MAKALAH PENGGUNAAN ANTIBAKTERI PADA DEMAM TIFOID DAN ANTIFUNGI PADA TINEA PEDIS - ElrinAlria
MAKALAH PENGGUNAAN ANTIBAKTERI PADA DEMAM TIFOID DAN ANTIFUNGI PADA TINEA PEDIS
MAKALAH FARMAKOLOGI DASAR
“PENGGUNAAN ANTIBAKTERI PADA DEMAM TIFOID DAN ANTIFUNGI PADA TINEA PEDIS”
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mikroorganisme yang infeksius bagi manusia salah satunya adalah bakteri dan fungi (jamur). Mikroorganisme ini menginfeksi manusia melalui akses langsung misalnya inhalasi. Sel tubuh dapat mengalami kerusakan secara langsung oleh mikroorganisme, melalui toksin yang dikeluarkan oleh mikroorganisme, atau secara tidak langsung akibat reaksi imun dan peradangan yang muncul sebagai respons terhadap mikroorganisme.

Bakteri merupakan organisme bersel tunggal yang hidup bebas dan mampu bereproduksi sendiri tetapi menggunakan hewan sebagai pejamu untuk mendapatkan makanan. Seringkali bakteri mengeluarkan toksin yang secara spesifik merusak pejamu. Salah satu contoh penyakit pada manusia yang disebabkan oleh bakteri adalah demam tifoid ( tifus ). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri salmonella thyposa. Untuk mengobati penyakit ini digunakan obat antibakteri. Antibakteri merupakan senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh atau diturunkan oleh mekanisme hidup termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik yang dalam kadar rendah dapat menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme. 

Jamur merupakan fungi yang bersifat multiseluler. Sebagian besar infeksi jamur bersifat superfisial, tetapi sebagian terletak lebih kedalam dan menyebabkan infeksi diberbagai organ dan jaringan vital. Salah satu infeksi jamur pada manusia adalah tinea pedis yang biasa dikenal dengan kutu air.

B. Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan fungi.

C. Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini antara lain ;
  1. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan fungi 
  2. Mekanisme kerja obat antibakteri dan antifungi 

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Penyakit
A.1. Demam Tifoid ( Tifus )
Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan khususnya sistem RES (reticuloendothelial system). Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Mekanisme terjadinya penyakit :
Kuman masuk melalui saluran pencernaan lewat makanan yang terkontaminasi. Sebagian dimusnahkan dalam lambung, namun ada yang lolos sampai usus, kemudian berkembang biak. Bila respon imunitas mukosa (IgA) kurang baik, kuman dapat menembus sel epitel (terutama sel-M), selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kemudian berkembang biak dan difagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup di makrofag kemudian dibawa ke plaques peyeri kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Kemudian kuman masuk ke sirkulasi darah (menyebabkan bakteremia pertama yang asimtomatik), kemudian menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial terutama hati dan limpa. Di organ ini kuman menyebarkan meninggalkan sel fagosit kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakteremia kedua kalinya dimana terjadi pelepasan endotoksin menyebar ke seluruh tubuh dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.

A.2. Tinea Pedis ( Kutu Air )
Tinea pedis disebut juga Athlete's foot = "Ring worm of the foot". Penyakit ini sering menyerang orang-orang dewasa yang banyak bekerja di tempat basah seperti tukang cuci, pekerja-pekerja di sawah atau orang-orang yang setiap hari harus memakai sepatu yang tertutup seperti anggota tentara. Keluhan subjektif bervariasi mulai dari tanpa keluhan sampai rasa gatal yang hebat dan nyeri bila ada infeksi sekunder. Penyebab utamanya ialah jamur T .rubrum, T .mentagrofites, dan Epidermofiton flokosum. Ada tiga bentuk Tinea pedis antara lain ;

