MAKALAH SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN PERMASALAHAN DRAINASE PERKOTAAN - ElrinAlria
MAKALAH SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN PERMASALAHAN DRAINASE PERKOTAAN
MAKALAH SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN PERMASALAHAN DRAINASE PERKOTAAN
BAB I.
PENDAHULUAN

1.1 latar belakang
Kota merupakan tempat bagi banyak orang untuk melakukan berbagai aktivitas, maka untuk menjamin kesehatan dan kenyamanan penduduknya harus ada sanitasi yang memadai, misalnya drainase. Dengan adanya drainase tersebut genangan air hujan dapat disalurkan sehingga banjir dapat dihindari dan tidak akan menimbulkan dampak gangguan kesehatan pada masyarakat serta aktivitas masyarakat tidak akan terganggu.

Drainase merupakan suatu sistem untuk menyalurkan air hujan. Sistem ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat, apalagi di daerah yang berpenduduk padat seperti di perkotaan. Drainase juga merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota (perencanaan infrastruktur khususnya). Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas, dimana drainase merupakan suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut.

Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permkaantanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir.

1.2 rumusan masalah. 
  • a. Definisi drainase.
  • b. Jenis drainase.
  • c. Fungsi drainase.
  • d. System drainase berwawasan lingkungan.
  • e. Pentingnya drainase di kawasan perkotaan.
  • f. Permasalah drainase perkotaan.
  • g. Penanganan drainase perkotaan.

1.3 maksud dan tujuan. 
Maksud dan tujuan dari tugas makalah drainase ini adalah agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami sistem drainase di perkotaan dan fungsinya , serta mengetahui penanganan masalah drainase perkotaan

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi drainase
Drainase yang berasal dari kata to drain yang berarti mengeringkan atau mengalirkan air drainase. Ini merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan air limbah dari daerah pemukiman, badan jalan dan permukaan perkerasan lainnya. Selain itu juga dapat berupa penyaluran kelebihan air, baik air hujan, air limbah maupun air kotor lainnya. Air kotor ini berasal dari suatu kawasan yang mengalir menuju bangunan resapan buatan. Sistem drainase juga dapat didefinisikan sebagai pembuangan air permukaan atau air tanah dari suatu daerah baik secara gravitasi maupun dengan pompa (Sutanto 1992:199).

Pemahaman secara umum mengenai drainase perkotaan adalah suatu ilmu dari drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan. Ini merupakan suatu sistem pengeringan dari pengaliran air di wilayah perkotaan yang meliputi pemukiman, kawasan industri dan perdagangan, rumah sakit, lapangan olahraga, lapangan terbang, instalasi listrik dan telekomunikasi. Selain itu juga termasuk tempat-tempat lainnya yang merupakan bagian dari sarana kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan, sehingga menimbulkan dampak negatif dan dampak memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia.

2.2 Jenis drainase
a. Menurut Letak Saluran
Drainase Permukaan Tanah, 
yaitu saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah, yang berfungsi untuk mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open channel flow.

2. Drainase Bawah Permukaan, 
yaitu saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah karena alasan-alasan tertentu. Alasan tersebut antara lain karena tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak memperbolehkan adanya saluran di permukaan tanah, seperti lapangan sepak bola, taman, dan lapangan terbang.

b. Menurut Sejarah Terbentuknya
1. Drainase Alamiah, 
yaitu sistem drainase yang terbentuk secara alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia. Pada daerah yang belum berkembang, drainase terjadi secara alamiah sebagai bagian dari siklus hidrologi. Drainase alami ini berlangsung tidak secara statis, melainkan terus berubah secara konstan menurut keadaan fisik lingkungan sekitar.

2. Drainase Buatan,
yaitu saluran drainase yang dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk mentukan debit akibat hujan, dan dimensi saluran. Drainase buatan dibagi menjadi 3 berdasarkan tempatnya, yaitu

c. Menurut Konstruksi
1. Saluran Terbuka
yaitu sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan, namun pada umumnya sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota, saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Akan tetapi, saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton, mansory (pasangan batu). 

2. Saluran Tertutup,
yaitu saluran untuk air kotor yang mengganggu kesehatan lingkungan. Sistem drainase ini baik untuk diterapkan di daerah perkotaan, terutama dengan tingkat penduduk yang tinggi.

d. Menurut Fungsi :
Single Purpose, yaitu saluran yang berfungsi untuk mengalirkan satu jenis air buangan saja. 
Multi Purpose, yaitu saluran yang berfungsi untuk mengalirkan beberapa jenis buangan, baik secara bercampur maupun bergantian 

2.3 Fungsi Drainase
  1. Mengeringkan daerah becek dan genangan air 
  2. Mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan bangunan resapan 
  3. Pengendali kebutuhan air permukaan 
  4. Mengendalikan akumulasi limpasan air hujan yang berlebihan 
  5. Mengendalikan erosi akibat air hujan yang berlebih 
  6. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal
  7. Mengurangi kerusakan jalan dan bangunan akibat genangan air pada waktu hujan 
  8. Memperbaiki kualitas lingkungan masyarakat dan meningkatkan kesehatan masyarakat di perkotaan 

BAB III.
PEMBAHASAN
3.1 Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan
Drainase didefinisikan sebagai pembuangan air permukaan, baik secara gravitasi maupun dengan pompa dengan tujuan untuk mencegah terjadinya genangan, menjaga dan menurunkan permukaan air sehingga genangan air dapat dihindarkan. Drainase perkotaan berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga tidak merugikan masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Kelebihan air tersebut dapat berupa air hujan, air limbah domestik maupun air limbah industri. Oleh karena itu drainase perkotaan harus terpadu dengan sanitasi, sampah, pengendali banjir kota dan lainnya. 

