MAKALAH PENDEKATAN TITIK PEMESANAN KEMBALI & PENDEKATAN TINJAUAN PERIODIK - ElrinAlria
MAKALAH PENDEKATAN TITIK PEMESANAN KEMBALI & PENDEKATAN TINJAUAN PERIODIK

BAB I
PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 
Manajemen persediaan merupakan hal yang mendasar dalam penetapan keunggulan kompetatif jangka panjang. Mutu, rekayasa, produk, harga, lembur,kapasitas berlebih, kemampuan merespon pelanggan akibat kinerja kurang baik,waktu tenggang (lead time) dan profitabilitas keseluruhan adalah hal-hal yangdipengaruhi oleh tingkat persediaan. Perusahaan dengan tingkat persediaan yanglebih tinggi daripada pesaing cenderung berada dalam posisi kompetitif yang lemah.Kebijaksanaan manajemen persediaan telah menjadi sebuah senjata untukmemenangkan kompetitif.Pada perusahaan manufaktur, persediaan terdiri dari persediaan bahan baku,barang dalam proses dan persediaan barang jadi. Manajemen persediaan yang akan dibahas disini lebih difokuskan pada manajemen persediaan bahan baku dilihat dari pendekatan pesanan kembali dan pendekatan tinjauan periodik. Manajemen persediaan bahan baku bertujuan agar tingkat persediaan bahan baku cukup, tidak terlalu banyak tetapi tidak terlalu sedikit, sehingga biaya bahan baku ekonomis dan perusahaan tidak kehilangan kesempatan untuk melayani penjualan karena kurangnya persediaan bahan baku. 

1.2 Rumusan Masalah 
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah : 
  1. Bagaimana pendekatan titik pemesanan kembali (Reorder point approach / ROP )? 
  2. Bagimana pendekatan tinjuan periodik ( periodic review approach )? 

1.3 Tujuan Penulisan 
Tujuan dalam makalah ini adalah : 
  1. Agar dapat mengetahui pendekatan titik pemesanan kembali (Reorder point approach / ROP ) 
  2. Agar dapat mengetahui pendekatan tinjuan periodik (Periodic review approach ) 

BAB II
PEMBAHASAN 
2.1 Reorder Point (ROP) Approach 
Pengertian Re Order Point (ROP) menurut Rangkuti (2004:83) adalah strategi operasi persediaan merupakan titik pesanan yang harus dilakukan suatu perusahaan sehubungan dengan adanya Lead Time dan Safety Stock. Menurut Assauri (1998:199) ROP (Re Order Point) adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pesanan harus diadakan kembali. ROP adalah tingkat persediaan dimana ketika persediaan telah mencapai tingkat tersebut, pesanan harus segera dilakukan. (Heizer dan Render, 2010:99). 

Adapun beberapa faktor untuk menentukan Reorder Point (ROP) diantaranya menurut Petty, William, Scott dan David (2005:279) adalah; 
  1. Pengadaan atau stock selama masa pengiriman 
  2. Tingkat pengamanan yang diinginankan 

Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2001:83) faktor-faktornya adalah: 
  1. Penggunaan material selama tenggang waktu mendapatkan barang (procurement lead time) 
  2. Besar safety stock 

Dalam pendekatan ROP menghendaki jumlah persediaan yang tetap setiap kali melakukan pemesanan. Apabila persediaan mencapai jumlah tertentu, maka pemesanan kembali harus dilakukan seperti pada gambar 1 (Priyambodo, 2007 : 266). 

Pendekatan ROP juga menghendaki pengecekan secara fisik ataupun penggunaan kartu catatan stock secara teratur untuk menentukan apakah pemasaran kembali harus dilakukan. Pendekatan ROP mempunyai resiko terjadi stock out jika jumlah permintaan selama waktu lead time melebihi jumlah persediaan pengaman (buffer stock) (Priyambodo, 2007 : 266).
MAKALAH PENDEKATAN TITIK PEMESANAN KEMBALI & PENDEKATAN TINJAUAN PERIODIK

Gambar 1 menunjukkan bahwa ROP dilakukan apabila persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tenggang waktu (lead time). Jumlah yang harus dipesan berdasarkan pada Economic Order Quantity (EOQ). 