Bentuk intertriginosa; keluhan yang tampak berupa maserasi, skuamasi serta erosi, di celah-celah jari terutama jari IV dan jari V. Hal ini terjadi disebabkan kelembaban di celah-celah jari tersebut membuat jamur-jamur hidup lebih subur. Bila menahun dapat terjadi fisura yang nyeri bila kena sentuh. Bila terjadi infeksi dapat menimbulkan selulitis atau erisipelas disertai gejala-gejala umum. 
Bentuk hyperkeratosis; disini lebih jelas tampak ialah terjadi penebalan kulit disertai sisik terutama ditelapak kaki, tepi kaki dan punggung kaki. Bila hiperkeratosisnya hebat dapat terjadi fisura-fisura yang dalam pada bagian lateral telapak kaki. 
Bentuk vesikuler subakut; kelainan-kelainan yang timbul di mulai pada daerah sekitar antar jari, kemudian meluas ke punggung kaki atau telapak kaki. Tampak ada vesikel dan bula yang terletak agak dalam di bawah kulit, diserta perasaan gatal yang hebat. Bila vesikel-vesikel ini memecah akan meninggalkan skuama melingkar yang disebut Collorette. Bila terjadi infeksi akan memperhebat dan memperberat keadaan sehingga dapat terjadi erisipelas. Semua bentuk yang terdapat pada Tinea pedis yaitu dermatofitosis yang menyerang tangan. 

B. Gambaran Klinis
Gambaran klinis dari infeksi oleh bakteri ( demam tifoid ) antara lain deman, nyeri tubuh, respons pada area spesifik seperti batuk, lidah kotor (bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah), dan pembesaran kelenjar getah bening regional. Ada tiga komponen utama dari gejala tifoid, antara lain demam yang berkepanjangan selama 7 hari, gangguan saluran pencernaan, dan gangguan susunan saraf pusat/kesadaran. Adapun untuk infeksi oleh jamur sering menyebabkan ( tinea pedis ) antara lain gatal dan kemerahan pada sela-sela jari serta perubahan warna dan penebalan kuku.

C. Diagnosa Penyakit
C.1. Demam Tifoid
Untuk ke akuratan dalam penegakan diagnosa penyakit, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium diantaranya pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Widal dan biakan empedu.

Pemeriksaan darah tepi merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan di laboratorium sederhana untuk membuat diagnosa cepat. Akan ada gambaran jumlah darah putih yang berkurang (lekopenia), jumlah limfosis yang meningkat dan eosinofilia. Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan darah untuk menemukan zat anti terhadap kuman tifus. Widal positif kalau titer O 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan progresif. 
Diagnosa demam Tifoid pasti positif bila dilakukan biakan empedu dengan ditemukannya kuman Salmonella typhosa dalam darah waktu minggu pertama dan kemudian sering ditemukan dalam urine dan faeces. 

Sampel darah yang positif dibuat untuk menegakkan diagnosa pasti. Sample urine dan faeces dua kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan bukan pembawa kuman (carrier). Sedangkan untuk memastikan apakah penyakit yang diderita pasien adalah penyakit lain maka perlu ada diagnosa banding. Bila terdapat demam lebih dari lima hari, dokter akan memikirkan kemungkinan selain demam tifoid yaitu penyakit infeksi lain seperti Paratifoid A, B dan C, demam berdarah (Dengue fever), influenza, malaria, TBC (Tuberculosis), dan infeksi paru (Pneumonia).

C.2. Tinea Pedis
Diagnosa dilakukan berdasarkan gejala klinik yang ada.

D. Pengobatan
D.1. Demam Tifoid
Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.

Antibakteri (antibiotik) yang diberikan pada pasien demam tifoid adalah kloram fenikol. Efek antimikroba kloramfenikol yakni bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman dengan cara berikatan pada ribosom 50S. Yang dihambat adalah pembentukan rantai peptida yakni enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman.