Pengembangan permukiman di perkotaan yang demikian pesatnya justru makin mengurangi daerah resapan air hujan karena luas daerah yang ditutupi oleh perkerasan semakin meningkat dan waktu berkumpulnya air (time of concentration) pun menjadi jauh lebih pendek sehingga pada akhirnya akumulasi air hujan yang terkumpul melampaui kapasitas drainase yang ada. Banyak kawasan rendah yang semula berfungsi sebagai tempat parkir air (retarding pond) dan bantaran sungai kini menjadi tempat hunian. Kondisi ini akhirnya akan meningkatkan volume air permukaan yang masuk ke saluran drainase dan sungai. Hal ini dapat dilihat dari air yang meluap dari saluran drainase, baik di perkotaan maupun di permukiman, yang menimbulkan genangan air atau bahkan banjir. Hal itu terjadi karena selama ini drainase difungsikan untuk mengalirkan air hujan yang berupa limpasan (run-off) secepat-cepatnya ke penerima air/badan air terdekat.

Untuk mengatasi permasalahan infrastruktur tersebut diperlukan sistem drainase yang berwawasan lingkungan dengan prinsip dasar mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga dapat dialirkan secara terkendali dan lebih banyak memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah. Hal ini dimaksudkan agar konservasi air tanah dapat berlangsung dengan baik dan dimensi struktur bangunan sarana drainase dapat lebih efisien. Menurut Dr. Ing. Ir. Agus Maryono dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan merupakan rangkaian usaha dari sumber (hulu) sampai muara (hilir) untuk membuang/mengalirkan hujan kelebihan melalui saluran drainase dan atau sungai ke badan air (pantai/laut, danau, situ, waduk, dan bozem) dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di dataran banjir yang dilalui oleh saluran dan atau sungai tersebut (akibat kenaikan debit puncak dan pemendekan waktu mencapai debit puncak). Berbeda dengan prinsip lama, yaitu mengalirkan limpasan air hujan ke badan air penerima secepatnya, drainase berwawasan lingkungan bekerja dengan berupaya memperlambat aliran limpasan air hujan.

Prinsipnya, air hujan yang jatuh ditahan dulu agar lebih banyak yang meresap ke dalam tanah melalui bangunan resapan, baik buatan maupun alamiah seperti kolam tandon, sumur-sumur resapan, biopori, dan lain-lain. Hal ini dilakukan mengingat semakin minimnya persediaan air tanah dan tingginya tingkat pengambilan air. Pengembangan prasarana dan sarana drainase berwawasan lingkungan ditujukan untuk mengelola limpasan permukaan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan sesuai dengan kaidah konservasi dan keseimbangan lingkungan. Konsep inilah yang ingin mengubah paradigma lama dalam pembangunan drainase khususnya di perkotaan.

Pelestarian prasarana dan sarana drainase mandiri berbasis masyarakat sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, memanfaatkan, dan memelihara prasarana dan sarana yang ada. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana serta penyuluhan dan pedoman pemeliharaan yang mengedepankan partisipasi masyarakat. Masyakarat dapat berperan dan berpartisipasi dalam setiap tahapan perencanaan, pembangunan, operasional dan pemeliharaan sistem jaringan drainase melalui beberapa tahap, antara lain:
  • a. Tahap Survei dan Investigasi: masyarakat dapat memberikan informasi calon lokasi yang akan dibangun dan kondisi setempat seperti kelayakan dari segi teknis dan ekonomi.
  • b. Tahap Perencanaan: masyarakat dapat ikut serta dalam persetujuan, kesepakatan dan penggunaan dari perencanaan yang telah dibuat.
  • c. Tahap Pembebasan Lahan: masyarakat memberi kemudahan dan memperlancar proses pembebasan lahan apabila lahan masyarakat terkena dampak pembangunan.
  • d. Tahap Pembangunan: masyarakat dapat ikut serta dalam pengawasan dan terlibat dalam pelaksanaan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan.
  • e. Tahap Operasi dan Pemeliharaan: masyarakat ikut serta aktif dalam pemeliharan dan pengoperasian, melaporkan jika ada kerusakan.
  • f. Tahap Monitoring dan Evaluasi: masyarakat dapat memberikan data yang benar dan nyata sesuai dengan kondisi eksisting di lapangan terkait segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek serta dampak yang ditimbulkannya.