Menurut Gitosudarmo (2002:101) EOQ (Economic Order Quantity) sebenarnya adalah volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian. Untuk memenuhi kebutuhan itu, maka dapat diperhitungkan pemenuhan kebutuhan (pembeliannya) yang paling ekonomis yaitu sejumlah barang yang akan dapat diperoleh dengan pembelian dengan menggunakan biaya yang minimal. 

EOQ (Economic Order Quantity) menurut Riyanto (2001:78) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal. Sedangkan menurut Heizer dan Render (2010:92) EOQ adalah salah satu teknik pengendalian persediaan yang paling tua dan terkenal secara luas, metode pengendalian persediaan ini menjawab 2 (dua) pertanyaan penting, kapan harus memesan dan berapa banyak harus memesan. Tingkat pesanan yang meminimasi biaya persediaan keseluruhan dikenal sebagai model EOQ (Kusuma, 2001:136). 

Model EOQ (Economic Order Quantity) di atas hanya dapat dibenarkan apabila asumsi-asumsi berikut dapat dipenuhi menurut Petty, William, Scott dan David (2005:278) yaitu :
  • a. Permintaan konstan dan seragam meskipun model EOQ (Economic Order Quantity) mengasumsikan permintaan konstan, permintaan sesungguhnya mungkin bervariasi dari hari ke hari.
  • b. Harga per unit konstan memasukkan variabel harga yang timbul dari diskon kuantitas dapat ditangani dengan agak mudah dengan cara memodifikasi model awal, m endefinisikan kembali biaya total dan menentukan kuantitas pesanan yang optimal.
  • c. Biaya penyimpanan konstan, biaya penyimpanan per unit mungkin bervariasi sangat besar ketika besarnya persediaan meningkat.
  • d. Biaya pesanan konstan, meskipun asumsi ini umumnya valid, pelanggan asumsi dapat diakomodir dengan memodifikasi model EOQ (Economic Order Quantity) awal dengan cara yang sama dengan yang digunakan untuk harga per unit variabel.
  • e. Pengiriman seketika, jika pengiriman tidak terjadi seketika yang merupakan kasus umum, maka model EOQ (Economic Order Quantity) awal harus dimodifikasi dengan cara memesan stok pengaman.
  • f. Pesanan yang independen, jika multi pesanan menghasilkan penghematan biaya dengan mengurangi biaya administraasi dan transportasi maka model EOQ (Economic Order Quantity) awal harus dimodifikasi kembali. 

Asumsi-asumsi ini menggambarkan keterbatasan model EOQ (Economic Order Quantity) dasar serta cara bagaimana model tersebut dimodifikasi. Memahami keterbatasan dan asumsi model EOQ (Economic Order Quantity) menjadi dasar yang penting bagi manajer untuk membuat keputusan tentang persediaan.

2.3.2 Penentuan EOQ (Economic Order Quantity)
Adapun penentuan jumlah pesanan ekonomis (EOQ) ada 3 cara menurut Assauri (2004:182) yaitu :
  • a. Pendekatan Tabel (Tabular Approach) Penentuan jumlah pesanan yang ekonomis dengan Tabular approach dilakukan dengan cara menyusun suatu daftar atau tabel jumlah pesanan dan jumlah biaya per tahun.
  • b. Pendekatan Grafik (Graphical Approach) Penentuan jumlah pesanan ekonomis dengan cara “Graphical approach” dilakukan dengan cara menggambarkan grafik-grafik carrying costs dan total costs dalam satu gambar, dimana sumbu horisontal jumlah pesanan (order) per tahun, sumbu vertical besarnya biaya dari ordering costs, carrying costs dan total costs.
  • c. Pendekatan Rumus (formula approach) Cara penentuan jumlah pesanan ekonomis dengan menurunkan di dalam rumus-rumus matematika dapat dilakukan dengan cara memerhatikan bahwa jumlah biaya persediaan yang minimum diperoleh, jika ordering costs sama dengan carrying costs. Hampir semua model persediaan bertujuan untuk meminimalkan biaya- biaya total dengan asumsi yang tadi dijelaskan. 