Efek samping :
  1. Reaksi hematologik, Terdapat dalam 2 bentuk yaitu; (a) reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang. Kelainan ini berhubungan dengan dosis, menjadi sembuh dan pulih bila pengobatan dihentikan. Reaksi ini terlihat bila kadar Kloramfenikol dalam serum melampaui 25 mcg/ml. (b) Bentuk yang kedua bentuknya lebih buruk karena anemia yang terjadi bersifat menetap seperti anemia aplastik dengan pansitopenia. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan. Efek samping ini diduga disebabkan oleh adanya kelainan genetik.
  2. Reaksi alergi, kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam Tifoid walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai. 
  3. Reaksi saluran cerna, bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis. 
  4. Sindrom gray, pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kg BB) dapat timul sindrom Gray, biasanya antara hari ke 2 sampai hari ke 9 masa terapi, rata-rata hari ke 4. Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusui, pernafasan cepat dan tidak teratur, perutkembung, sianosis dan diare dengan tinja berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat. Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan; terjadi pula hipotermia (kedinginan). 
  5. Reaksi neurologik, dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala. 

D.2. Tinea Pedis
Untuk mengobati Tinea pedis (kutu air) digunakan obat yang mengandung Mikonasola nitrat 2 % dalam bentuk sediaan krem atau serbuk. Pemakaiannya dengan cara mengoleskan krim atau serbuk sehari sekali sambil digosokkan perlahan. Biasanya sembuh setelah 2-5 minggu, tetap perpanjang pengobatan selama 10 hari, untuk mencegah kambuh.

Terapi sistemik Tinea pedis yakni menggunakan griseofulvin. Griseofulvin adalah suatu antibiotika fungisidal yang dibuat dari biakan spesies penisillium. Secara invitro griseofulvin dapat menghambat pertumbuhan berbagai spesies dari Microsporum, Epidermophyton dan Trichophyton. Pada penggunaan per oral griseofulvin diabsorpsi secara lambat, dengan memperkecil ukuran partikel, absorpsi dapat ditingkatkan. Griseofulvin ditimbun di sel-sel terbawah dari sel epidermis, sehingga keratin yang baru terbentuk akan tetap dilindungi terhadap infeksi jamur.

Kontra Indikasi:
  • Pasien yang menderita penyakit porfiria, gangguan sel hati dan pasien yang hipersensitif terhadap griseofulvin. 
  • Jangan digunakan pada penderita yang sedang hamil, menyusui dan penderita lupus erythematosus sistemik. 

Dosis: 
  • Dewasa, pada umumnya 4 kali sehari 1 tablet sudah cukup. Untuk kasus tertentu mungkin diperlukan dosis awal yang lebih tinggi yaitu 8 tablet sehari. 
  • Anak-anak, sehari 10 mg per kg berat badan. 
  • Lama pengobatan dilakukan paling sedikit 4 minggu. Untuk kasus tertentu misalnya infeksi kuku, pengobatan dapat berlangsung selama 6 - 12 bulan. 
  • Terapi dihentikan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah infeksi hilang. 

Peringatan dan Perhatian: 
  • Keamanan dan manfaat griseofulvi untuk pencegahan infeksi jamur belum diketahui dengan pasti. 
  • Pengobatan jangka panjang harus dibawah pengawasan dan dimonitor secara periodik fungsi-fungsi organ termasuk fungsi ginjal, hati dan hematopoietik. 
  • Penderita yang alergi terhadap penisilin boleh memakai obat ini, walaupun secara teoritis dapat terjadi sensitivitas silang terhadap penisilin. 
  • Reaksi fotosensitivitas dapat terjadi dan dilaporkan timbulnya lupus erythematosus pada penderita yang mendapatkan griseofulvin. 

Efek Samping:
  • Efek samping bersifat ringan dan sementara, misalnya: sakit kepala, rasa kering pada mulut, iritasi lambung dan rash kulit. 
  • Reaksi hipersensitivitas: urtikaria, edema angioneurotik. 
  • Proteinuria, hepatotoksisitas. 

Interaksi Obat: 
  1. Griseofulvin menurunkan aktivitas warfarin sebagai antikoagulan, kontrasepsi oral dan dapat meningkatkan efek alkohol. 
  2. Barbiturat menurunkan aktivitas griseofulvin. 