Cara paling efektif agar drainase berwawasan lingkungan ini dapat berkelanjutan adalah peran serta masyarakat untuk ikut aktif di dalam penerapan pelestarian air tanah karena jika persediaan air tanah habis, merekalah yang paling merasakan akibatnya. Masyarakat dapat berperan aktif untuk ikut menabung air melalui kolam tandon penampung air hujan, berupa reservoir bawah tanah maupun dengan tangki penampung yang berfungsi menampung dan mengalirkan air hujan yang jatuh dari permukaan tanah, bangunan, juga atap rumah. 

• Sumur Resapan, Solusi Termurah
Sumur resapan adalah salah satu solusi murah dan cepat untuk masalah banjir. Umumnya sumur resapan berbentuk bundar dengan diameter minimal 1 meter. Lubang galian sebelah atas sampai lapisan tanah relatif keras dan bersemen agar dilindungi dengan bidang penahanan longsoran dinding sumur (bisa dari bambu, pasangan bata, base beton atau drum). Kedalaman sumur resapan relatif tergantung kondisi formasi batuan dan muka air tanah. Untuk daerah yang muka air tanahnya dalam, kedalaman sumur resapan dapat dibuat hingga mencapai 5 meter. 

Idealnya dalam perencanaan drainase di suatu wilayah perlu direncanakan adanya sumur resapan sehingga dimensi saluran drainase dapat lebih diminimalkan. Untuk hasil yang lebih maksimal, penggunaan sumur resapan dapat divariasikan dengan bangunan drainase lainnya seperti kolam resapan. Upaya ini akan berdampak besar bila semua masyarakat sadar dan mau menerapkannya. 

Peran sumur resapan tentu tidak akan berarti bila hanya beberapa rumah yang menerapkannya. Bayangkan, bila setiap rumah memiliki sumur resapan yang masing-masing mampu meresapkan air hujan sejumlah satu meter kubik dan satu kawasan terdapat sepuluh ribu rumah maka akan didapatkan sepuluh ribu meter kubik air yang dapat meresap ke tanah. Kawasan tersebut dapat mengurangi limpasan permukaan yang akan membebani saluran drainase di hilir dan mampu mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau karena pada musim penghujan, mereka telah menabung air.

3.2 Pentingnya Drainase di Kawasan Perkotaan
Saat ini sistem drainase sudah menjadi salah satu infrastruktur perkotaan yang sangat penting. Kualitas manajemen suatu kota dapat dilihat dari kualitas sistem drainase yang ada. Sistem drainase yang baik dapat membebaskan kota dari genangan air. Genangan air menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan jorok, menjadi sarang nyamuk, dan sumber penyakit lainnya, sehingga dapat menurunkan kualitas lingkungan, dan kesehatan masyarakat.

Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir.

Sebagai salah satu sistem dalam perencanaan perkotaan, maka sistem drainase yang ada dikenal dengan istilah sistem drainase perkotaan. Drainase perkotaan didefinisikan sebagai ilmu drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan sosial-budaya yang ada di kawasan kota.

Drainase perkotaan merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah yang meliputi:
  • a. Permukiman.
  • b. Kawasan industri dan perdagangan.
  • c. Kampus dan sekolah.
  • d. Rumah sakit dan fasilitas umum.
  • e. Lapangan olahraga.
  • f. Lapangan parkir.
  • g. Instalasi militer, listrik, dan telekomunikasi.
  • h. Pelabuhan udara

3.3 Permasalahan Drainase Perkotaan
• Peningkatan debit
Perubahan tata guna lahan yang selalu terjadi akibat perkembangan kota dapat mengakibatkan peningkatan aliran permukaan dan debit banjir. Manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan saluran drainase dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadi genangan. (Suripin 2004:226)

• Peningkatan jumlah penduduk
Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, merupakan akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkatan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahan infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatan penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik cair maupun padat. (Suripin 2004:226)

• Amblesan tanah
Amblesan tanah terjadi akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada di bawah muka air laut pasang. Akibatnya sistem drainase gravitasi terganggu dan tidak dapat bekerja tanpa pompa. (Suripin 2004:226)

• Penyempitan dan pandangkalan saluran
Penyempitan saluran drainase dipengaruhi oleh faktor peningkatan jumlah penduduk (Suryokusumo 2008:81). Peningkatan jumlah penduduk yang sangat pesat mengakibatkan berkurangnya lahan untuk saluran drainase. Banyak pemukiman yang didirikan di atas saluran drainase sehingga aliran drainase menjadi tersumbat. Sampah penduduk pun juga tidak jarang dijumpai di aliran drainase, terutama di perkotaan. Hal ini karena kesadaran penduduk yang rendah terhadap kebersihan lingkungannya