Dalam menerapkan EOQ ada beberapa biaya yang harus dipertimbangkan dalam penentuan jumlah pembelian atau keuntungan, di antaranya : 
a. Biaya Pesanan
Biaya pesanan merupakan biaya yang akan langsung terkait dengan kegiatan pesanan yang dilakukan perusahaan. Biaya pesanan berfluktuasi bukan dengan jumlah yang dipesan, tetapi dengan frekuensi pesanan. Biaya pesanan tidak hanya terdiri dari biaya yang eksplisit, tetapi juga biaya kesempatan (Opportunity Cost). Sebagai misal, waktu yang terbuang untuk memroses pesanan, menjalankan administrasi pesanan dan sebagainya.
Beberapa contoh biaya pesanan antara lain : 
  1. Biaya persiapan 
  2. Biaya telepon 
  3. Biaya pengiriman 
  4. Biaya pembuatan faktur. 

b. Biaya Penyimpanan 
Biaya penyimpanan merupakan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan sehubungan dengan adanya bahan baku yang disimpan dalam perusahaan. Biaya simpan akan berfluktuasi dengan tingkat persediaan.
Beberapa contoh biaya penyimpanan antar lain: 
  1. Biaya pemeliharaan, 
  2. Biaya asuransi, 
  3. Biaya kerusakan dalam penyimpanan, 
  4. Biaya sewa gedung, 
  5. Biaya fasilitas penyimpanan. 
Sehingga dalam menentukan biaya persediaan ada 2 jenis biaya yang berubah- ubah dan harus dipertimbangkan. Pertama berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pesanan yaitu biaya pesan. Kedua biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besar kecilnya persediaan yaitu biaya penyimpanan. Selanjutnya menentukan total biaya persediaan (TC) dengan menjumlahkan biaya pesan dan biaya simpan. 

2.3.3 Persediaan Pengaman (Safety Stock)
Menurut Assauri (1998:198) persediaan pengaman adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Akibat pengadaan persediaan pengaman terhadap biaya pemisahan adalah mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, akan tetapi sebaliknya akan menambah besarnya carrying cost. Besarnya pengurangan biaya atau kerugian perusahaan adalah sebesar perkalian antar jumlah persediaan pengaman yang diadakan untuk menghadapi stock out dengan biaya stock out per unit. Pengadaan persediaan pengaman oleh perusahaan dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, tetapi juga pada saat itu diusahakan agar carrying cost serendah mungkin. Ada beberapa faktor yang menentukan besarnya persediaan pengaman yaitu penggunaan bahan baku, faktor waktu, dan biaya- biaya yang digunakan. Untuk menentukan biaya persediaan pengaman digunakan analisa statistik yaitu dengan mempertimbangkan penyimpangan- penyimpangan yang telah terjadi antara perkiraan pemakaian bahan baku dengan pemakaian sebenarnya sehingga diketahui standar deviasinya.

1.1 Periodic Review Approach
Dalam pendekatan dengan tinjaun periodik, tingkat persediaan ditinjau pada interval waktu yang sama. Pada setiap tinjauan dilakukan pemesanan kembali agar tingkat persediaan mencapai jumlah yang diinginkan. Jumlah pemesanan kembali didasarkan pada tingkat maksimum yang ditetapkan untuk setiap item persediaan yang dapat dicari dengan rumus sebagai berikut (Priyambodo, 2007 : 266) :
Q = TPM – P – JSP + PLT

Dimana :
  • Q = Jumlah pemesanan kembali
  • TPM = Tingkat persediaan maksimum
  • P = Jumlah persediaan yang ada sekarang
  • JSP = Jumlah yang sedang dipesan
  • PLT = Permintaan selama tenggang waktu pemesanan

Pendekatan periodic review mempunyai resiko terjadi stock out jika pemesanan diterima melebihi jangka waktu lead time.
MAKALAH PENDEKATAN TITIK PEMESANAN KEMBALI & PENDEKATAN TINJAUAN PERIODIK