E. Pencegahan
E.1. Demam Tifoid
Langkah pencegahan yang dilakukan antara lain;
  1. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat 
  2. Pembuangan kotoran manusia yang pada tempatnya 
  3. Pemberantasan lalat 
  4. Pengawasan terhadap rumah-rumah makan dan penjual-penjual makanan 
  5. Imunisasi 
  6. Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier) 
  7. Pendidikan kesehatan kepada mayarakat. 

E.2. Tinea Pedis
Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Jika faktor-faktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan akan lambat. Daerah intertrigo atau daerah antara jari-jari sesudah mandi harus dikeringkan betul dan diberi bedak pengering atau bedak anti jamur. 
Alas kaki harus pas betul dan tidak terlalu ketat. 
Pasien dengan hiperhidrosis dianjurkan agar memakai kaos dari bahan katun yang menyerap keringat, jangan memakai bahan yang terbuat dari wool atau bahan sintetis. 
Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan air panas. 

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa ;
  1. Demam tifoid adalah suatu infeksi akut pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Antibakteri/anti biotik yang digunakan adalah kloramfenikol.
  2. Tinea pedis (kutu air) adalah infeksi pada sela-sela jari yang disebabkan oleh jamur T .rubrum, T .mentagrofites, dan Epidermofiton flokosum. Terapi topikalnya yakni dengan menggunakan krem, dan secara sistemiknya dengan menggunakan obat griseofulvin. 

B. Saran
Jagalah kesehatan tubuh agar kita terhindar dari berbagai macan penyakit. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena sehat itu murah, sakit itu mahal.

DAFTAR PUSTAKA
J.Corwin, E. 2009. Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Sumarmo, Nathin MA, Ismael S, TumbelakaWAFJ. 1980. Masalah demam tifoid pada anak. FK UI. Jakarta.

Sukandar,E Y., dkk. ISO Farmakoterapi. ISFI Penerbitan. Jakarta.

Tjay,T.H dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting, Edisi VI. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Boel,Trelia. 2011. Mikosis Superfisial. FKG Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.

Prasetyo,Vitria R dan Ismoedijanto. 2011. Metode Diagnostik Demam Tifoid pada Anak. FK UNAIR. Surabaya.

MAKALAH PENGGUNAAN ANTIBAKTERI PADA DEMAM TIFOID DAN ANTIFUNGI PADA TINEA PEDIS

MAKALAH PENGGUNAAN ANTIBAKTERI PADA DEMAM TIFOID DAN ANTIFUNGI PADA TINEA PEDIS
MAKALAH FARMAKOLOGI DASAR
“PENGGUNAAN ANTIBAKTERI PADA DEMAM TIFOID DAN ANTIFUNGI PADA TINEA PEDIS”
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mikroorganisme yang infeksius bagi manusia salah satunya adalah bakteri dan fungi (jamur). Mikroorganisme ini menginfeksi manusia melalui akses langsung misalnya inhalasi. Sel tubuh dapat mengalami kerusakan secara langsung oleh mikroorganisme, melalui toksin yang dikeluarkan oleh mikroorganisme, atau secara tidak langsung akibat reaksi imun dan peradangan yang muncul sebagai respons terhadap mikroorganisme.

Bakteri merupakan organisme bersel tunggal yang hidup bebas dan mampu bereproduksi sendiri tetapi menggunakan hewan sebagai pejamu untuk mendapatkan makanan. Seringkali bakteri mengeluarkan toksin yang secara spesifik merusak pejamu. Salah satu contoh penyakit pada manusia yang disebabkan oleh bakteri adalah demam tifoid ( tifus ). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri salmonella thyposa. Untuk mengobati penyakit ini digunakan obat antibakteri. Antibakteri merupakan senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh atau diturunkan oleh mekanisme hidup termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik yang dalam kadar rendah dapat menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme. 

Jamur merupakan fungi yang bersifat multiseluler. Sebagian besar infeksi jamur bersifat superfisial, tetapi sebagian terletak lebih kedalam dan menyebabkan infeksi diberbagai organ dan jaringan vital. Salah satu infeksi jamur pada manusia adalah tinea pedis yang biasa dikenal dengan kutu air.

B. Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan fungi.

C. Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini antara lain ;
  1. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan fungi 
  2. Mekanisme kerja obat antibakteri dan antifungi 

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Penyakit
A.1. Demam Tifoid ( Tifus )
Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan khususnya sistem RES (reticuloendothelial system). Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Mekanisme terjadinya penyakit :
Kuman masuk melalui saluran pencernaan lewat makanan yang terkontaminasi. Sebagian dimusnahkan dalam lambung, namun ada yang lolos sampai usus, kemudian berkembang biak. Bila respon imunitas mukosa (IgA) kurang baik, kuman dapat menembus sel epitel (terutama sel-M), selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kemudian berkembang biak dan difagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup di makrofag kemudian dibawa ke plaques peyeri kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Kemudian kuman masuk ke sirkulasi darah (menyebabkan bakteremia pertama yang asimtomatik), kemudian menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial terutama hati dan limpa. Di organ ini kuman menyebarkan meninggalkan sel fagosit kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakteremia kedua kalinya dimana terjadi pelepasan endotoksin menyebar ke seluruh tubuh dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.

A.2. Tinea Pedis ( Kutu Air )
Tinea pedis disebut juga Athlete's foot = "Ring worm of the foot". Penyakit ini sering menyerang orang-orang dewasa yang banyak bekerja di tempat basah seperti tukang cuci, pekerja-pekerja di sawah atau orang-orang yang setiap hari harus memakai sepatu yang tertutup seperti anggota tentara. Keluhan subjektif bervariasi mulai dari tanpa keluhan sampai rasa gatal yang hebat dan nyeri bila ada infeksi sekunder. Penyebab utamanya ialah jamur T .rubrum, T .mentagrofites, dan Epidermofiton flokosum. Ada tiga bentuk Tinea pedis antara lain ;

Bentuk intertriginosa; keluhan yang tampak berupa maserasi, skuamasi serta erosi, di celah-celah jari terutama jari IV dan jari V. Hal ini terjadi disebabkan kelembaban di celah-celah jari tersebut membuat jamur-jamur hidup lebih subur. Bila menahun dapat terjadi fisura yang nyeri bila kena sentuh. Bila terjadi infeksi dapat menimbulkan selulitis atau erisipelas disertai gejala-gejala umum. 
Bentuk hyperkeratosis; disini lebih jelas tampak ialah terjadi penebalan kulit disertai sisik terutama ditelapak kaki, tepi kaki dan punggung kaki. Bila hiperkeratosisnya hebat dapat terjadi fisura-fisura yang dalam pada bagian lateral telapak kaki. 
Bentuk vesikuler subakut; kelainan-kelainan yang timbul di mulai pada daerah sekitar antar jari, kemudian meluas ke punggung kaki atau telapak kaki. Tampak ada vesikel dan bula yang terletak agak dalam di bawah kulit, diserta perasaan gatal yang hebat. Bila vesikel-vesikel ini memecah akan meninggalkan skuama melingkar yang disebut Collorette. Bila terjadi infeksi akan memperhebat dan memperberat keadaan sehingga dapat terjadi erisipelas. Semua bentuk yang terdapat pada Tinea pedis yaitu dermatofitosis yang menyerang tangan. 

B. Gambaran Klinis
Gambaran klinis dari infeksi oleh bakteri ( demam tifoid ) antara lain deman, nyeri tubuh, respons pada area spesifik seperti batuk, lidah kotor (bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah), dan pembesaran kelenjar getah bening regional. Ada tiga komponen utama dari gejala tifoid, antara lain demam yang berkepanjangan selama 7 hari, gangguan saluran pencernaan, dan gangguan susunan saraf pusat/kesadaran. Adapun untuk infeksi oleh jamur sering menyebabkan ( tinea pedis ) antara lain gatal dan kemerahan pada sela-sela jari serta perubahan warna dan penebalan kuku.

C. Diagnosa Penyakit
C.1. Demam Tifoid
Untuk ke akuratan dalam penegakan diagnosa penyakit, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium diantaranya pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Widal dan biakan empedu.