• Limbah sampah dan pasang surut 
Saluran drainase di perkotaan kadang memilliki fungsi ganda, yaitu sebagai saluran drainase itu sendiri dan sebagai saluran irigasi, yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah tersendiri. Hal lain yang juga sering menjadi permasalahan pengelolaan infrastruktur ini adalah berkaitan dengan perbedaan sistem, dimensi, dan konstruksi drainase. Beberapa contoh perbedaan terkait pengelolaaan drainase seperti yang dijelaskan oleh Suryokusumo (2008:81-82)

sistem drainase di wilayah hulu mempunyai sistem tertutup, sedangkan di wilayah hilir dengan sistem terbuka. Sementara itu, konstruksi drainase bersifat permanen sedangkan saluran irigasi bersifat teknis. Contoh lain yang lebih ekstrem adalah sistem drainase di wilayah hulu memliki dimensi yang besar, sedangkan di wilayah hulu dimensinya justu kecil, akibatnya muncul genangan dan luapan air dari jaringan drainase yang ada. Crossing utilitas atau yang sering disebut tumpang tindih merupakan permasalahan tersendiri bagi sektor drainase dengan utilitas lain seperti pipa air minum, pipa air limbah, dan kabel telekomunikasi. Arah saluran yang menuju sungai juga bisa menjadi masalah tersendiri karena jika tidak terkendali justru akan menjadi masalah baru bagi daerah yang secara geografis wilayahnya berada di bawah. Penambahan debit air sungai dari drainase akan berakibat munculnya banjir di wilayah hilir.Banjir merupakan permasalahan yang paling sering dijumpai di kota-kota besar.Menurut Suripin (2004:10) 

akar permasalahan banjir di perkotaan berawal dari pertambahan penduduk yang sangat cepat. Pertumbuhan penduduk di atas rata-rata pertumbuhan nasional, akibat urbanisasi. Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai, mengakibatkan pemanfaatan lahan perkotaan menjadi acak-acakan. Hal inilah yang menyebabkan persoalan drainase perkotaan menjadi sangat kompleks. Selain itu permasalahan-permasalahan tersebut juga disebabkan oleh tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah dan tidak peduli dengan permasalahan yang dihadapi kota. Permasalahan lain yang dihadapi dalam pembangunan drainase di perkotaan adalah lemahnya koordinasi dan sinkronisasi dengan komponen infrastruktur yang lain (Suripin 2004:12).

Akibatnya sering dijumpai tiang listrik di tengah saluran drainase, dan pipa air bersih. Seringkali penggalian saluran drainase tidak sengaja merusak prasarana yang sudah ada atau yang ditanam dalam tanah. Biasanya kesalahan ini terjadi karena tidak adanya informasi yang akurat, dokumen yang tidak ada, atau perencanaan pematokan di lapangan tidak melibatkan instalasi pengendali tata ruang.

3.4 Penanganan Drainase Perkotaan
  1. Mengadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah. 
  2. Membuat bak kontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke saluran drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak terjadi endapan 
  3. Pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan, terutama membuang sampah sembarangan, agar masyarakat mengetahui pentingnya manfaat saluran drainase 
  4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungan, dan 
  5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas 
  6. Membuat saluran tambahan untuk mengurangi daerah tangkapan 
  7. Perbaikan dan normalisasi saluran drainase, serta mengembalikan fungsi drainase yang sesungguhnya 
  8. Pembuatan stasiun pompa dan kolam penampungan untuk menampung air hujan yang berlebih 
  9. Penambahan untuk pengadaan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai resapan air hujan, khususnya di perkotaan 

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dengan adanya suatu sistem drainase di perkotaan maka akan diperoleh banyak manfaat pada kawasan perkotaan yang bersangkutan, yaitu meningkatnya kualitas kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan daerah pemukiman dan perkotaan. Namun dengan adanya manfaat dari drainase, terdapat pula beberapa masalah yang timbul. Permasalahan drainase di perkotaan yang tidak kunjung usai mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan di perkotaan. Banjir pun kini sering terjadi. Tidak hanya di kota-kota besar saja, tetapi hampir di seluruh kota di Indonesia kini mengalami permasalahan yang sama. Tersumbatnya saluran drainase oleh sampah penduduk serta penyempitan saluran drainase merupakan faktor utama penyebab banjir. Kesadaran masyarakat yang rendah, tidak akan memperbaiki keadaan perkotaan yang semrawut. Permasalahan drainase membutuhkan penanganan yang serius. Sudah seharusnya Pemkot dan masyarakat memperhatikan permasalahan ini.

4.2 Saran
Bencana banjir merupakan kejadian alam yang dapat terjadi setiap saat dan sering mengakibatkan kerugian jiwa, harta dan benda. Kerugian akibat banjir adalah perhitungan kerusakan bangunan, kehilangan barang berharga, hingga opportunity cost saat semua orang tidak bisa masuk kerja dan sekolah. Banjir tidak dapat dicegah, namun hanya dapat dikendalikan dan dikurangi dampak kerugian yang diakibatkannya. Berhubung datangnya relatif cepat, untuk mengurangi kerugian akibat bencana tersebut perlu dipersiapkan penanganan secara cepat dan tepat.