Dalam pendekatan tinjauan periodic, tingkat persediaan akan mencapai jumlah yang diinginkan jika pengendalian persediaan dilakukan. Menurut pendapat Assauri (2004:176), pengendalian persediaan merupakan salah satu kegiatan dari urutan kegiatan-kegiatan yang berurutan erat satu sama lain dalam seluruh operasi produksi perusahaan tersebut sesuai dengan apa yang telah direncanakan lebih dahulu baik waktu, jumlah, kuantitas, maupun biayanya. Menurut Rangkuti (2004:25), pengendalian persediaan merupakan salah satu fungsi manajemen yang dapat dipecahkan dengan menerapkan metode kuantitatif. Sedangkan menurut Handoko (2000:333) pengendalian persediaan adalah fungsi manajerial yang sangat penting karena persediaan fisik banyak perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam persediaan aktiva lancar. Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengendalian persediaan adalah suatu aktivitas untuk menetapkan besarnya persediaan dengan memerhatikan keseimbangan antara besarnya persediaan yang disimpan dengan biaya-biaya yang ditimbulkannya.

Tujuan pengendalian persediaan secara terinci dapatlah dinyatakan sebagai usaha untuk (Assauri 2004:177): 
  • a.Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.
  • b.Menjaga agar supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau berlebih-lebihan.
  • c.Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya pesanan terlalu besar.

Dari keterangan di atas dapatlah dikatakan bahwa tujuan pengendalian persediaan adalah untuk memperoleh kualitas dan jumlah yang tepat dari bahan- bahan atau barang-barang yang tersedia pada waktu yang dibutuhkan dengan biaya-biaya yang minimum untuk keuntungan atau kepentingan perusahaaan.

BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Kesimpulan dalam makalah ini adalah :
  1. Dalam pendekatan ROP menghendaki jumlah persediaan yang tetap setiap kali melakukan pemesanan. Apabila persediaan mencapai jumlah tertentu, maka pemesanan kembali harus dilakukan
  2. Dalam pendekatan dengan tinjaun periodik, tingkat persediaan ditinjau pada interval waktu yang sama. Pada setiap tinjauan dilakukan pemesanan kembali agar tingkat persediaan mencapai jumlah yang diinginkan

MAKALAH PENDEKATAN TITIK PEMESANAN KEMBALI & PENDEKATAN TINJAUAN PERIODIK

MAKALAH PENDEKATAN TITIK PEMESANAN KEMBALI & PENDEKATAN TINJAUAN PERIODIK

BAB I
PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 
Manajemen persediaan merupakan hal yang mendasar dalam penetapan keunggulan kompetatif jangka panjang. Mutu, rekayasa, produk, harga, lembur,kapasitas berlebih, kemampuan merespon pelanggan akibat kinerja kurang baik,waktu tenggang (lead time) dan profitabilitas keseluruhan adalah hal-hal yangdipengaruhi oleh tingkat persediaan. Perusahaan dengan tingkat persediaan yanglebih tinggi daripada pesaing cenderung berada dalam posisi kompetitif yang lemah.Kebijaksanaan manajemen persediaan telah menjadi sebuah senjata untukmemenangkan kompetitif.Pada perusahaan manufaktur, persediaan terdiri dari persediaan bahan baku,barang dalam proses dan persediaan barang jadi. Manajemen persediaan yang akan dibahas disini lebih difokuskan pada manajemen persediaan bahan baku dilihat dari pendekatan pesanan kembali dan pendekatan tinjauan periodik. Manajemen persediaan bahan baku bertujuan agar tingkat persediaan bahan baku cukup, tidak terlalu banyak tetapi tidak terlalu sedikit, sehingga biaya bahan baku ekonomis dan perusahaan tidak kehilangan kesempatan untuk melayani penjualan karena kurangnya persediaan bahan baku. 

1.2 Rumusan Masalah 
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah : 
  1. Bagaimana pendekatan titik pemesanan kembali (Reorder point approach / ROP )? 
  2. Bagimana pendekatan tinjuan periodik ( periodic review approach )? 