Pemeriksaan darah tepi merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan di laboratorium sederhana untuk membuat diagnosa cepat. Akan ada gambaran jumlah darah putih yang berkurang (lekopenia), jumlah limfosis yang meningkat dan eosinofilia. Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan darah untuk menemukan zat anti terhadap kuman tifus. Widal positif kalau titer O 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan progresif. 
Diagnosa demam Tifoid pasti positif bila dilakukan biakan empedu dengan ditemukannya kuman Salmonella typhosa dalam darah waktu minggu pertama dan kemudian sering ditemukan dalam urine dan faeces. 

Sampel darah yang positif dibuat untuk menegakkan diagnosa pasti. Sample urine dan faeces dua kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan bukan pembawa kuman (carrier). Sedangkan untuk memastikan apakah penyakit yang diderita pasien adalah penyakit lain maka perlu ada diagnosa banding. Bila terdapat demam lebih dari lima hari, dokter akan memikirkan kemungkinan selain demam tifoid yaitu penyakit infeksi lain seperti Paratifoid A, B dan C, demam berdarah (Dengue fever), influenza, malaria, TBC (Tuberculosis), dan infeksi paru (Pneumonia).

C.2. Tinea Pedis
Diagnosa dilakukan berdasarkan gejala klinik yang ada.

D. Pengobatan
D.1. Demam Tifoid
Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.

Antibakteri (antibiotik) yang diberikan pada pasien demam tifoid adalah kloram fenikol. Efek antimikroba kloramfenikol yakni bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman dengan cara berikatan pada ribosom 50S. Yang dihambat adalah pembentukan rantai peptida yakni enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman.

Efek samping :
  1. Reaksi hematologik, Terdapat dalam 2 bentuk yaitu; (a) reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang. Kelainan ini berhubungan dengan dosis, menjadi sembuh dan pulih bila pengobatan dihentikan. Reaksi ini terlihat bila kadar Kloramfenikol dalam serum melampaui 25 mcg/ml. (b) Bentuk yang kedua bentuknya lebih buruk karena anemia yang terjadi bersifat menetap seperti anemia aplastik dengan pansitopenia. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan. Efek samping ini diduga disebabkan oleh adanya kelainan genetik.
  2. Reaksi alergi, kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam Tifoid walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai. 
  3. Reaksi saluran cerna, bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis. 
  4. Sindrom gray, pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kg BB) dapat timul sindrom Gray, biasanya antara hari ke 2 sampai hari ke 9 masa terapi, rata-rata hari ke 4. Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusui, pernafasan cepat dan tidak teratur, perutkembung, sianosis dan diare dengan tinja berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat. Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan; terjadi pula hipotermia (kedinginan). 
  5. Reaksi neurologik, dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala. 

D.2. Tinea Pedis
Untuk mengobati Tinea pedis (kutu air) digunakan obat yang mengandung Mikonasola nitrat 2 % dalam bentuk sediaan krem atau serbuk. Pemakaiannya dengan cara mengoleskan krim atau serbuk sehari sekali sambil digosokkan perlahan. Biasanya sembuh setelah 2-5 minggu, tetap perpanjang pengobatan selama 10 hari, untuk mencegah kambuh.

Terapi sistemik Tinea pedis yakni menggunakan griseofulvin. Griseofulvin adalah suatu antibiotika fungisidal yang dibuat dari biakan spesies penisillium. Secara invitro griseofulvin dapat menghambat pertumbuhan berbagai spesies dari Microsporum, Epidermophyton dan Trichophyton. Pada penggunaan per oral griseofulvin diabsorpsi secara lambat, dengan memperkecil ukuran partikel, absorpsi dapat ditingkatkan. Griseofulvin ditimbun di sel-sel terbawah dari sel epidermis, sehingga keratin yang baru terbentuk akan tetap dilindungi terhadap infeksi jamur.

Kontra Indikasi:
  • Pasien yang menderita penyakit porfiria, gangguan sel hati dan pasien yang hipersensitif terhadap griseofulvin. 
  • Jangan digunakan pada penderita yang sedang hamil, menyusui dan penderita lupus erythematosus sistemik. 