Daftar pustaka
AASHTO. 1987. Pedoman Drainase Jalan Raya. Terjemahan oleh Sutanto. 1992. Jakarta:UI Press

MAKALAH SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN PERMASALAHAN DRAINASE PERKOTAAN

MAKALAH SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN PERMASALAHAN DRAINASE PERKOTAAN
MAKALAH SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN PERMASALAHAN DRAINASE PERKOTAAN
BAB I.
PENDAHULUAN

1.1 latar belakang
Kota merupakan tempat bagi banyak orang untuk melakukan berbagai aktivitas, maka untuk menjamin kesehatan dan kenyamanan penduduknya harus ada sanitasi yang memadai, misalnya drainase. Dengan adanya drainase tersebut genangan air hujan dapat disalurkan sehingga banjir dapat dihindari dan tidak akan menimbulkan dampak gangguan kesehatan pada masyarakat serta aktivitas masyarakat tidak akan terganggu.

Drainase merupakan suatu sistem untuk menyalurkan air hujan. Sistem ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat, apalagi di daerah yang berpenduduk padat seperti di perkotaan. Drainase juga merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota (perencanaan infrastruktur khususnya). Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas, dimana drainase merupakan suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut.

Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permkaantanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir.

1.2 rumusan masalah. 
  • a. Definisi drainase.
  • b. Jenis drainase.
  • c. Fungsi drainase.
  • d. System drainase berwawasan lingkungan.
  • e. Pentingnya drainase di kawasan perkotaan.
  • f. Permasalah drainase perkotaan.
  • g. Penanganan drainase perkotaan.

1.3 maksud dan tujuan. 
Maksud dan tujuan dari tugas makalah drainase ini adalah agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami sistem drainase di perkotaan dan fungsinya , serta mengetahui penanganan masalah drainase perkotaan

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi drainase
Drainase yang berasal dari kata to drain yang berarti mengeringkan atau mengalirkan air drainase. Ini merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan air limbah dari daerah pemukiman, badan jalan dan permukaan perkerasan lainnya. Selain itu juga dapat berupa penyaluran kelebihan air, baik air hujan, air limbah maupun air kotor lainnya. Air kotor ini berasal dari suatu kawasan yang mengalir menuju bangunan resapan buatan. Sistem drainase juga dapat didefinisikan sebagai pembuangan air permukaan atau air tanah dari suatu daerah baik secara gravitasi maupun dengan pompa (Sutanto 1992:199).

Pemahaman secara umum mengenai drainase perkotaan adalah suatu ilmu dari drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan. Ini merupakan suatu sistem pengeringan dari pengaliran air di wilayah perkotaan yang meliputi pemukiman, kawasan industri dan perdagangan, rumah sakit, lapangan olahraga, lapangan terbang, instalasi listrik dan telekomunikasi. Selain itu juga termasuk tempat-tempat lainnya yang merupakan bagian dari sarana kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan, sehingga menimbulkan dampak negatif dan dampak memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia.

2.2 Jenis drainase
a. Menurut Letak Saluran
Drainase Permukaan Tanah, 
yaitu saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah, yang berfungsi untuk mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open channel flow.

2. Drainase Bawah Permukaan, 
yaitu saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah karena alasan-alasan tertentu. Alasan tersebut antara lain karena tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak memperbolehkan adanya saluran di permukaan tanah, seperti lapangan sepak bola, taman, dan lapangan terbang.

b. Menurut Sejarah Terbentuknya
1. Drainase Alamiah, 
yaitu sistem drainase yang terbentuk secara alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia. Pada daerah yang belum berkembang, drainase terjadi secara alamiah sebagai bagian dari siklus hidrologi. Drainase alami ini berlangsung tidak secara statis, melainkan terus berubah secara konstan menurut keadaan fisik lingkungan sekitar.

2. Drainase Buatan,
yaitu saluran drainase yang dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk mentukan debit akibat hujan, dan dimensi saluran. Drainase buatan dibagi menjadi 3 berdasarkan tempatnya, yaitu

c. Menurut Konstruksi
1. Saluran Terbuka
yaitu sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan, namun pada umumnya sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota, saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Akan tetapi, saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton, mansory (pasangan batu). 

2. Saluran Tertutup,
yaitu saluran untuk air kotor yang mengganggu kesehatan lingkungan. Sistem drainase ini baik untuk diterapkan di daerah perkotaan, terutama dengan tingkat penduduk yang tinggi.

d. Menurut Fungsi :
Single Purpose, yaitu saluran yang berfungsi untuk mengalirkan satu jenis air buangan saja. 
Multi Purpose, yaitu saluran yang berfungsi untuk mengalirkan beberapa jenis buangan, baik secara bercampur maupun bergantian 

2.3 Fungsi Drainase
  1. Mengeringkan daerah becek dan genangan air 
  2. Mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan bangunan resapan 
  3. Pengendali kebutuhan air permukaan 
  4. Mengendalikan akumulasi limpasan air hujan yang berlebihan 
  5. Mengendalikan erosi akibat air hujan yang berlebih 
  6. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal
  7. Mengurangi kerusakan jalan dan bangunan akibat genangan air pada waktu hujan 
  8. Memperbaiki kualitas lingkungan masyarakat dan meningkatkan kesehatan masyarakat di perkotaan 

BAB III.
PEMBAHASAN
3.1 Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan
Drainase didefinisikan sebagai pembuangan air permukaan, baik secara gravitasi maupun dengan pompa dengan tujuan untuk mencegah terjadinya genangan, menjaga dan menurunkan permukaan air sehingga genangan air dapat dihindarkan. Drainase perkotaan berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga tidak merugikan masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Kelebihan air tersebut dapat berupa air hujan, air limbah domestik maupun air limbah industri. Oleh karena itu drainase perkotaan harus terpadu dengan sanitasi, sampah, pengendali banjir kota dan lainnya. 