1.3 Tujuan Penulisan 
Tujuan dalam makalah ini adalah : 
  1. Agar dapat mengetahui pendekatan titik pemesanan kembali (Reorder point approach / ROP ) 
  2. Agar dapat mengetahui pendekatan tinjuan periodik (Periodic review approach ) 

BAB II
PEMBAHASAN 
2.1 Reorder Point (ROP) Approach 
Pengertian Re Order Point (ROP) menurut Rangkuti (2004:83) adalah strategi operasi persediaan merupakan titik pesanan yang harus dilakukan suatu perusahaan sehubungan dengan adanya Lead Time dan Safety Stock. Menurut Assauri (1998:199) ROP (Re Order Point) adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pesanan harus diadakan kembali. ROP adalah tingkat persediaan dimana ketika persediaan telah mencapai tingkat tersebut, pesanan harus segera dilakukan. (Heizer dan Render, 2010:99). 

Adapun beberapa faktor untuk menentukan Reorder Point (ROP) diantaranya menurut Petty, William, Scott dan David (2005:279) adalah; 
  1. Pengadaan atau stock selama masa pengiriman 
  2. Tingkat pengamanan yang diinginankan 

Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2001:83) faktor-faktornya adalah: 
  1. Penggunaan material selama tenggang waktu mendapatkan barang (procurement lead time) 
  2. Besar safety stock 

Dalam pendekatan ROP menghendaki jumlah persediaan yang tetap setiap kali melakukan pemesanan. Apabila persediaan mencapai jumlah tertentu, maka pemesanan kembali harus dilakukan seperti pada gambar 1 (Priyambodo, 2007 : 266). 

Pendekatan ROP juga menghendaki pengecekan secara fisik ataupun penggunaan kartu catatan stock secara teratur untuk menentukan apakah pemasaran kembali harus dilakukan. Pendekatan ROP mempunyai resiko terjadi stock out jika jumlah permintaan selama waktu lead time melebihi jumlah persediaan pengaman (buffer stock) (Priyambodo, 2007 : 266).
MAKALAH PENDEKATAN TITIK PEMESANAN KEMBALI & PENDEKATAN TINJAUAN PERIODIK

Gambar 1 menunjukkan bahwa ROP dilakukan apabila persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tenggang waktu (lead time). Jumlah yang harus dipesan berdasarkan pada Economic Order Quantity (EOQ). 

Menurut Gitosudarmo (2002:101) EOQ (Economic Order Quantity) sebenarnya adalah volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian. Untuk memenuhi kebutuhan itu, maka dapat diperhitungkan pemenuhan kebutuhan (pembeliannya) yang paling ekonomis yaitu sejumlah barang yang akan dapat diperoleh dengan pembelian dengan menggunakan biaya yang minimal. 

EOQ (Economic Order Quantity) menurut Riyanto (2001:78) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal. Sedangkan menurut Heizer dan Render (2010:92) EOQ adalah salah satu teknik pengendalian persediaan yang paling tua dan terkenal secara luas, metode pengendalian persediaan ini menjawab 2 (dua) pertanyaan penting, kapan harus memesan dan berapa banyak harus memesan. Tingkat pesanan yang meminimasi biaya persediaan keseluruhan dikenal sebagai model EOQ (Kusuma, 2001:136). 

Model EOQ (Economic Order Quantity) di atas hanya dapat dibenarkan apabila asumsi-asumsi berikut dapat dipenuhi menurut Petty, William, Scott dan David (2005:278) yaitu :
  • a. Permintaan konstan dan seragam meskipun model EOQ (Economic Order Quantity) mengasumsikan permintaan konstan, permintaan sesungguhnya mungkin bervariasi dari hari ke hari.
  • b. Harga per unit konstan memasukkan variabel harga yang timbul dari diskon kuantitas dapat ditangani dengan agak mudah dengan cara memodifikasi model awal, m endefinisikan kembali biaya total dan menentukan kuantitas pesanan yang optimal.
  • c. Biaya penyimpanan konstan, biaya penyimpanan per unit mungkin bervariasi sangat besar ketika besarnya persediaan meningkat.
  • d. Biaya pesanan konstan, meskipun asumsi ini umumnya valid, pelanggan asumsi dapat diakomodir dengan memodifikasi model EOQ (Economic Order Quantity) awal dengan cara yang sama dengan yang digunakan untuk harga per unit variabel.
  • e. Pengiriman seketika, jika pengiriman tidak terjadi seketika yang merupakan kasus umum, maka model EOQ (Economic Order Quantity) awal harus dimodifikasi dengan cara memesan stok pengaman.
  • f. Pesanan yang independen, jika multi pesanan menghasilkan penghematan biaya dengan mengurangi biaya administraasi dan transportasi maka model EOQ (Economic Order Quantity) awal harus dimodifikasi kembali. 