Dosis: 
  • Dewasa, pada umumnya 4 kali sehari 1 tablet sudah cukup. Untuk kasus tertentu mungkin diperlukan dosis awal yang lebih tinggi yaitu 8 tablet sehari. 
  • Anak-anak, sehari 10 mg per kg berat badan. 
  • Lama pengobatan dilakukan paling sedikit 4 minggu. Untuk kasus tertentu misalnya infeksi kuku, pengobatan dapat berlangsung selama 6 - 12 bulan. 
  • Terapi dihentikan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah infeksi hilang. 

Peringatan dan Perhatian: 
  • Keamanan dan manfaat griseofulvi untuk pencegahan infeksi jamur belum diketahui dengan pasti. 
  • Pengobatan jangka panjang harus dibawah pengawasan dan dimonitor secara periodik fungsi-fungsi organ termasuk fungsi ginjal, hati dan hematopoietik. 
  • Penderita yang alergi terhadap penisilin boleh memakai obat ini, walaupun secara teoritis dapat terjadi sensitivitas silang terhadap penisilin. 
  • Reaksi fotosensitivitas dapat terjadi dan dilaporkan timbulnya lupus erythematosus pada penderita yang mendapatkan griseofulvin. 

Efek Samping:
  • Efek samping bersifat ringan dan sementara, misalnya: sakit kepala, rasa kering pada mulut, iritasi lambung dan rash kulit. 
  • Reaksi hipersensitivitas: urtikaria, edema angioneurotik. 
  • Proteinuria, hepatotoksisitas. 

Interaksi Obat: 
  1. Griseofulvin menurunkan aktivitas warfarin sebagai antikoagulan, kontrasepsi oral dan dapat meningkatkan efek alkohol. 
  2. Barbiturat menurunkan aktivitas griseofulvin. 

E. Pencegahan
E.1. Demam Tifoid
Langkah pencegahan yang dilakukan antara lain;
  1. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat 
  2. Pembuangan kotoran manusia yang pada tempatnya 
  3. Pemberantasan lalat 
  4. Pengawasan terhadap rumah-rumah makan dan penjual-penjual makanan 
  5. Imunisasi 
  6. Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier) 
  7. Pendidikan kesehatan kepada mayarakat. 

E.2. Tinea Pedis
Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Jika faktor-faktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan akan lambat. Daerah intertrigo atau daerah antara jari-jari sesudah mandi harus dikeringkan betul dan diberi bedak pengering atau bedak anti jamur. 
Alas kaki harus pas betul dan tidak terlalu ketat. 
Pasien dengan hiperhidrosis dianjurkan agar memakai kaos dari bahan katun yang menyerap keringat, jangan memakai bahan yang terbuat dari wool atau bahan sintetis. 
Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan air panas. 

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa ;
  1. Demam tifoid adalah suatu infeksi akut pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Antibakteri/anti biotik yang digunakan adalah kloramfenikol.
  2. Tinea pedis (kutu air) adalah infeksi pada sela-sela jari yang disebabkan oleh jamur T .rubrum, T .mentagrofites, dan Epidermofiton flokosum. Terapi topikalnya yakni dengan menggunakan krem, dan secara sistemiknya dengan menggunakan obat griseofulvin. 

B. Saran
Jagalah kesehatan tubuh agar kita terhindar dari berbagai macan penyakit. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena sehat itu murah, sakit itu mahal.

DAFTAR PUSTAKA
J.Corwin, E. 2009. Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Sumarmo, Nathin MA, Ismael S, TumbelakaWAFJ. 1980. Masalah demam tifoid pada anak. FK UI. Jakarta.

Sukandar,E Y., dkk. ISO Farmakoterapi. ISFI Penerbitan. Jakarta.

Tjay,T.H dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting, Edisi VI. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Boel,Trelia. 2011. Mikosis Superfisial. FKG Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.

Prasetyo,Vitria R dan Ismoedijanto. 2011. Metode Diagnostik Demam Tifoid pada Anak. FK UNAIR. Surabaya.