Pengembangan permukiman di perkotaan yang demikian pesatnya justru makin mengurangi daerah resapan air hujan karena luas daerah yang ditutupi oleh perkerasan semakin meningkat dan waktu berkumpulnya air (time of concentration) pun menjadi jauh lebih pendek sehingga pada akhirnya akumulasi air hujan yang terkumpul melampaui kapasitas drainase yang ada. Banyak kawasan rendah yang semula berfungsi sebagai tempat parkir air (retarding pond) dan bantaran sungai kini menjadi tempat hunian. Kondisi ini akhirnya akan meningkatkan volume air permukaan yang masuk ke saluran drainase dan sungai. Hal ini dapat dilihat dari air yang meluap dari saluran drainase, baik di perkotaan maupun di permukiman, yang menimbulkan genangan air atau bahkan banjir. Hal itu terjadi karena selama ini drainase difungsikan untuk mengalirkan air hujan yang berupa limpasan (run-off) secepat-cepatnya ke penerima air/badan air terdekat.

Untuk mengatasi permasalahan infrastruktur tersebut diperlukan sistem drainase yang berwawasan lingkungan dengan prinsip dasar mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga dapat dialirkan secara terkendali dan lebih banyak memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah. Hal ini dimaksudkan agar konservasi air tanah dapat berlangsung dengan baik dan dimensi struktur bangunan sarana drainase dapat lebih efisien. Menurut Dr. Ing. Ir. Agus Maryono dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pengelolaan drainase secara terpadu berwawasan lingkungan merupakan rangkaian usaha dari sumber (hulu) sampai muara (hilir) untuk membuang/mengalirkan hujan kelebihan melalui saluran drainase dan atau sungai ke badan air (pantai/laut, danau, situ, waduk, dan bozem) dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di dataran banjir yang dilalui oleh saluran dan atau sungai tersebut (akibat kenaikan debit puncak dan pemendekan waktu mencapai debit puncak). Berbeda dengan prinsip lama, yaitu mengalirkan limpasan air hujan ke badan air penerima secepatnya, drainase berwawasan lingkungan bekerja dengan berupaya memperlambat aliran limpasan air hujan.

Prinsipnya, air hujan yang jatuh ditahan dulu agar lebih banyak yang meresap ke dalam tanah melalui bangunan resapan, baik buatan maupun alamiah seperti kolam tandon, sumur-sumur resapan, biopori, dan lain-lain. Hal ini dilakukan mengingat semakin minimnya persediaan air tanah dan tingginya tingkat pengambilan air. Pengembangan prasarana dan sarana drainase berwawasan lingkungan ditujukan untuk mengelola limpasan permukaan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan sesuai dengan kaidah konservasi dan keseimbangan lingkungan. Konsep inilah yang ingin mengubah paradigma lama dalam pembangunan drainase khususnya di perkotaan.

Pelestarian prasarana dan sarana drainase mandiri berbasis masyarakat sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, memanfaatkan, dan memelihara prasarana dan sarana yang ada. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana serta penyuluhan dan pedoman pemeliharaan yang mengedepankan partisipasi masyarakat. Masyakarat dapat berperan dan berpartisipasi dalam setiap tahapan perencanaan, pembangunan, operasional dan pemeliharaan sistem jaringan drainase melalui beberapa tahap, antara lain:
  • a. Tahap Survei dan Investigasi: masyarakat dapat memberikan informasi calon lokasi yang akan dibangun dan kondisi setempat seperti kelayakan dari segi teknis dan ekonomi.
  • b. Tahap Perencanaan: masyarakat dapat ikut serta dalam persetujuan, kesepakatan dan penggunaan dari perencanaan yang telah dibuat.
  • c. Tahap Pembebasan Lahan: masyarakat memberi kemudahan dan memperlancar proses pembebasan lahan apabila lahan masyarakat terkena dampak pembangunan.
  • d. Tahap Pembangunan: masyarakat dapat ikut serta dalam pengawasan dan terlibat dalam pelaksanaan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan.
  • e. Tahap Operasi dan Pemeliharaan: masyarakat ikut serta aktif dalam pemeliharan dan pengoperasian, melaporkan jika ada kerusakan.
  • f. Tahap Monitoring dan Evaluasi: masyarakat dapat memberikan data yang benar dan nyata sesuai dengan kondisi eksisting di lapangan terkait segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek serta dampak yang ditimbulkannya.