Asumsi-asumsi ini menggambarkan keterbatasan model EOQ (Economic Order Quantity) dasar serta cara bagaimana model tersebut dimodifikasi. Memahami keterbatasan dan asumsi model EOQ (Economic Order Quantity) menjadi dasar yang penting bagi manajer untuk membuat keputusan tentang persediaan.

2.3.2 Penentuan EOQ (Economic Order Quantity)
Adapun penentuan jumlah pesanan ekonomis (EOQ) ada 3 cara menurut Assauri (2004:182) yaitu :
  • a. Pendekatan Tabel (Tabular Approach) Penentuan jumlah pesanan yang ekonomis dengan Tabular approach dilakukan dengan cara menyusun suatu daftar atau tabel jumlah pesanan dan jumlah biaya per tahun.
  • b. Pendekatan Grafik (Graphical Approach) Penentuan jumlah pesanan ekonomis dengan cara “Graphical approach” dilakukan dengan cara menggambarkan grafik-grafik carrying costs dan total costs dalam satu gambar, dimana sumbu horisontal jumlah pesanan (order) per tahun, sumbu vertical besarnya biaya dari ordering costs, carrying costs dan total costs.
  • c. Pendekatan Rumus (formula approach) Cara penentuan jumlah pesanan ekonomis dengan menurunkan di dalam rumus-rumus matematika dapat dilakukan dengan cara memerhatikan bahwa jumlah biaya persediaan yang minimum diperoleh, jika ordering costs sama dengan carrying costs. Hampir semua model persediaan bertujuan untuk meminimalkan biaya- biaya total dengan asumsi yang tadi dijelaskan. 

Dalam menerapkan EOQ ada beberapa biaya yang harus dipertimbangkan dalam penentuan jumlah pembelian atau keuntungan, di antaranya : 
a. Biaya Pesanan
Biaya pesanan merupakan biaya yang akan langsung terkait dengan kegiatan pesanan yang dilakukan perusahaan. Biaya pesanan berfluktuasi bukan dengan jumlah yang dipesan, tetapi dengan frekuensi pesanan. Biaya pesanan tidak hanya terdiri dari biaya yang eksplisit, tetapi juga biaya kesempatan (Opportunity Cost). Sebagai misal, waktu yang terbuang untuk memroses pesanan, menjalankan administrasi pesanan dan sebagainya.
Beberapa contoh biaya pesanan antara lain : 
  1. Biaya persiapan 
  2. Biaya telepon 
  3. Biaya pengiriman 
  4. Biaya pembuatan faktur. 

b. Biaya Penyimpanan 
Biaya penyimpanan merupakan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan sehubungan dengan adanya bahan baku yang disimpan dalam perusahaan. Biaya simpan akan berfluktuasi dengan tingkat persediaan.
Beberapa contoh biaya penyimpanan antar lain: 
  1. Biaya pemeliharaan, 
  2. Biaya asuransi, 
  3. Biaya kerusakan dalam penyimpanan, 
  4. Biaya sewa gedung, 
  5. Biaya fasilitas penyimpanan. 
Sehingga dalam menentukan biaya persediaan ada 2 jenis biaya yang berubah- ubah dan harus dipertimbangkan. Pertama berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pesanan yaitu biaya pesan. Kedua biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besar kecilnya persediaan yaitu biaya penyimpanan. Selanjutnya menentukan total biaya persediaan (TC) dengan menjumlahkan biaya pesan dan biaya simpan. 

