah pesisir ini antara lain: Bakau (Rhizophora sp.), Api-api (Avicennia sp.), Pedada (Sonneratia sp.), Tanjang (Bruguiera sp.), dan Nyirih (Xylocarpus sp). 
  4. Fungsi mangrove terbagi menjadi fungsi hutan, fungsi bilogis dan fungsi ekonomi atau fungsi produksi. 
  5. Manfaat mangrove meliputi sumberdaya mangrove yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilihat dari dua tingkatan, yaitu tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer (primary biotic component). 
  6. Pengelolaan mangrove diklasifikasikan kedalam dua bentuk pengelolaan berdasarkan ketersediaan sumberdaya yaitu pengelolaan terhadap Hasil Hutan Kayu (HHK) dan Hasil Hutan Non Kayu (HHNK). 

3.2 Saran
Seharusnya hutan mangrove dikelola dan dilestarikan dengan baik karena memberikan dukungan bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir melalui fungsi fisik, biologi dan ekonomi sehingga bias dimanfaatkan secara lestari. Pada sisi lain, kerusakan hutan mangrove justru mengancam kehidupan masyarakat pesisir, seperti hilangnya ikan, udang, kepiting dan berbagai biota air lainnya, abrasi pantai, intrusi air laut dan berbagai dampak negative lainnya. 

Diharapkan kita menjadi bagian dari yang melakukan perbaikan dan terus berupaya menularkan kepada yang lain sehingga semakin bertambah banyak orang yang berperan dalam perbaikan ekosistem mangrove bagi kehidupan manusia.