Cara paling efektif agar drainase berwawasan lingkungan ini dapat berkelanjutan adalah peran serta masyarakat untuk ikut aktif di dalam penerapan pelestarian air tanah karena jika persediaan air tanah habis, merekalah yang paling merasakan akibatnya. Masyarakat dapat berperan aktif untuk ikut menabung air melalui kolam tandon penampung air hujan, berupa reservoir bawah tanah maupun dengan tangki penampung yang berfungsi menampung dan mengalirkan air hujan yang jatuh dari permukaan tanah, bangunan, juga atap rumah. 

• Sumur Resapan, Solusi Termurah
Sumur resapan adalah salah satu solusi murah dan cepat untuk masalah banjir. Umumnya sumur resapan berbentuk bundar dengan diameter minimal 1 meter. Lubang galian sebelah atas sampai lapisan tanah relatif keras dan bersemen agar dilindungi dengan bidang penahanan longsoran dinding sumur (bisa dari bambu, pasangan bata, base beton atau drum). Kedalaman sumur resapan relatif tergantung kondisi formasi batuan dan muka air tanah. Untuk daerah yang muka air tanahnya dalam, kedalaman sumur resapan dapat dibuat hingga mencapai 5 meter. 

Idealnya dalam perencanaan drainase di suatu wilayah perlu direncanakan adanya sumur resapan sehingga dimensi saluran drainase dapat lebih diminimalkan. Untuk hasil yang lebih maksimal, penggunaan sumur resapan dapat divariasikan dengan bangunan drainase lainnya seperti kolam resapan. Upaya ini akan berdampak besar bila semua masyarakat sadar dan mau menerapkannya. 

Peran sumur resapan tentu tidak akan berarti bila hanya beberapa rumah yang menerapkannya. Bayangkan, bila setiap rumah memiliki sumur resapan yang masing-masing mampu meresapkan air hujan sejumlah satu meter kubik dan satu kawasan terdapat sepuluh ribu rumah maka akan didapatkan sepuluh ribu meter kubik air yang dapat meresap ke tanah. Kawasan tersebut dapat mengurangi limpasan permukaan yang akan membebani saluran drainase di hilir dan mampu mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau karena pada musim penghujan, mereka telah menabung air.

3.2 Pentingnya Drainase di Kawasan Perkotaan
Saat ini sistem drainase sudah menjadi salah satu infrastruktur perkotaan yang sangat penting. Kualitas manajemen suatu kota dapat dilihat dari kualitas sistem drainase yang ada. Sistem drainase yang baik dapat membebaskan kota dari genangan air. Genangan air menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan jorok, menjadi sarang nyamuk, dan sumber penyakit lainnya, sehingga dapat menurunkan kualitas lingkungan, dan kesehatan masyarakat.

Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir.

Sebagai salah satu sistem dalam perencanaan perkotaan, maka sistem drainase yang ada dikenal dengan istilah sistem drainase perkotaan. Drainase perkotaan didefinisikan sebagai ilmu drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan sosial-budaya yang ada di kawasan kota.

Drainase perkotaan merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah yang meliputi:
  • a. Permukiman.
  • b. Kawasan industri dan perdagangan.
  • c. Kampus dan sekolah.
  • d. Rumah sakit dan fasilitas umum.
  • e. Lapangan olahraga.
  • f. Lapangan parkir.
  • g. Instalasi militer, listrik, dan telekomunikasi.
  • h. Pelabuhan udara

3.3 Permasalahan Drainase Perkotaan
• Peningkatan debit
Perubahan tata guna lahan yang selalu terjadi akibat perkembangan kota dapat mengakibatkan peningkatan aliran permukaan dan debit banjir. Manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan saluran drainase dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadi genangan. (Suripin 2004:226)

• Peningkatan jumlah penduduk
Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, merupakan akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkatan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahan infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatan penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik cair maupun padat. (Suripin 2004:226)

• Amblesan tanah
Amblesan tanah terjadi akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada di bawah muka air laut pasang. Akibatnya sistem drainase gravitasi terganggu dan tidak dapat bekerja tanpa pompa. (Suripin 2004:226)

• Penyempitan dan pandangkalan saluran
Penyempitan saluran drainase dipengaruhi oleh faktor peningkatan jumlah penduduk (Suryokusumo 2008:81). Peningkatan jumlah penduduk yang sangat pesat mengakibatkan berkurangnya lahan untuk saluran drainase. Banyak pemukiman yang didirikan di atas saluran drainase sehingga aliran drainase menjadi tersumbat. Sampah penduduk pun juga tidak jarang dijumpai di aliran drainase, terutama di perkotaan. Hal ini karena kesadaran penduduk yang rendah terhadap kebersihan lingkungannya