2.3.3 Persediaan Pengaman (Safety Stock)
Menurut Assauri (1998:198) persediaan pengaman adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Akibat pengadaan persediaan pengaman terhadap biaya pemisahan adalah mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, akan tetapi sebaliknya akan menambah besarnya carrying cost. Besarnya pengurangan biaya atau kerugian perusahaan adalah sebesar perkalian antar jumlah persediaan pengaman yang diadakan untuk menghadapi stock out dengan biaya stock out per unit. Pengadaan persediaan pengaman oleh perusahaan dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, tetapi juga pada saat itu diusahakan agar carrying cost serendah mungkin. Ada beberapa faktor yang menentukan besarnya persediaan pengaman yaitu penggunaan bahan baku, faktor waktu, dan biaya- biaya yang digunakan. Untuk menentukan biaya persediaan pengaman digunakan analisa statistik yaitu dengan mempertimbangkan penyimpangan- penyimpangan yang telah terjadi antara perkiraan pemakaian bahan baku dengan pemakaian sebenarnya sehingga diketahui standar deviasinya.

1.1 Periodic Review Approach
Dalam pendekatan dengan tinjaun periodik, tingkat persediaan ditinjau pada interval waktu yang sama. Pada setiap tinjauan dilakukan pemesanan kembali agar tingkat persediaan mencapai jumlah yang diinginkan. Jumlah pemesanan kembali didasarkan pada tingkat maksimum yang ditetapkan untuk setiap item persediaan yang dapat dicari dengan rumus sebagai berikut (Priyambodo, 2007 : 266) :
Q = TPM – P – JSP + PLT

Dimana :
  • Q = Jumlah pemesanan kembali
  • TPM = Tingkat persediaan maksimum
  • P = Jumlah persediaan yang ada sekarang
  • JSP = Jumlah yang sedang dipesan
  • PLT = Permintaan selama tenggang waktu pemesanan

Pendekatan periodic review mempunyai resiko terjadi stock out jika pemesanan diterima melebihi jangka waktu lead time.
MAKALAH PENDEKATAN TITIK PEMESANAN KEMBALI & PENDEKATAN TINJAUAN PERIODIK


Dalam pendekatan tinjauan periodic, tingkat persediaan akan mencapai jumlah yang diinginkan jika pengendalian persediaan dilakukan. Menurut pendapat Assauri (2004:176), pengendalian persediaan merupakan salah satu kegiatan dari urutan kegiatan-kegiatan yang berurutan erat satu sama lain dalam seluruh operasi produksi perusahaan tersebut sesuai dengan apa yang telah direncanakan lebih dahulu baik waktu, jumlah, kuantitas, maupun biayanya. Menurut Rangkuti (2004:25), pengendalian persediaan merupakan salah satu fungsi manajemen yang dapat dipecahkan dengan menerapkan metode kuantitatif. Sedangkan menurut Handoko (2000:333) pengendalian persediaan adalah fungsi manajerial yang sangat penting karena persediaan fisik banyak perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam persediaan aktiva lancar. Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengendalian persediaan adalah suatu aktivitas untuk menetapkan besarnya persediaan dengan memerhatikan keseimbangan antara besarnya persediaan yang disimpan dengan biaya-biaya yang ditimbulkannya.

Tujuan pengendalian persediaan secara terinci dapatlah dinyatakan sebagai usaha untuk (Assauri 2004:177): 
  • a.Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.
  • b.Menjaga agar supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau berlebih-lebihan.
  • c.Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya pesanan terlalu besar.

Dari keterangan di atas dapatlah dikatakan bahwa tujuan pengendalian persediaan adalah untuk memperoleh kualitas dan jumlah yang tepat dari bahan- bahan atau barang-barang yang tersedia pada waktu yang dibutuhkan dengan biaya-biaya yang minimum untuk keuntungan atau kepentingan perusahaaan.

BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Kesimpulan dalam makalah ini adalah :
  1. Dalam pendekatan ROP menghendaki jumlah persediaan yang tetap setiap kali melakukan pemesanan. Apabila persediaan mencapai jumlah tertentu, maka pemesanan kembali harus dilakukan
  2. Dalam pendekatan dengan tinjaun periodik, tingkat persediaan ditinjau pada interval waktu yang sama. Pada setiap tinjauan dilakukan pemesanan kembali agar tingkat persediaan mencapai jumlah yang diinginkan