• Limbah sampah dan pasang surut 
Saluran drainase di perkotaan kadang memilliki fungsi ganda, yaitu sebagai saluran drainase itu sendiri dan sebagai saluran irigasi, yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah tersendiri. Hal lain yang juga sering menjadi permasalahan pengelolaan infrastruktur ini adalah berkaitan dengan perbedaan sistem, dimensi, dan konstruksi drainase. Beberapa contoh perbedaan terkait pengelolaaan drainase seperti yang dijelaskan oleh Suryokusumo (2008:81-82)

sistem drainase di wilayah hulu mempunyai sistem tertutup, sedangkan di wilayah hilir dengan sistem terbuka. Sementara itu, konstruksi drainase bersifat permanen sedangkan saluran irigasi bersifat teknis. Contoh lain yang lebih ekstrem adalah sistem drainase di wilayah hulu memliki dimensi yang besar, sedangkan di wilayah hulu dimensinya justu kecil, akibatnya muncul genangan dan luapan air dari jaringan drainase yang ada. Crossing utilitas atau yang sering disebut tumpang tindih merupakan permasalahan tersendiri bagi sektor drainase dengan utilitas lain seperti pipa air minum, pipa air limbah, dan kabel telekomunikasi. Arah saluran yang menuju sungai juga bisa menjadi masalah tersendiri karena jika tidak terkendali justru akan menjadi masalah baru bagi daerah yang secara geografis wilayahnya berada di bawah. Penambahan debit air sungai dari drainase akan berakibat munculnya banjir di wilayah hilir.Banjir merupakan permasalahan yang paling sering dijumpai di kota-kota besar.Menurut Suripin (2004:10) 

akar permasalahan banjir di perkotaan berawal dari pertambahan penduduk yang sangat cepat. Pertumbuhan penduduk di atas rata-rata pertumbuhan nasional, akibat urbanisasi. Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai, mengakibatkan pemanfaatan lahan perkotaan menjadi acak-acakan. Hal inilah yang menyebabkan persoalan drainase perkotaan menjadi sangat kompleks. Selain itu permasalahan-permasalahan tersebut juga disebabkan oleh tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah dan tidak peduli dengan permasalahan yang dihadapi kota. Permasalahan lain yang dihadapi dalam pembangunan drainase di perkotaan adalah lemahnya koordinasi dan sinkronisasi dengan komponen infrastruktur yang lain (Suripin 2004:12).

Akibatnya sering dijumpai tiang listrik di tengah saluran drainase, dan pipa air bersih. Seringkali penggalian saluran drainase tidak sengaja merusak prasarana yang sudah ada atau yang ditanam dalam tanah. Biasanya kesalahan ini terjadi karena tidak adanya informasi yang akurat, dokumen yang tidak ada, atau perencanaan pematokan di lapangan tidak melibatkan instalasi pengendali tata ruang.

3.4 Penanganan Drainase Perkotaan
  1. Mengadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah. 
  2. Membuat bak kontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke saluran drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak terjadi endapan 
  3. Pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan, terutama membuang sampah sembarangan, agar masyarakat mengetahui pentingnya manfaat saluran drainase 
  4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungan, dan 
  5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas 
  6. Membuat saluran tambahan untuk mengurangi daerah tangkapan 
  7. Perbaikan dan normalisasi saluran drainase, serta mengembalikan fungsi drainase yang sesungguhnya 
  8. Pembuatan stasiun pompa dan kolam penampungan untuk menampung air hujan yang berlebih 
  9. Penambahan untuk pengadaan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai resapan air hujan, khususnya di perkotaan 

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dengan adanya suatu sistem drainase di perkotaan maka akan diperoleh banyak manfaat pada kawasan perkotaan yang bersangkutan, yaitu meningkatnya kualitas kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan daerah pemukiman dan perkotaan. Namun dengan adanya manfaat dari drainase, terdapat pula beberapa masalah yang timbul. Permasalahan drainase di perkotaan yang tidak kunjung usai mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan di perkotaan. Banjir pun kini sering terjadi. Tidak hanya di kota-kota besar saja, tetapi hampir di seluruh kota di Indonesia kini mengalami permasalahan yang sama. Tersumbatnya saluran drainase oleh sampah penduduk serta penyempitan saluran drainase merupakan faktor utama penyebab banjir. Kesadaran masyarakat yang rendah, tidak akan memperbaiki keadaan perkotaan yang semrawut. Permasalahan drainase membutuhkan penanganan yang serius. Sudah seharusnya Pemkot dan masyarakat memperhatikan permasalahan ini.

4.2 Saran
Bencana banjir merupakan kejadian alam yang dapat terjadi setiap saat dan sering mengakibatkan kerugian jiwa, harta dan benda. Kerugian akibat banjir adalah perhitungan kerusakan bangunan, kehilangan barang berharga, hingga opportunity cost saat semua orang tidak bisa masuk kerja dan sekolah. Banjir tidak dapat dicegah, namun hanya dapat dikendalikan dan dikurangi dampak kerugian yang diakibatkannya. Berhubung datangnya relatif cepat, untuk mengurangi kerugian akibat bencana tersebut perlu dipersiapkan penanganan secara cepat dan tepat.

Daftar pustaka
AASHTO. 1987. Pedoman Drainase Jalan Raya. Terjemahan oleh Sutanto. 1992. Jakarta:UI Press